Tak lama kemudian, Air kembali menatang nampan yang berisi beberapa cangkir kopi setelah selesai acara tahlil dan doa selamat. Dia turut menghidangkan beberapa potong kue di atas piring kepada qariah masjid yang hadir malam itu.
"Salam takziah atas kematian ayahmu. Semoga bersabar ya, nak," ucap seorang pria tua kepada anak yang dipanggil Air.
Air mengangguk pilu lalu membawa nampan ke dapur.
Sementara itu, Blaze termenung menghadap pintu. Lalu didekatnya ke pintu lalu turun ke tangga untuk mengambil angin. Sejak tadi dia merasa panas. Angin malam menghembus dingin di luar.
Suasana masih sibuk di dalam rumah. Orang ramai lalu-lalang, sedikit ramai berbanding pada awal dia datang ke sini.
Sekarang hampir jam sepuluh. Acara makan-makan sepatutnya sudah bermula sejak setengah jam yang lalu, namun dia belum mahu makan.
Setelah lapar, baru dia ingin masuk semula ke dalam rumah.
Namun malangnya, sebaik dia menaiki tangga dia menabrak seseorang yang sedang membawa nampan. Lantas nampan yang dibawa gadis itu terbalik lalu menghantam tubuhnya. Blaze pula hilang keseimbangan lalu terjatuh tiga anak tangga ke belakang.
Prang! Sraap! Bunyi cangkir pecah, air panas yang menyimbah serta pekik seseorang yang sedang kesakitan mengagetkan sesiapapun yang berada di situ.
Kedua-duanya jatuh bertindih, langsung tubuh kedua-duanya basah kuyup.
Terengah-engah kesakitan, Blaze menyapu mukanya yang basah disiram teh panas. Walaupun dia biasa dibantai sewaktu berlatih Muay Thai bersama Taufan, rasa panas dan saking sakitnya tetap bisa dirasa.
Blaze mengerang kesakitan. Dari posisinya yang meniarap, kepalanya terangkat untuk melihat siapa yang ditabrak tadi.
Namun alangkah terkejutnya apabila sosok itu dikenalinya.
'Yaya?' batinnya sambil mulutnya sedikit ternganga.
"Ma-maafkan aku...aku tidak melihatmu tadi. Maaf," Gadis berjilbab merah jambu itu berkali-kali meminta maaf sambil menggeleng. Wajahnya merah menahan malu. Dia menggigit bibirnya yang basah. Dia juga terkejut tadi. Dia mengalihkan tubuhya yang menimpa tubuh Blaze.
Seketika dada Blaze berdebar. Mengapa Yaya ada di situ? Bukankah dia lagi ada di kota..yang menegurnya tempoh hari? Apa Yaya tahu pekerjaannya? Apa Yaya sudah atau bakal membuka mulut pada penduduk desa?
"Ka-kapan kamu pulang?" tanya Blaze gementar. Blaze tidak jadi hendak marah apabila melihat jirannya itu.
"Oh, tadi. Tadi petang. Maaf aku belum sempat menegurmu, aku lagi sibuk memasak di dapur sejak tadi.."
Blaze menatap gadis itu lama.
Gadis itu tidak paham maksud tatapan itu.
"Astaga! Yaya! Api! Kalian tak apa-apa?" tanya Ibu dan Tok Aba khawatir sebaik melihat mereka di bawah tangga.
Blaze cuba untuk bangun sambil memegang kakinya yang sakit.
"Yaya tak apa-apa, tante, kakek. Engg..aku masuk dulu ganti baju, permisi.." ucap Yaya lalu menghilang.
Blaze merasa malu dan bersalah menatap semua yang ada di situ.
"Gak apa-apa, kamu kan gak sengaja." Ibu menghulurkan sehelai handuk pada Blaze.
Air tiba lalu menopang tubuh kakaknya agar bisa bangun.
"Kakimu terkilir?" tanya Ibu prihatin.
Blaze mengangguk lemah.
Ibu mendudukkan Blaze di atas kursi di ruang tamu.
"Air, ambilkan ibu ubat salap," perintah Ibu kepada sang anak. Air menurut lalu kembali dengan sebotol ubat, lalu ubat itu dioles mulus di kaki kiri Blaze yang membengkak.
Walaupun dia ingin membantah, namun dia tiada pilihan. Blaze harap kakinya bisa cepat sembuh pagi besok. Secepatnya dia ingin pulang besok juga karena tidak tahan berada di situ terlalu lama. Dia kurang selesa dilayan begitu baik oleh orang-orang di situ. Itu hanya membuatnya bertambah siksa.
"Kamu juga belum makan bukan? Biar ibu ambilkan.."
Melihat ibunya datang membawa sepiring nasi, hatinya bertambah sayu. Hatinya berbelah-belah.
Hampir tengah malam setelah segalanya selesai, Tok Aba menghantar mereka pulang.
Di sebalik kejadian itu, sepasang mata memerhatikannya tidak senang.
.
.
.
.
"Api," panggil ibunya.
"Iya, bu?"
"Nanti kalau terdengar apa-apa bunyi, jangan sesekali buka pintu. Buat gak tahu aja," pesan ibunya.
Blaze penasaran. Bunyi? Bunyi apa? Akibat kecapekan, dia membiarkan sahaja lalu terlena.
Namun, bunyi yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang.
Mata Blaze terbuka luas. Latihan keras yang pernah dijalaninya selama ini menjadikan pendengarannya lebih tajam. Dia lebih peka terhadap bunyi dan pergerakan.
Blaze menahan napas. Bunyi itu semakin jelas dan kuat bermain di telinganya. Seolah-olah berada sangat hampir dengannya.
Kedengarannya seperti ada sesuatu yang menginjak tanah rumahnya. Lantai rumahnya sedikit bergetar lalu bunyi napas yang tercungap-cungap. Bunyinya seperti hewan liar yang menderam marah. Akhirnya dinding rumahnya kedengaran seperti dicakar-cakar.
Blaze menajamkan pendengarannya. Ada pergerakan diluar rumahnya. Seseorang atau sesuatu sedang mendekati pintu.
Napasnya tercekat.
Dia terus mengamati.
Langsung...
Krak! Krak! Krak!
Matanya melotot ke atas seperti ada sesuatu yang memanjat atap rumahnya. Tiba-tiba juga bunyi itu hilang diganti bunyi cakaran berhampiran tempat tidurnya. Dadanya berdebar kencang apabila matanya melihat sesosok tubuh berjalan mendekatinya. Tinggi dan hitam.
Tanpa berpikir lagi refleks dia mengayunkan kaki kirinya lalu melibas sosok itu. Tubuh itu tumbang akibat terjangannya yang kuat. Lantai papan rumah itu berdentum bersama jeritan yang menyakitkan.
Mata Blaze membelalak.
"Air!" jerit Blaze, syok.
Dia terduduk. Sungguh, dia tidak menyangka yang diterjang itu ialah adiknya.
"Aduh..." Air meringis sambil memegang lututnya yang sakit.
Lantas kekacauan di situ mengagetkan Ibunya yang lagi tidur lalu dia bergegas ke situ.
.
.
.
.
"Karena itulah orang-orang di sini udah ramai yang berpindah," ucap Ibu tiba-tiba.
Cahaya lampu menyala samar-samar. Bunyi-bunyi aneh tadi sudahpun hilang. Belum juga..Tinggal bunyi ayam menggelupur yang sepertinya diterkam sesuatu. Blaze makin bingung.
Air mengoles sedikit ubat di lututnya sambil menahan sakit.
Mata Blaze berkelip-kelip belum dapat menerima apa yang dimaksudkan ibunya. Otaknya ligat memikir. Sesekali dia menoleh ke arah Air dengan penuh simpati. Perbuatannya benar-benar tidak disengajakan. Dia terlalu kaget tadi.
"Sudah lama perkara ini berlaku. Almarhum ayahmu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi sekarang keadannya makin memburuk. Setiap malam 'benda' itu datang ke sini," sambung ibunya.
Blaze resah. Apa sebenarnya yang berlaku?
"Sejak kapan?" tanya Blaze.
"Sejak kepala desa meninggal. Dahulu juga pernah berlaku tetapi makin memburuk apabila ayahmu pula meninggal. Sebelum ini kami hanya mendengar dari mulut-mulut penduduk desa. Benda itu datangnya setiap malam. Kurasa ayahmu juga Tok Aba tahu soal ini, namun tidak mahu bercerita. Mungkin gak mahu kami takut," cerita ibunya.
"Kenapa kalian tidak berpindah aja?" tanya Blaze menggaruk-garuk kepala.
"Ayah gak benarkan," kali ini Air pula yang menjawab.
"Tapi ayah kan sudah gak ada," ujar Blaze, hampir membentak. Dia sudah mula khawatir sama keselamatan ibu dan adiknya. Napasnya diatur semula.
Dia merasa keputusan ayahnya itu tidak adil. Sungguh mementingkan diri.
"Memang ayah gak ada, tapi-" balas Air namun terhenti.
"Tapi apa?!" soal Blaze tidak puas hati.
"Ayah bilang, mungkin suatu hari nanti kakak akan pulang."
Blaze merasa terpukul. Dia terduduk, tidak mengangkat muka. Hatinya yang tersentuh coba dibujuk oleh egonya sendiri. Kesedihan itu coba diusir sepenuh hati. Egonya masih belum bisa memaafkan orang tuanya itu. Karena dialah, dia harus menghadapi hidup yang begitu sukar. Harus mengemis, mencuri dan makan nasi basi. Semua itu salah ayahnya. Malah awalnya dia menganggotai Kumpulan Wun Tai hanya untuk mendapatkan perlindungan.
Tanpa dukungan sesiapa, dia mungkin sudah lama tidak bernyawa. Di kota batu itu ada sisi hidupnya yang liar, yang hitam dan kejam. Sisi yang tidak pernah dilihat sesetengah orang kecuali manusia sepertinya. Dia bisa hidup bebas, dia mahukan itu setelah sekian lama dikongkong ayahnya.
"Kalau Kak Api mahu, kakak bisa langsung bertanya sama kakek besok," ujar Air sambil menatap wajah kakaknya.
"Kita tidur bareng ya, kak. Di luar sini aja, lebih dingin. " ujar Air lagi sambil menepuk-nepuk bantal.
Blaze tersenyum tawar.
Setelah sepuluh tahun berpisah, malam itu baru mereka bisa tidur sama-sama di ruang tamu itu.
Namun, mata Blaze tidak bisa terlelap. Wajah ayahnya terbayang di mata. Sedikit demi sedikit perasaannya luluh. Sungguh dia tidak menyangka Ayah menunggunya pulang, dia pikir dia sudah lama diusir sepanjang hidup orang tua itu.
Tiba-tiba tubuhnya terasa dihimpit sesuatu. Punggungnya terasa hangat. Tengkuknya disentuh sama sesuatu yang kasar. Terdengar juga bunyi orang tua yang menarik napasnya dengan payah beserta bau yang teramat busuk. Sontak dia menoleh. Samar-samar dia melihat laki-laki tua tidak berwajah berbaring di sisinya.
"WAARGHH!"
Blaze terjerit lalu melanggar Air di sebelahnya yang tidur terlentang. Air terjaga.
"Kenapa, kak?" tanya Air dengan wajah khas orang yang baru bangun tidur.
Blaze mengurut dada.
"Gak ada apa-apa."
Lalu dia langsung tidur memeluk tubuh adiknya yang dingin.
.
.
.
.
"Kalau Api mau tahu, nanti malam selepas Isyak, kakek akan membawamu ke suatu tempat. Nah, di sana kita bisa ngomong panjang."
Dengan kakinya yang masih sakit, Blaze berjalan susah-payah sambil mengheret sebelah kakinya yang sakit. Dia ingin bertemu Tok Aba di rumahnya keesokan pagi untuk bertanya seperti dicadangkan Air.
Namun, jawapan yang didapatkan adalah hampa. Dia harus menunggu lagi.
Sewaktu makan siang, dia berbicara sama ibunya.
"Malam ini kakek mengajakku ke ujung desa."
"Ujung desa? Yang mana satu? Daerah yang ada sungai atau ujung bukit?"
"Gak tahu. Api disuruh ikut aja."
Ibunya terdiam, teringat sesuatu.
"Kalau gak salah, tempat itu biasa dikunjungi kakek sama ayahmu. Cuma mereka sama beberapa orang lain aja yang tahu tempat ibu tak begitu tahu, ayah tidak pernah bilang dengan tepat."
Dahi Blaze berkerut.
"Ibu gak tahu? Yang benar aja.."
Ternyata ada sesuatu yang disembunyikan dari pengetahuan ibunya. Apa almarhum ayahnya sengaja tidak mahu beritahu?
Ibunya menggeleng, "Ibu benar-benar gak tahu, nak. Ayah cuma bilang di hujung kampung."
"Apa yang mereka lakukan di situ?" Blaze heran. Apalah yang menjadi rahasia besar bangat yang mahu disembunyikan ayahnya?
"Setahuku, mereka berlatih silat."
"Silat?" Blaze semakin bingung, dia tercengang.
"Entahlah...tapi ibu punya firasat bahawa ada hal lain yang mereka lakukan."
'Hal lain? Aduh..ini semakin rumit dan misterius sahaja. Serius banget,' Blaze membatin.
"Kalau kamu benar-benar penasaran, ya sudah ikut sahaja kakekmu."
Blaze tak punya pilihan lagi. Dia harus bersabar menunggu nanti malam untuk mendapatkan kepastian. Rahsia apa-apaan itu? Aneh juga.
.
.
.
.
Halilintar mencuci tangan. Disebabkan dia tinggal sendirian sejak pulang, dia diajak makan siang. Pada awalnya dia segan kerana Yaya dan ibunya juga dijemput. Namun apalah salahnya..lagian mereka juga di bawah satu keluarga. Setelah selesai makan siangnya, dia kembali duduk di meja makan menatap Tok Aba. Sementara itu Yaya sama ibunya mencuci piring di wastafel.
"Apa benar malam ini kita mahu membawa Api ke sana?" soal Halilintar sambil merenung tajam wajah tua Tok Aba.
"Malam ini kita punya latihan, bukan? Kita bawa aja dia ke sana," balas Tok Aba.
"Tumben dia pulang. Semasa paman meninggal dulu, tidak pula dia pulang." ujar Halilintar.
Dia merasa ada yang tidak kena apabila terpandang wajah Blaze. Hatinya tidak selesa apabila Tok Aba selalu bercerita soal lelaki yang muncul selepas 10 tahun menghilang.
"Itu tidak menjadi soal. Yang penting dia sudah kembali. Kembali meneruskan usaha pamanmu," ucap Tok Aba.
"Entahlah..aku gak yakin. Anak kota seperti dia pasti gak akan percaya," ujar Halilintar jujur dan pasrah.
Tok Aba mengeluh kecil.
"Apa jangan-jangan dia hanya pulang mahu merebut harta ayahnya? Atau pasal projek kerajaan-" curiga Halilintar dipintas Tok Aba.
"Hali.."
Halilintar mendengus.
"Bukan apa, kek. Aku cuma pengen mengingatkan, orang seperti itu tidak bisa terlalu diharapkan. Kalau dia gak sanggup, kita juga yang kecewa."
"Dia akan tolong kita."
"Kakek yakin?"
"Pamanmu mati dibunuh. Ujung-ujung hatinya pasti punya dendam sama kematian ayahnya.."
Halilintar terdiam. Sekeras manapun dia coba membujuk, kalau namanya sudah punya pendirian, kakeknya pasti begitu. Apa yang penting, dia sudah beri amaran awal. Dan dia yakin apa yang dikhawatirkannya benar.
.
.
.
.
"Yaya, apa kamu gak apa-apa?" tegur Halilintar berpapasan dengan gadis itu di jalan.
Yaya mematikan langkah. Dia merenung wajah Halilintar sekilas.
"Kenapa tanya begitu?"
"Kudengar kau jatuh tadi malam. Apa si Api menyakitimu?" Halilintar memicingkan mata.
Yaya tertawa, namun sedikit malu.
"Aku baik-baik aja. Tapi Api..yah kakinya sakit dong."
Halilintar menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
'Ngapain pula aku tanya?' batinnya grogi.
"Malam ini kita ada latihan. Kamu bisa mengajak Ying jika kamu mahu," ujar Halilintar sebelum beredar menaiki sepeda motornya.
Yaya memandang punggung Halilintar yang menghilang bersama deruman enjin yang kuat. Senyumnya meleret.
Diam-diam dia me-ehem, -ngagumi sosok itu.
Malam ini mereka punya latihan, jadi mereka berpeluang bertemu lagi sama lelaki itu setelah lama tidak ketemu, semenjak dirinya mula bekerja di kota. Mereka berdua antara pemuda-pemudi yang mengikuti aktivitas silat di kampung itu setiap ujung minggu sejak sekolah dasar. Sekarang disebabkan hampir semuanya telah bekerja, maka aktivitasnya berkurang. Ada yang pulang hampir sebulan sekali. Walaupun penampilan Yaya kelihatan polos, namun dia merupakan sosok gadis yang terkuat di kampung itu.
Kemudian Halilintar bertemu dengan Air di jalan. Dia memberhentikan sepeda motor. Kelihatannya Air baru pulang dari sekolah.
"Air," tegur Halilintar pada pemuda itu.
"Hmm?"
"Kok pulang sendirian? Kakakmu gak menjemputmu?"
"Gak apa-apa. Aku bisa berjalan kaki..gak jauh bangat."
Walaupun sebenarnya dia punya sepeda motor, namun dia memilih untuk berjalan. Lagipula, dia bukan anak manja, tak mahu menyusahkan kakaknya yang baru pulang.
"Naik aja motorku, kuhantarmu pulang," pelawa Halilintar.
"Eh? Tapi-"
"Naik."
Air mengikut sahaja. Lagipula dia patut sadar, kampungnya lagi diganggu. Bahaya keluar sendirian.
Sambil Air menaiki sepeda motor, Halilintar bertanya.
"Kakakmu kerja apa?"
"Entah."
Halilintar terdiam. Anak itu juga ternyata serba tidak tahu mengenai hidup kakaknya di kota.
Halilintar meghantar Air hingga hadapan rumahnya. Setelah turun, Air bersalaman dengan Halilintar.
"Makasih sudah menghantarku pulang," ucap Air menunduk sedikit sebelum masuk melalui pintu rumah.
Halilintar mengangguk. Dia terpandang kebun karet yang terbiar di belakang rumah itu.
Dia ternampak Yaya berjalan memasuki kebun itu, menelusuri denai.
Dia heran lalu terus menghidup enjin motornya mengikuti sosok gadis itu.
Ketika ini matahari mulai condong. Suasana sekitarnya dingin dan sunyi. Angin kuat menerpa pipi. Daun mengguyur bagai direntap sesuatu ke tanah.
Halilintar memandang lurus ke hadapan. Dikelilingnya sunyi sepi, tiada orang. Dia hanya bisa melihat Yaya semakin jauh melangkah ke dalam kebun. Semakin sulit untuk dirinya mengejar langkah gadis itu.
Irisnya seperti terhipnotis oleh sesuatu hingga dia tidak lagi bisa melihat bayangan Yaya.
Apa yang ada hanyalah seorang lelaki tua tanpa wajah berdiri di jalan.
BAM!
Halilintar terperangah lalu sepeda motornya tumbang menggeser tanah. Di atas tanah, dia jatuh bergulingan. Kulitnya memar di sana-sini.
.
.
.
.
Di tempat yang lain..
"Mana Blaze?"
Taufan menggeleng. Dia tahu, lambat laun pasti Fang dapat menghidu ketiadaan Blaze dalam kumpulan mereka. Fang pasti terkejut kalau dia tahu Blaze di mana, tetapi dia dan Blaze sudah berjanji. Dan dia bukan seorang yang mungkir janji. Hidup orang seperti mereka harus pintar menyimpan rahsia kalau mahu bernapas lebih lama.
"Apa lu geleng-geleng?"
"Lagi outstation, Bos."
"Outstation?"
Mata Fang membesar. Jawapan yang tidak munasabah, bilang hatinya.
Taufan bangkit meninggalkan sofa lalu menarik sebuah kursi di hadapan Fang. Dia mendudukkan diri dengan cara yang paling santai dan selesa. Wajah bengang Fang membuat hatinya geli. Dia tahu Fang sudah sampai batas sabarnya.
"Dia pulang ke kampungnya."
Bersedia untuk soalan seterusnya...
"Kampungnya?" Fang terdiam sesaat lalu menyambung, "...Dia mana punya kampung."
'Gak mungkin kan dia udah ingin pulang?' dirinya membatin.
"Dia bukan turun dari langit, ma..." pintas Taufan dengan aksen Cina sambil kedua tangannya terangkat.
"Gue kenal dia sudah sepuluh tahun! Gue belum pernah lihat dia balik kampung!" tukas Fang.
"Satu hari nati...satu saat nanti, kita semua bakal mati juga. Kalau gak kembali ke kampung, kembali ke tanah lor..." canda Taufan lagi.
Fang sebal.
"Cis!" Dia menumbuk meja.
"Dia mahu jalan-jalan. Tension..katanya." ujar Taufan lagi.
"Mana dia pergi?" soal Fang sekali lagi.
"Gak tahu. Phuket? Jakarta? Bali? Dia gak bilang." Taufan mengangkat bahu.
"Lu jangan main-main sama gue. Baik lu bilang yang benar samaku!
"Aku memang TI-DAK TA-HU. Titik." bilang Taufan perlahan namun tegas. Dia belum bersedia membuka rahsia Blaze.
Kali ini Fang tidak mendesak lagi. Dia memandang Taufan masam.
"Nanti dia balik loh..Bos bukannya gak tahu Blaze itu gimana. Keras di luaran tapi dalamnya masih gak utuh," bujuk Taufan.
"Dia punya pacar?" tanya Fang tiba-tiba.
Setakat punya cewek untuk berhibur tidak masalah, cuma kalau sudah punya pacar susah juga. Tetapi tidak pernah dilihat pula Blaze punya teman wanita. Walaupun dia bisa dibilang brutal namun Blaze bukannya jenis buaya darat. Disuruh memperkosa pun tidak mahu. Itu satu-satunya perbuatan keji yang belum pernah dilakukannya. Dasar labil.
"Pacar?"
Taufan menggeleng. Tatapan wajah tegang itu membuatnya runsing, namun dia coba untuk tidak bersikap gelagabah. Orangnya mungkin kelihatan tenang namun tidak bermakna ia bisa berlembut hati. Kalau marahnya sudah sampai di puncak, dia bisa berbuat apa-apa. Dia pernah melihat sendiri bagaimana Fang mengeluarkan jantung orang hidup-hidup, dan itu membuatnya bergidik ngeri.
"Barang. Barang itu mana?" Fang menyoal. Dia perlu melupakan hal Blaze buat seketika.
"Blaze yang nyimpan, tapi aku tahu di mana," jawab Taufan. Itu juga satu 'amanah'. Dia dan Blaze menyorokkan barang perhiasan rampokan tempoh hari di sebuah tempat rahasia, hanya mereka berdua yang tahu.
"Bawa nanti malam. Tempat biasa."
"No problem."
.
.
.
.
Destinasinya ialah sebuah apartment di Damansara.
Taufan mengemudi tenang sambil bersenandung kecil mengikut irama lagu yang diputarkan di dalam mobil. Pada petang itu cuaca cukup baik. Langit juga cerah membiru.
Sedar-sedar sahaja dia sudah tiba di tempat yang dituju.
Sebaik tiba di kawasan apartment setinggi enam tingkat yang bercat kekuningan, dia memberhentikan mobil. Sengaja dia memilih untuk memanjat tangga hingga ke tingkat enam sambil bersiul agar tidak terlihat mencurigakan.
Setelah tercungap-cungap menaiki tangga, dibukanya kunci rumah lalu pintu dibuka. Dia melangkah masuk tanpa menanggalkan sepatu. Dia terus ke dapur mengambil sebotol air dari kulkas lalu meneguk airnya dengan rakus. Air sejuk berjaya melegakan haus di puas, dia menuju masuk ke kamar mandi.
Dia membuka penutup bak mandi lalu tangannya meraba-raba mencari sesuatu. Taufan mengernyit, setelah puas mencari.
Wajahnya pucat apabila tidak menemukan apa yang dicari.
'Oh Gawat!'
Keringat dingin membasahi pelipisnya.
.
.
.
.
Suharto kaget bukan kepalang. Khabar yang diterimanya membuat matanya tidak bisa berkelip.
"Iya, sungguh!" bilang Agus serius apabila rekannya itu mengguncang-guncang tubuhnya.
Suharto terdiam. Yang benar saja? Dia menatap ajah Agus teliti. Tidak mungkin pula dia berbohong.
"Kamu tahu siapa?"
Agus menggeleng.
"Tidak, namun aku sama Ochobot akan menyiasat lebih lanjut tentang hal ini."
"Maknanya Blaze dalam bahaya."
Di dalam kepalanya terbayang wajah Taufan. Dia juga mungkin dalam bahaya. Wajah Blaze, Taufan, Fang dan beberapa anggota kumpulan Wun Tai silih berganti. Ada pengkhianat di antara mereka. Siapa dia, mereka tidak pasti. Yang pasti keseluruhan anggota dalam bahaya. Ada orang yang melapor serta menyalurkan maklumat pada pihak polisi soal rampokan tempoh hari sehingga Gopal terbunuh.
Ternyata ada yang mahu melihat anggota kumpulan itu berpecah.
"Sudah kalian menghubungi Taufan dan Blaze?"
"Blaze gak bisa dihubungi. Taufan belum."
Suharto berdecak.
Blaze harus bisa dihubungi secepat mungkin.
TBC
Huwaaa~
Kok baru aku sendiri baru nyadar banyak unsur family di fic ini? Ya sudahlah kita lihat nantinya gimana..
