Di kantor, ketika baru ingin memulakan kerja Gempa mendapati ponselnya berdering.
Nama yang tertera di layar ponsel ialah Pak Adu Du, lalu diangkatnya cepat.
"Ada apa, Pak?" soal Gempa setelah menjawab panggilan dengan dahi yang berkerut.
"Malam itu saya ke kampung. Sejak malam itu kulihat ada sebuah mobil hitam berada di rumah itu."
"Mobilnya siapa?"
"Kata penduduk, orangnya anak tuan rumah itu. Seorang, muda lagi. Dia baru pulang, Pak."
Gempa terdiam. Dia pusing. Khabar itu sungguh di luar jangkaan. Seingatnya anak orang tua itu cuma seorang. Dari mana pula anak ini?
"Terus, kalian awasi dia. Kalau dia cuba macam-macam, dia perlu dihapus. Tolong pastiin gak ada siapa yang tinggalkan desa." arah Gempa mutlak.
Gempa memutuskan talian. Keningnya dipijit. Dia punya masalah yang baharu, namun dia yakin orang itu bukan tantangannya. Dia menggeleng. Apa yang penting, tugasnya sebagai penjaga Batu Rintis harus diselesaikan. Lalu dia teringat mimpinya pada malam itu.
Di dalam mimpinya, dia melihat sebuah rumah di desa itu hancur ditelan bumi. Mengikut kata ayahnya dahulu, mimpi seperti itu adalah satu petunjuk yang kukuh. Dan lebih mudah jika desa itu kerap dilanda bencana waktu itu, seperti kerap dilanda ribut. Itu satu petunjuk mengenai asal usul keluarga itu. Dia harus bisa mencari rumah itu.
Keesokannya, dia dan Ran ke desa mencari rumah yang dimaksudkan. Akhirnya dia mendapat maklumat daripada penduduk desa bahawa rumah tua itu memang milik salah seorang waris yang dicari. Buku bertemu ruas.
"Apa orang lain gak bisa dipilih?" tanya Ran ketika itu.
Gempa menggeleng, "Tidak."
Setahunya demit itu memang sudah memilih darah yang dimahukan. Maka orang itulah yang harus dikorbankan. Jika seorang dipilih, seoranglah. Jika dua orang dipilih, maka dua oranglah dan seterusnya. Selalunya tidak lebih dari tiga orang.
"Apa sebenarnya yang kalian ingin lakukan sama mereka?"
Sejujurnya Ran masih kurang mengerti tentang motif mereka sehingga keluarga itu harus diawasi.
Gempa menghela napas.
"Aku menyuruhmu belajar, kamu malah gak pernah mahu. Kalau kamu jadi pewarisnya, kau pasti mengerti. Kamu akan tahu apa yang bakal berlaku nanti," Gempa menyeringai kejam pada Ran di sebalik kata-katanya.
"Heee...pokoknya aku gak mahu dan gak mahu tahu! Cuma kalau sekedar disuruh jaga uwangmu, yah itu aku bisa sih," balas Ran risih.
Sungguh, dia benar-benar tidak mahu. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat dia menolak keras.
Gempa tertawa kecil. Ran tidak pernah habis sama sikap pecundangnya. Bagus juga kalau dia bisa menolak Ran masuk ke dalam makam tua seperti yang pernah dilakukan ayahnya dahulu. Mungkin hanya dengan cara itu Ran bisa menjadi lebih berani. Juga tidak banyak soal.
"Kalau begitu, gak perlu tanya apa-apa lagi. Ikut aja apa yang kusuruh," ujar Gempa.
Ran terdiam, masih kurang mengerti namun dia merasakan semua itu punya kaitan dengan dirinya pula. Lalu dilupakan sahaja.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, Ran tiba semula ke kantor Gempa yang letaknya berlainan aras dengan kantornya. Selepas mengetuk pintu sambil meminta ijin, lalu dia masuk ke ruang kerja Gempa.
"Sudah hampir jam enam, keluar makan yuk. Lapar..." pinta Ran.
Sudah menjadi suatu kebiasaan mereka keluar makan malam berbarengan. Lagian Gempa tinggal seorang diri, lalu Ran selalu menemaninya ke mana-mana biarpun Ran sendiri sudah berkeluarga.
"Maaf, aku lagi ber'puasa'," ujar Gempa.
"Gak apa-apa. Kamu teman aja.."
Gempa memandang jam tangannya sekilas, lalu memandang Ran. Sudah hampir senja. Lalu dia menutup berkas kerja di hadapannya dan mematikan laptop. Diambilnya tas yang terletak di bawah meja lalu meninggalkan kantornya yang lengang bersama Ran.
"Pakai tangga dong..biar bisa exercise," cadang Ran tetapi Gempa tidak mahu mengikutinya.
Gempa tetap menunggu di hadapan lif. Tidak lama, lif terbuka.
Gempa terus masuk tetapi Ran tercengang di hadapan lif yang terbuka.
Matanya melotot menyaksikan seorang laki-laki tua berwajah aneh berdiri di sebelah Gempa.
Dia mengucek-ngucek mata memastikan dia tidak mengantuk.
Makhluk itu tetap di situ. Dia melopong, dadanya gerun.
"Masuklah, kok tunggu di situ?" Gempa memiringkan kepalanya seolah-olah tidak merasakan apa-apa apabila makhluk itu menyentuh bahunya.
"A-ak-aku...turun ikut tangga!" ucap Ran terketar-ketar sebelum kabur dari situ.
Dia berlari laju menuruni tangga. Benarkah apa yang dilihatnya tadi?
Setibanya di bawah, lif terbuka. Gempa keluar dengan berwajah tenang. Ran pula hampir tidak bernafas apabila orang tua itu masih ada di sisi Gempa, mendampinginya ke mana-mana seperti bayang-bayang.
Petang itu Ran tidak jadi keluar makan bersama Gempa. Dia muntah lalu terus pulang ke rumah, meringkuk sambil menggigil kedinginan di bawah selimut.
.
.
.
.
Malam yang ditunggu-tunggu menjelma. Kabut malam menggelapkan seluruh desa yang letaknya di kawasan di perbukitan itu. Suasana teramat sepi. Hanya kedengaran deruman enjin kendaraan yang lalu-lalang. Selebihnya, malam itu hanya ditemani bunyi burung hantu yang bersarang di pohon.
Selepas makan malam, Blaze menunggu Tok Aba sambil ditemani Air.
"Kok TV-nya udah lama rosak?" tanya Blaze menekan-nekan tombol di remote control.
Dia mula bosan berada di rumah itu. TV tidak bisa dipasang. Signal telefon juga tidak dapat tidak. Kabel internet juga tidak ada. Jangankan pula ada WiFi. Bagi orang kota seperti dia, dunia seolah-olah sudah berhenti berputar.
"Sudah lama...dua tahun. Ayah gak punya wang," balas Air tanpa ditanya lanjut.
"Gak apa-apa..besok lepas jam pulang kita ke kota buat beli TV ya?"
Air mengangguk sembari tersenyum.
"Nanti malam bisa gak Air ikut sama kakak?" pinta Air, matanya bersinar penuh harap.
"Sebaiknya kamu gak ikut. Kasihan ibu sendirian di rumah..."
Air menggembungkan pipi.
"Lagi pula kakak gak tahu nantinya pulang jam berapa. Mungkin lewat malam banget. Kalau terjadi apa-apa susah loh..." Blaze membujuk. Apa-apa pun dia harus bersedia menghadapi sembarang kemungkinan.
"Tapi kak..."
"Kalau ada apa-apa, nanti kakak cerita sama Air. Janji?"
Blaze lega karena Air tidak lagi membantah.
"Janji?"
"Janji," Blaze mengangguk.
Kemudian muncul tiga buah sepeda motor dinaiki beberapa orang yang kepalanya ditutupi helm sedang menghala ke depan rumah. Salah satunya dinaiki Tok Aba.
Setelah Blaze dibawa pergi oleh Tok Aba, Air masuk semula ke dalam rumah lalu berpapasan sama ibunya di kamar.
"Kakakmu sudah pergi?" tanya Ibu.
"Iya, baru aja." balas Air sebelum menghempaskan tubuhnya di kasur.
"Kamu kok belum tidur? Besok kamu kan sekolah," tegur Ibu.
Air teringat sesuatu yang harus disampaikan pada ibunya lalu bangkit semula.
"Air minta sama Kak Api untuk membaiki rumah kita."
Ibunya kaget, "Kenapa kamu gak tanya sama ibu dulu? Kita gak mahu repotkan kakakmu.."
Air menunduk.
Ibunya menggeleng lalu mendesah.
"Kita gak tahu kakakmu kerja kayak apa, jangan-jangan dia punya masalah di kota, jadi gak usah direpot-repotkan."
"Maaf, bu. Nanti Air bicara sama-"
Air terdiam. Percakapan antara ibu dan anak itu terhenti apabila lampu yang menerangi kamar itu mula berkelip-kelip.
"IBU!"
Air berteriak apabila terpandang seraut rupa yang jelek sedang memerhati mereka dari jendela kamar yang ternganga. Serempak keduanya tercium bau anyir dari jendela itu. Kedengaran juga bunyi burung gagak yang tanpa henti di atas atap. Angin kencang menderu masuk ke dalam rumah.
Air merapatkan diri dalam dekapan ibunya yang menangis.
Mereka dikelilingi lembaga yang berbagai rupa.
Keduanya pasrah. Saat ini, mereka hanya bisa mengharapkan perlindungan dari Tuhan.
.
.
.
.
Pantatnya sudah tersa panas. Kakinya sudah pegal, malah mata kakinya sudah merasa nyeri kerana terlalu lama berada di atas sepeda motor. Jalan kecil di desa itu yang berlekuk-lekuk membuatkan tubuhnya terhenyak-henyak. Namun, tempat yang ingin dituju masih belum kelihatan. Matanya memicing lurus menyaksikan jalan-jalan kecil yang begitu gelap, seolah-olah tidak berpenghujung. Keadaan di situ hanya diterangi cahaya lampu dari sepeda motor yang menyuluh.
"Jauh lagi ya, kek?"
Blaze mulai sadar bahawa mereka telah keluar masuk beberapa kebun karet, entah milik siapa. Jauh amat tempatnya..
"Sudah gak jauh," balas Tok Aba.
Blaze menoleh ke belakang. Dilihatnya dua buah sepeda motor yang mengikutnya tadi sudah tidak kelihatan. Entah bagaimana mereka bisa hilang dalam kegelapan. Jangan bilang kalau mereka sudah sesat...
"Mereka gak ikut?" tanya Blaze lagi. Dia benar-benar bingung tentang rencana Tok Aba.
"Ikut."
Jawapan Tok Aba yang pendek menyebabkan Blaze sebal. Terasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Kalau apa yang disembunyikan itu sesuatu yang buruk, dia tidak teragak-agak untuk mempertahankan diri. Walaupun kaki kirinya masih sakit, kaki kanan dan kedua-dua belah tangannya masih ada.
Tok Aba terkikik geli lalu terus mengendarai dengan serius. Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang panjang, mereka tiba di sebuah kawasan lapang.
"Kita sudah sampai."
Blaze turun dengan terpinga-pinga. Sangkaanya meleset. Dia menyangka dirinya akan dibawa ke tebing Sungai Rintis tetapi benar dugaan ibunya, dia kini berada di suatu tempat di ujung bukit. Mereka kini begitu hampir dengan desa sebelah. Seingatnya dahulu, di sini hutan belantara dan ayahnya melarang keras sekiranya dia ingin bermain hingga ke sini.
"Ada orang yang mengintip di rumahmu. Kakek terpaksa berencana seperti ini agar mereka tidak bisa mengikuti kita," Tok Aba bersuara setelah turun dari sepeda motor.
Raut wajah Blaze berubah. Jangan-jangan orangnya Fang dan kumpulannya. Ah, gak mungkin! Hatinya berperang namun rasa gerunnya tetap ada. Kenapa pula keluarganya ingin dicari? Mustahil. Kalau orang-orang Fang, sudah lama mereka datang berjumpa, berhadap terang-terangan. Intip-mengintip seperti itu bukan cara mereka.
"Nanti kakek ceritakan lagi. Ayuh ke sana dahulu."
Melihat Blaze bagaikan tidak percaya, Tok Aba mengajaknya pergi.
Tok Aba melangkah ke kawasan lapang yang tadi. Di situ sudah menanti dua orang pemuda dan dua orang gadis yang hampir sebaya umurnya. Salah seorang pemuda penuh memar di tubuhnya.
"Bagaimana tadi?," tanya Tok Aba pada seorang pemuda.
"Beres, kek."
Blaze terpinga-pinga.
"Iwan!" Blaze kenal muka itu. Iwan tersengih lebar lalu memaut tangan Blaze.
"Sudah lama tidak melihatmu, kakak kelas. Tumben tidak menegur malam itu?"
"Hehe..maaf, aku terlupa. Aku sudah gak ingat wajahmu," jawab Blaze jujur sembari meletakkan tangannya di belakang kepala.
Iwan cemberut namun tersenyum semula.
Blaze memandang seorang lagi pemuda berhadapannya lalu bertanya pada Tok Aba,
"Itu sih Hali kenapa?"
"Jatuh motor," jawab Tok Aba.
Halilintar memutar matanya sambil melipat tangan di dada, tidak langsung tersenyum. Dia memutuskan untuk mengikut sahaja walaupun tubuhnya masih luka-luka, bosan duduk di rumah. Sia-sia sahajalah dia pulang kalau tidak mengikuti latihan malam itu.
"Itu pula Ying, temannya Yaya," tunjuk Tok Aba pada seorang gadis bersurai hitam.
"Wah, kamu Api ya? Anak Pak Guru?" tanya Ying sembari tersenyum mesra.
Blaze mengangguk-angguk malu. Setelah diceritakan oleh Ying, baru dia mengerti bahawa mereka yang menaiki dua motor di belakang tadi berpatah balik ke rumahnya untuk memastikan keadaan lalu bisa kembali semula secepat itu. Dari mana mereka bisa kembali, Blaze juga tidak pasti. Seingatnya ada jalan lain untuk ke situ, tetapi hanya jalan yang dilalui Tok Aba tadi yang biasa ditempuh ayahnya. Blaze menganga kagum akan kecepatan mereka, Tok Aba sahaja yang sengaja mengendarai terlalu perlahan tadi.
Tok Aba terus bergerak ke tempat latihan lalu menghampar alas di kawasan lapang itu. Di sekeliling tempat itu terpacak empat batang jamung di setiap pojok.
"Kakimu udah baikan?" tanya Iwan sambil duduk.
"Belum lagi," ujar Blaze sambil mengurut-ngurut kakinya yang berdenyut.
Mereka duduk sambil menyaksikan Halilintar yang berlatih silat bersama Tok Aba.
"Dia kuat ya? Boleh tahan juga ya, walaupun cedera seperti itu," Blaze menyikut Iwan di sebelahnya.
"Tok Aba lagi kuat. Sudah berusia, jantungnya sebenarnya lagi sakit kok," balas Iwan.
"Sakit?" Blaze menoleh.
Iwan mengangguk, "Dia baru keluar rumah sakit bulan lalu."
Blaze berdecak kagum. Sejujurnya dia tidak pernah tahu pula bahawa Tok Aba dan ayahnya guru silat yang mahir. Dia hanya tahu ayahnya selalu keluar malam-malam.
"Kapan kakek dan Ayah jadi guru silat?" tanya Blaze setelah latihan malam itu selesai.
"Ayahmu baru sahaja, setelah ayahnya Hali meninggal, dialah yang menggantikan. Pada mulanya kakek juga dipilih, namun menolak karena kakek sudah tua dan kurang sihat. Selepas ayah Hali meninggal, ayahmu dipilih. Biarlah orang muda-muda. Namun gak nyangka pula ayahmu pula pergi. Mahu tak mahu, terpaksalah kakek yang teruskan mengajar selagi masih hidup."
Blaze termenung panjang. Otaknya ligat berpikir. Siapa pula selepas ini? Halilintar? Iwan? Dia? Tidak. Jangan. Jangan pula selepas ini dia disuruh macam-macam pula..
"Sudahlah...yang penting sekarang ini kita punya tugas besar."
Yang lain hanya tenang mendengar bicara Tok Aba. Hanya Blaze yang masih tidak paham apa-apa. Malah apa kaitannya pula dia dibawa ke situ? Tidak mungkin pula Tok Aba sengaja ingin mengajaknya jauh-jauh ke situ semata-mata untuk mereka bersilat di situ. Pasti ada sesuatu yang penting, yang perlu dia tahu, sama ada melibatkan ayahnya atau tidak.
"Sebelum itu kumahu tanya. Api sudah tahu bagaimana ayahmu meninggal?" tanya Tok Aba sambil menoleh memandang wajah Blaze yang kusut.
Blaze terdiam sejenak. Dia membayangkan wajah Air yang memberitahunya tempoh hari. Dia cukup sayu apabila disoal mengenai itu.
"Air bilang.."
Belum sempat Blaze menghabiskan kata, Tok Aba mengeluh.
"Jadi Air sudah bilang padamu?"
"Iya," balas Blaze.
"Kamu tahu kenapa?"
"Tok Aba tahukah?" Blaze menyoal semula.
Air tidak pernah menyebut hal itu.
Tok Aba mengunci mulut. Dia terdiam lama. Blaze pula makin hilang sabar.
"Api benar-benar ingin tahu?" soal Tok Aba lagi.
Blaze mengangguk laju.
"Kakek gak punya bukti, tapi..."
"Tapi?"
Blaze mangamati wajah Tok Aba, wajah yang menyimpan sesuatu rahasia.
"Kejadian itu mungkin punya kaitannya dengan apa yang diusahakan ayahmu, dan kumpulan silat ini."
Blaze terpaku. Kata-kata Tok Aba membuat dia termenung jauh. Apa ada yang dia sudah terlepas pandang? Jauh di sudut hatinya, sukar untuknya mempercayai bahawa ayahnya terlibat dalam sesuatu yang rumit. Setahunya, ayahnya seorang ayah yang tipikal sahaja. Keluar awal pagi mencari rezeki kemudian pulang ke rumah di sebelah petang. Itulah ayah yang dikenalinya. Dia tidak tahu pula ada sisi lain ayahnya.
"Sebenarnya apa yang mereka lakukan?" Sebenarnya, Blaze tidak sanggup untuk bertanya. Terasa hatinya berat untuk memandang semua muka yang ada di situ. Siapa mereka sebenarnya?
"Kamu tahu sejarah pembukaan desa ini?" soal Tok Aba.
Blaze merebahkan bahu. Dia mendesah lalu menggeleng.
Lalu, Tok Aba mula bercerita. Lipatan sejarah yang pernah didengarnya dibuka satu-persatu.
"Desa tua ini sudah berusia lebih 400 tahun, dibuka oleh tiga orang bentara raja yang melarikan diri dari Pagar Ruyung."
"Jadi?"
"Perselisihan berlaku di sana menyebabkan tercetusnya perang yang semakin merebak. Dalam suatu perbalahan, tiga orang bentara ini telah melarikan diri membawa keluarga dan beberapa orang pengikut mereka ke tanah seberang. Dibawa bersama mereka ialah senjata ulung kerajaan...tombak bertiga."
Blaze semakin berminat untuk mendengar apabila disebut soal senjata. Baginya, ia kedengaran menarik. Dia menolak ke tepi segala kepusingan yang ada.
"Mereka ingin melindungi tombak ulung tersebut daripada jatuh ke tangan musuh. Lalu mereka berpindah mencari tanah yang selamat. Demi kelangsungan hidup yang lebih aman, mereka merantau hingga terjumpa kawasan ini."
"Lalu, para bentara itu pula siapa, kek?"
"Merekalah bentara tiga bersaudara; Bentara Tanah, Bentara Petir dan Bentara Angin. Namun, beberapa hari setelah mereka tiba di sana, sesuatu terjadi pada Bentara Petir."
"Apa jadi, kek? Apa jadi?!" Blaze bertingkah kekanakan seperti anak yang didesak perasaan terlampau ingin tahu.
.
.
.
.
400 tahun sebelumnya..
"KAKAK!" teriak Angin.
Sejak senja lagi, tempat itu dilanda ribut topan yang kencang. Segala yang dibina, runtuh. Segala yang dipegang, tumbang. Pohon-pohon besar berguncang, pohon-pohon kecil runduk menyembah bumi. Api yang dinyalakan semua terpadam.
Mereka terpinga-pinga. Tidak ada siapa pun yang tahu dari mana punca segala malapetaka itu datang.
"Apa yang harus kita lakukan, kak? Ributnya tidak akan berhenti," ujar Angin.
Runsing di hatinya bukan kepalang. Kalau begitu keadaannya, bagaimana bisa hidup mereka bertahan di sini?
"Kalian berlindung di sana," arah Tanah sembari menunjukkan sepohon yang batangnya berukuran sangat besar.
Tanpa berlengah-lengah, ketiga-tiganya berkumpul dekat-dekat di bawah pohon tersebut dalam keadaan basah kuyup. Mereka tidak bisa lari ke mana-mana dalam guyuran hujan yang mencurah-curah seperti itu. Masing-masing termangu. Petir dan Angin menunggu keputusan Tanah. Sementara Tanah terus berdiam masygul.
"Kakak.." Angin ingin berbuat sesuatu namun dihalang oleh Tanah selaku ketua.
"Tunggu. Biar aku pergi lihat," ujar Tanah.
Lantas dia meninggalkan mereka. Langkahnya menghala ke rawa. Yang lain mula tertanya-tanya, namun tidak senang hati.
Angin tidak mampu menunggu lebih lama lalu dia pergi mengikut langkah Tanah. Tinggal Petir, melindungi keluarga dan pengikut yang lain. Setibanya di suatu tempat, langkahnya terhenti. Tidak jauh di hadapannya, kelihatan Tanah berdiri menghadap sesuatu yang tidak pernah dilihat sebelum ini. Dengan bantuan cahaya dari petir yang sabung-menyabung di dada langit, dia dapat melihat sebuah bongkah batu itu tiba-tiba berdiri. Mulutnya melopong.
Tanah yang menyadari kehadiran adiknya di situ, terperangah.
"Kamu kenapa ikutin aku? Kubilang tunggu di sana tadi..aku mahu lihat."
"Jangan, kak!" Angin melarang sambil menangkap sebelah tangan kakaknya. Dia serba salah untuk melepaskan kakaknya pergi. Selain mereka berdua, dirasakan ada sesuatu yang lain di situ.
"Selagi kakak gak pergi, selagi itu hal ini belum bisa selesai," Tanah membujuk. Namun, Angin tetap mengekori pergerakannya.
Makin lama mereka semakin dekat dengan bongkah batu yang dikelilingi buluh perdu dan dilingkari beberapa pohon besar. Namun, apabila Tanah nula mengelilingi bongkah batu itu secara mengundur, Angin tidak berani mengikut. Dia melihat sahaja.
Kellihatan Tanah sedang bercakap-cakap dengan sesuatu. Angin menoleh kepalanya ke kiri dan ke kanan, namun tidak ada sesiapa yang didapatinya. Sejak tadi Tanah tekun berbincang dengan seseorang atau lebih tepatnya, 'sesuatu'.
"Baiklah."
Setelah selesai, Tanah menunduk sembah lalu meninggalkan tempat itu. Ribut yang menguasai tempat itu semakin menghilang.
Angin kehilangan kata-kata. Matanya berkelip.
Apa yang baru sahaja disaksikannya?
.
.
.
.
Petang itu, Tanah pulang dengan sepuluh ekor ayam hutan. Tiga ekor ayam dijadikan santapan mereka malam itu. Selebihnya Tanah membawa ayam-ayam itu ke tempat batu tadi tanpa pengetahuan yang lain, kecuali Angin.
"Terus-terang, apa yang kakak lakukan? Kakak berbicara sama siapa? Apa yang ada di dlam batu itu?" Angin terus mendesak tetapi Tanah tetap bersikap cuek.
Akhirnya Tanah mengalah.
"Kita telah mengganggunya."
"Siapa?"
"Penjaga tempat ini."
Angin terdiam.
"Benda itu mahukan tuan. Mau dijaga."
Angin terus diam.
"Jadi kakak setuju?" Akhirnya dia bersuara.
"Ada upahnya nanti," Tanah tersenyum miris.
"Jadi, kita harus bersepakat menjaga kawasan ini. Asalkan kita tidak diganggu, gak apa-apa kan?" sambungnya lagi.
Angin mengetap mulut. Dia sebenarnya kurang yakin dengan keputusan kakaknya.
Namun, dia tidak tahu. Ada sesuatu yang harus dijadikan ganti atas persepakatan itu. Tiga hari kemudian, saudara mereka hilang.
TBC
Huahhh maaf ini ketiknya buru-buru banget..lagi sibuk.
Sengaja mau publish di hari ultahku dan sehari selepas ulang tahun pertama kemunculan BBB Air. Hehehe.. Selamat ulang tahun ya Air, hiks gak kerasa cepat bgt udah berubah jadi Ice :'3 Semoga para BBB bertambah keren! ^^
