Aku lupa pengen bilang TanahAnginPetir-nya umurnya tiga puluhan. Hah sungguh tak tega dan payah amat membuat mereka begitu tua lel..*ngetuk2 meja* mereka bapak-bapak yang baik..*mimisan* #dilempar

Ini chapter yang paling sukar karena harus mikirin ramai OC yang harus menyokong keadaan di setting yang begituan..Jangan ketawa ya jika namanya bodo amat. #apaauthorberhakngancemkalian? -,-"

Juga sempat dilanda writer block cari scene yang pas untuk adegan pembunuhan sodaranya..

Chapter ini settingnya masih dalam rangkuman cerita yang disampaikan Tok Aba pada Blaze di malam pertemuan di ujung desa.

Let's do it!


Keringatnya turun deras, mencurah-curah membasahi badannya yang tidak berbaju. Tenaganya sudah banyak terkuras. Pencarian sepanjang hari itu masih belum mendatangkan apa-apa hasil. Kakak keduanya belum nampak bayang. Entah di mana dia menghilang. Namun, Angin belum bertekad untuk berhenti walaupun setelah tujuh hari mencari kelibat kakaknya.

"Sudah jauh amat pencarian kita, Ngin."

Rimau tercungap-cungap mengambil napas sambil menunduk. Kelelahan jelas terpancar di wajahnya yang memucat. Bibirnya bergetar. Dia mengangkat kepala lalu menoleh ke arah Angin. Angin tidak membalas pandangan orang suruhannya. Matanya sibuk merenung hutan yang meliar di hadapannya. Dia kemudian mengalihkan perhatiannya pada tanah lembap tempat kakinya menumpuk. Kakinya dikelilingi pacet berserta hamparan daun-daun mati yang tebal. Mereka sudah mengembara jauh ke selatan. Kalau perkiraannya tidak salah, tanah yang didaki mereka itu akan membawa mereka ke sebuah bukit. Jika dia meneruskan perjalanan, itu mungkin akan mengambil masa sehingga lagi beberapa hari untuk tiba ke sebelah sana.

Kemudian dia mendesah. Akhirnya dia memutuskan, "Ya sudah, kalian bisa istirahat. Sehingga sini sahaja dahulu untuk hari ini. Aku juga sudah capek."

Rimau dan beberapa orang lagi lantas duduk penuh lemas di atas tanah. Mereka harus menyimpan tenaga yang tersisa untuk pulang semula ke penempatan sekiranya mereka tidak mahu bermalam di situ.

Lalu mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing setelah Angin memberikan kata putus. Walang memacakkan parangnya ke tanah lalu mengusap keringat yang turun hingga ke pipi. Sementara Senin dan Labu mengutip beberapa helai daun langir untuk mencuci luka di kakinya.

"Maafkan aku yang sudah merepotkan kalian sehingga harus meninggalkan keluarga. Aku sudah gak tahu kemana lagi mau dicari. Mustahil mereka bisa ghaib begitu aja..." ucap Angin.

"Apa kata kakakmu-Tanah tentang hal ini?" tanya Senin.

"Dia tidak bilang apa-apa. Menyuruh tidak, melarang juga tidak," balas Angin. Sejujurnya dia berasa aneh kerana kakaknya tampak cuek sahaja. Dia juga tidak mengikuti rombongan pencarian mereka. Dia bilang ada urusan, dan harus menjaga keluarganya dan yang lain.

"Mungkin Petir gak suka tinggal sama kita, lalu berpindah mencari tapak yang lebih luas di seberang sungai," Walang mengandaikan.

"Perahunya masih di tambat, gak mungkin dia berenang..." balas Angin.

"Jadi sampai kapan kita harus mencari?" tanya Labu.

Angin terdiam. Dia bukannya mahu mengalah tetapi andai mereka sudah keberatan maka tidak usah untuk dipaksa lagi. Apa pula kata anak-anak dan isterinya nanti?

"Mulai besok, kalian gak usah ikutin aku lagi. Aku mahu menyusuri sungai, siapa tahu kita tertinggal apa-apa jejak di sana," balas Angin dengan baik.

Kata-kata bentara itu disambut baik oleh anak buahnya dengan senyum tipis. Mereka harus pulang lagi dengan kehampaan. Setelah melalui perjalanan yang panjang, mereka selamat tiba menjelang tengah malam. Sebaik sahaja tiba, Angin tidak melihat Tanah di mana-mana.

"Paman Tanah ke mana? " soal Angin pada anak kecil Petir, Guruh yang lagi berbaring di sebelah unggun api.

"Gak tahu. Sejak Bapak gak ada, dia juga gak ada. Dari siang tadi gak kelihatan."

"Loh sepatutnya kan dia menjaga kalian? Kilat, Ribut, Beliung, Badai dan yang lain mana?" soal Angin yang mulai cemas memikirkan keselamatan anaknya.

"Hei, ketemu apa-apa?" sapa Galak, bawahan Tanah yang menunggu kedatangan mereka.

Angin menggeleng lemas. Lalu dia beredar mencari Tanah di tapak rumahnya yang jaraknya tidak jauh dari situ. Setibanya di situ, apa yang dilihat hanyalah unggun api yang sudah menjadi bara. Tanah tetap tidak ada.

"Kak..!"

Angin memanggil namun tidak dijawab. Selepas menunggu beberapa ketika, dia lalu beredar dengan hampa. Langkahnya dituju ke arah sungai untuk memandikan diri setelah seharian berjalan. Bulan mengambang penuh hingga cahayanya terbias ke permukaan air sungai yang keruh.

Lagi mandi di sungai, Angin terpandang ke arah tebing sungai di sebelah hilir yang terpisah dari tempat mereka berkumpul. Kerlipan cahaya yang memburamkan pandangan menarik perhatiannya. Dia menyadari seperti ada seseorang di situ.

'Kak Tanah? Atau..orang lain?' batinnya.

Tanpa mengalihkan pandangan, perlahan-lahan dia naik semula ke tebing. Langkahnya mengikuti cahaya yang dilihat tadi. Semakin dekat, sadarlah dia bahawa dia sudah berada di kawasan batu hitam itu. Beberapa batang jamung dipacakkan di sepanjang laluan menghala ke sebuah lubang.

Angin serba salah, namun langkahnya terus menapak. Di kiri kanannya tiada sesiapapun. Malam sudahpun larut, tidak sesuai pula untuk dia berteriak-teriak memanggil kakaknya.

Hatinya tidak puas. Dia mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk menjejak masuk ke dalam bongkah batu itu pada saat itu juga. Mungin Tanah ada di dalam, pikirnya. Dia masuk dengan teragak-agak. Kedengaran suatu suara di telinganya, suara seseorang yang sedang memantrai sesuatu. Bahasa yang digunakan agak aneh.

Angin mengerutkan wajah. Keadaan dalam gua itu tidaklah begitu gelap seperti yang dijangka. Bau karet terbakar yang menusuk hidungnya itu didapati berpunca daripada batang jamung yang masih bercahaya, diletakkan di dalam gua. Siapa aja yang telah berani datang ke sini malam-malam, selain dirinya?

Bau sesuatu yang busuk menyeruak masuk menerpa hidungnya lagi, sehingga dia sudah tidak tahan. Niatnya ingin pergi sahaja meninggalkan tempat itu, namun suara yang semakin kuat menggema itu seolah-olah mematikan langkahnya. Akhirnya dia mengalah pada sifat ingin tahunya. Dia menapak lebih jauh, lebih dalam. Dia berjalan sambil menekup mulut dan hidungnya.

Ruangan di gua itu berasap dengan tiba-tiba, semakin menyukarkan pernapasan dan penglihatannya. Hawa panas turut menguasai ruangan itu. Tanpa diduga, dia terlihat sebatang jamung yang dipacak ke tanah. Di sebalik asap tebal yang semakin reda, matanya diperlihat sesosok yang sedang membaca mantera sambil berlutut di hadapan sebuah batu besar. Dan apa yang membuatnya meriding ialah sesosok lagi terbaring mereput di atas batu yang bersimbah darah. Kepalanya tanggal dan dipacak.

.

.

.

.

Malam itu, Angin tidak lagi bisa melelapkan mata walau sesaat. Perasaannya resah. Hatinya Gundah. Bagaimana dia mahu mengkhabarkan pada anak-anaknya nanti? Sudahlah isterinya mati dibunuh ketika berperang di tanah seberang, kini apa lagi? Si Ayah pula menerima nasib yang lebih sadis. Hendak dibohongkan terasa kelu, hendak diceritakan terasa pilu.

Oh, alangkah bagusnya sekiranya mereka tidak berpindah ke sini, melarikan diri dari awal, seharusnya. Sebaiknya dia dan semuanya mati aja di tangan musuh...ataupun hanya melihat sahaja kehancuran tempat sendiri, rasanya mungkin tidak sepedih ini.

Dia merasa terganggu. Senekad itukah Tanah yang dikenalnya selama ini? Mengapa dia tidak bisa kenal sama Tanah yang itu? Tanah yang punya sisi yang sedemikian. Sudah hilangkah belas kasihan, semangat persaudaraan antara mereka sehingga tega melukai, bahkan membunuh sehingga begitu sekali? Sudah hilangkah akalnya yang waras? Dia kenal kakaknya, orangnya bijaksana dan dihormati sebagai pemimpin yang baik. Sungguh, dia tidak menjangka sangkaan baik pada kakaknya selama ini bakal berubah total. Kakaknya sudah gila.

.

.

.

.

Seminggu sebelumnya..

Laki-laki itu berlari deras di dalam hutan. Semak samun serta ranting yang mencuat ditempuhnya. Dia yakin banyak hewan buas sedang memerhatikannya di dalam hutan liar itu. Seketika dia berhenti di celah-celah batang pohon, mengambil napas. Telapak tangannya memaut pada batang pokok yang berukuran besar. Daripada posisinya yang menyandar lalu dia merosot hingga terduduk.

Sembari duduk, matanya menangkap sesuatu yang bergerak-gerak di dalam belukar tidak jauh dihadapannya. Diamatinya daun-daun belukar itu dalam beberapa saat, lalu dicabut tombak yang menyendeng di punggungnya. Petir mengatur langkah mendekati belukar itu dengan sangat berwaspada. Sesekali dia menoleh ke belakang, takut-takut ia hanya jebakan atau kemungkinan dia diterkam dari belakang.

Kemudian dia mundur setapak lalu melempar tombaknya ke arah belukar. Cepat-cepat dia mendekat semula untuk memeriksa jika ada apa-apa. Dia mendesah kerana tidak dapat menangkap apa-apa di situ. Setelah dipastikan tidak ada apa-apa, dia berjalan semula ke arah pohon tadi untuk mengambil sebilah kapak yang dibawa bersama. Dia harus mencari kayu sentang untuk dibuat penghadang.

Setelah menebas beberapa pohon lalu diambil batangnya, dikeratnya menjadi kepingan kecil lalu dia mengangkat berkas kayu itu untuk pulang ke penempatan.

Saat dia menunduk untuk mengangkat berkas kayu itu, seseorang menumbangkan kakinya dari belakang. Serta merta berkas yang diangkatnya jatuh. Sebelum itu, dia sempat menoleh sekilas.

"Kak Tanah?"

Tanah terlihat lebih banyak berdiam dari biasanya, lebih banyak termenung sejak mereka mulai tinggal di situ.

Jika diperhatikan dengan amat lagi, dia merenung tajam. Matanya menatap seseorang bagai pemangsa ingin menerkam mangsanya. Bagai makhluk bertaring yang lapar darah. Tangannya memain-mainkan batang tombak miliknya. 'Benarkah keputusan yang ingin dia lakukan sebentar sahaja lagi?' separuh dirinya sempat membatin. Dia sadar, dia tidak punya pilihan. Luka dihatinya belum sembuh.

Dia mencampak tombak itu sebarangan.

"Iya, aku." Ucap Tanah tidak acuh.

"Ke-kenapa?" Tanya Petir antara percaya dan tidak.

"Hulurkan tombakmu."

"Tetapi.."

"HULUR!"

"TIDAK!"

Serempak dengan itu, Petir terus berlari lebih dalam ke dalam hutan bersama tombaknya. Tanah mengejarnya. Petir menerobosi semak samun yang ada di hadapannya dengan mudah. Biarlah seluruh tubuhnya digores ranting-ranting berduri, asalkan dia dapat melarikan tombak itu daripada orang gila kuasa yang mengejarnya di belakang. Sesampainya di hujung, dia menoleh ke belakang.

Tidak ada.

Namun, dia tidak dapat melakukan apa-apa apabila mulut dan hidungnya ditekup dengan kain. Serempak bau karet itu menutup deria baunya, dan mematikan kesadarannya di situ.

.

.

.

.

Tanah mengangkat tubuh itu dipunggungnya lalu dibawa ke Batu Rintis. Lalu dia meletakkan tubuh itu di tanah. Dia harus memastikan adiknya itu masih hidup setibanya di tempat itu, kalau tidak, tidak ada guna. Lalu dia duduk bersila di tengah-tengah kawasan lalu menyeru sesuatu.

"Aku sudah mendapatkan tombaknya, serta tombak si Angin. Kubawakan juga tombakku. Dan juga darah adikku- darah saudara kedua, keturunan pahlawan...sesuai permintaanmu," ujar Tanah.

Kemudian dia memacakkan tiga bilah tombak di setiap penjuru kawasan itu, agar kawasan itu tidak bisa dilihat dari pandangan sesiapa sehingga upacara itu selesai.

Sementara itu, Petir mulai mengumpul kesadarannya semula. Di celah-celah asap yang meyelubungi kawasan itu, dia bangun lalu menarik keluar salah satu bilah tombak yang dipacakkan di hadapan gua. Dia melemparnya ke tanah.

Tanah terperanjat. Ritualnya terhenti seketika.

"Apa yang kamu lakukan?! Tancapkan semula benda itu!"

"Apa yang kakak mahukan dari tombak-tombak itu, hah?!" Tanya Petir tanpa terbata-bata.

Tanah terdiam.

"Kuasa."

Petir diam.

"Setelah ini, aku akan simpan kesemuanya buatku. Dengan memperoleh ketiga-tiganya, aku bisa kaya. Bisa jadi pembesar yang paling berpengaruh, bisa membangun semula kerajaan yang baru di sini, andai kata di sana benar-benar sudah musnah. Tahu kan kenapa Raja dahulu menyimpannya, walau telah beratus-ratus digunakan dalam peperangan, walau telah menumbangkan banyak nyawa musuh, sehingga kerajaan kita masyhur kerananya? Ia punya kesaktian yang tersendiri. Ayah dahulu kan tukang besi, seharusnya kau anaknya juga tahu itu."

"Tapi Raja telah mengamanahkan setiap satunya pada kita! Sanggup kau cemarkan kedaulatan Raja dan taat setia yang diwakili tombak itu dengan perbuatan kotormu! Kamu sama sahaja dengan pembelot kerajaan di luar sana, dasar pemimpin rakus!"

Tanah naik berang.

"Kamu itu yang terlalu mendominasi! Sok pahlawan, sok pemimipin, padahal cuma budak suruhan tetapi disayangi Raja. Kamu tahu, Raja menghadiahkanmu pangkat serta sebuah kawasan yang luas sebelum perang meletus. Sedangkan aku hanya bisa menguasai beberapa kawasan yang kecil, belum dibangunkan."

Petir sudah tidak tahu berkata apa-apa. Ternyata kedengkian dan iri hati sudah lama menguasai sosok di hadapannya sesama mereka berdua.

Lalu berlakulah pergelutan di antara mereka. Petir meninju Tanah tepat di pipi kirinya. Lalu Tanah menendang Petir sekuat hati sehingga terperosok ke dalam semak bagai dipukul angin kencang.

'Sial. Dia semakin luar biasa kuat,' Petir meringis pedih.

Dia bangkit lalu menghunjam Tanah hingga jatuh. Dia cuba menumbuk di dadanya, namun tubuh lelaki itu luar biasa keras berlian. Tangannya hanya memerah sakit. Dia menatap tajam mata saudaranya. Mereka saling beradu tatap dalam posisi menindih. Namun, Tanah hanya bersikap tenang

Tanpa diduga, tangan Tanah menggapai tombak yang tergeletak di sisinya lalu melayangkan mata tombak itu tepat di perut orang yang menindihnya.

Tanah tertawa puas.

"Hah! Ini untuk darahmu," ujarnya lalu bangkit menyeret Petir yang lagi nyawa-nyawa ikan ke dalam gua. Darah itu sempat ditadah lalu diletakkan di hadapan batu.

Setelahnya, diletakkan tubuh yang tak berdaya itu di atas batu, lalu darah segar menciprak deras ke dinding gua, disertakan siluet seseorang yang memegang pedang yang bersimbah darah.

.

.

.

.

Sampai pagi, dia hanya penat berpikir. Jawapannya tetap tidak ada.

"Kak Tanah," tegur Angin pada keesokan pagi. Gelodak di jiwanya sudah tidak tertahankan.

"Ada apa Angin? Bagaimana dengan pencariannya?"

Tanah memandang Angin begitu bersahaja. Hati Angin makin perih. Tingkah laku Tanah melukakan. Lalu dia menarik lengan Tanah agar menghindar dari yang lain. Dibawa Tanah ke arah batu hitam. Di tengah jalan, Tanah merentap lengannya dari pegangan tangan Angin. Mereka berdiri menghadap wajah masing-masing. Saling merenung.

"Berhenti berpura-pura, kak" bilang Angin.

Ketika ini dia dapat merasakan Tanah sudah mencurigai yang dia sudah tahu sesuatu. Maka dia terus berbicara tanpa basa-basi lagi.

"Sudah kutahu ke mana hilangnya Kak Petir," Angin berterus-terang.

Raut wajah Tanah berubah seketika namun tidak menjawab. Dia sekedar mendiamkan. Mukanya ditunduk.

"Sampai hati kakak.." ujar Angin dengan tatapan nanar.

"Kakak terpaksa, Angin. Kalau tidak tuan tanah ini murka."

"Murka tuan tempat ini yang kakak takutkan, murka Tuhan gimana?" Bentak Angin. Baginya, Tanah sudah tidak siuman. Buat pertama kalinya dia berasa kecewa seperti ini.

"Tuntutannya darah saudara kedua..Kalau tidak, gak akan aman hidup kita di sini."

Waki memandang Angin seolah-olah mengharapkan pengertian lelaki itu. Namun lelaki itu tetap membantah.

"Kalau tidak aman tanah di sini, bumi Tuhan masih luas, kak. Kita bisa cari tempat lain..."

"Kamu gak ngerti. Tempat ini bagus dan subur, rugi kalau ditinggalkan begitu aja."

Namun Angin tetap menggeleng. Apa pun alasan Tanah, dia tetap tidak bersetuju. Karena sebelum berlayar sejauh itu, mereka sudah berjanji. Kalau senang sama merasa, kalau susah sama menjaga. Tetapi belum sempat penempatan mereka dibangunkan, suda ada nyawa yang melayang.

"Aku tetap tidak bersetuju, kak. Datangnya kita ke sini untuk hidup baik-baik, kenapa di akhirnya harus jadi seperti ini?"

"Berapa kali kakak bilang, bahawa kakak terpaksa! Terlanjur berjanji, lagian kita sudah sepakat mahukan tempat ini? Satu hari nanti kakak harap kamu bisa mengerti kenapa kakak melakukan semua ini," bujuk Tanah sembari memaut lengan adik bungsunya.

Angin merentap legannya dari pegangan Tanah.

"Tidak! Bukan ini satu-satunya cara! Lagian, siapa Tuhan, siapa hamba?!"

Bagi Angin, alasan kakaknya sama sekali tidak masuk akal. Nyawa bukan barang dagangan. Kalau Tanah ingin bertegas, dia juga punya pegangan. Tidak ingin dia menunduk di hadapan makhluk sehina itu. Apatah lagi sehingga perlu menumpah darah sesama saudara sendiri.

"Kalau begitu katamu, pergi saja dari tempat ini. Tinggalkan tanah ini!"

Angin tercengang. Tega kakaknya mengusir dia dari situ. Kelihatan benar, Tanah sudah berubah. Sudah hilang pertimbangan. Entah apa yang merasuknya hingga bisa membuatnya bangkit melawan.

"Kalau kakak pikir aku bakal meninggalkan tempat ini, jawapanku SALAH. Mungkin kakak sudah lupa, kita, keluarga kita dan segala pengikut kita sudah bersumpah setia. Susah senangku sama-sama mereka. Kalau aku pergi, apa bakalan terjadi sama mereka? Penumpahan darah lagi? Apa pun kata kakak, aku gak akan percaya lagi," ucap Angin tegas.

"Angin..."

"Kakak silap. Aku bersumpah, takkan kubiar keturunanku tunduk pada iblis setan itu! Dan aku, akan tuntut bela atas kematian Kak Petir! Akan kubantu keluarganya mengalahkan kau bersama keluargaku!"

"Kamu tidak akan semudah itu mengalahkannya," ujar Tanah sinis, berkacak pinggang.

"Sekali dua mungkin aku tewas, namun suatu hari nanti aku percaya, akan ada seseorang yang akan bangkit menentang perbuatan kakak! Lawan tetap lawan biarpun seabad!"

Setelah kata-kata itu diputuskan, Angin meninggalkan Tanah. Berengganglah mereka sejak itu. Angin tidak lagi bertanya khabar tentang kakaknya. Sementara Tanah, hidupnya semakin angkuh bermandikan harta.

.

.

.

.

19 tahun selepas itu...

Keadaan di desa itu berubah cemas. Ada yang berlari-lari, ada yang terpinga-pinga. Khabar yang diterima membuatkan mereka semua kacau-bilau. Apa yang pasti, Angin juga yang dicari mereka.

Angin yang mendengar khabar yang disampaikan terus berkejar mengikuti warga desa yang memasuki jauh ke dalam hutan di pinggir bukit, di mana Tanah dan anak-anaknya keluar mencari jering sejak subuh lagi. Sebaik sahaja ketibaannya di situ, penduduk kampung sudah berkerumun di situ. Ada yang berjuraian air mata, ada yang menutup mata, tidak sanggup melihat apa-apa. Angin sendiri merasa sudah terbang semangat yang ada apabila menyaksikan keadaan Tanah yang hancur wajahnya karena jatuh terhempas di atas sebuah batu.

Dengan tangan yang terketar-ketar, Angin memegang tubuh kakaknya yang masih hangat. Andai masih bernyawa, ingin diajarnya mengucap kalimah syahadah. Namun, apabila muka Tanah dipalingkan menghadap wajahnya, dia kaget sungguh hingga dia melompat jauh ke tepi.

"Ya, Tuhan!" teriaknya kaget.

Wajahnya bukan sekedar hancur tidak berupa, malah busuk berulat.

Angin merasa hiba, yang lain turut merasakan hal yang sama.

Lalu dia menarik napas dalam-dalam kemudian bersuara pada penduduk desa.

"Kita bawa dia pulang ke desa. Wajib ke atas kita menyempurnakan apa yang ada."

Lalu mereka semuanya mulai menyediakan apa yang perlu. Disediakan sebuah usungan untuk membawa pemimpin mereka pulang ke Desa Rintis. Sebaik sahaja tiba di sana, berlaku ribut yang luar biasa, seperti kali pertama mereka menjejakkan kaki di situ. Segala rumah runtuh, pohon-pohon pula tumbang. Langit bertukar gelap seperti malam. Pemakaman malam itu tidak dapat disempurnakan dengan baik, maka menangislah keluarga Bentara Tanah kerana tidak dapat berbuat apa-apa sehingga pelantikan kepala desa yang seterusya selesai.

Malam itu, Angin perlu menyelesaikan apa yang perlu, apa yang disimpannya selama ini.

"Dengar; terserah pada kalian mahu percaya atau enggak, tapi..."

Seluruh keluarganya, keluarga Bentara Tanah dan keluarga Bentara Petir mendengar dengan teliti.

"Tapi apa?"

"Bentara Petir telah dibunuh."

Untuk seketika, ada yang menunjukkan reaksi kaget namun hanya diam.

"Dia telah dikorbankan kepada puaka itu...oleh..Kak Tanah sendiri. Aku telah melihatnya sendiri, di Batu Rintis."

Angin berkata dengan terketar-ketar. Tidak sanggup melihat reaksi semuanya.

"Tidak. Tidak mungkin dia berbuat begitu, kita semua bersaudara di sini. Aku percaya sama pemimpin kita."

"Iya, bukannya dia dahulu pergi berburu? Mungkin sudah dimakan hewan buas. Sudahlah, kita harus mikir bagaimana untuk menghentikan ribut ini."

"Tapi..kalian akan membahayakan lebih banyak nyawa!" Angin memberi amaran.

Saat ini Angin sudah pasrah. Terpulanglah pada mereka sekiranya dia dibilang omong kosong. Yang pasti, dia mahu menolak untuk dijadikan pemimpin mereka. Tidak mahu menggantikan tempat kakaknya. Tidak sanggup dan tidak akan.

Mereka tidak mahu mempercayakan Angin, lalu meyisihnya. Mereka percaya dengan mengorbankan ayam hutan, ribut itu bisa hilang. Dan benar saja, setelahnya ribut pun reda. Betapa gampang mereka tertipu dengan permainan setan.

Apabila ditanya alasannya tidak ingin diangkat sebagai ketua, Angin memberitahu kepada mereka secara baik-baik.

"Aku ingin menghilir sungai untuk berguru dengan para ulama'. Soal siapa yang ingin dijadikan ketua, terpulanglah sama kalian. Asalkan dia dapat menjaga ugama, menjaga desa ini dan keamanan kalian, maka pilihlah dia."

Sejak itu berusahalah Angin dan seluruh keluarganya mendalami ilmu agama untuk menentang perbuatan khurafat yang berlaku di desa itu, walaupun keluarga itu semakin disisihkan. Perjuangan mereka hanya satu- iaitu mereka bertekad untuk memusnahkan batu iblis tersebut dan menegakkan semula nama ALLAH di desa itu.

Walau apa pun yang mereka lakukan, masih belum ada yang berjaya memutuskan perjanjian tersebut. Makin lama makin banyak halangan yang terpaksa ditempuh karena mereka sudah sekian lama berpegang pada kesesatan.

Sebelum sampai ke penghujung hayatnya, Angin berpesan kepada anaknya, Badai.

"Berjanjilah padaku. Perjanjian itu harus diputuskan. Mereka harus dibebaskan sebelum terlambat. Dahulu aku bersalah kerana hanya berdiam. Namun sekiranya terlalu lama dibiarkan, kita akan menanggung dosa sampai kapan pun..Janji?"

"Janji."

Catatan dan cerita ayahnya ditulis berlembar-lembar lalu disimpan keluarga Bentara Angin hingga berabad lamanya.

TBC


HAH! HABIS JUA SCENE INI! Sungguh feelnya hanya seberapa dan action-nya dikit walaupun sempat baper nulis bagian akhir. Unsur keagamaannya kental sedikit loh...Kasihan trio asasi(?) kubikin siksa..gwahaha xD #plakk

Makasih buat Kak Nayu, umurku 18.