Gua itu hanya diterangi tiga batang jamung. Di sebahagian pojoknya masih diselimuti kegelapan yang pekat. Bahagian yang terang hanya di mulut gua. Kelihatan seorang laki-laki berdiri berhampiran sebuah batu yang rata. Di atas batu itu terlentang sekujur jasad yang sudah tidak sadarkan diri. Di atas lantai pula, dan di mana-mana tempat itu dibasahi dengan darah.

Gunung menumpukan sepenuh perhatian. Pedang pendek di tangan terasa semakin berat namun digagahkan juga untuk menetak leher manusia di hadapannya sehingga putus. Sebaik sahaja putus urat merih di leher, tersemburlah darah ke wajahnya. Diseka darah yang membasahi wajahnya menggunakan telapak tangannya lalu dijilat darah yang mengalir hingga ke siku, seperti menjilat air susu.

Dia buru-buru mendapatkan tempurung kelapa lalu menadah darah yang keluar dari leher mangsa yang terkulai. Setelah hampir penuh, diletak tempurung itu di atas pelantar batu itu.

Tanpa menunggu lanjut, ditetak tulang leher berkali-kali hingga putus. Lalu bercerailah kepala manusia malang itu dari badannya. Gunung mengangkat kepala itu ke tepi dinding lalu menekannya kuat dengan sula, sehingga cebisan urat dagingnya membuak keluar melalui lubang mata.

Setelah selesai membaca sekalian mantera dan menyeru, maka diteguknya darah yang ditadah tadi sehingga habis. Selesailah tugasnya di situ.

Lalu Gunung beredar meuju sebuah lubang di belakang gua itu. Ada satu lagi tugas penting yang perlu diselesaikannya.

Waktu itu bulan mengambang penuh di tengah malam. Kelihatannya meremangkan namun Gunung sudah terbiasa dengan didikan ayahnya. Dia berhenti apabila sampai di perdu pohon cengal di belakang gua itu. Dia mengalihkan pelepah daun nipah ke sisi. Kelihatan sebuah lubang berbentuk segi empat yang sudah digali sejak seminggu yang lalu. Kata ayahnya dahulu, di situlah tempat sebuah makam lama yang tidak bernisan. Harus digali sebelum upacara pemujaan itu dilakukan namun sekarang semuanya sudah tersedia, dia merasa lega.

Tanpa berlengah, Gunung berpatah balik ke dalam gua. Dia mengangkat mayat yang sudah tidak berkepala lalu diheret ke lubang tadi. Setelah tiba, dia menolak mayat itu ke dalam lubang. Belum sempat dia menutup lubang itu semula, dia terdengar bunyi seperti orang kelaparan yang melahap sesuatu dengan rakus.

Bunyi itu turut menderam begitu kuat, seperti memperebutkan sesuatu. Dia melangkah mundur beberapa tapak. Dia berpaling sebentar dari lubang itu untuk mencari dari mana bunyi itu datang. Dia terdiam lama sambil meyapu keringat yang turun di tengkuknya. Dia memberanikan diri untuk menoleh semula ke arah lubang tadi. Apabila menjenguk ke dalam lubang, dia mundur lagi sehingga sebelah kakinya tersepak akar pohon. Kini dia jatuh terduduk dengan mulut yang menganga.

Apa yang membuatkan Gunung tidak mampu mengeluarkan suaranya ialah apabila dia melihat lelaki itu melahap cebisan mayat yang dibuang tadi, tidak ubah seperti harimau yang kelaparan. Apa yang lebih memeritkan jiwa ialah dia mengenali orang tua itu. Jasad yang sudah 40 hari dimakamkan.

"Bapak.."

.

.

.

.

Blaze dan yang lain-lain begitu asyik mendengar Tok Aba bercerita. Walaupun kedengarannya begitu menarik namun Blaze antara percaya dan tidak sahaja. Kini dia sudah tahu mengapa ayahnya dahulu tidak pernah menghadiri apa-apa kenduri yang diadakan keluarga Bentara Tanah. Ternyata mereka punya sengketa dalam diam. Kini dia bisa ingat, keluarganya punya salasilah keturunan Bentara Angin.

Blaze ternganga haru sebelum memandang wajah setiap orang di situ.

"Jadi terserah kepada siapa yang mahu percaya," Halilintar berujar sambil menyilangkan tangannya di depan dada.

"Jadi..tidak lama lagi desa in akan mendapat kepala desa yang baru?" tanya Blaze setelah mengingati semula perbualannya dengan peniaga warung di bandar tempoh hari.

Tok Aba mengangguk, belum sempat dia membuka mulut, Halilintar menambah.

"Karena itu keluargamu diganggu."

"Kenapa bisa?!" bidas Blaze dengan rasa panas di hati.

Tiba-tiba sahaja dia mengaitkan ibu dan adiknya, bagaimana hatinya bisa tidak marah?

"Sudah kuduga kau masih belum mengerti. Kepala baru bererti mereka mahukan kepala lagi. Paham?" Balas Halilintar sarkastis sambil mendelik ke arah Blaze.

"TAPI MENGAPA KAU HARUS MENYEBUT SOAL KELUARGAKU? KENAPA BUKAN ORANG LAIN AJA YANG TINGGAL DI DESA INI? KAU JUGA PUNYA KELUARGA!"

"Sabar, Api." Tegur Tok Aba. Dia juga memberi isyarat kepada Halilintar untuk tidak bersuara lagi. Halilintar akur dengan muka yang tegang.

Blaze tidak dapat menahan diri. Dia ingin tahu sejelas-jelasnya mengenai apa yang dikatakan Halilintar. Soal nyawa bukan candaan. Sekarang, dia mengharapkan pandangan Tok Aba.

"Kamu sendiri sudah mengalaminya sedikit malam tadi bukan? Kepala desa yang lama sudah gak ada. Jadi puaka itu lagi bebas sebelum mendapatkan tuannya yang baru. Puaka itu agaknya lagi dipuja sama penjaganya. Sebab itu ia semakin mengganas, meminta darah untuk memuaskannya," ujar Tok Aba.

Blaze mengerutkan dahi. Jantungnya bagai direntap kasar. Dia sudah mula bisa mencantumkan semua cerita yang didengarnya malam ini cuma tidak sanggup mengungkapkannya dengan kata-kata.

Halilintar sudah bosan menghadap lelaki yang tampak bingung itu. Dia menambah pedas.

"Mereka bakal datang mengambil salah seorang dari ibu atau adikmu, atau lebih parah, kedua-duanya."

"JANGAN ADA SIAPA-SIAPA YANG BERANI MENGAITKAN HAL KONYOL INI SAMA IBU DAN ADIKKU!" Bidas Blaze tidak terima. Baginya Halilintar sudah keterlaluan.

Yang lain hanya cemas melihat ketegangan yang berlaku antara dua insan tersebut, dan bersiap-siap ingin menahan kedua-dua pihak sekiranya mereka berantem fisik.

Walaupun udara malam di pinggir bukit itu amat sejuk namun tubuh Blaze sudah berpeluh. Perasaannya hangat tidak menentu. Mahu percaya, dia bimbang. Kalau yang didengarnya hanya dongengan, dia mahu ketawa. Mustahil bukan di dunia modern ini masih ada yang menyerahkan tumbal pada sebuah batu? Tetapi bagaimana pula kalau semua itu ternyata benar?

Tidak ada yang berani membuka suara kecuali Tok Aba.

"Dan kakek juga percaya, semua ini punya kaitan sama kematian ayahmu."

Blaze menoleh ke wajah Tok Aba dengan pandangan lirih. Benarkah?

Tiba-tiba Blaze hilang pertimbangan.

"AARRRRGGGHHH...!"

Dia meneriak sekeras-kerasnya dengan tangannya menghantam tanah.

"Api, sudahlah. Kemarahan itu menghilangkan kewarasan akal. Membutakan mata hati, menghapus belas kasihan," tegur Tok Aba lembut.

"Siapa yang telah membunuh ayahku, kakek? Akan kubunuh dia!" Blaze bersuara lantang. Dia hampa karena dia tahu Tok Aba dan kumpulan itu tahu sesuatu, tetapi tidak berani membuka mulut.

Tok Aba menggeleng.

"Sssttt...Sabar, bawa bertenang. Ingat sama ALLAH. Kita gak berhak mencabut nyawa orang," Tok Aba menenangkan Blaze sambil menekan-nekan bahunya.

Blaze menepis pegangan di bahunya. Dia yakin semuanya yang ada di situ pikir dia bercanda semata-mata. Mereka tidak mengenalnya siapa dan apa yang pernah dilakukannya.

"Mengucaplah dan banyak-banyakkan istighfar...Sesungguhnya amarah itu permainan setan. Kakek tahu kamu khawatir, tapi biarlah hal ini diselesaikan dengan cara yang benar," bujuk Tok Aba.

Cara yang benar? Yang benar bagaimana? Setahu Blaze, nyawa dibalas nyawa. Barulah itu yang dinamakan benar. Blaze berusaha menahan diri.

"Keluarga Bentara Angin memang sudah lama dibenci oleh keluarga yang lain di desa ini. Sebab itu penduduk di desa ini berpecah. Ada yang mengikut keluarga Bentara Tanah. Keluarga Bentara Petir juga begitu. Ada yang percaya, ada yang tidak. Hanya sebilangan kecil yang mahu berurusan dengan orang-orang kita. Mereka bekerjasama untuk menghalau waris Bentara Angin dari desa ini agar gak ada lagi yang mengikuti pegangan kami. Namun mereka sampai sekarang tidak bisa berbuat apa-apa karena tanah kami memang milik kami. Sudah tercatat di surat hibah. Tapi salah satu cara yang mereka bisa lakukan ialah mengorbankan keluarga Bentara Angin...biar lama-lama hapus semuanya. Sebagaimana keluarga Bentara Petir yang hampir lenyap, tinggal orang-orang tertentu," Tok Aba bercerita lagi.

"Halo~ aku di sini..." Iwan terkikik sambil menarik-narik tangan Halilintar.

"Heh, kau juga," pintas Halilintar. Mereka berdua memang punya salasilah dari kedua-dua keturunan Bentara Petir dan Bentara Angin. Cuma mereka antara golongan yang bekerjasama dan mendukung usaha kumpulan itu.

"Jadi..maksud kakek, sebelum ini juga ada keturunan Bentara Angin yang dijadikan korban?" tanya Blaze terpinga-pinga.

"Iya, tapi bukanlah selalu perkara itu berlaku. Bisa juga dari keluarga yang lain di desa ini, tidak kira keluarga Bentara atau keluarga para pengikutnya. Cuma kali ini tampaknya pilihan jatuh ke keluargamu. Mungkin juga karena ada pihak yang takut sama almarhum ayahmu, karena itu mereka bercadang untuk menghapuskan keluargamu sekaligus. Tetapi dengan kuasa Tuhan, kamu pula ditakdirkan kembali ke sini."

Blaze termenung lama. Dia mulai paham sesuatu.

"Maksud kakek, ayahku juga merancang untuk menentang puaka batu itu?"

"Hemm," semuanya mengangguk serempak.

Blaze terperangah. Oh, jadi itulah hal sebenar yang ingin dibicarakan...tunggu, apa?

"Api, ayahmu memang waris Bentara Angin seperti kakek juga. Cuma dari susur galur dan jurainya yang sedikit berbeza, maklumlah ini sudah sampai keturunan yang ke berapa di beratus-ratus tahun yang ke depan sejak kejadian itu. Sememangnya sejak dahulu lagi susur galur sebelah ayahmu mewarisi sebuah kitab lama dan bertanggungjawab menghapuskan kegiatan memuja batu puaka itu."

Blaze terdiam. Terlalu banyak rahasia yang perlu disimpan ayahnya sebelum sempat memberitahunya. Dia tidak pernah terpikir pula sebelum ini. Salahkan dia yang melarikan diri serta tidak pernah pulang sebelum ini. Pantas saja ayah menyuruhnya belajar baik-baik dahulu. Ini memang soal maruah keluarga ayahnya, orang baik-baik, bukan calang-calang orang. Masa anaknya harus jadi sebegitu?

"Jadi karena itu ayah dibunuh?" soal Blaze ragu-ragu.

"Itulah yang kami semua curiga," jawab Tok Aba.

Blaze kembali termenung. Hal ini semakin berat. Kalau sudah sampai bunuh-membunuh, tentu hal ini patut dianggap serius.

"Sudahlah, kita serah aja kasus ini ke polisi. Dengan ijin-Nya, suatu hari nanti masalah ini diharap selesai. Sekarang, masa sudah tiba," ucap Tok Aba serius.

Mata Blaze berkelip-kelip. Apa lagi? Dia memandang semua wajah yang ada di situ. Semuanya kelihatan bersigap-sigap, serius kecuali hanya dia yang kelihatan mengantuk, capek. Sesungguhnya malam ini malam yang amat melelahkan baginya.

"Hanya pada waktu seperti ini tombak-tombak itu dikeluarkan. Mengikut cerita orang tuaku, kalau tombak bertiga itu dicampak ke muara sungai, hanya tepat di titik pertemuan laut dan sungai, maka demit itu akan tewas. Sayang sekali, ayah Api sudah tewas dibunuh terlebih dahulu. Maka sekarang, siapa yang mahu mengganti tempatnya? Kita sudah kesuntukan masa dan masa semakin dekat," ucap Tok Aba.

Blaze ternganga. Matanya berkelip. Semua yang ada di situ merenung tepat ke arah wajahnya.

Dia meneguk ludah. Tidak mungkin, dia?

"Kalau peluang ini kalian lepaskan, kita harus menunggu pertukaran kepala desa yang seterusnya. Pada waktu itu, kakek mungkin sudah tidak ada lagi. Kalian pula entah ke mana. Mungkin usaha ini hanya tinggal kisah kalau gak ada waris yang sanggup meneruskannya," ujar Tok Aba tenang.

Blaze mengeleng-geleng, "Entahlah.."

Buat masa ini, dia sudah tidak kuat untuk memikirkan apa-apa lagi. Dia benar-benar pusing. Sudah banyak yang baru didengarnya malam ini. Dan sejujurnya, dia masih belum bisa mempercayai semuanya.

"Ibu dan adikmu dalam bahaya. Percayalah.."

Blaze megeluh perlahan.

"Kamu harus fikirkan baik-baik dahulu, tapi seandainya kamu mahu mengambil peluang ini untuk meneruskan harapan ayahmu, kami sedia membantumu. Kakek percaya, mereka tidak akan melepaskan kalian dengan mudah."

"Siapa?"

"Keluarga Bentara Tanah yang menjaga adat dan batu itu, mereka tidak akan membenarkan sesiapapun menghalang," jawab Tok Aba.

Blaze mengeluh sambil mengusap mukanya, lalu berdiri.

"Aku mahu pulang."

.

.

.

.

Tok Aba membubarkan pertemuan malam itu apabila Blaze sudah keberatan. Tok Aba menghantar Blaze pulang menaiki sepeda motornya, manakala yang lain masing-masing pulang dengan sepeda motor. Tok Aba dan Blaze ditemani Iwan yang menunggang sepeda motornya di sisi kiri Tok Aba. Sebaik sahaja tiba di perkarangan rumah Blaze, Tok Aba menghentikan motornya secara mendadak.

"ASTAGHFIRULLAH!"

Tok Aba kemudiannya melaungkan takbir.

Blaze terpinga-pinga, namun matanya turut sempat menangkap sesosok lembaga hitam yang besar, melompat dari atap rumahnya terus ke puncak pohon asam di kiri rumahnya lalu menghilang dalam kegelapan malam. Dia terketar-ketar kerana belum pernah melihat makhluk berupa seperti itu.

Setelah keadaan makin tenang, Blaze masuk ke rumah menerpa ibunya yang sedang menangis, dengan Tok Aba dan Iwan mengikuti di belakang.

"IBU! AIR DI MANA?" ujar Blaze terketar-ketar. Ibunya menunjukkan sekujur tubuh yang terbaring lemas di lantai. Wajahnya pucat lesi.

"AIRRR..." Blaze memeluk adiknya. Mujur adiknya itu masih bernapas.

"Ibu, kenapa dengan Air? Apa yang berlaku?" tanya Blaze pada ibunya. Lantas ibunya menceritakan segala yang terjadi selama permergiannya malam itu. Ibunya turut memandang Tok Aba dengan tatapan lirih.

"Tadi rumah kami diserang. Air pingsan tidak sadarkan diri setelah memelukku lama..dia berusaha melindungiku."

Blaze melemparkan pandangan terhadap Tok Aba dan Iwan. Dia menarik napas. Jadi benarlah, keadaan bertambah parah dan dia sadar semua yang didengarnya tadi sememangnya bukan dongengan.

.

.

.

.

Tok Aba dan Iwan berpamitan untuk meninggalkan rumah itu lalu pulang ke rumah masing-masing. Akibat kecapekan, Blaze kembali ke ruang tamu lalu duduk bersandar di tepi dinding. Kakinya sudah bengkak sepanjang berada di tempat latihan dan sekarang dia mahu istirahat. Dia memijit perlahan lututnya yang pernah cedera semasa berlatih Muay Thai bersama anggota kumpulannya.

"Api ke mana tadi?" soal Ibu lalu duduk bersimpuh di sisi anaknya.

"Kakek tunjukkan tempat latihan."

"Lagi?"

"Kami berbual soal kampung."

"Apa yang kakek ceritakan?"

"Macam-macam."

Blaze masih cuba mengelak dari disoal ibunya terus. Dia mengelak daripada bertantang mata sama ibunya. Dia tidak mahu mengkhawatirkan ibunya. Sejujurnya, dia juga masih kaget. Dia belum ingin membuat apa-apa keputusan. Dia tidak yakin ibunya tahu apa-apa. Siapa juga yang tidak takut kalau tahu dirinya bakal disembelih hidup-hidup?

"Terus? Apa yang kakekmu bilang soal ayahmu?"

Blaze menyibukkan diri mengurut kakinya.

"Kakek akan biarkan polisi menguruskan soal yang itu. Masalah gangguan di rumah, itu kakek dan orang-orangnya yang akan uruskan. Mereka akan mencari orang yang bisa menghalau benda itu dari rumah. Ibu bersabar aja dahulu...," ujar Blaze.

Ibunya hanya mengangguk pasrah.

"Ibu harap...semua ini bukan berpunca dari ayahmu."

"Mengapa ibu bilang begitu?"

"Penduduk desa udah mula bilang yang macam-macam. Menuduh ayahmu membela setan, sebab itu kita diganggu."

Blaze semakin serba salah. Dia paham apa yang ingin ditanya.

"Apa yang ibu pikirkan soal ayah?"

"Orang kata ayahmu orang jahat, menyertai kumpulan haram. Karena itu dia ditembak."

Blaze tersenyum lirih lalu membujuk ibunya. Dia turut merasa disindir. Dia paham perasaan ibunya.

"Sebaiknya ibu diam aja. Gak usah percaya sama omongan kosong mereka...Kita lebih tahu almarhum ayah orangnya bukan seperti itu. Yang penting, Tuhan lebih tahu almarhum ayah itu bagaimana."

Dadanya sebak memikirkan soal itu. Kini dia sadar penderitaan yang ditanggung keluarganya. Sudahlah hidup susah, ditambah pula hinaan dan cemoohan masyarakat.

Dia sadar, dia harus melakukan sesuatu. Nama ayahnya perlu dibersihkan.

.

.

.

.

Malam semakin sunyi. Setelah dipastikan semuanya tidur, Blaze megeluarkan ponselnya lalu menghubungi Taufan. Namun, ponsel lelaki itu lagi mati. Lalu dia menghubungi seseorang lagi sebaik dia teringat suatu hal.

"Ejo Jo,"

"PERGI MANA LU?!" sergah orang di balik ponsel.

"Kapan aku pernah bertanya 'kau ke mana' padamu, hmm?" balas Blaze. Dia tidak suka kalau Ejo Jo bertindak mengalahkan ketua.

"Apa-apaan kau menghubungiku?"

"Begini. Kudengar dua minggu lepas kau tembak satu orang di Pulau Rintis. Iya kan?"

Detak jantungnya melaju. Sejak dia mengetahui cerita ayahnya ditembak, dia teringat cerita Taufan semasa mereka sarapan di warung. Dia takut kalau-kalau kenyataannya benar.

"Ya iyalah...bawel bangat mau tanya."

"Di mana?"

Kalau bukan hal penting, dia tidak ingin bercakap sama laki-laki perengus itu.

"Sebuah desa. Desa Rintis. Orang tua. Naik motor. Sekali kutembak sudah tercampak dalam semak. Mahu apa lu tanya sama gua?" Ejo Jo tertawa lucu.

Mendengar jawapan Ejo Jo, tubuh Blaze menggigil marah. Sekarang dia yakin, yang ditembaknya itu ayahnya, lalu yang menembak itu Ejo Jo. Jarinya menggeletar.

"BRENGSEK! Siapa yang mengupahmu, keparat?!" tanya Blaze kasar.

"Tanya si Fang lor..." ujar Ejo Jo selamba sebelum memutuskan talian.

Blaze menggenggam ponselnya kuat-kuat seolah-olah ingin dibuat hancur. Telapak tangannya panas. Ikut hatinya, ingin saja saat ini dia pulang ke Kuala Lumpur mencari Ejo Jo, mengejarnya sampai dapat. Tetapi memikirkan ibu dan adiknya di situ, kakinya terkunci. Sampai pagi hatinya panas.

Panas!

.

.

.

.

Tok Aba dan Halilintar singgah di rumah ibu Iwan. Kopi yang dituang ke dalam beberapa cangkir dan sepiring kue sudah menyejuk tidak tersentuh. Mereka masih asik berbual-bual di ruang tamu rumah itu.

"Hei, Hali. Gimana, enak jatuh motor tempoh hari? Seram gak hantunya?"Tanya Iwan dengan nada bercanda.

Air muka Halilintar berubah. Dia mencebik lalu merenung Iwan tajam.

Iwan hanya terkikik, "Itu dong...Sok berani lagi."

"Sikit aja! Kalau kamu yang kena bagaimana? Mungkin udah jatuh pingsan kayak selalu aja. Aku masih sempat bangkit menolak motor itu ke jalan keluar."

"Kenapa cuma tolak? Gak naik?" tanya Iwan sambil tertawa.

Halilintar menggaru kepala, "Panik?"

"Keadaan di kebun itu kelam amat, lagi ingin dilanda ribut," tokoknya lagi.

Tok Aba menarik napas. Dahinya berkerut.

"Kenapa, kek?" tanya Halilintar.

"Heran juga ya kali ini," balas Tok Aba.

"Apa yang ingin diherankan,kek? Selalunya memang kayak gitu aja," balas Iwan pula.

Seyuman menghilang di wajahnya. Semua orang yang ada di situ kembali serius.

"Tidak juga. Dahulu kampung kita tidak diganggu separah ini, di masa perlantikan kepala desa yang lama."

Tok Aba teringat apa yang pernah dialaminya suatu ketika dahulu, dan segala cerita yang pernah didengarnya dari mulut orang-orang desa.

"Entahlah, aku juga gak bisa ingat apa-apa. Waktu itu aku masih kecil. Sampai sekarang aku masih takut kalau harus keluar malam-malam, kalau diteman sama kalian, gak apa-apalah," ujar Iwan.

"Jangan sampai kita takut pada 'dia', rasa takut itu lumrah. Tapi kalau sudah sampai tahap percaya bahawa 'dia' membawa mudarat, itu sudah salah," nasihat Tok Aba. Dia merenung seketika kedua-dua wajah di hadapannya.

"Sebab itu dia selalu datang dalam rupa yang menakutkan. Kalau datang dalam rupa yang elok, tidak berhasil tujuannya untuk menggoda iman manusia. Bukankah manusia selalu bergantung pada pandangan mata? Yang buruk mudah dibenci, yang ngeri mudah ditakuti dan yang elok mudah dipuji?" sambung Tok Aba lagi.

Iwan dan Halilintar mengangguk akur sebelum saling melemparkan pandangan.

"Siapa penjaga Batu Rintis itu sekarang?" tanya Halilintar.

"Kakek kurang pasti, namun rasanya seseorang yang namanya Gempa."

"Hey, kudengar dia seorang yang kaya-raya, berjabatan tinggi, berjaya punya berbagai-bagai cabang perusahaan hingga ke luar negara! Fuhh siapa sangka hidupnya mewah sekali walaupun di usia muda.." Iwan membuka cerita.

"Hmm...mungkin juga yang itu. Sebab setahu kakek juga, dia juga yang selalu datang ke acara kenduri orang-orang desa untuk menguruskan pelantikan nanti. Tapi gak tahulah kalau orang lain pula yang meneruskan kerja itu, sesiapapun dari keturunan Bentara Tanah yang bisa asalkan orangnya sanggup membuat kerja gila seperti itu."

Halilintar cuba mengingat sesuatu.

"Laki-laki yang bermata emas itukah?"

"Hah! Iya! Emas? Yah, memang they have a thing sama emas, kek! Sebab itu mereka kaya-raya! Tetapi tidak tahu pula emas itu didapatkan dari mana, mungkin ada sesuatu tempat yang mereka sembunyikan, punya kawasan lombong atau apa, tapi tidak mahu berkongsi dengan keluarga lain," tokok Iwan beria-ia.

"Ih, kamu sih! Sok Inggeris pula sama kakek, mana dia ngerti!" Tegur Halilintar.

"Hey, apa yang kubilang barusan itu benar! Siapa tahu juga kalau matanya itu digantikan dengan emas beneran. Dasar mata duit-HEI!"

"Omong kosong. Sudahlah!" Halilintar menendang kaki Iwan di sebelahnya.

"Tapi apa yang dikatakan Iwan barusan mungkin benar juga. Ada sesuatu yang mereka rahsiakan. Setahuku, di Rintis Holdings itu hanya keluarga dan orang-orang Bentara Tanah sahaja yang dibenarkan kerja. Yang lain tidak dilayan," tambah Halilintar dengan nada serius sambil menatap wajah Tok Aba.

"Kalian kenal dia?" tanya Tok Aba.

"Siapa? Gempa? Dia tinggal di Rintis Pinggiran, berhampiran hutan simpanan. Rumah tua milik keluarga satu-satunya ada di situ, paling ujung," beritahu Iwan.

"Gak habis-habis nge-stalk orang," balas Halilintar pedas.

"Dia dan ayahnya dahulu sangat dihormati penduduk desa. Kalau ada kenduri, mereka dibawa makan di tempat lain, lauk-pauk juga dihidangkan berlainan jenis," balas Iwan acuh tak acuh.

Tok Aba diam sahaja. Senyum tidak, bermasam juga tidak.

"Hal itu gimana pula, kek? Mahukah si Api itu?" tanya Halilintar.

Itulah yang ingin dibicarakan olehnya dari tadi. Dia mahu lelaki tua itu mendapat jawapan yang diharapkan daripada lelaki itu. Tetapi Tok Aba tidak langsung menjawab.

TBC


Mungkin ada yang bingung sama keluarganya Blaze? Tok Aba itu di sebelah ibunya. Asal usul sebelah si Ayah yang menyimpan kitab itu, yah walaupun keseluruhannya juga punya asal usul . Blaze tiada kakek di sebelah ayahnya(mungkin saja telah dihapus tetapi Blaze tidak tahu). Karena itulah ayahnya, kemudian dialah yang diberi tanggungjawab itu.

Rumit, bukan? HeeHeeHee~