Di sebuah kelab malam yang terletak di selatan ibu kota, Taufan berkeringat menunggu kedatangan Fang dan teman-temannya. Suasana berisik di situ tidak sesekali dapat menghilangkan segala apa yang meguasai perasaan dan pemikirannya saat itu. Dia tidak bisa membayangkan apa kata Fang sebentar nanti dan apa akibat yang akan menimpanya setelah itu. Hendak lari, bisa mati, hendak menunggu juga terasa mati.
"Taufan!"
Akhirnya yang bersangkutan mengurut dadanya apabila disergah oleh kemunculan orang yang ditunggu-tunggu sejak bermulanya malam. Dahinya bersimbah keringat, apatah lagi apabila Fang menepuk bahunya mesra dan teman-temannya melemparkan senyuman penuh makna.
Oke, dia sudah menyesal sudah tidak lari dari awal.
Kini, dalam masa sekejap sahaja, ruangan kecil itu menjadi lebih sempit. Selain Fang, ada dua orang lagi teman-temannya beserta dua orang cewek seksi mendudukkan diri mengelilingi meja bulat. Seorang gadis pelayan pula datang menghidangkan botol-botol wain yang mahal di atas meja.
Makin sesak napasnya berada di situ. Berada di situ sesaat sudah terasa seperti satu jam.
Dengan sekilas pandang sahaja, Taufan tahu Fang sudahpun mabuk. Mungkin juga dia sudah minum di manamana sebelum ke situ. Hakikatnya itulah yang merisaukan Taufan karena kalau sudah mabuk, Fang boleh hilang pertimbangan kapan pun.
"Ada? Mana?" soal Fang sambil melotot ke wajah Taufan, kemudian bertutur dalam bahasa Kantonis kepada teman-temannya sambil melingkari lengannya pada leher sang gadis.
Keringat Taufan mengalir deras lagi.
"Cepat!" arah Fang apabila Taufan hanya mematung, belum meyerahkan apa yang dipinta.
"Fa-Fang..Ngg.." Taufan mula bersuara. Dalam suasana yang berisik, dia bisa mendengar suaranya bergetar di ujung lidah. Napasnya juga tersekat-sekat.
"Apa masalahmu?" Fang melepaskan rangkulannya pada sang gadis lalu menyendeng badannya sedikit ke hadapan menghadap Taufan. Teman-temannya merenung tajam ke wajah Taufan.
"Ba..Barang itu..tidak ada," ujar Taufan dengan mata yang berkelip-kelip.
"Apa lu bilang? Mana pergi itu barang?!" soal Fang mengerutkan dahi.
"Aku tidak tahu, sungguh!" balas Taufan. Wajahnya juga berkerut memikirkan hal itu.
"Aku sudah pergi ke tempat itu. Aku sudah mencarinya namun tidak ada," tokoknya lagi.
Fang mengangkat wajahnya. Mulutnya separuh terbuka. Dia merengus kasar sebelum membalas.
"Bagaimana bisa hilang?! Apa ada preman yang menyelinap masuk? Argh!"
Taufan menggeleng. Sebaik sahaja dia tiba, keadaan di rumah itu langsung tidak terlihat berantakan sama-sekali. Fang dan teman-temannya pula terdiam. Kemudian dia mengarahkan kedua-dua orang gadis itu meninggalkan tempat itu. Sisanya Taufan, Fang dan dua orang laki-laki yang berwajah serius.
Tiba-tiba, Fang mengeluarkan pistolnya lalu menghalakan tepat ke wajah Taufan.
"Lu jangan main-main sama gua! Cepat bilang, di mana itu barang?!"
Keringat Taufan membasahi tubuhnya. Dia tahu Fang tidak bercanda. Kehilangan hasil rampokan toko emas itu bernilai lebih dari RM1 juta.
"Aku tidak tahu," tegas Taufan.
Fang tersenyum miris.
"Lu ingat gua bodoh? Mana Blaze?!"
Taufan meneguk ludahnya. Dia tahu, bukan Fang yang bodoh tetapi dia. Taufan terlupa bertanya pada Blaze soal kampungnya di mana. Sekarang Blaze telah menghilangkan diri dan dia tidak bisa menghubunginya. Bagaimana kalau Blaze hilang terus? Apa yang harus dia jawab?
"Dia pulang ke kampungnya."
"Di mana?!"
Moncong pistol sudah menghala tepat ke kepala Taufan, mencium rambutnya basah berkeringat.
"Di-Dia..Ti-tidak..p-pernah bilang, t-tapi aku bisa p-pergi..m-mencarinya," ujar Taufan terketar-ketar.
"Benar! Aku tidak tipu," pinta Taufan dengan penuh harap.
Fang mengalihkan moncong pistul dari kepala Taufan lalu meletakkannya ke atas meja. Dia duduk menyandar walaupun matanya masih tajam menatap Taufan.
"Kuberi waktu satu minggu. Kalau enggak, lu punya kepala bersepai! Kalau lu lari, gua cari hingga ke lubang cacing!" putus Fang akhirnya. Teman-temannya yang lain hanya mendengar.
Tanpa menunggu lagi, Taufan terus berlari keluar meninggalkan kelab malam itu. Walaupun dia tahu nyawanya masih belum selamat namun dia punya sekurang-kurangnya satu minggu untuk mencari Blaze. Satu minggu lagi untuk hidup.
Di dalam mobil, Taufan cuba menghubungi Blaze namun tetap sahaja, nombornya disekat. Dia membanting stir penuh frustasi.
Dia lalu mengemudi ke rumah Suharto yang tinggal di kawasan perumahan haram di pinggir hutan walaupun jam sekarang sudah 3.00 pagi.
"Waduuhh...matahari belum naik, kamu sudah nongol di rumahku?" Tanya Suharto molor selepas membuka pintu yang diketuk bertalu-talu. Tidak disangka pula Taufan yang berisik di situ.
"Aku mahu ketemu sama cewek itu," balas Taufan merempuh masuk rumah Suharto. Dia terbayang gadis berkerudung yang menegur Blaze di warung hari itu.
"Kalau mahu cari cewek, bukan di sini..." balas Suharto mengarugaru kepalanya.
"Bukan! Ini cewek berkerudung yang biasa lalu di sekitar toko dan warung di bandar beberapa hari lepas!"
Kalau gadis itu kenal Blaze, sudah tentu dia tahu di mana kampung Blaze.
Suharto menumpukan perhatian.
"Loh? Gadis yang sering ngirim biskuitnya untuk dijual itu? Memangnya urusanmu ada apa sama dia?"
"Aku mau tanya sesuatu."
"Dia sudah pergi."
"Ke mana?"
Suharto mengangkat bahu.
Taufan berteriak dalam hati. Dinding rumah Suharto bergegar dihantam penumbuknya, geram.
Sekarang dia benar-benar buntu.
"Lu kenapa?" tanya Suharto heran.
"Blaze ada menghubungimu?" tanya Taufan.
"Aku baru mau tanya. Dia ke mana aja?"
Taufan mengeluh kemudian kembali memandang Suharto.
"Begini aja. Kalau Blaze menghubungimu, beritahu ke aku. Sampaikan juga yang aku mahu ketemu sama dia secepat mungkin. Fang mencarinya," pesan Taufan.
"Dia punya masalah sama Fang?"
Taufan tersenyum getir. Dia hanya bisa berharap Blaze menghubunginya secepat mungkin sebelum orang lain menemuinya dahulu. Blaze dilanda masalah besar. Dia pasti Fang tidak akan berdiam diri dan mengharapkan dia sahaja.
.
.
.
.
Fang kembali semula ke markas kumpulannya bersama Ejo Jo. Apa yang berlaku barusan membuatnya marah. Ditendang habis kerusi dan meja di dalam bilik istirahat sehingga berselerakan. Ejo Jo yang menyadari emosi Fang sedang terganngu segera menyuruh anggota yang lain keluar dari situ.
"Blaze menghubungiku," beritahu Ejo Jo.
Apa yang berlaku membuatnya merasa menang. Sudah beberapa kali dia cuba meyakinkan Fang bahawa Blaze tidak bisa dipercayai tetapi Fang tetap menganggap Blaze sebagai orang kanan.
Fang menoleh perlahan.
"Blaze menghubungi lu? Ada dia bilang dia di mana?"
"Gak tahu, kedengarannya aneh."
Fang mengerutkan dahi.
"Dia bertanya soal tembakan di Pulau Rintis, soal siapa yang menghantarku untuk menembak orang tua di sana."
"Jawapanmu?"
"Ku bilang tanya aja padamu."
Sebenarnya Ejo Jo juga tertanya-tanya. Mau apa Blaze bertanya soal itu, biasanya Blaze tidak pernah campur tangan kalau ada tugas melibatkan dia. Menolong aja tidak mau.
"Sudah hilang tiba-tiba malah masih mau bertanya soal itu! Hnnh!" Fang menendang kursi yang sudah patah sehingga menghantam dinding.
"Biar aku ke sana," Ejo Jo mula mengesyaki sesuatu. Dia mahu siasat juga. Pasti ada sebabnya.
Namun, Fang menggeleng tidak bersetuju.
"Dia tidak bisa ke mana-mana. Lambat atau cepat dia harus pulang, kita tunggu."
Ejo Jo mendengus. Fang selalu begitu, lembab.
.
.
.
.
Tok Aba melangkah ke muka pintu. Dilihatnya seorang laki-laki yang tidak dikenalinya sedang berdiri berdekatan pintu mobil. Dia maju ke beranda.
"Assalamualaikum, Tok Aba."
Lelaki itu mengangkat tangan lalu mendekati tangga.
"Waalaikumussalam, naiklah," balas Tok Aba lalu mengajaknya ke ruang tamu. Kepalanya berusaha sedaya mungkin mengingati sosok di hadapannya itu. Rasanya memang dia tidak mengenalinya sama sekali.
"Maaf mengganggumu pagi-pagi lagi, Tok Aba. Nama saya Ekran, biasa disapa Ran sahaja. Kalau anda punya masa, bisakah saya bercakap sama anda sebentar? Saya tahu, Tok Aba tidak kenall sama saya. Tadi juga saya sebenarnya ke rumah Pak Imam. Dia meyuruhku bertemu sama Tok Aba. Dia juga yang menunjukkan jalan ke sini," ucap Ran terus-terang.
"Ada hal apa Pak Ekran mahu berjumpa saya?"
"Sebenarnya...Sebenarnya, saya ingin tahu tentang desa ini." Jawab Ran.
Jawapan Ran membuat Tok Aba semakin heran.
"Pak Ekran punya kaitan sama desa ini?" tanya Tok Aba.
"Iya, moyangku berasal dari sini. Tapi sudah lama tinggal di tempat lain. Mengikut susur galur, saya dari keluarga Bentara Tanah. Saya bekerja di Rintis Holdings sejak beberapa tahun yang lalu," ujar Ran.
Ahli keluarga Bentara Tanah? Rintis Holdings? Tok Aba mula berasa tidak selesa. Pelbagai kemungkinan terlintas di kepalanya. Kenapa pula orang Bentara Tanah mencarinya? Dia mula tidak sedap hati.
"Jadi..Apa yang saya tahu yang mesti anda tahu?" ujar Tok Aba berhelah.
Tanpa menunggu lama, Ran menceritakan apa yang dia tahu soal pelantikan kepala desa yang baru dan adatadat yang bakal dijalankan beberapa hari lagi. Juga suatu perkara mengenai Gempa dan apa yang telah menimpa dirinya. Segala yang dia tidak paham terus disoalnya pada pria tua itu.
Tok Aba yang mendengar terdiam lama. Sejujurnya, rasa sangsinya masih ada. Kalau waris lain, mungkin lebih mudah untuk dia menerangkan. Ini tidak, dari waris Bentara Tanah. Namun, bisa aja kemungkinan itu berlaku. Petunjuk dan hidayah itu milik Allah. Dia berhak dan berkuasa menganugerahkan hidayah kepada sesiapa sahaja yang dikehendaki-Nya, baik yang kufur mahupun yang zalim. Lalu siapakah dia untuk menghina atau memandang rendah terhadap orang lain?
"Jadi apa yang anda akan lakukan sekarang?"
Tok Aba mengangkat muka dan merenung tepat ke dalam mata Ran. Dia percaya, mata tidak bisa berdusta sperti mulut.
Ran meneguk ludah.
"Saya masih keliru."
"Anda sudah menikah?"
Ran mengangguk.
"Punya anak?"
"Dua orang. Keduanya masih kecil," balas Ran tenang.
"Sebagai ketua keluarga, kita harus mencari rezeki setiap hari untuk membesarkan anak-anak. Itu sudah satu tanggungjawab dan amanah. Namun harus dipastikan, apa yang dibawa pulang itu sumbernya halal dan bersih karena ia akan mengalir dalam darah kita. Kalau didapatnya yang haram, maka haramlah seluruh darah keturunan kita. Biar sedikit, asalkan yang halal. Insya-Allah akan mendapat barokah dari apa yang kita kerjakan."
"Sa-saya..dahulu tidak pernah pula terpikir soal itu. Apa yang saya tahu, asal pulangannya lumayan, hidup senang, itu sudah cukup. Ternyata..."
"Begitulah sebabnya kadang-kadang kita ketemu sama orang yang kerjaannya biasa aja, namun cukup untuk menyara kehidupan keluarganya yang ramai. Anak-anaknya pula dikaruniakan akhlak yang baik dan akal yang pintar. Mungkin karena sumbernya halal dan si ayah pula sentiasa ikhlas dan bersyukur dengan segala pemberian Allah. Manakala ada pula manusia yang apabila memperoleh gaji yang besar namun sentiasa berasa tidak cukup. Semua itu menghadirkan rasa gelisah lalu terjebaklah dalam kancah masalah. Isteri durhaka, anak-anak pula akhlaknya rosak dan menjauhi agama. Oleh itu, harus dikaji sumbernya dan bagai mana penerimaanya terhadap rezeki yang Allah beri."
Ran mengangguk-angguk paham. Sejujurnya, dia mengakui apa yang dikatakan Tok Aba itu benar. Mungkin sudah sampai waktunya dia memikirkan semula kehidupannya dengan lebih mendalam. Selama ini dia tidak pernah bersyukur dengan apa yang dia ada. Merasa tidak cukup, mahu lebih dari apa yang dia dapat. Sekarang dia sadar, kepuasan itu bukan terletak pada jumlah tetapi di hati yang tidak pernah membujuk diri untuk menerima senang susah hidup seadanya.
"Anda pikirkan baik-baik, cuma diri sendiri yang tahu apa yang telah diperbuat selama ini. Yang salah itu harus ditinggalkan, yang baik itu eloklah diteruskan. Biar kita tahu membezakan apa yang buruk dan apa yang benar mengikut batas ugama. Itu adalah keistimewaan sebagai manusia yang diberikan akal oleh Tuhan. Maka pohonlah petunjuk di setiap waktu terutama ketika sholat lima waktu. Insya-Allah, semoga jalan hidup kita lurus."
Ran bersetuju, lalu Tok Aba menceritakan segala apa yang diketahuinya tentang desa itu dan segala asal muasal keturunan yang ada di situ. Segala pertanyaannya dijawab satu per satu. Akhirnya Ran mengangguk paham lalu mendesah dalam hati. Dia berasa kecewa dengan diri sendiri karena hanya mengikut Gempa yang menyimpan terlalu banyak rahsia daripadanya dan tidak pernah menceritakan apa-apa sejauh itu.
.
.
.
.
Selepas minum pagi, Blaze duduk termenung di beranda rumah. Hari ini sudah hari ketiga dia berada di Desa Rintis. Rasanya sudah cukup lama dia di situ. Namun hatinya tidak terasa lapang, malah semakin sesak.
"Kakimu bagaimana? Masih sakit?" tanya Ibu yang muncul di beranda, membawa sebotol ubat di tangan. Lalu dia mula mengurut-urut kaki Blaze yang sakit.
"Sakitnya sedikit aja, bu. Gak apa-apa.." ujar Blaze menunduk.
"Kalau kamu mau pulang, pulang aja. Gak usah ada apa-apa yang perlu dirisaukan. Ibu sama adikmu baik-baik aja di sini," ujar Ibunya memandang tepat ke mata Blaze. Blaze menatap mata ibunya lama dengan begitu dekat. Bisa dirasakan keikhlasan di sebalik kata-kata itu, namun dia juga dapat merasakan kesedihan yang mendalam. Hatinya ccukup tersentuh dan membuatnya bungkam seketika. Apa ibunya masih marah sama dia?
"Ampuniku, ibu."
Akhirnya setelah sekian lama kata-kata itu tersimpan, Blaze dapat mengungkapkan kata-kata itu dengan sepenuh jiwa. Dia tahu, sepuluh tahun bukan jangka waktu yang singkat. Entah berapa banyak air mata ibunya yang telah tumpah menangisi perbuatannya yang meninggalkan rumah. Entah berapa banyak kerisauan yang ditanggung ibunya setiap hari. Sejujurnya ketika ini dia berasa amat bersalah tetapi apa yang telah berlaku tidak dapat diputarkan semula.
Mulut ibunya terkatup rapat merenung wajah Blaze yang merah padam menahan sebak.
"Yang sudah itu sudah, nak. Kamu kan udah pulang...Ayah juga sudah lama sadar kesalahannya. Karena itu dia tidak mengijinkan kami tinggalkan rumah ini. Dia khawatir kalau suatu hari nanti anaknya bakal pulang. Ternyata firasatnya benar," balas Ibu.
Blaze termenung jauh. Ayahnya telah sadar? Jadi Ayah telah mengakui semua itu bukan salahnya? Blaze ingin bersorak ria tetapi rasa kegembiraan itu tidak bisa dicapai hatinya ketika ini. Apa yang ada hanyalah rasa kosong dan hambar. Semua itu bukanlah kesalahan ayahnya semata-mata. Dialah yang salah kerana mengikut nafsu amarah yang membuta tuli. Apa dia berasa bahagia sekarang? Tidak.
"Ibu pula bagaimana?" tanya Blaze perlahan.
Dia masih ingat pesanan gurunya dahulu. 'Syurga itu di bawah telapak kaki ibu', begitu mulia kedudukan seorang ibu. Dia tahu itu.
"Ibu gak pernah marah sama kamu. Ibu sudah menerimanya sebagai suratan takdir. Sebaik sahaja kamu pulang, ibu merasa sangat bersyukur. Ibu yakin, apa yang kamu sudah tempuhi sepanjang hidupmu bukan mudah.."
Blaze berdeham menahan tangisnya yang hampir pecah.
"Ibu menyuruhmu pulang karena bimbang pekerjaanmu di sana tergannggu. Apapun masalah di sini, kamu gak perlu khawatir...kakek juga ada. Api pulanglah, usah khawatir, ya." sambung ibunya lagi.
Kali ini Blaze berasa benar-benar terpukul. Dia ada tetapi seperti tidak ada. Dia wujud tetapi keluarganya terpaksa mengharapkan orang lain. Ternyata dia seorang anak lelaki yang tidak bisa diharapkan untuk melindungi keluarganya. Dia berasa egonya dikambus hidup-hidup.
"Gak apa-apa, ibu. Liburanku masih panjang..." Blaze bersuara serak.
Dia menundukkan pandangan. Terasa dadanya menyempit terpaksa berdalih lagi. Walhal setiap detik dia terpikir soal Ejo Jo yang mahu ditembak lima kali. Dan soal Fang yang belum selesai.
"Benarkah, tidak mengganggumu?" soal Ibunya.
Blaze menggeleng laju sembari tersenyum pahit. Mungkin sebelum dia pergi, dia perlu memastikan ibu dan adiknya selamat. Hanya dengan itu hatinya akan tenang. Selepas itu jalannya hanya sehala, hidup orang seperti dia tidak bisa menjanjikan apa-apa. Hari ini mungkin ada, esok pula sudah tiada.
"Selama ini kamu ke mana?" soal ibunya perlahan dengan mata yang bergenang.
Blaze meneguk ludah, dia terkenang malam itu.
.
.
.
.
10 tahun yang lalu...
Setelah satu jam belari, berjalan, berlari dan berjalan semula di kelilingnya yang gelap, dia akhirnya berjaya keluar dari kampung itu. Dia ternampak sebuah halte bas lama yang hampir roboh, lalu berteduh sebentar di bawah bumbung yang berlubang-lubang. Harap sahaja malam itu tidak ditimpa hujan. Doa mendudukkan diri di bangku kayu yang separuh daripada empat kaki penopangnya patah. Kakinya melunjur menyentuh tanah yang dingin.
Tak lama kemudian, matanya yang kuyu samar-samar terlihat sebuah cahaya yang meyuluh dari jauh. Sebuah sepeda motor menghampirinya. Sebelum sepeda motor itu sempat melepasinya, ditahannya ojek itu dengan berdiri sambil merentangkan tangan di tengah-tengah jalan. Serempak sepeda motor itu berhenti mengejut.
"Heh? Hei, mau apa lu budak?! Ketepilah, kukira hantu tadi..!" teriak laki-laki yang memakai helm tersebut.
"Kak, bisa hantarku ke bandar?" tanya Blaze kepada lelaki ras cina yang berpakaian lusuh tersebut. Dia pasti lelaki itu dari bandar setelah menghantar seseorang ke desanya.
"Hah? Malam-malam ini lu mau apa?"
"Tolonglah, kumohon..."
"Punya uwang?"
Blaze mengeluarkan beberapa lembaran uwang yang dipecahkan dari tabungan sebelum dia keluar tadi.
"Bak sini!" Lelaki itu merampas uwang yang dihulurkan.
"Naik," perintah lelaki itu. Kemudian dia menghulurkan sebuah helm pada Blaze.
Blaze memakainya lalu membonceng di belakang sepeda motor itu. Kemudian, mereka berdua meluncur laju meninggalkan Desa Rintis menghala ke kota.
.
.
.
.
"Boleh kutanya sesuatu sama kakak?" tanya Blaze di belakang motor. Sepeda itu meluncur deras menelusuri jalan raya kota yang tetap sibuk biarpun larut malam.
"Apa?" tanya lelaki itu.
"Siapa namamu."
"Panggil aku Seng."
"Seng?"
"Hmm?"
"Kita mau ke mana?"
Seng membelok ke kiri di tepi jalan yang mempunyai deretan toko yang ditutup. Motornya diberhentikan mendadak.
"Loh? Kamu sendiri kok malah gak tahu mahu ke mana?! Tadi lu bilang mahu ke kota."
"Maaf.."
"Jadi, sebenarnya kau mau ke mana, tepatnya?" Seng merenung tajam ke arah Blaze. Dia turun dari motornya lalu berdiri tegak berkacak pinggang menghadap Blaze.
Blaze mendesah.
"Aku gak tahu."
Seng mendengus.
"Begini, malam ini kau tumpang aja di rumahku. Sudah lewat malam, aku juga ngantuk," ujar Seng sambil mengeliat. Dia naik semula lalu menghidupkan motornya. Seterusnya, mereka menuju ke sebuah bangunan lusuh tiga tingkat di tengah kota yang tampak terbiar. Blaze percaya, di situlah lelaki itu tinggal.
"Sini rumahmu?" Tanya Blaze setelah tiba.
"Lebih tepatnya, kamar."
"Berapa orang yang tinggal di situ?" tanya Blaze yang dibawa menaiki tangga.
"Ramai. Tujuh orang. Gak apa-apa, malam ini mereka semua keluar. Cuma ada aku."
Blaze mengangguk-angguk. Seng membuka kunci pintu lalu membuka pintu bercat putih. Lalu di dalamnya menampakkan sebuah kamar yang berantakan. Kamar itu kelihatan sungguh daif, tidak ada kasur. Bantal bersepah di mana-mana, hanya beralaskan lantai semen dan kadangkala dialas dengan helaian koran. Di dinding atas terdapat sebuah jendela kecil yang tidak bisa dicapai.
"Kamu gak bawa baju bukan?" tanya Seng.
Blaze menggeleng.
Seng menghampiri sebuah lemari di pojok lalu mengeluarkan sehelai bajunya yang lama.
"Nih, besok pakai ini. Kalau mau mandi, kamar mandinya di luar." Seng mengacungkan jarinya ke arah pintu.
Blaze tersenyum pahit sembari tangannya menyambut uluran baju itu.
.
.
.
.
Seng membuka matanya. Pemandangan di pagi harinya disapa kelibat Blaze yang duduk bersila dihadapannya dengan beberapa bungkusan. Hidungnya tercium suatu bau yang enak.
"Apa itu?" tanya Seng setelah terbangun dari tidurnya.
"Sarapan," ujar Blaze ringkas. Dia mengeluarkan beberapa bungkus kue, nasi lemak serta beberapa bungkus minuman panas.
"Lu dapat dari mana?" tanya Seng lagi.
"Tuh." Blaze menyorot matanya ke dinding di sebelah kanannya.
"Tuh apa tuh?" tanya Seng tidak paham apabila Blaze menyorot matanya ke dinding.
"Dari pasar di bawah," Sungguh Blaze sendiri baru perasan pagi itu bahawa bangunan itu terletak berhampiran dengan tapak pasar. Dia tidak menyadarinya semalam.
"Pake uwangmu?" tanya Seng.
"Nggak ah. Aku mencurinya."
Hakikatnya, dia benar-benar mencurinya. Namun, jawapan yang tak terduga pula diterimanya.
"Hebat ah," ujar Seng tersengih sambil mengacungkan jempol.
Blaze tersenyum miris.
"Biasa ah. Jago kampung," balas Blaze berseloroh.
Setelah sarapan, Blaze mengikut lelaki itu ke tempat kerjanya. Tempatnya sebuah pangkalan ojek yang beroperasi berhampiran parkir sebuah stasiun bas yang sibuk dengan pelbagai jenis orang di kota. Kala waktu malam, tempat itu juga pasti sibuk menjadi tempat berkumpul para pelumba haram di kota.
Hari-hari juga seperti itu. Jika dia tidak ke mana-mana, maka dia akan mengikut lelaki itu. Tidak kira pekerjaan apa pun yang lelaki itu kerjakan. Begitu juga hari ini.
Sepanjang jam kerjanya, Blaze hanya berdiri di bawah terik memerhati Seng mendapatkan pelanggannya. Sehingga jam kerjanya di sebelah petang tamat, dia melempar Blaze sehelai kain lap.
"Nih, cuci motorku. Aku mahu rehat," ujar Seng sambil menarik sebuah kursi untuk duduk.
Blaze hanya menuruti. Diambilnya sebuah ember lalu membawanya ke keran air untuk diisi. Lalu kain itu dibasahkan dengan air sabun.
Sambil mengelap, Blaze ditanya Seng.
"Ngomong-ngomong, namamu siapa sih? Lupa mau tanya."
Blaze teragak-agak untuk menjawab. Patutkah dia percaya sama lelaki itu? Dia tidak mahu dicari sesiapa setelah melarikan diri sejauh itu. Dia bertekad untuk tidak kembali selagi hidupnya belum senang.
"A..Api. Namaku Api," akhirnya dia memberitahu sahaja lelaki itu.
"Api?" Lelaki itu bangkit dari tempat duduknya. Dia menatap Blaze dengan pandangan yang meremehkan.
"Ada apa?" tanya Blaze mengernyit pada lelaki itu.
"Memang umurmu berapa, budak?"
"Emm..14," ujar Blaze jujur.
Ekspresi lelaki itu terlihat sedikit kaget.
"Kukira umurmu 10. Soalnya tubuhmu itu kecil banget. Gua punya adik yang hampir semuran denganmu tetapi jauh lebih tinggi," Seng menggaruk kepalanya.
"Apa aku bisa bekerja?" tanya Blaze terus. Lama-kelamaan dia bosan juga tidak melakukan apa-apa. Kalau begitu bagaimana bisa dia mendapatkan uwang selain mencuri?
Seng melihat Blaze dari atas hingga ke bawah.
"Umurmu masih muda. Tapi, temanku punya satu pekerjaan yang cocok untuk orang muda sepertimu.."
"Kerja apa?"
"Lu tunggu nanti malam."
TBC
Makasih atas semua reviewnya selama ini! Kali ini harap adegan angst Blaze sama ibunya bisa dapet feelnya... Flashbacknya masih nyambung di chapter seterusnya ya! Aku juga harus sabar mau nulis scene finalnya huhu..Ceritanya masih panjang lagi, jadi, tunggu kelanjutannya~
