Setelah mengharungi kesesakan jalan raya yang merimaskan, Gempa akhirnya tiba di rumah Ran. Hendak tidak hendak, dia terpaksa menziarahi temannya yang mungkin lagi sakit kuat. Sebaik sahaja dia membuka pintu mobil, azan zuhur berkumandang dari surau berdekatan. Cepat-cepat dia menutup semula pintu mobil dan duduk diam-diam sehingga yakin azan itu berakhir.

"Gempa," tegur Milda sebaik menyadari kehadiran lelaki itu di luar pagar. Cepat-cepat dia membuka pagar dan menjemput Gempa masuk.

"Ran lagi tidur?" Gempa memandang wajah wanita itu yang kelihatan muram. Mungkin lagi khawatir akan keadaan suaminya. Namun Gempa yakin lelaki itu ada di rumah karena mobilnya ada.

Milda menggeleng, "Dia ada di dalam. Lagi nonton TV."

"Dia sudah sehat?" soal Gempa dengan langkah terhenti.

"Entahlah...termenung terus." Kemudian dia beralih masuk ke dalam rumah mencari suaminya.

"Mas, Gempa datang. Dia di luar," tegur Milda pada Zaid di sofa.

Gempa datang? Ran kelam-kabut bangkit dari sofa. Siaran ulangan perlawanan sepak bola EPL dilupakan sahaja. Dia bingkas ke ambang pintu.

"Jangan masuk!" Sergah Ran mendepangkan tangan.

Seterusnya ialah reaksi Gempa yang kaget dicegat di hadapan pintu. Sebelah langkah kakinya terus terhenti.

Milda dan Gempa tercengang dengan sikap Ran.

Sesungguhnya ketika ini Ran hanya memikirkan soal keselamatan anak-anaknya yang berada di situ, apatah lagi anak bungsunya yang masih bayi. Dia tidak mahu 'benda' yang mengikuti Gempa itu mengganggu anak-anaknya pula. Dia juga takut untuk memandang Gempa, kalau-kalau terpandang orang tua yang mengerikan itu.

Gempa mangap. Tidak bisa masuk? Ran ingin mengusirnya? Dia keliru. Apa dia salah dengar atau Ran yang sudah gila?

"Mengapa denganmu? Apa kamu sudah gila?!" tanya Gempa langsung.

Antara teman baik dan keluarganya, dia memilih keluarganya. Dia sudah sadar, apa yang didukungnya selama ini adalah salah. Terlalu salah.

Dahi Gempa semakin berkerut, antara percaya atau tidak.

"Masalahmu apa sih? Apa sakitmu kambuh lagi?"

Ran menggeleng.

"Aku ingin meminta darimu satu hal. Mulai hari ini, gak usah datang ke rumahku lagi."

"Tapi-"

"Aku juga berhenti kerja serta-merta."

Dia sudah nekad. Dia mahu mencari kerja di tempat lain selepas ini. Malah dia akan membawa keluarganya pergi jauh dari situ. Dia tidak mahu melihat wajah Gempa sampai kapan pun.

Gempa terdiam. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang terlah berlaku pada temannya itu. Mungkinkah sudah diserang virus anjing gila?

"Bertaubatlah, Gem. Bertaubatlah. Apa yang kamu lakukan itu salah. Ilmu yang kamu warisi itu salah. Insyaflah sebelum terlambat. Buanglah benda-benda itu. Berhentilah."

Kini suara Ran bergetar. Setelah melihat orang tua yang mengerikan itu, dia baru sadar dengan apa yang dia berteman selama ini. Beruntung sekali hatinya belum dibutakan sepenuhnya seperti Gempa. Tetapi kalau bisa, dia ingin melihat teman baiknya itu insyaf dan kembali ke pangkal jalan. Mungkin Gempa masih bisa diselamatkan.

Mendengar kata-kata Ran, Gempa merasa tubuhnya panas berapi. Taubat? Insyaf? Jadi itu sebab dia dilarang masuk ke dalam rumah?

"Oh, jadi kamu sudah berTAUBAT? Sudah INSYAF? Sudah jadi ALIM? Sudah menjadi orang baik-baik?!" Ledak Gempa dengan nada yang tinggi.

Kalau Ran bisa menyakiti hatinya, kenapa dia tidak? Sahabat yang paling dipercayai dan bisa diharapkan, kini membelotnya. Siapa tidak sakit hati?

"Gempa, kamu sahabatku. Telah jadi tugasku untuk menyadarkanmu."

"Ah! Kalau kamu mahu berhenti kerja, berhenti aja! Masih beribu orang yang mahu kerja denganku. Jika anak dan isterimu kebuluran sekalipun, jangan sesekali meminta apa-apa dariku setelah ini!" bentak Gempa.

"Insya-Allah. Setiap manusia punya jalan rezekinya masing-masing," balas Ran tenang.

Apapun kata Gempa, dia sudah nekad untuk menjauhi hal-hal seperti itu. Dia bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar. Dia yakin, Allah tidak akan membiarkan keluarganya begitu sahaja. Dia juga teringat nasihat Tok Aba. Sudah kewajipan baginya menjaga keluarganya.

"ARGH!" teriak Gempa lantang sebelum meninggalkan kawasan rumah itu.

Dengan amarah yang meledak-ledak, dia laju meninggalkan tempat itu. Dia menuju ke Batu Rintis.

.

.

.

.

Sewaktu Gempa tiba, matahari baru menyendeng sedikit ke barat. Hari masih terang. Langit tampak begitu bersih. Bahkan kawasan Batu Rintis itu masih kelihatan terang wwalaupun dipayungi pohon-pohon tua yang rimbun. Selepas melepasi pos keselamatan, dia terus membuka pintu dan masuk ke dalam Batu Rintis.

Baru dia menapak beberapa langkah, Gempa menyadari sesuatu. Dia berpaling. Langsung dia berundur ke belakang dan terjatuh. Dia terduduk dia tas lantai gua yang keras dan berdebu. Matanya melebar dan dadanya berdebar.

Diakah?

Lama Gempa terpaku di situ. Debar di dadanya semakin memuncak. Nafasnya pendek-pendek. Keringatnya menetes. Dia tidak tahu kapan lelaki tua itu muncul setelah bertahun-tahun tidak melihatnya. Dia kembali berasa gerun seperti kali pertama dia menatap lelaki tua tidak berwajah itu sewaktu kecil.

"Pergi!" jerit Gempa.

Dia tidak mahu sosok itu mengikutinya seperti apa yang pernah dilihatnya dahulu. Ketika itu dia berasa sangat takut.

"AYAH!"

Gempa memanggil ayahnya yang sedang giat mengasapi sebilah pedang panjang berkilat dengan kemenyan. Entah kenapa ayahnya seolah-olah tidak nampak apa yang bisa dia saksikan.

Ayahnya cuma menoleh seketika sebelum menyambung kerjanya.

"Ayah..? Gak lihat apa?!"Gempa menarik-narik baju ayahnya. Dia berasa gerun dan jijik karena tidak tahan dengan penampilan lelaki itu.

"Biarin," balas ayahnya mengacuhkan.

"Kenapa?"

"Dia datang untuk menolong kita."

"Tolong apa?"

"Nanti apabila dirimu sudah dewasa, sudah menggantikan tempatku, kamu bakalan tahu jawapannya," jawab ayahnya.

"Gempa bakal tahu?" Kata-kata itu terucap di bibir Gempa sekarang. Kenangan lama itu terhenti. Dia menoleh semula ke arah lelaki tua itu. Dia sadar sesuatu.

Itulah 'ganti' dirinya.

Mau tidak mahu, dia terpaksa menerima. Dia tidak punya pilihan lain.

.

.

.

.

Setelah puas memerhati keadaan di Batu Rintis, mereka beredar. Kali ini Tok Aba membawa Blaze pulang ke rumahnya.

"Sekarang sudah percaya atau belum?" tanya Tok Aba menyugingkan senyum.

Pertanyaan itu membuat Blaze berhenti mengelamun. Pikirannya kembali fokus kepada apa yang dilihatnya di kebun karet tadi. Dia sudah lupa bangunan berpagar itu terletak di atas tanah milik siapa, dia sendiri tidak pernah ambil tahu.

"Bangunan itu tampaknya dikawal rapi sekali. Tapi tanah itu punya siapa?"

"Tanah itu memang milik keluarga Bentara Tanah sejak dahulu lagi. Tapi sekarang sudah dimiliki Rintis Holdings."

"Rintis Holdings? Syarikat apa itu?"

Tok Aba tersenyum.

"Syarikat itu menjalankan banyak jenis perniagaan eceran. Dari supermarket, SPBU hinggalah ke toko emas. Mereka juga melabur dalam pasaran saham dan memiliki saham dalam beberapa perniagaan milik syarikat lain. Tapi yang sebenarnya itu semua hanyalah helah untuk mengaburi mata semua orang," jawab Tok Aba tenang.

"Mereka menyembunyikan apa, kek?"

"Tugas sebenar syarikat itu."

"Menjaga Batu Rintis?" tebak Blaze.

"Salah satunya. Selain itu merekalah yang menguruskan upacara pelantikan kepala desa yang baru. Mereka menanggung segala kos untuk majelisnya dan segala hal. Penjaga adat bertiga hanya menjalankan suruhannya sahaja. Tapi yang paling penting mereka menguruskan apa yang diberikan batu itu."

Alis Blaze terangkat tinggi. Ada sesuatu yang dia kurang jelas.

"Batu itu bukan dipuja dan diberi korban tanpa sebab. Ada balasannya. Kalau tidak, bagaimana mereka bisa begitu kaya sejak jaman dahulu, berbanding waris-waris yang lain? Untuk mengelakkan apa-apa yang dianggap aneh sama orang, mereka kononnya berniaga. Tetapi begitulah, setiap hasil pelaburan yang didapatnya sangat menguntungkan. Perniagaan yang mereka miliki semuanya laris dan maju," terang Tok Aba.

Blaze sudah tidak terkata. Akalnya sibuk memahami hal itu.

"Namun janganlah kita terpesona dengan umpan sebegitu. Seperti sabda Rasulullah S.A.W yang diriwayatkan Abu Hurairah R.A, 'Neraka itu didindingi dengan perkara-perkara yang diingini hawa nafsu, syurga itu didindingi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh hawa nafsu,' dalam suatu lagi hadis yang membawa makna yang sama, 'Neraka dilingkari oleh hal-hal yang menarik hawa nafsu sedangkan syurga dilingkari oleh hal-hal yang tidak disenangi.'

Terus mati rasa hati Blaze yang berbunga-bunga tadi. Terdetik juga tadi inginnya untuk mengetahui lebih lanjut berkenaan hal itu. Siapa yang tidak mahu hidup senang dengan duit yang mudah?

Pantas sahaja Blaze melihat keluarga lain di desa itu atau di tempat lain lebih mewah kehidupannya. Sedangkan waris Bentara Angin pula hidup sederhana seperti keluarganya, malah ada yang lebih susah.

"Kamu mau tahu dari mana mereka mendapatkan uwang?" soal Tok Aba memandang muka Blaze.

Blaze mengangguk laju.

"Di lapisan dinding dan lantai gua yang bahagiannya paling dalam itu sebenarnya punya banyak emas dan kristal. Setiap bulan, bahagian itu dibuka dan yang hanya bisa memasukinya adalah penjaga Batu Rintis."

"Dibuka?"

"Mengikut cerita, setiap kali bulan mengambang ada emas yang akan muncul di dalam batu itu. Penunggu gua itu akan dipuja agar lapisan tanah atau dinding peng'hijab'nya bisa dibuka. Sebelumnya, ianya tidak dapat dilihat sesiapa karena yang melihatnya hanya bisa melihat dalaman gua yang gelap dan seolah-olah kosong. Emasnya tidak dibenarkan untuk diambil sebelum dibuat pemujaan di bulan yang seterusnya, juga ada kadar yang perlu dipatuhi. Emas itulah yang dijual. Apatah lagi nilai emas sekarang sangat mahal."

Blaze ternganga, antara percaya dan tidak.

"Segila itukah caranya, kek? Masih ada lagikah emas di situ?" Sungguhpun bunyinya kedengaran menarik, namun kepalanya ligat berpikir dengan bermacam persoalan yang entah bisa dijawab dengan logika akal ataupun tidak.

"Selagi masih ada emas di situ dan selagi penunggu itu wujud, selagi itu mereka punya hak untuk mengambil. Tidak dapat dipastikan sebanyak mana yang ada di situ."

Suatu hari nanti bahan galian akan habis juga, bukan? Tidak mungkin cukup untuk semua keturunan, mungkin beberapa keturunan dalam jangka masa tertentu sahaja. Segalanya tidak mungkin kekal. Begitulah hukum alam.

Sudahlah, Blaze tidak mahu memusingkan hal itu.

Tok Aba pula mendesah sebelum mengangkat bahu.

"Kakek hanya mendengarnya, sememangnya cerita ini ramai yang tidak tahu. Kalau dilihat dari cara mereka mengawal Batu Rintis, mungkin ada benarnya bahawa ada sesuatu yang bernilai di situ. Kalau sekedar batu buruk itu, mengapa mahu repotkan diri?"

Blaze juga mengakuinya. Kalau bukan emas permata, mungkin ada benda lain yang berharga juga.

"Jadi sekarang kamu sudah paham motif mereka yang sebenarnya. Kepala desa itu hanya sebagai suatu syarat untuk mengambil alih kampung dari diganggu puaka itu."

Bagi Blaze sendiri, dia mengakui waris Bentara Tanah memang bijak. Orang lain harus bersusah-payah, mereka bersenang-lenang mengaut keuntungan.

"Sebelum kita bertindak, lebih baik kita berjumpa sama Pak Guru dulu."

Blaze termenung. Ada sesuatu yang ingin diberitahunya.

"Kakek, aku ingin membawa ibu dan adikku keluar dari kampung aja."

Akhirnya Blaze meluahkan juga apa yang terbuku di hati walaupun dia sendiri belum bertindak apa-apa. Juga dia belum merancang apa-apa. Yang penting, biar mereka dibawa lari dahulu. Satu penyelesaian yang paling mudah.

"Apa?" soal Tok Aba kaget.

Ruang tamu rumah Tok Aba menjadi senyap seketika. Tok Aba turut termenung. Blaze pula terdiam. Apa dia salah bicara?

"Kalau begitu keputusanmu..."

Blaze menanti jawapannya dengan sabar.

"Ya sudahlah, bawa mereka jauh-jauh dahulu," sambung Tok Aba.

"Kakek, Api bukan gak percaya semua itu tapi apa yang penting ialah nyawa ibu dan adikku. Aku harap kalau mereka sudah jauh dari sini, mereka tidak akan diganggu lagi..."

"Jadi kamu ingin membiarkan saja kampung ini diganggu terus?" balas Tok Aba. Suaranya sedikit tegang.

"Api mahu membiarkan aja kematian ayahmu tidak terbela?" soal Tok Aba lagi.

"Aku akan uruskan hal itu sendiri," balas Blaze. Dia tahu Tok Aba dan teman-temannya di situ mengharapkannya tetapi dia punya alasan tersendiri.

"Aku tidak layak menggantikan tugas Ayah. Api tidak sanggup. Kakek cari aja orang lain, kalau bukan kakek sendiri," balas Blaze.

Tok Aba tidak menjawab kata-kata Blaze. Sekarang dia mula percaya kata-kata Halilintar tempoh hari. Salahnya juga yang terlalu menggantung harap pada lelaki itu. Sekarang dia juga yang kecewa.

"Api mau bilang terima kasih aja karena sudi menjaga keluargaku selama ketiadaanku," tokok Blaze.

Itu sahaja yang dapat dilakukannya. Dia menghulurkan tangan untuk bersalaman dengan orang tua itu namun tangannya disambut dingin. Selepas itu, dia meninggalkan rumah Tok Aba. Dia perlu melakukan sesuatu.

.

.

.

.

Wakaupun rumahnya dengan rumah Tok Aba kurang lebih setengah kilometer jaraknya, namun dia tidak peduli. Dia memaksa juga kakinya yang sakit itu melangkah. Diseka keringat yang mengalir di wajahnya lalu ditahan rasa pedihnya sekuat hati. Di pertengahan jalan dia berhenti lalu mengeluarkan ponsel.

"Suharto!" panggil Blaze sebaik panggilannya dijawab.

"Hah! Kamu dimana?!"

"Aku...Aku di-"

"Taufan mencarimu, dia menyuruhmu meneleponnya cepat!" Suharto memintas.

"Ha? Taufan? Ada apa sih?"

Mata Blaze terkebil-kebil. Tidak mungkin Taufan sudah mula kangen sama dia? Dia heran.

"Entah?"

"Gak apa-apa. Nanti kuhubungi dia."

Blaze megalihkan hal itu dahulu dari fokusnya. Mungkin Taufan sekedar mahu mengajaknya kerja.

"Dengar ni. Aku mau minta tolong," ujar Blaze lagi.

"Tolong? Tolong yang gimana?"

"Tolong carikan aku sebuah rumah. Kalau bisa, yang berhampiran SMA. Bisa nggak?"

Blaze melemparkan pandangannya pada kebun karet bagaikan sudah terbentang rancangannya di situ. Kalau ibu sama adiknya sih, tidak ada masalah. Tetapi dia merisaukan adiknya yang masih bersekolah.

"Hah? Kamu kan udah punya rumah! Mau pindah ya?"

"Cari aja. Secepatnya!"

Banyak pula soal Suharto, rungut Blaze dalam hati. Walaubagaimanapun Suhartolah harapannya sekarang, hendak diharapkan Taufan lebih sukar jadinya. Kalau hendak dibawakan mereka semua ke rumahnya, nanti Taufan banyak soal pula. Lagi pula, dia tidak mahu pergerakannya dipantau sesiapa.

"Cepat? Payah juga. Tapi kucoba aja," balas Suharto.

"Sudah dapatnya nanti hubungiku terus. Soal kontrakannya nggak masalah."

Selepas itu Blaze mematikan talian setelah merasakan keadaan di sekitar kebun karet itu meremang.

.

.

.

.

Halilintar tiba di rumah Tok Aba. Dibelakang sepeda motornya terikat setandan pisang yang hampir masak. Kebetulan ada beberapa pohon pisang di kebunnya yang berbuah serentak. Pisang itu ditebas lalu dibawanya ke situ.

Halilintar menjenguk ke tingkat atas. Aneh pula rasanya. Selalunya Tok Aba tidak suka duduk-duduk sahaja seperti itu. Kalau tidak ke kebun, orang tua itu akan berada di sekeliling rumah.

"Assalamualaikum, kakek?" Laung Halilintar sebaik menjejaki tangga. Dari muka pintu lagi, dia sudah melihat Tok Aba termenung jauh di atas kursi.

"Kakek gak sihat? Mau kuhantar ke rumah sakit?" tegur Halilintar.

Muka Tok Aba yang pucat membuatnya gementar. Orang tua itu seperti dilanda masalah besar.

Tok Aba menggeleng. Daripada bunyi enjin sepeda motor, dia tahu Halilintar berada di situ.

"Habisnya mengapa kakek cuma terbaring terus?" tanya Halilintar.

"Kakek baru pulang dari kebun sama Api," jawab Tok Aba. Dia terus termenung.

"Kakek bawa dia lihat kebun? Tahu lagikah kebun ayahnya di mana," sindir Hallilintar.

"Bukan ke situ."

"Terus?"

"Ke Batu Rintis."

Tok Aba menghembus napas. Sudah habis akalnya membujuk Blaze. Tetapi kalau keputusannya tetap begitu, apa dayanya lagi.

"Dia bilang apa? Kapan dia mau ngatur rencana? Waktunya sudah dekat, takut gak sempat."

Tok Aba menggeleng beberapa kali.

Air muka Halilintar berubah.

"Dia mahu tinggalkan desa ini. Mahu dibawa ibu sama adiknya."

Halilintar tersenyum tipis. Lama dia terdiam. Sekali dipikirkan, setuju juga dia dengan cadangan itu. Kalau dia di tempat Blaze, dia tidak berpikir panjang lagi. Sebelum terjadi apa-apa, lebih baik ditinggalkan sahaja kampung terkutuk ini. Kabur jauh-jauh. Tetapi apabila dipikirkan semula, dia kembali ragu. Sampai kapan lagi mereka harus lari?

Akhirnya dia mengeluh.

"Kapan dia berangkat?"

"Entahlah..Benar katamu, Hali. Salahku yang terlalu mengharapkan dia," ujar Tok Aba.

"Jadi, apa mau kita lakukan sekarang?"

"Berbalik pada rencana yang asal," jawab Tok Aba walaupun terasa sangat berat.

Sejak kematian ayahnya Blaze, sudah dia terasa beban yang perlu dipikul.

Jawapan Tok Aba sudah dijangka Halilintar. Nampaknya, mereka tetap akan berusaha mempertahan desa itu dan merebut peluang yang datang. Mereka tidak mahu lari mahupun tunduk pada setan itu. Mereka akan menentang sedaya upaya.

"Buku itu?" soal Halilintar apabila teringat sesuatu.

"Mungkin ada di rumahnya," balas Tok Aba.

"Siapa pula yang akan membawa tombak-tombak itu ke muara?" tanya Halilintar lagi.

Pertanyaannya hanya dijawab dengan helaan napas yang panjang. Kini dia mengerti kenapa Tok Aba termenung jauh.

"Tadi aku ke kota sebentar. Kebetulan terjumpa seseorang yang bekerja di Rintis Holdings. Dia bilang Gempa yang menjadi direkturnya sekarang. Jadi kurasa, dialah penjaga Batu Rintis itu sekarang menggantikan ayahnya," beritahu Halilintar.

Tok Aba tidak menjawab.

Melihatkan Tok Aba begitu kelelahan, Halilintar tidak mahu mengganggu lebih lama. Hatinya kurang selesa. Lantas dia ke rumah Iwan.

"Dari mana?" tanya Iwan.

"Dari rumah kakek, dia gak berapa sehat."

"Kakek gak sihat? Kurang istirahat agaknya. Selalu aja membawa Api ke mana-mana. Mungkin juga dia lagi khawatir soal keadaan sekarang," balas Iwan.

"Kakek bilang, Api mahu melarikan ibu dan adiknya dari desa ini."

Mereka berdua terdiam.

"Jadi kita harus bersedia. Keluarga kita pula yang akan jadi mangsa. Masa makin suntuk," sambung Halilintar.

Iwan terlopong. Sempat dia mengerling ke arah rumahnya. Kemudian menaikkan jari telunjuk kanan ke bibir sebagai isyarat agar Halilintar tidak menyebut lagi soal itu.

"Apa pula kata kakek?" tanya Iwan.

"Kita sudah gak punya pilihan. Sama ada dia ada atau enggak, kita harus gempur juga," jawab Halilintar dengan penuh harapan.

Dia harap Iwan tidak kabur seperti Blaze.

"Jadi mulai malam ini kita harus giatkan latihan. Kita harus bersedia apa yang perlu. Kita tidak tahu siapa lawan kita dan apa yang kita terpaksa lakukan. Tapi demi menghentikan perkara ini, kita teruskan juga," sambung Halilintar.

Kata-katanya tidak berjawab. Masing-masing termenung memikirkan rencana yang harus diaturkan.

.

.

.

.

Setelah mereka sekeluarga berkumpul di ruang tamu, Blaze memandang ibu dan adiknya. Sejujurnya dia tidak dapat menebak apa reaksi mereka sekiranya diberitahu mengenai keputusannya sebentar lagi. Tetapi walau apapun, itulah keputusan yang terbaik buat masa ini.

"Ibu..." Blaze mula bersuara.

Ibunya tidak bersuara, sebaliknya anaknya hanya direnung lembut. Air juga duduk memerhati.

"Api mahu bawa kalian tinggal di Kuala Lumpur," sambung Blaze. Di dadanya bergetar hebat bagai dipukul ribut apabila raut wajah keduanya berubah.

"Pindah? Ke rumahmu?" soal ibunya.

Blaze tunduk seketika. Dia serba salah. Kalau bisa, dia memang ingin tinggal berbarengan tetapi itu tidak mungkin. Cara hidupnya tidak mengizinkan. Ini saja sudah sepertinya satu mimpi..

"Api sudah menyuruh temanku untuk mendapatkan sebuah rumah kontrakan untuk kalian, yang berdekatan dengan sekolah. Tapi kalau nggak dapat, aku akan usahakan yang lain."

Wajah ibunya yang tadinya gembira memudar. Kenapa dia tidak bisa tinggal aja sama anaknya sendiri?

"Kapan kita mau pindah?" tanya ibunya lagi.

"Sore ini, kalau bisa" jawab Blaze.

"Nanti sore? Tetapi kan gak sempat mau berkemas, mengapa harus buru-buru amat?" soal Ibu dengan mata membelalak.

"Aku bimbang kalau aku sukar untuk pulang lagi. Terlanjur sudah pulang, lebih baik kubawa ibu dan Air sekali, kan asik?" ujar Blaze dengan berdebar-debar. Dia khawatir kalau ibunya menolak. Kalau itu berlaku, maka rancangannya tidak berhasil.

Ibunya pula terdiam. Separuh hatinya menerima, separuh laginya menolak. Dia keliru karena tadi pagi katanya Blaze masih libur tetapi sekarang apa yang berlaku?

"Keadaan di sini sudah tidak lagi aman. Di sana nanti pasti Api senang dapat ketemu sama ibu dan Air selalu," Dia memandang wajah ibunya lalu meyorot matanya pada Air yang tidak bergeming sejak tadi. Dia tahu dia berdusta.

Ibunya pula mengallihkan perhatian untuk bertanya pendapat Air.

"Air?" tanyanya.

Air mengangkat muka. Tatapannya tajam merenung merenung kakaknya.

"Kalau ibu sama kakak mau pindah, pergi aja. Aku gak mahu," ujar Air.

Lantas dia bangun dan bergegas turun ke tanah.

Blaze dan ibunya sama-sama tercengang.

.

.

.

.

"Kenapa kamu gak setuju?" tanya Blaze terus sebaik mendekati adiknya yang duduk di bawah pohon rambutan di sisi rumah. Walaupun cuaca begitu panas dan berangin namun di bawah pohon itu redup dan nyaman.

"Kak Api pikir aku bodoh?" balas Air. Pandangan matanya tetap lurus memandang kawasan kebun sayur di belakang rumah.

Telinga Blaze terasa berdesing. Sepanjang hari dia menahan perasaan marahnya namun kali ini dia mungkin tewas.

"Pernah kubilang dirimu bodoh?"

"Kakak pikir aku gak tahu kenapa kakak tumben mau kami tinggalkan kampung? Kalau Kak Api takut, jangan anggap Air juga penakut kayak kakak," balas Air sambil menantang wajah kakaknya.

Blaze menggertak gigi. Penumbuknya digenggam kuat sehingga tangannya menggigil. Dadanya berombak. Kalau diikutkan hati memang wajah Air sudah ditumbuk sekuat hati.

"Apa yang kamu tahu?!" Gertak Blaze sambil memandng ke tempat lain. Dia coba menyabarkan diri. Air adiknya, bukan lawannya.

"Aku tahu semuanya, kak. Walaupun Tok Aba, kakak dan ibu tidak memberitahu, tapi sebenarnya aku sudah tahu apa yang berlaku di desa kita."

Wajah Blaze berkerut. Benarkah? Air sudah tahu? Bagaimana? Irisnya melirik ke arah Air yang duduk di sebelahnya. Mungkin sudah sampai waktunya mereka berbincang dari hati ke hati. Mungkin juga Air bukanlah anak kecil seperti yang disangkanya selama.

"Kamu tahu dari mana?" tanyanya aneh. Dia berdebar-debar menantikan jawapan Air.

"Tunggu sini."

.

.

.

.

Selesai jam kerja, Maria berkira-kira untuk pulang ke rumah. Setelah mengemas meja, dia ke kantor Gempa untuk menyimpan beberapa dokumen penting. Sebaik sahaja menyentuh kenop pintu, dia terdengar bunyi sesuatu yang terjatuh ke lantai dalam ruangan kerja laki-laki itu.

Dengan rasa penasaran, dia membuka pintu. Dilihatnya kursi Gempa berputar-putar dan ada seorang lelaki duduk di atas kursi namun membelakanginya.

"He? Kapan kamu masuk kantor semula? Tadi kata mahu ambil cuti panjang?" tanya Maria heran.

Namun, hatinya senang karena adanya lelaki itu di situ. Dia melangkah menuju rak di tepi dinding. Dokumen-dokumen disimpan rapi seperti selalu.

Ketika itu hidungnya menghidu bau yang teramat kuat. Dia berasa aneh. Bau bangkai?

"Kamu bau sesuatu?" soal Maria sambil melangkah mendekati meja lelaki itu.

Namun Gempa tidak menjawab.

"Gempa..." Panggilnya lagi apabila sadar Gempa berdiam lama tidak menjawab. Mungkin dia tidak dengar pertanyaannya tadi.

Dia menyentuh kursi lelaki itu.

"Gem-"

Kata-katanya terputus apabila kursi itu ditoleh sedikit.

Sesaat kemudian dia memekik. Refleks dia mengundur hingga melanggar meja sebelum berlari keluar dari ruangan itu.

Dia menjerit meminta tolong namun kemudian dia sadar kantor itu kosong. Dia menuruni tangga laju lalu memecut pulang dengan tubuh yang menggigil dingin. Napasnya tidak teratur.

Matanya masih membayangkan apa yang baru saja dia saksikan.

TBC


Well ini mungkin chapter terakhir sebelum ujian di minggu depan. Doakan semoga aku berhasil melaluinya ya(lebih-lebih lagi yang melibatkan ketahanan fisik)!