"Tunggu sini."

Dengan malas, Air bangun lalu berjalan masuk ke dalam rumah.

Blaze tidak membantah. Dia hanya terduduk memikirkan segala macam kemungkinan. Dia mula merasakan Air hanya akan menyukarkan keadaan.

Blaze hanya menunggu beberapa saat sebelum Air muncul semula di bawah rumah.

"Ini," tegur Air sambilkan mengulurkan sesuatu.

Walaupun kaget, Blaze menerima juga apa yang diulur Air. Rupanya seperti sebuah buku tetapi kulit luarnya keras. Warnanya hitam kekuningan dan sobek. Setelah diambil buku lusuh itu, Blaze sadar kulit luarnya diperbuat daripada kayu yang sudah berubah warna.

Di dalam buku itu punya empat helai kertas sahaja yang masih kelihatan baru. Selebihnya helaiannya kelihatan sudah berkerunyuk dan rapuh. Malah, ada yang sudah lerai di penjurunya. Blaze sendiri gementaran menyentuhnya. Apa yang sempat dilihat, buku itu kelihatan seperti catatan yang ditulis dalam tulisan jawi yang indah. Cuma masalahnya..

"Buku apa ini?"

"Inilah catatan yang ditinggalkan almarhum ayah. Almarhum ayah mendapatnya dari almarhum kakek dan seterusnya. Kalau kakak lihat sehingga habis, ada beberapa catatan yang ditulis di atas kulit kambing dan di atas daun," jawab Air tenang.

Air mengambil semula buku di tangan Blaze lalu membuka bahagian belakang. Benar apa yang barusan dibilang Air. Di bahagian belakang itu ada catatan yang ditulis di atas kulit yang sudah berwarna abu-abu kekuningan. Blaze tidak pasti warna asalnya apa.

"Di bahagian belakang sekali ditulis di atas daun," tunjuk Air. Jemarinya menyentuh setiap tekstur yang timbul di atas helaian itu.

Dia menyelak beberapa lagi helaian di bahagian akhir buku itu perlahan-lahan. Namun banyak helaian yang sudah melekat dan robek.

Semua yang dilakukan Air diperhatikan dengan teliti oleh Blaze. Dia masih tidak paham apa yang ingin disampaikan Air. Makin lama dia makin penasaran. Hendak ditanya, egonya ditahan. Dia tidak lagi bisa membaca tulisan jawi. Dia sudah lupa.

"Semua orang pikir aku gak tahu apa-apa. Tapi sebenarnya beberapa hari sebelum ayah meninggal, dia sempat menceritakan segalanya padaku. Buku ini juga diserahkan padaku. Sudah kubaca sebahagiannya."

Blaze menarik napas panjang. Kalau benar ayahnya telah memberitahu, mungkin benar adiknya sudah tahu semua perkara.

"Kalau kamu sudah tahu, bagus dong. Ayuh tinggalkan desa ini cepetan. Kalau bisa, senja ini sudah kita bertolak. Baik kamu berkemas dulu. Jangan lupa bawa-"

"Kak!" pintas Air sambil menggeleng.

"Aku setuju kalau kakak mahu bawa ibu, tapi aku mahu tinggal di sini," sambung Johan.

"Kenapa?!" soal Blaze dengan nada tinggi.

"Almarhum ayah bilang, kalau kakak tidak pulang sebelum majelis itu bermula, aku yang harus mengambil tugas kakak. Peluang itu tidak mungkin datang lagi."

"Kamu sadar gak apa yang kamu barusan bilang? Itu bukan kerjaanmu. Pekerjaanmu ialah belajar. Nanti sudah di kota, aku-"

"Siapa bilang ini bukan kerjaku? Siapa bilang ini bukan kerjamu juga? Kak, usaha kita usaha yang baik. Kita gak mahu lagi saudara kita di desa terus menerus melakukan amalan khurafat pada puaka itu. Kita juga gak mahu setan itu mengganggu penduduk desa lagi."

"Orang lain juga bisa! Kakek bisa. Majelis Ugama juga bisa. Telepon aja, mereka boleh datang siasat."

Air menggeleng.

"Kakak pikir almarhum ayah gak pernah mencoba melakukan semua itu?"

Blaze terdiam.

"Apa juga yang kakak tahu soal Tok Aba? Dia baru dua bulan keluar rumah sakit. Jantungnya bisa kapan saja berhenti. Tapi memikirkan tanggungjawabnya sebagai umat Islam untuk menghentikan semua ini, dia menggagahkan juga."

Blaze merasa terpukul. Ditabok juga rasanya tidak seperti itu. Akhirnya dia termenung merasa keperihan di dada.

"Kalau kakak mahu pergi, pergilah. Aku gak melarang lagi. Tapi kalau kakak pergi dengan ibu sekalipun, kurasa mereka tidak akan berhenti di situ saja. Mungkin kakak hanya bisa melambatkan mereka, namun mereka bisa mencari orang lain. Puaka itu memang lapar darah penduduk desa, memang pantas dihapuskan aja..." ucap Air penuh emosi.

Blaze terus mendengar luahan hati Air. Tidak diduga, adik yang disangka pikirannya masih bocah ingusan mempunyai semangat yang tinggi. Blaze merasa malu dan hanya menunduk.

"Baiklah. Nanti kalau sudah selesai, Air datanglah ke kota," balas Blaze lalu bangkit berdiri.

Baginya Air terlalu mentah untuk memikirkan soal kehidupan. Menyerah nyawa bukan tindakan yang bijak, tetapi anak seperti itu tidak mahu mendengar nasehat. Dasar keras kepala!

.

.

.

.

"Kenapa sama adikmu? Kalian berantem ya?" soal Ibu apabila Blaze masuk ke rumah dengan muka tegang. Kemudian di menghempaskan pantatnya di kursi ruang tamu.

"Dia gak mahu ikut kita."

Blaze cuba menyembunyikan ketegangan di wajahnya namun sepertinya tidak bisa. Dia memang marah, namun sebaliknya juga berasa gelisah tentang keputusan Air.

"Gak mahu? Loh, kenapa? Apa dia bilang?" tanya Ibu dengan wajah muram.

"Sebaiknya ibu tanya aja sama dia."

Blaze tidak tahu lagi bagaimana mahu menjawab. Dia percaya, semakin dijawab semakin banyak yang perlu diceritakan. Dia malas bercerita panjang lebar. Dia belum bersedia.

Jawapan Blaze membuat ibunya mengeluh pelan.

"Kalau Air gak ikut, ibu juga gak mahu."

"Ibu.." ujar Blaze kaget. Hatinya terus ngambek.

"Ibu gak bisa tinggalin adikmu keseorangan di sini. Dengan apa yang berlaku, dia masih muda untuk menghadapinya. Ibu gak tega."

"Tapi, bu-"

Hampir saja dia menceritakan keadaaan yang sebenar tetapi tertahankan. Lantas dia hanya diam dan menarik napas panjang-panjang untuk memadam rasa amarah yang memuncak.

"Ikutlah aku, ibu," pujuknya lagi.

"Tidak bisa. Kamu aja pulang dulu, biar kami di sini."

Sesungguhnya Blaze berasa teramat hampa. Dia ingin melakukan sesuatu untuk keluarganya namun seperti tidak ada harga. Tanpa menunggu lagi dia turun ke luar dan mengundurkan mobilnya ke jalan besar. Karena mengikutkan rasa marah, dia mengemudi tanpa arah. Tidak sadar keretanya menuju ke ujung desa.

.

.

.

.

Di rumah, keadaan masih kaku. Air terus mengunci mulut. Dia termenung melihat kakaknya meninggalkan rumah. Kalau kakaknya punya pendirian, dia juga punya. Lagipun amanah itu di tangannya. Apa pun tindakan kakaknya, dia tetap ingin melaksanakan rencana ayahnya.

Ibu pula khawatir memikirkan kedua anaknya. Sebagai ibu, dia tidak mahu memenangkan sesiapa. Kedua-duanya adalah anaknya.

"Cuba bilang pada ibu, mengapa kamu tidak mahu mengikut Kak Api?" desak ibunya.

Sudah berapa kali ditanya hal yang sama, namun Air terus mengelak untuk berbincang dan cuma berdiam.

"Kalau kamu gak mahu ikut, ibu juga gak mahu ikut," balas ibunya.

"Jangan begitu, ibu. Kasihan sama kakak. Dia sudah repot mencari rumah untuk ibu, tapi kok ibu gak mahu ikut? Ibu pergi dahulu, Air ikut kemudian..tapi bukan sekarang," akhirnya Air bersuara. Dia mencoba tersenyum. Pesanan ayahnya dipegang kemas di dalam hati. Ibunya tidak bisa tahu bahawa nyawa mereka terancam.

Ibunya terdiam. Tidak pernah pula Air benar-benar bersikeras seperti ini.

"Sampai kapan?"

"Mungkin selepas.."

"Selepas apa?" tanya ibunya merenung tajam.

"Selepas aku tamat ujian. Sehingga aku mahu tamat belajar di sini dahulu. Ini kan tahun akhir sebelum tamat belajar..Rugilah, kita juga gak punya uwang lagi..tidak mahu pula merepotkan Kak Api," tiba-tiba Air mendapat alasan.

Ibunya mengangguk paham. Air mendesah lega.

"Kalau begitu keputusanmu, tetapi gak apa-apa kamu tinggal sendirian?"

Air mengangguk lalu tersenyum.

Kini hati ibunya lebih lapang. Namun dia merasa bersalah lalu melemparkan pandangannya ke arah jalan. Ke mana pula perginya Blaze?

.

.

.

.

Hakikatnya, Blaze tidak tahu perjalanannya akan tamat di mana. Dia hanya ingin lari sejauh mungkin sehingga hatinya sejuk semula. Sambil mengheret rasa sedih yang berpanjangan, tidak sadar mobilnya melewati kebun-kebun karet yang ditumbuhi belukar di kiri kanan jalan. Dia tas trotoar yang dilaluinya, daun-daun kering berserakan seolah-olah tidak pernah dilalui sesiapa.

Napasnya yang tadinya sesak bertukar lapang apabila terpandang Sungai Rintis yang terbentang luas. Dia akhirnya memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Dia ingin mengambil masa untuk menikmati pemandangan di situ sambil coba membujuk hatinya yang dilanda dilema.

Dia berada di persimpangan hidup yang sukar. Hendak dibiarkan saja, mereka ibu dan adiknya. Hendak diikiutkan pula terasa dia perlu memikul suatu beban yang teramat berat. Dia tidak tahu keputusan yang mana yang pelu diambil. Sedang berpikir, dia sadar ada sesuatu yang tidak kena.

Mata Blaze memicing tajam ke hadapan mobil. Di bawah pohon balau yang redup, berdiri seorang lelaki yang merenung pemandangan yang tidak terjangkau jauhnya.

Terdetik di hati Blaze untuk menegur lelaki itu yang mungkin dalam kesusahan sepertinya. Lantas dia keluar dari mobil dan dan pergi mendekati lelaki itu. Dia berdeham.

Lelaki itu pun menoleh kearahnya.

Namun anehnya, lelaki itu tersenyum lebar dan sangat manis dipandang.

"Assalamualaikum, saudara," ucap lelaki itu tenang sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Blaze terpaku. Tangannya terulur menyambut salam lelaki itu. Tatapannya terus ditujukan kepada lelaki itu. Akalnya tidak berhenti memikir akan siapakah lelaki itu dan apa yang dibuatnya di situ.

"Anda sedang melakukan apa? Memancing?" tanya Blaze gementar. Matanya terus mengamati wajah dan sosok lelaki misterius itu.

Di kepalanya terlilit serban dengan kemas, manakala tubuhnya disarungi jubah berwarna putih yang menyapu tanah dan hanya dilapisi sehelai baju luar berwarna biru tua. Lelaki itu sepertinya berada di tempat yang salah.

"Aku lagi melihat sungai," balas lelaki itu dengan suara yang bergetar lembut.

Melihat sungai? Blaze merasa bodoh mendengar jawapan lelaki itu. Tetapi tidak pula hatinya berasa marah. Sebaliknya entah mengapa hati Blaze merasa lebih tenang melihat penampilan lelaki itu, sedikit sebanyak melupakan masalahnya.

"Anda tinggal di sini?"

"Aku tinggal di sana..." Lelaki itu mengangkat tangannya lalu menunjuk ke seberang jalan. Tidak jauh dari situ berdiri kukuh sebuah rumah kayu yang besar, sepertinya sebuah madrasah. Kelihatan di halamannya beberapa lelaki muda dan kanak-kanak bermain-main di luar.

Blaze paham. Mungkin laki-laki itu guru yang mengajar di sebuah pondok pengajian ugama di situ. Baru dia ingat, ayahnya pernah menceritakan tentang pondok-pondok agama yang sudah lama bertapak di desa itu. Mungkin itu salah satu tempatnya.

"Anda tersesat jalan?" tanya lelaki itu pula.

"Entahlah, sudah lama tidak pulang," Blaze tersenyum lirih.

"Beristighfarlah selalu. Istighfar itu membuka jalan pertolongan. Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: Sesiapa yang sentiasa beristighfar maka Allah akan menjadikan baginya setiap kesusahan itu ada jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada cara mengatasinya serta memberikan rezeki kepadanya daripada sumber yang tanpa diduga olehnya. "

Blaze tersenyum pahit. Istighfar. Dia sudah lupa.

"Gerakkan lidah dan hati. Hidupkan dengan keinsafan dalam menyedari segala kesilapan dan kesungguhan untuk memohon ampun kepada Allah. Itulah permulaan segala rahmat bagi para hati yang mahu mencari jalan pulang. Bahkan setiap permintaan dan harapan kita pada Allah untuk diampuni segala dosa itu juga adalah istighfar," sambung lelaki itu.

Tenggorokan Blaze tercekat. Makin lama semakin seram sejuk juga berada berdekat dengan lelaki itu. Dia mula berkeringat dingin tanpa sebab.

Lelaki itu lantas membaca sebaris ayat dari surah Hud: 3 disusuli maknanya ;

Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling, maka sungguh aku(Rasulullah) takut kamu akan ditimpa azab besar pada hari yang besar(Kiamat).

Blaze makin kelu untuk membalas kata. Terasa hancur kekebalannya selama ini yang menjadi tembok kepada segala rasa kesalRasa gerunnya datang menimpanya bertubi-tubi. Amarahnya mengecil. Matanya bergenang. Kini, dia sudah tidak berdaya lagi.

"Ikutlah aku ke pondokku. Di sana bisa kita menunaikan sholat Asar berjamaah," ajak lelaki itu sambil memaut lengan Blaze dengan lembut.

Mereka akhirnya berjalan beriringan melintasi jalan raya ,enuju ke rumah kayu yang dilihat Blaze tadi.

Setiba di halaman rumah yang begitu bersih, Blaze diterkam sekumpulan anak-anak dan pemuda yang menghulurkan salam dan berlomba-lomba ingin bersalaman dengannya juga memeluknya tanpa segan silu.

Sejujurnya, Blaze merasa turut senang. Ketika ini jiwanya larut dalam perasaan yang sukar diungkapkan. Dia sadar, sejak pulangnya dia di desa itu, kasih sayang yang diterima seolah-olah menyadarkan dia bahawa hidupnya bukan hanya sehala. Masih ada jalan-jalan yang lain. Malah belum pernah terlambat untuk berpatah semula. Hanya sahaja, antara mahu atau tidak. Sesekali suara hatinya bergema mengatakan bahawa Allah masih sayang padanya.

Pada petang itu, dia diajar semula kalimah syahadah. Walaupun suatu perkara yang sudah biasa di dengarnya, namun ternyata sukar untuk dilakukan. Dia hampir tewas dan meneteskan air mata apabila lidahnya yang selalu lembut mencerca musuh-musuh menjadi keras bagaikan kayu. Ternyata sesuatu yang dianggap mudah itu sudah menjadi sukar akibat lidah yang selalu dibasahi air yang haram dan hati yang selalu melupakan kebesaran Allah.

"Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Karena sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Beristighfar. Jaga napasmu. Allah itu Maha Pengasih. Dia Maha Mendengar. Dia Maha Mengasihi setiap hamba-Nya tanpa mengabaikan walau sesiapapun. Bermohonlah kepada-Nya. Insya-Allah," nasehat lelaki itu.

Kata-kata lelaki itu membuatkan Blaze tunduk malu. Lalu dia mula beristigfar di dalam hati. Pada awalnya hambar, tidak terasa apa-apa. Namun semakin lama dia merasa sedih. Terasa dipenuhi dosa. Begitu hina. Sunggu tidak pantas walaupun untuk berdoa. Tanpa ditahan, tetesan jernih jatuh ke riba. Sedikit demi sedikit dan akhirnya tersedu-sedu menahan gementar hebat yang menguasai raga.

Melihat keadaan Blaze yang begitu sebak, lelaki itu memegang bahu Blaze dengan lembut. Perlahan-lahan jiwanya terasa hangat semula dan lebih tenang. Lalu dengan bibir yang menggeletar, dia melafaskan kalimah syahadah. Disambut pula doa kesyukuran yang panjang oleh lelaki itu lalu diaminkan semua yang berhimpun di dalam musola itu.

Blaze dapat merasakan suatu perasaan yang berbeza yang berkobar dalam jiwanya. Seperti dia kembali ke jaman bocahnya ketika dia mendengar ustadz mengajarnya mengenali Tuhan buat kali pertama. Apa yang dilakukan selama ini?

.

.

.

.

"Ayuh kita berwhudu' dahulu."

Lelaki itu mencuit lengan Blaze sebelum melangkah keluar dari musola. Di sebuah sumur yang dikelilingi batu merah setinggi dua kaki, Blaze diajar mengambil wudhu' tanpa banyak soal.

Kali ini, tiada lagi rasa gementar apabila diajak untuk sholat berjamaah. Tiada lagi rasa malu dan tidak layak berada di situ. Dia merasa umpama kain yang perlu dicuci hingga bersih hari demi hari.

Selesai berjamaah, Blaze melihat mereka yang lain mula mengerjakan hal masing-masing. Ada yang bertadarus Al-Quran mahupun membaca kitab ugama secara berkelompok. Blaze hanya akur apabila lelaki itu menarik tangannya ke suatu pojok.

"Sebelum pulang, kakak ingin mengingatkanmu suatu perkara."

Baginya, hampir seluruh petangnya di situ hubungan mereka sudah seperti dianggap kakak-beradik.

Blaze mengangguk. Dia bersedia untuk mendengar lagi apa yang ingin diajarkan lelaki itu. Mereka duduk berhadapan dalam keadaan bersila di pojok itu. Blaze sudah seperti gurun yang dahagakan hujan turun.

"Aku tidak akan mengingatkanmu akan apa-apa hal yang rumit, tapi aku hanya akan mengingatkanmu supaya melakukan sholat yang wajib. Sholat itu merupakan amalan pertama yang akan dihisab di hari akhirat. Jika solatnya diterima, maka beruntunglah dia. Jika tidak diterima, maka kecewa dan rugilah dia."

Blaze mengangguk lagi. Dia sadar perkara itu sudah lama dilupakan. Bukan hanya lima, sekali juga tidak pernah. Hidupnya seakan-akan mengawang di dunia yang kosong. Ke atas tidak sampai, ke bawah tidak pernah dijejak. Apa yang ada ialah rasa amarah yang menggila sehingga hilang sifat belas kasihnya pada manusia lain. Jiwanya tidak tenteram di setiap saat.

Kemudian dia diajar mengenai sholat sunat Taubat dan kelebihan taubat. Katanya;

Menurut riwayat Muslim, "Sesungguhnya Allah lebih gembira menerima taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya, daripada kegembiraan seseorang yang mengendarai binatang tunggangannya, kemudian binatang tunggangan itu hilang di padang yang luas, sedangkan di atas binatang itu bekalan makanan dan minumannya hingga dia rasa berputus asa daripada menemuinya kembali. Lalu dia berteduh di bawah sepohon kayu dengan perasaan putus asa daripada mendapatkannya kembali. Dalam keadaan itu, tiba-tiba muncul di sisinya binatang tunggangannya yang hilang tadi dan dengan segera dia memegang talinya seraya berkata dengan penuh gembira, "Ya Allah, Engkaulah hambaku dan aku tuhanmu," dia tersalah sebut kerana terlalu gembira. (Sebenarnya apa yang hendak disebut ialah Engkaulah tuhanku dan aku hambamu).

"Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya; Seorang mukmin tidak akan jatuh ke dalam satu lubang dua kali," kata lelaki itu lagi.

Blaze makin menunduk lesu.

"Lakukanlah apa yang mampu dahulu. Sholat wajib, sholat sunat Taubat dan banyakkan istighfar. Insya-Allah akan terbbuka jalan yang lebih luas dan lapang untuk segala ilmu yang lain. Apa yang penting, jangan berputus asa dari mengharapkan rahmat dan pertolongan Allah.

Kita meminta bukan karena kita pantas mendapatkannya tapi karena kita tahu Allah itu pantas memberi apa sahaja karena Dia yang Maha Pemberi lagi Maha Pengasih. Kalau meminta, pintalah dengan kesadaran dan bersungguh-sungguh. Permulaan makbul itu doa, dan bukan semua orang diberi keupayaan untuk berdoa. Bersyukurlah untuk setiap langkah kaki yang diayun, untuk setiap napas yang diambil malah untuk apa sahaja. Karena kita tidak berupaya melainkan semuanya dengan ijin Allah," nasehat lelaki itu.

Sepanjang tempoh itu, Blaze melapangkan hati mendengar segala nasehat dan tunjuk ajar dari lelaki itu. Selepas selesai semuanya, dia berpamitan untuk pulang ke rumah setelah hari mulai di penghujung sore. Dia tidak mahu hati ibunya khawatir.

Namun sebelum mereka bersurai, Blaze mengucapkan terima kasih pada lelaki itu sambil menatap lama wajah lelaki itu dengan tenang. Hatinya sungguh berat untuk berpisah.

"Bergantunglah pada Allah setiap waktumu, dan senantiasalah ingat untuk beristighfar. Insya-Allah, akan terbuka jalan keluar untukmu daripada kesempitan. Akan diberi kekuatan padamu. Berserahlah hanya kepada Allah karena ramai yang tahu tetapi tidak ramai yang yakin dengan sebenar-benar yakin," ujar lelaki itu bersungguh-sungguh mengakhiri pesanan.

"Pulang nanti, pergilah ke rumah Tok Aba. Dia kurang sehat," sahut lelaki itu membuatkan Blaze berpaling.

Lelaki itu sudah menghilang ke mana?

.

.

.

.

Mendengarkan nama Tok Aba disebut lelaki itu, Blaze mula merasa bersalah. Ditinggalkan tempat itu tanpa mencari lelaki yang belum sempat ditanya namanya, lalu ingin pulang ke rumah. Hatinya kini benar-benar lebih tenang. Dia sudah punya keputusan dan keyakinan.

Namun yang dia perlu pikir sekarang, bagaimana pula hendak diceritakan sama Tok Aba?

Ruang di rumah itu kelihatan seperti berkabung. Masing-masing membisu, malah termenung dengan wajah sugul. Hanya mata Tok Aba yang bersilih ganti memerhatikan Blaze dan Air.

"Kapan mau pulang? Besok?" soal Tok Aba sambil memandang lama wajah lelaki itu.

"Nggak jadi, kek." Blaze menundukkan muka, malu.

"Mengapa pula?"

Blaze meneguk ludah. Matanya bergerak perlahan dari bawah ke atas. Akhirnya tertancap pada wajah Air yang duduk di hadapannya. Melihatkan Air terus mengunci mulut, terpaksalah dia yang bersuara.

"Air gak mahu ikut," jawab Blaze lalu menunduk semula.

"Kenapa, Air?" Tok Aba merenung wajah Air pula.

Air membiarkan wajahnya terangkat sedikit.

"Aku bukan penakut kayak dia."

Tersirap terus darah Blaze. Tetapi dia sadar Air tidak tahu siapa dia dan apa yang pernah dilakukan selama ini. Akhirnya dia hanya merenung tajam Air yang kembali menekur ke lantai.

"Maksudnya?" soal Tok Aba inginkan kepastian.

"Dia sudah tahu semuanya, kakek," sampuk Blaze. Tidak tega melihat Tok Aba harus menjadi mangsa ketidakakuran antara mereka bersaudara.

Tok Aba mengeluh.

"Dari mana Air tahu?" soal Tok Aba.

"Beberapa hari sebelum ayah meninggal, aku diberitahu semuanya. Kitab itu diberikan padaku," ujar Air.

Tok Aba mengangguk-angguk

"Nampaknya ayahmu sudah mengambil langkah berjaga-jaga. Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?"

"Aku akan melakukan mengikut apa yang dirancang," balas Air yakin.

Tok Aba terdiam.

"Aku memang ingin berbincang sama kakek soal rencana itu. Ayah berpesan, apa-apa hal binvang dahulu sama kakek. Lagipula aku gak bisa melakukannya sendiri," sambung Air.

"Kamu memang tidak bisa bertindak seorang diri. Kumpulan kita belum cukup untuk menghadapi mereka yang ramai."

"Tapi kita punya ALLAH, kek" balas Air lantang.

Blaze membiarkan sahaja walaupun kulit mukanya sudah terasa memanas. Dia merasakan egonya ditantang oleh seorang pemuda canggung berusia 17 tahun.

"Kalau begitu katamu, kakek tidak akan menghalang. Kamu rencanakan apa yang perlu dahulu. Aturkan apa yang perlu kami lakukan," balas Tok Aba.

"Biar aku sahaja yang mengaturkannya, kita bukannya mahu bermain pondok-pondok," celah Jimmy merenung tajam pada Air.

Nampaknya dia terpaksa mengarah keputusan itu. Baginya, Air belum bersedia untuk berdepan apa sahaja kemungkinan yang rumit dan mencabar. Itu bukan dunia Air tetapi dunia dia.

"Kak Api bawa ibu pergi dari sini. Ibu sudah setuju mengikut kakak tanpa aku," pinta Air sambil merenung wajah kakaknya.

Blaze menggeleng.

"Air bawa ibu tinggalkan desa ini. Biar kakak aja yang urusin hal di sini. Pagi besok kita ke KL. Sementara belum sempat mendapatkan rumah, kakak carikan hotel untuk kalian tinggal."

Air terdiam.

"Kakek rasa, bagus juga begitu. Air sama ibu kalian pergi, biar kami aja di sini selesaikan apa yang perlu," komentar Tok Aba.

"Tapi.."

Wajah Air cemberut. Dia memangku dagunya dan termenung.

"Bukan kakak mahu bilang bahawa kamu tidak layak, tapi kakak kan sudah pulang. Biarlah kakak yang ngelakuin semuanya," pinta Blaze. Dadanya sakit. Dia tidak bisa kalah sama adiknya.

"Kalau begitu kata kakak, aku setuju. Buku itu aku serahkan pada Kak Api. Lakukanlah apa yang seharusnya dilakukan, itu pesan ayah. Jangan hampakannya," balas Air.

Air dan Blaze beradu tatap. Blaze memahami isi hati adiknya. Sebagai anak yang tidak pernah berpisah dari orang tuanya, tentu Air berasa sangat kehilangan. Tentu ada walau sedikit rasa marah dan dendam yang tersimpan dalam kini harapan itu telah disandarkan padanya. Blaze sendiri pula terbeban dan tidak percaya sama keputusannya sendiri.

"Kalau begitu, bagaimana kalau nanti malam kita keluar ketemu sama Pak Guru yang tinggal di kota sebelah?" cadang Tok Aba memerhatikan Blaze.

"Kakek masih kuat ingin berjalan nanti malam?" tanya Blaze. Dia khawatir apabila tahu kondisi kesehatan orang tua itu.

"Kita sudah gak punya masa. Kakek bisa mengambil ubat."

"Aku bisa ikut?" pinta Air.

Blaze merenung tajam adiknya. Dia tidak selesa jika adiknya mengikutinya ke mana-mana.

"Kamu juga tahu, bukan? Bahaya tinggalkan ibu tanpa siapa-siapa."

Air mengeluh.

"Sudahlah, biar saja dia ikut kita. Malam ini penting juga," pinta Tok Aba.

Permintaan Tok Aba membuatkan Blaze serba salah. Dia memandang lelaki tua itu lalu mengangguk. Dia tidak punya pilihan.

TBC


Oh yes! Lol ngetik sambil denger lagu 'Taubat' nyanyian Opick untuk dapat feelnya. Kebanyakan pesanan lelaki itu memang biasa kuingat dari pengalaman nyata.

Ini juga sempat nyempil sebelum ujian di hari interview..fuh. Makasih atas doa kalian~ ^^