Selesai berbincang, Blaze dan Air berpamitan untuk pulang ke rumah. Mereka ingin mandi dan mengganti pakaian. Mereka berjanji untuk bertemu Tok Aba semula setelah sholat Maghrib.
"Kakak mahu ke mana?" soal Air menyadari kakaknya memandu jauh ke hadapan daripada jalan menuju ke rumah mereka.
"Mahu ke musola yang hampir di sungai," balas Blaze.
Air refleks menoleh ke arah Blaze. Mulutnya sedikit terbuka. Blaze pula tersenyum tetapi apabila dia menoleh memandang adiknya, wajahnya kelihatan keliru.
"Musola? Kak, musola itu kan sudah lama nggak ada. Sudah diruntuhkan sejak kebakaran," bantah Air.
"Ada, kok. Mungkin kamu gak tahu. Di madrasah itu punya ramai siswa. Ada anak yang masih bocah, ada yang sudah belasan tahun. Tapi orang tua sepertinya gak ada di situ, semuanya muda-muda," ujar Blaze yakin.
"Gak ada," bantah Air melotot horror pada kakaknya.
"Ada!" tegas Blaze sambil merenung wajah Air. Dia tidak mahu mengalah. Mungkin Air memang tidak tahu. Air menarik napas lalu menutup mulut.
"Nanti apabila sudah sampai, kita jamaah di sana sama mereka. Kamu lihat aja sendiri malam ini," balas Blaze.
"Kakak nggak main-main kan? Yang benar," tegur Air grogi.
"Iya! Aku gak bohong! Sumpah! Kakak ke situ tadi. Ada guru agama di situ yang bilang kakek gak sihat tadi. Kami sholat berjamaah di musola itu. Lalu kakak dengar beliau bercerita dan berceramah lagi. Kakak mahu belajar lagi darinya," Blaze masih belum mahu mengalah.
Dia sudah berasa rindu untuk kembali ke situ. Dia ingin mendengar bicara Ustadz itu lagi. Jiwanya haus akan segala ilmu yang bisa dipelajari dari lelaki itu.
Air terdiam.
"Kalau gak percaya, sebentar lagi kita tanya ke kakek. Mungkin dia tahu soal madrasah itu," balas Blaze tenang. Dia yakin dia benar.
Egonya masih belum puas selagi dia belum membuktikan pada Air bahawa apa yang dilihatnya tadi itu benar-benar berlaku. Dia yakin dia tidak berpikiran konyol. Akhirnya dia terlihat pohon balau tempat dia ketemu lelaki itu tadi. Mobilnya memerlahan lalu berhenti berhampiran pohon itu.
Air memang bisa melihat pohon itu, cuma dia merasa seram untuk berada di situ lama-lama. Aneh, di situ kan nggak ada apa-apa lagi? Dia tidak berani membantah kakaknya apabila Blaze keluar dari mobil untuk melihat lebih jelas.
Blaze memerhati keadaan sekeliling. Napasnya tertahan.
Apa yang dilihatnya adalah adalah hutan belukar dan semak samun yang menjalar. Di sebalik dan di celah-celah pohon terdapat kesan runtuhan beberapa rumah kayu lama yang roboh. Hampir hilang tertutup pohon-pohon yang menjalar.
"Kenapa, kak?" tegur Air yang memerhati Blaze sejak tadi.
"Pulang, yuk," Balas Blaze.
Sepanjang perjalanan pulang, dia termenung panjang. Sama sekali tidak mengerti apa yang berlaku. Namun, dia tetap mengharapkan Tok Aba bisa menjelaskan soal itu dengan lebih lanjut.
Setibanya di rumah, dia mengajak Air untuk bertanyakan sesuatu yang ingin diketahuinya lebih lanjut.
Soal buku itu.
"Di mana bukumu yang kamu tunjuk tadi?"
Air langsung masuk ke kamarnya untuk mengambil buku itu. Lalu dia keluar dan mengulurkan buku itu ke tangan kakaknya.
"Bisa kamu bacakan? Kakak udah lama gak baca tulisan Jawi," pinta Blaze.
Tenggorokannya terasa perih. Entah kenapa pengakuan itu membuatnya merasa bersalah. Sebagai anak desa yang pernah dididik dengan pelajaran agama dan fasih membaca dan menulis setiap aksara dalam tulisan Jawi, sekarang dia sudah tidak tahu apa-apa. Sejujurnya, dia sangat malu pada diri sendiri.
Untung Air tidak membantah. Buku itu diambil semula lalu membuka helaian yang awal. Dibacanya satu per satu kalimat dengan lancar dan menerangkannya pada Blaze.
"Yang itu pula apa?" soal Blaze.
Dia menunjukkan ungkapan dalam tulisan Jawi yang disusun berbaris-baris, sepertinya berbentuk puisi.
"Kalau nggak salah, ini syair lama," ujar Air setelah membaca baris-baris itu.
"Syair? Kamu paham apa yang ditulis?" soal Blaze setelah memerhati sebahagian tulisan-tulisannya ditulis dengan begitu kemas dan rapi.
"Biar kucoba," balas Air berusaha memerhatikan tulisan itu dengan lebih teliti karena tulisannya sudah sangat kabur dan dieja dengan ejaan bahasa yang lama.
"Tajuknya Syair Usul Waris. Nama penulisnya sudah terlalu kabur untuk dibaca."
"Baca aja yang mana bisa," balas Blaze.
Lalu Air membacakan apa yang tertulis di syair itu.
برمولاله چريترا سواتو قيصه
تيݢ سودارا برجوڠ برسام
رعية جلات ڤڠيکوت ستيا
دري سامتره کتانه دارا
اومبق دان باداي دتمڤوه جوا
مڠيکت جنجي ستيا سودارا
تانه سودارا ترتوا
ڤتير سودارا کدوا
اڠين سودارا اخير
ساتو اورڠ توا
سواتو جنجي ڤوڽا اڠکارا
تيݢ سودارا ڤچه جوا
ساتو هيلڠ منجادي مڠسا
ساتو هيلڠ ممباوا نستاڤ
ستياڤ کڤالا دڤوجا-ڤوجا
ڽاوا دراݢوت داراهڽا
دسمبه ڤولا ڤواک دورجان
کارنا هاتي بوتاکن هرتا
تومبق برتيݢ درمڤس سمولا
لمهڽا ڤد موارا
هنچورڽا ڤد يڠ عسا
"Apa harus dibaca semua, kak? Panjang banget nih..udahla kabur," Air mula merungut. Tenggorokannya kering karena sejak tadi harus dibaca kuat-kuat.
"Baca lagi dong, kan lebih banyak kita bisa tahu...Harapkan kakak sih sampai tahun depan baru bisa habis helaian kesepuluh."
Mendengarkan perintah kakaknya, Air terus menghabiskan apa yang terdaya. Ada waktunya dia sendiri tidak paham apa yang ditulis. Tetapi keseluruhan syair itu menceritakan asal usul penduduk desa dan juga tunjuk ajar bagaimana mahu dihapuskan puaka itu. Namun tidak lebih terperinci seperti diterangkan di halaman seterusnya.
"Bagaimana dengan ayat-ayat Ruqyah? Bisa kakak hafal?" soal Air sambil memandang wajah kakaknya yang sejak tadi begitu tegang mendengar penerangannya.
"Air baca dulu, kakak dengarkan. Kemudian akan kucoba pula untuk membaca sendiri. Kalau salah, tegur aja. Setengahnya masih kakak ingat."
Sekali lagi Blaze memasang harapan. Dia benar-benar berharap ingatannya tidak sepenuhnya hilang. Tentu ada yang masih tertinggal. Dia hanya perlu mengisi ruang-ruang yang lopong. Dan tepat saja, apabila Air membacanya, ada beberapa baris ayat suci itu yang mampu diingat semula.
Keduanya giat menghafal segala perkara yang perlu. Tetapi di dada Blaze tetap berdebar-debar. Dia khawatir kalau sampai saat-saat yang akhir nanti, dia lupa semuanya.
"Kak..." tegur Air sambil merenung wajah kakaknya.
"Apa?"
"Ayah pesan..."
Air terdiam seketika. Matanya berkelip-kelip.
"Sungguhpun kita menghafal ayat-ayat ini walaupun berkesan atau tidak, itu semua atas ketentuan Tuhan. Ayat-ayat ini hanya tinggal ayat kalau kita merasa tidak yakin atas kuasa Allah. Yang menjalankan tugas ini nanti harus menyerahkan sebenar-benarnya pada Yang Esa. Hanya Dia yang bisa memakbulkan segala doa dan harapan kita, bukan karena ayat-ayat ini," sambung Air.
"Air gak percaya sama kakak?"
"Bukan begitu. Mungkin Kak Api lebih layak dariku. Air hanya bisa menyampaikan pesanan almarhum ayah. Mungkin dia ingin memaksudkan bahawa kerja ini bukan sembarangan, tidak bisa dibuat main-main. Besar pengorbanannya. Kakak harus kuat. Imanmu haruslah sentiasa teguh."
Blaze menarik napas perlahan. Dia sadar apa yang coba ingin disampaikan Air dan ayahnya. Dia sendiri goyah. Imannya guncang. Dia tahu dia bukan orang yang baik. Jadi bagaimana bisa dia memikul tugas yang berat itu? Kini timbul keraguan dalam hati.
"Air mahu tugas ini diserah ke kakek?"
Air menggeleng pantas.
"Aku gak pikir kakek lagi mampu. Mungkin aja ini sudah takdirmu. Kakak lakukan aja, ya? Yakin," ujar Air sebelum menatap lama wajah kakaknya dengan senyuman.
"Aku percaya sama kakak," sambung Air.
Blaze terdiam lama. Dia benar-benar merasa tertampar. Dia memang punya rasa ragu dan tidak berdaya. Mampukah dia? Mengapa harus dirinya? Bagaimana kalau dia gagal?
"Kita sholat dahulu," ujar Blaze.
Dia bangkit menuju ke kamar mandi. Tiada jalan lain selain berserah pada Allah. Tiada daya untuknya menjawab segala persoalan itu.
.
.
.
.
Setelah selesai menunaikan sholat Maghrib berjamaah, keduanya singgah di rumah Tok Aba seperti yang dijanjikan. Blaze ingin bertanya satu hal yang mengganggunya pada haritu.
"Errmm...Kakek, apa kakek pernah mendengar apa-apa cerita soal madrasah di ujung desa?"
"Madrasah? Yang berhampiran sungai itu?" Tok Aba mengerutkan dahi.
Blaze sedikit tersentak seolah-olah punya harapan bahawa Tok Aba mempercayai apa yang bakal diceritakannya sebentar nanti. Tok Aba pasti tahu bahawa tempat itu wujud.
"Mengapa? Ada apa kamu bertanya?" tanya Tok Aba lagi.
"Tadi aku ke musola di situ, kek. Ada ustadz yang mengajar di sana memberitahuku bahawa kakek tidak sihat hari ini," jawab Blaze.
Dahi Tok Aba semakin berkerut. Blaze takut kalau Tok Aba masih marah padanya karena kecewa pada keputusannya siang tadi.
"Setahu kakek, penempatan di situ sudah musnah dijilat api delapan tahun yang lalu. Semua pondok pengajian agama di desa ini sudah nggak ada. Para pelajar dan pengajarnya juga sudah nggak ada. Ada yang sudah lama meninggal, ada yang berpindah. Semenjak itu, desa kita semakin sunyi."
Blaze melopong. Dia hanya bisa mendengar. Dia masih tidak bisa menerima apa yang didengarnya daripada Air dan sekarang Tok Aba sendiri. Mungkin mereka tidak tahu bahawa ada sebuah pondok baru yang dibina di situ.
"Tapi kek...tadi beneran aku sholat berjamaah sama mereka. Aku berjumpa, lalu bersalaman sama anak-anak itu. Malah, beliau sempat mengajarku mengaji," Blaze terus meyakinkan.
Air terdiam. Tok Aba hanya menggeleng.
"Air, ambilkan kakek album dalam lemari itu," pinta Tok Aba.
Air memandang sekilas ke arah lemari yang ditunjukkan Tok Aba. Sebuah lemari yang menempatkan beberapa buah buku dan naskhah-naskhah Al-Quran yang disusun kemas. Lalu dia bangkit dan membuka pintu lemari di bahagian bawah. Matanya terpaku melihat jejeran album lama yang tersusun rapi.
"Ambil yang warna biru," arah Tok Aba.
Air menurut. Sebuah album biru yang besar ditarik keluar dan diserahkan pada Tok Aba.
Sebaik album itu bertukar tangan, Tok Aba langsung membelek isi kandungannya. Terlihat dalam album itu yang mengandung banyak foto Tok Aba bersama tokoh-tokoh penting di desa, suatu ketika dahulu.
Mata Blaze terpaku pada seraut wajah yang sangat dikenalinya baru tadi. Tangannya sedikit bergetar namun dia masih bisa berpura-pura tenang.
"Itulah almarhum Ustadz Muhammad Zakariya Badariah," ujar Tok Aba.
"Dia sebenarnya teman baikku. Beliau sememangnya berasal dari desa kita namun sudah lama menetap di tanah Arab. Apabila kembali ke sini, dia seorang mudir yang mengetuai pengajaran agama di semua pondok pengajian agama yang pernah wujud di desa ini sejak zaman berzaman. Waktu itu, ramai yang datang ingin belajar daripadanya. Tapi ramai penduduk desa dari keturunan lain tidak suka padanya. Karena dia suka menasehati dan mengingatkan penduduk desa agar menjauhi perbuatan syirik.
Selepas dia meninggal, kegiatan di pondok mula merosot karena gak ada guru lain yang sanggup menggantikan tugasnya. Tiba-tiba pondok dan penempatan di sekitar kawasan madrasah itu terbakar. Ada yang bilang dibakar, merupakan perbuatan para orang yang sengaja ingin menghapuskan kegiatan mereka di desa ini. Sama nasibnya seperti kita yang terus dibenci keturunan demi keturunan. Tapi entahlah, sampai sekarang kakek juga belum pasti apa punca sebenar."
Air dan Blaze tekun mendengar.
"Semasa hidupnya dahulu, dia kenali dengan macam-macam gelaran. Para pemudi juga meminati wajahnya yang sangat tampan, tenang, selalu tersenyum dan elok dilihat seolah-olah bercahaya seperti melihat bulan purnama. Oleh itu dia digelar Badariah dan 'Ustadz Ganteng'. Kalau sama anak-anak, mereka mengenalnya sebagai 'Ustadz Solat' karena ke mana dia pergi, akan diajar cara-cara sholat yang betul. Sekurang-kurangnya dia akan mengajar lafaz syahadah atau membaca surah Al-Fatihah. Tapi sayang sekali, anak-anak muda di desa ini pasti kabur kalau melihat wajahnya."
"Mengapa pula?" tanya Blaze.
"Mereka tidak suka. Ada orang tua mereka yang melarang mereka 'disesatkan oleh lelaki itu."
"Aku bisa ingat sedikit kek. Aku pernah ketemu beberapa kali sewaktu kecil. Sewaktu dia meninggal, ramai yang menghadiri pemakamannya. Desa ini seolah berpesta atas kematiannya. Namun yang aneh, orang-orang desa gak kenal siapa yang datang," ujar Air pula.
"Jadi begitulah kisah Ustadz Zakariya. Yang tadi itu mungkin kamu bertemu dengan orang lain," ujar Tok Aba menutup cerita.
Blaze menunduk lesu.
"Tidak mungkin..."
.
.
.
.
"Jadi, bisa kita berangkat sekarang? Nanti kalau udah lewat malam kan sukar mau balik semula ke sini gelap-gelap.." tegur Air memecahkan kesunyian yang menegang di ruang itu. Sebenarnya dia tidak sabar untuk mengikut Tok Aba dan kakaknya berjumpa Pak Guru di kota sebelah.
Blaze menghela napas lalu mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.
Air tersenyum puas. Tok Aba pula hanya menurut langkah keduanya yang berjalan menuju pintu.
Kira-kira satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah kota berhampiran kawasan pelabuhan pada jam 9.30 malam. Setelah puas bertanya pada penduduk di sekitar kawasan itu, akhirnya mereka menemukan alamat yang dicari-cari.
"Apa hajat kalian malam-malam ke sini, datang jauh-jauh begini?" suara lantang pria itu bergema di hadapan rumahnya di waktu malam setelah mereka berbual-bual di luar.
Blaze memandang wajah pria itu dengan teliti. Pria berkaca mata, bekumis tebal serta rambut sedikit keriting yang disisir lurus ke dahi, badannya besar tegap. Kata Tok Aba, pria itu merupakan bekas guru silat yang pernah berkhidmat di desa mereka. Namun berpindah ke kota itu.
"Memang ada hal sedikit yang kami ingin bincangkan sama Pak Guru Papa," Balas Tok Aba.
Lalu, Tok Aba memerlahankan sedikit suaranya.
"Sudah tiba waktunya kita bertindak. Kita tidak boleh menunggu lebih lama.."
Wajah Pak Guru Papa bertukar muram.
"Sungguhpun aku bukan waris kalian tapi aku juga sama sekali tidak bersetuju dengan amalan khurafat itu. Menyekutukan Allah itu dosa besar yang tidak akan diampuni. Karena itu aku mendukung usaha kalian untuk menentang puaka itu. Sedaya upaya bisa kubantu, Tok Aba."
"Saya benar-benar paham atas niat murni anda, tetapi kini anak Pak Guru yang baru meninggal itu sudah kembali. Dialah yang bakal meyambung tugas-tugas yang tertinggal," balas Tok Aba penuh semangat.
"Oh jadi ini anak yang pernah disebut dahulu. Anak yang..."
Tok Aba cepat-cepat mengangguk. Blaze memanas muka, malu. Mahu atau tidak, dia terpaksa mengakui yang perbuatan melarikan diri itu telah memalukan nama baik keluarganya.
"Jadi kami ingin bertanya pada Pak Guru Papa tentang tombak bertiga itu. Kami tidak bisa berbuat silap. Kalau enggak, terlepas peluang itu lagi," ujar Tok Aba.
"Bagus...Bagus...Amat bagus jika kamu ingin meneruskan usaha ayahmu itu. Lagipula siapa lagi yang ingin diharapkan lagi kalau bukan anak muda seperti kalian," puji Pak Guru Papa sambil menepuk tangan untuk Blaze dan Air.
Blaze tidak punya pilihan lain selain tersenyum juga. Walhal, jantungnya berdetak laju bagaikan kuda dipacu. Bukan calang-calang tugas yang dipikul. Sepertinya hendak merampok bank juga tidak seberat itu.
Tok Aba turut tersenyum.
Kemudian mereka dipelawa duduk lalu Pak Guru Papa memulakan cerita.
"Tombak itu ada tiga batang. Disebabkan itu dipanggil tombak bertiga. Lembing itu dijaga oleh para penjaga adat keluarga yang menjadi kepala desa. Tugas mereka untuk mengawasi tombak itu dan memandikannya dengan darah anjing hitam kemudian dimanterai di bawah bulan mengambang. Tombak ini akan bertukar tangan dari penjaga yang lama kepada penjaga yang baru, hanya setelah itu barulah pelantikan kepala desa yang baru bisa dijalankan. Pada masa itulah peluang untuk kita merampas tombak bertiga itu. Karena itulah, tombak itu tidak disimpan di Batu Rintis dan mereka pula dibayar mahal atas tugas mereka. Sebab itu sesiapa pun berlomba-lomba untuk mendapatkan hak penjagaan tombak bertiga."
"Aku masih belum mengerti soal tombak itu. Kenapa ia begitu penting? Apa yang ingin mereka lakukan sama lembing-lembing itu?" sampuk Blaze.
Sudah beberapa kali dia mendengar soal tombak itu disebut-sebut. Kalau bisa, dia ingin melihatnya sendiri.
Pak Guru Papa memandang tepat ke arah Blaze.
"Lembing itu bukan sebarang lembing. Tombak bertiga itu sudah dipuja sejak desa ini dibuka. Bentara Tanah mengikat perjanjian dengan puaka itu, lalu.."
"Lalu?"
"Lalu setiap kali pertukaran kepala desa, tengkorak pada lembing itu akan ditukar baru."
"Tengkorak?" soal Blaze dengan dahi berkerut.
"Tengkorak korban nyawa terpilih yang ditusuk mencondong dari pangkal tengkuk hingga keluar ke lubang mata."
Entah bagaimana, membayangkannya membuat Blaze terasa perutnya membuak. Refleks dia berdiri lalu menuju ke tepi longkang di luar rumah. Air pula tersandar lesu di dinding dengan wajah pucat.
.
.
.
.
Pak Guru Papa menghulurkan segelas air bening pada Blaze yang baru kembali dengan tubuh yang lesu.
"Kenapa sampai bisa muntah-muntah tadi?" soal Pak Guru Papa, tersenyum.
Wajah Blaze memerah.
"Nggak tahu. Masuk angin?"
Tok Aba pula berwajah serius.
"Pak Guru, sebenarnya mereka telah memilih korban."
"Siapa? Ada yang kukenal?"
Mata Tok Aba melirik ke arah Blaze.
"APA?! ..KELUARGAMU?!" soal Pak Guru Papa kaget bukan kepalang. Dia menggeleng-geleng.
"Pantas saja kamu termuntah tadi.."
Air hanya menunduk lesu. Manakala Blaze terdiam. Walaupun dia biasa memukul dan membunuh lawan namun, kali ini akalnya tidak dapat menerima kekejaman yang melampaui batas. Semua itu membuat perasaannya tak terkendali. Rasa hendak dicari sahaja siapa yang merancang semua itu.
"Lalu apa yang kita lakukan sekarang? Makin lama, harinya sudah semakin dekat. Nyawa mereka juga dalam bahaya," ujar Tok Aba.
Pak Guru menatap Blaze.
"Mengikut keterangan ayahmu, tidak ada yang tahu di mana tombak bertiga itu disembunyikan hinggalah pada malam pelantikan itu nanti, sewaktu ia akan bertukar tangan."
"Maknanya lembing-lembing itu masih berada dalam tangan keluarga kepala desa yang lama," tokok Tok Aba.
"Benar...tapi aku sendiri tidak mengenal siapa mereka. Mungkin ada sesuatu yang diberitahu Pak Guru dalam buku itu. Entahlah, kalau memang beliau tahu sesuatu."
Pak Guru Papa dan Tok Aba serempak menoleh ke arah Air.
Air hanya menunduk. Dia diam sahaja.
"Kalau kita gak tahu siapa orangnya, satu-satunya peluang hanyalah sewaktu mereka membawanya ke Batu Rintis untuk acara pemujaan," ujar Blaze selepas berdiam diri.
Pak Guru Papa mengangguk.
"Itulah rancangan ayahmu. Tapi bukan mudah."
"Mungkin, tidaklah terlalu payah..." balas Blaze sambil berdiri.
Bukan dia tidak pernah memintas mobil orang sebelum ini. Merampok dan membunuh bukan pekerjaan asing baginya. Lagipula sekarang mereka-mereka itu adalah musuhnya. Dia sanggup mati demi ibu dan adiknya. Persetan dengan semua itu.
"Mungkin tidak susah seperti katamu, tetapi harus kamu ingat, jarak dari desa ke laut bukan dekat. Kalau naik mobil tanpa henti juga hampir dua jam bisa sampai," ujar Pak Guru Papa.
"Ada jalan lain?" soal Blaze pada Tok Aba.
"Melalui sungai," jawab Tok Aba.
Blaze terdiam. Nampaknya dia memerlukan rencana yang lebih besar dan tenaga yang lebih ramai.
"Lagi satu perkara, lembing itu tidak dicampak ke laut begitu aja. Ada caranya," Pak Guru Papa mengingatkan.
Blaze diam menanti kata-kata yang seterusnya.
"Ada bacaan pematah sihir. Semuanya sudah dipelajari ayahmu. Cari semula dalam buku itu di rumahmu. Baca caranya dan hafal. Jangan berbuat silap. Peluang menanti hanya sekali," ujar Tok Aba.
"Kalau gagal?" tanya Blaze perlahan.
"Kalau perjanjian itu tidak diputuskan, puaka itu masih berlindung. Pelantikan itu masih bisa dijalankan dengan syarat ada nyawa yang dikorbankan mengikut kemahuan puaka itu. Usahamu nanti sia-sia sahaja," terang Pak Guru Papa.
Blaze dan Air saling berpandangan.
"Bagaimana kalau...yah, katakan kami berjaya membuang lembing itu ke laut. Apa pula yang akan terjadi, kek?" celah Air pula.
"Pada zahirnya, terlepaslah kita semua dari perjanjian terkutuk itu. Puaka itu tidak akan berani menganggu kita lagi. Keluarga kita akan selamat dari amalan khurafat yang diwariskan. Dan yang paling penting, nyawa keluargamu selamat."
Air mendengar sambil termenung jauh.
"Sudah sampai waktunya kita melakukan apa yang benar dalam kehidupan kita. Aturan Allah itu tidak pernah salah. Ada sebab mengapa kamu itu terpilih. Lagipula, Tuhan tidak akan membebankan mana-mana hamba-Nya melebihi kemampuan. Kalau kamu diuji, bermakna kamu mampu asalkan kamu bersabar menghadapi setiap cobaan yang mendatang. Allah berfirman dalam surah Al-Ankabut:2 ;
"Apakah manusia mengira bahaa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan 'kami telah beriman' sedangkan mereka tidak diuji?"
Dan dalam setiap kesulitan itu pasti ada jalan keluar. Tidak hanya ada satu pintu yang bisa dibuka. Maka yakinlah, dengan ijin Allah, kamu pasti bisa," tokok Tok Aba merenung dalam ke mata Blaze.
Renungan itu hanya mampu membuat Blaze diam membisu. Segala pertanyaan yang berlegar di kepalanya kini telah terjawab.
Kalau Tuhan sudah memberikannya cobaan, sudah pasti dia mampu menanggungnya.
"Pandangan manusia sebenarnya tidak punya nilai. Semuanya terbatas melalui pengihatan dan pemikiran. Tapi pandangan Allah, tempat kita di sisi Allah itu yang paling penting. Niatkanlah karena-Nya. Betulkan apa yang sudah terpesong. Segala harta dan kesenangan di dunia ini tidak bisa dibawa mati. Dan kita juga yang menanggung dosa kalau melihat kemungkaran di hadapan mata, tetapi langsung tidak berbuat apa-apa. Sabda Rasulullah S.A.W;
"Barangsiapa di kalangan kamu melihat kemungkaran hendaklah mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lidahnya dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman"
Kata-kata Tok Aba membuatkan Blaze termenung jauh. Terasa setiap saraf di otaknya bekerja keras untuk memahami kehidupan dari sudut yang tidak pernah dipandangnya selama ini. Ataupun sudahkah hatinya dibutakan dengan maksiat dan dendam yang menggunung? Akhirnya dia langsung tidak terkata apa-apa.
Pak Guru Papa hanya tersenyum sambil menyentuh pundak Blaze.
"Aku hanya bisa membantumu dengan doa. Semoga Allah merestui usaha kalian. Tapi ingatlah satu perkara, tidak ada sesuatu pun yang melebihi kuasa Tuhan. Usahlah gentar," pesan Pak Guru Papa.
.
.
.
.
Setelah berpamitan untuk pulang, mereka kembali menaiki mobil. Di dalam mobil, mereka bertiga tidak banyak bercakap. Blaze hanya mahu cepat sampai ke rumah. Setelah perbincangan malam itu, dia semakin gerun. Memikirkannya sahaja sudah membuat bulu kuduknya menegak. Lawannya kini bukan manusia biasa tetapi manusia yang berhati iblis dan puaka yang disembah ratusan tahun.
"Aku gak nyangka ada orang yang seperti itu di dunia ini," ucap Blaze perlahan.
Dia teringat perbincangan mereka mengenai pewaris ilmu puja keluarga Bentara Tanah. Walaupun dia tidak pasti siapa, tetapi dia yakin orang itu ada. Benar-benar tidak masuk akal bagaimana pewarisnya harus berendam dalam najis kelwar selama tujuh malam, makan hanya tujuh butir beras, minum hanya air Sungai Rintis dan menghabiskan semangkuk darah setiap korban yang dipinta. Di dunia yang modern ini, masih ada yang sanggup berbuat sekejam itu demi kesenangan yang fana.
"Demi mengejar dan menikmati kesenangan dunia, apa aja mereka sanggup lakukan. Lihat sahaja di jaman sekarang, di mana-mana ada kasus tembakan. Semua itu pasti ada orang yang mengupah mereka. Ada ganjaran, maka ada yang sanggup walaupun nyawa orang harus diambil," komentar Tok Aba.
Dada Blaze terasa sesak. Napasnya memanas. Dia sendiri sudah lupa berapa banyak nyawa yang diambil demi habuan yang besar.
"Kakek pernah didatangi Pak Adu Du. Dia menawarkan kakek uwang kalau kakek gak masuk campur hal adat mereka. Dia juga mahu kakek pastikan tiada siapa yang mengganggu atau membatalkan upacara pelantikan itu."
"Pak Adu Du?"
Lamunan Blaze terus terhenti.
"Salah seorang penjaga adat keluarga bakal kepala desa yang baru. Seorang lagi adalah Pak Probe."
"Maksud kakek, mereka tahu kita sedang merencanakan sesuatu?" tanya Blaze.
"Kalau kita tahu rahasia mereka, tidak mustahil mereka juga tahu rahasia kita. Sudah lama keluarga Bentara Angin cuba merampas semula tombak itu, karena itu tombak bertiga itu disembunyikan dengan rapi," balas Tok Aba.
"Mungkin berada di negeri lain?"
"Tidak mustahil. Jadi sekarang apa rencanamu? Kakek dan yang lain ikut aja nanti," ujar Tok Aba.
"Biar aku pikirkan dahulu. Bukan mudah, kek. Banyak perkara yang harus diambil kira," balas Blaze jujur.
"Tetapi jangan terlalu lama, masa sudah suntuk."
Blaze tidak membalas lagi. Selain merampas tombak bertiga, dia juga punya rencana lain. Kalau bisa, ingin dijejak lelaki yang melakukan ilmu puja itu. Mahu dihajar habis-habisan.
"Siapa dia, kek? Di mana dia tinggal?" soal Blaze langsung.
Akhirnya dia tidak dapat menahan diri lagi. Dia bukan penakut, juga bukan lembab. Kalau di kota, siapa yang berani berbuat macam-macam, akan dikerjakan hingga senyap. Mungkin bagus juga kalau undang-undang kota itu dilancar ke situ. Biar buku bertemu ruas.
"Maksud Api?"
Tok Aba memandang lama wajah Blaze yang begitu muram. Dia juga teringat maklumat yang disampaikan Halilintar siang tadi.
"Siapa pewaris ilmu puja itu sekarang? Siapa yang akan melakukan upacara korban itu?"
Tok Aba tidak terus menjawab. Dia termenung sejenak.
"Kamu mahu mencari dia?"
"Kalau dia bisa mencari keluargaku, kenapa aku nggak? Bukan cuma dia yang punya kaki dan tangan."
Hati Blaze mula panas. Kini dia sadar hal itu bukan main-main. Dia tidak mungkin berdiam diri sahaja apabila menyentuh soal nyawa keluarganya.
"Sebelum itu, bawa keluargamu jauh-jauh dahulu. Masalah ini tidak bisa dieselesaikan begitu aja. Dia bukan manusia yang bisa diselesaikan dengan cara kemanusiaan. Dia banyak permainannya," nasehat Tok Aba.
"Aku gak takut," tegas Blaze.
Pengalamannya selama ini mungkin lebih sadis daripada apa yang Tok Aba bisa bayangkan.
"Kalau begitu, selepas kamu menghantar ibu dan adikmu ke tempat lain, kita bertemu terus sama dia," putus Tok Aba.
Blaze mengalah. Mungkin nasehat Tok Aba ada benarnya. Kalau mahu diamuk juga lelaki itu, biarlah bukan di hadapan ibunya. Dia masih belum bersedia untuk menunjukkan dirinya yang sebenar.
.
.
.
.
Sebuah mobil berhenti tepat di hadapan pagar rumah.
"Kalian masuk ikut pintu dapur, aku ikut pintu hadapan."
Kehadiran mereka disambut keheningan malam. Tanpa berlengah, dia dan tiga orang anggota kumpulannya berjalan masuk ke halaman rumah. Dia melirik jam di tangan, jam 12 tengah malam.
Mungkin sahaja kesemua penghuni di rumah itu sedang tidur, pikirnya. Dengan isyarat tangan, dia memerintahkan semuanya berpencar. Dia pula naik ke pelantar.
Pintu coba dibuka, namun dikunci. Lantas dia mengetuk dengan tenang dan memberi salam. Dia berharap penghuni rumah itu terjaga dan membuka pintu. Namun, setelah menunggu beberapa detik, keadaan tetap sama.
Dia turun semula ke tanah lalu menuju ke pintu belakang.
Setelah mencari-cari jalan masuk, dua orang anggotanya memecah masuk dari arah kamar mandi yang papannya sudah reput. Dia menunggu di luar dengan sabar.
"Gak ada, bos. Rumahnya kosong," ujar salah seorang anggotanya setelah keluar semula dari rumah itu.
"Cis!"
Wajah Gempa terbayang di matanya.
TBC
Yuhuu~ Yay akhirnya ujiannya selesai! Asiiikkk..Lusa hari wisuda SMA-ku dan ini sempat kuhadiahkan buat kalian! Thanks alot! ^^
