"Kita berhenti minum dahulu," cadang Blaze sambil mengemudi mobil. Matanya melilau mencari sebuah restoran diantara deretan toko di kota, namun agak sukar karena hari sudah larut malam. Hasilnya nihil karena kebanyakan toko sudah ditutup. Akhirnya dia menemukan sebuah restoran burger di seberang jalan lalu mobil diparkir di hadapan restoran itu.
Tok Aba dan Air tidak membantah. Setelah berhenti, mereka terus membuka pintu.
"Pesanlah apa-apa," ujar Blaze sambil mengeluarkan not RM100 kepada Air.
"Kak Api gak mahu turun?" tanya Air apabila Blaze tidak berganjak dari tempat duduk.
"Sebentar nanti kakak ikut. Aku mahu menelepon teman," balas Blaze.
Air mengangguk lalu keluar menyusuli Tok Aba. Blaze hanya mengantar mereka dengan pandangan sehingga punggung keduanya hilang di dalam bangunan.
Blaze mendail nombor seseorang dalam daftar panggilan. Tidak lama kemudian, taliannya berjawab.
"TAUFAN!" sapa Blaze di talian.
Lantang suaranya menerjah seolah-olah melepaskan geram. Dapat berbicara semula sama Taufan terasa seperti memasuki dunia yang berbeza. Dunia yang melegakan perasaannya untuk seketika.
"BLAZE!" teriak Taufan juga.
"Blaze segera menjauhkan ponsel jauh sedikit dari kupingnya. Dia tidak menyangka Taufan begitu entusias mendengar suaranya. Mungkin terlalu banyak perkara yang sudah berlaku sepeninggalannya.
"Blaze! Blaze!" panggil Taufan apabila Blaze tidak menyahut.
"Iya, ini aku!" balas Blaze.
"Kamu di mana?"
"Di kampungkulah, mahu di mana lagi?"
"Kapan mahu pulang?"
"Fang mengincarku?" soal Blaze heran.
"Dia mahu ketemu lu secepat mungkin," jawab Taufan.
Blaze terdiam sesaat.
"Hal Gopal itu sudah selesai?"
"Setahuku, belum. Mungkin besok, atau lusa."
"Jadi mengapa dia mahu ketemuku?"
"Kangen," balas Taufan.
Blaze mencebik.
"Gak bisa. Aku punya urusan di sini yang harus kuselesaikan duluan," balas Blaze.
"He? Kamu mau menikah? Jangan buatku ketawa, hahahahh-ops maaf."
Blaze turut tertawa pendek. Kalau Taufan berada di situ, sudah ditunjal kepalanya. Menikah?
"Hey, bisa kau ke sini sebentar?" Blaze tidak menggubris candaan Taufan. Lebih baik dia langsung kepada hal yang pokok.
"Datang ke desa? Untuk apa?"
"Aku perlukan pertolonganmu."
Blaze tidak mahu berbicara panjang melalui telepon. Hal yang dianggapnya begitu berat, lebih elok dibicarakan secara bersemuka.
"Kamu mau menyuruhku menjadi pengapitmu? Aku gak punya baju Melayu."
"Taufan!" teriak Blaze. Kesal juga Taufan bercanda di salah waktu.
"Oke, oke. Beritahuku, di mana kampungmu?"
"Datangi aja Pulau Rintis. Kalau sudah sampai, hubungiku."
"Pulau Rintis? Okey aku tiba besok pagi."
"Aku tunggu," ujar Blaze sebelum memutuskan talian.
Setelahnya dia duduk menyandar seketika, menenangkan pikiran.
Taufan pasti kaget kalau diberitahu bahawa yang ditembak Ejo Jo dua minggu lalu itu ayahnya.
Mahu atau tidak, dia tidak punya pilihan selain harus melibatkan Taufan. Hal itu harus diselesaikan cepat sebelum dia menjejak Ejo Jo pula.
.
.
.
.
Di gelanggang latihan silat di ujung desa, empat anak muda lagi giat berlatih. Dalam kesungguhan dan ketekunan itu, terdetik rasa heran di hati mereka apabila Tok Aba tidak berkunjung ke situ.
"Kenapa kakek belum sampai lagi?" soal Iwan menggaruk-garuk kepala.
"Tadi sore aku ke rumahnya. Kakek tampak kurang sihat," balas Halilintar.
Keringat yang membasahi kullit muka disapu dengan ujung kaos yang dipakainya. Baginya, kalau Tok Aba tidak datang malam ini juga tidak mengapa. Mereka masih bisa berlatih sendiri lantaran masing-masing sudah tamat belajar setiap jurus dan langkah. Hanya tinggal untuk memantapkannya lagi, kalau-kalau terlupa.
"Kalian gak tahu?" celah Yaya.
Ying turut mendengar sahaja setelah keempatnya berhenti latihan. Sambil duduk melepaskan lelah dan meneguk air, mereka mulai rancak mengobrol.
"Tahu apa?" soal Halilintar.
"Kakek gak ada. Dia ke kota ketemu Pak Guru Papa," jawab Ying.
"Ke kota? Sama siapa?" soal Halilintar lagi dengan dahi berkerut.
Dia tidak tahu pula hal itu. Seingatnya tadi, Tok Aba tidak menyebut apa-apa. Kalau tahu, dia juga ingin ikut.
"Sama Api dan Air, selepas Maghrib," balas Yaya.
"Dari mana kalian tahu?" tanya Halilintar tidak puas hati.
Ngapain pula Blaze dan Air ikut Tok Aba? Tadi Tok Aba juga yang bilang Blaze mahu tinggalkan desa. Dia mula curiga ada perkara yang disembunyikan dari mereka.
"Sebelum aku ke sini, aku menghantar masakan ibuku ke Tok Aba," balas Yaya tersenyum.
Halilintar terdiam. Rasa iri hatinya makin menebal.
.
.
.
.
Setelah selesai minum dan makan, Blaze, Air dan Tok Aba kembali meneruskan perjalanan ke Desa Rintis. Jalan yang dilalui amat gelap lantaran lampu jalanan yang tidak lagi menyala. Walaupun Blaze mengandarai mobilnya penuh hati-hati, namun dia terlengah juga.
Pandangan matanya tiba-tiba menggelap, seperti tertutup sesuatu. Blaze tidak dapat melihat apa-apa. Semuanya hitam.
"Allahuakbar!" teriak Tok Aba kencang di sebelah tempat duduk Blaze. Stir diputar lalu yang seterusnya mobil mereka terhuyung-hayang di atas jalan. Akhirnya mobil itu tersadai setelah melanggar sebuah halte bas yang sememangnya hampir roboh.
Ketiganya tercungap-cungap. Syok dan takut. Tubuh mereka menggigil. Manakala Tok Aba pula puas mengurut dada yang hampir luruh.
"Kenapa, kak?" Air memberanikan diri bertanya.
"Tiba-tiba kakak gak bisa melihat apa-apa. Seperti ada kain hitam yang menutupi cermin hadapan," balas Blaze.
Dia merenung jauh ke hadapan mobilnya. Kini pandangan matanya baik-baik saja.
"Kita hampir terjerumus ke dalam sungai," ujar Tok Aba.
Blaze menghela napas panjang. Untung mereka tidak kecelakaan yang parah. Mungkin karena kelelahan memandu.
Kemudian Blaze membuka pintu mobil untuk meregangkan badan. Namun sebaik dia ingin keluar, bau bangkai menyeruak. Dia teringatkan sesuatu lalu menutup semula pintu, tidak jadi untuk keluar.
"Kenapa pula, kak?" tanya Air.
Blaze menggeleng, "Tiada apa-apa."
"Jangan ceritakan kejadian ini sama ibu kalian. Seperti biasa, ini hanya permainan setan," pesan Tok Aba sebelum Blaze mengangguk meneruskan perjalanan.
.
.
.
.
"Astagfirullah! Apa-apaan ini?" teriak Ibu apabila menyadari dinding kamar mandi mereka terlopong seperti dikopak orang.
Blaze, Air dan Tok Aba yang baru tiba segera berlari ke pintu belakang.
"Ada orang pecah masuk?" tebak Air.
Mereka berempat tercegat memandang kamar mandi yang sudah terdedah hingga tembus pandang ke hutan di belakang. Hendak mandi juga terasa seram. Ada pula yang memandang termasuklah segala hewan liar.
Ibu menggeleng lemas.
"Ibu tidak tahu," balas Ibu berusaha menyembunyikan kerisauan di wajahnya. Siapalah yang ingin memecah masuk rumah mereka yang daif sedemikian? Hidup mereka serba kekurangan, tidak punya apa-apa yang berharga.
Blaze memandang Air. Air turut membalas pandangan tersebut. Tok Aba terdiam. Masing-masing sibuk memikirkan sebarang kemungkinan yang telah berlaku.
"Biar kuambilkan kain," cadang Air. Lalu dia masuk ke kamar mencari sehelai kain langsir yang lama untuk menutup lubang yang ternganga.
"Esok akan kuuruskan lubang itu sama Tok Aba. Untuk malam ini, kita kunci dahulu pintu kamar mandi ini dari luar," ujar Blaze.
Ibunya membiarkan sahaja. Blaze pula tidak mahu ibunya khawwatir lebih lama. Mereka membiarkan sahaja persoalan itu tinggal persoalan.
.
.
.
.
Sudah setengah jam Joko kembali ke tempat persembunyiannya. Hatinya panas karena rencananya malam itu gagal. Malah, bertambah panas apabila dicoba menghubungi Gempa yang entah di mana. Setelah kira-kira jam 1 pagi, baru lelaki itu menghubunginya.
"Mana barang itu?" sergah Gempa.
"Aku tidak dapat menghantarnya malam ini," jawab Joko.
Dia tahu Gempa pasti akan marah tapi dia tidak punya pilihan.
"Tidak dapat? Orang tua sama budak seperti itu juga tidak bisa kalian tangkap?!" bentak Gempa.
"Mereka gak ada di rumah malam ini."
"Mereka sudah lari?"
"Mereka ke rumah lain. Setelah tengah malam baru mereka pulang," jawab Joko.
Itu yang mereka bilang. Seharusnya mudah sahaja. Tetapi sejak lelaki itu kembali ke situ, rumah itu seperti meriah sahaja sepanjang masa. Ada sahaja yang datang dan pergi sehingga menyukarkan kerja mereka.
"Aku tidak mahu mendengar apa-apa alasan. Aku mahukan mereka malam besok!"
Joko meneguk ludah. Dia tahu percaturannya silap.
"Tidak dapat ditangkap malam-malam, tangkap di waktu siang. Aku tidak mahu tahu sehingga aku mendapatkan mereka secepat mungkin. Aku sudah gak punya waktu. Kalau nggak, kusuruh orang lain menangkapmu!" ugut Gempa.
Tanpa berjanji apa-apa, Joko memutuskan talian.
Masa yang tinggal membuatkannya tiada pilihan lain selain terus bersembunyi di situ walaupun sudah memasuki dua minggu. Di tempat yang sangat merepotkan, lolongan anjing yang semakin dekat membuatkan dia terus memasuki rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.
.
.
.
.
Gempa mendengus kesal. Kegagalan Joko dan orang-orangnya bertindak benar-benar mengikis kesabarannya. Dia menyesal karena mengupah lelaki itu tetapi masa sudah kelewatan. Dia tidak punya waktu untuk mencari orang lain yang lebih bisa dipercayai.
"Apa maumu?!" bentak Gempa.
Rimas hatinya melihat orang tua itu selalu mengikutinya ke mana-mana sahaja dia melangkah. Kalau dia melangkah, orang tua itu juga melangkah. Kalau dia diam, baru orang tua itu diam. Akhirnya dia menarik handuk lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya selepas pulang bertapa di Batu Rintis. Orang tua itu masih ada di sebelahnya juga. Mahu tidak mahu Gempa berbuat tidak tahu sahaja.
Kemudian dia perasan sesuatu. Orang tua itu semakin dekat dengannya.
"Mahu apa?!" bentak Gempa sekali lagi.
Meloya perutnya melihat orang tua yang berbau anyir dan mulut yang sentiasa mengeluarkan nanah pekat berulat sehingga membasahi bau. Namun orang tua itu tetap datang semakin dekat padanya. Dia cuba menepis dan menolak tetapi sosok itu langsung tidak bergerak.
"Pergi kau!" teriak Gempa.
Orang tua itu diam sahaja. Apabila sosok itu membuka mulut dan menampakkan taringnya yang panjang di celah-celah ulat yang mengurung, Gempa sudah sadar apa yang dimahukan.
Gempa menggigil kuat. Dia teringat cerita ayahnya dulu. Menjadi penjaga puaka Batu Rintis itu juga ada keburukannya. Kalau mereka gagal memberikan sebanyak mana nyawa yang dipinta, nyawa mereka dan ahli keluarga mereka yang akan menjadi ganti. Walaupun perkara itu belum pernah lagi berlaku dalam keturunan mereka namun kemungkinan itu tetap ada. Karena itu juga ibunya menjauhkan diri lebih awal.
Namun Gempa tidak gentar. Dia yakin, dia akan berjaya meyerahkan dua nyawa yang dipinta kepada puaka itu. Sedang leka berpikir, orang tua itu mendekatinya lagi.
Gempa mengeluh. Ketakutannya menipis. Dia paham. Puaka itu kehausan darah. Gempa terpikir sesuatu lalu menghulurkan kakinya. Orang tua itu tunduk menyembah dan menusukkan rahangnya ke dalam kulit kaki Gempa hingga menetesnya titisan darah segar. Lalu darah itu dihirup dengan rakus.
"Argh!"
Gempa menggigit bibir. Dia seperti berhalusinasi. Sakitnya tidak ubah seperti diterkam harimau tetapi dia tetap tersenyum bangga. Dia membuktikan bahawa dia lebih hebat dari ayahnya mahupun kakek moyangnya. Dia mahu membuktikan pada semua orang, tanpa mereka juga dia bisa hidup gembira. Tunggu sahaja nanti, dia akan membuat semua ahli keluarganya berlutut di hadapannya meminta maaf.
.
.
.
.
Sudah hari kelima Blaze berada di kampungnya. Dia sendiri tidak menyangka dia akan berada di desa selama itu. Kalau diikutkan, sudah lama dia kabur pulang ke kota. Hanya saja, beberapa hal yang menimpanya dalam beberapa hari ke belakang menyebabkan dia terpaksa menangguh hasratnya itu demi keselamatan ibu dan adiknya. Dia mengelamun mengingati semula semua cerita yang pernah didengarnya selama kepulangannya di desa itu.
Ponsel Blaze berdering menandakan satu panggilan masuk. Blaze mengangkat ponselnya.
"Tunggu aku di waterfront," ujar Blaze.
Nampaknya Taufan sudah sampai lebih awal dari yang dijangkakan.
"Waterfront?"
"Jalan ke arah masjid, dari situ kamu dapat lihat waterfront yang paling hampir dengan stasiun bas," Blaze mengemukakan direksi sambil memandu dengan tenang. Dia yakin Taufan bisa sampai ke tempat yang dimaksudkan karena jalan di Kota Rintis itu sehala. Jikalau sudah memasuki kota, semestinya akan melalui tepian Sungai Rintis. Setengah jam kemudian, dia tiba juga di situ.
Setelah mencari kotak parkir, Blaze berjalan kaki meyusuri laluan pejalan kaki yang dibina dengan batu bata yang disusun menyilang. Setelah beberapa menit berjalan, dia terlihat Taufan sedang duduk termenung di atas sebuah bangku besi berhampiran tiang lampu bermotif ukiran bunga raya.
"Lagi berkhayal apa itu?" tegur Blaze lalu duduk di sebelah Taufan.
"Ini kali pertamaku berkunjung ke tempat seindah ini. Pemandangannya kayak di filem-filem barat," puji Taufan.
Selepas itu Taufan menoleh dua kali ke arah Blaze dan merenung tajam.
"Ngapain pandang-memandangku seperti itu?" soal Blaze risih dengan tatapan Taufan.
"Wow! Mukamu cerah bangat sekarang! Rambutmu lebih pendek. Ibumu yang nyisir untukmu ya?" goda Taufan dengan cengiran khasnya.
Blaze merasa tersinggung namun tidak marah. Kalau sahaja Taufan tahu apa yang telah berlaku, dia yakin Taufan tidak akan bilang begitu.
"Bawa bajumu nggak?" tanya Blaze tanpa melayan candaan lelaki itu.
"Kamu mau mengajakku tidur di rumah mu? Aku-"
"Bukan di rumahku. Tapi di hotel," pintas Blaze lalu menunduk memandang tanah.
"Tapi aku tidak membawa apa-apa baju untuk tidur di sini," balas Taufan.
"Pakai uwangmulah! Apa gunanya sih uwangmu yang banyak tapi gak pernah tau diguna?"
Taufan tertawa.
"Jadi, ada apa menyuruhku datang ke sini?" soal Taufan kembali serius tentang tujuan mereka berbincang di situ.
"Kita cakap di kamar hotel."
Blaze bangkit berdiri. Sambil menyeluk tangan ke dalam jaket yang dipakai, dia terus meninggalkan Taufan lalu mengarah ke stasiun bas.
Taufan kekalutan mencampak puntung rokok ke tanah lalu mengejar Blaze.
Dengan tenang, Blaze terus melangkah melepasi stasiun bas yang sedang dipenuhi bas-bas yang keluar masuk di sekitar kawasan itu. Deruman enjin, asap hitam dan suara penumpang yang hingar bingar tidak dihiraukan. Dia langsung melangkah ke sebuah bangunan yang berhadapan dengan tempat itu. Taufan mengikutnya masuk masuk ke lobi hotel. Blaze menghampiri kaunter resepsionis lalu menyewa sebuah bilik.
.
.
.
.
"Kamu lihat gimana si cewek itu memandangku?" soal Taufan tertawa hingga mukanya merah. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur dibaluti sprei putih polos yang kelihatan baru dikemas.
Pertanyaan Taufan membuatkan Blaze ikut tertawa. Dia mengerti akan tatapan tajam yang dilemparkan gadis resepsionis itu apabila mereka mendaftar. Mungkin mereka disangka pasangan gay yang datang ke situ untuk melepaskan hawa nafsu. Tetapi itu bukan soalnya sekarang dan Blaze terlalu malas untuk memikirkan apa-apa. Sekarang ini fokusnya hanyalah satu dan ketika ini otaknya sudah tepu dengan bermacam perkara.
Blaze tahu di hati Taufan merasa tersinggung.
"Biarin. Toh mereka gak berminat menggodamu," balas Blaze dambil duduk di tepi kasur.
"Masalahnya kupikir aku yang akan menggoda mereka dahulu," ujar Taufan tersenyum narsis.
Blaze tidak dapat menahan diri daripada terus tertawa. Untuk hal itu, dia tidak dapat membantu temannya yang memang kaki perempuan.
"Okay, back to business! Kenapa aku harus datang ke sini?"
Taufan bangkit dari posisi menelentang. Kini mereka duduk berhadapan sambil merenung wajah-masing.
"Aku perlu bantuanmu."
"Anything. We're bros, man!" balas Taufan tenang.
"Tapi lawan kita bukan mudah."
"Sejak kapan kau mengenal arti takut? Lagipula kita bisa panggil Fang menolong kita. Bukan susah," balas Taufan cepat.
Blaze mengangkat tangan.
"Kita tidak bisa melibatkan Fang kali ini."
"Tapi kita brothers, Blaze. Kalau kamu susah, orang kita datang tolong. Kau juga sudah banyak menolong mereka."
"Kamu gak akan ngerti. Hal ini tidak bisa melibatkan Fang. Aku meminta pertolonganmu bukan karena kita brothers tapi karena kau teman yang paling aku percaya," jawab Blaze.
Dia tidak akan melibatkan anggota Kumpulan Wun Tai yang lain. Itu bukan hal mereka.
Taufan terdiam lama.
"Apa ini hal personal?" tanya Taufan menginginkan kepastian.
Dengan berat hati Blaze mengangguk.
Taufan menggaruk-garuk kepala, kemudian bangkit meninggalkan kasur menuju ke tepi jendela. Dia termenung jauh sambil memandang ke arah Sungai Rintis yang berarus deras.
Tingkah Taufan diperhatikan Blaze dengan teliti. Entah bagaimana dia bisa merasakan yang Taufan tidak seceria selalu. Taufan seperti mempunyai masalah besar.
"Kau mahu kutolong apa? Kepala siapa yang hendakku potong?" soal Taufan setelah menoleh semula ke arah temannya.
Blaze tersenyum pahit.
"Tapi sebelum itu aku mahu memberitahumu sesuatu," ujar Taufan.
Blaze tidak mengelipkan matanya menanti kata-kata Taufan.
"..Fang mencarimu," sambung Taufan setelah menjeda membalas renungan temannya.
"Ada apa yang aku tertinggal?"
Detak jantung Blaze makin melaju. Kalau melibatkan soal Fang, dia tahu ia melibatkan soal nyawa. Pikirannya sekarang bertambah serabut.
Taufan menundukkan pandangan, serba salah.
"Kenapa diam?"
"Barang kita hilang, Blaze."
Blaze ternganga sebelum telapak tangannya melekap di wajahnya.
"Hilang? Barang mana?"
"Barang apa lagi?" jawab Taufan dengan suara tertahan.
Wajah Blaze langsung berubah. Dia teringatkan bungkusan yang disembunyikan dalam kamar mandi di apartment. Kemudian di matanya terbayang wajah Fang yang sedang mengamuk. Kini dia sadar yang dia sedang berhadapan dengan masalah besar.
Beberapa saat telah berlalu. Dia tidak menyangka, satu lagi masalah timbul. Bagaimana bisa hilang? Dia menggerutu dalam hati. Semasa pulang dia begitu yakin barang itu ada di situ. Karena itu jugalah dia berani pulang. Kalau dia tahu barang itu hilang, tentu sudah habis diamuknhya semua orang.
"Kenapa kau langsung tidak memberitahuku saja?" soal Blaze.
"Kau tidak bisa dihubungi. Lupa?"
Sekali lagi Blaze terdiam. Memang salahnya yang memblock semua nomor anggotanya.
"Fang bilang apa?"
"Dia menyuruhku mencarimu dalam masa satu minggu."
"Mereka tahu kedatanganmu ke sini?"
Blaze merenung tajam ke wajah Taufan. Perkara itu sangat penting.
Taufan menggeleng.
"Tapi kita juga tahu mereka kerjanya gimana," balas Taufan.
Ya, Blaze tahu. Blaze cukup tahu hal yang itu. Blaze termenung lagi. Pastinya Fang tidak akan mempercayai Taufan begitu aja.
"Aku yakin, keluargamu tidak tahu apa-apa bukan tentangmu?" soal Taufan apabila Blaze terus membisu.
"Mereka tidak tahu. Jadi kuharap kamu berhati-hati ketika berbicara."
Kerisauan hati Blaze bertambah. Dia benar-benar berharap Fang dan orang-orangnya tidak akan muncul tiba-tiba sehingga menimbulkan kegawatan atau mengapa-apakan keluarganya.
"Apa kamu menyimpannya di tempat lain?" tanya Taufan lagi.
Blaze menggeleng.
"Kali terakhir kulihat barang itu ialah semasa aku menyimpannya. Kau juga melihatnya sekali bukan?"
Taufan mengeluh berat.
"Siapa pula yang ambil kalau bukan kamu sih?"
"Aku benar-benar gak tahu!" balas Blaze keras. Dia juga bingung.
"Sekarang kita mau apa? Kalau gak ketemu memang hilang kepala kita," ujar Taufan.
Blaze mengeluh. Makin pusing kepalanya.
"Kita selesaikan hal itu kemudian. Sekarang fokus kita pada hal aku dahulu."
"Hal apa yang begitu penting sekali bagimu?" soal Taufan lalu kembali duduk di kasur.
Lantas Blaze turut duduk sambil memulakan cerita.
.
.
.
.
Kira-kira satu jam kemudian, mereka berdua meninggalkan kamar hotel itu. Blaze mengajak Taufan makan tengah hari di sebuah restoran ikan air tawar. Mengingatkan ibu dan adiknya di rumah, Blaze membungkus beberapa jenis lauk yang dipesan untuk dibawa pulang.
"Kita mau ke rumahmu?" Taufan terus mengejar Blaze ke mana sahaja.
Blaze hanya membalas dengan tatapan tajam.
"Anting-antingmu itu, buka. Pakai bajunya biar kemas dong, kayak apa aja? Kalau ibuku melihatmu, pasti dia pingsan."
"Kayak gangster dong, mau bagaimana lagi?" balas Taufan tertawa lucu sambil membenarkan letak topinya miring.
Blaze tersenyum tipis. Kalau dahulu dia bisa menerima lelucon Taufan dan caranya, namun hari ini tidak. Dia berasa lain, seperti ada yang tidak kena. Malah sewaktu Taufan ingin memesan minuman keras di dalam kamar hotel, dia sempat menegah. Hatinya menolak.
"Sejak kamu pulang ke kampung, aku lihat dirimu seperti sudah lain benar. Apa otakmu sudah dibasuh?" tanya Taufan.
"Aku mau tanya soal Ejo Jo," ucap Blaze tanpa mempedulikan pertanyaan Taufan barusan.
"Ejo Jo? Kangen ya?"
"Kamu tahu siapa yang mengupah Ejo Jo 'potong kepala' orang di sini dua minggu yang lalu?"
Blaze terus kepada persoalan pokok. Siapa tahu Taufan tahu sesuatu tentang hal itu.
"Hal itu cuma Fang yang tahu. Aku hanya tahu hasil upahnya lumayan banyak. Mereka berdua membahagikan pulangannya masing-masing separuh."
Taufan merasa kesal mengingatkan hal itu.
Blaze hampir tertekan brek.
"Kenapa kamu tanya? Orang kampungmu?" tanya Taufan merenung wajah temannya.
Mobil makin laju bergerak ke hadapan.
"Ayahku," balas Blaze.
Taufan terus diam tidak berkutik.
.
.
.
.
Satu jam kemudian, Blaze sudah tiba di kebun karet yang pernah ditunjuk Tok Aba. Kawasan itu lebih gelap dari selalunya karena matahari pagi sudah berlindung di balik awanan kelabu. Udara pagi masih terperangkap dan hawa dingin masih terasa. Bau tanah merah yang becak masih segar. Setibanya di suatu tempat, Blaze menghentikan mobil.
Tanpa memberi aba-aba, Blaze membuka pintu lalu keluar dari mobil. Dia menoleh ke sekeliling untuk memastikan sekiranya ada sesiapa di sekitar kawasan itu. Setelah memastikan keadaannya benar-benar selamat, dia menyeberang jalan merah itu menuju ke arah rimbunan semak.
Melihatkan Blaze begitu laju melangkah, Taufan buru-buru membuka pintu mobil pantas mengejar.
"Kita mau ke mana?"
Taufan gelisah. Bukan dia tidak biasa dengan tempat yang kotor tetapi harus meredah semak samun membuatnya kurang selesa karena dia memang alah pada daun pohon.
"Ikut aja," balas Blaze dingin.
Dia terus melangkah dengan laju. Sejujurnya dia berharap akan melihat sesuatu walaupun dia sendiri tidak pasti apa selain mahu membuktikan kepada Taufan bahawa ceritanya tadi bukan dongengan.
"Ada apa dalam semak ini?"
"Sssttt.." balas Blaze sambil mengisyaratkan supaya Taufan menghentikan langkah.
Kini Blaze duduk bertinggung di atas tanah dan menarik lengan Taufan supaya berbuat demikian.
Taufan semakin berkerut dahi. Namun matanya terpaku ke arah sebuah rumah yang ditunjukkan Blaze.
"Rumah siapa? Kok dua lapis pagar?"
"Pagar berlistrik. Ada satpam. Anjing rottweiler di mana-mana."
"Punya siapa?"
"Itulah Batu Rintis."
Mata Blaze memandang lurus ke arah bangunan yang tidak jauh darinya. Kalau bisa ingin dirobohkan bangunan yang menyembunyikan batu itu sekarang agar bisa dilihat batu puaka itu lebih jelas.
"Batu Rintis? Di dalamnya?"
Blaze mengangguk.
"Wow! Ada emas benaran di dalam batu itu?"
Blaze sekadar menggeleng sebagai jawapan pasti ataupun tidak.
"Sekarang kau sudah percaya samaku?" soal Blaze separuh berbisik.
"Aku gak percaya sama hantu. Tapi kalau dia manusia dan dia berbuat kacau samamu, bila-bila masa aku percaya," balas Taufan.
Blaze menghela napas. Dia tidak marah. Kalau itu pendirian Taufan, dia menghormatinya. Apa yang penting, Taufan ikutan membantu.
"Jadi aku bisa mengharapkanmu menguruskan tempat ini nanti?" soal Blaze sambil memegang bahu temannya itu.
"Beres.
Dengan persetujuan itu, mereka ingin langsung keluar dari situ. Baru sahaja Blaze mengatur langkahnya keluar, dua pucuk pistol sudah dihalakan tepat di kepalanya dan Taufan.
Langkah Blaze terus mati.
Namun, Taufan sedikit tersentak dan hanya mengacuhkan.
"Kenapa berhenti? Jalan aja," rungut Taufan yang tidak tahan berada dalam semak terlalu lama.
Tubuh Blaze terdorong ke hadapan akibat ditolak tetapi dia tetap tidak bersuara.
"Wooo..." Taufan bersuara apabila menoleh ke belakang, matanya membuntang melihat siapa yang mendatangi mereka.
TBC
Halo~
Fic ini akan coba kuhabiskan secepat mungkin dalam masa kurang dari sebulan. Tapi gak tahu sampai berapa chapter._. Soalnya nyambung pengajian nanti diawalkan bermula pada ujung Mei dan untuk tempoh itu aku langsung sibuk dengan pelbagai urusan T^T Doakan aku dapat ya! :D :D
