Taufan mengangkat kedua belah tangannya separas dada. Kemudian dia tersenyum pahit.

"Apa hal sih 'Jo, 'Hap? Datang ke kampung orang bawa buah bukan bawa pistol," tegur Taufan.

Dia memandang Kaizo dan Lahap. Dua orang lelaki itu merupakan orang kuat kumpulan Wun Tai, orang Fang. Blaze mengenali keduanya pertama kali sejak mereka bertembung di lorong sepuluh tahun yang lalu.

"Mau kabur ke mana kau, hah?!" balas Lahap sambil mengunyah pencungkil gigi yang sudah tinggal separuh.

Muncung pistolnya masih dihalakan tepat ke kepala Taufan. Manakala muncung pistol Kaizo hanya dua inci dari muka Blaze.

"Kabur? Siapa mahu kabur? Gak lihat apa kami lagi menghitung pohon karet? Satu..Dua..Tiga," balas Taufan semberono sambil memaparkan cengiran.

Namun lelucon Taufan hanya dibalas Lahap dengan pandangan masam. Sementara itu, Kaizo menolak muncung pistol lebih dekat ke kepala Blaze. Dia menyamakan tingginya dengan Blaze.

"Fang kirim salam sayang. Dia menyuruh kalian berdua angkut semua barang pulang KL," bisik Kaizo di telinga Blaze.

Blaze tidak bergeming.

"Kalau mau menjemput bukan begini caranya! Datang ke rumah Blaze dahulu, bisa bincang sambil minum-minum..." Taufan terus memburukkan mood semua orang di situ.

Blaze meneguk ludah apabila Kaizo menjarakkan semula tubuhnya. Jantungnya berdegup laju namun tubuhnya tetap kaku.

"Kirim salam cinta kalian sama Fang. Aku bakal pulang tapi bukan sekarang," Blaze memberanikan diri bersuara. Suaranya hampir tidak keluar. Dadanya sesak ketika ini.

"Ya, loh. Ini bukan jaman hitam putih, kirim salam, kirim surat segala. Ini jaman lu wassap I, I wassap you. Palingan langsung call aja," celah Taufan.

Namun kepala Taufan ditunjal Lahap. Taufan menggertak gigi. Mereka akhirnya saling merenung geram.

Blaze tersenyum sinis. Dia sudah cuba menghubungi Fang sebelum datang ke sini tetapi lelaki itu sengaja tidak menjawab panggilannya. Dia tahu, Fang tidak mahu berunding dengannya. Tetapi kalau dia harus pulang saat ini bagaimana pula dengan hal ibunya dan Air? Kalau dia diapa-apakan, nanti mereka bagaimana?

"Ini hutang kalian sama kami. Kalian pergi, nanti tebus bayarannya sama aku. Anggap aja kalian tidak pernah berjumpa kami tiga hari lagi," ujar Blaze tenang.

Dia berharap mereka masih bisa diajak berunding.

Namun Lahap menggeleng. Dia merentap kolar baju Taufan dengan tangan kiri sambil pistol masih di kepala lelaki itu namun gerakannya tidak cukup kemas. Taufan pantas menyendengkan tubuhnya lalu merentap tangan kanan Lahap. Lalu ditolaknya tubuh Lahap ke hadapan.

Lahap terdorong ke arah Kaizo dan menabraknya. Kesempatan itu direbut Blaze untuk menghentak rusuk Kaizo dengan siku kiri. Pistol yang dipegang Kaizo terlepas dari tangan kanannya. Mereka mula bertarung dan Kaizo menerkam Blaze semula. Namun belum sempat dia melangkah jauh, satu tendangan hinggap di punggungnya.

Blaze ingin menerkam semula namun tidak sempat. Pistol kembali ke tangan Kaizo. Mereka kembali bergelut. Lahap pula bangkit dan menyerang Taufan dengan menumbuknya di perut.

Akhirnya Blaze melemas apabila Kaizo mencekik lehernya.

"Berhenti!" sergah seseorang.

Muncung senapan kini dihalakan ke Kaizo dan kemudiannya Lahap.

"Kalau nggak, bersepai kepala kalian nanti!"

Kesemua yang ada di situ tertegun melihat seorang pria tua berwajah bengis sedang mengacukan sanapan.

Kaizo perlahan-lahan bangkit dari menindih tubuh Blaze dan berdiri di sebelah Taufan dan Lahap. Lahap pula masih menghalakan pistol ke kepala Taufan.

"Siapa kalian? Kenapa berbuat kacau di sini?" soal Tok Aba.

Sempat dia menarik tangan Blaze untuk bangun.

Tidak ada siapa yang menjawab, masing-masing bermasam muka.

"Api, hubungi polisi!" arah Tok Aba.

Blaze terus gugup. Dia mengeuk ludah. Otaknya pantas berpikir.

"Gak usahlah, kek. Dilepaskan aja," balas Blaze lirih.

Sirat di wajah Tok Aba berubah bagaikan tidak percaya. Dia memandang wajah Blaze lama.

"Susah kalau nanti hal ini dipanjangin. Kalau masih belum beres dalam masa sehari, bagaimana aku bisa membawa pulang keluargaku?" dalih Blaze. Padahal, dia takut kalau hal lain pula yang terbongkar kalau sudah melibatkan polisi.

Akhirnya Tok Aba terpaksa mengalah.

"Pergi! Jangan sesekali jejakkan kaki kalian ke desa ini lagi! Kalau sampai aku ketemu wajah kalian lagi, siaplah!" usir Tok Aba dengan suara lantang.

Muncung senapan dihalakan lagi ke muka Kaizo dan Lahap silih berganti.

Kaizo melemparkan isyarat kepada Lahap. Kemudian dia menoleh ke arah Blaze yang sudah berdiri di sebelah Tok Aba.

Blaze memberi isyarat mata supaya Lahap mengikut sahaja arahan itu, demi kebaikan mereka semua agar tidak ketahuan. Mujurlah kedua-duanya akhirnya paham.

"Sini tempat lu tapi sana lu kena sama gua!" ujar Kaizo menatap Blaze sengit sebelum mula melangkah. Diikuti Lahap yang masih tidak lepas merenung Taufan dengan tatapan tajam.

Ancaman Kaizo disambut Blaze dengan tatapan tajam. Dia membiarkan saja ancaman itu tidak berbalas karena takut didengari Tok Aba.

Baru hendak menoleh ke arah Tok Aba semula, dia terdengar bunyi tembakan dilepaskan.

Keadaan menjadi kacau-bilau apabila Taufan terduduk di atas tanah memegang kaki kanan yang berlumuran darah. Tok Aba segera melepaskan satu tembakan apabila pacuan yang mobil yang dinaiki Kaizo memecut laju meninggalkan tempat itu. Bunyi tembakan senapan itu bergema ke seluruh kebun karet. Salah seorang antara mereka tentu telah berniat melepaskan tembakan ke arah Taufan ataupun Blaze sebentar tadi.

Blaze dan Tok Aba menerpa ke arah Taufan yang duduk terkulai di atas tanah. Darah yang meluncur deras di kakinya sudah membasahi celana yang membalutnya serta mengalir di celah-celah jari kaki. Di atas tanah juga terdapat tumpukan darah yang sudah menyerap.

"Taufan!" laung Blaze.

Walaupun hanya di bahagian kaki namun riak wajah Taufan yang sedang kesakitan sedikit sebanyak menghiris hatinya.

"Tolong aku, Blaze.." rintih Taufan sambil menarik-narik jaket Blaze.

"Kita hantar ke rumah sakit," cadang Tok Aba yang ingin mengangkat tubuh Taufan.

Blaze terus menangkap tangan Tok Aba. Dia menatap pria tua itu dengan perasaan serba salah.

"Kenapa?"

"Kita tidak bisa menghantarnya ke rumah sakit," balas Blaze.

Dia menghela napas. Kini dia sudah punya satu masalah lagi.

"Tapi kenapa?" suara Tok Aba meninggi. Dia merenung Blaze bagai ingin menelannya hidup-hidup.

Blaze menunduk. Otaknya laju berpikir. Apapun yang terjadi kepada Taufan, dia tidak akan menghantar temannya ke klinik atau rumah sakit. Itu sama seperti meyerah ke polisi. Bagi anggota Kumpulan Wun Tai, mereka lebih sanggup mati daripada dihantar ke sana. Ditangkap adalah satu penghinaan.

"Habisnya tidak mungkin kita biarin dia kehabisan darah sehingga mati," desak Tok Aba dengan wajah masam. Jelas sekali yang dia lagi khawatir.

"Kakek, aku minta tolong. Tolong jagakan ibu sama adikku, hari ini aja. Aku janji akan pulang sebelum malam," pinta Blaze.

Dia terpaksa membuat pilihan. Hari masih awal. Kalau berkesempatan, mungkin dia masih punya kesempatan untuk kembali menjemput keluarganya sore nanti ke kota.

"Api mau ke mana?" soal Tok Aba, heran.

"Aku ingin menghantar temanku untuk mendapatkan rawatan, tapi jauh dari sini."

Blaze menatap wajah Tok Aba penuh harap. Hanya pada lelaki tua itu bisa dia bergantung harap untuk saat ini.

"Apa maksud semua ini, Api?!" soal Tok Aba dengan nada penegasan.

"Aku janji. Aku akan terangkan sebaik aku pulang."

Blaze memandang Tok Aba sekali lagi dengan penuh harap.

Tok Aba tidak mengangguk, tidak juga menggeleng.

"Tapi pulangnya harus cepat, jangan berlama-lama," pesan Tok Aba.

Selepas itu Blaze memimpin tangan Taufan masuk ke dalam mobil. Dia memecut laju ke arah sebuah tempat di Gombak.

.

.

.

.

Sebaik sahaja menghilangnya asap mobil Blaze, Tok Aba segera meninggalkan tempat itu. Dia menaiki sepeda motor tuanya lalu bergegas menemui Air. Dia mula sadar, Blaze bukanlah seperti yang dijangka dan kapan pun dia harus bersiap untuk berlaku apa saja. Namun, semua itu hanya dipendam dalam hati. Tidak tahu pada siapa dapat diluahkan semua kegusaran itu.

"Kakek? Dari mana saja?" tegur Air sebaik saja Tok Aba mematikan enjin motor di sebelah tangga rumah.

"Baru lihat kebun," balas Tok Aba.

Senapan tetap terselendang kemas di pundaknya. Dia lantas turun dari sepeda motor menghampiri tangga. Lega hatinya sebaik memerhatikan Halilintar dan Iwan juga ada di situ.

"Tembak apa, kek?" soal Air mengerutkan dahi.

"Tidak ada apa-apa," balas Tok Aba sebelum mendudukkan diri di tangga.

Akalnya sibuk memikirkan bagaimana harus menyampaikan khabar ini pada Air.

"Tapi kenapa ada kesan darah?"

Tok Aba membelek kaki celananya. Memang berbekas kesan darah. Mungkin terkena luka teman Blaze tadi. Dia sudah lupa siapa nama lelaki itu tadi.

"Pacat, mungkin."

Tok Aba berlagak tenang kemudian menoleh semula ke arah Air.

"Kakakmu ada meneleponmu?" soal Tok Aba.

Air menggeleng, kemudian dia mengangkat bahu. Dia turut duduk di sebelah Tok Aba.

"Kakek rasa kakakmu punya urusan hari ini," ujar Tok Aba tenang.

"Kak Api ada beritahu sama kakek dia ke mana?" soal Air. Dia menoleh ke arah Tok Aba, namun Tok Aba tidak memandangnya.

"Dia bilang, dia harus pulang ke kota. Ada hal sebentar."

"Apa? Sudah pulang?"

Air terbangun. Bingung.

Tok Aba menarik tangan Air, meyuruhnya duduk semula. Daripada reaksi Air, dia tahu remaja itu kaget dan marah.

"Tapi dia bilang dia akan kembali secepat mungkin. Mungkin dia terpaksa menyambung cuti atau dipanggil majikan," dalih Tok Aba.

Air diam walaupun wajahnya tetap muram.

"Tenang, dia akan pulang.."

Tok Aba tahu Air lagi khawatir. Mungkin dia membayangkan Blaze sudah kabur sekali lagi dan meninggalkan semua beban untuknya.

Air mengangguk namun matanya basah.

"Kakek ada," Tok Aba cuba tersenyum sambil mengelus pundak Air.

Tok Aba sudah nekad, kalau Blaze tidak kembali maka dia yang akan bertanggungjawab.

Sementara itu, Halilintar muncul dari belakang rumah lalu menghampiri keduanya yang duduk di tangga. Dia menegur Tok Aba yang berwajah pucat. Semakin lama, lelaki tua itu menyebabkan hatinya terus gusar.

"Kenapa kakek termenung? Apa masih gak sihat lagi?"

Air bangun lalu masuk ke dalam rumah. Entah bagaimana bisa hatinya terasa sedih dan marah. Kalau memang iya kakaknya ingin pulang semula ke kota, tidak usah berbohong seperti itu. Kehilangan kakaknya membuatnya sedikit tertekan apabila ditanya ibunya nanti. Sekarang, dia berasa seperti dikhianati.

Tok Aba pula tidak terus menjawab. Sebaliknya, dia mengalihkan pertanyaan.

"Dinding itu bagaimana? Sudah kalian baiki?"

Halilintar mengangguk.

"Aku dan Iwan sudah menguruskannya. Rencana kita bagaimana pula?"

Tok Aba pula terus memikirkan rencana mereka yang seterusnya. Andai saja Blaze tidak pulang-pulang, dialah yang akan mengetuai rencana itu. Dan mau tidak mau, Halilintar harus menjadi pembantu kanannya yang lebih layak karena Air masih terlalu mentah.

Namun, sehingga saat ini, dia masih menebak-nebak, menantikan rencana dari Blaze sendiri. Tetapi dia tahu, Blaze tidak bisa ditunggu lebih lama dan mengharapkan lelaki itu semata-mata. Dia harus bersiap dengan rencana kedua.

"Api tetap akan mengetuai kita. Kita tunggu dia kembali," jawab Tok Aba perlahan.

"Api? Semalam Tok Aba bilang dia ingin meninggalkan desa sama keluarganya? Apa yang berlaku?" soal Halilintar heran.

"Dia hanya akan menghantar ibu dan adiknya ke kota tapi dia tetap akan menolong kita."

"Benarkah? Pantas aja kakek membawanya ketemu Pak Guru.." balas Halilintar. Namun itu tidak menoktahi segala kekhawatiran yang bersarang di hatinya.

Tok Aba mengangguk.

"Hali, aturkan anggota untuk melakukan rondaan mulai malam ini. Tolong lihat-lihatkan rumah Api," arah Tok Aba.

Halilintar mengangguk.

.

.

.

.

Selepas tiga jam mengemudi tanpa henti, Blaze tiba semula di pinggir Gombak. Tanpa berlengah, dia terus menuju ke sebuah rumah kayu dua tingkat yang letaknya agak terlindung oleh pohon-pohon hutan.

Dia terus menelepon Suharto.

"To! Aku ingin bertemu samamu!"

"Blaze, Taufan-"

"Taufan ada denganku sekarang. Dia ditembak."

"Apa?! Kalian di mana?"

"Di hadapan rumahmu!"

"Sebentar," ujar Suharto sebelum memutuskan talian.

Blaze menoleh ke arah Taufan yang tertidur pulas. Sekurang-kurangnya obat yang dibeli dari apotik sebelumnya sedikit sebanyak membantu mengurangkan kesakitan Taufan, juga membuatnya kantuk buat sementara waktu. Luka Taufan juga sudah diperban.

Hampir sepuluh menit setelah itu, sebuah mobil berhenti di hadapan mobil Blaze. Suharto sudah tiba lalu memberikan isyarat supaya Taufan dibawa ke dalam rumah. Blaze membantu Suharto mengangkut Taufan ke dalam rumah itu.

"Bawa dia ke atas," arah Suharto setelah pintu dibuka luas-luas.

Blaze menurut sambil memapah tubuh Taufan menaiki tangga ke lantai dua. Mereka membawa Taufan ke sebuah kamar yang kosong. Setelah masuk, Taufan dibaringkan di atas sebuah ranjang yang letaknya di sebelah jendela. Kemudian, Blaze menarik tangan Suharto lalu mengunci pintu kamar.

"Orang Fang yang menembaknya," ujar Blaze terus.

"Orang Fang?"

Blaze mengangguk. Suharto merenung tepat ke wajah Blaze dengan mata yang tidak berkelip.

"Kalau Fang tahu..."

"Jangan begini, To. Gak mungkin kamu tega biarin Taufan kayak gitu?"

Suharto mengeluh keras. Dia menyandarkan punggungnya pada pintu. Dia terdiam dan termenung jauh.

"Kau pernah berhuatng nyawa sama dia."

Blaze terpaksa mengungkit. Itu sahaja alasan yang dapat dipikirkan untuk melindungi Taufan.

Suharto menghela napas.

"Baik. Kalian bisa tinggal di sini buat sementara waktu. Tapi aku akan menyuruh orangku menyembunyikan mobilmu. Kalau sampai ketahuan sama orang-orangnya Fang, habislah.."

"Aku tidak dapat berlama di sini. Aku harus ke tempat lain," balas Blaze sekaligus menitipkan Taufan untuk dijaga Suharto buat seketika.

"Tapi perkara ini gak akan selesai. Kalau Fang mahu kalian mati, kalian berdua tidak akan bisa hidup lama di sini," Suharto memberi amaran.

"Aku tahu, tapi buat masa ini, tolong rawati Taufan. Setelah itu aku akan pikirkan tindakan yang perlu."

.

.

.

.

Dua jam telah berlalu, tabib yang dihubungi Suharto untuk merawat Taufan akhirnya tiba di situ.

"Pelurunya tembus. Akan kucuci dan menjahitnya," ujar tabib itu setelah memeriksa kaki Taufan yang cedera.

"Bagaimana dengan obatnya?" soal Blaze sambil memerhatikan pria itu menguruskan semua peralatannya.

Pria itu hanya mengangguk. Maka kamar kecil itu bertukar menjadi sebuah kamar operasi. Luka Taufan dicuci dan dijahit sambil diperhatikan Blaze dengan ngeri apabila menghidu bau luka dan bau darah yang bercampur. Namun, segalanya berakhir setengah jam setelah itu.

"Gimana?" soal Blaze tidak sabar.

"Kalau lukanya nggak beracun, dia bakal sembuh," jawab tabib itu sebelum menyerahkan obat-obatan yang perlu diberikan pada Taufan.

Pria paruh baya itu kemudiannya pergi begitu aja tanpa berkata apa-apa lagi sambil diiringi Suharto.

Blaze melihat sahaja pria itu keluar. Kemudian dia memandang ke arah Taufan yang masih belum sadar dari efek obat yang diberikan tabib itu.

"Biarkan dia di sini dahulu buat malam ini. Awal besok akan kupindahkan dia ke tempat lain. Orangku akan menjaga dia sampai sembuh," ujar Suharto setelah masuk semula ke kamar.

"Makasih ya, To," balas Blaze sambil menepuk pundak Suharto. Dia benar-benar berhutang budi pada lelaki itu kali ini.

"Maaf karena aku harus pergi sekarang. Kalau dia sudah sadar, suruh Taufan hubungiku," ujar Blaze kemudian.

Suharto mengangguk-angguk.

Tanpa berlengah lagi, Blaze terus menyusun langkah. Setibanya di bawah rumah, orang Suharto sudah menantinya sebelum membawa dia mengambil semula mobilnya yang disembunyikan di tengah hutan. Blaze hanya bisa pasrah apabila banyak yang harus dijelaskan pada keluarganya nanti.

Apabila sudah tiba semula di desa pada waktu malam, mobilnya ditahan oleh dua mobil yang asing.

Blaze tidak mematikan enjin mobilnya. Dia duduk sahaja di tempatnya sambil menantikan apa yang bakal berlaku. Lebih selamat menunggu daripada terus keluar.

Kemudian, empat orang lelaki keluar bersenjatakan kayu dan pemukul besbol. Blaze ingin mengundurkan mobilnya tetapi belum sempat dia bergerak, lampu mobilnya sudah dipecahkan. Dia tersentak. Rasa amarahnya terus menyirap. Sesiapa yang menyentuh mobilnya sama sahaja seperti menyentuh tubuhnya. Lantas dia membuka pintu, dia tidak takut.

"Aku tidak mengenal kalian," ujar Blaze berkacak pinggang.

Blaze sama sekali tidak mengenali mereka, mereka memang bukan orang Fang. Dan sepertinya bukan juga orang-orang dari kampung ini.

Namun kata-katanya disambut terjahan keras. Dia memusing tubuhnya dengan pantas dan menangkap kaki lalu menendang lelaki itu hingga terjerembap ke tanah. Melihatkan lelaki itu tumbang, yang lain mula kompak menyerang. Blaze tidak punya pilihan lain selain menentang mereka habis-habisan dengan tenaga yang menyisa.

Dia hanya bertangan kosong, sedangkan yang lain bersenjatakan kayu. Latihan khusus yang diterimanya telah menjadikan tubuh badannya juga berperan sebagai senjata. Lawan tetap lawan. Namun suatu saat dia terleka, menyebabkan kepalanya dipukul telak dengan sebatang kayu.

Blaze langsung tumbang ke belakang. Pandangannya menggelap. Yang terakhir didengarnya adalah bunyi enjin sepeda motor beserta seretan ban mobil.

.

.

.

.

"Ada apa, Halilintar?" soal Tok Aba apabila dihubungi Halilintar yang berada di rumah sakit.

"Api dipukul. Berhampiran jalan masuk di simpang memasuki desa. Dia masih belum sadar," ujar Halilintar di ujung talian.

"Apa?! Siapa yang memukulnya?" tanya Tok Aba cemas.

"Tidak tahu, kek. Saat kami tiba, mereka terus kabur."

"Kamu sama siapa waktu itu?"

"Sama penduduk desa. Aku ikutan meronda tadi malam," jawab Halilintar.

"Kamu tunggu di rumah sakit. Sebentar nanti kakek sampai."

Tok Aba terus bangkit meninggalkan kasurnya. Dia membuka lemari baju dan mengeluarkan sehelai kaos berbutang. Dia turut ingin menhubungi Iwan untuk mengajak dia menemaninya. Baru ingin memecet tombol pada skrin ponsel, sebuah panggilan masuk. Lantas dia menjawab panggilan itu. Namun apa yang membuatnya kaget ialah dia mendengar suara Air yang terisak-isak di ujung talian.

.

.

.

.

Iwan sudah tiba di rumah sakit. Yaya dan Ying hadir membawa buah-buahan. Sementara Halilintar terlihat duduk dengan lesu.

"Dia sudah sadar," Ying menyikut siku Yaya.

Blaze mencoba membuka pelupuk matanya yang terasa amat berat. Kepalanya masih terasa berdenyut-denyut sakitnya. Dia coba meredakan perasaannya yang berkecamuk sambil mencoba mengingati apa yang telah berlaku dan di mana dia berada. Udara dingin dari AC di atas kepalanya serta bau obat-obatan yang mencolok, membuat dia yakin yang dia kini dirawat di rumah sakit atau di mana-mana klinik. Seingatnya, ada seseorang yang membawanya ke situ namun tidak jelas siapa.

"Api! Kau sudah sadar?" tanya Iwan.

Blaze coba membuka matanya sekali lagi. Matanya berkelip-kelip. Akhirnya dia bisa melihat sosok Iwan di hadapannya. Serta Yaya dan Ying yang tersenyum serempak padanya. Dan Halilintar yang duduk di sisi ranjang.

"Aku..di mana?"

"Rumah sakit," pintas Halilintar.

"Ka-kalian yang menemukanku?"

Namun, jawapan Halilintar barusan membuatnya sedikit meriding. Rumah sakit?

Yang lain mengangguk.

"Halilin yang menemukanmu, lalu dia membawamu ke sini. Dia meronda malam tadi, dia ternampak mobilmu b erhenti di tengah-tengah jalan. Dia berhenti untuk mendekat namun semuanya kabur," cerita Iwan.

"Mobilku?"

"Di luar sana," balas Halilintar.

"Hantar aku pulang," perintah Blaze.

Dengan susah payah, Blaze coba mengangkat tubuhnya dari pembaringan. Walau apa pun, selagi masih hidup, dia tidak mahu berada di rumah sakit. Dia berasa tidak aman.

"Kau yakin bisa? Tinggal dulu di sini sehari semalam. Nanti kuhubungi ibumu. Nanti kakek juga mahu datang," ujar Halilintar sambil merenung Blaze.

Blaze menggeleng. Apapun kata Halilintar, dia tidak akan mengubah keputusannya. Dia terus bangkit dari kasur. Kakinya yang tidak bersepatu langsung menginjak lantai yang dingin. Dia menarik dompetnya dan menghulurkan beberapa lembar uwang yang mencukupi kepada Halilintar.

"Ini untuk bilnya. Aku mau keluar. Aku tidak bisa membiarkan ibuku di rumah," ujar Blaze sambil menahan denyutan di kepalanya yang tak kunjung hilang.

Melihatkan Blaze terlalu berkeras, yang lain tidak ingin lagi membantah. Bahkan doktor yang merawatnya juga hanya menggeleng.

.

.

.

.

Satu jam selepas itu, Halilintar dan Iwan yang mengiringi Blaze pulang tiba di perkarangan rumah Blaze. Mereka tersentak apabila melihat beberapa mobil pihak polisi berada di situ.

"Kenapa, kek?" soal Blaze cemas apabila mendapatkan Tok Aba. Dia sudah lupa sama kesakitan yang dilaluinya. Sebaik tiba sahaja, dia sudah menerpa pria tua itu. Tok Aba kelihatan sedang berbicara sesama penduduk desa yang tidak kenalinya, berkerumun di situ.

"Api."

Tok Aba awalnya sedikit kaget melihat keadaan Blaze yang berbalut perban di kepala dan memar di sana sini. Dahinya berkerut dan merenung tajam ke wajah Blaze.

"Apa yang terjadi padamu?" soal Tok Aba kemudian.

"Panjang ceritanya, kek. Tapi kok ada polisi di sini? Air mana?"

Tok Aba menarik lengan Blaze ke tepi rumah. Di dalam gelap seawal pagi, mereka saling berbisik.

"Api.." panggil Tok Aba.

Tok Aba menghela napas.

"Sabar, Api." Sambung Tok Aba.

Blaze merenung wajah tua itu yang penuh sendu. Wajah yang menyiratkan sesuatu. Apa ada petanda buruk? Blaze mula merasa tidak selesa.

"Ka-Kakek..?"

TBC


Huhu... makin pendek ya? Terpaksa post dulu mana yang sempat..Nantikan aja kelanjutannya di chapter yang berikutnya! 0w0 Pertembungan BlazexGempa makin dekat! Hehehe... :D See ya~!