"Bawa dia ke atas!" arah Joko kepada orangnya.

Hatinya hanya separuh lega kerana yang dapat ditangkap hanyalah ibunya. Seorang lagi tidak ada.

Mendengarkan arahannya, wanita paruh baya terus diseret naik ke atas rumah kosong lalu ditolak masuk ke dalam sebuah kamar yang gelap-gelita.

Ibu hanya mampu menangis. Kalau sudah sampai ajalnya di situ, dia reda. Tetapi dia tetap berdoa dalam hati semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya dan melindungi anak-anaknya di mana pun mereka saat ini. Luka di lengannya terus terasa pedih. Darah terus menetes di lantai.

Joko sudah pusing mendengar tangisan wanita itu. Dia membentak wanita itu agar diam lalu mengarahkan orangya untuk menutup mulut dan mengikat wanita itu. Arahannya segera dipatuhi.

"Jaga baik-baik, jangan sampai dia terlepas!" perintah Joko.

Dia menghala keluar dari rumah itu. Rasa amarahnya tidak kunjung hilang. Dia terpaksa menghubungi Gempa sekarang juga, mahu atau tidak.

"Bos, sudah dapat."

"Bagus. Kau hantar ke sini sebelum jam 3 pagi."

Joko meneguk ludah. Dadanya berdebar-debar.

"Bos, cuma seorang. Seorang lagi gak ada, belum dapat ditangkap."

"Apa? Mana dia?!"

"Itu silap kami. Kami jangka keduanya berada di rumah. Tapi yang ada cuma orang tua itu."

"Bodoh! Kalau kalian sudah menangkap ibu dan adiknya, kalian ingat mereka akan diam aja menunggu kalian datang?! Pasti polisi sudah bersesak menjaga rumah itu!" teriak Gempa marah.

Joko menghela napas. Memang dia tersilap besar namun perkara itu sudah tidak bisa diundurkan lagi.

"Bagaimanapun aku tetap akan tangkap budak itu, bos! Aku janji, sebelum jam 8 malam besok, aku akan menyerahkan keduanya pada bos."

"Huh!" Gempa mendengus geram.

"Yang lagi satu itu bagaimana?" soal Gempa kemudian.

"Kami sudah membelasahnya cukup-cukup, bos. Tapi gak sempat dibunuh, ada orang datang."

Gempa terus mematikan talian tanpa memberi amaran.

Joko menghela napas panjang. Dia sendiri merasa kecewa. Namun dari apa yang dilihatnya tadi, lawan mereka juga bukan calang-calang orang. Cara lelaki itu berlawan bagaikan sudah lama bertempur secara kasar. Dia juga hampir tewas kalau bukan karena orangnya lebih ramai dan bersenjatakan kayu.

.

.

.

.

"Bilang padaku kek." Blaze terus menatap pria itu penuh pengharapan.

Tok Aba menarik napas, lalu menghembusnya berat.

"Ibu..Ibumu hilang."

"Hah?!"

Mata Blaze membulat sempurna. Napasnya tercekat. Dadanya berdebar hebat. Hilang?

"A-Air? Air pula gimana, kek?"

"Air ada di atas," jawab Tok Aba.

Tok Aba memegang kuat lengan Blaze, takut kalau dia tumbang atau langsung menerpa naik ke atas rumah dan menimbulkan kekacauan. Lagipula pasti nanti dia akan disoal-siasat oleh pihak polisi.

"Ba-Bagaimana bisa?!" bentak Blaze. Suaranya kedengaran terketar-ketar.

"Air ke masjid tadi..lalu selepas pulang ke rumah, dia mendapati ibunya sudah hilang. Kemudian dia terus menelepon kakek. Kakek pula cepat hubungi polis."

Blaze kehilangan kata-kata. Seluruh tubuhnya terasa membeku. Mahu diamuk semua orang sudah tidak ada gunanya lagi. Dia yang bersalah.

"KAKAK!" teriak Air lalu menerpa ke arah kakaknya dengan terisak-isak sebaik kakinya menginjak tanah.

Blaze langsung menoleh lalu mendekap adiknya hiba.

Kelihatan pihak polisi sudah selesai menjalankan siasatan di situ dan mulai pergi. Begitu juga dengan penduduk desa yang heboh berkumpul di halaman rumah itu tadi. Yang tinggal hanya mereka berlima.

Blaze seakan-akan lupa cara untuk berbicara. Dia terus erat membalas pelukan Air dalam tangisan.

"Hiks..Ibu, kak. Ibu.."

"Sabarlah. Ibu gak akan apa-apa. Polisi akan mencari ibu hingga dapat. Kita juga akan berusaha mencarinya..tenang dulu, ya?"

Blaze memaksa diri untuk tersenyum sembari menepuk lembut pundak adiknya. Senyumnya nanar.

Walaupun dia terasa ingin berteriak sekuat hati, namun dia tahu yang dia harus lebih kuat daripada Air.

"Ka-kak Api kenapa?"

Air baru sadar keadaan kakaknya yang penuh luka-luka. Rasa marah pada kakaknya tadi terus hilang. Ditatap kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia sesal, kini dia tahu mengapa kakaknya telat pulang.

"Nanti kakak ceritakan. Kita masuk ke dalam rumah dahulu," ujar Blaze coba meredakan keresahan hati.

Mereka berdua naik ke atas rumah. Diikuti Tok Aba, Iwan dan Halilintar yang sedari tadi hanya tidak bergumam.

Namun sebaik sahaja kaki Blaze menginjak lantai, langkahnya terus mati. Dia terpandang kesan darah di atas lantai. Blaze terperanjat lalu menolehh ke arah Air dengan wajah yang pucat.

Air mengelipkan mata berkali-kali, berusaha keras untuk tidak menumpahkan air matanya sekali lagi.

Blaze merasa jantungnya bagai ingin luruh. Untuk seketika, dia terasa seperti dicampak de dalam gaung yang teramat dalam tanpa ada sesiapapun. Dia terkapai-kapai mencari tempat berpaut, lalu akhirnya dia teringat kembali pada Allah. Sejak sekian lama dia hidup tanpa pedoman, malam ini ingin sekali dia keluarkan segala tangisan yang dipendamkan dan merayu agar ibunya diselamatkan. Saat itu, hanya itu permintaannya.

"Kakek, bisa kita sholat hajat?" pinta Blaze penuh sebak.

Tok Aba tidak membantah. Begitu juga dengan Air, hanya mengangguk lemah.

Pada dinihari yang begitu dingin, mereka berlima bersujud dan berdoa memohon pertolongan Allah.

.

.

.

.

"Assalamualaikum..."

Ibu terdengar suara seseorang memberi salam di luar pintu, dan ketukan yang bertalu-talu.

Dia jadi cemas. Dia hanya memikirkan kalau ada sesuatu yang buruk telah menimpa anaknya, Blaze. Namun apabila pintu rumah dibuka, dua lelaki bersenjatakan pistol dan parang meluru masuk ke dalam rumah. Kemudian diikuti dua orang lagi laki-laki asing yang tidak pernah dilihatnya sebelum ini. Dia tersentak.

"Diam! Kalau tidak, kami tetak!" ugut salah seorang pria yang berdiri paling hampir dengan pintu.

Seorang lagi pula mengunci tangannya dari belakang dan mengangkat parang tinggi-tinggi.

"Saya minta tolong, Pak. Kami orang miskin. Kami tidak punya apa-apa. Lepaskan saya," rayu Ibu. Air matanya berguguran jatuh. Dia meronta-ronta namun tidak berdaya melawan kudrat lelaki yang memegangnya.

"Seorang lagi gak ada," ujar salah seorang lelaki yang membongkar isi rumah.

"Mana anakmu?!" soal lelaki yang berdiri membelakangi pintu dengan wajah bengis.

"Dia tidak ada."

"Lalu dia ke mana?!" soal lelaki itu sambil melotot.

"Saya tidak tahu," balas Ibu.

Walau apapun dia tidak akan membuka mulut. Biarlah nyawanya melayang, asalkan kedua putranya selamat.

Lelaki itu mendengus marah.

"Bawa orang tua ini dahulu. Yang lagi seorang, kita bakal uruskan kemudian."

Arahannya segera dipatuhi.

Dari rumah, wanita itu dibawa ke sebuah rumah kosong. Dia akhirnya pasrah untuk tidak melawan demi kebaikan.

Kini, Ibu berdoa semoga Air dan Blaze cepat pulang dan menadari kehilangannya. Dia juga berdoa, di manapun Blaze berada, diharap anaknya itu dalam keadaan selamat. Walaupun dia tidak mengerti mengapa berlakunya semua itu, dia tahu Allah Maha Mengetahui dan walau apapun yang bakal berlaku, Allah sentiasa di sisi.

.

.

.

.

Detik demi detik berlalu. Blaze tidak tahu bagaimana dengan orang lain yang masih berada di situ. Tetapi baginya, malam itu berlarutan panjang. Makin lama, kesabarannya berada di ambang batas. Dia tidak boleh bersabar lagi. Keadaan sudah berubah. Dia juga harus berubah.

"Kakek sudah tidur?" soal Blaze.

Kalau dia tidak salah lihat, Tok Aba juga tidak dapat melelapkan mata. Orang tua itu sentiasa gelisah. Yang tidur lelap hanyalah Iwan dan Halilintar. Sudah berdengkur lagi.

Mendengarkan namanya dipanggil seseorang, Tok Aba menoleh ke belakang. Kemudian ikut duduk seperti Blaze.

"Kamu sakit? Mau obat?" tanya Tok Aba perhatian.

Blaze menggeleng.

"Kakek tahu ini kerja siapa? Siapa yang menjaga batu puaka itu?" soal Blaze kemudian.

Tok Aba terus mengeluh. Dia tidak lagi memandang Blaze. Dia paham, Blaze lagi marah.

"Bilang aja, kek," desak Blaze.

"Kalau kamu tahu, kamu mahu apa sama dia?" tanya Tok Aba perlahan.

"Aku mahu mencarinya. Aku akan menyuruhnya melepaskan ibuku. Kalau uang yang dia mahu, aku mampu bayar."

Blaze merasa sebaiknya itu sahaja yang dia perlu lakukan. Dia tidak bisa hanya duduk di situ membiarkan entah apa yang terjadi pada ibunya. Setiap kali diingatkan, hatinya sakit.

"Tapi kita tidak punya bukti untuk menyalahkannya. Mungkin bukan dia."

"Siapa lagi coba kalau bukan dia?! Kalau mau ditunggu bukti sempat nanti ibuku.." bentak Blaze namun tidak tega menghabiskan kata-kata.

"Tapi kalau itu kerja dia, kita juga tahu bahawa bukan uwang yang dia mahu," balas Tok Aba.

"Tapi sekurang-kurangnya kita mencoba. Tidak dapat berlembut, kita coba cara kasar."

Tok Aba melepas napas berat.

"Tolonglah, kakek. Kumohon. Kita tidak bisa terus menunggu aja lagi di sini," bujuk Blaze.

"Kita mau pergi sekarang?"

Blaze mengangguk. Baru mereka ingin berangkat, Air menerpa bangun.

"Aku ikut, kak," ujar Air.

"Air harus menunggu di rumah. Siapa tahu kalau polisi muncul. Mungkin mereka mahu memeriksa atau menyampaikan apa-apa khabar," tegas Tok Aba.

Air mengeluh hampa. Dia melihat sahaja Tok Aba dan Blaze pergi meredah malam.

Blaze tidak berpaling lagi. Resah di hatinya membuak-buak. Keselamatan ibunya menjadi keutamaannya sekarang.

.

.

.

.

"Kok kayaknya gak ada orang aja, kek?"

Satu jam kemudian, mobil Blaze sudah sampai di sebuah bungalo yang terletak jauh di pinggir bukit. Rumah itulah rumah yang terakhir di kawasan itu.

"Sudah pada jam berapa sekarang? Pastinya dia lagi tidur," balas Tok Aba.

Hendak dibiarkan sahaja Blaze bertindak seorang, dia khawatir.

Blaze membuka pintu mobil lalu menekan tombol pendering di pagar rumah berkali-kali. Dia berharap bunyi bel itu berhasil mengejutkan pemilik rumah itu. Persetan akan sekarang lagi jam berapa atau apa yang sedang dilakukan lelaki itu.

Hal itu mahu diselesaikan sekarang juga. Namun, sampai sekarang belum ada apa-apa balasan. Rumah itu tetap sepi. Dia kesal.

Kemudian tanpa berpikir panjang, dia terus memanjat pagar rumah. Melihat tindakan Blaze, Tok Aba buru-buru membuka pintu mobil.

"Api, jangan!" larang Tok Aba.

Namun sudah terlambat. Blaze sudah berada di halaman rumah Gempa.

Tanpa melewatkan sesaat, Blaze langsung ke hadapan pintu. Diketuk pintu berkali-kali sekeras mungkin. Kalau bisa, ingin didobraknya sahaja. Malahan dia tidak segan untuk memecahkan cermin dan kaca di pintu rumah itu sekiranya lelaki itu tidak bangun-bangun juga. Sedang asyik mengetuk pintu tanpa henti, sebuah mobil berhenti di sebelah mobilnya.

"Kalian cari apa? Ini kawasan private," tegur Gempa.

Dia masih coba bertenang walaupun tubuhnya melekit setelah menghabiskan waktu di Batu Rintis. Dia ingin sekali mandi dan langsung tidur.

"Hei!" teriak Blaze yang terus menerjang lelaki itu.

Tubuh Gempa didorong keras, namun anehnya tubuh itu tidak bergerak walau sedikit. Dia makin berasa kesal.

"Cari apa tanyamu?!" tengking Blaze.

"Api, sabar," bujuk Tok Aba.

Dia berusaha menjadi pelerai antara mereka berdua.

"DI MANA IBUKU?! APA YANG KAU PERBUAT PADANYA?!" teriak Blaze histeris.

Dia melihat tubuh Gempa tidaklah besar, namun seperti ada yang tidak beres. Lelaki itu terlihat aneh dan berbau amis. Hampir sahaja dia menutup hidung.

"Ibumu? Lalu kenapa datang ke sini? Ini rumahku, bukan rumahmu," balas Gempa.

Gempa mula paham. Dia mula tahu siapa lelaki itu. Cuma sedikit kesal, belum mati lagi orang yang dibelasah Joko tadi. Ampuh juga nyawanya.

"Gak usah berbasa-basi. Aku tahu rencanamu," balas Blaze sengit. Jari telunjuknya menuding ke wajah lelaki itu.

Gempa tersenyum sinis.

"Apa buktinya? Kalau kau pikir ibumu berada di rumahku, kau salah. Cari aja sendiri. Bisa juga dipanggil polisi ke sini."

"Bedebah, kau!"

Blaze terus menerkam Gempa. Rencanaya yang asal dilupakan begitu saja. Apa yang ada di hatinya kini adalah lahar amarah yang membuak-buak. Tanpa berpikir panjang, dia menumbuk muka Gempa berkali-kali namun seperti tidak ada apa-apa kesan. Sebaliknya tangannya yang sakit. Apabila sudah kembali sadar, dia tumbang ke belakang.

"Berhenti!" tahan Tok Aba.

Tok Aba menarik tubuh Gempa ke tepi. Ketika ini, anjing-anjing di rumah tetangga mula menyalak nyaring. Lampu-lampu mula dibuka satu persatu. Tidak lama kemudian, dua sepeda motor berhenti tepat di hadapan mobil Gempa.

Turun dua orang pria memakai rompi berwarna cerah, yang sepertinya tetangga yang menjalankan rondaan di situ.

"Ada apa ribut-ribut di sini?" tanya salah seorangnya dengan lampu suluh di tangan.

Tok Aba hanya mendiamkan diri. Blaze mendengus kesal.

"Tiada apa-apa, hanya sedikit salah paham," jawab Gempa.

"Apa benar, Pak?" soal pria itu lagi sambil menyorot lampunya ke arah Blaze pula.

"Benar," jawab Gempa lagi sambil tersenyum.

Walau bagaimanapun dia tidak mahu sesiapapun tahu apa sebenarnya yang sedang berlaku di sini. Nanti banyak soal.

Lelaki itu mengangguk.

"Pesan tetangga, kalau bisa, jangan berisik. Ganggu orang lagi tidur. Sudah hampir jam 4 pagi," ujar lelaki itu sebelum beredar.

Gempa, Blaze dan Tok Aba kompak berbuat tidak tahu sahaja. Sedang Gempa leka memerhatikan para pria itu pergi, Blaze menghayunkan penumbuknya sekuat hati. Hatinya panas tidak terbendung.

Akibat tumbukan telak yang mengenainya, Gempa oleng ke sisi kanan. Hampir jatuh ke atas mobil Blaze. Dia berdiri geram menggenggam penumbuk.

"Kalau begini caranya, sampai kapanpun tidak bisa selesai!" tahan Tok Aba lagi.

"Cepat beritahu di mana ibuku!" tukas Blaze.

Persetan dengan tetangga. Dia tidak peduli kalau seluruh penghuni di sekitar kawasan itu terjaga. Apa yang penting, dia mahu ibunya semula.

"Kutegaskan bahawa aku tidak tahu. Aku bisa memanggil polisi ke sini. Kau menceroboh tempat tinggalku. Semua yang ada bisa menjadi saksi," balas Gempa dingin.

Tok Aba memandang Blaze.

Blaze terdiam. Kalu sampai dia tertangkap, dia tidak bisa mengaturkan apa-apa rancangan lagi. Makin rumit dibuatnya.

"Kalau kau mengapa-apakan keluargaku, akan kuhancurkan batu itu! Aku bersumpah, batumu akan rata seperti padang!" ancam Blaze sebelum dibawa pergi oleh Tok Aba.

Dia masuk semula ke dalam mobil dengan darah yang menetes hingga ke baju yang dipakai. Ternyata pergelutannya dengan Gempa tadi telah menyebabkan darah di kepalanya mengalir semula.

Gempa hanya tertawa keras. Sedikitpun dia tidak terkesan dengan ancaman Blaze. Mahupun takut.

Di dalam mobil, keduanya terdiam. Walaupun kepalanya bertambah sakit namu Blaze sedaya upaya bertahan. Dengan kewalahan yang semakin membebani tubuh, dan rasa kantuk karena hari yang sudah hampir pagi, dia bersikeras ingin mengemudi mobilnya sendiri. Baginya, itu tugasnya. Dia tidak ingin membebani Tok Aba, salahnya sendiri karena ingin sekali ketemu sama lelaki itu.

"Mahu ke mana selepas ini?" tegur Tok Aba apabila mobil Blaze sudah menyimpang ke arah kebun karet.

"Kita ke Batu Rintis," jawab Blaze.

"Kakek gak pikir mereka ada di sana," jawab Tok Aba cepat.

Yang sebenarnya dia juga tidak menyangka Blaze mahu terus ke sana secepat itu, pada waktu itu dalam keadaan masih luka-luka seperti itu.

"Aku tidak peduli. Aku tetap akan mencari ibuku."

Blaze menekan pedal minyak. Mobil terus meluncur laju menyelusuri jalan bertanah merah, membelah kawasan perladangan getah yang terbiar.

Tok Aba tidak membantah. Dia tahu Blaze masih marah.

Dia hanya mengikut, namun entah mengapa dirasakan jalan itu terlalu panjang. Sepatutnya jalannya membelok namun jalan itu melurus ke hadapan. Tok Aba mula terheran-heran. Kemudian dia mula tersadar sesuatu. Bukan jalan itu yang panjang tetapi mobilnya bergerak terlalu perlahan. Dia mula merasa ada yang tidak kena. Tok Aba menoleh ke arah Blaze, tetapi lelaki itu masih leka mengemudi dengan wajah tegang tanpa menyadari apa-apa.

Tok Aba menoleh sekilas cermin belakang, kemudian menoleh lagi. Matanya membulat apabila menyadari ada suatu sosok bertengger di atas boot mobil.

"Allahuakbar!" pekik Tok Aba sambil menhentak bumbung mobil dengan penumbuknya.

Setelahnya, mobil menjadi ringan dan meluncur laju.

Gara-gara terkejut, serta-merta Blaze menekan rem dengan kuat. Mobil berhenti mendadak dan sedikit berputar. Keduanya tersengguk-sengguk akibat ditahan sabuk pengaman. Setelah keadaan kembali tenang, mereka sadar mobil yang dinaiki mereka terpacak di tebing Sungai Rintis.

Tok Aba mengurut dadanya perlahan. Napas Blaze pula tercungap-cungap. Bagaimana mereka bisa terlajak ke tebing sungai, mereka tidak tahu.

"Kita pulang," putus Tok Aba.

Blaze sadar, lantaran terleka akibat capek dan marah, mereka mudah dipermainkan oleh puaka batu itu.

.

.

.

.

Menjelang subuh, Blaze dan Tok Aba akhirnya selamat sampai di rumah. Dilihatnya Air sedang menunggu di tangga. Dia duduk sambil menyelimuti diri dengan sarung pelekat. Sebaik mereka keluar dari mobil, Air terus bangun.

"Jumpa ibu?" soal Air sambil memandang wajah kakaknya.

Kemudian dia menjenguk-jenguk ke dalam mobil. Tidak ada sesiapa. Dia terdiam.

Blaze hanya berdiam diri.

Tok Aba memaut lengan Air dengan lembut. Dia paham Air lagi hampa. Dia dan Blaze juga kalau bisa, ingin menyelesaikan hal itu waktu itu juga. Tetapi nampaknya keadaan bertambah parah. Akibat tindakan Blaze barusan, dia sadar sengketa antara dua keturunan itu tidak akan berakhir, malah bertambah sengit.

"Naiklah dahulu," ajak Tok Aba.

Kini dia berjalan beriringan dengan Air menaiki tangga ke pintu rumah semula. Ketika ini Blaze sudah terduduk di atas pelantar lalu bersandar pada dinding rumah.

"Air naik ke atas, ambilkan perban, air dan ubat buat kakak," arah Tok Aba.

Dia tahu Blaze masih sakit walaupun lelaki itu tidak menyuarakan apa-apa. Kini dia sadar bahawa Blaze bukanlah pemuda kota yang biasa-biasa. Blaze seorang pemuda yang lumrahnya bergelumang dengan keringat dan kekotoran. Blaze juga biasa bergelut dengan kekerasan dan sikap panas baran. Mungkin segala pengalaman hidup yang ditempuhnya sebelum ini menjadi guru yang paling ampuh buat anak muda ini. Dia makin mengenal siapa Blaze.

Air kembali dengan sekantong plastik berisi obat-obatan dan segelas air.

"Letak di sini," arah Tok Aba.

Tok Aba mendekati Blaze yang termenung jauh. Dia membuka balutan di kepala Blaze yang sudah dibasahi darah lalu mencucinya kapas dan air. Kelihatan luka di kepala Blaze yang sudah berjahit terbuka semula. Sesekali Blaze menepis dan merungut pedih akibat luka itu.

"Esok kita langsung ke klinik. Jahitannya sudah terbuka," ujar Tok Aba.

Blaze diam sahaja. Air pula hanya memerhati dengan penuh pertanyaan. Dia penasaran apa yang ditempuh kakaknya tadi. Kakanya berantem dengan siapa? Tetapi dia berat untuk bertanya karena kakaknya tampak tidak bermaya. Tok Aba juga keberatan untuk memberitahu apa-apa.

.

.

.

.

Kemarahan Gempa pula makin memuncak. Sejak awal pagi, dicoba menghubungi Joko namun tidak berjawab.

"Sudah pada jam berapa mau bangun?!" bentak Gempa apabila lelaki itu meneleponnya semula.

Selepas mengharungi suatu malam yang amat melemaskan, dia tidak sabar untuk mengamuki semua orang.

"Sori bos, tidur lewat tadi malam," ujar Joko dengan suara serak khas terjaga dari tidur.

Gempa mendengus. Joko tidur telat, dia pula tidak bisa menutup mata. Wajah Blaze dan kata-katanya tadi seperti bayang-bayang yang mengejarnya ke mana saja dia pergi. Berani benar lelaki itu mencabarnya. Dia tidak bisa membiarkannya begitu saja.

"Hari ini kuberi kalian suatu lagi kerja," ujar Gempa merenung kamar tidurnya yang berantakan. Sememangnya hidupnya tidak begitu terurus sejak disibukkan dengan upacara pelantikan kepala desa yang baru.

"Kerja apa, bos?"

"Kalian cari laki-laki itu hingga dapat. Habiskan dia!"

Gempa menarik napas. Hanya itu yang bisa membuat hatinya senang. Selagi Blaze wujud, selagi itu dia merasa egonya tercalar.

"Mudah, bos," balas Joko yakin.

"Bukan dia aja. Aku mahu kalian hapuskan siapa-siapapun yang membantu mereka. Biar dia dan semua ahli kumpulannya tahu siapa aku!"

"Semua, bos?"

"Semua!" balas Gempa dengan nada tinggi. Gempa mencebik. Kadangkala lelaki itu terlalu bodoh sampai semuanya harus dia atur untuk lelaki itu.

"Tapi aku ingin kepala laki-laki itu dibawa ke Batu Rintis malam ini juga," sambung Gempa.

Dia menggertak gigi. Mungkin elok juga dipacak kepala lelaki itu bersama kepala ahli keluarganya. Pantas dihapuskan sahaja seluruh keluarga itu. Mungkin hanya dengan cara itu dapat meredam segala amarahnya terhadap lelaki itu saat ini.

.

.

.

.

Blaze terjaga apabila terdengar bunyi suara Halilintar dan Iwan yang berbual-bual di bawah rumah. Dia tidak sadar sejak kapan dia bisa terlelap. Paling akhir, dia bisa mengingat yang dia diberi obat penahan sakit oleh Tok Aba.

"Sudah baikan?" tegur Tok Aba. Dilihatnya Blaze sudah duduk tegak.

Blaze tidak terus menjawab pertanyaan itu. Dia mengepal-ngepal jarinya yang punya kesan luka dan lebam, kesan dihantam kayu. Mujur yang kena adalahh dia, kalau Air dia yakin sudah lebih parah.

"Kalau mau minum, kakek bisa ambilkan," ujar Tok Aba lagi.

"Kakek bagaimana? Kalau kakek capek, kakek pulang istarahat dahulu. Hal di sini biar aku yang uruskan. Lagipula kulihat ada polisi yang meronda," balas Blaze.

Dari tempat dia bersandar, memang dia bisa melihat sebuah mobil polisi melintas. Satu pemandangan yang langka.

"Biar kakek tunggu sebentar."

Blaze mendekati Tok Aba yang bersandar di tepi pintu. Renungan jauh pria tua itu meyakinkan dia bahawa ada sesuatu yang sedang dipikirkan.

"Kenapa, kakek?" tegur Blaze pelan.

Tok Aba terasa berat hati untuk menjawab tetapi karena Blaze terus-menerus memandang wajahnya, maka dia harus membuka mulut juga.

"Kita tidak bisa berlengah lagi, Api. Kakek rasa sudah waktunya kita memulakan rencana."

Mata Blaze berkelip-kelip. Ya, dia juga sadar waktunya semakin hampir.

"Pertama, kamu harus mengawasi Air lebih ketat. Selagi mereka tidak mendapatkan adikmu, selagi itu pemujaan tidak bisa mereka mulakan. Kakek juga yakin ibumu saat ini masih selamat."

Blaze menjenguk ke arah dapur. Dia melihat Air sedang sibuk keluar masuk, mungkin sedang menyiapkan sarapan buat semua yang ada di rumah itu.

"Jangan biarkan dia ke mana-mana seorang diri," pesan Tok Aba.

"Kita lanjutkan perbincangan mengenai rencananya sebentar lagi," putus Blaze.

Dalam hati, dia berdoa semoga polisi dapat menjejak di mana ibunya disembunyikan secepat mungkin. Mungkin memang tidak ada di kediaman Gempa. Mungkin berada di mana-mana. Tetapi selagi masih ada di atas bumi, akan dia jejaki sampai dapat.

"Iya, kamu harus ke klinik dahulu," ujar Tok Aba menatap balutan di kepala Blaze.

Ketika ini Tok Aba benar-benar merasa simpati dengan segala apa yang sedang ditanggung anak muda itu. Namun untuk membantu lebih daripada itu, dia juga tidak berdaya. Apa yang dapat dilakukan hanyalah dengan bersabar. Mengharapkan pada Tuhan yang lebih tahu.

Blaze tersenyum pahit. Hal dirinya sudah tidak penting lagi. Apa yang dia tahu, Gempa perlu ditewaskan dengan apa cara sekalipun.

TBC