Blaze melihat semula ke arah dapur lalu bangkit ke sana. Dilihatnya Air yang sedang termenung sambil merenung jendela dapur yang terbuka luas. Dari situ dia bisa melihat denai kecil yang membawa ke kebun sayur di belakang rumah.
Blaze berdeham untuk mematikan lamunan Air.
"Kakek sudah pulang?" tanya Air.
Dia mendongak ke atas untuk menahan genangan air mata dari mengguyur ke pipi. Di balik mata yang berkaca itu, dia melihat sesawang yang tidak kalah serabut seperti perasaannya ketika ini.
"Sudah pulang. Semuanya."
Blaze menarik kursi lalu duduk berhadapan air di meja makan. Mungkin ada bagusnya bagi mereka sebagai saudara untuk berbincang terus hati ke hati.
Air menghela napas beserta keluhan panjang. Dia memandang wajah kakaknya dengan muka kusut.
"Sabarlah, insya-Allah...semuanya baik-baik aja. Ibu takkan kenapa-napa," bujuk Blaze lembut.
Hakikatnya perkataan insya-Allah terasa masih langka disebut.
"Kenapa mereka melakukan semua ini pada kita, kak? Apa maunya mereka sama kita yang gak ada apa-apa ini, kak? Apa salah keluarga kita, kak?" keluh Air dengan mata yang bergenang.
Blaze tahu Air masih mentah dalam soal kehidupan. Tentu sahaja sebagai remaja, apa yang diterima Air terlalu berat untuk diterima. Apatah lagi mereka baru sahaja kehilangan ayah. Dia paham Air merasa ketakutan akan kehilangan.
"Di dunia ini, gak perlu tunggu kita berbuat salah pada yang lain. Kalau memang orang berniat jahat sama kita, mereka akan lakukan apa aja," balas Blaze.
Air terus menghamburkan air matanya. Tiada lagi rasa malu atau rasa bersalah. Dicurahkan seluruh kesedihan pada satu-satunya kakaknya. Seluruh kesedihan dizahirkan setiap tetesan manik jernih itu. Inilah saat yang dirasakan sangat menekan dirinya. Dia merasa tidak berdaya untuk mengubah apa-apa.
Melihatkan keadaan itu, Blaze bangkit dari kerusi. Didekap Air dalam pelukannya dan diusap pundak adiknya dengan lembut.
"Berdoalah semoga ibu selamat. Jangan putus asa. Semuanya di tangan Tuhan. Apa pun takdir Allah nanti, kita wajib redha. Istighfarlah banyak-banyak. Percayalah. Allah pasti tahu apa yang terbaik untuk kita," bujuk Blaze sambil menahan sebak di dada.
Dia teringat untuk beristighfar. Lantas diucapnya seperti yang pernah diingatkan oleh Ustaz Badariah. Ketika ini, hatinya teramat tidak berdaya dan hanya mengharapkan kekuatan daripada Allah. Dia berharap Air juga tabah menghadapinya.
Mereka berdua sempat terdiam sesat setelah itu.
"Air," tegur Blaze.
Air mengangkat muka. Dia memandang lama kepala kakaknya yang berperban. Lirikan matanya pula turun ke arah pipi Blaze yang lebam dan luka-luka.
"Kenapa, kak?"
"Apa-apa terjadi pada kakak, Air jagakan ibu baik-baik ya?"
Air mengusap air matanya sambil tersenyum.
"Apa maksud kakak? Insya-Allah, kita sama-sama akan selamatkan ibu. Kita sekeluarga pasti selamat."
Dia tahu kakaknya itu belum yakin, tapi dia percaya kakaknya bisa melakukan apa saja.
Blaze tersenyum lalu memeluk adiknya.
"Kamu juga, jaga kakek ya."
Air mengangguk-angguk.
.
.
.
.
Sebaik tiba di Rintis Holdings, Gempa disambut wajah masam Pak Adu Du dan Pak Probe. Merasa cukup stress, dia mengeluh.
Sudah cukup tadi malam dia tidak dapat tidur, ditambah orang tua yang sentiasa mengikutinya ke mana-mana membuat dia mimipi ngeri. Sekarang dia harus berhadapan dengan lagi-lagi muka masam yang mematikan selera.
Bahhkan dia ke kantor karena dihubungi Pak Adu Du sebelum itu. Kalau nggak, dia akan terus bercuti hingga semua acaranya selesai.
"Minta Maria buatkan kopi," pinta Gempa pada penyambut tetamu.
"Maria tidak masuk kerja, Pak," jawab penyambut tetamu itu.
Gempa membiarkan sahaja hal itu. Dia langsung menoleh ke arah kedua tetamu yang masih berdiri berdekatan lalu menjemput mereka naik ke kantornya. Dia meneruskan langkah sambil diikuti Pak Adu Du dan Pak Probe. Setiba di sana, Gempa terus duduk di kerusinya. Dia mempersilakan juga kedua tetamu itu duduk berhadapannya.
"Kami lihat ada rondaan polisi di sekitar Desa Rintis. Katanya ada penduduk yang hilang, Pak," ujar Pak Adu Du terus.
Gempa menarik napas. Dia tahu hal itu akan menjadi heboh. Tetapi kalau warisnya selama ini bisa menghadapi bermacam tantangan, mengapa dia tidak? Dia yakin puaka itu akan melindungi kawasan Batu Rintis dengan sebaiknya. Itu kata ayahnya dahulu. Kawasan itu akan terlindung. Karena itu dia tidak terlalu bimbang.
"Terus? Kenapa perlu memberitahuku? Suruh keluarganya laporkan ke polisi," tokok Gempa.
Mata Pak Adu Du merenung tajam seakan coba membaca wajah Gempa di hadapannya.
"Memang sudah dijadikan kasus polisi. Tapi kudengar, mereka belum dapat apa-apa maklumat walaupun roadblock sudah dikuatkuasakan."
Mata Gempa berkelip-kelip mencerna maklumat yang coba disampaikan.
"Jadi..Apa urusannya sama Pak Adu Du?"
Pak Adu Du terdiam. Lalu menggeleng.
"Pak Adu Du, usah didengar cerita yang nggak-nggak dari penduduk desa. Mereka cuma dengki pada kita. Jangan-jangan mereka cuma mahu mensabotaj apa yang kita lakukan," hasut Gempa.
"Tapi, Pak-"
Pak Adu Du gelisah. Dia berdecak. Wajahnya masam seolah meyiratkan rasa tidak puas hati.
"Saya tidak mengerti mengapa bapak harus khawatir soal ini. Semuanya akan saya uruskan. Tugas kalian hanya ngurusin acara kendurinya aja. Kan sudah gak ada banyak masalah lagi?"
Kata-kata Gempa membuatkan Pak Adu Du termenung jauh.
Gempa menarik laci meja lalu mengeluarkan sebuah buku cek. Dikeluarkan sekeping cek yang sudah bertulis lalu diserahkan kepada Pak Adu Du.
"Ini untuk kalian habiskan apa yang patut. Yang penting anak itu sedia dilantik. Jangan macam-macam pula nanti."
Air muka Pak Adu Du langsung bersinar. Cek itu direnung sebentar sebelum dimasukkan ke kantong baju.
"Maaf, saya tidak bisa berlama dengan anda. Saya harus menyambung kerja."
Gempa mula menumpukan perhatian pada berkas kerjanya. Dia bosan memandang wajah Pak Adu Du yang cuma menambah bebannya.
Mujurlah setelah itu keduanya langsung beredar dari ruang kerjanya.
Gempa terus menelepon Maria.
"Aku cuti seminggu," ujar Maria.
"Seminggu? Sakit apa pula? Terukkah?"
Gempa mula berasa hendak marah. Dalam waktu yang begitu kritis, sekretarisnya pula ingin bercuti.
"Aku..Aku tidak bisa ke kantor sekarang. Nanti kalau aku sehat, aku datang ya?"
Gempa semakin tertekan mendengar jawapan Maria yang tiba-tiba berubah laku. Selepas Ran, Maria pula punya masalah. Apa yang berlaku?
"Sayang, kenapa sih? Cuba beritahu padaku," Gempa coba berlembut. Mungkin dia telah menyinggung perasaan tunangannya sebelum ini.
Maria mengeluh pelan.
"Aku cuma butuh istirahat."
"Bisa kamu jujur gak sama aku?" desak Gempa lagi dengan tanpa berpuas hati dengan alasan itu.
"Aku cuma gak sehat. Itu aja-"
"HEI PEREMPUAN! KALAU KAU JUGA PENGEN BERHENTI KERJA, YAH BILANG AJA! LANGSUNG MAMPUS AJA KAU DARI HIDUP AKU!"
Gempa membanting ponselnya. Dia yakin ada sesuatu yang tidak kena pada sikap Maria. Selepas itu dia meninggalkan Rintis Holdings, lalu ke Batu Rintis. Bagaimanapun juga upacara pemujaan itu harus diteruskan. Masalah Maria dipinggirkan dahulu. Kalau Maria tidak jadi menikahinya juga tidak mengapa. Bisa dicari perempuan lain.
.
.
.
.
"Kak Api mau ke klinik?" tanya Air.
Dari tadi matanya asyik memerhati Blaze menukar perban yang masih basah dengan darah di hadapan cermin. Timbul rasa gerun, namun kagum juga karena kakaknya dapat menahan rasa sakit sekuat itu.
Blaze menggeleng. Dia sadar lukanya terbuka tetapi ditahan selagi bisa. Ini bukan waktu yang cocok untuk dia tinggalkan rumah jauh-jauh. Ketika meyapu obat luka, kedengaran enjin sepeda motor masuk ke halaman rumah mereka.
'Itu pasti Iwan,' batinnya.
Blaze memanjatkan rasa syukur. Sememangnya dia mengharapkan ada yang datang ke situ untuk menemani Air. Dia punya rencana lain.
Setelah menukar baju, dia mencapai kunci mobil lalu keluar ke ruang tamu.
Air menjenguk ke jendela lalu turun ke pelantar. Di situ, dia berbual-bual dengan Iwan.
"Kakak mau ke mana pula?" soal Air memiringkan kepalanya.
"Iwan kan ada, aku ingin keluar sebentar."
Blaze duduk sebentar di tangga lalu menyarung sepatu.
"Tapi kakak kan sakit," cegah Air.
Blaze bingkas berdiri, memandang Air dengan senyuman tipis.
"Cuma ingin ke kedai, nggak jauh kok," dalih Blaze.
Air hanya memandang mobil kakaknya beransur hilang.
Blaze memecut laju mobilnya menuju kebun karet. Bagaimanapun juga dia ingin sekali melihat batu itu di hadapan matanya. Hendak dihancurkan cukup-cukup. Namun, dia melotot kaget karena di tengah jalan dia terpandang sekumpulan lelaki sedang menghajar seseorang.
Lantas dia menekan rem lalu mobilnya berhenti.
"Hei!" teriak Blaze sebaik membuka pintu mobil.
Namun, segalanya berlaku begitu cepat. Di punggungnya terhayun sebatang kayu, beruntung dia sempat mengelak.
Dia sempat menjeling ke arah lelaki yang oleng setelah terkena pukulan.
Halilintar?
Dia tidak sempat berpikir lalu mengeluarkan pistol di balik jaketnya dan melepaskan tembakan rambang.
Ketiga-tiga lelaki yang menyerang Halilintar tadi bertempiaran lari masuk ke sebuah Hilux yang sedia menunggu mereka di tepi jalan.
Halilintar yang melihat kejadian itu tercengang. Dia hanya duduk diam di aspal sebelum ditegur oleh Blaze.
"Bagaimana keadaanmu?" soal Blaze sambil menarik lengan Halilintar untuk bangun.
Pertanyaan Blaze hanya dijawab dengan kerutan di dahi. Seluruh badannya sakit setelah bergelut dengan kumpulan tadi. Tubuhnya calar dan lebam-lebam namun tidak luka serius. Sejujurnya agak sukar untuk menewaskan ketiga lelaki bersenjata tadi dalam keadaan tidak bersedia.
"Bisa bawa motor?" soal Blaze lagi.
Dia menarik Halilintar ke tepi jalan untuk mengangkat sepeda motor lelaki itu yang sudah tumbang.
"Aku ingin ke rumahmu. Tapi di jalan mereka halang dan menyerang. Sebenarnya mereka ingin membawaku ke tempat lain tapi aku melawan," cerita Halilintar. Bibirnya luka-luka.
"Aku hantar ke klinik."
Blaze memandang Halilintar. Bingung. Kenapa pula dia yang diserang?
Halilintar menepis.
"Gak usah. Sikit aja," balas Halilintar dingin. Jujur, dia gementar dan segan. Karena mungkin Blaze sudah menyelamatkan nyawanya tadi.
Blaze tidak membantah namun kasihan melihat Halilintar. Walaupun dia tahu Halilintar tidak suka padanya namun dalam keadaan seperti ini mereka harus akur sebagai satu pasukan.
"Kau itu mau ke mana?" soal Halilintar sambil memandang Blaze yang berbalut perban yang berdarah di kepala. Dalam keadaan seperti itu dia heran karena Blaze masih kuat ingin ke mana-mana.
"Erm, ke kedai," jawab Blaze sebelum termenung jauh. Dengan Halilintar juga dia tidak berani berterus terang. Nanti diberitahu sama Air pula.
"Bisa aku tanya?"
Blaze memandang ke arah kebun karet yang masih basah. Dia tahu apa yang ingin disoal Halilintar. Tetapi dia juga malas untuk menjawab. Itu rahasia dia.
"Hal barusan habis di sini aja," ujar Blaze.
Dia berharap Halilintar paham. Dia tidak mahu menjelaskan dari mana dia mendapatkan pistol.
"Kerjamu apa sih?"
Blaze membalas dengan senyuman pahit.
"Aku hantar kau ke rumah."
"Tadi kau bilang ingin ke kedai," sangkal Halilintar.
Bermengkal hatinya apabila pertanyaannya sengaja ingin dielak Blaze. Lelaki itu punya banyak rahasia yang disembunyikan.
"Kalau sudah begini jadinya, lebih baik kuhantar kau pulang. Lain kali mau ke mana-mana hati-hati. Mesti berdua, kalau berlaku apa-apa gak sukar untuk mendapatkan bantuan," pesan Blaze.
Halilintar ikut sahaja. Kalau Blaze tidak mahu menjawab pertanyaannya, dia tidak kuasa memaksa. Tetapi jauh dalam hati, dia terhutang budi pada Blaze. Lalu ditunggang sepeda motornya perlahan-lahan kembali ke rumah.
Di dalam mobil, Blaze pula berpikir. Dia sadar, semua itu pasti kerjanya Gempa yang ingin membalas dendam disebabkan hal malam tadi. Dia mula sesak mengkhawatirkan keselamatan semua orang.
.
.
.
.
Iwan dan Air kaget melihat kehadiran Halilintar yang menaiki speda motornya dengan penuh luka-luka.
"Orang yang sama?" soal Iwan.
Blaze yang baru tiba duduk di tepi pintu sambil menguping. Bimbang kalau sampai Halilintar membuka mulut soal tembakan yang dilepasnya tadi. Dia mula menyesal namun cara itulah yang dipikirkan paling mudah.
"Ku rasa iya," jawab Halilintar.
"Polisi," ujar Air sebaik melihat sebuah mobil peronda polisi masuk ke halaman rumah mereka.
Dia terus berdiri. Yang lain hanya memandang. Dibiarkan sahaja Air turun menyambut dua orang polisi itu. Selepas berbicara beberapa menit, mereka mula beredar.
"Mereka bilang, ada penduduk melapor bahawa ada terdengar bunyi tembakan di kebun karet. Dia tanya apa kita juga mendengarnya?" cerita Air sebaik sahaja berdiri semula di atas pelantar.
Blaze meneguk ludah. Matanya berkelip. Dia diam sahaja, harap Halilintar juga begitu.
"Gak ada," ujar Halilintar.
Diam-diam Blaze menarik napas lega. Kemudian dia bangkit berdiri tetapi legannya dipegang Air.
"Kakak mau ke mana lagi?"
"Mau ke kedai, tadi gak sempat," dalih Blaze lagi.
"Gak usahlah. Kak Api lagi sakit. Biar aku pergi sama Iwan," ujar Air tersenyum.
Blaze menarik napas. Dihulur juga beberapa lembar uwang untuk berbelanja. Tidak lama kemudian, sepeda motor Iwan menghilang dari pandangan.
.
.
.
.
.
Suharto melangkah dengan tenang. Di tangannya ada sekantong plastik berisi nasi campur dan es kopi. Selain itu ada juga dua botol kecil air mineral dan sebungkus apel. Semuanya dibeli untuk Taufan supaya lelaki itu cepat sembuh. Lagi pula Blaze sudah mengirimkannya sejumlah uang yang berbaki masih banyak.
Sebaik tiba di rumah kayu itu, Suharto terus masuk ke kamar yang menempatkan Taufan. Dua orang anggota kumpulannya yang disuruh menjaga Taufan sedang rancak mengobrol.
"Taufan, kubelikan nasi untukmu," tegur Suharto apabila melihat Taufan sudah bangun.
Nasi dan semua barang yang dibawa diletakkan sahaja di atas meja kecil di sisi kasur. Dia lalu menarik sebuah kursi lalu duduk mengadap Taufan yang masih lemah.
"Blaze ada menghubungimu?" soal Taufan sambil bangun dan duduk bersandar di dinding.
Suharto terus menggeleng.
"Paling akhir, beberapa hari yang lalu. Dia menyuruhku mencari rumah kontrakan yang berhampiran sekolah."
Taufan mengelipkan mata berkali-kali.
"Memangnya dia mahu ngapain?"
"Entahlah," jawab Suharto sambil mengangkat bahu.
Sesungguhnya permintaan Blaze itu menimbulkan rasa aneh. Bunyinya seperti Blaze mempunyai rencana yang baru.
"Terus? Sudah dapat atau belum?" soal Taufan sambil merenung wajah lelaki itu.
"Belum. Aku masih berusaha. Jadi sekarang apa rencanamu?" balas Suharto.
Belum sempat Taufan menjawab, pintu kamar didobrak dari luar. Kaizo dan Ejo Jo menyerbu masuk sambil mengacukan pistol ke arah Suharto dan Taufan.
Suharto tidak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya dapat melihat Taufan diheret pergi. Dia tahu dia sendiri dalam bahaya. Dia terus mencoba untuk menghubungi Blaze, tetapi lelaki itu tidak berhasil dihubungi. Dia lantas menghubungi Ochobot.
Hanya Ochobot yang bisa mengawasi Taufan dari dekat.
.
.
.
.
Satu jam berlalu, Suharto sudah kembali ke kelabnya. Di tingkat atas dia duduk di dalam sebuah kamar. Agus turut berada di situ.
"Taufan sudah baikan?" tanya Agus.
"Terlambat, mereka sudah mengheretnya kembali," balas Suharto.
"Apa yang ingin mereka lakukan?" tanya Agus.
Dia tahu, segalanya tidak akan terhenti di situ sahaja. Pasti Fang sudah mengamuk karena dia telah menyembunyikan Taufan. Malah mungkin dituduh bersubahat atas kehilangan Blaze.
"Aku percaya mereka akan datang ke sana sebagai hukuman. Lebih baik kelab ini ditutup buat beberapa hari akan datang," ujar Suharto.
Suharto memandang Agus. Dia menarik napas dalam-dalam. Kalau Blaze ada, mungkin hal itu dapat diselesaikan dengan cara yang lebih baik. Selama ini juga Blaze yang membantu mereka kalau kumpulan mereka digertak Kumpulan Wun Tai yang angkuh. Apatah lagi, Taufan sekarang cedera. Dia yakin tanpa Blaze dan Taufan, Ejo Jo pasti merasa senang bisa menguasai kumpulan itu dan bertambah angkuh.
"Desak Blaze pulang," cadang Agus.
"Kalau memang dia mahu, sudah lama dia pulang," balas Suharto.
Dia pasti Blaze sedang berdepan dengan urusan lain. Kalau tidak, untuk apa dia menyerahkan Taufan ke tangannya dan hilang begitu aja.
"Terus? Kita mahu apa sekarang?"
"Kumpulkan anggota kita."
Suharto perlu mengatur anggota kumpulannya semula. Nampaknya tidak ada jalan lain selain harus membela diri sendiri.
Baru sahaja dia bangkit dari kursi, kedengaran bunyi berisik di tingkat bawah. Teriakan gadis-gadis pelayan tenggelam dalam bunyi tembakan rambang yang dilepaskan beberapa kali.
Agus dan Suharto serempak keluar lalu turun ke bawah untuk melihat apa yang berlaku, namun sempat berundur.
"Wun Tai!" seru Agus separuh berbisik.
Seterusnya mereka meluru keluar melalui tangga di belakang bangunan. Sebaik sahaja kaki mereka menginjak tanah, mereka terus memecut ke dalam mobil Agus lalu meninggalkan tempat itu.
Suharto sempat melihat anggota kumpulannya bertempur dengan anggota Wun Tai. Kelabnya hampir musnah. Kursi meja dibalikkan. Rasa amarahnya kepada Fang bertambah.
.
.
.
.
Hampir jam 12.30 tengah hari, Tok Aba tiba semula di rumah Blaze. Dilihatnya Halilintar sudah ada di situ.
"Kenapa denganmu, Halilintar?"
Sudah diagak itu yang bakal ditanya.
Sebaik sahaja Tok Aba duduk bersila, Halilintar menceritakan apa yang berlaku. Kemudian Tok Aba terdiam lama.
"Kurasa elok kita lebih berhati-hati sekarang. Kalau kakek ingin ke mana-mana, harus ada orang yang temankan," ujar Blaze.
Dia lebih khawatir pada Tok Aba karena orang tua itu sudah sedia tidak sehat.
"Kakek bukannya anak kecil. Kalau mereka serang kakek, tahulah kakek mahu buat apa," balas Tok Aba sambil tersenyum.
"Tapi aneh juga. Kenapa Halilintar yang diserang? Apa sih yang mereka mau?" soal Tok Aba kemudian, heran.
Blaze tidak menjawab. Dia hanya melemparkan pandangan ke arah jalan raya. Dia harap Tok Aba paham situasi yang berlaku. Tetapi kalau Tok Aba berharap dia berasa menyesal karena telah menyerang Gempa tadi malam, pria tua itu salah. Dia tidak menyesal sedikitpun. Cuma dia sedikit sebanyak makin khawatir akan keselamatan orang lain.
"Sudah pikir tentang rencananya?" soal Tok Aba. Wajah Blaze ditatap seketika.
Blaze mengangguk.
"Kita bukannya ramai, kek. Lebih sulit. Tapi kalau kita dapat melarikan tombak bertiga itu, masih ada harapan untuk menyelamatkan ibuku," ujar Blaze.
Dia teringatkan Taufan yang tidak dapat membantunya.
"Kakek juga berpikiran sedemikian. Walau apapun, lembing-lembing itu harus dibuang ke laut dahulu. Dengan begitu, ibumu sudah tidak dalam bahaya lagi."
"Jadi apa rencananya?"
"Kita berpencar kepada dua kumpulan. Satu kumpulan harus mengawasi Batu Rintis. Satu lagi mengawasi orang-orang yang akan mengalihkan tombak bertiga. Mereka pasti datang untuk menghantar lembing-lembing itu. Kita lakukan serang hendap dan rampas tiga tombak itu," ujar Blaze bersemangat.
Dia memandang satu per satu wajah di situ. Masing-masing tampak runsing. Namun dia tidak peduli. Walaupun hanya dia seorang, dia tetap akan merampas tombak bertiga itu.
"Biar kakek dan Air berjaga di Batu Rintis. Yang lain ikut Api. Kita belum tahu berapa ramainya mereka," ujar Halilintar.
"Seorang harus mengurus perahu untuk ke muara. Sudah dapat tombak bertiga maka harus pergi ke muara secepat mungkin," celah Tok Aba.
"Hmm..itu mungkin bisa dilakukan Ying. Dia tahu sedikit sebanyak soal perahu," ujar Halilintar.
"Kalau begitu, Yaya dan Ying harus menunggu di dermaga. Iwan dan Halilintar ikut Api. Kita harap rencana kita berjaya tapi.." ujar Tok Aba tanpa menghabiskan kata-katanya.
"Tapi?" soal Blaze memandang wajah Tok Aba yang tampak khawatir.
"Mengikut cerita yang kakek dengar, bermula senja nanti kawasan itu akan hilang."
"Hilang?" tanya Halilintar.
"Pada masa itulah kuasa puaka itu paling ampuh. Akan dihijab kawasan itu agar gak ada orang lain yang bisa masuk," jawab Tok Aba.
Mereka semua terdiam.
"Kakek punya jalan untuk membukanya?" soal Blaze akhirnya.
Tok Aba tidak terus menjawab, malah tampak muram. Blaze mula merasa susah hati.
"Kakek bisa mencobanya," balas Tok Aba melihat wajah Blaze yang merayu-rayu.
"Kapan mereka mula datang?" tanya Blaze.
"Kakek rasa, selepas Maghrib. Tapi kita harus tunggu lebih awal karena kita juga tidak tahu dengan tepat jam berapa mereka akan tiba. Cuma yang kakek tahu, upacara itu bakal dilaksanakan menjelang tengah malam," ujar Tok Aba.
Dia merenung lama wajah Blaze.
"Jangan lupa hafal ayat-ayat itu," sambung Tok Aba.
Baru Blaze hendak membuka mulut, kelihatan Yaya meluru masuk ke halaman rumah berteriak memanggil Tok Aba.
"Kenapa?" soal Tok Aba setelah sampai di pintu. Blaze dan Halilintar turut menerpa ke pintu masuk.
"Hah..Hah..Ahir..Air diculik. Iwan..hah..dia diphukul," khabar Yaya dengan wajah merah tercungap-cungap di ambang pintu setelah penat berlari.
Blaze menumbuk dinding rumahnya sekuat hati sebaik sahaja mendengar kata-kata itu.
TBC
