Gempa baru sahaja selesai mengilatkan parang sewaktu menerima panggilan telepon daripada Joko.

"Sudah cukup, bos."

"Bagus. Bawa ke Batu Rintis sebaik hari mula gelap. Jangan berlambat-lambat, kalau tidak ketemu jalan masuk, cari perigi lama. Kelilingi dirimu tiga kali melawan arah jam. Minta ijin daripada penunggunya dahulu," arah Gempa.

Joko terdiam lama.

"Satu perkara lagi, mereka jangan diapa-apakan. Kalau sudah tidak bernyawa, mereka tidak ada gunanya lagi. Kusembelih kau pula sebagai ganti!" tokok Gempa.

Gempa merenung parang yang sudah berkilat di tangan. Tidak sabar lagi untuk memenggal kepala mereka satu per satu. Puaka itu sudah kehausan darah lagi. Darahnya sendiri sudah tidak cukup. Dia sendiri mahu bebas dari semua itu secepat mungkin.

"Baik, bos."

"Kepala yang lagi satu itu bagaimana? Sudah dapat atau belum?"

"Belum lagi, bos."

Gempa mendengus. Sakit hatinya bertambah.

"Aku mahu tukar rencana. Kau jangan bunuh dia. Aku mahu dia lihat sendiri bagaimana ibu dan adiknya disembelih nanti."

Joko tidak menjawab lagi. Gempa pula tertawa puas seorang diri. Baginya, lebih asik begitu. Biar lelaki itu menyesal karena mencoba untuk menantang seorang Gempa.

.

.

.

.

Blaze dan yang lain-lain berkejar ke rumah sakit mencari Iwan. Iwan sudah sadar namun luka di mana-mana tubuhnya. Nampaknya mereka benar-benar ingin mencelakai teman-teman Blaze supaya dia berundur. Namun, mujurlah Iwan sempat mempertahankan diri dan kecederaannya tidak terlalu parah. Blaze merasa amat bersalah dan benar-benar simpati.

"Iwan," tegur Blaze.

"Aku sudah memberitahu ke polisi, tapi maafkan aku. Air sudah lolos ke tangan mereka," bisik Iwan. Dia menatap Blaze dengan sendu.

Sejujurnya dia merasa amat bersalah pada Blaze karena gagal menyelamatkan Air.

"Aku tahu, bukan salahmu juga."

Blaze mengangguk-angguk. Dia juga sadar akan kehadiran dua anggota polisi di berada tidak jauh dari ruang itu. Ah, sudah pasti dia juga akan dipanggil untuk siasatan.

"Siapa yang menangkap Air?" tanya Blaze.

Iwan mengeleng-geleng, "Gak kenal. Sepertinya orang luar."

Blaze dan lain-lain berpandangan.

"Kalian jangan khawatir. Malam ini aku akan tetap mengikuti kalian," ujar Iwan.

"Tapi sebahagian rencananya harus kuubah. Yaya dan Ying akan mengawasi keadaan di Batu Rintis bersama Tok Aba. Kamu ada kenal siapa-siapa yang bisa mengendali perahu?" tanya Blaze.

"Jangan khawatir, hal itu akan kuuruskan," balas Iwan.

Blaze tersenyum lega. Mereka harus menunggu sehingga urusan Iwan dikeluarkan dari rumah sakit selesai.

Selepas itu mereka harus ke kantor polisi pula. Di sana, Blaze berulang kali disoal siasat karena kasus penculikan ibu dan adiknya bertambah rumit. Tanpa apa-apa tuntutan, kasus disiasat berdasarkan motif lain. Apatah lagi berkait dengan kematian ayahnya juga. Namun, Blaze dan Tok Aba tetap menutup mulut dan menjawab sekedarnya sahaja.

"Bapak sudah memeriksa sebelah hulu sungai? Bagaimana dengan kawasan Batu Rintis?" soal Blaze.

Dia sengaja menyentuh hal itu sebelum beredar.

Tok Aba menjeling.

"Jalannya gak ada, bagaimana bisa kami masuk? tempat itu sudah jadi hutan tebal. Sudah dibawa Unit K9 tapi tidak berhasil menemukan apa-apa. Anjing-anjing semua lari naik ke jip semula. Mungkin ada harimau," balas salah seorang anggota polisi.

Blaze mengangguk sahaja. Jadi benarlah apa yang diceritakan Tok Aba. Tempat itu dipagari oleh satu kuasa ghaib. Kawasan itu akan kelihatan seperti tidak pernah disentuh beratus tahun.

Selepas meninggalkan kantor polisi, Blaze kembali ke dalam mobil menuju ke kota. Dia yakin pihak polisi akan menjalankan mengikut prosedur, manakala dia pula akan berusaha meyelamatkan ibu dan adiknya dengan caranya sendiri. Apa yang penting, keluarganya harus selamat.

"Ada apa-apa yang Api ingin ceritakan pada kakek?"

Mata Blaze menunjukkan reaksi terkesiap. Memang dia menaruh hutang pada pria tua itu. Hutang cerita. Selepas kejadian Taufan ditembak di kebun tempoh hari, dia berusaha mengelak untuk berterus-terang pada lelaki tua itu. Daripada reaksi Tok Aba yang tampak bersikap biasa sahaja, dia pikir pria tua itu sudah melupakan hal itu terus. Ternyata tidak.

"Temanmu itu bagaimana?" soal Tok Aba tiba-tiba.

Blaze meneguk ludah. Dia merasa pahit. Serba salah dibuatnya.

"Kakek tidak mahu tahu apa yang kamu lakukan sebelum ini. Tapi kalau kamu rasa semua itu tidak benar, bertaubatlah. Setiap apa yang berlaku itu tidak berlaku tanpa adanya hikmah. Hal itu hanya Tuhan yang tahu. Namun Tuhan memberi peluang kepada manusia untuk berubah," nasehat Tok Aba.

Blaze hanya terdaya untuk mengangguk. Kata-kata itu cukup terkesan di hatinya. Memang sekarang dia sadar, dia banyak berbuat dosa. Pernah terlintas di pikirannya bahawa dia sedang menerima balasannya sekarang. Dia mengambil nyawa orang tua orang lain, maka sekarang orang lain mahu mengambil nyawa orang tuanya serta adiknya pula. Sejujurnya itulah kenyataan pahit yang harus dia jalani. Andai saja masa dapat diulang kembali, namun sampai kapan pun tidak bisa.

Pertanyaan Tok Aba dibiarkan tidak berjawab. Dia belum bersiap untuk menceritakan apa-apa.

.

.

.

.

Selepas mengeluarkan sejumlah wang di bank, mereka menuju ke waterfront untuk mendapatkan perahu untuk Iwan.

Di waterfont, Iwan sudah terlebih dahulu menunggu dengan dua orang temannya. Blaze coba bersikap biasa.

"Yang itu bisa nggak?" tunjuk Iwan ke arah sebuah perahu berukuran sederhana berwarna biru-merah. Besarnya bisa memuatkan tujuh orang.

Blaze dan Tok Aba mengangguk.

"Perahu itu biasa ke muara, bukan? Biasanya digunakan untuk menangkap ikan bagi nelayan-nelayan kecil," balas Tok Aba.

"Iya," balas Iwan.

Blaze dan Tok Aba memandang ke arah perahu yang tertambat di dermaga. Ada tiga perahu lagi di situ pelbagai ukuran dan warna.

Blaze menghulurkan RM1000 ke tangan Iwan.

"Selebihnya simpan aja untuk kalian sebagai upah," ujar Blaze.

Uluran uang itu disambut Iwan dengan senang hati.

"Kalian tunggu di dermaga yang di ujung desa. Tunggu sehingga Api datang membaa tombak itu. Selepas itu, terus bergerak ke muara. Hati-hati, air pasang malam ini," terang Tok Aba setelah mereka selesai berbincang dan melunaskan harga kontrakan perahu.

Iwan mengangguk paham. Setelah itu, mereka berpisah arah. Di dalam mobil, Tok Aba dan Blaze tidak banyak bicara. Masing-masing lebih banyak berpikir.

"Orang kita makin sedikit. Biar kakek ikut kamu aja," ujar Tok Aba.

Blaze cepat-cepat menggeleng.

"Kakek perlu mengawasi Batu Rintis. Kalau kami gagal, hubungi polisi. Kalau nampak apa-apapun terus sahaja hubungi pihak polisi," balas Blaze.

Dia tahu keadaan sudah makin rumit. Entah mereka mampu atau tidak, dia benar-benar tidak pasti. Dia yakin, Gempa tidak akan memberi tantangan yang mudah. Dalam diam, dia memasang rencana yang lain.

.

.

.

.

Air baru sadar dari pingsan. Sebaik sahaja membuka mata, dia terlihat sosok ibunya yang diikat pada tiang rumah. Matanya membesar. Dia tidak pasti apa ibunya hidup lagi atau tidak. Sepertinya Ibu hanya tidak sadarkan diri. Namun, dia berasa gembira karena setidak-tidaknya dia dapat menjumpai ibunya semula walaupun dalam keadaan seperti itu. Dia juga yakin Blaze akan mencari mereka berdua sedaya upaya.

Mata Air memerhati sekelilingnya dengan teliti. Keadaan senyap sunyi. Kamar itu terkesan suram karena semua jendela ditutup rapat. Hanya kelihatan cahaya terang yang mencuri masuk melalui lobang-lobang kecil di dinding berkayu. Bermakna hari masih siang.

Hawa panas yang terasa dari atap di atas kepalanya juga memberi petanda bahawa waktunya belum lagi sampai ke sore. Air yakin mereka berdua ditahan dalam sebuah rumah kosong kerena melihat dinding kayu yang mulai mereput dimamah anai-anai.

"Ibu! Ibu!"

Air memanggil ibunya berkali-kali dengan hharapan ibunya sadar akan kehadirannya di situ. Dia menarik-narik tangannya yang diikat kuat pada sebuah meja kayu namun geseran pada permukaan kayu itu menyebabkan kulitnya teriiris pedih dan mengeluarkan darah.

Kakinya menghantak lantai bagi menghasilkan bunyi. Namun setelah itu pintu kamar terbuka dan menampakkan seorang lelaki berwajah bengis.

"Hey! Berisik tahu!"

Joko menempelak pipi Air. Kemudian dia dibalas dengan terjangan kaki oleh Air.

"Lepasin kami!" teriak Air.

"Tidak!" balas Joko lalu menghadiahkan sebuah tendangan di kaki Air.

Air pula terus melawan dan semakin sukar dikawal apabila dia terus menendang secara rambang.

Namun, perlakuan Air hanya membangkitkan kemarahan Joko. Tanpa berpikir panjang, dia terus menumbuk kepala Air hingga senyap. Hanya selepas Air tidak sadarkan diri, dia meninggalkan kamar itu. Kalau bukan karena upah yang telah diambil, mahu sahaja dia membunuh dua tawanan yang merepotkan itu.

.

.

.

.

"Mana sih jalan masuknya?"

Blaze ke hulu hilir di tempat yang sama. Tetapi jalan masuk yang yang pernah dilalui beberapa kali dengan Tok Aba dahulu sudah seperti tidak wujud lagi. Akhirnya dia hanya termenung di dalam mobil. Dia benar-benar tidak puas hati. Rasa amarahnya sudah memuncak hingga ke kepala.

Setelah bosan berada di situ, dia meninggalkan tempat itu. Kalau sudah begitu permainan Gempa dan puaka itu, dia tidak akan memberi tantangan yang mudah. Di tepi jalan, dia menelepon seseorang.

"To, Taufan ada nggak?"

Blaze menghubungi Suharto sambil duduk di dalam mobil. Lesu jiwanya memenadang hutan belantara di hadapan mata.

"Sudah puas kucoba menghubungimu."

Mata Blaze terkelip-kelip. Jawapan Suharto membuat dia berdebar-debar.

"Ada apa?"

"Baru sebentar orang Fang datang. Mereka bawa Taufan pergi."

"Apa? Ke mana?"

"Ke gudang lama itulah. Dan tadi mereka semua menyerang kelabku. Musnah habis."

Blaze menarik napas. Nampaknya keadaan di sana sudah bertambah rumit. Dia sadar nyawa Suharto dan Taufan dalam bahaya namun dia belum bisa pulang.

"Apa Taufan ada menghubungimu sebelum itu?"

"Tidak ada. Sekarang kita harus berbuat apa?"

Blaze mengurut kepalanya yang dibasahi keringat. Masalah sudah berganda. Dia perlu memilih antara dua.

"Begini aja dulu. Tunggu aku kembali. Akan kubincang sama Fang nanti. Tapi sebelum itu, aku butuh pertolonganmu."

Blaze menolak ke tepi dahulu soal Taufan. Tidak apalah jika Taufan tidak dapat membantunya.

"Pertolongan?"

"Aku butuh orang. Tapi kamu harus memilih orang yang paling kamu percaya. Akan kubayar berapa banyak yang mereka mahu."

Blaze tidak punya pilihan. Dia sendiri kurang percaya pada Halilintar dan Iwan. Kesehatannya juga belum benar-benar pulih.

"Kapan?"

"Malam ini."

"Kamu ingin menyerang Fang?"

"Bukan. Ini urusan lain," balas Blaze.

Dia tahu Suharto tidak tahu apa-apa.

"Tunggu sebentar."

Perbualan mereka tamat di situ. Dia berharap Suharto dapat menghantar sekurang-kurangnya tiga orang untuk membantu dia menguatkan kumpulan. Setengah jam kemudian Suharto meneleponnya semula.

"Hal Taufan akan kuuruskan kemudian," ujar Blaze setelah persetujuan telah dicapai.

Dia tidak akan membiarkan Taufan dan Suharto begitu aja. Dia akan mencari Fang setelah hal di desa selesai. Dia tahu bahawa semua itu hanya helah Fang agar dia kembali menyerah diri.

Dari arah kebun karet, dia menuju ke ujung desa. Dia ingin ke suatu tempat. Mobilnya dihentikan berdekatan dengan pohon balau. Tanpa berlengah, dia membuka pintu lalu menghirup udara sore yang segar. Dia sudah teramat kangen sama pria itu. Dia amat berharap lelaki itu dapat membantunya.

Dia sadar, dalam beberapa jam lagi dia bakal berdepan dengan cabaran yang sangat getir. Apa dia mampu? Apa semuanya akan berakhir baik-baik sahaja? Dia benar-benar tidak tahu. Hakikatnya semua yang telah berlaku dalam beberapa hari yang lalu benar-benar menguji kesabaran dan kewarasannya sebagai seorang manusia.

Sedang termenung panjang, ponselnya bergetar.

"Kamu sama Iwan tunggu di jalan masuk ke Batu Rintis. Hanya saja kalau kalian ketemu sama jalan masuknya. Tadi aku ke situ namun tidak bisa melihat apa-apa," ujar Blaze melalui talian.

Dia melemparkan pandangan ke arah Sungai Rintis. Hatinya tenang sewaktu melihbat arus sungai yang terus mengalir laju tanpa menghiraukan apa-apa halangan. Kini dia mengerti, semangat biarlah seperti air yang mengalir dari gunung ke lembah. Tidak dapat alur, dicarinya celah. Mara terus mara demi mendapatkan sesuatu yang benar.

"Jam berapa kau datang?" tanya Halilintar di talian.

"Insya-Allah, mungkin selepas Isyak. Aku mahu ke rumah kakek dahulu. Apa-apa nanti kuhubungi kalian," ujar Blaze sebelum memutuskan talian.

Dia menyimpan ponsel ke dalam sakunya semula. Dia sadar, sejak dia pulang ke situ dia sudah kenal apa itu Subuh dan Isyak. Bukan sekadar siang dan malam seperti dahulu. Sudah tahu menyebut alhamdulillah dan astaghfirullah. Sudah tahu berserah. Sudah tahu berharap. Dia terasa seperti sudah kembali ke dunia nyata. Dia telah mula menemui dunianya yang pernah hilang sepuluh tahun lamanya.

Namun untuk malam ini, dia berharap kemenangan akan berpihak padanya dan kumpulannya. Dia yakin Allah akan membantunya.

Setelah puas berada di situ berpikir dan merenung, dengan berat hati Blaze pulang ke rumah ibunya untuk mandi dan bersiap-siap. Sempat juga dia membuka semula lembaran demi lembaran dalam buku ayahnya. Menghafal apa yang masih terlupa, mengingat apa yang ada. Ke mana pun dia memandang, dia terlihat bayangan ibu dan adiknya. Matanya bergenang.

Dia merenung matahari yang mula hilang di balik pucuk pohon ara. Masanya makin dekat.

.

.

.

.

Di rumah Pak Adu Du, suasana begitu sibuk. Masih ramai orang di rumahnya karena masa yang ditunggu-tunggu hampir tiba. Ada yang sibuk memunggah barang untuk dibaa ke perigi lama, ada yang sibuk memasak di dapur dan ada yang sekedar bekumpul sambil mengobrol di bawah kemah.

Boboibot terpinga-pinga sebaik saja menjejak kaki di halaman rumah. Suasana di situ sangat sesak dengan pelbagai orang. Rumah pamannya dihias cantik dengan jalur-jalur kain yang berwarna kuning keemasan dari ruang tamu hinggalah ke kamar tidur.

Apa yang membuatnya gugup ialah saat kehadirannya menarik perhatian semua yang ada di situ. Setiap pasang mata yang ada memandang dia dari atas hingga ke bawah.

"Semua ini untuk meraikan pelantikanmu sebagai kepala desa yang baru. Semua orang senang melihat kamu menjadi ketua mereka," ujar Pak Adu Du tersenyum bangga.

"Sampai begini sekali, paman?" soal Boboibot membulatkan matanya.

"Iyalah. Sekarang, gak usah dipikirin apa-apa. Kamu ikut aja arahan paman. Bersiap-siap dan pakai pakaian yang disiapkan di dalam kamarmu. Jam 6.30 kita berangkat."

"Ke mana?" soal Boboibot.

"Sebentar lagi kita akan ke perigi lama," jawab Pak Adu Du.

"Kita mahu apa di situ?"

"Ikut aja. Kamu gak akan diapa-apakan, kok. Lihat mereka semua begitu suka akan kamu sejak dicalon menjadi kepala desa," ujar Pak Adu Du sambil menunjuk ke arah sekumpulan penduduk desa yang tertunduk-tunduk memberi hormat pada calon kepala desa.

Tidak sanggup bertanya lagi, akhirnya sang keponakan hanya akur lalu mengikut sahaja paman dan dirinya yang dibawa menaiki mobil ke perigi lama.

.

.

.

.

Senja mula berlabuh. Langit bertukar oranye pekat. Kawasan sekitar perigi lama berhampiran Batu Rintis hanya diterangi lampu yang dihidupkan dengan menggunakan tiga buah generator.

Sebuah ancak yang terdiri daripada senampan bertih dan dan seekor ayam panggang diletakkan di atas batang pisang sepanjang setengah meter. Terdapat juga semangkuk darah ayam hutan bersamanya. Semua itu menanti untuk dihanyutkan ke sungai apabila upacara itu selesai dijalankan.

"Kita mulakan sekarang," arah Pak Adu Du selaku ketua antara semua yang ada di situ.

Upacara mandi bunga dan tebus dosa dijalankan oleh beberapa orang tua di situ. Air perigi yang dingin bercampur bunga-bunga dan akar tumbuhan hutan disimbah hingga membasahi keseluruhan tubuh calon kepala desa. Setelah selesai, Boboibot dibalut dengan kain batik tujuh warna lalu dibawa pula untuk upacara tebus dosa di mana dia ditimbang beratnya dengan sebuah alat penimbang. Selepas beratnya diperoleh lalu disediakan pulut kuning seberat yang sama untuk dihumban ke dalam perigi itu setelah dibaca sekalian mantera. Kemudian, mulut perigi itu ditutup dengan beberapa pelepah daun pisang. Maka tamatlah kedua-dua upacara. Yang tinggal hanyalah upacara penghabisan iaitu menghanyutkan ancak ke tengah sungai sebelum adat pelantikan bermula.

Mereka semua beralih ke pinggir sungai. Ancak dihanyutka sambil dibacakan jampi serapah. Bunga-bunga pula ditabur di sepanjang laluan untuk meraikan Boboibot yang kini sudah bersedia untuk ndilantik sebagai kepala desa yang baru.

Pak Adu Du melihat dengan seyuman penuh bangga. Terbayang-bayang kedudukan dan kesenangan yang bakal diperoleh pewarisnya untuk beberapa tahun akan datang. Namun setelah bunga ditabur, angin bertiup kuat hingga menerbangkan apa sahaja yang di situ. Lalu muncul sesosok tubuh hitam setinggi pohon di hadapan mereka.

Keadaan di situ bertukar heboh. Pak Adu Du dibantu oleh Pak Probe segera membawa masuk Boboibot ke dalam mobil. Sebaik pintu mobil ditutup rapat, dia terus mengarahkan supirnya meninggalkan kawasan itu. Yang lain turut beredar dari situ.

Di dalam mobil yang bergerak laju, ponsel Pak Adu Du berbunyi. Lalu dia mengangkat ponselnya dengan tangan yang terketar-ketar.

"Sudah selesai upacar itu?" tanya Gempa setelah panggilannya berjawab.

"Sudah, Pak."

Suara Pak Adu Du bergetar. Entah apa yang dilihatnya tadi, dia tidak tahu. Dia berharap benda itu tidak menganggunya.

"Datang ke tempatku jam 11.00 malam," perintah Gempa.

Pak Adu Du meneguk ludah. Dia tidak berani menoleh ke belakang lagi setelah terpandang cermin belakang.

.

.

.

.

Di pertengahan jalan ke Batu Rintis, Joko memberhentikan mobilnya di tengah jalan. Joko turun dari mobil lalu berdiri berkacak pinggang. Setahu dia itulah jalan yang menuju ke Batu Rintis namun sekarang jalan itu dilitupi kabut tebal sehingga menutup seluruh pemandangan di situ. Dia termenung sedetik lalu teringat pesan Gempa.

Lalu dia memandang ke serata arah. Akhirnya dia ternampak kain balutan berwarna kuning pada pohon karet yang menghala ke tepi sungai. Dia terus melangkah sehingga ternampak kesan tapak kaki walaupun tidak ada sesiapa di situ. Mungkin semuanya sudah pulang, pikirnya. Bunga-bunga bertaburan di atas tanah juga masih kelihatan segar dan elok bentuknya.

Kemudian Joko mengalihkan perhatiannya pada sebuah perigi lama yang dibalut dengan kain kuning keemasan. Dia lantas melakukan apa yang dipesan Gempa iaitu berpusing tiga kali melawan arah jam dan memninta izin pada penunggu tempat itu. Harapannya masalah itu selesai atau dia harus menelepon Gempa untuk menguruskannya.

Stelah itu dia berjalan semula ke arah mobil. Dan apa yang dilihat memang benaran terjadi. Kabut sudah semakin tipis dan akhirnya membuka laluan kepada sebuah jalan merah.

Kemudian Joko meneruskan perjalanan ke Batu Rintis. Sebaik sahaja mobilnya berhenti, pintu bangunan terbuka menampilkan Gempa yang berwajah serius.

"Bawa mereka masuk ke dalam," arah Gempa.

Dia melihat saja Joko mengheret dua orang yang diikat dengan susah payah.

"Hanya dua? Seorang lagi di mana?" soal Gempa kemudian.

"Belum dapat, bos," balas Joko gugup.

Dia memang mencoba mencari lelaki itu namun selalu gagal.

Gempa menarik napas panjang. Dia sudah muak dengan sikap Joko. Tetapi dia sudah tidak sempat berbuat apa-apa. Akhirnya dia membuat keputusan.

"Kamu tunggu di sini sehingga semuanya datang. Hanya selepas itu kamu bisa pulang."

Joko tidak membantah. Senang hatinya kerana kerjaannya di situ sudah selesai. Mujurlah bosnya itu tidak jadi marah.

"Tinggalkan," arah Gempa sebaik kedua tawanan dibawa masuk ke dalam bangunan.

Dia tidak akan membenarkan Joko masuk lebih jauh dari situ. Kedua tawanan itu tampak lemah walaupun masih bernyawa. Dia yakin kerja yang seterusnya akan berjalan lancar.

Tanpa menunggu lagi, Gempa menarik lengan Air.

Air tidak melawan walaupun pada mulanya tersentak. Dengan tangan yang diikat di belakang dan mulut yang ditampal pita pelekat, dia yakin Air tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi tubuh Air dipenuhi luka yang sudah mengering.

Setelah Air didirikan, Gempa menarik Air ke ruang yang kedua. Dari situ dia menarik Air masuk ke dalam Batu Rintis. Ditolak tubuh itu hingga masuk lebih dalam ke dalam gua sehingga tiba di tempat pemujaan. Langkahnya tidak terhenti di situ. Air diheret hingga ke tepi dinding gua. Dia memotong tali tebal yang mengikat kedua-dua tangan Air. Kedua tangan Air dipasung ke dinding gua dengan kalung besi yang sudah ada di situ sejak dahulu lagi. Setelah memastikan ikatan kalung itu benar-benar ketat, dia beredar untuk mengambil Ibu. Belum sempat jauh, tubuh Air melurut jatuh ke lantai gua namun dibiarkan sahaja.

Keduanya dipasung di situ sementara menanti masanya tiba. Gempa bersila dia atas batu, mebaca mantera dan menyeru sekalian kuasa ghaib untuk menghijab kawasan batu itu lebih rapat.

Sekarang yang tinggal hanya menunggu ketibaan ketiga-tiga tombak itu. Sejarah baru akan tercipta kapan pun. Lagi nyawa bakal melayang. Korban lama akan digantikan dengan korban baru.

TBC


Maaf updatenya makin telat. Musim kuliah sudah bermula.. :(

Tenang aja, ini hampir2 ke end. Tunggu ya.