Di kantor polisi, seorang lelaki sedang melapor ke pihak polisi. Dengan tangan yang terketar-ketar menyapu keringat yang mencurah deras, dia menceritakan soal kegiatan Gempa dan Rintis Holdings. Diceritakan juga tentang upacara korban yang akan dijalankan menjelang tengah malam itu. Dia sadar, dia tidak bisa hanya berdiam dan melihat sahaja upacara keji itu dijalankan. Dia merasa amat bersalah.
Keterangan pria itu didengar dengan saksama. Soal siasat mula dilakukan.
"Kami sudah pergi ke tempat itu namun tidak ada apa-apa. Yang ada hanyalah hutan tebal," ujar salah seorang polisi berpangkat Iptu.
Namanya Iptu Harun.
Ran mengeluh panjang. Dia sudah menjangka semua itu. Tipu helah iblis memang hebat buat mereka yang tidak tahu cara menentangnya.
"Bapak sudah mencari waris Bentara Angin? Mungkin mereka bisa membantu bapak."
"Waris Bentara Angin?"
"Iya, mereka yang selama ini berani menentang amalan sesat itu. Cuma usaha mereka tidak mudah."
"Siapa mereka? Di mana kami bisa mencari mereka?"
"Setahuku masih ramai yang tinggal di Desa Rintis. Salah sebuah keluarganya ialah keluarga almarhum Bakar yang ditembak hampir tiga minggu yang lalu. Bapak ingat kasus itu bukan? Selain itu bapak bisa cari seorang pria tua yang bernama Tok Aba. Mungkin mereka tahu bagaimana untuk melepasi kawasan Batu Rintis."
"Maksud bapak, keluarga almarhum Pak Bakar?"
Mereka di situ saling berpandangan dan merenung lama wajah masing-masing.
"Saya akan jadi saksi, kematian almarhum Pak Bakar itu memang angkara Gempa. Dia yang mengupah orang luar untuk menembak almarhum Pak Bakar karena almarhum coba menentang apa yang dia lakukan. Seminggu sebelum Pak Bakar ditembak, almarhum datang bertemu sama Gempa. Saya ada ketika itu."
Ran terbayang wajah pria tua yang mempunyai tutur kata yang keras namun tersusun rapi. Renungan matanya tajam.
Ketika itu pria tua itu datang ke Rintis Holdings untuk berbincang dengan Gempa, namun Gempa menolak. Tanpa disadari, Pak Bakar sanggup menunggu di luar bangunan kantor hingga jam kerja tamat.
"Aku tidak punya urusan denganmu," ujar Gempa.
Dia terus menyambung langkah ke mobil, meminggirkan Pak Bakar yang menunggunya lama di kawasan parkir.
"Siapa bilang kita tidak punya urusan?" balas Pak Bakar yang terus mengejar.
"Aku datang untuk memberimu amaran. Jikalau kamu terus membangkitkan puaka itu, nanti diganggunya semua penduduk desa. Hentikan perbuatan terkutuk warismu yang menyembah setan dan hal-hal yang khurafat. Itu semua syirik. Dan dosa syirik itu tidak akan diampuni Allah," sambung Pak Bakar dengan tegas.
Namun Gempa tidak peduli. Dia membuka pintu mobil dan terus masuk. Baginya, pria itu sudah tidak waras. Tanpa diduga pertemuan itu bertukar menjadi perbalahan.
Tidak tahan, Gempa keluar dari mobil dengan perasaan marah dan terhina.
"Diam kau, orang tua kurang siuman! Atau kuhajar kau! Pergi dari sini, aku tidak peduli apa urusanmu sama sekali!"
Keduanya bertumbuk dan berkelahi di parkir kereta, sehingga Ran terpaksa menenangkan keduanya.
Setelah keadaan kembali damai, Pak Bakar merenung tajam ke arah mobil yang beransur pergi. Sementara di dalam mobil, Gempa termenung dengan wajah masam.
"Siapa dia? Apa yang dia mahukan? Kalau kamu mahu, bisa kukeluarkan saman pada dia," tanya Ran pada Gempa.
"Saman? Tidak berguna menyaman orang miskin kayak dia. Dia lebih baik mati," balas Gempa geram tanpa menoleh pada temannya.
Pada awalnya Ran tidak terpikir temannya itu benar-benar akan membunuh pria tua itu. Mungkin Gempa sengaja berbicara melepaskan amarah. Ternyata jangkaannya salah. Seminggu setelah itu, dia terlihat Gempa ketawa mengakak semasa membaca satu laporan berita mengenai kasus tembakan di dalam koran.
"Kenapa kamuterus-terusan ketawa? Apa sih yang lucu?" soal Ran bingung, menyangka bosnya itu sudah kesurupan.
"Bhahahaha! Sekarang orang tua itu sudah mati! Dia patut tahu siapa aku!"
Gempa menunjukkan laporan yang sedang dibacanya dalam koran dengan sangat bangga. Gambar orang tua itu turut dimuatkan dalam laporan itu.
Ran mengerutkan dahi sebaik merenung paparan wajah itu.
"Loh? Ini kan bapak itu...yang pengen ketemu samamu tempoh hari?"
Gempa tersenyum lebar.
"Rasain! Waris Bentara Angin sentiasa merepotkan! Lebih baik hapus sahaja kesemuanya dari muka bumi."
"Apa hubungannya dia sama kamu? Aku masih belum mengerti."
Selama ini, Ran belum pernah terpikir kalau Gempa memang tega bertindak sekejam itu.
"Punya hubungan atau enggak, aku tidak peduli. Yang penting dia sudah tidak ada. Jadi sekarang tidak ada siapa-siapa pun yang akan datang ke sini lagi menghalang urusanku. Dia pikir cuma warisnya aja yang punya pendirian? Sok benar. Huh!"
Sekarang Ran lebih paham. Apabila dicantumkan segala cerita Gempa, cerita Tok Aba dan apa yang pernah menimpa dirinya, dia kini yakin bahawa dia memiliki sebab yang kukuh untuk tampil ke hadapan.
Dengan keterangan yang diberikan itu, siasatan diperluas. Sepasukan polisi terus dikejarkan ke Desa Rintis. Sepasukan lagi ke rumah Gempa. Namun, rumah itu kosong.
.
.
.
.
Jam 7 malam, Blaze menerima panggilan daripada Suharto bahawa tiga orang yang diminta Blaze sudah dihantar dan kini tiba di Kota Rintis. Blaze terus mencapai kunci mobil lalu menutup jendela dan pintu rumahnya.
"Oke, beritahu mereka supaya tunggu di waterfront. Kira-kira satu jam aku akan tiba di sana," ujar Blaze sebelum menutup talian.
Kemudian, dia menelepon Halilintar.
"Hali, aku akan datang menjemputmu sebentar lagi."
"Kita mau ke mana?" tanya Halilintar.
"Ikut aja."
Blaze terus meninggalkan rumah. Setelah menjemput Halilintar yang menunggu di jalan masuk ke desa, Halilintar terus berlari masuk ke dalam mobil Blaze. Mereka segera menuju ke Kota Rintis.
"Kita mau ke mana?" soal Halilintar lagi. Dia tetap kurang selesa mematuhi arahan Blaze. Dia lebih yakin kalau harus mematuhi arahan Tok Aba.
"Aku mau mengambil temanku. Nanti kamu bawa mereka ke tempat kita. Mereka akan bantu kita," balas Blaze. Dia tahu Halilintar masih tidak suka padanya.
"Teman? Apa hal-hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan mereka?" soal Halilintar jengkel. Tiba-tiba saja Blaze ingin melibatkan orang luar. Kalau nantinya sekadar menambah ribut, itu sama sahaja seperti menambah beban.
Blaze tidak membalas. Kemarahannya hanya akan membuka hal yang tidak-tidak. Dia yakin orang-orang Suharto lebih berandalan dan mahir berantem. Halilintar harus melihat sahaja sendiri nanti.
Setelah tiba di Kota Rintis, Halilintar tidak berkata apa-apa melihat tiga orang lelaki yang terlihat aneh sedang mengobrol di atas bangku menghadap waterfront. Salah seorangnya merenung tajam ke arah Halilintar. Namun, dia diam sahaja.
"Jangan keluar dulu, tunggu di sini," arah Blaze pada Halilintar yang ingin membuka pintu mobil.
Beruntung Halilintar tidak membantah. Blaze membuka pintu lalu meninggalkan Halilintar di dalam mobil. Dia harus menyelesaikan hal itu secepat mungkin.
"Ochobot," tegur Blaze sebaik mendekati salah seorang lelaki berambut pirang yang baru bangkit dari kursi.
"Blaze!" sahut Ochobot tersenyum sambil berjalan menghampiri Blaze. Dua orang yang selebihnya hanya membuntuti di belakang.
Blaze menerangkan rencananya malam itu pada Ochobot tanpa sebarang bantahan. Hal seperti itu bukan lagi hal yang luar biasa sesama mereka.
"Kamu harus ikut arahan temanku. Namanya Halilintar. Dia tahu di mana tempat untuk menyimpan mobil kalian. Selepas hal ini selesai, kumohon kalian pulang terus. Aku hantarkan bayarannya ke Suharto. Tapi kalian harus ingat satu perkara," terang Blaze.
Ochobot mengangguk paham.
"Teman-temanku di sini tidak tahu siapa aku. Malah tidak ada siapa-siapapun yang mengenaliku di sini. Kalau mereka bertanya, bilang aja kalian teman kerjaku. Jadi kuharap, kalian simpan rahsia ini baik-baik," sambung Blaze.
Kemudian dia memanggil Halilintar yang sedari tadi mengintai dengan penuh curiga di dalam mobil. Dia tahu Halilintar belum tahu dan sangat penasaran tentang rencananya yang sebenarnya.
"Halilintar, ini teman-temanku. Ini Ochobot, Solar dan itu Thorn. Mereka akan membantu kita malam ini. Kamu bisa bawa mereka ke sana. Sembunyikan mobil mereka," ujar Blaze.
Halilintar tidak bersuara namun di wajahnya tetap tergambar rasa tidak senang.
"Bawa aja mereka ke sana. Mereka sudah kuberitahu apa untuk dibuat," ujar Blaze lagi.
Dia tahu Halilintar masih wasangka tetapi dia juga tidak punya waktu untuk menceritakan apa-apa.
"Kamu mau ke mana?" tanya Halilintar setelah melihat Blaze langsung pergi dari situ.
Blaze menoleh lalu bersuara, "Aku mau ke rumah kakek sebentar. Selepas itu aku kembali. Iwan juga di sana, bukan?"
Halilintar mengangguk.
Mereka terus bergerak dengan dua buah mobil yang berasingan. Kali ini Halilintar ikut Ochobot.
.
.
.
.
Mata Iwan berkelip-kelip melihat tiga sosok lelaki asing yang datang mengikuti Halilintar. Seingatnya, dia memang tidak pernah mengenali mereka sebelum ini.
"Si pirang bermata biru itu Ochobot. Si hijau itu Thorn. Dan si pirang yang seorang lagi ini Solar," terang Halilintar memperkenalkan ketiga-tiga orang lelaki yang bersamanya.
Dia dapat membaca reaksi di wajah Iwan. Tentu saja, dia kaget sepertinya juga. Dia juga keliru dan tidak mengerti mengapa Blaze harus melibatkan orang lain ikut campur tangan. Apa Blaze tidak mempercayai keupayaan mereka berdua?
"Ini pula Iwan," ujar Halilintar memperkenalkan Iwan pada yang lain.
Iwan tetap menghulurkan senyuman walaupun terasa janggal melihat penampilan mereka yang aneh-aneh. Dia menyambut uluran tangan daripada Solar dan Ochobot yang berbalas senyum.
"Iwan, kamu harus tunggu di tempat yang kita rancang itu. Manakala aku akan membawa mereka ke jalan masuk ke Batu Rintis," ujar Halilintar.
"Ta-Tapi jalan itu sudah tertutup, Li. Aku sudah tidak bisa melihat apa-apa di situ. Gimana ini?" balas Iwan yang sudah maklum akan tugasnya.
Halilintar terlihat berpikir sebentar. Kemudian dia mendengus.
"Kalau begitu, kami akan tunggu sejauh yang bisa. Apa-apa hal, cepat-cepat beritahu padaku," ujar Halilintar.
Kemudian mereka berpisah haluan. Iwan menunggu di situ sementara Halilintar membawa Ochobot, Solar dan Thorn melalui sebuah denai yang tembus ke jalan masuk Batu Rintis. Hanya itu jalan yang terpantas. Setelah mengharungi semak-samun selama hampir lima menit, akhirnya mereka keluar ke jalan merah. Namun malangnya, jalan itu seperti hilang begitu saja di ujungnya, ditambah litupan kabut tebal. Tepat seperti apa yang dikatakan Iwan.
"Sementara menunggu kedatangan mereka, ayuh kita sediakan halangan," ujar Halilintar.
Suka atau tidak, mereka bertigalah temannya sekarang. Kerja yang mudah baginya karena mereka tidak langsung membantahi arahannya. Semua kerja berjalan dengan cepat dan cekap. Hanya saja, mereka tidak banyak berbicara. Juga dia berharap agar mereka bisa berlawan nanti.
.
.
.
.
Blaze tiba di halaman rumah Tok Aba. Enjin mobil dimatikan, namun dia tidak keluar dari mobilnya. Dia hanya duduk termenung di tempat duduknya, sambil kedua tangannya masih melekat di stir. Semakin dekat dengan masa itu , semakin dia tidak tega untuk melibatkan Tok Aba dalam rencananya yang boleh dibilang ekstrim untuk orang tua yang uzur seperti Tok Aba.
Tanpa disedari Blaze, pintu rumah Tok Aba terbuka menampilkan pria tua itu.
Blaze tersadar dari lamunannya saat menangkap kelibat Tok Aba melalui cermin hadapan.
"Dari mana?" tegur Tok Aba.
"Dari kota," jawab Blaze setelah keluar dan menutup rapat pintu mobil.
"Sudah menunaikan sholat Maghrib atau belum?"
"Belum, kek," jawab Blaze tanpa malu-malu lagi. Lagipula, dia memang ingin sholat dan berdoa sepenuh hati untuk kelancaran rencananya malam itu.
"Kalau belum, silahkan masuk ke rumahku dahulu. Eloklah kamu sholat dahulu sebelum bergerak. Nanti selepas Isyak kita keluar," ujar Tok Aba.
Tok Aba meninggalkan pintu. Kini dia ke ruang tamu. Kemudian, dia menunjukkan arah kamar mandi untuk Blaze mengambil wudhu. Selepas itu, Blaze dibawa ke ruang sholat. Sementara Tok Aba yang sudah sholat menunggunya di dapur.
Sementara itu di dalam kamar, Blaze mencoba untuk melakukan sholat dengan tenang tetapi sholatnya jauh dari khusyuk. Terasa sholatnya kosong tanpa berisi. Banyak perkara terlintas di pikirannya namun dia berusaha sedaya upaya menyempurnakan sholat itu sehingga selesai.
Blaze semakin memperoleh ketenangan ketika kedua tangannya diangkat untuk berdoa. Begitulah istimewanya sholat karena di waktu ini setiap hamba-Nya didekatkan dengan Pencipta. Dia berasa hanya dia dengan Allah pada ketika ini. Lalu dicurahkan segala kegalauan yang menghantui hatinya selama ini. Segala harapan dan permintaan dilafazkan dengan bersungguh-sungguh. Dia tahu, tiada daya yang terkuat melainkan Allah. Hanya Tuhan yang bisa membantunya. Hanya Allah juga yang menentukan nasib mereka selepas ini.
"Kalau sudah siap, ayuh makan dulu," tegur Tok Aba dari luar pintu yang sedikit terbuka.
Terlalu lama Blaze berada di atas sejadah. Dia mengerti perasaan Blaze namun mereka tidak bisa berlengah.
Blaze menyapu kedua telapak tangannya ke muka. Sesudah itu, dia melipat semula sejadah lalu menyimpannya semula di dalam lemari.
Tok Aba benar. Mereka tidak bisa terlepas apa yang penting. Dia sendiri tidak pasti apa yang bakal ditempuh mereka malam ini. Semakin lama dia merasa bersalah.
Setelah selesai makan dan sholat Isyak berjamaah, Tok Aba bersiap-siap untuk pergi.
"Ponsel kakek mana? Jangan tertinggal," pesan Blaze.
"Ada. Usah khawatir, kakek gak lupa."
Tok Aba menunjukkan ponsel dalam saku celananya. Dia juga tidak lupa membawa senapannya.
"Api, walau apapun yang menghalangmu, ingat Allah. Tidak ada kuasa yang lebih besar melainkan kuasa Allah," pesan Tok Aba sebelum menghidupkan enjin sepeda motornya.
Blaze mengangguk walaupun di hatinya berdebar-debar mendengarkan kata Tok Aba. Akhirnya dia sadar, masanya sudah tiba untuk mereka bertindak.
.
.
.
.
Tok Aba dan Blaze pergi dengan kendaraan yang berasingan. Mereka mula berpencar arah. Blaze ke tempat di mana Iwan dan Halilintar sedang menunggu. Tok Aba pula akan ke Batu Rintis melalui jalan yang berbeda dari biasanya.
Belum sempat jauh, sepeda motor ditahan sebuah mobil polisi. Tok Aba tersentak apabila tiga orang anggota polisi keluar dari mobil dan mendekatinya. Memang ketika ini dia tidak memakai helm, dia sudah tahu salahnya. Cuma dia berharap, masalah itu tidak mengganggu rencana yang telah diatur.
"Ada apa, Pak?" soal Tok Aba mencoba bertenang.
"Apa ini Tok Aba? Tadi siang anda ke kantor melapor pada kami, bukan?" tanya anggota polisi yang tertua antara ketiganya.
Pria paruh baya itu merenung tajam ke wajah Tok Aba dalam suasana malam yang masih muda.
Tok Aba mengangguk-angguk. Pertanyaan Iptu itu membuatkan dadanya berdebar.
"Sudah dapat apa-apa khabar? Apa kalian sudah menemukan mereka?" soal Tok Aba.
"Belum. Tadi kami ke rumah almarhum Bakar tapi tidak ada sesiapa di sana," balas Iptu Harun.
"Kenapa Bapak ke sana? Apa Bapak ingin mencari-"
"Iya. Kami mencari anaknya yang datang bersamamu tadi. Dia ke mana?" pintas Iptu Harun.
Tok Aba menggeleng. Dia agak ragu untuk berterus terang. Tidak pasti pula mengapa polisi ingin mencari Blaze. Dia khawatir rencana mereka terganggu.
"Saya juga tidak tahu, Pak."
"Tok Aba, sebenarnya kami telah mendapat satu lagi laporan yang mungkin berkait sama kasus kehilangan keluarga almarhum Pak Bakar."
Mata Tok Aba berkelip-kelip. Debar di dadanya meningkat.
"Jadi kami hanya ingin meminta Tok Aba membantu kami," tokok Iptu Harun.
"Apa yang bisa saya bantu?"
"Mengikut laporan yang kami terima, kami harus ke Batu Rintis. Masalahnya, apa benar tempat seperti itu ada? Saya sudah menghantar pasukan saya ke sana namun mereka bilang tidak ada jalan masuk. Yang mereka lihat hanya hutan tebal. Di dalam gelap seperti ini, sepertinya lebih sukar untuk mencari tempat itu."
Tok Aba menelan ludah yang terasa pahit. Siapa pula yang membuat laporan? Persoalan itu tinggal persoalan dalam hati. Kini wajahnya dipandang penuh pengharapan daripada tiga anggota polisi yang berdiri di hadapannya.
"Tok Aba?" tegur Iptu Harun apabila pria tua itu terus mengunci mulut.
"Kalau dibenarkan, biarlah saya keberkesanannya, terserah pada Allah. Dia Yang Maha Kuasa. Kita akan coba ke sana melalui jalan belakang."
"Punya jalan lain?"
Tok Aba sekedar mengangguk walhal dia sendiri tidak pasti sama ada mereka bisa sampai ke tempat itu atau tidak. Sekurang-kurangnya mereka bisa mencoba.
"Kami akan mengikuti anda."
Setelah persepakatan dicapai, Tok Aba kembali ke rumahnya semula untuk mengambil beberapa helai sejadah.
"Apa kami juga harus berwuduk?" tanya Iptu Harun mewakili dua anggota yang lain.
"Iya," jawab Tok Aba tersenyum tipis.
Ketiga anggota polisi itu hanya menuruti arahan Tok Aba. Selepas berwuduk, mereka mengikut Tok Aba ke kebun karet.
Di pertengahan jalan, Tok Aba berhenti. Dia turun dari sepeda motor lalu membawa satu pedang pendek ke pinggir kawasan kebun karet. Dia menetak beberapa batang pohon tepus muda lalu dibawa ke sepeda motornya. Batang tepus itu diikat bersama sepotong kayu dara yang dibawa dari rumah. Perjalanan diteruskan kembali namun tidak lama, dilihatnya kabut tebal sudah menutup pemandangan di situ.
Tok Aba tidak bersuara sepanjang perjalanan itu. Dia sudah tahu jalan itu pasti telah terhijab oleh sesuatu. Dengan tenang, dia mematikan enjin motor lalu membawa sejadah dan batang tepus bersamanya. Mobil polisi yang membuntuti sepeda motor Tok Aba sejak tadi akhirnya berhenti tidak jauh dari tempat letak sepeda motor yang dinaiki Tok Aba.
Tanpa berlengah, Tok Aba terus menghampar sejadah dia atas tanah. Batang tepus muda diletakkan di sebelah kanan. Dengan firasat hati yang yakin, dia coba mencari arah kiblat yang sebenarnya.
Tok Aba memandang ke langit. Walaupun pemandangannya terlindung di sebalik daun pohon karet, dia yakin bahawa waktu sekarang bulan sudah mengambang penuh. Bunyi burung gagak yang bertengger di pohon begitu riuh dan membingitkan. Serempak itu juga, kedengaran bunyi ayam hutan menggelupur seperti diterkam sesuatu, membuat bulu kuduk sesiapapun bisa berdiri.
Baru sahaja ingin mengangkat takbir, sesuatu yang busuk menerpa indra bau. Tok Aba mencoba sekuat hati untuk menahan bau yang teramat menjijikan. Dia sadar, penunggu di situ tidak suka akan kehadirannya dan mencoba untuk menganggu konsentrasinya. Tok Aba meneruskan juga walaupun merasa seperti ada mata-mata yang menyeramkan sedang memerhatinya di sebalik batang-batang pohon karet.
Gangguan yang diterima Tok Aba berlaku berterusan. Tok Aba meneruskan sholat biarpun tubuhnya dipukul angin kencang. Segala daun, ranting dan batu-batu kecil terbang menghantam tubuhnya. Hutan juga menjadi gempar dengan pelbagai bunyi teriakan. Namun, soholat itu tetap dilakukan sehingga selesai. Dia tidak mahu mengalah.
Akhirnya Tok Aba berjaya menyelesaikan sholat sunat taubat dan sholat hajat. Dia berdoa panjang dan berzikir tanpa henti. Semua perbuatan Tok Aba hanya diperhatikan oleh anggota polisi. Ketika berzikir, angin kencang mula -pohon di sekitar mereka mula berguncang. Daun-daun berterbangan.
Sekarang, terdengar lolongan anjing sahut-menyahut dan sesekali kedemgaran ngauman harimau. Tok Aba masih menumpukan perhatian, terus berusaha selain bertahan dan berdoa meminta pertolongan Allah.
Tanpa disadari, kedua anggota polisi muda tadi sudah berlari masuk ke dalam mobil. Yang tinggal cuma Iptu Harun yang terkesima melihat kejadian itu. Dia duduk menghampiri Tok Aba, turut serta berdoa dan berwirid tanpa memedulikan apa yang sedang berlaku di sekeliling mereka.
Angin yang bertiup kuat semakin bertukar menjadi badai yang dahsyat. Segala daun, debu dan pasir terbang ditiupkan tinggi hingga ke atas pohon. Semakin lama semakin gelap pandangan mata Tok Aba sehingga sampai pada satu ketika, dia terlihat sekumpulan manusia tanpa kepala menerpa ke arahnya. Dia terus mencapai batang tepus muda di sebelahnya lalu berdoa bersungguh-sungguh.
"A'udzubillahi min as-syaiton ar-rajim.. DENGAN NAMA ALLAH YANG TIDAK MEMBERIKAN SESUATU MUDHORAT DI BUMI DAN JUGA DI LANGIT! DAN DIA MAHA MENDENGAR LAGI MAHA MENGETAHUI! DEMI ALLAH, AKU BERLINDUNG DARI MUSUH-MUSUH LAKNATULLAH! ALLAHUAKBAR..!"
Setelah takbir dilaungkan, Tok Aba mencampakkan batang tepus itu ke dalam pusaran angin.
Tok Aba terus melaungkan takbir.
"Allahuakbar!"
Badai itu masih deras membahana. Tok Aba berteriak lebih deras.
"ALLAHUAKBAR!"
"ALLAHUAKBAR!"
Tiba-tiba satu jeritan yang panjang bergema di kebun karet itu. Tidak lama kemudian, pusaran itu memerlahan dan akhirnya lenyap.
Kini mereka dihujani dedaun, debu dan ranting di atas kepala masing-masing. Namun selepas itu, pohon-pohon di sekitar mereka bergegar kuat bagaikan ada tangan yang mengguncangnya. Tanpa diduga, batang tepus yang dilempar tadi menuju semula ke arahnya.
Batang itu tepat mengenai dada Tok Aba. Dia jatuh terlentang ke belakang. Namun bibirnya tidak henti-henti mengucapkan doa dan menyematkan zikrullah di dalam hati. Dia tidak mengalah walaupun tanah di bawah telapak kakinya terasa bergegar.
'GRRYYHHH!'
Sementara itu di dalam Batu Rintis, Gempa termengah-mengah. Dadanya bagaikan terbakar. Kemudian tubuhnya terpental ke sisi dinding. Upacaranya terganggu. Tumpuannya hilang sama sekali. Dia semakin cemas apabila gua itu bergegar sebentar.
'Cih! Siapa pula yang menggangguku?' sumpah Gempa dalam hati.
.
.
.
.
Blaze tiba di tempat Halilintar menyembunyikan mobil Ochobot. Di situ juga dia melihat dua buah sepeda motor diparkir teratur. Dia tahu sepeda motor itu pasti milik Halilintar dan Iwan. Setelah mematikan enjin mobil, dia berjalan kaki sejauh kira-kira 100 meter ke tempat di mana Halilintar sedang menungguinya. Sambil itu, dia menelepon Iwan.
"Aku sudah mengubah perahu ke dermaga di ujung desa. Nanti kutunggu di sini," balas Iwan.
Blaze merasa lega. Kini mereka sudah berada di posisi masing-masing dan rencana mereka akan berjalan sebentar sahaja lagi. Cuma tinggal menunggu untuk merampas tombak bertiga. Kapan pun pihak mereka akan tiba dari sekarang.
Blaze melajukan langkah namun apa yang dilihat hanyalah belukar tebal setinggi kepala. Denai yang diikutinya tadi benar-benar sudah hilang. Blaze meraba-raba mencari arah dengan merentap segala pohon kecil yang ada. Namun akhirnya dia terpaksa berpatah balik ke arah mobilnya semula. Dia termenung jalan di depannya yang seakan-akan kosong ditelan kabut dalam kegelapan malam.
"Hali, bisakah kau menjemputku?" tanya Blaze apabila ponselnya berjaya menghubungi lelaki itu.
"Tunggu di situ," balas Halilintar sebelum talian diputuskan.
Blaze menunggu di situ dengan seribu satu perasaan. Apa lagi angin sudah bertiup semakin kuat hingga pohon-pohon karet di sekelilingnya bergoyang keras. Blaze menunggu dengan resah. Halilintar masih belum sampai.
Dia merasa marah namun masa tetap berjalan.
Blaze coba menghubungi Halilintar sekali lagi namun lelaki itu seperti tidak bisa dihubungi. Berkali-kali dia mencoba namun hasilnya nihil.
Akhirnya Blaze terpaksa meredah sendiri hutan belukar di hadapannya. Hendak ditunggu Halilintar, dia sadar waktunya semakin suntuk. Dia sudah nekad. Setiap kali kakinya melangkah, dia beristighfar memohon perlindungan. Dia berharap dirinya dapat mengatasi segala kesukaran dan apa sahaja halangan yang mendatanginya malam itu. Akhirnya dia sampai juga di tempat semuanya sedang berkumpul dengan napas yang terengah dan gatal-gatal di seluruh badan akibat mengharungi semak-samun.
Namun ketika Blaze tiba, Halilintar benar-benar tidak ada. Yang tinggal cuma Ochobot, Thorn dan Solar. Mereka semua berwajah bingung dan kaget menemui kemunculan Blaze di situ.
"Eh bagaimana bisa kau sampai ke sini? Bukankah sepatutnya kau.." tanya Ochobot.
"Halilintar bilang ingin menjemputmu," ujar Thorn.
Blaze menoleh ke arah denai. Ke mana hilangnya Halilintar? Apa dia sudah tersesat?
Kemudia dia menghubungi Iwan.
"Apa Hali di tempatmu?"
"Nggak. Bukankah dia dengan kalian?" soal Iwan.
"Gak ada. Duh..Gimana ni? Kamu?"
"Sekarang aku di simpang masuk di sebelah perigi lama. Oke, kunantikan kalian di sana. Aku juga akan menelepon kalian segera sebaik mereka sampai. Tapi Api..."
"Tapi apa?!" Nada suara Blaze sedikit meninggi. Dalam keadaan begini, otaknya sudah kacau. Kehilangan Halilintar barusan membuatnya naik pitam. Sekarang Iwan pula banyak cerita.
"Mereka takkan bisa pergi lebih jauh."
"Apa maksudmu?"
"Jalan ke Batu Rintis sudah hilang. Sudah kuperiksa tadi."
Blaze menarik napas. Dalam keadaan begitu dia hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan kekuatan pada mereka semua. Juga berharap agar percubaan Tok Aba berhasil sementara mereka menguruskan apa yang bakal tiba di situ.
Iwan mengangkat kepalanya dan membulatkan matanya setelah menyadari kawasan sekitarnya bertambah terang disuluh lampu samar-samar dari celah susunan pohon karet di seberang. Serta kedengaran deruman enjin yang semakin mendekat.
"API! ADA DUA BUAH MOBIL MENGHAMPIRI DI SINI! MEREKA SUDAH TIBA!"
TBC
