Talian diputuskan.

"Mereka sudah tiba!" seru Blaze dengan nada tinggi.

Dia terpaksa melupakan hal Halilintar. Cepat-cepat dia mengarahkan Ochobot, Thorn dan Solar membantunya mengangkat sebatang kayu ke pertengahan jalan untuk menghalang laluan. Kemudian, mereka menyorok di balik semak-samun sementara menanti kedua-dua mobil itu mendekat ke arah mereka.

Seperti yang dijangkakan, mobil-mobil itu berhenti mendadak. Beberapa saat kemudian, sebuah pintu mobil yang berada di hadapan terbuka. Tiga orang pria keluar dari mobil untuk memeriksa keadaan di situ. Dan tepat di saat itu, Blaze dan kumpulannya mengambil kesempatan untuk melakukan ancang-ancang menahan dengan pistol di tangan.

Keadaan bertukar menjadi gawat. Seorang pria cuba menentang namun di saat itu, muncung pistol sudah dihalakan tepat di kepala. Masing-masing menyerah. Semua yang masih berada di dalam mobil diarahkan keluar dan dikumpulkan pada suatu tempat. Segala alat komunikasi diminta dengan kasar, dirampas dan dilempar ke dalam semak.

Blaze mengamati dengan teliti. Dia menghitung sebanyak mana orang yang ditahan mereka. Tiga orang pria tua. Seorang di dalam mobil pertama. Dua orang dari mobil yang kedua. Mereka diawasi oleh Blaze dan Ochobot. Selebihnya, dua orang lelaki lain diawasi oleh Solar dan Thorn.

"DI MANA TOMBAK BERTIGA?" soal Blaze keras.

Tidak ada jawaban. Masing-masing diam membisu sambil tangan diangkat separas dada. Blaze mulai memeriksa apa yang ada di dalam mobil itu. Dua bilah tombak di dalam mobil pertama manakala satu lagi disimpan di dalam mobil yang kedua. Memang benar kata Pak Guru Papa. Di setiap ujung mata lembing itu tertusuk tengkorak manusia. Tangan Blaze menggeletar sewaktu mengangkut kesemua lembing yang berbalut kain hitam itu keluar.

Sebaik tombak bertiga dibawa keluar, Blaze ternampak kelibat Iwan yang baru tiba.

"Iwan, sembunyikan mobil-mobil ini di tempat kita," arah Blaze.

"Orang-orang ini bagaimana?" tanya Iwan.

Tanpa Halilintar, keadaan semakin sukar untuk diuruskan. Semuanya harus diatur semula di saat-saat kejadian. Kepala Blaze bertambah berat.

"Awasi mereka sehingga aku selesai," perintah Blaze diangguk-angguk oleh empat orang yang lainnya.

"Kuharap siapa-siapa antara kalian tidak meninggalkan Iwan sendirian. Kalau bisa, awasi Halilintar kalau-kalau dia muncul," sambung Blaze.

Blaze sudah ingin bergerak bersama ketiga-tiga lembing itu. Seharusnya Halilintar mengekorinya namun dia tidak tahu ke mana hilangnya lelaki itu.

.

.

.

.

"Apa ini?!"

Joko menggerakkan badannya ke hadapan untuk melihat dengan lebih jelas. Di hadapan mobil mereka tergeletak dua batang kayu yang merentangi jalan. Tidak jauh dari situ pula terlihat tiga orang lelaki bersenjatakan pistol sedang menahan sekelompok manusia. Dia segera paham.

"Bos, mereka dihalang."

Joko pantas menghubungi Gempa. Dia disuruh ke situ untuk memeriksa keadaan karena pembawa lembing yang ditunggu-tunggu lagi belum muncul di Batu Rintis.

"Hapuskan mereka! Jangan sampai tombak bertiga itu jatuh ke tangannya! Aku mahu ketiga-tiga tobak itu di tanganku sekarang! Aku tidak peduli!" suara Gempa bergema keras di ujung talian.

Joko memutuskan talian. Ponselnya dicampak ke dalam mobil. Pistol dicapai lalu diselitkan dalam saku celana. Dia turut membawa sebuah kayu yang dibenamkan paku.

"Berpencar. Cari tombak itu sekarang. Siapa dapat terus ke Batu Rintis. Bos sedang menunggu," arah Joko kepada anggotanya. Nampaknya tantangan yang menanti mereka bukan mudah seperti yang disangkakan.

.

.

.

.

Pertembungan dua kumpulan kini beraksi. Tantangan tidak dapat dielak lagi. Lima orang lelaki berhadapan sepasukan dengan bilangan anggota yang saksama yang ghairah berlawan, melibatkan sepuluh orang kesemuanya.

Berhadapan dengan keadaan genting, Blaze mencampakkan tombak ke dalam semak. Dia bangkit membantu Iwan yang diserang terlebih dahulu. Dengan sekali pandang, pasukannya kini telah bertempur hebat dengan tangan kosong. Pistol sudah tercampak entah ke mana. Kayu juga sudah tidak ada. Semuanya sibuk memberikan tentangan dengan kepandaian masing-masing. Yang terpenting, masing-masing berusaha mengalahkan lawan.

"Blaze, pergi!" teriak Ochobot apabila menyadari Blaze berada hampir dengannya.

Seorang lawan sudah dijatuhklan dan kini dia berdepan lagi dengan seorang lawan berbadan besar.

Blaze sempat menoleh sebentar. Dia tidak menjawab karena saat ini dia berhadapan dengan seseorang yang berwajah galak. Tumbukan dan tendangan lelaki itu begitu padu. Namun, tendangan yang dilancarkan sempat dikilas. Blaze menghentak sikunya ke rusuk lawan sehingga lelaki itu tersorong ke sisi lalu jatuh.

Selepas itu, Blaze segera menolong Iwan yang diserang dua lelaki serentak. Tanpa amaran dia melepaskan tendangan maut ke dada lawan tetapi lelaki itu sempat menjarakkan diri. Blaze terus menyerang walaupun kepalanya semakin berdenyut dan darah dari kepalanya sudah membasahi baju.

"Api, larikan lembing-lembing itu dahulu!" teriak Iwan sambil mendorong tubuh lelaki yang menyerangnya. Dia kini coba menentang lawan Blaze.

Dengan sekuat tenaga, dia menumbuk rusuk lawannya yang sedang bergelut dengan Iwan sehingga lawan itu terjatuh ke sisi. Kemudian dia segera menangkap tangan Iwan lalu menariknya ke arah semak.

"Ayuh kita pergi," ujar Blaze.

Iwan mengangguk. Dengan pantas, Blaze mengutip semula tombak-tombak yang dicampak ke dalam semak. Kemudian mereka berlari meredah semak samun dalam hutan untuk menuju ke tempat mobil mereka disembunyikan. Entah bagaimana, Blaze terlanggar suatu objek yang keras. Lebih tepatnya, seseorang.

"HALI!" teriak Blaze dengan senang setelah menyadari dengan siapa dia berlanggar.

Sementara itu, Ochobot, Solar dan Thorn masih bergelut dengan lawan. Joko bertambah geram apabila menyadari Blaze sudah tidak ada di antara mereka. Tanpa menunggu lebih lama, dia berlari mengejar sosok Blaze yang menghilang dalam semak. Beberapa bunyi lepasan tembakan bergema di dalam hutan. Namun, apabila Joko tiba di tempat mobil, Blaze sudahpun memecut laju keluar dalam hutan. Joko mencampak pistolnya ke tanah dengan marah. Dia terus menghubungi Gempa.

.

.

.

.

Halilintar tercungap-cungap mengatur pernapasan. Mukanya pucat. Mujurlah dia terlanggar Blaze. Dia tidak tahu berapa lama dia terperangkap di dalam hutan. Denai yang dijejakinya hilang begitu saja dan segala jalan keluar seolah-olah ditutup sempurna. Ke hadapan tidak bisa, berpatah semula juga tidak bisa. Sudah berapa lama dia berpusing di dalam hutan sehingga mendabrak Blaze tadi.

"Jalan terus ke pondok lama. Kamu tahu tempat itu, bukan?" soal Halilintar sebaik memakai sabuk pengaman. Walau apa pun dia tidak mahu mati sia-sia akibat kecelakaan di saat-saat sebegini. Dan sudah pasti juga Blaze akan memecut mobilnya semaksima mungkin untuk berkejar ke dermaga. Apa-apa pun dia harus mengambil langkah hati-hati.

Kata-kata Halilintar dibiarkan tidak bersambut. Blaze terus mengemudi dengan laju. Sangat laju walaupun sebenarnya dia kurang pasti jalan itu akan menghala ke mana. Walaupun dia sudah lupa kedudukan kawasan dermaga itu di mana, namun untuk menghala ke pondok itu, dia tahu. Itu jalan menuju ke madrasah Ustaz Zakariya Badariah.

"Kakek di mana?" soal Iwan tiba-tiba dari tempat duduk belakang. Tombak bertiga digenggam kemas.

Blaze mengeleng-geleng. Dia tidak suka bercakap ketika sedang mengemudi. Entah nanti fokusnya langsung ke mana. Nanti tersesat pula. Jalan di desa itu pula berlubang-lubang. Lampu jalan juga tidak ada.

Halilintar menoleh ke belakang.

"Mereka mengekori kita!" Halilintar memberikan amaran.

Kelihatan dua orang lelaki dalam sebuah mobil sedang membuntuti mereka. Namun, tidak jelas siapa mereka.

Blaze memandang sekilas ke cermin kanan. Benar kata Halilintar. Dahinya langsung berkerut. Bagaimana pula nasib Ochobot, Thorn dan Solar? Blaze membayangkan mereka selamat melepaskan diri buat sementara waktu.

Pedal minyak ditekan dan kelajuan ditambah untuk ke dermaga. Jalan yang lapang membuatkan perjalanan mereka agak lancar namun ribut yang melanda membuat Blaze mulai cemas. Dia berharap tidak ada pokok yang tumbang melintas jalan dengan tiba-tiba.

"Sudah melepasi jam 11.00 malam. Kau yakin bisa?" soal Halilintar yag sekejap-sekejap menoleh ke belakang.

Blaze tidak mahu memikirkan soal itu. Dia ingin meneruskan juga perjalanan itu dan memecut selaju mungkin menggunakan segala kepakaran yang ada. Semakin lama, dia sadar bahawa sebenarnya ada dua mobil yang mengekori mereka. Bukan satu.

"Masuk ke simpang itu," arah Halilintar sebaik mobil Blaze menghampiri sebatang jalan yang banyak simpang. Jalan kecil yang mereka lalui sedang menghala ke kebun karet.

"Tapi jalan itu tidak menuju ke pondok," protes Blaze.

"Masuk!"

Blaze mengikut arahan Halilintar. Entah apa pula rancangan mendadak Halilintar. Keretanya memerlahan disebabkan jalan ke kebun yang bertanah merah dan bergenang.

"Ke kanan," arah Halilintar lagi.

Blaze semakin tidak paham. Jalan yang dilalui semakin sempit. Mobil yang mengekori mereka pula semakin dekat.

"Masuk kanan lagi," ujar Halilintar serius. Matanya memfokus tetap ke jalan hadapan.

Mobil mereka mula berpusing-pusing di dalam kebun karet dan akhirnya melalui suatu kawasan yang amat lapang. Di situ, terang-terangan dia terlihat sebuah rumah. Kelihatan orang ramai sedang duduk di dalam sebuah majlis. Mereka mengenakan serban dan jubah putih. Blaze semakin keliru. Mungkinkah madrasah yang pernah dilihatnya itu sememangnya masih wujud?

"Terus!" arah Halilintar pada Blaze yang didapatinya mulai terleka.

"Sebenarnya kita sedang ke mana?" Blaze tertanya-tanya. Heran juga dia.

"Di hadapan sana ada sebuah jalan yang terus keluar ke dermaga," ujar Halilintar. Dia menoleh semula ke belakang. Mobil itu sudah tidak ada lagi.

Blaze turut melakukan hal yang sama. Memang mobil itu sudah tidak ada lagi. Mungkin mereka sudah sesat kalau tidak biasa memasuki kawasan kebun karet yang banyak denai dan jalan pintas.

Akhirnya mereka sampai di jalan besar menuju ke ujung desa. Setelah melewati kawasan pengajian Ustaz Badariah, Blaze sadar kawasan itu seperti diterangi sesuatu namun tidak sempat melihat lebih lama. Mobilnya dihalakan terus ke dermaga lama.

"Siap sedia, Iwan!" arah Blaze mengisyaratkan agar Iwan keluar membuka pintu terlebih dahulu setelah mobil mereka berhenti, sementara dia akan mengambil tombak bertiga.

Halilintar juga terus keluar dari mobil. Baru mereka hendak keluar ke tebing sungai, sebuah mobil mendadak berhenti tepat di hadapan mereka. Beberapa tembakan dilepaskan. Mereka semua mengelak. Iwan berlari mendapatkan perahu. Halilintar terjun ke sungai. Blaze pula, tombak yang dipegang jatuh ke kakinya.

.

.

.

.

Sementara itu dari arah belakang Batu Rintis, Tok Aba berusaha untuk bangun setelah beberapa saat jatuh terlempar.

"Bantu saya bangun," pinta Tok Aba. Permintaanya segera diikuti. Dia dibantu oleh beberapa anggota polisi yang menemaninya di situ. Dia kemudiannya menyingkirkan daun dan debu yang melekat pada bajunya.

"Tok Aba," panggil Iptu Harun. Dia memaut bahu pria tua itu.

"Saya tidak apa-apa," balas Tok Aba walaupun dadanya terasa sakit. Malah napasnya tidak lancar. Namun, dia tidak mahu merepotkan anggota polisi itu.

"Maaf, jalan masih belum terbuka" tokok Tok Aba. Matanya memandang lurus ke hadapan. Kabut tebal masih menutupi kawasan itu. Jalannya belum kelihatan. Dia sedikit hampa. Ternyata usahanya tadi sekedar mampu menghalau gangguan yang datang namun hijab yang dipasang sangat ampuh.

"Apa yang harus kita lakukan, Tok Aba?" tanya Iptu Harun. Dia turut berasa hampa.

"Saya sarankan bapak pulang dahulu. Pagi besok, datanglah lagi. Kalau diijinkan Allah, besok kita ke sana."

"Baiklah. Saya akan letak orang-orang saya di sini kalau ada apa-apa perkembangan," putus Iptu Harun akhirnya.

Lantas mereka meninggalkan tempat itu bersama-sama. Sebaik sampai semula di jalan besar, Tok Aba bergerak ke dermaga menaiki sepeda motornya.

.

.

.

.

"SERAHKAN KEMBALI TOMBAK BERTIGA ITU!" teriak Gempa setelah keluar dari mobil sambil mengacukan pistol ke arah Blaze. Dia tidak peduli lagi siapa yang mebuat kacau di tempatnya. Mobilnya mengekori Blaze malam itu. Dia dan Joko sudah lelah dengan permainan lelaki itu. Ternyata Blaze sama keras hati dengan dirinya juga.

"SELANGKAH KAU KE HADAPAN, AKAN KUCAMPAK TOMBAK-TOMBAK BERHARGAMU INI KE SUNGAI!" ugut Blaze tidak kalah kerasnya.

Dia menghalakan tombak bertiga ke tebing. Kalau dia campak, memang tombak-tombak itu akan jatuh ke dalam Sungai Rintis yang sedang pasang. Sempat dia menjeling Halilintar yang dibantu Iwan naik ke tebing. Joko pula hanya diam berdiri di belakang Gempa.

"KAU MAU APA, BILANG AJA! BISA KUBERI!"

Sesungguhnya Gempa berasa sakit hati. Tetapi dia berharap Blaze menerima cadangannya.

"Aku ingin ke muara," balas Blaze santai sambil tersenyum sinis. Dia tahu jika lelaki itu di sini, bermakna ibu dan adiknya masih selamat.

"Kita bincang. Kau pulangkan semula tombak bertiga, kemudian akan kuserahkan ibumu semula," ujar Gempa sambil merenung tajam. Dia tahu tawarannya memang menarik.

"Apa kau pikir aku akan percaya sama omonganmu, hah?!"

Blaze membalas renungan tajam lelaki itu dengan tatapan sengit.

Gempa tersenyum.

"Terpulang. Apa yang lebih penting, tombak-tombak itu atau keselamatan ibumu? Ada atau tidak tombak bertiga itu, ibu dan adikmu masih di tanganku. Kau campak tombak itu ke sungai, mereka akan mati," balas Gempa.

"Cih!"

Mendengarkan ugutan itu, Blaze hilang pertimbangan. Tombak bertiga terlempar ke arah Iwan.

Gempa tertegun. Satu tumbukan padu tepat mengena tengkuknya. Dia terjatuh. Pistol di tangannya tercampak. Belum sempat bangun, tendangan hinggap di sisi kepalanya. Dia berguling di atas tanah. Blaze terus menerkam Gempa. Tumbukan dilepaskan berkali-kali. Mereka bergelut di atas tanah. Saling mencekik antara satu sama lain. Walaupun bertubuh biasa-biasa, kekuatan Gempa seperti sepuluh orang lelaki. Agak sukar untuk Blaze mengalahkan lelaki itu yang seperti tidak tahu sakit dan lelah.

Akhirnya Gempa dapat menjatuhkan Blaze. Dia kini berada di atas badan Blaze. Penumbuk diayun sekuat hati. Pandangan Blaze bertukar gelap apabila kepalanya yang masih luka dihantam tanpa henti. Melihatkan Blaze sudah tidak melawan, Gempa berdiri. Sambil mengumpulkan napas, dia mengutip pistol yang tergeletak dia atas tanah dengan payah.

Bam!

Satu tembakan dilepaskan ke arah Blaze. Orang seperti Blaze seharusnya mati sahaja, sumpah Gempa dalam hati. Sekarang semua rencananya harus tergendala.

Namun tembakan itu tersasar apabila Blaze sempat bergerak sedikit tetapi tetap terkena ke tulang selangka. Blaze menggelupur kesakitan. Sakit dan perit. Darah hangat mengalir deras di celah-celah jari.

Belum sempat Gempa menembak Blaze buat kali kedua, Halilintar menerkam Gempa dengan sebuah kayu. Dalam kekalutan itu, pistol yang dipegang Gempa terlempar jauh. Yang seterusnya, Halilintar diterkam Joko. Ketiga-tiganya bergelut.

Melihatkan keadaan itu, Blaze melibas kakinya mengena kaki Gempa sehingga lelaki itu jatuh tersungkur. Dia sempat menerkam dan mengambil pistol lalu mengacungnya tepat ke wajah Gempa. Kali ini Gempa diam tidak berkutik.

Tangan Blaze menggeletar. Dalam menahan kesakitan, dia berpikir dua tiga kali. Dia bisa menghabiskan riwayat Gempa sekarang juga ketika ini jikalau dia mahu. Bukan dia tidak biasa menembak orang sampai mati.

"Api!" tegur Iwan yang melotot ngeri menyaksikan pergelutan antara Blaze dan Gempa. Dia perlu sadar kalau tidak mahu rencananya lebur. Lagipula Iwan sudah bersiap-siaga dengan perahunya.

Hening.

Blaze berundur. Perlahan-lahan pistol dijauhkan. Napasnya terengah-engah menahan sakit dan marah. Begitu juga dengan Gempa di hadapannya yang hanya terduduk.

Halilintar menarik Blaze ke tepi. Blaze menghimpun kesabaran dan kewarasannya sebentar dengan beristighfar. Kalau dia menembak Gempa, Api dan Blaze tidak ada bedanya lagi. Sama-sama kejam.

Deruman enjin sepeda motor memecah keheningan.

"Api...sabarlah," tegur Tok Aba yang datang mengacukan senapan ke arah Gempa dan Joko.

Blaze meneguk ludah. Mungkin bagi orang lain, perkara itu terlalu besar tetapi bagi dia, mengambil nyawa orang macam Gempa seperti mengambil nyawa ikan sahaja. Tetapi untuk malam ini dia mengalah. Dia mahu berubah.

"Kakek awasi mereka, aku ingin ke muara," ujar Blaze lemah.

Kemudian dia memandang Halilintar.

"Kau tolong jaga kakek."

Pistol diserahkan pada Halilintar. Dia memaksa tubuhnya berjalan. Langkahnya terhuyung-hayang. Ikutkan hati, memang dia sudah tidak berdaya lagi. Dia kehilangan terlalu banyak darah. Kepalanya nanar.

"Kau takkan bisa memusnahkan tombak itu!" seru Gempa.

Namun dia terus dihentak dengan senapan milik Tok Aba. Gempa mendengus geram. Dia mula membaca beberapa mantera yang tidak jelas butirnya. Dia masih belum kalah. Akan dipanggilnya segala puaka untuk menggagalkan usaha Blaze.

Blaze tidak peduli lagi. Dia turun ke dermaga lalu mula menaiki perahu. Iwan pula memunggah ketiga-tiga batang tombak dan menghidupkan enjin. Cepat-cepat mereka berdua bergerak ke tengah sungai.

Belum sempat semenit perahu dihidupkan, air sungai bergelojak dan membentuk pusaran. Perahu mereka turut berputar semakin laju mengikut arah pusaran.

Gempa tertawa berdekah di tepi terbing menyaksikan kejadian itu. Tok Aba dan Halilintar mulai panik melihat perahu Blaze yang terumbang-ambing di atas pusaran arus yang kuat.

"Gawat, Api! Hati-hati!" teriak Iwan apabila perahu mereka hilang kawalan.

Enjin mati serta-merta dan berputar tanpa henti bagai dipukul topan. Angin dingin menderu dari setiap penjuru sehingga mampu menyesakkan pernapasan. Hujan batu mulai deras turun menghantam mereka dari atas. Kepala Blaze memusing setelah dia dihempap batu sebesar penumbuk lalu dia jatuh tergeletak ke sisi perahu. Keadaan tubuhnya mulai kehilangan kontrol. Kakinya mulai terasa kaku dan tidak bisa bangun.

Dalam keadaan yang sangat kacau, air mata Blaze mengalir deras. Rasa sakit di segenap tubuhnya membuatkan dia ingin pitam. Ketika ini juga, pelbagai bayangan ngeri menerpa ke wajahnya dan mendekapnya hingga menyesakkan napas.

"Pergi! Pergi!" raung Blaze.

Dia menepis dan menerjang bayang-nayang itu sambil tubuhnya menggigil. Dia berasa seperti berkhayal. Dia sedang melihat muka orang tua yang penuh ulat-ulat di depan matanya. Selain itu, terdapat bayangan seorang pria bengis dengan wajah yang hancur lebur bagai dijilat api sedang mengacukan sebilah parang yang berdarah-darah. Pandangan matanya menjadi semakin gelap. Dia berasa tidak berdaya lagi. Akhirnya dia terbaring di dalam perahu dengan mata terpejam.

Kudratnya telah habis. Namun, dia tetap memaksa pelupuk matanya untuk terbuka buat kali penghabisan. Wajahnya mendongak ke langit. Bulan purnama masih terang. Dia memejamkan mata lalu diangkat tangan untuk berdoa setulus hati. Beberapa kalimah istighfar diucapkan beberapa kali bagi menginsafi segala dosa masa lalunya. Sejak dia meninggalkan desa itu sehinggalah saat dia kembali, dia merasa amat tidak berdaya dan hina dengan dosa.

Blaze terus menangis dan meminta belas kasihan daripada Tuhan. Dia sememangnya tidak kuat lagi untuk menghadapi saat-saat ini. Untuk kali ini, dia meyerah sepenuhnya kepada kekuasaan Allah. Nyawanya juga terasa diujung. Ternyata tenaganya seorang manusia hampir habis. Yang tinggal hanyalah penggantungan hati kepada yang satu.

Allah.

.

.

.

.

Masa terus berlalu. Blaze berada di ambang kesadarannya. Dia tidak tahu dia berada di mana, sama ada sudah mati atau belum. Dia terdengar lafaz 'astaghfirullah' disebut berulang kali. Lafaz itu bergema dalam hati hingga ke gendang telinga. Semakin lama, semakin jelas dan kuat. Lafaz itu seperti terus menggerakkan setiap tetesan darah yang mengalir dalam tubuhnya. Blaze terus beristighfar dengan mata yang terpejam rapat.

.

.

.

.

Gerakkan lidah dan hati. Hidupkan dengan keinsafan dalam menyedari segala kesilapan dan kesungguhan untuk memohon ampun kepada Allah.

Kata-kata itu melayang-layang di ruang pikirannya. Dia pernah mendengar dan amat mengenali kata-kata itu. Namun, sepertinya kini diucapkan oleh seseorang yang berbeda. Dia tidak pasti siapa orang itu tetapi dari suara yang bergema keras, dia seakan mengenali pemilik suara itu.

"Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Karena sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Istighfar..

Blaze melangkah perlahan-lahan mencari sosok itu. Sosok itu sedang membelakanginya. Suara itu terus bergema. Namun, dia tidak mampu untuk mengajar lebih jauh kerana begitu kelelahan. Akhirnya, perlahan-lahan dia terduduk lemas.

..Jaga napasmu,

..anakku."

Kepala Blaze sedikit terangkat. Matanya membuntang.

Sosok itu. Sosok yang dibelakanginya selama ini akibat ego yang tinggi.

Dia tidak sangka sosok itu masih memanggilnya sebagai anak.

Air matanya perlahan-lahan mengalir membasahi pipi.

"Ayah."

Selama ini dia silap. Dia menjangka Ayah telah melupakannya. Padahal, dia yang telah melupai lelaki itu selama ini. Dia anak yang egois. Dia sadar, selama ini dia memang pantas dibilang anak kurang ajar oleh ayahnya. Dia berhak ditampar dan dihina sekali lagi. Dia pasrah.

"Ampunkanku, ayah."

Blaze merapati sosok itu. Dia memeluk kaki ayahnya erat sambil berlinang air mata. Namun, pria tua berjubah putih itu tidak memandangnya. Dia masih membelakangi anak itu.

"Ampunkan, Api, ayah," ulang Blaze.

"…"

"Ini salahku."

"…"

"Api tahu Api salah."

"…"

"Api terlalu berdendam sama Ayah."

"…"

"Api anak yang durhaka."

"…"

"Hiks..Hiks..Api marah sama ayah."

Dia terus menghamburkan rasa kesal dan bersalah pada ayahnya yang tidak berjawab. Di sela ucapannya, dia menagis terisak-isak.

"Hiks..Ayah..Api sudah pulang."

"…"

"Api ingin sekali ketemu sama Ayah."

"…"

"Api mau minta maaf."

"…"

"Ayah tolong.."

"BERHENTI!" tukas ayahnya.

Blaze tergamam. Dia mendongakkan kepalanya ke atas.

Ayahnya merendahkan tubuhnya lalu menghadap anaknya. Dia memandang tepat ke mata Blaze. Namun, sinar mata itu tidak seperti yang selalu dilihat anaknya. Blaze dapat merasakan keembutan yang tersirat di sebalik tatapan tajam itu. Entah mengapa pandangan itu mengingatkannya pada Air.

Kepala Blaze kembali tertunduk.

"Hentikan tangis sia-siamu. Aku tidak mahu melihat seorang anak lelaki menangis. Apalagi kamu itu anakku," tegur Ayah sambil meletakkan satu tangannya pada pundak kiri Blaze.

Blaze mengusap wajahnya. Dia mengucek matanya. Apa benar tadi itu ayahnya? Adakah dia sudah..

"Bangun, nak. Kamu harus lawan. Lawan!"

Blaze tersenyum nanar.

"Aku tidak mungkin bisa."

"Kamu bisa. Kamu hampir melakukannya. Kamu hampir menang! Jangan sia-siakan penantianku. Apa kamu mahu membiarkan adik dan ibumu turut mati bersamamu?"

Blaze menggeleng laju.

"Maafkan ayah. Kamu harus dewasa sendirian tanapa pedoman di luar sana karenaku. Tapi ayah tidak pernah melupaimu. Sampai kapan pun, kamu tetap harapanku. Ayah sudah lama mengampunimu. Ayah percaya padamu. Jangan pernah lupa apa yang kuajarimu dahulu."

Blaze meyeka saki baki air mata di pelupuk matanya.

"Maafkan ayah.."

Sosok lelaki tua itu diraih erat. Keduanya lama berpelukan. Segala kenangan masa kecilnya bersama orang tua itu diimbas dalam memorinya.

"Istighfarlah. Kuatkan hatimu. Aku menyayangimu, nak.."

.

.

.

.

Mata Blaze terbuka. Dengan kekuatan yang ada, dia beristighfar tiga kali dengan sepenuh jiwa raganya. Dia sadar, dirinya terlalu banyak dosa. Dia mula melaungkan azan sekadar apa yang bisa diingatnya. Walaupun bunyinya jelek, namun hanya itulah yang terdaya dilakukannya dengan tenaga yang berbaki sedikit. Sembari azan dilaungkan, Blaze memusatkan sepenuh perhatian dan pengharapannya pada Tuhan. Ketika ini dia meyerahkan sepenuhnya kpada kekuasaan Allah untuk menentukan apa yang bakal berlaku. Malah, dia berlindung sepenuhnya kepada kekuasaan Allah dari segala-galanya. Dia berasa benar-benar lemah dan hanya bergantung kepada Allah untuk menyelamatkan semuanya.

Wajah pria tua yang jelek itu muncul lagi. Ia memandang Blaze dengan wajah yang bengis, menampakkan taring yang berceracakan, penuh darah, ulat dan nanah yang menyembur. Kedua tangan berkuku panjang dan tajam itu cuba mencekik Blaze namun seperti terhalang oleh sesuatu.

Ia tidak dapat menyentuh Blaze.

Hal itu membuatkan ia bertambah marah.

Blaze hanya memandang sosok itu dengan tatapan nanar sambil terus melaungkan azan tanpa henti. Dia sadar namun sudah pasrah akan apa yang bakal terjadi padanya.

Hingga satu saat, mulut sosok itu terlopong besar. Sosok itu menjadi kaku dan mngeluarkan asap hitam. Baunya seperti bangkai hewan yang dibakar. Kemudian Blaze menyaksikan tubuh pria tua itu melayang direntap sesuatu. Sosok itu semakin menghilang bersama lolongan yang panjang dan berdesing.

Ribut dan hujan batu berhenti perlahan-lahan. Perahu mereka juga mulai stabil tanpa berputar-putar, sehingga akhirnya perahu itu hanyut mengikuti arus yang mulai tenang.

Sekali lagi pandangan Blaze menggelap. Dia rebah di lantai perahu.

.

.

.

.

"Api! Api!"

Iwan terjaga dari pingsan lalu memanggil Blaze berkali-kali. Seketika dia menerkam ke arah enjin perahu, kemudian berbalik menerkam Blaze semula.

"Api, bangun!"

Iwan menampar-nampar pelan muka Blaze yang pucat. Iwan terus mengguncang bahu temannya. Blaze masih belum sadar. Mahu tidak mahu, dia terpaksa meninggalkan seketika Blaze yang terbaring untuk mengendalikan perahu yang bergerak tidak menentu. Dengan perasaan yang berkecamuk, dia menghidupkan semula enjin yang mati. Setelah dicoba beberapa kali, akhirnya enjin mula hidup. Perahu mereka kembali bergerak.

Blaze masih separuh sadar. Dengan tubuh yang basah, dingin dan sakit, dia berusaha mengumpulkan semula tenaga yang ada. Dia sadar yang perahu dinaiki mereka sudah bergerak. Dia tersadar ketika Iwan mengguncangkan tubuhnya cuma waktu itu dia tidak terdaya untuk membuka mata.

"Hey, Api! Kita sudah dekat! Bangun!"

Suara Iwan tenggelam timbul dalam tiupan angin malam. Dia tahu Blaze masih hidup melihat dadanya yang naik turun.

Blaze masih memejam matanya. Dia ingin bangun. Dia ingin menyelesaikan tugasnya.

"Api!" teriak Iwan dari belakang perahu apabila Blaze masih tidak berkutik.

Walaupun berat, akhirnya Blaze membuka pelupuk matanya dengan segala kekuatan yang ada.

"Kita sudah dekat!" teriak Iwan bersemangat.

Blaze bangun dengan menopang tangan kanannya agar tubuhnya sedikit terangkat. Kesakitan di tangan kiri akibat ditembak tadi membuatkan sebelah tangannya itu hanya terkulai. Blaze memaksa punggungnya untuk bersandar pada badan perahu. Dia mengatur napas yang pendek-pendek. Tidak lama kemudian, Iwan memerlahankan perahu.

"Kurasa kita sudah sampai ke tempat yang dimaksudkan," ujar Iwan yang melihat lurus ke depan dalam samar-samar pantulan bulan.

Perahu mereka tidak lagi bergerak, hanya terapung-apung di atas air. Iwan mencari lampu suluh. Blaze menggerakkan tubuhnya menjenguk ke arah air yang disuluh Iwan menggunakan lampu suluh yang besar. Blaze juga tidak pasti. Dia tidak arif membaca permukaan air. Lalu dia menoleh ke arah Iwan untuk mendapatkan kepastian.

"Benar. Ini tempatnya!" ujar Iwan setelah menyuluh sekali lagi.

Dia mendapati ada garisan halus yang terlihat di permukaan air di bawah pantulan bulan apabila air laut bertemu dengan air Sungai Rintis yang keruh.

Kalau itu kata Iwan, Blaze ikut sahaja. Dia menarik sebatang tombak bertiga dari lantai perahu. Lantas tombak itu dimasukkan ke dalam air bermula dari bahagian atas. Perlahan-lahan tombak itu tenggelam diiring bacaan ayat Ruqyah Syariah. Awal-awalnya tidak ada apa-apa berlaku. Sehinggalah apabila bahagian mata tombak yang ditusuk tengkorak itu mencecah permukaan air, kelihatan air sungai mula berbuih membuak-buak.

Blaze kembali berdebar-debar. Makin cepat dia menenggelamkan tombak kedua dan ketiga sambil mulutnya terkumat-kamit membaca semua surah yang dihafalnya. Terkadang dia terlupa dan harus mengulangi bacaannya beberapa kali. Mujur ada Iwan yang menegurnya. Tubuhnya basah bermandikan keringat. Air matanya berderai namun diteruskan jua karena hanya itulah kemampuannya. Setelah itu dia hanya mampu beserah dan berdoa semoga usahanya membuahkan hasil.

Setelah ketiga-tiga tombak ditenggelamkan, air sungai membuak lebih hebat diikuti bunyi raungan yang panjang. Libasan-libasan air yang kuat seperti libasan ekor buaya. Perahu mereka mulai oleng.

"Berundur!" arah Blaze kepada Iwan.

Dia khawatir kejadian buruk menimpa mereka lagi.

Tanpa berlengah, perahu diundur dan mereka berpatah balik secepatnya lantaran suara meraung itu terus mengejar mereka setiap detik.

Tanpa mereka tahu, Desa Rintis bergegar seperti dilanda gempa bumi. Batu Rintis runtuh perlahan-lahan. Pekikan meminta tolong kedengaran.

.

.

.

.

Satu jam sebelum itu…

Kelihatan seseorang sedang memutar stir di dalam mobil yang dimainkan musik rancak. Kaca mata hitam diselitkan di atas kepala. Matanya santai menghadap cermin hadapan yang memaparkan suasana kota yang penuh kendaraan. Earphone tergantung di telinganya. Setelah berhenti di lampu isyarat di sebuah simpang, dia menelepon seseorang.

"Jo, sudah di mana kau? Aku sudah tidak sabar untuk mendapatkan benda itu."

"Mobilku menyusul mobilmu."

Dia memalingkan kepalanya ke belakang.

"Hmm. Bagus."

"Kau pasti tempat itu beneran? Lokasinya?"

"Tenang, ikut aja. Serahkan padaku," talian ditutup.

Sosok itu kembali memandang ke arah jalanan. Mobil itu akhirnya membelok di sebuah jalan besar yang menghala ke Bandar Rintis. Dia membaca sebuah papan tanda yang tertera di jalan.

Desa Rintis. 27km.

Dia ketawa kecil sambil mengeleng-geleng. Dia menyebut-nyebut nama seseorang, bergumam tanpa jelas. Seringaian tercetak di wajahnya.

"Blaze..Blaze..

Tsk..tsk..

Sorry, bro.

Malang sekali nasibmu."

TBC


Yes, bahagian pertarungan selesai! Maaf jika feelsnya kurang ngena, actionnya buru-buru atau memaksa banget. Kalau bisa fic ini ingin di-end secepatnya. Mungkin tinggal satu dua chapter lagi. Dan selepas ini mugkin ada fic baru kalau sempat. Stay tune!