"Sekarang mereka mahu diapain?" tanya Thorn.
Setelah bertarung hampir satu jam, dia sudah kehabisan tenaga. Begitu juga dengan Solar dan Ochobot. Solar terbaring tidak sadarkan diri manakala Ochobot pula bersandar di pohon gara-gara kelelahan. Halilintar pula terpaksa masuk campur setelah Blaze dan Iwan melarikan tombak bertiga ke dermaga.
"Tinggalkan mereka," balas Ochobot.
Dia sudah merasa tidak perlu untuk menahan kelompok lelaki itu lagi. Baginya yang penting, tombak-tombak itu kini selamat berada di tangan Blaze.
"Tinggalkan aja? Terus?" soal Thorn sambil merenung wajah Ochobot dengan tatapan bingung.
"Iya, biarin mereka pergi. Lagi pula tugas kita bukan untuk menangkap mereka. Ingat, kita punya tugas lain. Kalau selesai tugas itu, kita dibolehkan pergi. Blaze juga sudah memesan supaya kita meninggalkan tempat ini secepatnya," balas Ochobot dengan wajah serius.
Sepertinya tugas mereka di situ benar-benar sudah selesai. Kedua-duanya menoleh, memastikan teman-teman mereka masih hidup. Kemudian Ochobot mengangkat tubuh Solar supaya dia bangun.
"Kurasa mereka sudah melarikan diri," kata Halilintar setelah mendudukkan diri di atas tanah.
Kini Halilintar sadar bahawa teman-teman Blaze, dan Blaze sendiri bisa dibilang biasa bertarung. Namun Halilintar sendiri tidak pasti apa rencana Blaze selepas itu.
"Iya. Mereka juga sudah pergi, bererti kita sudah aman. Blaze menyuruh kami pergi setelah semuanya selesai," jawab Ochobot.
Halilintar mengangguk-angguk.
"Terima kasih," ujar Halilintar singkat dengan senyuman yang kecil.
Walaupun mereka baru bertemu, pengalaman yang mereka lalui bersama pada hari itu telah menyatukan hati mereka dengan satu tujuan yang sama.
"Itu cuma sedikit kok," balas Ochobot dengan senyman.
Ochobot, Thorn dan Solar mulai berjalan beriringan untuk kembali ke tempat letak mobil mereka. Halilintar juga menyusul. Tempat itu kembali sepi. Setelah ketiga teman Blaze menghilang, tinggal Halilintar menunggu Blaze seorang diri.
Tidak lama setelah itu, Halilintar mendengar beberapa bunyi tembakan di sebalik pohon-pohon yang tumbuh tinggi di dalam hutan. Halilintar berlari ke arah jalan untuk melihat apa yang sedang berlaku. Jalan yang ditutupi kabut itu perlahan-lahan sudah bisa dilihat. Kabut-kabutnya hilang bagai ditiup angin. Jalan itu terbentang luas, berujung dengan kegelapan malam.
Halilintar bingung melihat kejadian itu. Namun, dia dapat merasakan ada dua buah mobil asing berada di belakangnya, sedang menuju ke arah itu. Cepat-cepat dia melompat untk bersembunyi di dalam semak di tepi jalan. Selepas kedua mobil itu melewatinya, dia bangun semula dari tempat persembunyian. Tanpa berlengah, dia mencapai sepeda motornya yang disimpan berhampiran semak itu lalu membuntuti kedua mobil yang menghala masuk ke Batu Rintis.
Sebaik tiba di hadapan Batu Rintis, Halilintar terpaku melihat apa yang berlaku di situ.
.
.
.
.
Blaze dan Iwan tiba semula di dermaga. Mereka bisa melihat kawasan itu sudah diterangi oleh lampu dari beberapa buah mobil. Keadaan di situ yang awalnya sepi bertambah ramai. Namun sepertinya Blaze bisa mengenali beberapa mobil yang berhenti di kawasan itu. Yang turut berada di situ adalah mobil polisi. Dengan rasa gementar, Iwan membantu Blaze naik semula ke tebing dengan berhati-hati. Dilihatnya Gempa dan Joko sedang ditahan di dalam salah satu mobil polisi.
"Kakek, itu Api!" sahut Yaya dan Ying. Mereka terus menerpa ke arah Blaze sebaik ternampak wajahnya. Blaze bisa melihat Tok Aba cepat-cepat menghampirinya.
"Kakek.." panggil Blaze sambil tersenyum pahit.
Tok Aba langsung memeluk cucunya itu dengan haru. Sungguh dia merasa teramat iba melihat keadaan Blaze yang begitu lemah. Badannya penuh luka-luka. Perban di kepalanya basah dengan darah. Darah tidak henti-henti mengalir di celah jarinya.
Blaze sudah tidak berdaya lagi untuk berjalan mahupun berdiri. Namun hatinya lega dan puas karena tugas itu sudah dapat dilaksanakan. Dia hanya mampu pasrah menanti hasilnya sama ada usahanya membebaskan desanya dari puaka itu berhasil atau gagal. Sekarang di pikirannya hanya nasib ibu dan adiknya yang belum ditemukan. Memikirkan mereka, hatinya belum sepenuhnya senang.
"Alhamdulillah, syukur kamu selamat…" balas Tok Aba menarik napas lega.
"Kok di sini ramai banget, kek?" tanya Blaze sambil melemparkan pandangan ke sekitarnya.
"Desa Rintis barusan mengalami gegaran. Batu itu sudah runtuh. Dan sekarang jalan masuk ke Batu Rintis sudah tidak dihijab lagi," balas Tok Aba.
Apa? Runtuh? Blaze kaget mendengarkannya. Dia mulai cemas.
"Ibu? Di-Dia di mana?! Bagaimana dengan ibu sama adikku?" desak Blaze sambil mengguncang bahu kakeknya.
"Sabar, Api. Pihak polisi sudah ke sana untuk mencari ibu dan adikmu. Sebaiknya kamu ke rumah sakit dulu. Kamu akan kehabisan darah dengan keadaanmu yang seperti itu," saran Tok Aba.
Blaze terus menggeleng. Selagi dia tidak dapat melihat wajah ibu dan adiknya, nyawanya tiada harga.
"Kakek, tolong…tolong bawa aku ke sana! Aku ingin bertemu sama mereka dahulu!" pinta Blaze.
Tok Aba mengeluh. Dia tidak lagi bersuara. Dia tidak punya pilihan lain selain terpaksa akur akan permintaan cucunya yang keras kepala itu.
.
.
.
.
Setiap detik dirasakan teramat lama. Walaupun seluruh tubuhnya terasa sakit namun Blaze lebih mengkhawatirkan keadaan ibunya dan Air. Kalau benar mereka berada di Batu Rintis, bermakna apa-apapun bisa berlaku di saat ini.
Sebaik sahaja mereka menghampiri kawasan Batu Rintis, tempat itu sudah dipenuhi dengan anggota polisi, pasukan penyelamat dan dua buah ambulans. Jantung Blaze berdebar-debar tidak karuan. Di dalam kepalanya hanya terbayang kondisi ibu dan adiknya. Dia berdoa dalam hati semoga ibu dan adiknya tidak kenapa-napa. Semakin dia mendekati kawasan itu, Blaze melihat beberapa mayat diangkut oleh anggota polisi.
Tunggu..mayat?
Blaze merasa heran. Di hadapan runtuhan bangunan yang menempatkan Batu Rintis itu tergeletak dua mayat satpam yang menjaga kawasan itu bersama anjing-anjingnya dalam keadaan bertelingkup. Sepertinya mereka telah ditembak apabila memerhatikan keadaan seragam mereka yang penuh tompokan darah, beserta beberapa butir peluru yang tergeletak di samping mereka.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Blaze.
Tiba-tiba dia terdengar suara erangan dari seseorang. Kedengarannya seperti seseorang yang menahan sakit.
Blaze menoleh untuk mencari asal suara tersebut.
Dilihatnya Halilintar yang sedang dirawat oleh beberapa petugas kesehatan yang ditugaskan ke tempat itu. Blaze segera menerkam lelaki itu untuk bertanya apa yang berlaku.
"Ada apa ini? Kenapa dengan kakimu? Apa yang sudah terjadi?" tanya Blaze bertubi-tubi pada Halilintar yang kakinya sedang dibalut oleh seorang perawat.
"Blaze."
Blaze terkejut.
'Kok Halilintar tahu? Tapi bagaimana?'
"Aku ditembak. Ada orang mencarimu."
Kali ini Blaze keliru.
"Siapa?"
"Aku tidak tahu. Mereka ada di dalam," Halilintar menoleh ke arah bangunan yang telah runtuh.
"Ibuku gimana? Air?"
Halilintar memandang Blaze dengan tatapan kosong lalu menunjukkan isyarat yang sama, dengan menoleh ke arah runtuhan.
Blaze hilang pertimbangan. Tiba-tiba dia teringat pada Fang, kumpulan Wun Tai, dan dendamnya pada Ejo Jo. Napas Blaze memburu.
"IBUUUU! IBUUU!"
Sebelum Blaze sempat menerpa ke arah bangunan yang runtuh, dia ditahan oleh beberapa orang perawat.
"Sabar, pak! Tenang! Anda harus dirawat dahulu! Kondisi anda sangat-"
"Tidak! Tidak! Lepaskan! Aku ingin menemui ibuku! Biar aku pergi! Ibu! Ibuuu…!" Blaze menronta-ronta walaupun tangannya lemas ditahan oleh dua orang perawat yang bertugas.
Kemudian datang Iwan dengan tergesa-gesa ke arah Blaze.
"Api! Polisi bilang mereka terdengar suara orang meminta tolong dari dalam bangunan itu!"
"ITU IBUKU!"
Tanpa berlengah lagi, Blaze merentap tangannya lalu berlari ke arah timbunan bangunan yang telah runtuh. Timbunan batu bata itu digali dengan sebelah tangannya. Usahanya dibantu oleh Iwan dan anggota polisi yang lain. Blaze terus menggali sambil memanggil-manggil ibunya. Usaha pencariannya agak sukar karena keadaan masih gelap-gelita. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan memasang lampu. Apabila disuluh, dia menjumpai satu jalan. Dia memasuki semakin dalam ke dalam batu yang selama ini hanya pernah didengarnya.
Belum sempat dia memanggil anggota polisi, tubuhnya ditendang seseorang. Blaze ambruk ke lantai gua yang penuh dengan debu runtuhan. Ponselnya tercampak ke dinding gua.
Dalam keadaan yang gelap, dia tidak pasti siapa yang menendangnya. Belum apa-apa, dia ditendang sekali lagi. Dadanya sakit akibat tendangan itu namun kali ini dia dapat menangkap lalu melibaskan kakinya ke arah orang yang menyerangnya. Akhirnya, mereka berdua sama-sama jatuh di atas lantai. Blaze berteriak kuat ketika lelaki itu mencengkram bahunya yang luka.
"BERHENTI!" arah seorang anggota polisi.
Lampu suluh dan pistol dihalakan bersamaan ke arah mereka. Mereka berhenti bergelut sebentar. Setelah itu Blaze dapat melihat lebih jelas wajah orang menyerangnya sebentar tadi.
"EJO JO!"
Blaze berundur sedikit akibat kaget.
Namun Blaze sekali lagi menerima tendangan di dada daripada lelaki itu. Blaze terperosok ke belakang. Ejo Jo terus melancarkan serangan tetapi dapat dikilas Blaze dengan mudah. Akhirnya Ejo Jo tersembam di lantai.
Mereka kembali bergelut dan bertumbuk. Ketika ini, Blaze benar-benar sudah mabuk darah. Dia terus menghujamkan kepalan tangannya yang padu ke wajah Ejo Jo. Kewarasan akalnya seakan-akan hilang apabila melihat wajah Ejo Jo. Dia masih tidak bisa melupakan ledekan Ejo Jo lewat ponsel soal kematian ayahnya. Tanpa sadar dia terus menumbuk tanpa ampun dan menerjang seperti orang gila.
"BERHENTI!" Sekali lagi polisi memberi amaran.
Blaze tersentak. Perlahan-lahan dia menghentikan tumbukannya yang hampir memecahkan rahang lawan. Dia mengatur napasnya lalu beristighfar. Buat seketika rasa amarahnya telah menguasai akalnya. Apa yang diingat hanyalah dendam yang ingin dilunaskan. Akhirnya Blaze akur.
Sambil tercungap-cungap, Blaze bangkit dari tubuh Ejo Jo. Dia mundur dengan langkah yang tidak teratur. Sebaik dia ingin melangkah pergi, Ejo Jo bangkit mencapai sebuah batu lalu meluru ke arah Blaze.
BAM!
Suatu tembakan dilepaskan oleh pihak polisi. Blaze kaget lalu menoleh. Ejo Jo tersungkur di sebelahnya, tidak bergerak.
Blaze menghela napas. Dia benar-benar tidak berdaya lagi.
"Tolong cari ibu saya, Pak. Kumohon.." pinta Blaze pada seorang anggota polisi yang telah menumbangkan Ejo Jo.
"Keluar dulu," arah anggota polisi itu.
Dua orang anggota polisi yang lain menerpa ke arah Blaze untuk membantunya berjalan namun Blaze menolak. Dia tetap bersikeras ingin mencari ibunya.
"Saya harus mencari ibu saya, Pak! Saya ingin mencari ibu saya!" teriak Blaze sambil menolak lengan anggota polisi itu.
Bagai orang kesurupan, Blaze masuk tanpa peduli lagi ke dalam Batu Rintis dan mengalihkan batu-batu semampunya. Melihat kesungguhan Blaze, semakin ramai anggota polisi yang turut serta membantunya mengharungi sisa-sisa runtuhan di dalam gua itu. Akhirnya, mereka sama-sama menemui jalan masuk.
Semakin dalam mereka masuk, semakin banyak runtuhan yang melintangi jalan. Malah semakin banyak mayat yang ditemui mereka. Blaze tercengang melihat mayat yang pertama dan kedua.
'Kaizo dan Lahap? Ngapain mereka ke sini? Apa mereka mencariku?' batin Blaze.
Blaze mengabaikan dahulu soal mereka. Untuk waktu ini, dia hanya mahu mencari ibu dan adiknya. Dia terus berjalan hingga terpandang mayat ketiga yang baru ditemukan oleh pihak polisi.
"Kalian! Di sini ada mayat lagi," ujar anggota polisi yang berada di sisi Blaze.
Blaze memandang mayat itu lama. Dia tidak kuat menahan perasaan sedihnya apabila menyadari siapa mayat itu.
"Taufan.." ujar Blaze pilu.
Matanya bergenang melihat tubuh mayat temannya hancur berkecai dihempap bumbung gua.
"Anda kenal orang ini?" tanya anggota polisi itu.
Blaze pantas menggeleng. Sebulir air matanya lolos.
Anggota polisi itu terus menyuluh lampunya ke serata arah.
"Sepertinya mereka semua tidak sempat keluar dari gua ini semasa gegaran berlaku," komentar salah seorang anggota polisi.
Blaze tidak berkata apa-apa. Apapun teorinya, semuanya sudah tidak berguna lagi. Mereka semua telah mati di situ karena ingin mencarinya.
Seorang anggota polisi yang memimpin pencarian itu tiba-tiba berhenti. Dia menyuluh ke arah dinding di bahagian atas.
"ITU MEREKA!"
Polisi itu menunjuk ke arah dua sosok tubuh yang tergantung di dinding gua. Kedua tangan dan kaki mereka dipasung dengan besi.
"IBU!" teriak Blaze.
Dia terus berlari ke tempat ibunya. Tidak peduli lagi kalau kakinya luka-luka karena memanjat timbunan batu-bata. Tubuh yang masih hangat itu dipeluknya erat dengan tangisan. Dia turut memeluk tubuh Air yang tidak sadarkan diri.
"Tolong…mereka masih hidup.." rayu Blaze.
Dia terus larut dalam tangisan sehingga akhirnya dia rebah.
.
.
.
.
Iwan berlari-lari mendapatkan Tok Aba.
"Api dan keluarganya akan dibawa ke rumah sakit. Aku sama Ying dan Yaya akan melawat mereka nanti. Kakek gimana? Mahu ikut?" soal Iwan.
Tok Aba mengangguk.
Kali ini, mereka menumpang mobil Yaya ke rumah sakit. Halilintar tidak ikut karena dia memang sudah dibawa ke rumah sakit gara-gara kakinya yang belum pulih. Sewaktu Yaya sedang memandu menuju ke rumah sakit, Tok Aba ternampak sebuah mobil yang berwarna putih memasuki Desa Rintis. Lantas Tok Aba menyuruh Yaya menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Tok Aba?" soal Adu Du dengan raut curiga. Dia turut menghentikan mobilnya di seberang jalan sebaik melihat pria tua itu keluar dari mobil.
"Aku ingin berbicara tentang sesuatu," balas Tok Aba.
Adu Du menutup pintu mobilnya, meninggalkan Probe dan beberapa pria lain di dalam mobilnya.
"Apa yang sedang berlaku?" soal Adu Du setelah Tok Aba menyahut-nyahut namanya agar dia menemui pria tua itu.
Kemudian dia teringat sesuatu. Kejadian semasa upacara pelantikan malam tadi.
"Tok Aba, apa benar khabar yang kudengar bahawa…"
Adu Du menjeda kalimatnya sebentar lalu meneguk ludah.
"..Batu Rintis telah runtuh?" sambung Adu Du.
Tok Aba mengangguk-angguk.
"Iya. Tombak-tombak itu juga sudah dihanyutkan ke muara. Kita sudah tidak punya perjanjian sama puaka itu. Desa kita bebas."
Adu Du sedikit tersentak.
Sebenarnya Adu Du ragu-ragu untuk betanya. Namun, apa yang lebih merisaukannya adalah..
"Jadi…upacara pelantikan itu.."
Tok Aba menghela napas.
"Upacara yang kalian lakukan itu sudah tidak bermakna apa-apa lagi. Pelantikan itu sudah terbatal."
Wajah Adu Du berubah muram dan kecewa. Nampaknya dia dan keluarganya tidak bisa lagi menumpang kesenangan yang bakal diperoleh keponakannya.
"Gempa juga sudah ditangkap polisi. Setelah ini aku berharap tidak ada lagi penduduk desa yang yang menyembah dan memberikan korban pada batu puaka itu," ujar Tok Aba.
"Kenapa pula?" tanya Adu Du sambil menatap wajah Tok Aba sengit.
Tok Aba sekali lagi menghela napas. Dia kini percaya yang sebenarnya Adu Du tidak paham apa-apa tentang tujuan sebenar pelantikan itu dijalankan. Adu Du tidak tahu bahawa dia juga mangsa keadaan, orang yang sedang dipergunakan agar pihak lain bisa mengaut kesenangan. Sedikit sebanyak membuat Tok Aba merasa simpati.
"Banyak nyawa yang sudah melayang, Adu Du. Kalau kamu datang lebih awal, mungkin kamu juga terkorban dalam runtuhan itu. Malah ada yang mati tertembak," ujar Tok Aba. Dia harap pria itu mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Adu Du terdiam.
"Anggap aja Tuhan ingin menyelamatkan kalian. Cukuplah dengan segala rezeki yang Tuhan berikan kepadamu selama ini. Belajarlah untuk bersyukur dan bersikap qanaah, iaitu merasa cukup dan menerima apa yang ada. Tuhan sudah memberikan rezeki yang cukup buat kalian sekeluarga. Ambillah perkara yang baik sebagai tauladan, yang buruk itu dijadikan sempadan," tokok Tok Aba.
Adu Du hanya menundukkan wajahnya dan mengangguk-angguk perlahan. Sungguh dia menyesal kerana mempercayai Gempa. Selama ini, dia telah dibutakan dengan harta dan kesenangan materi.
"Sebaiknya kalian pulang sahaja. Sudah tidak ada apa-apa yang kalian bisa berbuat lagi di sini. Lupakan semuanya. Suatu hari nanti kamu akan mengerti apa yang Gempa dan waris Bentara Tanah telah lakukan selama ini," nasehat Tok Aba.
Dia paham Adu Du lagi kecewa dan berat untuk menerima segalanya, namun dia berharap Adu Du dan keluarganya akan bersyukur dengan apa yang telah berlaku.
Setelah itu, Tok Aba kembali ke mobil lalu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.
.
.
.
.
Sebaik sahaja Adu Du masuk semula ke dalam mobil, Probe terus menegurnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Probe dengan cemas. Dia khawatir melihat Adu Du kembali dengan wajah yang muram.
Adu Du hanya diam dan kaku di tempat. Probe bertambah khawatir.
"Adu Du?" panggil Probe lagi.
"Kita pulang," ujar Adu Du.
"Hah? Gimana dengan pelantikan itu?" soal Probe dengan reaksi syok.
Adu Du mula mengemudi perlahan-lahan menghala ke kota semula. Ketika itu, Desa Rintis semakin lengang. Orang ramai, pihak polisi dan penyelamat mula meninggalkan kawasan itu.
"Gak jadi," balas Adu Du singkat.
"Apa?! Gak jadi?" Probe melotot.
Yang lain termasuk Boboibot serempak menoleh. Mereka juga penasaran sama apa yang berlaku.
"Bukan salah kita. Salah Si Gempa itu.." ujar Adu Du.
Yang lain masih tertanya-tanya, tidak mengerti.
"Kita lihat aja paparan dalam koran nanti.." tokok Adu Du.
Dia mula merutuki kekesalannya pada Gempa.
Probe hanya mengeluh berat. Malam ini, mereka terpaksa pulang dalam keadaan hampa.
TBC
Maaf, ini telat banget. Seperti yang dijanjikan, chapter2 pengakhiran fic ini akan di-continue setelah lebaran. Maka di kesempatan ini aku juga ingin mengucapkan salam lebaran pada kalian~! Ampun dan maaf atas segala ketelatan (_)
Hehehe...ada yang penasaran sama Taufan dan Fang? Nantikan di chapter selanjutnya~~
