Tok Aba mengajak Halilintar ke suatu tempat. Sejak seminggu yang lalu dia sudah ingin melihat sebuah lubang di bawah pohon tua di hadapan Batu Rintis yang tertutup pelepah daun. Entah mengapa, hatinya terusik untuk mengetahui apa sebenarnya yang tersimpan di dalam lubang itu. Namun, disebabkan Halilintar yang kakinya parah terkena tembakan, dia terpaksa mengurungkan hasratnya itu.
"Kita mau ke mana, kakek?" tanya Halilintar yang berada seirigan dengan Tok Aba. Langkahnya lambat-lambat karena dia terpaksa berjalan menggunakan tongkat sehingga kakinya benar-benar pulih.
Mereka berdua terpaksa mengharungi sisa-sisa batu runtuhan di kawasan Batu Rintis yang masih belum dibersihkan. Mahu menggunakan jalan dari arah belakang, jalan itu sudah terhalang dengan batu besar.
Tok Aba tetap diam dan terus berjalan. Langkahnya semakin laju, membuat Halilintar semakin payah untuk mengejarnya. Akhirnya dia sampai juga di kawasan pohon cengal tua yang dicari-cari. Dia memandang ke kiri, lalu ke kanan sehingga menemukan lubang segi perempat yang dicari.
Tok Aba menghampiri lubang itu lalu mengalihkan daun-daun yang menutupi lubang itu. Kelihatan sebuah lubang sebesar lubang kubur di balik pelepah daun itu.
"Kuburan?" tebak Halilintar yang turut melihat dengan jelas keadaan lubang itu.
Tok Aba mengeluarkan lampu suluh yang terselip di saku celananya, lalu menyuluh ke dalam lubang. Tiada apa-apa yang dilihat kecuali lapisan tanah. Sehinggalah Tok Aba menyuluh ke dinding lubang di sebelah kiri. Telulang-belulang yang tajam seakan-akan rusuk manusia mencuat keluar dari permukaan dinding tanah.
"Telefon pihak polisi sekarang, Halilintar," arah Tok Aba.
Tok Aba yakin yang dia sudah menemukan apa yang dicari. Dia yakin, itulah makam lama di mana para penjaga Batu Rintis membuang mayat-mayat korban pemujaan batu itu. Dia yakin kalau makam itu terus digali, pasti akan menemukan lebih banyak lagi tulang-belulang yang masih belum reput.
"Ini makamnya siapa, kek?" soal Halilintar, bingung.
"Kamu tahu soal bayangan jasad-jasad tanpa kepala yang sering mengganggu penduduk desa?" tanya Tok Aba.
Halilintar mengangguk-angguk. Sungguh, dia masih meriding memikirkan hal itu.
"Mereka itu para penduduk desa yang telah dijadikan korban buat batu itu. Yah setelah itu, jasad mereka yang tanpa kepala itu ditanam di dalam lubang ini," terang Tok Aba.
Mendengar jawapan Tok Aba, Halilintar terus menghubungi polis. Kebetulan pula, beberapa anggota polisi masih berada di sekeliling desa itu untuk menjalankan siasatan lanjut berhubung mangsa-mangsa yang mati di dalam gua semasa runtuhan berlaku.
Tidak lama kemudian, kawasan itu mula dipenuhi dengan pihak polisi yang berusaha menggali kawasan makam tua itu.
Tok Aba yang melihatnya merasa sebak. Dia berharap semua mayat mangsa-mangsa itu dapat disemadikan semula dengan baik. Dia berdoa semoga semuanya akan berakhir dengan baik.
.
.
.
.
.
Blaze membuka matanya perlahan-lahan. Irisnya terus menangkap cahaya yang terang dari arah tingkap. Sangat terang sehingga membuat matanya terasa perit. Perlahan-lahan dia mengumpulkan kesadarannya di hari yang sudah semakin siang.
Blaze tidak bisa berkata-kata. Yang pasti, dia terasa amat bersyukur di dalam hati. Dirinya masih beroleh kesempatan untuk bernafas. Dia mensyukuri betapa beruntungnya dia kerana masih diberi peluang untuk terus hidup atas ijin Allah. Dia sadar, Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk menginsafi diri dan meminta ampun kepada Yang Esa. Tidak seperti temannya, Taufan. Sedikit demi sedikit dia mengingati kembali apa yang menimpa dirinya malam itu. Dengan payah, dia bangkit untuk memanggil sesiapa sahaja yang berada di situ.
"Api, kamu sudah sadar?" tegur Tok Aba sebaik dia baru sahaja di situ.
Blaze menoleh ke sampingnya lalu mendapati Tok Aba duduk di sebelahnya. Dia menatap wajah pria tua itu lama-lama, wajah yang tetap tenang dan yakin seperti biasanya. Di sekeliling kasur yang menempatkannya di rumah sakit, berdiri semua teman-temannya di desa itu- Iwan, Halilintar, Yig dan Yaya. Blaze hanya menanggapi tatapan penuh simpati daripada mereka dengan senyuman tipis. Tubuhnya masih lagi sakit-sakit.
"Alhamdulillah, syukur kamu telah sadar. Ibu dan adikmu juga. Tapi mereka masih lemah, semenjak mereka diculik, mereka tidak diberi makan. Mereka hanya diberi minum air sungai Rintis. Mereka pingsan sebelum gua itu runtuh. Mereka tidak tahu apa yang berlaku," cerita Tok Aba.
Kata-kata Tok Aba membuat hati Blaze amat lega. Kebimbangannya hanyut. Matanya bergenang tanpa putus mengucapkan syukur dalam hati.
"Polisi sudah menahan Gempa dan para konconya. Memang dia yang terlibat sama kematian ayahmu. Dia tidak akan terlepas hukuman dunia dan akhirat," ujar Tok Aba lagi.
Blaze termenung jauh. Entah kenapa dia teringat sama Ejo Jo dan Fang. Sudah tentu Fang akan mencarinya hingga ke lubang cacing selepas ini. Demi keselamatan keluarganya, nampaknya dia harus pergi lagi kali ini. Sebaiknya dia mencari sahaja laki-laki itu, sebelum laki-laki itu melibatkan keluarganya di sini.
"Baiklah, ijinkan kami melawat ibu kamu pula. Kami pergi dahulu," Tok Aba mewakili yang lain berpamitan sebelum meninggalkan Blaze di situ.
Blaze mengambil ponselnya lalu mendapati beberapa pesanan serta panggilan masuk daripada Suharto. Dengan cepat dia menghubungi semula laki-laki itu.
Suharto menyambut panggilannya dengan nada marah, namun senang karena akhirnya Blaze menghubunginya juga.
"Ada apa sih, To? Pakai teriak-teriak segala, sakit telingaku tau-..tunggu. Ochobot, Solar dan Thorn gimana?" soal Blaze setelah teringat tentang satu hal. Dia sedikit khawatir karena telah meninggalkan mereka begitu sahaja tanpa khabar. Siapa tahu kalau mereka kenapa-napa?
"Mereka tidak kenapa-napa. Ochobot patah kaki. Thorn dan Solar cedera, tapi tidak serius kok," balas Suharto.
Blaze merasa lega. Mujur semuanya baik-baik saja.
Suharto diam lama sebelum kembali bersuara. Kali ini suaranya direndahkan dan kedengaran lebih serius.
"Blaze, sudah tahu khabar tentang Fang?"
"Fang?"
"Dia sudah mati, loh."
"Hah?!"
Blaze yang tadinya baru sahaja bangkit dari kasurnya, terduduk kaget.
"Masa sih?"
"Orang aku menemukan mayatnya di hutan. Awalnya aku juga nggak percaya sih, sampai aku harus melihatnya sendiri."
"Bagaimana dia bisa mati di situ? Lagian ngapain pula dia ke situ?" Blaze menyoal Suharto. Apa sudah dia sebegitu ketinggalan soal urusannya di bandar sejak dia pulang ke kampungnya? Tapi kedengarannya seperti ada sesuatu yang aneh. Lalu bagaimana pula Ejo Jo bisa muncul di gua itu? Taufan juga? Apa waktu itu mereka sedang mencarinya, tetapi di waktu yang tidak tepat?
"Suharto!" panggil Blaze setelah lama Suharto tidak menjawab.
"Maaf. Tapi kurasa kau perlu tahu sesuatu, Blaze."
Kali ini Blaze diam. Dia mendengar dengan teliti.
"Kau perlu hati-hati, Blaze. Kita punya musuh dalam selimut. Dan musuh itu dekat sekali denganmu."
"Siapa?"
Blaze berdebar-debar. Dia meneguk ludah. Siapa lagi?
"Taufan."
Dunia Blaze terasa kelam buat seketika. Dia benar-benar tidak percaya.
"Yang benar aja, To?!"
"Iya aku tidak bercanda soal hal ini! Panjang ceritanya, Blaze. Maaf karena terpaksa merahasiakan hal ini darimu dulu. Tapi kurasa Taufan dan Ejo Jo punya hubungan dalam pembunuhan Fang."
"Cerita aja. Aku sudah pusing nih, butuh penjelasan..."
Blaze memijat-mijat kepalanya. Selepas satu masalah, masalah lain yang timbul. Berawal dari kematian Gopal dan kehilangan barang yang mengundang kemarahan Fang, kemudian hal kematian ayahnya yang melibatkan Ejo Jo. Belum lagi masalah dengan Gempa soal desa, namun masalah itu sudah selesai. Sekarang apa pula?
Kemudian dia teringat keadaan Taufan yang mati dihempap bumbung gua. Juga ketika Ejo Jo cuba menyerangnya dengan batu sebelum ditembak polisi. Ada apa sih sebelum itu, sebenarnya? Bagaimana mereka semua bisa mati di situ?
"Mereka sudah lama merancang untuk menyingkirkanmu. Dan juga Fang. Sekarang mereka yang mengepalai Wun Tai."
"Lagi satu hal. Kamu pikir Gopal mati karena ditembak polisi, bukan?"
Blaze diam. Dia sudah merasa tidak sanggup untuk mendengar omongan Suharto lagi. Setega itukah tindakan Taufan?
Namun semakin dekat Blaze mengejar mobil , ia berfirasat buruk. Sesuatu yang tidak kena.
Blaze memberanikan diri menoleh ke belakang.
'..!'
"GOPAL!" teriak Blaze.
"Sebenarnya Taufan yang menembak Gopal. Dia sengaja ingin menghancurkan persahabatan kalian agar tidak lagi dekat-dekat sama Fang. Kami mulai curiga pada Taufan, oleh itu aku meminta Ochobot untuk menyiasat soal rencana Taufan yang sebenarnya. Ochobot juga ada bukan semasa kalian melarikan barang itu ke gudangnya Fang?"
Blaze mengangguk lemah, walaupun dia tahu Suharto tidak bisa melihatnya melalui panggilan telefon.
"Yah, dia telah melihat semua itu. Dan soal kehilangan barang rampokan, aku yang menyuruh Solar dan Thorn melarikannya dari apartment kalian. Kami sengaja mau memperdaya Taufan. Serangan tempoh hari di kelabku juga ulahnya Taufan. Aku gak nyangka dia dan Ejo Jo sanggup mengupah orang untuk menyerang kelabku untuk membalas dendam. Hari itu juga Kaizo dan Lahap menyerang kalian di desa, bukan? Mereka juga sudah curiga. Taufan tertuduh atas kematian Gopal, lalu diburu oleh pihak polisi. Karena itu dia melarikan diri dengan mengikutmu di desa. Soal itu juga, aku menghantar Ochobot, Thorn dan Solar ke kamu bukan cuma untuk membantumu, juga untuk menghentikan Taufan."
Blaze menghela napas berat, kesal. Pantas sahaja Taufan kelihatan seperti dilanda masalah besar semasa bertemu dengannya di hotel dahulu. Napasnya sudah tersekat-sekat. Tangannya terkepal. Bergenang air matanya mengenangkan persahabatannya dengan Taufan berakhir begitu sahaja. Namun dia akur, benih persahabatan yang tidak baik mana mungkin menumbuhkan hal yang baik pula.
"Sekarang Taufan dan Ejo Jo lagi berkuasa. Sebaiknya kau hati-hati setelah kembali ke sini," sambung Suharto.
"Semuanya sudah mati, To," balas Blaze lirih.
Dia menghela napas lesu. Jauh dalam hatinya, dia merasa kesal karena tidak pernah mengkhianati Taufan. Jadi Taufan bukanlah ingin mencarinya selama ini. Blaze yakin yang Taufan lebih berminat kepada apa yang ada di dalam batu setan itu. Hanya saja, mereka datang di waktu yang salah. Dia sungguh tidak menyangka Taufan begitu serakah sehingga sanggup berkomplot dengan Ejo Jo.
"Mati? Bagaimana-"
"Nanti kuceritakan. Tapi jangan kalian khawatir soalku, aku tidak diapa-apakan sama mereka. Ini bererti kalian juga tidak akan diganggu lagi sama mereka," ujar Blaze.
"Blaze, kalau kau pulang ke sini, sebaiknya kau bergabung aja sama kami," pelawa Suharto.
Blaze tidak menjawab. Dia mengerti apa yang diinginkan Suharto, tetapi hatinya sudah tidak ingin kembali ke sana. Kisah kelam kehidupan lamanya di situ ingin dia kuburkan sedalam-dalamnya. Dia terus menutup ponselnya.
Sebaik ponselnya ditutup, Blaze terpaku melihat siapa yang datang menghampirinya.
TBC, or End?
Hmm..akhirnya bisa kembali nulis ini di kesempatan liburan semester, walaupun sedikit. Mood nulis lagi down karena sudah lama gak nulis D':
Maaf jika endingnya mengecewakan. Ada sedikit lagi scene tambahan di endingnya untuk Gempa. Siapa yang mau action scene Taufan dijadikan bonus chapter sama epilog? Review.
