"Aku rindu padamu." Wonwoo tersedak setelah mendengar perkataannya. Kalimat yang tak di sangka keluar dari pemuda tinggi di hadapannya. Wonwoo tak percaya apa yang terjadi dengan dirinya. Dan siapa sebenarnya pemuda di hadapannya ini.
Chapter 2
Hening sejenak. Tak ada gerak dan tak ada suara. Keduanya memperhatikan ke dalam mata lawan bicaranya masing-masing. Sesaat kemudian Mingyu inisiatif untuk mengambil gelas yang letaknya jelas-jelas lebih dekat dengan Wonwoo. "Ada apa dengan mu? Minumlah dulu." Si pemuda tinggi menepuk-nepuk punggung Wonwoo pelan. Air yang sudah tertampung di wadah kaca yang pas sekali dengan genggaman tangan Wonwoo di tenggak habis olehnya. Mata Wonwoo melirik sekilas ke arah pemuda di samping nya yang terlihat begitu khawatir. Di perhatikan lekat-lekat wajahnya, mencoba mengingat siapa orang yang ada di hadapannya tapi tetap saja ia tak mengingat pernah mengenal orang ini. "Ah, terimakasih makanan nya. Tapi, bisakah aku bertanya satu hal?" Ucap si pemuda sipit setelah menyeka sedikit air yang tersisa di mulutnya. Senyumnya sangat cerah, pemuda berambut coklat ini betul betul menggemaskan saat dilihat.
"Apa itu? Kau boleh bertanya sepuasnya." Wonwoo cukup lama memikirkan pertanyaan nya. Ia berpikir apakah sopan menanyakan hal ini kepada orang yang baru di temuinya terlebih telah menyelamatkannya dari kelaparan. Wonwoo mengatur kalimat di dalam otaknya berharap semoga pertanyaan nya tak menyakiti hati si penyelamat ini. "Bolehkah aku tau nama mu?" akhirnya hanya kalimat itulah yang keluar. Terlalu banyak pilihan pertanyaan di otak Wonwoo. Pada akhirnya hanya itu yang bisa terucap. Hatinya cukup gelisah bertanya-tanya dan mengira-ngira sepertinya pemuda di hadapannya ini telah mengenalnya.
"Aku? Namaku?" Ucap si pemuda tinggi bingung. Wonwoo hanya mengangguk takut. Apakah salah untuk menanyakan namanya. "Kim Mingyu, Namaku Kim Mingyu." Terlalu periang dan senyum sumringah. Senyum nya berbeda sekali dengan milik Hoshi walaupun senyum Hoshi lebih sumringah di banding senyum pemuda bernama Mingyu ini. Senyum Mingyu menyaratkan rindu yang begitu berlebih. Wonwoo lagi-lagi berpikir apakah ia pernah mengenal orang yang ada di hadapannya ini. "Ah Kim Mingyu. Terima kasih atas makanan nya. Masakan mu sungguh enak." Wonwoo tak ingin terlalu memikirkan hal yang belum jelas. Jadi ia berinisiatif pamit karena sudah terlalu banyak merepotkannya. Wonwoo membungkuk memberi salam berniat untuk menuju pintu. Mingyu yang sedari tadi berdiri di hadapannya masih terpaku memerhatikan Wonwoo. "Ternyata aku benar-benar tidak bermimpi, aku benar-benar melihatmu di hadapanku." Wonwoo berhenti. Mendengar perkataan Mingyu yang tak masuk akal membuatnya semakin tak mengerti. Ia berbalik dengan tatapan bertanya-tanya. Angin berhembus pelan membuat suasana di antara mereka menjadi begitu dingin. Mingyu tak bergeming. Masih memerhatikan si pemuda sipit.
Wonwoo tak berniat untuk bersikap tidak sopan. Tapi, tatapan Mingyu yang sulit di artikan membuatnya takut. Apa orang yang di hadapannya ini masih waras. Wonwoo berbalik dan berlari cepat keluar dari pintu. Melihat lingkungan di balik pintu. Ternyata, Kim Mingyu adalah tetangga yang di bicarakan Scoups tadi siang. Nafasnya sedikit tersengal, bukan karena ia terlalu lelah karna jarak lari yang cukup pendek itu. Tapi hatinya gemetar takut, ia tak mengenal pemuda yang ada di balik pintu ini, tatapannya sungguh sulit di artikan, tapi kata-kata yang terucap dari mulut Mingyu membuat Wonwoo tak mengerti. Ia tak ingin berlama-lama disana. Bisa-bisa Mingyu juga ikut mengejarnya. "Apakah pemuda bernama Mingyu itu menyukaiku? Yang benar saja? Apa dia tak punya teman wanita yang cantik untuk disukainya?"Wonwoo uring-uringan, Wonwoo bergidik ngeri. Wonwoo bertanya-tanya dalam hatinya. 'Aku terlihat masih normal kan? Aku yakin, aku masih mencintai wanita.' Yakinnya dalam hati . bahkan ia harus berlari ke depan cermin melihat pantulan dirinya apakah ada yang aneh.. Rambut hitamnya diacak-acak tak mengerti situasi saat ini.
Tanpa mengganti bajunya, ia bergulung di selimutnya. Melirik jam dinding yang masih berdetak, pukul 11 malam. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar, mengingat tatapan Mingyu terhadapnya. Kata-kata Mingyu terus mengusik pikirannya. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Tapi jika pernah, dimana?" Pikir Wonwoo berulang-ulang sampai-sampai matanya tertutup secara tak sadar dan beralih ke dunia mimpi.
-0-
Mingyu masih saja tersenyum, "Kenapa dia begitu buru-buru? Apa dia tak rindu masakan buatanku?" Mingyu memberekan alat makan bekas Wonwoo, mencuci piring dan gelasnya. Tak ada yang tau kapan Mingyu tiba di tempat kos ini. Kamarnya sudah begitu rapi seperti orang yang sudah tinggal lama di tempat ini. "Apakah aku harus memasakan makanan untuknya besok pagi? Ah tidak-tidak, hari ini aku hanya punya ramyun. Aku akan beli bahan makanan besok." Mingyu berhenti sejenak dari kegiatannya. Ia lupa dimana ia letakkan plastic yang di bawanya sebelum bertemu Wonwoo tadi. "Tunggu dimana ramyunku?" Mingyu cepat-cepat menyelesaikan acara cuci piringnya dan keluar dari kamar nya untuk mencari ramyun yang ia lempar begitu saja.
Pintu tertutup pelan, Mingyu melihat papan nama yang tertera di samping kamarnya. "Jeon Wonwoo? Apa dia sudah mengganti namanya?" ucapnya, lalu melenggang menuruni tangga. Plastic yang di bawanya ternyata tersangkut di semak yang ada di sekitar halaman. Beruntung tak ada anjing, kucing atau bahkan manusia yang membawanya. Angin berhembus cukup dingin malam ini. Mingyu sedikit menyesal tidak mengenakan jaketnya bahkan hanya untuk mengambil ramyun yang ia lempar. "Kim Mingyu?" seseorang terlihat beberapa meter di belakang Mingyu. Mingyu terdiam sejenak menerka siapa orang yang telah memanggilnya. Mingyu berpikir keras mencoba mengingat-ngingat pemuda cantik di hadapannya. "Jeonghan-Hyung? Sedang apa kau disini? Kau tinggal disini juga?" Mingyu berlari menemui orang yang sepertinya sudah lama tak di temuinya. "Sudah lama sekali hyung. Kenapa rambutmu sangat panjang? Aku sempat tak mengenalinya tadi."
"Aku sedang mencari inspirasi. Ya aku tinggal di sini juga kamar ku ada di pojok sana." Mingyu memeluknya singkat, menumpahkan rasa rindu nya. "Bukankah sudah malam, kau harus tidur Mingyu-ya." Mingyu terkekeh pelan. "Kau masih saja seperti dulu, selalu menyuruhku cepat tidur. Berkunjunglah ke kamar ku besok. Kamarku berada di samping tangga." Ujarnya.
-0-
Sinar matahari menelusup melalui celah jendela yang ada di kamar si pemuda sipit. Wonwoo masih bergelung di selimutnya. Merasa nyaman walaupun sinar matahari pagi menyilaukan tapi hawa sejuk yang ada di kamar ini membuat dirinya benar-benar nyaman dan betah untuk tidak meninggalkan kasur. Tapi makin lama sinar matahari semakin tinggi membuat intensitas cahaya juga semakin terang. Mata sipitnya mencoba membuka perlahan, mengintip jam dinding yang berhadapan langsung dengan matanya, bertanya-tanya dalam hati, jam berapa sebenarnya sekarang. Sang waktu menunjukkan pukul 8 pagi, di tegakkan tubuhnya menggeliat kecil untuk melemaskan otot-ototnya. Mulutnya membuka sedikit lebar dan mata sipit nya tertutup sepertinya Wonwoo masih sangat mengantuk walau sinar matahari menyuruhnya untuk mandi dan sarapan.
Setelah merapikan tempat tidurnya, Wonwoo bergegas untuk mandi dan sarapan. Ia mempunyai rencana untuk mengunjungi universitas baru nya yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Wonwoo telah bersiap untuk berangkat, sweater tangan panjang dan celana levis cukup untuk membuatnya terlihat tampan. Tak lupa tambahan kacamata untuk membuatnya lebih segar. Wonwoo membuka pintu menghirup udara segar yang nantinya akan menemani nya setiap hari.
10 menit ia berjalan, tibalah Wonwoo di Universitas A. ternyata setelah di lihat kampusnya ini lebih luas dari yang ia lihat di brosur atau di acara TV. Wonwoo tampak sedikit bingung karena baru kali ini ia masuk ke universitas yang ada di seoul. Terlihat bingung, Wonwoo melirik ke kanan dan kiri mencari-cari kira-kira dimana fakultas yang ia cari. Berpikir atau kah ada orang yang dapat ia tanya. Pluk! Seseorang menepuk pundak Wonwoo. Si pemilik mata sipit ini, hampir saja jantungan karena mendapat kejutan dari seseorang yang setelah ia lihat, ternyata ia mengenalnya. "Jeonghan-hyung?" Jeonghan memberikan senyum simple. "Sedang apa kau disini?" ucap pemuda pemilik rambut panjang ini. "Ah, sebenarnya aku ingin melihat fakultas Musik. Apa kau tau hyung?" Wonwoo mencoba sedikit akrab dengan teman barunya ini. Wonwoo adalah tipe orang yang pendiam, ia tak akan menjawab jika tidak di tanya. Wajahnya yang terlihat kaku membuat nya terlihat seperti orang yang serius. tapi sebenarnya Wonwoo adalah orang yang murah senyum, ya walaupun ia hanya akan terbuka ke beberapa orang yang benar-benar sudah dekat dengannya. "Aku mengantar Mingyu untuk melihat-lihat juga." Balasnya cepat.
"Mingyu?" Wonwoo bertanya-tanya. Pluk! Di tepuknya lagi pundak Wonwoo membuatnya kaget untuk kedua kalinya. "Aishh ku kira aku akan mati." Wonwoo memegang dadanya berharap detak jantungnya kembali normal karena kejutan keduanya. "Wonwoo-hyung, kau juga masuk jurusan musik?" Mingyu tersenyum menatap Wonwoo. Kening Jeonghan sedikit berkerut, bertanya-tanya kenapa mereka sudah saling mengenal. Tapi Jeonghan tak ambil pusing, mungkin karena Mingyu tetangga Wonwoo, mereka telah berkenalan. "Ah Mingyu sebenarnya aku ingin bertanya padamu tadi tapi aku kelupaan." Apakah kau mengambil akselerasi? Harusnya mahasiswa baru tahun ini adalah kelahiran 96." Mingyu sedikit terkekeh setelah mengatakan begitulah hyung.
Di sela perbincangan mereka angin berhembus cukup kencang. Cuaca sangat dingin membuat mereka bertiga memeluk dirinya sendiri mencoba menghangatkan bagian tubuh yang bisa di tutupi. Jeonghan dan Mingyu telah memakai mantel. Tapi, Wonwoo yang tidak peka dengan cuaca pagi ini membuatnya bergidik dingin setelah angin yang cukup kencang berhembus. "Hyung kenapa kau tak membawa mantelmu? Ceroboh sekali. Bukankah kau masih sakit?" Mingyu melepaskan mantelnya untuk di pakai oleh Wonwoo. Tapi yang di pakaikan, Wonwoo, masih saja terdiam. "Wonwoo apa kau sakit?" tanya Jeonghan cepat. Jeonghan adalah tipe orang yang selalu mengkhawatirkan orang lain. Jeonghan dengan sigap mengecek suhu badan Wonwoo. "Apa kau demam atau ada yang sakit?"Kini Jeonghan terlihat seperti ibu bagi Wonwoo terlebih kemarin Jeonghan pula yang membawakan makanan saat kunjungan pertama ke kamarnya. "Iya hyung, Wonwoo-hyung semalam pingsan di lantai bawah. Untung aku melihatnya." Mingyu mencoba menjelaskan. Wonwoo hanya diam dan mengangguk.
"Tapi, ini mantelmu. Bagaimana jika kau kedinginan?" Wonwoo masih tak mengerti. Kenapa Mingyu seakan sudah mengenal dirinya cukup lama. Tak mungkin kan orang yang baru bertemu satu hari menjadi seperhatian ini. "Sudahlah hyung tenang saja. Aku memiliki fisik yang kuat." Wonwoo tak membantah terlihat dari tubuh Mingyu yang tinggi tegap dan kekar itu. "Baiklah kau ingin berkeliling juga kan. Ayo ku temani." Jeonghan merangkul Mingyu dan Wonwoo bersamaan mengajaknya untuk cepat berjalan karena cuaca semakin dingin.
-0-
Saat pulang, Wonwoo berpisah dari Jeonghan dan Mingyu karena ia bilang ingin mampir ke mini market sebentar. Wonwoo berjalan pelan mengitari rak-rak yang ada di mini market. Membeli beberapa ramyun untuk di jadikan stok kalau-kalau Wonwoo sedang malas memakan yang lain. Beberapa coklat juga ia beli dan roti dalam jumlah yang cukup banyak. Setelah selesai membayar, Wonwoo membawa banyak kantung plastik di karenakan inisiatifnya untuk membagikan makanan ke tetangga hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena telah membantu nya membereskan rumah kemarin.
Wonwoo agak kesulitan berjalan karena plastik yang cukup banyak dan mantel Mingyu yang lupa ia kembalikan. Mantel Mingyu cukup besar membuat nya terlihat seperti anak sekolah dasar yang mengenakan pakaian orang dewasa. Entah kenapa tubuh Wonwoo sangat kurus padahal ia selalu makan tepat waktu dan cukup gizi, menurutnya. Mini marketnya memang tak jauh dari tempat tinggalnya, Wonwoo harus melewati tangga yang cukup panjang dan Wonwoo membencinya. Kantung plastik wonwoo tiba-tiba tersangkut sesuatu dan membuatnya robek. Beberapa cup ramyun jatuh menggelinding ke bawah tangga membuat Wonwoo cukup kesal untuk memikirkan bagaimana cara mengambilnya dengan belanjaan yang cukup banyak di kedua tangannya.
"Kenapa kau selalu seceroboh ini hyung?" lagi-lagi suara yang di kenalnya. Wonwoo tak mengerti kenapa Mingyu selalu ada di mana-mana. Terlihat Mingyu mengambil makanan Wonwoo yang jatuh. Wonwoo menghampiri Mingyu. Dengan sangat pelan kata terima kasih dan maaf keluar dari mulutnya. "Untuk apa?" tanya Mingyu sambil memasukan kembali makanan yang jatuh ke plastiknya ."Aku heran kenapa kau selalu membantuku?" akhirnya Mingyu membantu Wonwoo membawa belanjaannya dan berjalan beriringan pulang ke rumah. "Kali ini aku tak akan meninggalkanmu. Aku tak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya." Benar-benar. Wonwoo berpikir dirinya adalah pemuda yang cukup bodoh. Sampai-sampai Ia berpikir 'Apakah harus di beri predikat seperti pria yang selalu tak mengerti? Atau kah aku pria yang tak peka? Ataukah aku pria yang lugu?' Wonwoo benar-benar harus mencari tau kenapa Mingyu mengatakan hal aneh seperti itu padanya. Mungkin sekarang tak terlalu mengganggunya tapi jika Mingyu terus bersikap seperti itu. Bukankah bukan hanya di diri Mingyu yang salah. Tapi juga ada kaitannya dengan diri Wonwoo.
"Kenapa kau terus diam Wonwoo-hyung?" Mingyu mencoba membuka percakapan. Kata-kata terakhir yang di ucapkan Mingyu membuat Wonwoo diam sepanjang jalan. Mingyu sempat berpikir apakah dia marah. "Apakah salah jika aku diam saja? Aku tak memiliki banyak hal untuk di bicarakan dengan mu. Aku terlalu bingung." ucapnya dengan nada yang sulit di artikan. "Bingung? Apa maksudmu? Kau tidak tengah di persimpangan jalan hyung." Wonwoo melirik tajam ke arah Mingyu. Mingyu kaget, sampai-sampai ia mundur satu langkah dari sisi Wonwoo. "Apa kau selalu bercanda seperti itu?" ucap Wonwoo dengan wajah datar. Tapi Mingyu lebih memilih untuk tak menanggapi. Dilihat dari raut wajah Wonwoo ia menjadi sangat kesal sekarang.
Langit semakin sore, ternyata acara keliling kampus memakan waktu yang cukup banyak. Mingyu yang terus berbicara sepanjang jalan membuat mereka tak sadar bahwa mereka telah di depan tangga. Seungkwan yang sedang bersantai di sore hari terlihat tenang mendengarkan lagu yang sedang ia dengarkan lewat headset putihnya. Walau dari jauh Ia menyapa sekilas kepada Mingyu dan Wonwoo. "Jadi kau yang namanya Mingyu. Jeonghan-hyung bilang kau datang semalam. Dan, Wonwoo-hyung ternyata kau sudah dekat dengan Mingyu-hyung ya?" Wonwoo hanya tertawa membalas pertanyaan Seungkwan. "Sengkwanie, aku punya banyak makanan. Ambilah untukmu dan Jeonghan-hyung, ini sebagai tanda ucapan terima kasih karena kalian membantuku membereskan rumah kemarin." Jelas Wonwoo tak lupa dengan senyumnya. Seungkwan yang sangat bahagia menerima makanan hanya mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi. Sampai-sampai Mingyu tak sempat bicara apapun.
Setelah menaiki tangga, terlihat Woozi yang sedang bermain gitar dan Hoshi yang mendampinginya. "Hoshi-hyung, Woozi-ya. Aku membawakan makanan untuk kalian. Ambilah, ini adalah tanda ucapan terima kasihku atas bantuan kalian yang kemarin." Wonwoo menyodorkan plastik untuk mereka pilih sendiri. "Ini temanmu? " ucap Hoshi lagi-lagi bertanya soal Mingyu. "Ini adalah tetangga sebelahku." Jawabnya singkat. "Ah, kau Kim Mingyu?" Mingyu menunduk dan memberikan salam kepada mereka yang lebih tua. "Dimana Scoups-Hyung?" tanya Wonwoo sambil melirik kanan-kiri. "Ah dia sedang ada urusan, entah kapan pulangnya." Hoshi menggelengkan kepala. "Baiklah bisa kutitip makanan ini untuknya." Woozi menerimanya dan mengatakan bahwa ia nanti akan memberikannya.
"Baiklah, kau yang terakhir. Karena kau telah menyelamatkan ku dari kelaparan. Ambilan makanan ini semaumu. Dan oh ya ini mantelmu, ternyata mantelmu sangat besar dan berat." Wonwoo melepaskan mantel yang sejak tadi membuat tubuhnya keberatan walaupun terhindar dari rasa dingin. "Wonwoo-hyung, bukankah aku yang paling berjasa dalam membantumu, bisakah aku di berikan hadiah yang spesial?"
"Bukankah aku sudah memberikanmu kelebihan untuk memilih makanan sebanyak yang kau mau." Jawab Wonwoo. "Tapi bukan itu yang kumau. Jika makanan aku juga bisa membelinya sendiri." Wonwoo berpikir sejenak. Memang di pikir-pikir, Mingyu sangat berjasa. Jika bukan karena dia, mungkin Wonwoo akan mengalami sakit yang berkepanjangan. Akhirnya ia memutuskan untuk menyetujuinya.
"Baiklah, Apa itu?"
Kaze : Ya,,,,, akhirnya berhasil apdet maap agak lama yak. Kira-kira gimana ch 2 kali ini. Menurut kalian apa yang bakal di minta Mingyu dari Wonwoo? Trus Wonwoo bakal ngasih ga yaaaa xD.
Aku mau sedikit preview ch 1. Agak heran sedikit kenapa namanya coups di ch 1 ga muncul ya padahal udah aku ketik dengan baik loooooh. Trus maaf kalo masih ada typo bertebaran, maklum author amatiran hehe. Semoga kalian menikmati ch 2 ini. Oiya jangan sungkan buat krisar. Thanks buat yang udah follow fav dan review
Balas review :
kookies : udah di lanjut yaaaaa… xD menurut kamu gimana? Udah kenal apa belum ya… let it jadi rahasia sampai terkuak ya wkwk
monwii : keren? Omo makasih. Terharu rasanya ada yang bilang seperti itu xD
Firdha858 : Mingyu siapanya Wonu? Hayo kira-kira siapa? Dia amnesia gay a XD menurut kamu gimana? Hehe
Egatoti : kira-kira Mingyu bisa ampe salah liat Wonu ga? Semoga kamu suka sama endingnya nanti yaa
Arlequeen Kim : tau nih Mingyu main meluk aja padahal aku juga mau di peluk dia xD. Cuma mau info buat Arlequeen-sshi ini bukan cerita cinta antara Mingyu dan Wonwoo tapi aku bakal ngasih banyak hint disini supaya kalian suka. Aku ga pernah bikin ff Meanie soalnya MianhxD semoga endingnya ga ketebak yaa…..
tfiy : penasaraaan? Terus ikutin yaaa xD
Rias537 : ye lanjut ye lanjut. Terus ingetin aku biar apdet kilat yak xD
Karuhi Hatsune : Rameeee… yeee Mingyu bikin rame lagi dong ffnyaaaa… semoga aku bisa bikin yang lebih bagus dan gampang di mengerti hwaiting makasih yaa ^^
Kimxjeon : disini ada 6 orang dari SMA yang sama dan 6 orang lainnya dari SMA yang beda ya. Fighting juga! xD
Christ : gapapa, krisar kamu aja sudah sangat membantu xD fighting
Akhir kata, Mingyu dan Wonwoo pamit. Sampai jumpa Minggu depan ^^
