"Bukankah aku sudah memberikanmu kelebihan untuk memilih makanan sebanyak yang kau mau." Jawab Wonwoo. "Tapi bukan itu yang kumau. Jika makanan aku juga bisa membelinya sendiri." Wonwoo berpikir sejenak. Memang di pikir-pikir, Mingyu sangat berjasa. Jika bukan karena dia, mungkin Wonwoo akan mengalami sakit yang berkepanjangan. Akhirnya ia memutuskan untuk menyetujuinya.
"Baiklah, Apa itu?"
Chapter 3
Sedari tadi tubuhnya bergeser kesana kemari, tampak gelisah terlihat dari keringat yang mengucur cukup deras dari dahinya padahal suhu udara malam ini bisa di katakan cukup dingin. Selimutnya ia sibak ke sembarang arah. Walaupun sudah memakai kaos yang tipis dan celana pendek, keringatnya membasahi bajunya hingga terlihat gradasi warna di kaos dari si pemilik kamar ini.
"Hyung, dimana kau?" terlihat seorang anak laki-laki yang bajunya sudah basah di seluruh tubuh. Boneka rubah yang ia pegang juga sudah berubah warna karena efek terkena air hujan. Air matanya bahkan saru dengan tetesan hujan yang tak terlalu deras tapi sarat akan kesedihan. "Hyung dimana kau?" ulangnya lagi. Berkali-kali ia memanggil, tapi seorang yang di panggilnya hyung itu tak kunjung datang.
Tok Tok Tok. Badannya gemetar hebat ketika ia tersadar bahwa hari sudah pagi. Ada bunyi tok tok yang beberapa kali ia abaikan. Ini adalah hari pertamanya masuk kuliah. Membuat si pria rambut coklat ini tergesa-gesa untuk membuka pintunya melihat siapa yang datang di hari pertamanya memasuki kuliah.
"Ah Hyung, masuklah." Di bukanya pintu memperlihatkan seorang pemuda berambut hitam yang sudah fresh dengan jaket biru dongker dan celana levis tak lupa juga topi yang ia pakai dihadapkan ke arah belakang. "Ada apa denganmu?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut si pemuda sipit untuk lawan bicaranya. "Eh?" Jawab pemuda yang di kenal sebagai tetangga barunya Kim Mingyu. Wajahnya masih penuh keringat, baju nya basah dan rambut nya berantakan bagai orang yang baru saja tersengat listrik. "Ah maafkan aku, aku baru saja bangun dan penampilanku ini akibat mimpi buruk yang ku alami. Masuklah dulu hyung jangan memandangiku di ambang pintu begitu. Bagaimana jika ada tetangga lain yang melihat?" Wonwoo melirik aneh ke arah Mingyu. "Apa maksudmu? Memangnya kenapa jika ada yang melihat kita? Kita bukanlah orang yang aneh." Ucapnya santai sambil memasuki kamar mingyu.
"Bagaimana jika ada yang tahu tentang hubungan kita?" liriknya lagi dengan tatapan tajam. Wonwoo memukul kepala Mingyu pelan. "Apa maksudmu dengan hubungan kita bodoh. Jangan bicara yang aneh-aneh cepatlah mandi jika tidak kita akan terlambat." Wonwoo terlihat lebih akrab atau bisa dibilang ia sudah mulai bisa menerima kebiasaan aneh, sikap aneh, Mingyu terhadapnya. Dan juga kenapa ia harus pergi ke kampus bersama Mingyu. Salahkan dirinya yang bilang akan menuruti 3 permintaan Mingyu yang ia minta kemarin.
-0-
"Bukankah aku sudah memberikanmu kelebihan untuk memilih makanan sebanyak yang kau mau." Jawab Wonwoo. "Tapi bukan itu yang kumau. Jika makanan aku juga bisa membelinya sendiri." Wonwoo berpikir sejenak. Memang di pikir-pikir, Mingyu sangat berjasa. Jika bukan karena dia, mungkin Wonwoo akan mengalami sakit yang berkepanjangan. Akhirnya ia memutuskan untuk menyetujuinya.
"Baiklah, Apa itu?"
"Bisakah aku memiliki tiga permintaan seperti yang ada di acara-acara tv." Wonwoo sedikit aneh melihat Mingyu, wajahnya yang begitu dewasa dengan tubuh yang terlihat matang juga, tapi pikirannya kekanakan sekali. "Berikan alasan yang kuat agar aku bisa mengatakan bisa." Balas Wonwoo mencari cara agar ia tak dapat mengabulkan permintaan aneh yang akan Mingyu Minta. Mingyu terlihat berpikir cukup lama. "Ah" ucapnya lantang. Sepertinya Mingyu sudah menemukannya.
"Aku akan memberikan satu alasan untuk satu permintaan. Pertama, aku sudah menggendongmu dari lantai bawah saat kau pingsan hyung. Coba kau pikirkan bagaimana jadinya dirimu jika tak ada yang mengangkatmu keatas saat kau pingsan, kau akan tergeletak begitu saja, tak ada yang menghiraukan mu dan kau akan mati kelaparan." Nada Mingyu sedikit menakut-nakuti dan mencoba mendoktrin Wonwoo dengan alasannya. Walaupun Wonwoo terlihat begitu serius dan dewasa sayang nya ia adalah orang yang lugu. Atau bisa di bilang mudah untuk di tipu. Wonwoo mengangguk-angguk mengerti dan percaya pada omongan Mingyu.
Mingyu sedikit menyeringai, benar-benar mudah untuk menipu seorang Wonwoo seperti dulu, pikirnya. Wonwoo merasa kalah, ia tak punya alasan untuk bisa membantahnya. Benar juga, jika tak ada Mingyu aku bisa mati, pikirnya. "Tapi, mungkin akan ada yang menolongku, bukankah di lantai bawah ada Jeonghan-hyung dan Seungkwannie." Ucapnya berpikir ulang. "Itu hanya kemungkinan hyung. Bagaimana jika kemungkinan itu tak terjadi?" balasnya dengan nada tenang. "Baiklah, aku bisa menerima alasannya. lalu yang kedua?" Posisi mereka saat ini masih di depan pintu kamar dengan belanjaan yang sedikit berkurang. "Sebelum itu bisakah kita masuk ke kamar mu dulu, kurasa belanjaan ini bertambah berat." Bohong Mingyu. "Ya! Mingyu-ya tubuhmu sungguh besar. Bagaimana bisa ini terlihat begitu berat?" tapi Wonwoo tak melawan dan membawa Mingyu masuk ke kamarnya. "Kamarmu rapi sekali Hyung." Mingyu terlihat melihat-lihat sekitar. Lalu meletakkan belanjaan di sekitar meja kecil yang ada di tengah-tengah.
"Baiklah kita lanjutkan. Lalu yang kedua." Ulang Wonwoo lagi.
"Yang kedua, kau pingsan selama beberapa jam dan setelah kau pingsan aku memberi mu makan dengan masakan enak ku. Jika kau tidak langsung ku beri makan. Apa jadinya dengan tubuh lemasmu kau kembali ke kamarmu dan kau pasti akan pingsan lagi hyung. Coba kau pikirkan dulu." Mingyu lagi-lagi sedikit menyeringai. Berharap Wonwoo termakan omongan Mingyu lagi. Wonwoo terlihat berpikir lagi. Tangannya ia tegakkan menjadi penyanggah dagunya berpikir layaknya seorang detektif, menganalisa baik-baik perkataan Mingyu. Matanya melirik sekilas ke arah Mingyu, tapi Mingyu hanya memberikan senyum ledekan ke arah Wonwoo. "Bagaimana Hyung? Jangan berpikir terlalu lama, kau seperti orang tua saja."
"Tunggu setelah ku pikir…" Ucapnya gantung. "Kau benar juga, Mingyu. Terima kasih sekali lagi atas makanan mu. Lalu yang ketiga." Mingyu berucap Yes dengan keras dalam hati. Ternyata ini sangat mudah sekali. "Ah hyung, bisakah aku minta air. Kurasa aku sangat haus." Mingyu mencoba mengulur waktu lama berada di kamar Wonwoo. Ia sangat nyaman berada di samping Wonwoo dan ia tak ingin terlalu lama berpisah darinya. "Kenapa kau sangat manja seperti anak kecil. Kau bisa pulang mengambil air. Kamarmu kan ada di sebelah."
"Apakah begitu sikapmu terhadap tamu. Bukankah kau orang yang selalu tau sopan santun Hyung." Wonwoo agak sedikit menggebrak gelas yang isinya hampir-hampir tumpah. "Ya! Diam kau. Lanjutkan alasanmu yang ketiga." Tak perlu menunggu lama. Mingyu menjawab, "yang ketiga adalah karena kau telah berjanji untuk mengabulkan permintaan ku. Apa kau lupa?" Mingyu terkekeh pelan. Wonwoo tak akan bisa mengelak sekarang. Pada akhirnya Wonwoo hanya bisa menjawab akan mengabulkan apapun permintaan Mingyu.
Mingyu terlihat sangat siap untuk mengatakan permintaannya. "Dengarkan baik-baik hyung." Lawan bicaranya hanya berdehem mengiyakan. "Pertama, aku ingin kau membebaskan ku kapanpun aku ingin masuk kekamarmu." Baru saja Wonwoo ingin menyela tapi tangannya mengisyaratkan Wonwoo untuk menunggu Mingyu menyelesaikan kata-katanya. Tangan Mingyu yang begitu besar hampir saja membuat nya seperti membekap mulut Wonwoo. "Baiklah ku ralat bukan masuk tapi main ke kamarmu. Yang kedua aku ingin kita selalu sarapan bersama setiap pagi, entah itu di kamarmu ataupun di kamarku." Wonwoo lagi-lagi ingin menyela. "Ayolah hyung kau sudah berjanji akan mengabulkannya, biarkan aku menyelesaikan kata-kataku." Wonwoo kembali terdiam.
"Yang ketiga, aku ingin kita selalu berangkat dan pulang kampus bersama." Mingyu berhenti membekap mulut Wonwoo, wajahnya terlihat sedikit merah karena mungkin kekurangan oksigen. "Kau bisa meminta ku mengabulkan permintaan yang lebih masuk akal Mingyu. Bukan yang seperti ini, misalnya saja membantu mu mengerjakan tugas." Mingyu menggelengkan jarinya. Poni nya ia sibak sedikit. "hyung apa kau tidak dengar kemarin, aku ini pelajar yang akselerasi, bukankah kau pikir aku pintar? Atau kau ingin aku membantu mu mengerjakan tugasmu. Aku bersedia kok."
Wonwoo tiba-tiba menyuruh Mingyu untuk berdiri dan mendorong punggungnya kearah pintu keluar. "Tidak perlu, aku bisa mengerjakan tugasku sendiri. Kau bisa pulang sekarang. Aku mengerti pemintaan mu. Aku sudah sangat lelah hari ini."
"Benarkah? Hyung jangan lupakan janjimu." Setelah di tendang keluar. Mingyu masih saja teriak-teriak agar Wonwoo tak melupakan janjinya.
Flashback end.
-0-
"Hyung ternyata kau tidak melupakan janjimu." Teriaknya dari dalam kamar mandi. Wonwoo hanya melihat-lihat ke sekitar dan memperhatikan barang-barang yang ada di kamar Mingyu. "Bisakah kau tutup mulutmu dan cepat mandi agar kita tak terlambat." Setelah mendengar perkataan Wonwoo, tak ada lagi suara yang keluar dari kamar mandi. Wonwoo melihat ada beberapa lembar kertas yang berserakan di meja kecil ditemani secangkir kopi yang isinya sudah tinggal beberapa centi saja. Ia melihat isi kertas itu.
"Apa ini?"Wonwoo bermonolog. "Seperti puisi, apakah dia suka puisi. Tunggu tapi kata-katanya tidak terlalu puitis. Apa ini semacam lirik lagu?" Wonwoo meletakkan lagi kertas yang ada di tangannya tak ingin terpergoki ia telah mengacak-acak barang Mingyu. Karena Wonwoo sendiri tak suka jika barang-barang nya di pegang sembarang orang. Cukup lama Mingyu mandi, Wonwoo terlihat hampir saja mati kebosanan. Wonwoo melirik sekilas jam yang ada di tangannya. "Gawat, kurang lima belas menit lagi kita masuk kelas." Wonwoo gelisah, ia mondar mandir menunggu Mingyu yang tak kunjung datang.
"Hyung apa aku terlalu lama? Maafkan aku. Sekarang kita bisa sarapan." Ucapnya sambil membereskan kaosnya. Wonwoo terlihat sedikit terpukau melihat Mingyu setelah mandi di pagi hari. Wajahnya begitu segar karena rambut coklatnya yang sedikit basah. Mereka saling memandang untuk beberapa saat. Tak lama kemudian, Wonwoo menarik paksa tangan Mingyu untuk keluar rumahnya dan mengunci pintu. Tanpa berkata apa-apa. Lagi-lagi Wonwoo menarik paksa tangan Mingyu untuk mengikuti gerakannya. "Hyung ada apa?" ucapnya teriak di belakang Wonwoo. "Kenapa kita harus lari lari begini? Apa kau lupa kita belum sarapan." sambungnya lagi sambil mengatur nafasnya.
"Tak ada waktu, kita harus benar-benar cepat sampai kampus." Dari tempat tinggalnya ke kampus membutuhkan waktu 10 menit. Wonwoo berpikir ia akan menggunakan 5 menit waktu nya untuk beristirahat setelah lari nanti. Tapi saat mereka berlari, Wonwoo kembali melirik jam tangannya. membuatnya membulatkan matanya. Sisa 2 menit, kelas pertama akan mulai. "Mingyu-ya tambah kecepatan mu kalau tidak kita akan benar-benar terlambat di hari pertama kita masuk kuliah." Mingyu melirik jam tangannya. ternyata benar, ia benar-benar tidak peka pagi ini. Akhirnya Mingyu menyeimbangkan kecepatan lari nya dengan Wonwoo.
Sisa 15 detik akhirnya mereka sampai di depan pintu kelas dengan nafas yang tersengal. Benar-benar hari pertama yang kacau. Di dalam kelas , sudah banyak mahasiswa berkumpul diantaranya ada beberapa orang yang mereka kenal, siapa lagi jika bukan Hoshi dan Woozi. Mingyu dan Wonwoo mengambil tempat duduk di belakang Hoshi dan Woozi. "Hey kau masuk kelas ini juga? Bagaimana bisa kau hampir terlambat di hari pertama kuliah kita?" Bisik Hoshi pelan, mencoba untuk tak mengganggu yang lainnya. "Ya, Hoshi-ya jangan ganggu mereka dulu, kau tidak lihat keringatnya sangat bercucuran dan nafasnya terengah-engah." Woozi memukul kepala Hoshi pelan. Hoshi hanya berkata maafkan aku dengan mata sipitnya.
Seseorang yang tampak masih muda memasuki kelas, ternyata ia adalah seorang asisten dosen. "Kelas hari ini akan di tunda dulu karena Prof. Baek belum dapat kembali dari luar negeri akibat cuaca buruk jadi ia akan mulai mengajar minggu depan, kalian boleh meninggalkan kelas. Sekian pemberitahuannya." Semua mahasiswa uring-uringan, merasa kecewa dengan hari pertama kuliahnya yang gagal. Begitu pula dengan keempat pemuda pemilik rambut warna warni. Wonwoo yang masih mencoba mengatur nafasnya berusaha tegar. "Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi padaku ini semua karena mu Mingyu." Mingyu menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuknya.
"Bagaimana bisa kau menyebut dirimu siswa akselerasi yang teladan?" sambung Wonwoo lagi mengungkit-ungkit. "Hey aku tak pernah mengatakan diriku teladan." Wonwoo berpikir ulang. Tapi otaknya sudah tak ingin memikirkan hal tak penting seperti itu. "Hey kalian setelah ini ingin kemana? Masih jam 8.15 pagi. Kami mau keliling kampus untuk melihat-lihat." Mingyu tak ingin keduluan Wonwoo jadi ia angkat bicara. "Kami sudah keliling kemarin jadi kami ingin pergi ke kantin saja kami belum sempat sarapan tadi pagi karena hampir terlambat. Ayo Hyung." Ucap Mingyu cepat menarik tangan Wonwoo secara paksa seperti yang ia lakukan tadi pagi terhadap Mingyu. Hoshi dan Woozi hanya berkata baiklah.
-0-
"Hyung kau ingin makan apa?" sekarang mereka ada di kantin kampus. Mingyu sengaja memilih tempat di pojok ruangan yang tidak terlihat banyak orang dengan sekat kaca pemandangan di luarnya terlihat cukup bagus karena banyak pohon rindang sebagai latar tempat mereka makan."Terserah kau saja, pilihkan yang enak untuk ku." Wonwoo sekarang sendirian, menopang dagunya dan menatap ke arah luar kaca, padahal baru dua hari tinggal di Seoul ia sudah merasakan banyak hal. Mulai dari tetangga-tetangga yang kini menjadi temannya, terlebih Mingyu yang membuatnya selalu bingung. Wonwoo mulai rindu dengan kampung halamannya di Changwon. Wonwoo menghela nafas pelan. "Bagaimana bisa hari pertama kuliahku hancur begini?" bisiknya pelan pada diri sendiri.
"Hyung, apa yang kau pikirkan? Makanlah." Mingyu telah memesan makanan yang sama, Wonwoo mengambil bagiannya dan mulai memakannya secara pelan sambil memandang ke arah luar. Mingyu yang masih makan dengan lahap tidak memperhatikan Wonwoo yang dari tadi menatap keluar sekat kaca. Selama beberapa menit, Mingyu telah menghabiskan makanannya. Setelah melihat Wonwoo, Mingyu baru sadar, Wonwoo balum banyak makan sejak tadi. Nasinya pun belum ada setengahnya termakan. Bahkan matanya masih saja memandang keluar. Nasinya bahkan tersangkut di dekat bibirnya.
Mingyu mengambil nasi yang tertempel di dekat bibir Wonwoo. Membuat Wonwoo kaget dan menoleh ke arah Mingyu. Mingyu memakan nasi sisa itu tanpa malu. "Apa-apaan kau? Sikap mu makin aneh saja. Aku tau kau punya kepribadian yang aneh tapi bisa kah tak lakukan itu di depan umum?" ucap Wonwoo ketus. "Apa boleh aku melakukan itu jika kita hanya berdua?" Wonwoo melirik tajam. "Bukan itu maksudku bodoh."
"Hyung makanlah yang benar. Jangan terus melihat pohon-pohon tak berarti itu. Kau sangat kurus. Apa kau tak bisa melihat diri mu yang sangat kurus itu?" Wonwoo mulai memakan nasinya lagi. "Apa pedulimu?" ucapnya singkat sambil melanjutnkan makannya. "Aku sangat peduli padamu hyung. Untuk apa aku membuat permintaan untuk bisa sarapan bersama denganmu. Aku ingin melihatmu makan makanan yang bergizi agar tubuhmu tidak sekurus ini. Aku tak ingin melihatmu sakit lagi."
"Hentikan candaanmu. Itu tak lucu." Wonwoo menggebrak sumpitnya dan meninggalkan Mingyu sendirian.
-0-
Jam 4 sore, akhirnya Wonwoo keluar kelas. Wonwoo terlihat sedikit sumringah karena telah mengikuti kelas pertamanya hari ini. Di koridor, ia bertanya-tanya, Mingyu kemana? Ia tak masuk kelas sore hari ini. Padahal Mingyu semalam memberi tahu bahwa Mingyu dan Wonwoo mempunyai jadwal kelas yang sama persis. Ya itu karena Mingyu yang melihat jadwal kelas Wonwoo. Apakah sikapnya tadi pagi keterlaluan meninggalkannya begitu saja. Udara benar-benar dingin hari ini, mungkin akan turun hujan atau bahkan badai hari ini. Cuacanya juga cukup mendung. Wonwoo teringat ia sudah berjanji untuk berangkat dan pulang kampus bersama. Jadi Wonwoo berpikir mungkin Mingyu menunggunya di gerbang utama. Mingyu juga bilang jika ia tak dapat menemukan Mingyu dimana, Mingyu akan menunggu nya di gerbang utama. Langkah Wonwoo di percepat, tak mau membuat teman barunya menunggu lama. Tapi saat di lihat di gerbang utama tak ada siapapun. Senja semakin indah terlihat walau di hiasi awan abu-abu tapi oranye terangnya tidak bisa menutupi keindahan matahari sore. Wonwoo memutuskan untuk menunggu Mingyu. Mingyu yang meminta tak mungkin ia tak menepatinya kan.
Wonwoo terus melirik jam tangannya, kini jam menunjukkan pukul 5. Sudah 1 jam sejak ia keluar kelas tapi ia belum melihat batang hidung Mingyu. Menunggu benar-benar hal yang benar-benar patut untuk di benci. Terlebih lagi sialnya Wonwoo belum mempunyai kontak Mingyu, jadi ia tak tahu harus apa selain menunggunya. Wonwoo takut jika ia mengingkari, Mingyu akan meminta hal yang aneh-aneh lagi padanya. Wonwoo memeluk dirinya lagi benar-benar sial menunggu di luar ruangan di cuaca yang dingin begini.
-0-
Mingyu merasa bersalah, apakah ia telah membuat Wonwoo marah pagi tadi. Wajahnya begitu menakutkan. Matanya begitu tajam. Kupikir-pikir memang seharusnya ia tak melakukan itu. Itu adalah hal yang tidak wajah untuk seorang laki-laki, pikirnya. Mingyu merebahkan tubuhnya berusaha memikirkan bagaimana caranya ia meminta maaf pada Wonwoo. Baru saja matanya terpejam sejenak, suara gemuruh yang menggelegar menandakan akan turun hujan yang sangat deras. Mingyu melirik sejenak jam dinding. "Baru jam 7." Mingyu keluar kamar untuk membuang sampah yang sebenarnya belum menumpuk tapi Mingyu bosan karena terus di kamar.
"Mingyu-ya. Apa Wonwoo sudah pulang?" Hoshi yang sedang mengankat jemuran pakaiannya menyapa Mingyu sejenak. "Aku tadi melihatnya di gerbang utama, dia bilang dia sedang menunggu orang padahal aku sudah mengajaknya pulang." Sambung Hoshi. "Hoshi-hyung, pukul berapa saat kau melihatnya." Hoshi berpikir sejenak mengingat-ingat. "Kira-kira pukul 5 sore." Mingyu langsung membuang sampahnya asal bahkan hampir berserakan yang membuat Hoshi berteriak-teriak dari jauh untuk membereskannya dulu. "Ya, Soonyongie. Ada apa sih kau teriak-teriak?" Woozi bahkan sampai keluar dari kamarnya. "Hoshi, apa yang kau lakukan teriak-teriak malam malam begini." Bahkan ketua genk kita, Scoups. "Maaf Hyung, Jihoonie. Mingyu melempar sampahnya ke sembarang arah, saat ku beri tahu masalah Wonwoo." Jemuran pakaiannya di abaikan lalu mereka berkumpul membentuk lingkaran. "Maksudmu saat kita pulang tadi?" Tanya Woozi.
"Ada apa memangnya?" Scoups tak mau ketinggalan berita. Akhirnya Woozi dan Hoshi menceritakannya. "Bukankah menurutmu ada yang aneh diantara mereka?" keduanya ikut mengangguk setelah Scoups mengeluarkan pernyataan seperti itu. "Kita harus menyelidikinya." Hoshi mengepal tangannya. menyemangati diri sendiri atas misi yang ia pikirkan sendiri.
-0-
Mingyu berlari hanya mengenakan celana pendek dan kaos tangan panjang. Rintik hujan mulai membasahi kepalanya walau belum terlalu deras. Kecepatannya tak berkurang malah cenderung bertambah mengingat perkataan hyungnya tadi. Untung saja Hoshi memberi tahunya, jika tidak lagi-lagi ia akan menyesalinya untuk kedua kalinya atas kesalahannya yang dulu. Bajunya sudah basah kuyup ketika Mingyu sampai di gerbang utama. Matanya mencari-cari kira-kira dimana Wonwoo akan menunggunya. Belum sampai 5 menit, Mingyu menemukannya.
Wonwoo sedang berteduh di pohon yang bahkan hujan tetap membasahinya. Pohon itu tak bisa menahannya dari hujan. Wonwoo tengah memeluk dirinya sendiri, rambut hitamnya telah lepek, basah terkena air hujan. "Hyung, kau tak apa?" Mingyu meraih telapak tangan Wonwoo yang sudah mulai membiru dan mengusap-ngusapkannya ke tangan milik Mingyu. Berkali-kali ia rekatkan tanganya agar rasa dingin berkurang. Bibir Wonwoo sudah benar-benar pucat dan biru. Jelas saja ia sudah menunggu sejak pukul 4. 3 jam bukanlah waktu yang sebentar. "Bodoh!" Wonwoo memukul kepala Mingyu. "Bagaimana bisa siswa akselerasi membolos mata kuliah pertamanya di hari pertama kuliah. Kau kira kau anak jenius." Wonwoo jalan sempoyongan kesadarannya hampir menghilang. Kali ini karena kesalahan Mingyu. Mingyu benar-benar tak bisa memaafkan dirinya.
Mingyu menggendong Wonwoo berlari secepat kilat agar ia bisa menghangatkan tubuh Wonwoo. Setelah sampai tempat kos, Mingyu menggedor-gedor pintu Scoups. Sontak kedua tetangganya yang lain keluar. Kini Woozi, Scoups dan Hoshi ada di hadapan Mingyu yang sedang menggendong Wonwoo. Wajah Mingyu begitu khawatir. "Hyung, bisakah kau membantuku? Apa yang harus ku lakukan terhadap Wonwoo-hyung. Lihat wajahnya begitu pucat." Ketiga hyungnya berdiri membeku sesaat. Lalu Scoups berlari ke arah pot di depan pintu Wonwoo untuk mengambil kunci cadangan. Scoups mengambil alih situasi. "Mingyu bawalah masuk Wonwoo. Hoshi kau siapkan kompresan karena Wonwoo pasti terkena demam, dan Woozi tolong ganti baju Wonwoo apa saja yang bisa membuatnya hangat. Mingyu lebih baik kau pergi mengganti baju juga agar kau juga tidak sakit. Aku akan buatkan minuman hangat untuk kalian." Scoups sebagai orang yang paling tua disana merasa harus mengambil tindakan. Dan tak ada seorang pun di kamar Wonwoo yang protes atas perintahnya.
-0-
Wonwoo benar-benar demam, tapi atas tindakan cepat Scoups setidaknya kini mereka semua tidak kedinginan. Wonwoo telah berganti baju dengan piyama tangan panjang. Ia juga telah di kompres dan keempat orang lainnya tengah menunggu Wonwoo sadar sambil menikmati coklat panas yang telah di siapkan Scoups. "Maafkan aku karena aku, kalian semua jadi repot." Ucap Mingyu. "Jangan begitu kita semua sudah menjadi saudara di sini. Apalagi aku sebagai yang tertua wajib bertanggung jawab atas kalian." Jelas Scoups.
"Bisakah aku minta tolong pada kalian?" Semuanya melirik satu sama lain bertanya-tanya apa maksud Mingyu yang sebenarnya. Semuanya mengangguk secara bersamaan menandakan mereka setuju untuk membantu Mingyu. "Apakah besok ada yang mempunyai jadwal kosong?" semuanya diam. Hoshi dan Woozi bilang, ia memiliki kelas dari pagi sampai sore. " Ada apa memangnya?" tanya Hoshi. "Aku ingin Wonwoo ada yang menjaganya karena fisiknya begitu lemah. Dan lihat, semua makanannya adalah ramyun. Apa itu sehat?" Mingyu memperlihatkan rak makanan Wonwoo setelah sebelumnya Mingyu melihat-lihat kamar Wonwoo. "Baiklah aku tak ada kuliah besok. Aku dan Jeonghan akan menjaganya. Serahkan pada kami. Teman mu tak akan bertambah parah." Mingyu menghela nafas. "Terima kasih Scoups-hyung, malam ini aku akan menjaganya. Kalian bisa kembali ke kamar masing-masing." Mereka kembali seperti yang di bicarakan tadi.
Mingyu menjaga Wonwoo semalaman, tapi Wonwoo benar-benar tak sadarkan diri. Bahkan Mingyu sampai lupa makan. Tiap beberapa jam, Mingyu mengganti kompresan Wonwoo demamnya benar-benar belum turun dan itu membuatnya khawatir. Pukul 3 pagi, demam Wonwoo baru turun, Mingyu baru mencoba untuk tidur.
-0-
Mingyu bangun pagi-pagi sekali, jam 6 pagi ia telah selesai mandi. Lalu setelah mengambil bahan makanan dari kamarnya, Mingyu membuat makanan untuk Wonwoo. Ada bubur dan sup untuk di makannya. Tak lupa ia menyiapkan obat dari kotak p3knya. Tak lama pukul 7 Scoups dan Jeonghan tiba di kamar Wonwoo. Mingyu telah siap dengan pakaian dan buku-buku yang di bawanya. "Coups-hyung, Jeonghan-hyung, ini sudah ku buatkan bubur, dan ini obatnya tolong paksa Wonwoo-hyung untuk menghabiskannya saat ia siuman. Aku akan pulang jam 1 siang dan akan membuatkannya makan siang. Tolong jaga dia sampai aku kembali ya." Ucapnya panjang lebar menjelaskan lalu pergi meninggalkan mereka. "Aku berangkat dulu ya." Teriaknya di kejauhan. Coups dan Jeonghan hanya saling memandang.
TBC
Kaze : Yatta,,, Yatta…. Ternyata ga sampe minggu depan hehe. Karena lagi kegirangan ide langsung bertebaran di mana-mana dank arena masih punya waktu luang langsung jadi deh ch 3 terimakasih buat semua reader yang udah baca. Aku bener bener fast update karna lagi kangen-kangennya ama wonwoo semoga dia bisa cepet sembuh dan bisa ikut tur asia. Kita nantikan kedatangannya di Indonesia. Getwellsoon jeon wonwoo. Duh malah curhat maap yak pokonya thanks yang udah follow,fav dan review. Jangan lupa baca notes dibawah biar kalian ga bingung.
Notes :
Letak kamar masing masing member. Kelas dan Warna Rambut.
Lantai 1 :
Jeonghan : Kamar jeonghan ada di pojok bagian kiri dari gerbang. Mahasiswa Tingkat 2 di universitas A. rambut hitam panjang dikuncir satu.
Seungkwan : Kamar seungkwan di antara kamar jeonghan dan dokyom. Kelas 3 SMA. Rambut hitam pendek berponi.
Dokyeom : Kamar Dokyeom di sebelah kamar Seungkwan dekat gerbang. Mahasiswa baru Tingkat 1. Rambut hitam pendek.
Vernon : Kamar Vernon di sebrang kamar Jeonghan. Kelas 3 SMA. Rambut coklat muda agak ikal.
Dino : Kamar Dino di antara kamar Vernon dan The8. Kelas 3 SMA. Rambut hitam pendek.
Minghao :Kamar Minghao di seberang kamar Dokyeom. Kelas 3 SMA. Rambut hitam belah tengah .
Lantai 2 :
Scoups : kamar coups di pojok sebelah kiri seberang kamar jun. Mahasiswa tingkat 2. Rambut hitam pendek poni.
Woozi : kamar woozi di seberang kamar Wonwoo. Mahasiswa baru tingkat 1. Rambut peach poni pendek.
Hoshi : Kamar Hoshi sebelah kamar Woozi seberang kamar Mingyu. Mahasiswa baru Tingkat 1. Rambut pirang poni.
Jun : kamar Jun di seberang kamar Coups pojok sebelah kanan. Mahasiswa tingkat 2. Rambut coklat sedikit panjang.
Wonwoo : kamar wonwoo di antara kamar jun dan mingyu. Mahasiswa baru tingkat 1. Rambut hitam poni pendek.
Mingyu : kamar Mingyu di sebelah kamar Wonwoo dekat tangga. Mahasiswa baru tingkat 1. Rambut coklat tua pendek.
Joshua : Tinggal di rumah mewah. Sebagai anak pemilik tempat kos. Mahasiswa tingkat 2. Rambut hitam pendek.
Data member yang menjadi member band di SMA yang sama.
1. Woozi
2. Hoshi
3. Scoups
4. Dino
5. Minghao
6. Dokyeom
Waktunya balas review :
tfiy: duh aku seneng banget bikin reader penasaran sih jadi mereka bakal terus ikutin cerita akuuuu. xD
ketiiiliem: kita lihat endingnya tebakanmu bener gak ya hehe.
Ria537: chap nya udah sedikit lebih panjang nih. Menurut kamu harus di panjangin lagi kah? xD duh tapi jangan yaaa segini aja udah pegel wkwk. Dan karena bilang fast update aku bener-bener bikin ini jadi fast banget selesai satu hari aja hehe.
monwii: lanjut lanjut lanjut. Yeee di lanjut ni. Hayo kira-kira punya kembaran gak ya. Adiknya wonwoo? Duh lebih ganteng wonwoo sayangnya hehe
Arlequeen Kim: terima kasih telah menunggu, padahal menunggu itu hal yang membosankan kaya kata wonwoo tadi xD
Karuhi Hatsune: ye ayo kita bikin tambah rame. Terimakasih sudah penasaran sama cerita ini hehe
Akhir kata Mingyu dan Wonwoo pamit, sampai ketemu lagi.
