"Jadi, haruskah kita mulai sekarang?" Tanya Hoshi kepada ketiga kawannya. Mereka sudah berkumpul di rumah Woozi, mereka memilih di rumah Woozi karena memiliki kamar paling rapi di antara semuanya. Mereka juga sudah menyiapkan cemilan kalau-kalau rapat ini berjalan alot.
"Baiklah akan ku mulai,"
Chapter 5
Suasana tampak serius sekaligus menyenangkan, ketika ada empat pemuda berkumpul untuk membahas suatu hal yang menurutnya penting. Di tengah-tengah mereka terlihat banyak snack seperti coklat dan sebagainya. Bahkan Hoshi si ceroboh lupa memberikan melon yang di belinya bersama Woozi untuk Wonwoo jadi si melon pun ikut di tengah rapat untuk menjadi cemilannya. Hoshi yang tampak ingin memulai rapat terlihat sangat serius. "Baiklah aku yang akan memulainya." Hoshi sebagai ketua gossip disini membuka pembicaraan. Woozi hampir saja tertawa terbahak-bahak dengan semua situasi ini. Ini sungguh lucu menurutnya. Hoshi bahkan terlihat bagai seorang panglima perang yang sedang memimpin rapat untuk membuat strategi. Scoups pun ikut menahan tawa melihat tingkah Woozi yang mudah sekali di baca.
"Jadi aku mengadakan rapat ini di karenakan adanya kedua tetangga baru kita yang tingkahnya sangat aneh padahal menurut kesaksian mereka baru pertama kali bertemu. Korban yaitu Jeon Wonwoo dan tersangka Kim Mingyu, kita akan membahas mereka berdua malam ini." Kata-kata Hoshi yang bagai seorang detektif membuat semua orang yang ada tertawa. "Bisakah kau bicara seperti biasa? Ini sangat lucu." Ucap Jeonghan. "Maaf hyung." Hoshi menjawab dengan mata sipitnya.
"Jadi informasi yang kudapat hari ini, di temani dengan rekanku Woozi. Kami akan melaporkan rinciannya. Kim Mingyu berkata sebagai berikut." Hoshi mulai bercerita dengan Woozi sedikit menambahkan.
-0-
Hoshi : "Mingyu-ya, apa kau sangat dekat dengan Wonwoo?"
Mingyu : "Ah Wonwoo-hyung sudah ku anggap seperti kakak sendiri. Bahkan jika aku bisa membandingkan dia lebih berharga dari orang tua ku sendiri."
Woozi : "Sampai segitunya? Tapi bukankah kau baru bertemu dengan nya kemarin?"
Mingyu : "Etto, sebenarnya aku dan Wonwoo-hyung sudah saling mengenal sejak kita kecil, aku tau semua kebiasaannya, sifatnya dan apapun tentangnya.
-0-
"Ya begitulah, bagaimana menurut kalian?" Hoshi selesai menjelaskan dan di tutup oleh tanya jawab. Jeonghan yang sejak tadi merasa aneh, mengangkat tangan tanda ia ingin mengatakan sesuatu. "Aku punya sedikit informasi tentang Mingyu." Semua antusias mendekatinya saat Jeonghan yang sebenarnya tak tau apa-apa menurut mereka mulai angkat bicara. "Aku tak tau apakah ini informasi yang penting. tapi sebenarnya aku adalah saudara sepupu dari Kim Mingyu." Semua mata terbelalak. Mencoba untuk memaafkan semua kepolosan Jeonghan selama ini. "Aku cukup dekat dengan nya sejak kecil, setiap minggu aku bisa dua atau tiga kali bermain bersamanya." Sambung Jeonghan lagi. Semuanya serasa ingin menerkam Jeonghan apalagi Scoups yang ada di sampingnya. "Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" tanya Scoups, ia mulai sebal dengan tingkah Jeonghan yang terlalu lambat membaca situasi."Ku kira itu bukan informasi yang penting tapi saat kalian membicarakan ini, aku merasa aku tau sedikit banyak tentang Mingyu." Semuanya hanya bisa menghela nafas mendengar jawabannya. Pria kuncir satu ini hanya memasang wajah datar saat semuanya merasa ingin memukul dinding yang ada di belakangnya.
-0-
Pagi hari yang cerah, udara hari ini terasa sejuk dan tidak terlalu dingin. Sangat cocok untuk olahraga pagi. Wonwoo yang merasa harus menjaga fisiknya karena selalu terserang sakit dari hari pertamanya pindah ke Seoul memutuskan untuk pergi jalan-jalan pagi. Sekedar menghirup udara pagi yang sehat. Jam baru menunjukkan pukul 5 pagi, tapi Wonwoo sudah siap dengan celana training, kaos putih dan handuk yang di sampirkan di lehernya. Tubuhnya ia regangkan dulu sebelum memulai lari santai di lingkungan rumahnya. Badannya terasa segar setelah berhari-hari bergulung di selimut karena sakit. Baru saja ia melemaskan otot kakinya, seseorang keluar dari pintu di samping kamarnya.
"Hyung? Sedang apa kau pagi-pagi begini?" ucap si pemilik surai coklat yang bahkan rambutnya bagai orang tersengat listrik. Matanya masih agak sayu dan yang paling penting, pemuda itu masih memakai piyama bonekanya. "Mingyu-ya. Apa piyama itu milikmu?" Mingyu masih saja mengucek-ucek mata, sepertinya kantuk belum mau pergi dari dirinya. Wonwoo berusaha menahan tawa saat melihatnya memakai piyama bergambar boneka itu. "Ada apa hyung? Ini piyama kesukaanku. Sudahlah itu tak penting, yang paling penting. kau mau pergi kemana?" tanya nya lagi. "Aku ingin olahraga santai, sepertinya udaranya sangat sejuk pagi ini. Mumpung kuliah hari ini ada kelas siang." Mingyu langsung masuk ke dalam kamarnya dan membuat Wonwoo bingung. baru saja ia ingin menuruni tangga, ia melihat Mingyu keluar dari kamarnya telah siap memakai celana training sama sepertinya. "Tunggu, aku ikut denganmu hyung."
Kira-kira sudah satu jam mereka berlari, peluh sudah memenuhi kedua pemuda ini. Rasa lelah juga telah menghampiri mereka tampaknya. Mingyu memutuskan untuk istirahat sejenak di taman dekat dengan tempat kos. "Ini minumlah." Wonwoo menyodorkan botol berisi air yang isinya tinggal setengah. Tanpa ragu, Mingyu menghabiskannya tanpa bertanya terlebih dahulu, suara glek glek yang sangat keras terdengar membuat Wonwoo tertawa. "Kau sangat haus rupanya."
"Mingyu, apa kau mempunyai adik?" tanya Wonwoo membuat Mingyu menoleh ke arahnya. "Tentu saja, bukankah kau sudah tau itu hyung. Tapi kau tau kan aku tak suka dengan keluargaku, mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri." Wonwoo tak ingin menanggapi, takut-takut jika ia menanggapi ia akan terluka. Mata Wonwoo sungguh sedih, Mingyu sebenarnya belum menceritakan apa-apa tapi tampaknya Mingyu terlihat sedih saat membicarakan keluarganya. "hyung, jangan buat wajah seperti itu. Aku tidak sedih, tenanglah. Memang, sejak kecil aku hanya punya kau." Lagi-lagi Wonwoo hanya mendengar potongan ceritanya. Sepertinya bagi Mingyu, orang yang sedang di bicarakannya ini sangat berharga untuknya. Ia ingin sekali bertemu orang yang Mingyu selalu bilang itu adalah dirinya.
"hyung, bisakah kita pulang sekarang? Aku sungguh lapar. Ayo kita ke rumahku. Akan ku masakan makanan yang enak untuk kita sarapan."Mingyu menarik tangan Wonwoo pelan. Mengajak nya pulang ke rumah, penuh kasih sayang. Mingyu yang memegang tangan Wonwoo begitu lembut seakan Wonwoo adalah orang yang rapuh yang bisa hancur kapan saja jika tidak di pegang dengan hati-hati. Wonwoo hanya diam, merenungi kata-kata Mingyu. Ia benar-benar harus mencari tau siapa orang yang selalu ia sebut-sebut ini. Kini Wonwoo berada di belakang Mingyu, melihat punggungnya seperti Mingyu adalah orang yang rapuh saat ini. Wonwoo memutuskan untuk tak terlalu menanyainya hal-hal yang berkaitan dengan keluarganya.
Suasana kamar Mingyu pagi ini begitu berantakan, terlihat dari banyaknya buku-buku berserakan dan sisa-sisa cemilan terlihat sekali sepertinya semalam Mingyu begadang untuk belajar. Mingyu yang merasa malu dengan keadaan rumahnya langsung membereskannya secepat kilat. "Hyung, apa kau tidak nyaman disini? Jika kau tidak nyaman kita bisa pindah ke kamar mu." Ucap Mingyu sambil membereskan buku-buku yang bertebaran. Wonwoo menggeleng, ia berkata baik-baik saja dengan semua ini. Sebenarnya sejak tadi di jalan, Wonwoo punya pemikiran lain saat berkunjung ke kamar nya Mingyu. Barangkali ia bisa menemukan suatu petunjuk tentang masa lalu Mingyu. "Mingyu, kau bisa mandi dulu, sepertinya badanmu sangat lengket."ucap Wonwoo basa-basi. "Ah tidak hyung, aku akan membuatkanmu makanan dulu baru setelah itu mandi."Wonwoo yang tidak terima langsung mendorong Mingyu masuk kamar mandi. "Tidak, tidak kau harus mandi sekarang, karena kau sangat bau. Kita bisa memasak bersama nanti." Akhirnya Mingyu setuju, setelah ia mengatakan itu.
"Tenang saja, aku tak akan pergi kemanapun." Teriak Wonwoo agar Mingyu bisa santai dalam kegiatannya. Wonwoo yang sudah merasa aman, mulai melakukan penyelidikan. Ia sedikit membongkar barang-barang Mingyu untuk mendapat sedikit petunjuk missal seperti foto atau apapun itu. Hampir di semua tempat ia mencari buku seperti album tapi ia tak mendapatkannya. Tapi ada yang janggal di rak buku Mingyu, bukunya sedikit menyembul keluar. Terlihat buku berwarna biru dongker, sampulnya sudah agak kusam, bahkan pinggiran kertasnya telah menguning. Dengan pelan, Wonwoo mengambil buku itu dan melihat nya dengan baik. Tak ada gambar atau tulisan di cover bukunya. Tapi saat Wonwoo membuka buku bagian tengah ada sesuatu yang jatuh seperti selembar kertas yang melayang.
Wonwoo mengambil benda bagai lembaran itu, tepatnya itu adalah selembar foto. Ia melihat foto itu baik-baik. "Hyung.." panggil Mingyu membuat nya dengan cepat mengembalikan buku itu ke tempatnya dan menyimpan foto yang di pegang ke saku celananya. "Apa yang sedang kau lakukan?" Mingyu sudah terlihat sungguh segar, dengan balutan kaos dan celana pendek. Bahkan rambut nya yang basah menambah kesan keren pada dirinya. Ya, walaupun tidak begitu Mingyu tetap keren. "Ah aku sedang melihat koleksi buku-buku mu, siapa tau ada yang bisa menarik perhatianku." Mingyu hanya mengguam setelah mendapat jawaban dari Wonwoo.
"Mingyu-ya, bisakah kita makan ramyun saja pagi ini?" Wonwoo berusaha merengek kepada Mingyu. Tapi, Mingyu tidak terima ia menggeleng-gelang tanda dirinya tidak setuju. "Tidak hyung, kau harus makan makanan yang sehat dan bergizi." Mingyu akhirnya mulai memasak membuat sayur dan beberapa lauk lainnya. Mereka berdua makan dengan tenang, Mingyu yang dari sepuluh menit yang lalu tidak bisa melepaskan pandangan nya dari Wonwoo membuat pemuda sipit di hadapannya bertanya-tanya. Lagi-lagi sikap anehnya keluar. "hyung, makanlah yang banyak. Lihatlah tangan mu sangat kecil seperti seorang perempuan ditambah lagi kulitmu memang halus. Ah itu sangat mendukung mu terlihat seperti perempuan." Mingyu yang sejak tadi bermain dengan tangannya Wonwoo mengabaikan makanan yang sedikit lagi habis. "Berhenti menggodaku, dan cepat habiskan makanan mu Kim Mingyu." Balas Wonwoo datar.
-0-
Terlihat keempat pemuda tersebut tidur bertumpuk di sebuah ruangan yang kini benar-benar berantakan, sepertinya saat mereka bangun nanti aka nada seseorang yang akan marah besar karena rumahnya kini benar-benar seperti kapal pecah di karenakan ketiga pemuda lainnya. Kepalanya sedikit pusing karena terlalu banyak memakan melon semalam. Untuk membuatnya tetap terjaga Woozi memakan hampir setengah melon yang di belinya karena kantuk yang benar-benar menyerangnya sangat hebat. Sedangkan rapat yang mereka adakan belum selesai juga. "Hey, Soonyongie… bangunlah. Kita harus kuliah, kelas satu jam lagi akan di mulai." Ucapnya masih setengah mengantuk. "Coups-hyung, Jeonghan-hyung kalian juga bangunlah lanjutkan tidur kalian di rumah." ucapnya masih setengah sadar.
Hoshi yang mengerjapkan matanya masih mencoba meraba-raba untuk melilhat jam. "Jam berapa sekarang Jihoonie?" balasnya masih mengucek matanya. Hoshi akhirnya mencapai jam duduk yang ada di sebelah kirinya. Matanya membelalak ketika melihat angka di jam tersebut. Hoshi akhirnya berusaha untuk membangunkan semuanya termasuk si pemilik rumah. Hoshi bergegas kembali ke kamarnya untuk bersiap. Sedangkan yang lain masih mengucek-ngucek mata dan setelah melihat jam, mereka melakukan hal yang sama dengan Hoshi. Dalam sekejap kamar Woozi menjadi hening, meninggalkan si pemilik rumah yang juga sedang bergegas untuk bersiap.
-0-
Hoshi dan Woozi terlihat begitu lelah saat memasuki kelas, mereka benar-benar butuh istirahat sejenak tanpa perlu ada interogasi dulu oleh teman-temannya. Wonwoo dan Mingyu yang juga sudah sampai lebih dulu dan sedang asyik berdiskusi mengalihkan pandangan mereka ke arah pasangan sipit yang ada di depan mereka, itulah julukan Hoshi dan Woozi yang di berikan oleh teman-teman sekelasnya. "Hyung, jangan tanya mereka dulu. Sepertinya mereka mengalami apa yang kita rasakan waktu itu." Bisik Mingyu kepada Wonwoo. Wonwoo sudah mengerti walaupun tidak di beritahu oleh Mingyu dan Wonwoo sangat tau apa yang sedang mereka rasakan. Rasa lelah yang tidak ingin di tanya siapapun.
Hari ini adalah mata kuliah Prof. Kang, semua mahasiswa sudah antusias dengan mata kuliah hari ini. Pasalnya menurut senior mereka, Prof. kang adalah orang yang ramah dan selalu menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Di pertemuan pertama, Prof. kang telah memberi tugas untuk mengaransemen lagu. Mereka di beri tugas untuk membuat kelompok yang berisikan dua orang. "beruntungnya diriku bisa sekelompok dengan orang yang berbakat mengaransemen lagu."Hoshi terlihat senang dengan tugas yang akan di berikan Prof. kang. Tapi sayangnya, kenyataan tak bisa membuat hati Hoshi berbunga-bunga. "Kwon Soonyong dengan Jeon Wonwoo." Senyumnya seketika menghilang ketika namanya tidak di sebutkan bersama Woozi melainkan bersama Wonwoo. Woozi yang berada di sampingnya terlihat begitu senang meledek teman dekatnya yang satu ini. "Berusahalah sekuat tenaga Soonyongie." Ucapnya dengan senyum meledek.
"Lee Jihoon dengan Kim Mingyu." Mereka seperti bertukar pasangan. Kini dalam seminggu kedepan mereka akan mengerjakan tugas dan pastinya Mingyu dan Wonwoo tidak bisa sering bertemu. Mingyu sedikit memperlihatkan raut wajah kecewa saat namanya di pasangkan dengan Woozi. "Ada apa denganmu?" terlihat murung, Wonwoo akhitnya bertanya. "Ah tidak hyung, kupikir kita akan sekelompok, ternyata tidak. Woozi-hyung terlihat agak menyeramkan." Ucapnya sedikit ngerti. "Berusahalah dengan baik." Wonwoo mengusap pelan kepala Mingyu, membuat Mingyu merasa nyaman saat kepalanya di sentuh oleh Wonwoo. Sensasi yang di rasakannya beberapa tahun lalu kini ia bisa rasakan lagi. Mingyu merasa begitu beruntung dirinya dapat merasakan kasih sayang dari orang yang ia sayangi.
-0-
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" Hoshi sedikit bingung, apa yang harus di lakukannya sekarang. "Entahlah, aku tak mempunyai ide sekarang." Kedua pemuda terlihat tengah duduk bersantai di depan meja tempat biasa Wonwoo mencari inspirasi. Hanya ada dua susu hangat yang tersedia di depan tamu dan pemilik rumah, kertas yang begitu berantakan berserakan dimana-dimana. Sudah 3 hari, mereka mencoba berdiskusi tapi mereka belum menemukan lagu yang cocok untuk mereka aransemen. "Haah, Wonwoo-ya aku ingin istirahat dulu." Ucapnya pelan, kepala Hoshi ia sandarkan di bibir meja, raut putus asa sedikit terlihat dari wajahnya ketika menunduk. Moodnya hari ini benar-benar jelek, membuat Hoshi lagi-lagi tak mendapat inspirasi apapun. "Kupikir lebih baik aku begadang membicarakan kalian daripada mengerjakan tugas yang tak tau apa yang ingin ku kerjakan." Kesal Hoshi semakin menjadi.
"Tunggu, apa maksudmu dengan membicarakan kita?" Wonwoo merasa terpanggil, ia begitu penasaran dengan kata-katanya barusan. "Ya, kau tau kami mencari tau tentang Mingyu. Dan ternyata kemarin kami baru mendapat informasi bahwa Jeonghan-hyung adalah saudara sepupu dari Mingyu." Wonwoo yang sedang menikmati susu hangat yang di pegangnya hampir saja menyemburkan susu yang sudah ada di mulut nya ke wajah Hoshi. Ia benar-benar kaget. "Benarkah?" ucap Wonwoo sedikit terburu-buru. "Kenapa kau begitu terkejut?" Hoshi menatap Wonwoo melihat ke arah matanya mencoba membaca apa yang sebenarnya terjadi dengan Wonwoo. "Hyung, aku menemukan ini kemarin." Wonwoo mengambil selembar foto yang di temukannya di rumah Mingyu kemarin dan memberikannya kepada Hoshi.
3 detik.. 5 detik… Hoshi yang kini hampir saja menyemprot wajah Wonwoo dengan susu di mulutnya. "Ini… siapa?" Hoshi mencoba mengucek-ngucek matanya, memperhatikan foto yang di pegangnya dan orang yang ada di hadapannya. Berkali-kali ia melakukan itu, bahkan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Wonwoo untuk memastikan apa yang di lihatnya benar atau tidak.
"Ya! Apa yang kalian lakukan?" Hoshi yang mendengar suara Mingyu sontak memasukan foto itu ke dalam sakunya. "Apa yang kau lakukan terhadap Wonwoo-hyung?" ulangnya lagi. Mingyu menghampiri Wonwoo sedikit berbisik dan bertanya apa kau tidak apa-apa. "Ah tidak tadi Wonwoo bilang matanya tak bisa melihat jadi aku meniupnya." Hoshi mencoba mencari alasan yang pas dengan tindakan yang di lakukannya. "Kenapa kau masuk tiba-tiba dan tidak mengucap salam?" Mingyu tak terima dengan perkataan Wonwoo. "Apa aku harus mengucap salam dulu untuk masuk ke rumah mu hyung? Kupikir tidak perlu." Mingyu mengabaikan tatapan Wonwoo dan melihat-lihat lembaran kertas yang tengah berserakan di mana-mana. "Apa kalian belum menyelesaikannya? Aku sudah selesai. Woozi-hyung sangat hebat." Mingyu berusaha pamer dengan pekerjaannya.
Wonwoo dan Hoshi yang tidak terima mengarahkan pandangan yang cukup tajam ke arah Mingyu. "Jangan tatap aku seperti itu hyung, itu sangat menyeramkan. Aku bisa membantumu, kau tau kan aku siswa akselerasi." Lagi-lagi Mingyu memamerkan kebanggaannya, membuat wajah Wonwoo semakin asam. Akhirnya Wonwoo menarik pelan tangan Mingyu dan membawanya ke luar kamar. Mingyu masih merasa aneh, apa yang akan di lakukannya di depan pintu kamar Wonwoo. "Diamlah disini dan jangan ganggu kami." Ucap Wonwoo menggebrak pintu diikuti bunyi cklek setelahnya. "Semakin lama Mingyu semakin menjengkelkan sekali." Ia kembali duduk di depan meja yang berserakan dengan tenang setelah acara mengusir Mingyu dari kamarnya telah selesai. Hoshi hanya tertawa melihat tingkah kedua pemuda yang sering menjadi buah bibir ini. "Hyung, apakah kau mendapat informasi dari Jeonghan-hyung tentang masa lalu Mingyu?" Wonwoo mencoba kembali ke topik pembicaraan sebelumnya. "Aku menemukan beberapa fakta menarik yang pasti akan membuatmu kaget."
-0-
-Flashback Meeting-
"Jeonghan, bisakah kau menjadi sumber terpercaya dalam kasus ini?" Hoshi mulai bertingkah lagi bagai hakim di ruang persidangan. "Aku akan menjawab semampuku pak." Lagi-lagi Jeonghan meladeni tingkah gila Hoshi sambil memakan melon yang ada di depannya. Woozi hampir saja tersedak kulit melon saat melihat raut wajah Jeonghan yang benar-benar menurutnya lucu. Tapi, suasana kembali serius ketika Hoshi telah mengajukan pertanyaan. "Apakah Mingyu mempunyai teman masa kecil bernama Wonwoo?" Pertanyaan pertama diajukan. Jeonghan tampak berpikir sejenak, disini dia lah yg menjadi kunci bagaimana sebenarnya masa lalu Mingyu. "Aku tak terlalu yakin, tapi kupikir Mingyu memang pernah punya teman masa kecil, Tapi sayangnya saat dia berumur 13 tahun aku tak pernah berkunjung lg ke rumah Mingyu karena rumahku pindah sangat jauh. Ku dengar saat itu ada sesuatu yang terjadi dengan Mingyu." Ucapnya berusaha meyakinkan diri nya sendiri. "Ceritakan semua yang kau tau, Jeonghanie." Scoups yang benar-benar tidak sabar kelanjutan ceritanya membuat Jeonghan menatap Scoups sekilas dan mengangguk.
-0-
-Little Mingyu-
Terik matahari begitu menyilaukan, Kim Mingyu menjinjing tas sekolahnya malas hanya dengan satu tangan, untung genggamannya kuat, tas yang berisi buku-buku itu bisa saja mengenai seseorang jika terlempar. Mingyu mengabaikan perintah kedua orang tuanya untuk langsung pulang ke rumah karena es krim yang begitu menggodanya membuatnya mampir dan berencana untuk menghabiskannya di sebuah taman di arah jalan pulang. Mingyu memilih untuk duduk di bawah pohon rindang di sebuah taman yang sebenarnya tak jauh dari rumahnya. Pohonnya begitu rindang membuat siapa saja yang duduk di bawahnya bisa saja tertidur kapanpun. Es krim nya semakin meleleh karena terik matahari yang begitu panas, membuat peluh di dahi Mingyu mengucur begitu saja membasahi bajunya.
"Kau juga suka rasa anggur?" Ucap seorang anak yang entah datang dari mana kini duduk di sampingnya sambil menjilat es krim sama seperti milik Mingyu. "Ya aku sangat menyukainya." Mingyu menjawab tanpa menoleh. "Kenapa kau tidak pulang ke rumah? Pasti orang tua mu khawatir, kau masih memakai seragam sekolah." Anak yang ada di samping Mingyu terlihat lebih dewasa walaupun postur badannya yang kecil. "Tak apa, rumahku sangat dekat dari sini. Lagi pula ini masih siang." Mingyu masih tak menoleh mencoba menghabiskan gigitan terakhir es krim anggur yang di pegangnya. "Kalau begitu, maukah kau main bersamaku? Aku sangat kesepian, tak ada yang mau main bersamaku." Akhirnya Mingyu menoleh ke arah pemuda sipit di sampingnya, terpaku sejenak dan tersenyum. "Ayo."
Seorang anak laki-laki yang lebih tua dari Mingyu sedang menunggu kedatangannya pulang, berharap bisa bermain bersama karena kunjungan nya hari ini sedikit spesial, orang tuanya memperbolehkan anak laki-laki nya menginap di rumah Mingyu. Wajah kerut tergambar di dahinya, kesal menunggu Mingyu yang tak kunjung datang. Senja telah menampakkan wajahnya, anak laki-laki yang menunggu di rumah Mingyu begitu kesal karena Mingyu belum juga pulang. "Bibi, kenapa Mingyu belum juga pulang? Apa dia tersesat?" Anak laki-laki itu bertanya kepada seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sungguh rapi. "Tenang saja Jeonghanie, Mingyu pasti akan segera pulang." Ucap wanita paruh baya yang lebih terlihat seperti ibu dari Mingyu mengelus pelan anak bernama Jeonghan.
Mingyu berlari memasuki rumah dan hampir saja melewati Jeonghan yang dari tadi menunggu di ruang tamu. "Mingyu-ya, kemana saja kau? Aku datang tadi siang dan tak menemukanmu di rumah. sebenarnya kemana saja kau seharian ini. Bahkan lihat wajahmu sungguh kusam dan baju mu sangat kotor." Jeonghan melihat lekat-lekat Mingyu dengan wajah yang sudah berantakan, ia benar-benar harus mandi. Mingyu hanya terkekeh dan berlari ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Anak laki-laki dengan kulit sedikit pucat itu menaiki tangga, berbelok kea rah kiri dan memasuki kamar dengan tulisan nama Kim Mingyu. "Mingyu-ya, apa kau sudah selesai mandi?" Jeonghan agak mengendap masuk ke dalam, pasalnya rumah Mingyu sangat besar bahkan ukuran kamar Mingyu saja sangat besar seperti satu ruang kelas di sekolah dasar bahkan lebih luas dari itu. "Masuklah hyung, kini aku sudah bersih." Mingyu sudah terlihat rapi dengan rambut sedikit basah. Jeonghan berlari mendekati Mingyu dan merebahkan tubunya di kasur yang cukup besar itu. "Mingyu-ya aku akan menginap hari ini." Wajah Mingyu berubah seketika dan terlihat melompat-lompat di kasur karena kegirangan.
Terlihat jam dinding menunjukkan pukul 8 malam, kedua anak laki-laki sedang berbaring di lantai dengan kertas yang berserakan. Mingyu sedang mengerjakan pr yang sebenarnya sangat mudah menurutnya, kini Mingyu berumur 8 tahun bahkan Jeonghan tak perlu turun tangan untuk membantu Mingyu mengerjakan Pr nya. Sedangkan Jeonghan sedang asyik mencoret-coret kertas tak jelas yang katanya ia sedang menggambar kartun kesukaannya Naruto. "Kenapa kau pulang terlambat tadi?" ucapnya masih mencoret-coret. Mingyu menoleh sejenak lalu melanjutkan menulis, "Hari ini aku punya teman baru hyung, dia orang yang sangat menyenangkan. Matanya sungguh sipit seperti orang cina hyung tapi dia lebih pendek dari ku. Kulitnya juga putih, kami bermain begitu asyik tadi." Mingyu menjelaskan panjang lebar masih menulis tanpa menoleh kearah Jeonghan.
"Benarkah? Dimana dia tinggal? Lalu siapa namanya?" tanya Jeonghan antusias. Mingyu sedikit berpikir dan berhenti mengerjakan lalu mengubah posisinya menjadi duduk. "Dia tinggal di ujung jalan hyung, sayangnya aku lupa namanya hyung." Mingyu mencoba mengingat-ingat. "Siapa ya? Wonie? Atau Wonu? Atau…" Matanya mengerling sepertinya Mingyu mengingatnya. "Namanya Wonwoo hyung." Jeonghan mengangguk-angguk. "Bisakah aku bertemu dengannya? Ayolah ajak aku main juga." Mingyu mengiyakan dengan senyum nya.
-Little Mingyu End-
"Benarkah? Namanya sama hyung, Wonwoo." Hoshi agak meledak-ledak setelah mendengar cerita Jeonghan. "Tapi, ada yang sedikit menggangguku." Semuanya bertanya-tanya. Wajah Jeonghan sedikit berkerut. "Sayangnya saat aku ingin di ajak oleh Mingyu keesokan harinya, ayah ku menjemput untuk pulang. Dan yang semakin membuatku bingung adalah Mingyu memberi tau letak rumah temannya yang bernama Wonwoo tapi sayangnya saat aku lihat alamatnya itu adalah sebuah panti asuhan." Semua nya terdiam tanpa mengedipkan mata.
-Flashback Meeting End-
-0-
Wonwoo sedikit menelan ludah saat mendengarkan cerita Hoshi. Benar-benar mengejutkan, bahkan untuk bergerak saja Wonwoo merasa sedikit shock. Hoshi sedikit menyenggol Wonwoo berharap ia baik-baik saja. "Wonwoo-ya, kau baik-baik saja?" Wonwoo mengangguk pelan. Hoshi berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa Wonwoo tidak terkena serangan jantung. "Hoshi-ya.. Aku.." Wonwoo sedikit terbata. "Ada apa?" sahut Hoshi. "Aku hanya tidak percaya kami benar-benar memiliki nama yang sama. Apakah aku pernah mengenal Mingyu?" pikirnya, tangan Wonwoo seketika memegangi kepalanya. Merasakan sedikit sakit dengan semua kejutan yang di beritahu Hoshi. "Jika sudah seperti ini, kita harus langsung menanyai Mingyu."
TBC
Kaze : Ya! Bagaimana chap kali ini? Aku minta maaf banget karena agak lama apdet karenaaaa aku kmren sempet kena WB dan aku lagi fokus nonton fullmetal alchemist wkwk. Lagipula aku dah mulai masuk kuliah nih jadi agak sibuk. Oh ya kalian tau Wonwoo udah mulai aktif lagi. Aaaah aku seneng banget. Duh curhat mulu. Thanks buat yang udah fav, follow dan review. Thanks juga buat silent reader aku cintah kalian hehe.
Waktunya balas review :
Arlequeen Kim: wkwk semoga tanda tanya nya hilang satu persatu di chap ini. Tapi pasti nambah lagi ya tanda tanya nya wkwk. Terus ikutin si Mingyu yaaaa
Chikicinta: ih ini apa ya sebenarnya? Ini konflik tentang masa lalu mingyu kayanya wkwk oke udah di lanjut yaaa
Kyuli99: maaf kalo menurut kamu kurang panjang ya aku sedang berusaha mendapat inspirasi wkwk
Monwii jeonwii: jangan jangan apa hayo…? Udah di lanjut. Gimana menurut kamu chap kali ini? xD
Dpramestidewi: duh kalo WOnu punya kembaran aku mau satu xD
Ria537: Maaf ya ria untuk chap ini agak lama duh aku minta maaf banget hehe. padahal aku dah seneng baca review kamu wkwk
AuliaMRQ: iya aku seneng bikin hoshi jadi bigos aturan bareng seungkwan juga ya wkwk
Oke deh semoga kalian menikmati chap ini
Akhir kata, Mingyu dan Wonwoo pamit. Sampai jumpa lagi…
