Wonwoo sedikit menelan ludah saat mendengarkan cerita Hoshi. Benar-benar mengejutkan, bahkan untuk bergerak saja Wonwoo merasa sedikit shock. Hoshi sedikit menyenggol Wonwoo berharap ia baik-baik saja. "Wonwoo-ya, kau baik-baik saja?" Wonwoo mengangguk pelan. Hoshi berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa Wonwoo tidak terkena serangan jantung. "Hoshi-ya.. Aku.." Wonwoo sedikit terbata. "Ada apa?" sahut Hoshi. "Aku hanya tidak percaya kami benar-benar memiliki nama yang sama. Apakah aku pernah mengenal Mingyu?" pikirnya, tangan Wonwoo seketika memegangi kepalanya. Merasakan sedikit sakit dengan semua kejutan yang di beritahu Hoshi. "Jika sudah seperti ini, kita harus langsung menanyai Mingyu."

Chapter 6

Sudah hari ke-5, waktu untuk mengerjakan tugas Prof. Kang tapi Wonwoo belum menyelesaikannya juga. Pikirannya agak terbebani karena fakta yang ia dengar kemarin dari Hoshi. Hatinya selalu berulang-ulang meyakini diri sendiri siapa sebenarnya dirinya. Dibawah matanya terlihat sedikit hitam dan kantung matanya semakin membesar karena pikiran yang selalu menghantuinya membuatnya kurang tidur setiap malam. Bahkan saat memotong sayuran pun, matanya menerawang entah kemana, tangannya tetap mengiris tanpa memerhatikan jarinya yang teriris. Bahkan rasa sakit ia abaikan saat sedang melamun. "Ya! Apa yang kau lakukan? Darahnya bercucuran." Bahkan sayuran yang berwarna hijau kini terlihat agak menghitam karena darah Wonwoo yang mengalir agak deras. Wonwoo yang masih belum sadar akan apa yang terjadi hanya membuat wajah bingung.

Mingyu yang dengan cepat mencari kotak P3K membawa Wonwoo ke depan meja kecil yang biasa Ia gunakan untuk berdiskusi. Wajahnya masih datar, pikirannya masih melayang, matanya masih terlihat kosong. Mingyu terlihat menghisap sedikit darah yang masih tertinggal di jari Wonwoo hingga Mingyu selesai memakai kan perban kecil di jari telunjuk Wonwoo. Mingyu sedikit memerhatikan, apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda di hadapannya ini. "Hey, Kau baik-baik saja?" ucapnya pelan sambil melambaikan kelima jarinya di depan wajah Wonwoo. "Eh." Wonwoo tersadar. Mingyu masih memegang tangannya, mengelusnya pelan mencoba menghilangkan rasa sakit yang mungkin di rasakan Wonwoo. "Ada apa dengan mu, hyung? Kau terlihat banyak pikiran." Wonwoo yang baru tersadar sedikit meringis dengan rasa sakit yang baru saja menjalar ke tubuhnya.

"Apa yang terjadi dengan jari ku?" tanya Wonwoo kaget. Jelas saja, saat ia sadar dari lamunannya, Wonwoo melihat Mingyu sedang memerhatikan dirinya sambil mengelus tangannya yang baru saja di perban itu. "Hyung, apa kau tak merasa sakit? Padahal darahmu begitu banyak mengucur tadi, kau lalai mengiris sayur dan jadilah seperti ini. Kenapa kau begitu ceroboh." Jelas Mingyu singkat. "Lalu apa yang kau lakukan disini?" Wonwoo selalu panasaran mengapa Mingyu selalu datang tiba-tiba dan anehnya ia datang di saat yang tepat untuk menolong Wonwoo. "Tadinya aku mau melihat apa tugasmu dari Prof. Kang sudah selesai? Tapi saat ku ketuk. Tak ada jawaban, ku pikir apa yang terjadi dengan hyung. Ternyata kau melamun." Sahut Mingyu lagi.

"Hyung…" ucap Mingyu sangat pelan. Wajahnya terlihat begitu peduli pada pemuda sipit di hadapannya. "Apa kau ada masalah? Wajahmu begitu lelah, lihat lingkar hitam di matamu. Kau pasti kurang tidur. Ada apa?" ulang Mingyu menanyakan hal yang sama. Wonwoo berusaha bersikap ceria agar Mingyu tidak khawatir. Sikapnya mendadak berubah saat Mingyu lagi-lagi menanyakan hal yang sama. "Ah tidak apa-apa. Sungguh. Mungkin aku hanya terlalu lelah memikirkan tugas Prof. Kang." Bohong Mingyu. Wonwoo merasa, ia sudah terlalu banyak menyusahkan Mingyu terlebih urusan mental. Jika pemikiran Wonwoo tidak salah, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Mingyu di masa lalu. "Apa kau belum selesai juga? Apa ada yang bisa ku bantu. Apa yang harus ku kerjakan hyung." Mendengar jawaban Mingyu, Wonwoo mundur selangkah dan mengatakan aku bisa sendiri dan mengatasinya. "Baiklah jika itu maumu. Tapi jika kau butuh bantuan minta tolong lah padaku. Aku pasti akan membantu mu. Hyung, jangan terlalu paksakan dirimu. Kau disini punya banyak teman termasuk aku." Mingyu mengacak sedikit rambut Wonwoo, tak peduli apakah dia lebih tua dari Mingyu atau tidak.

-0-

Seungkwan terlihat mengetuk kamar Woozi, pemuda si pemilik rambut sedikit merah ini pasti punya sesuatu hal untuk di tanyakan kepada Woozi. Bagi Seungkwan, Woozi adalah orang yang sangat dia kagumi, walaupun belum lama kenal dengan Woozi tapi Seungkwan tau bahwa Woozi memiliki bakat yang luar biasa. Seungkwan lagi-lagi mengetuk pintu kamar Woozi tapi tak ada jawaban, saat ia melangkah pergi berpikir bahwa Woozi sedang tidak ada di kamarnya, pintunya terbuka dan terlihat Hoshi yang menyembul dari balik pintu. "Hoshi-hyung, apa yang kau lakukan disini?" Seungkwan berbalik arah lagi dan mulai menanyai Hoshi yang bukan si pemilik rumah. "Ah ada hal penting yang kulakukan disini." Ucapnya sambil tersenyum menyipit. "Siapa yang datang?" Scoups terlihat ikut menyembul dari balik pintu. "Scoups-hyung. Kau juga?" Seungkwan mengulang pertanyaannya. "Siapa yang datang?" teriak Jeonghan dari dalam. "Ah? Itu Jeonghan-hyung." Seungkwan menerobos masuk ke dalam, ia terlalu ingin tau apa yang sebenarnya para hyungnya ini lakukan.

Terlihat Woozi di ruang tengah biasa tempat mereka berkumpul sedang melihat selembar foto lekat-lekat. "Ini benar-benar keajaiban." Ucapnya bermonolog. Seungkwan merasa penasaran, orang yang ia cari ternyata sedang asyik melihat selembar foto dengan begitu serius. Seungkwan terlihat mengintip apa yang Woozi lihat dari belakang. "Itu… seperti Wonwoo-hyung dan Mingyu-hyung. Wah bahkan wajah mereka tidak berubah." Seungkwan berteriak lantang tanpa bersalah. Scoups sedikit berbisik ke arah Jeonghan, "Bahkan orang yang tidak pernah melihat Mingyu dan Wonwoo saat kecil saja, tau bahwa itu mereka. " jeonghan sedikit mengangguk, memang wajahnya sejak kecil tidak berubah walaupun Mingyu terlihat lebih tampan sekarang.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" Seungkwan bingung dengan semua keadaan ini, untuk apa mereka berempat berkumpul. Pertanyaan muncul di benaknya. "Kami sedang menjadi detektif." Jawab Woozi yang masih serius menatap foto yang di pegangnya tanpa menoleh ke arah Seungkwan. "Kurasa ini benar-benar Wonwoo." Sambung Woozi. Yang lain hanya mengangguk setuju. "Tapi bahkan Wonwoo tidak pernah merasa ia pernah berfoto bersama Mingyu." Hoshi menyambung jawaban Woozi. "Tunggu dulu biar ku lihat." Jeonghan dengan tiba-tiba mengambil alih foto menatapnya lekat-lekat. Seungkwan yang kebingungan dengan semua kejadian ini akhirnya mendapat penjelasan dari Scoups sementara Jeonghan masih memerhatikan foto itu. "Ini saat kelulusan Mingyu di sekolah dasar. Ya benar. Kurasa bunga itu dari temannya yang bernama Wonwoo." Terlihat di foto kedua anak laki-laki tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi dengan Mingyu yang memegang karangan bunga dan mengenakan baju sangat rapi. Ternyata foto itu di ambil saat Mingyu merayakan hari kelulusannya. "Aku yakin aku juga ada saat itu. Lihat bunga ini dari ku." Sambung Jeonghan lagi sambil menunjuk kea rah bunga yang ia maksud.

"Kupikir kita harus bertanya kepada keluarga dari masing-masing. Apa yang terjadi dengan Mingyu dan Wonwoo." Seungkwan memberi ide, dan semuanya setuju sambil mengelus kepala Seungkwan. "Baiklah kalau begitu aku dan Jihoonie akan bertanya ke keluarga Wonwoo dan Coups-hyung dan Jeonghan-hyung bertanya ke keluarga Mingyu." Seungkwan merasa puas karena ide nya telah di coba. Mereka berpikir akan percuma jika harus menanyai ulang Mingyu dan Wonwoo pasti mereka akan mempunyai jawaban yang sama. Hoshi dengan getolnya membagi tugas kepada rekannya. "Baiklah misi ini akan kita mulai minggu depan."

-0-

Karena ini hari libur, Mingyu mencoba membereskan kamarnya. Beberapa minggu tinggal di Seoul sungguh sedikit merepotkan baginya. Mingyu bukanlah anak yang rajin, ia harus memiliki mood yang bagus untuk dapat membereskan kamarnya dengan rapi. Jika moodnya buruk, kamarnya akan ia biarkan begitu saja. Mingyu melihat sekeliling, di sekitar kasurnya sungguh berantakan. Seprei yang acak-acakan, baju yang berserakan bahkan buku yang belum di kembalikan ke tempatnya. Ini benar-benar menjadi pekerjaan rumah untuk Mingyu. Mingyu memulai nya dengan merapikan kasurnya dan baju-bajunya, lalu cucian piring yang menumpuk ia bersihkan. Butuh beberapa jam untuk membuat rumahnya rapi. Hari ini adalah hari spesialnya untuk membereskan rumah.

Kira-kira jam 11 siang, Mingyu baru selesai membereskan semuanya. Bahkan lebih dari 3 jam ia membereskan rumah. keringatnya yang bercucuran ia seka, lalu melihat sekeliling lagi. Wajahnya tampak puas melihat kamarnya yag sudah bersih. Saat matanya mengedar, Mingyu melihat buku hariannya yang sudah kusam ia letakkan di ujung rak buku. Mingyu ingat sekali ia meletakkan benda penting di dalamnya. Kakinya melangkah untuk mendapatkan buku yang beberapa meter di depannya. Diambilnya, lalu di buka halaman yang sudah sangat Mingyu hafal dimana ia menyimpan benda berharganya. Tapi matanya terbelalak ketika benda berharga baginya itu tak ada di tempatnya. "Aku yakin menaruhnya disini." Ucapnya singkat lalu membolak-balik lembaran kertas berharap tidak ada yang hilang. "Dimana?" tanya nya lagi pada diri sendiri. Bahkan Mingyu meraba kolong meja belajarnya berharap itu hanya jatuh. Tapi tangannya tak mendapatkan apapun. Bahkan buku-buku yang baru saja Mingyu bereskan, ia bongkar lagi untuk mencari benda yang menurutnya sangat berharga itu.

Kira-kira satu jam, kamar Mingyu kembali menjadi berantakan. Usahanya hari ini untuk menjadi anak yang bersih dan rajin menjadi sia-sia karena selembar foto yang sangat ia jaga pada akhirnya hilang. Mingyu merasa putus asa, keringatnya kembali menetes tapi Mingyu mengabaikannya. Saat Mingyu sedang merasa putus asa, ada saja orang yang mengganggu kegiatannya ini. Suara tok-tok terdengar dari pintu depan. Baru saja Mingyu ingin marah-marah saat membukanya tapi yang terlihat adalah Wonwoo. "Ada apa dengan mu? Kenapa kau seperti habis berlari puluhan kilo?" tanya nya sambil melihat ke wajah Mingyu dengan seksama. "Hyung, aku merasa ingin mati saja." Ucapnya singkat. "Hah? Apa maksudmu?" Wonwoo membawa Mingyu ke dalam rumah mengajaknya duduk dan mengambilkan air putih untuk di minumnya. Wonwoo melihat ke sekitar. Kamar Mingyu benar-benar berantakan terlihat seperti Mingyu habis mengamuk dan melemparkan buku ke sembarang arah saja. "Ada apa ini?" akhirnya Wonwoo mencoba meloloskan keingintahuannya.

"Aku kehilangan hal yang sangat berharga." Mingyu yang sudah terduduk lemas, berbicara dengan sangat pelan. "Apa itu?" Wonwoo membantu untuk merapihkan buku-buku kembali ke tempatnya. Sebenarnya Wonwoo datang ke kamar Mingyu ingin melihat catatan yang kurang ia tulis, tapi jika keadaannya begini seperti nya tidak memungkinkan, pikir Wonwoo. "Selembar foto." Wonwoo langsung berhenti dari kegiatannya. Ia berpikir, pasti foto yang ia ambil kemarin. Apakah sebesar ini pengaruhnya sampai-sampai ia bilang ingin mati saja. Tiba-tiba Wonwoo memukul kepala Mingyu denagn cukup keras. TUk! "Ya! Hyung apa yang kau lakukan? Aku sedang bersedih." Mata Mingyu memancarkan kebingungan, ia kira jika ia seperti ini Wonwoo akan memanjakannya, ternyata tidak. "Apa maksudmu ingin mati hanya karena selembar foto, bodoh."

"Foto itu sangat berharga untukku hyung." Jawab Mingyu tegas. Mingyu tak ingin mendengar orang lain menjelek-jelekkan barang yang menurutnya sangat berharga itu. "Apa gunanya selembar foto. Jangan jadikan foto sebagai barang berhargamu, tapi saat kau tak pernah lupa kenangan dengan orang yang ada di foto mu itu. Itu barulah hal yang berharga. Jangan sekali-sekali kau melupakan itu, karena jika kau lupakan, barulah kau kehilangan hal yang berharga untukmu." Mingyu sedikit terdiam dan memerhatikan kata-kata Wonwoo. Ternyata perkataan Wonwoo sedikit benar menurutnya. Sebenarnya Wonwoo mengatakan itu, karena ia merasa sedikit bersalah karena ia yang telah mengambilnya tapi itu semua untuk mengungkap kebenaran dari masa lalu Mingyu. "Wah kata-katamu cukup bagus hyung, aku akan mentraktirmu kopi nanti." Akhirnya Mingyu tersenyum setelah mendengar Wonwoo. Sedangkan Wonwoo hanya bisa bernafas lega setidaknya rasa bersalahnya kini sedikit berkurang.

-0-

"Sepertinya aku akan bicara langsung pada Wonwoo." Hoshi masih saja jalan-jalan tak jelas di depan kamarnya, berputar-putar layaknya gasing. Woozi yang agak jengkel melihatnya menarik Hoshi untuk duduk di sampingnya. Setidaknya itu tak membuat Woozi semakin pusing. "Apa maksudmu?"

"Aku akan meminta Wonwoo untuk mewawancarai keluarganya." Sahut Hoshi. Wonwoo baru saja pulang kuliah, bagusnya Hoshi tak melihat Mingyu di sampingnya jadi Hoshi dan Woozi langsung menghampiri Wonwoo tanpa ragu-ragu. "Dimana Mingyu?" tanya Hoshi hampir saja mengagetkan Wonwoo. "Dia bilang, ia harus bertemu dosen dulu, jadi aku pulang duluan." Kedua pemuda sipit di sampingnya mengangguk. "Bisakah kita bicara didalam?" Wonwoo agak mengernyit. Tapi Woozi membisikan sesuatu. "Ini tentang kalian berdua." Sambungnya lagi. Wonwoo langsung mempersilahkan Hoshi dan Woozi melangkah melewati ambang pintu kamarnya. "Jadi ada apa?" Wonwoo langsung to the point tanpa ingin berbasa-basi.

"Jadi begini, kami berempat, Woozi-Hoshi-Jeonghan-Scoups, lagi-lagi telah menyusun rencana untuk membantumu. Kami ingin menanyai keluarga kalian berdua tentang masa kecil kalian. Terutama kau Wonwoo bahkan kau tak bisa memastikan dirimu apakah pernah terkena amnesia atau tidak." Jelas Hoshi sedikit kesal pada akhirnya. "Apa kau punya nomor keluargamu yang bisa aku hubungi." Wonwoo agak gelisah, benarkah masalah ini harus sampai bawa nama keluarga. "apa kau punya adik atau kakak?" tanya Woozi. "Ah aku punya adik laki-laki. Mungkin kau bisa tanya dia. Tolong jangan tanya orang tua ku aku takut mereka khawatir. Aku cukup dekat dengan adikku. Mungkin ia bisa mengkonfirmasi masa kecilku." Jawab Wonwoo sambil mencari-cari nomor di ponselnya.

"Jeonghan-hyung bilang, foto itu diambil ketika Mingyu lulus sekolah dasar ya kira-kira umur 12 atau 13 tahun," Hoshi membagi informasi yang di dapatnya. "Ini, nomornya kau bisa menghubunginya sekarang." Woozi dan Hoshi langsung berdiri dan melangkah keluar ketika mereka mendapat apa yang mereka mau. "Kami akan memberi taukan hasilnya saat semuanya sudah jelas." Ucap Woozi lalu mengilang di balik pintu. Wonwoo hanya bisa berharap cepat menemukan titik terang. Ia begitu gelisah, merasa bersalah jika sampai ia benar-benar terkena amnesia dan melupakan teman masa kecilnya.

-0-

Jeonghan dan Scoups terlihat sedikit berpikir bagaimana caranya menghubungi keluarga Mingyu. Pasalnya menurut informasi yang di dapat dari Jeonghan, orang tua Mingyu sudah meninggal satu tahun lalu dan adik perempuannya di adopsi oleh paman Mingyu yang ada di luar negeri. "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Scoups benar-benar bingung. Jeonghan menatap Coups lekat-lekat. "Apa kau mau melakukan perjalanan dengan ku? " tanya nya. Mata Jeonghan meminta kepastian. Coups yang tidak tau harus apa hanya mengatakan. "Ayo." Jadi demi kelarnya masalah ini, Jeonghan dan Scoups berencana mendatangi kampung halaman Mingyu untuk bertemu tetangga Mingyu yang dulu bahkan mereka berencana untuk menanyai panti asuhan dimana seseorang yang bernama Wonwoo itu tinggal.

Jeonghan dan Coups mendapat waktu yang pas saat mereka mendapat jatah libur dari kampus karena suatu hal. Sebelumnya Jeonghan sudah memberitau Hoshi dan Woozi bahwa mereka akan pergi ke panti asuhan yang Jeonghan pernah sebutkan. Hoshi setuju dengan semua rencana yang sudah Jeonghan jelaskan, ia akan bertemu lagi besok malam untuk membahas semuanya.

Setelah beberapa jam, akhirnya mereka sampai. suasana nya begitu tenang, Jeonghan juga melihat rumah yang pernah di tempati Mingyu dulu. Bahkan Scoups sampai kaget. "Ini kah rumah Mingyu yang dulu." Jeonghan mengangguk. Scoups hanya bisa menganga takjub melihat betapa besar rumah yang pernah di tinggali Mingyu. Mereka berjalan ke arah panti asuhan yang tidak jauh dari rumah Mingyu. "Jeonghanie, memang apa penyebab orang tua Mingyu meninggal?" tanya Scoups penasaran, mengisi kekosongan percakapan saat mereka berjalan kea rah panti. "Ah, ku dengar karena kecelakaan, mobilnya masuk ke jurang dan bahkan jasadnya tidak pernah di temukan." Coups agak menyesal menanyakan hal seperti itu.

Mereka sampai di gerbang panti asuhan, papan namanya memperlihatkan kata-kata "Panti Asuhan Harapan." Mereka memasuki rumah yang sedikit tua itu tanpa ragu. Seorang nenek tampak keluar dari rumah tersebut. "Ada yang bisa saya bantu?" Jeonghan agak menunduk untuk menjawab pertanyaan si nenek. "Bisakah saya bertemu kepala panti disini nek." Nenek itu berkata bahwa ia lah kepala panti disana. Nenek itu mengajak kedua pemuda tampan memasuki ruang tamu yang cukup rapi dan luas untuk seukuran rumah tua yang seperti nya sudah reyot ini. "Jadi apa kalian ingin mengadopsi anak?" Scoups tertawa mendengar kata-kata nenek itu. Jeonghan mulai menjelaskan . "Ah tidak nek, kami kesini hanya ingin menanyakan sesuatu." Si nenek bertanya-tanya apa yang akan di tanyakan kedua pemuda tampan ke panti asuhan tua seperti ini. "Apa benar sekitar 7 tahun yang lalu ada anak bernama Wonwoo disini?" Si nenek mencoba mengingat-ingat. "Ah, anak yang pendiam itu? Anak itu sungguh baik. Dia pun bergaul dengan baik dengan anak-anak panti, bahkan kulihat dulu dia mempunyai sahabat yang tinggal di ujung jalan, anak itu juga sering main kesini. Tapi aku lupa siapa namanya?" jelas si nenek. Scoups saling berpandangan ternyata benar Mingyu pernah punya teman kecil bernama Wonwoo. "Apakah namanya Kim Mingyu?" si nenek langsung tersenyum dan berkata "Benar. Namanya Mingyu. Anak tampan yang tinggal di rumah besar itu."

-0-

Malam itu, udara cukup dingin, Wonwoo bergulung di dalam selimut walaupun masih pukul 7 malam, rasa malas karena cuaca yang terlalu dingin sungguh mengalahkan semuanya. Ia berpikir pasti Mingyu juga melakukan hal yang sama dengan nya. Wonwoo yang sedang menikmati kehangatan kasur tiba-tiba saja tersentak kaget karean ada yang menggedor pintunya. "Ah Coups-hyung, ada apa?" Wonwoo langsung membuka pintu dan tampak si ketua asrama yang terlihat begitu khawatir. "Bisakah kau ikut kami? Kami sudah tau kebenarannya." Wonwoo tanpa pikir panjang pergi ke kamar Scoups untuk mendengar semua rinciannya.

Ketika Wonwoo memasuki kamar Scoups, wajah semuanya tampak begitu khawatir. Wajah yang tak menyenangkan untuk di lihat dan Wonwoo benci ini. "Ada apa dengan kalian?" Tanya Wonwoo. Mereka sudah duduk melingkar bersiap untuk mendengarkan kebenaran yang terjadi. "Wonwoo-ya, aku sudah menelpon adik mu."

-Flashback Hoshi Conversation With Wonwoo's Brother-

"Hey bagaimana aku menanyakannya? Kau saja yang tanya." Mereka saling melempar tanggung jawab untuk menanyakan keadaan masa kecil Wonwoo. Teleponnya tersambung ketika mereka sedang bertengkar. "Halo.. ini siapa?" akhirnya Hoshi yang mengambil alih ponsel yang di pegang Woozi. "Halo.. aku adalah teman dari kakak mu, Jeon Wonwoo, namaku Kwon Soonyoung. Kau bisa memanggilku Hoshi."

"Salam kenal namaku Jeon Bohyuk. Kenapa nama panggilanmu Hoshi?" bahkan pertanyaan yang sama keluar dari mulut adik Wonwoo. Akhirnya Hoshi menjelaskan asal-usul namanya terlebih dahulu. "Jadi, ada perlu apa Hoshi-hyung meneleponku. Apa ada yang terjadi dengan Wonwoo-hyung?"

"Ah tidak, aku hanya ingin bertanya sedikit tentang masa kecil seorang Jeon Wonwoo."

"Kenapa?"

"Karena ada seseorang disini mengaku kenal dekat dengan kakak mu padahal kakak mu tak mengenal dia. Dan ini membuat kami sebagai temannya bingung."

"Begitukah?"

"Apa kakak mu punya penyakit Alzhemeir atau pernah terkena amnesia karena kecelakaan atau terjatuh?"

"Tidak, ia baik-baik saja. Ia hanya menderita sakit-sakit biasa saja makanya badannya begitu kurus."

"Apa kau tau kakak mu pernah mengenal orang bernama Kim Mingyu?"

"Aku tak pernah mendengar nama itu, hyung adalah orang yang pendiam ia tak punya banyak teman dekat. Aku tak pernah nama Kim Mingyu menjadi teman dekatnya."

"Pertanyaan terakhir, apakah Wonwoo adalah anak adopsi?"

"Pertanyaan apa itu? Dia kakak kandungku dan aku maupun dia tak pernah diadopsi. Ibu selalu menceritakan Wonwoo-hyung saat ia masih kecil. Semua pertanyaan mu sungguh aneh."

"Ah maafkan aku, terima kasih sudah mau menjawab semua pertanyaanku, kau sangat membantu."

"Ah baiklah, hubungi aku jika ada yang aneh dengan Wonwoo-hyung."

Selanjutnya telepon di tutup, Woozi dan Hoshi berpandangan, ternyatan masalah ada pada Mingyu.

-Flashback Hoshi Conversation With Wonwoo's Brother End-

-0-

"Begitulah." Wonwoo bernafas lega ternyata ia tak perlu merasa bersalah, tidak ada yang salah di diri Wonwoo. "Jadi bagaimana dengan Mingyu?" tanya nya cepat-cepat. "Ini sedikit berat untukku cerita." Jeonghan menampakkan wajah kesedihan. Jeonghan yang dari tadi menunduk membuat Wonwoo benar-benar penasaran. Akhirnya Scoups lah yang memulai cerita. "Kami pergi ke panti asuhan yang di katakana Jeonghan, disana kami bertemu dengan kepala panti. Ia mengatakan bahwa benar pernah ada anak yang bernama Wonwoo disana yang berteman dekat dengan Mingyu saat kecil. " Hoshi sedikit memotong kata-kata Scoups dengan bertanya. "Apakah kau punya saudara kembar Wonwoo-ya." Wonwoo langsung menggelangkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya punya satu adik laki-laki yang kau telpon itu." Ini memberikan fakta baru bahwa Wonwoo tidak terkena amnesia. Dan Wonwoo tidak punya saudara kembar, itu artinya Wonwoo yang ada di hadapan mereka adalah orang yang berbeda dengan Wonwoo yang mereka cari di panti asuhan. Kemungkinan yang tersisa hanya itu. Kedua Wonwoo yang sedang mereka bicarakan hanya memiliki wajah yang mirip.

"Lalu apa kau bertemu dengan Wonwoo yang ada di panti?" tanya Woozi, Scoups dan Jeonghan menunduk. Mereka menggeleng pelan. "Sebenarnya saat kami tanya, dimana anak bernama Wonwoo itu pasti dia juga sudah besar seperti Mingyu?" jelas Scoups. Lalu Jeonghan berusaha menyambung kalimat Coups. "Si nenek lama tak menjawab, lalu dia bilang, Wonwoo sudah meninggal dan jasadnya pun tak di temukan." Semua matanya terbelalak cukup shock mendengar kebenaran yang baru saja mereka dengar. "Setelah itu kami pun pergi ke rumah tetangga Mingyu yang kata Jeonghanie ia sangat dekat dengan keluarga Mingyu. Lagi-lagi fakta yang mencengangkan baru saja kami dengar." Wonwoo merasa tidak siap dengan semua kata-kata yang scoups dan Jeonghan katakan. Scoups dan Jeonghan akhirnya siap untuk melanjutkan ceritanya.

TBC

Kaze: Yatta, akhirnya selesai. Kemungkinan ini 1 atau 2 chapter lagi bakal tamat. Chapter selanjutnya bakal full bahas tentang masa kecil Mingyu. Maaf kalo apdet nya agak lama ya. Walaupun aku seneng Wonu dan balik tapi mood ku buat nulis ff ini lagi jelek banget. Bener-bener ga semangat. Semoga aja bisa cepet kelar dan ga terbengkalai. Kayanya review kalian doing yang bikin aku pen lanjutin ff ini. Ada yang bakal nonton fanmeeting svt tgl 20 agsts nanti? Thanks yang udah fav, follow dan review. Saranghae lah pokonya wkwk.

Waktunya balas review;

Tfiy: ini sudah dijawab si wonu enggak hilang ingatan yaaaa xD gimana menurut kamu?

Itsmevv : duh makasih udah nungguin ff ini. Aku terhura xD udah di lanjut ya. Semoga rasa penasarannya udah ilang.

Arlequeen kim: udah ga penasaran kan? Hehe.. duh makasih udah di semangatin wkwk dikit lagi aku bakal magang trus TA deh *oke curhat mulu

Kyuli99: udah dilanjut. Jadi ga keduanya yaaaa

Monwii jeonwii: duh makasih dah dibilang keren wkwk yeyeyeye… wonu… wonu.. *emang mau kampanye. Makasih udah di semangatin aku terharu. Coba dapet semangat dari wonu ya. *ngayal lagi

auliaMRQ: semoga penasaran kamu ilang ya…

Semoga kalian menikmati chap ini

Akhir kata Mingyu dan Wonwoo pamit. Sampe jumpa lagi.