"Lalu apa kau bertemu dengan Wonwoo yang ada di panti?" tanya Woozi, Scoups dan Jeonghan menunduk. Mereka menggeleng pelan. "Sebenarnya saat kami tanya, dimana anak bernama Wonwoo itu pasti dia juga sudah besar seperti Mingyu?" jelas Scoups. Lalu Jeonghan berusaha menyambung kalimat Coups. "Si nenek lama tak menjawab, lalu dia bilang, Wonwoo sudah meninggal dan jasadnya pun tak di temukan." Semua matanya terbelalak cukup shock mendengar kebenaran yang baru saja mereka dengar. "Setelah itu kami pun pergi ke rumah tetangga Mingyu yang kata Jeonghanie ia sangat dekat dengan keluarga Mingyu. Lagi-lagi fakta yang mencengangkan baru saja kami dengar." Wonwoo merasa tidak siap dengan semua kata-kata yang scoups dan Jeonghan katakan. Scoups dan Jeonghan akhirnya siap untuk melanjutkan ceritanya.
Chapter 7
"Permisi…" Jeonghan dan Scoups berulang-ulang memanggil si pemilik rumah, berharap orang yang akan memberikan pencerahan atas masalah yang mereka tangani keluar dengan ramah. Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah yang cukup besar tersebut. "Iya, ada yang bisa saya bantu?" terlihat seorang wanita kira-kira berumur empat puluh tahun yang mengenakan pakaian rapi. Walaupun tanpa make up, wanita tersebut masih terlihat cantik. "Bibi Kim, apa kau masih ingat aku?" Wanita yang di sebut Jeonghan bibi Kim itu agak bingung. Mencoba mengingat siapa perempuan cantik yang ada di hadapannya. Lama tak menjawab akhirnya Jeonghan memutuskan angkat bicara. "Ini aku Jeonghan. Anak yang dulu sering bermain dengan Kim Mingyu dari rumah sebelah. Apa kau ingat?" ucap Jeonghan berharap bibi Kim mengingat wajahnya walaupun sudah berubah.
"Jeonghanie? Rambutmu sangat panjang sekarang. " ucapnya tak menyangka. Jeonghan mengangguk ceria ternyata orang yang kira-kira lebih dari 5 tahun tak di temuinya masih mengingat wajah cantiknya ini. Bibi Kim memeluk erat Jeonghan dan mengajaknya masuk karena udara di luar semakin dingin. "Duduklah, akan ku buatkan teh." Bibi Kim pergi ke dapur untuk membuat teh. Scoups yang dari tadi hanya diam melihat sekeliling berpikir mungkin interior di rumah lama Mingyu seperti ini. Tak lama, bibi Kim kembali dengan membawa tiga cangkir teh dan beberapa biscuit. "Kenalkan ini temanku Choi Seungcheol, kami teman satu kuliah dan tetangga ku di Seoul." Ucap Jeonghan. Scoups sedikit memberi salam sambil tersenyum.
"Jadi ada apa kalian kemari? Apa ini ada hubungan nya dengan Mingyu?" ucapnya seperti tau maksud kedatangan kedua pemuda yang memang gerak-geriknya ini agak aneh sejak mereka datang. "Begitulah, kami memiliki sedikit masalah di Seoul. Aku tak tau apa yang terjadi dengan Mingyu tapi Mingyu begitu aneh sejak datang ke Seoul, ada seorang tetangga kami yang menurut Mingyu adalah teman masa kecilnya sedangkan tetangga kami bilang ia tak pernah mengenal Mingyu. Ini membuat semua penghuni kosan merasa aneh dan tidak nyaman. Kami ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Mingyu." Mendengar penjelasan Jeonghan, Bibi Kim merubah raut wajahnya. Entah rasa kesedihan atau kasihan seperti bercampur aduk. Jeonghan merasakan hal yang buruk telah terjadi dengan Mingyu.
-0-
Wonwoo yang sedang mendengarkan cerita Jeonghan tampak gelisah. Tubuhnya tak berhenti bergerak. Perasaan nya agak kacau. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan tetangga barunya itu. Bukan hanya Wonwoo tapi juga Hoshi dan Woozi. Rasa penasaran mereka kini tak terbendung lagi. Tak ada yang berani menyela cerita Jeonghan. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, rasa kantuk seperti tak ingin menghampiri mereka. Dengan antusias, mereka mendengarkan penjelasan Jeonghan.
-0-
"Sebenarnya aku tak tau persis apa yang terjadi dengan Mingyu, jadi aku akan menceritakan hanya hal yang ku tau." Mata Jeonghan tak berkedip memberi isyarat, untuk bibi Kim melanjutkan ceritanya. "Kira-kira 5 tahun yang lalu, umur Mingyu sekitar 14 tahun. Aku sedang menyapu halaman rumah ku, saat itu memang cuaca sangat mendung dan sepertinya akan ada badai."
-Story of Aunt Kim-
Saat itu udara begitu dingin, awan hitam juga mulai berdatangan, seperti sesuatu yang buruk akan datang. Seorang Wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman bahkan memasuki rumah takut-takut hujan akan turun secara mendadak. Benar saja, Wanita yang biasa di panggil Bibi Kim itu baru saja memasuki rumahnya hujan deras mengguyur dengan angin yang sangat kencang. Padahal saat itu waktu menunjukkan pukul satu siang, tapi cuaca merubahnya seperti pukul enam sore. Bibi Kim menutuskan untuk membuat teh, bersantai sambil menunggu hujan reda. Tapi kira-kira setengah jam berlalu, hujan masih belum berhenti. Dari arah depan terdengar pintu yang di gedor seperti maling yang ingin membajak sebuah rumah wanita paruh baya. Bibi Kim sedikit takut awalnya, tapi seperti suara anak perempuan meminta tolong. Bibi Kim memutuskan untuk melihatnya.
Saat di buka pintu, seorang gadis kecil berteriak sambil menangis mengatakan "kakak, kakak,…" berulang kali. Gadis kecil yang ia kenali sebagai Kim Minsoo atau adik Kim Mingyu itu, anak dari tetangga sebelah membuatnya bingung. "Ada apa?" tanya Bibi Kim agak khawatir. Tak lama, ada seorang pria yang tidak mereka kenal datang sambil membawa anak laki-laki yang kelihatannya keadaannya cukup buruk. "Ya, ampun apa yang terjadi dengannya?" Pria itu langsung membawa masuk si anak laki-laki ke dalam rumah Bibi Kim di ikuti Kim Minsoo. "Apa yang terjadi dengan anak ini?" tanya nya lagi kepada pria itu. Mingyu di letakkan di ranjang dengan keadaan tubuh yang dingin dan wajah yang pucat. "Apa yang terjadi dengan kakak, Bibi Kim?" Minsoo begitu khawatir dengan semua tangisannya.
Bibi Kim bulak-balik, membawakan baju ganti untuk Mngyu dan air panas, ia merawat Mingyu seperti anaknya sendiri. Setelah semua hal yang dapat membantu Mingyu membaik selesai. Ia mencoba menanyai si pria yang membawa Mingyu tadi. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Mingyu?" Si pria itu tampak sedikit bingung lalu mulai menjelaskan. "Anak ini ku temukan di pinggir sungai sedang pingsan, kulihat keadaannya begitu gawat jadi ku tanya orang sekitar apakah ada yang mengenal anak ini. Mereka bilang ia adalah anak dari pemilik perusahaan Pledis Group yang ada di ujung jalan, tapi saat ku bawa kerumahnya tak ada siapa-siapa hanya ada pembantu dan seorang gadis kecil. Pembantunya pun tak tau harus berbuat apa sedangkan anak ini sepertinya membutuhkan pertolongan yang cepat. Gadis kecil ini terus menangis lalu dia menunjukkan ku untuk membawanya ke rumah mu." Jelas pria yang membawa Mingyu tadi.
"Bibi, apa yang terjadi dengan Mingyu-Oppa?" tanya nya lagi, air matanya seperti terkuras, wajahnya begitu sedih sambil memegang tangan Mingyu. "Tenanglah sayang, mungkin Mingyu hanya kehujanan." Ucapnya tak ingin membuatnya khawatir. Setelah berterimakasih kepada pria itu, Bibi Kim bermaksud untuk menelpon orang tua Mingyu. "Minsoo sayang, tolong jaga kakak mu dulu ya, aku akan menelpon ayahmu." Gadis kecil itu hanya mengangguk.
"Halo, Tuan Kim. Mingyu tadi pingsan dalam hujan, keadaannya cukup parah, aku sudah memberikan pertolongan pertama, apa aku harus membawanya ke rumah sakit?" yang di seberang telpon terdengar suara yang sangat hening, jawabannya pun terlihat seperti bisikan. "Begitukah? Bisakah kau telpon istriku? Aku sedang ada rapat penting." ucap ayah Mingyu lalu mematikan telponnya. Bibi Kim sedikit kesal dengan jawaban orang tua yang tak bertanggung jawab ini, ia pun menelpon ibu Mingyu, tapi jawaban yang ia terima pun sama, "Bawa saja dia ke rumah sakit, aku sedang sibuk. Saat aku selesai aku akan langsung pulang." Benar-benar menjengkelkan, BIbi Kim mematikan telponnya dan berniat untuk merawat Mingyu di rumahnya.
Minsoo terlihat tertidur di samping ranjang Mingyu, Bibi Kim menggendongnya ke kasur. Sepertinya Minsoo sangat khawatir dengan kakaknya. Bibi Kim melihat boneka kotor yang jatuh di depan rumah, dilihatnya tadi Mingyu memeluk boneka ini sebelum akhirnya terjatuh di depan pintu rumah bibi Kim, "Apa Mingyu suka boneka?" tanya nya pada diri sendiri. Bibi Kim menungguinya seharian di samping ranjang Mingyu, tapi Mingyu tetap tak sadar dan hanya mengingau. "Wonwoo-ya… Hyung… Wonwoo-hyung." Begitu berulang-ulang membuat bibi Kim merasa ada yang terjadi dengan Mingyu. Sampai pukul 7 malam, Mingyu masih berada di rumah Bibi Kim begitu juga Minsoo. Ia benar-benar tak habis pikir pada keluarga Mingyu, padahal Mingyu di beritahu pingsan tapi orang tua nya seakan tak peduli. "Apa ini yang selalu di rasakan Mingyu?" Bibi Kim melihatnya dengan rasa iba.
Pukul 8 malam, Mingyu sedikit terbatuk, lalu memegangi kepalanya sepertinya begitu menyakitkan bagi Mingyu. Suhu badan Mingyu masih belum turun juga, Bibi Kim semakin khawatir. Ia memberikan Mingyu air putih, Minsoo yang ada di samping Mingyu hanya berkata "Apa Oppa baik-baik saja?" berulang kali, tapi tak ada jawaban dari bibir Mingyu. "Dimana Wonwoo-hyung?" ucap Mingyu. Tubuhnya kembali gemetar ketika ia menyebut nama pemuda sipit itu. Matanya kosong, ia memeluk dirinya sendiri, Mingyu seperti orang ketakutan. Bibi Kim berulang kali juga menanyakan ada apa pada Mingyu tapi Mingyu tak menjawabnya. "Wonwoo-hyung, apa yang harus ku lakukan?" air matanya jatuh, entah mengapa Mingyu terlihat seperti orang gila sekarang, Mingyu melihat boneka yang ia bawa di letakkan di pojok kamar, Mingyu langsung turun dari tempat tidur dan memeluknya erat-erat. Boneka rubah yang kini sedikit kotor. Mingyu memeluknya, menangisinya dan berkata. "Wonwoo-hyung." Berulang kali.
Bibi Kim bingung harus melakukan apa, ia tak mengerti sikap Mingyu. Apa yang sebenarnya terjadi? tak lama, bel pintu rumah bibi Kim berbunyi bertanda ada seorang tamu yang datang, kedua orang tua Mingyu akhirnya datang untuk membawa pulang Mingyu. Mingyu di bawa pulang masih dalam keadaan suhu badan panas dan wajah pucat dan menangis. "Apa yang terjadi dengan mu nak?" ucap ayah Mingyu saat pertama kali bertemu dengannya. Matanya masih kosong sambil mengeluarkan air mata."Jangan sentuh aku." Bentaknya kepada ayahnya sendiri. "Mingyu belum pernah seperti ini," tutur ayah Mingyu. "Apa yang terjadi dengannya?" tanya nya lagi pada Bibi Kim. Tapi Bibi Kim hanya menggeleng dan mengatakan ia juga tak mengerti, Mingyu tak menjawab walau di tanya berapa kali pun. "Ia di temukan pingsan di pinggir sungai." Setelah perbincangan yang cukup lama akhirnya Mingyu dibawa pulang.
-Story Of Aunt Kim End-
Jeonghan menutup mulutnya dengan telapak tangan, ternyata ini yang terjadi saat Mingyu berumur 13 tahun yang Jeonghan tidak ketahui. Jeonghan memang sempat mendengar kabar bahwa terjadi sesuatu pada Mingyu tapi ia tak tau, kejadian seperti apa itu. "Keesokan harinya, Mingyu di bawa ke rumah sakit karena demamnya tak kunjung turun. Ku dengar ia juga tak ingin keluar kamar sampai berbulan-bulan." Ucap Bibi Kim. "Sebenarnya aku cukup kasihan dengan Mingyu, ia tak pernah mendapat kasih sayang di usia yang seharusnya ia membutuhkannya. Di tambah lagi, orang tuanya meninggal satu tahun lalu dalam kecelakaan, makanya Mingyu memilih pindah dan sekolah di Seoul dari pada tinggal hanya berdua dengan adiknya, ia bilang ia ingin melupakan semua rasa pahit yang terjadi di sini." Scoups tak bisa menyembunyikan semua perasaan yang ia alami saat ini, ekspresinya tak bisa di tutupi. Bahkan sedikit air mata terlihat menetes dari ujung matanya. "Hanya itu yang bisa ku ceritakan, sampai sekarang aku pun tak tau apa yang sebenarnya hari itu terjadi pada Mingyu."
-0-
Wonwoo benar-benar terdiam tak tau harus berkata apa setelah mendengar cerita Jeonghan. Hoshi bahkan tak bisa membendung air matanya yang sudah mengalir deras sejak tadi. "Aku tak menyangka Mingyu pernah berlaku seperti itu." Ucap Woozi. "Jika di lihat dari ceritanya kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa Wonwoo kecil telah terbawa arus sungai saat ada badai. Tapi apa yang di lakukan dua orang itu pada hari itu." Woozi lagi-lagi menganalisa. "Wonwoo, kini kau tau kebenarannya, sepertinya Mingyu sedikit mengalami trauma atas kejadian itu. Apa kau mau berpura-pura menjadi Wonwoo sebagai teman masa kecil Mingyu? Atau apa?" tanya Scoups. Suasana di ruang ini begitu duka, mendengar Mingyu pernah mengalami hal yang sulit seperti itu.
"Aku.. aku akan mengatakan yang sebenarnya hyung. Kalaupun memang aku harus menjadi orang yang berharga baginya, aku ingin di kenal sebagai Jeon Wonwoo, tetangga yang baru di kenalnya di Seoul bukan sebagai teman masa kecilnya, aku akan menyembuhkan trauma yang ia miliki." Tekad Wonwoo. Semua agak kaget dengan keputusan Wonwoo. "Memang ini pahit, tapi Mingyu harus menerima kenyataan hyung. Aku tak ingin dia selalu hidup dalam bayang-bayang Wonwoo teman masa kecilnya."ucapnya. semua berusaha untuk mengerti keputusan Wonwoo. Bahkan Jeonghan sebagai sepupunya tak bisa apa-apa. "Semuanya…" mata Wonwoo mengitar, melihat temannya satu per satu. "Mulai dari sini aku yang akan menangani Mingyu, terima kasih atas bantuan kalian." Wonwoo sedikit membungkuk, ia mengambil foto yang ada di tengah-tengah mereka lalu kembali ke kamarnya.
Setelah Wonwoo pergi, "Percayalah padanya, Wonwoo pasti bisa mengatasinya." Scoups sedikit mengusap punggung Jeonghan berusaha menenangkannya. "Aku merasa tak berguna, aku sebagai sepupunya tak bisa melakukan apapun untuknya." Ucapnya sambil menunduk. "Sudahlah hyung, kita akan selalu memperhatikan Mingyu mulai dari sekarang." Hoshi dan Woozi juga berusaha menenangkan Jeonghan. Jeonghan sedikit tersenyum dengan semua hiburan yang di berikan teman-temannya.
-0-
Wonwoo melihat foto yang tampak seperti kembaran dirinya. Matanya berubah sendu mengingat cerita yang baru saja ia dengar. "Kau begitu ceria saat berada di sampingnya." Mingyu sangat ceria terlihat di foto itu. Beberapa karangan bunga yang ia peluk menambah keceriaan wajahnya. "Kurasa besok aku harus menemui Mingyu untuk membicarakan masalah ini. Wonwoo lagi-lagi tak bisa tidur memikirkan kata-kata apa yang harus ia katakan besok. Butuh waktu satu bulan untuk menyingkap masalah ini dan selama itu pula setiap malam Wonwoo tak bisa tidur. Pukul 2 pagi, Wonwoo baru bisa tertidur. Ini benar-benar menguras tenaga.
Keesokan paginya, kira-kira sudah 10 kali Mingyu mengetuk pintu kamar Wonwoo tapi tak ada jawaban, ini membuatnya lagi-lagi khawatir apa yang terjadi dengannya. Pintu nya masih terkunci, Mingyu semakin panic, hampir saja ia merusak pintu kosan dengan cara mendobrak nya jika Wonwoo tidak segera membuka pintunya. "Ada apa Mingyu? Ini masih sangat pagi." Wonwoo keluar dengan Bed Hair nya di pagi hari. Mingyu hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat penampilan pagi Wonwoo. "Hyung ini sudah jam 7 pagi." Mata Wonwoo melebar. "Benarkah?" Mingyu masuk ke dalam kamar Wonwoo yang tentunya sangat rapi dan bersih.
"Wonwoo-ya, kau mandi saja. Aku akan buatkan sarapan." Wonwoo mengikuti kata-kata Mingyu, ia meninggalkan Mingyu untuk membuat sarapan mereka berdua. "Coba kita lihat, apa yang bisa kita makan di rumah seorang Wonwoo." Di bukanya rak makanan Wonwoo. Lagi-lagi Ramyun membuat Mingyu begitu jengkel di pagi hari. Tapi karena tak ada bahan makanan lain yang bisa di masak, Mingyu memutuskan untuk memasak ramyun saja. Setelah beberapa menit, pas sekali dengan matangnya ramyun, Wonwoo telah selesai mandi. "Cepat sekali kau mandi, apa mandimu tidak bersih Wonwoo-ya?" Wonwoo sontak memukul kepala Mingyu. "Panggil aku Hyung, Mingyu bodoh."
"Ya! Jangan panggil aku bodoh. Kau tidak tau aku mahasiswa yang pintar?" Mingyu mulai membanggakan dirinya lagi. "berhenti membanggakan kepintaranmu. Ayo makan." Mereka makan sarapan dengan tenang pagi hari ini. Wonwoo terlihat beberapa kali melirik Mingyu yang sedang makan. Ia masih memikirkan bagaimana cara nya berbicara dengan Mingyu nanti. Mingyu sadar akan kelakuan pemuda yang ada di hadapannya. "Apa aku begitu tampan hari ini? Sampai kau tidak fokus dengan makananmu." Lagi-lagi Wonwoo memukul kepala Mingyu. "Apa lagi sekarang? Kenapa kau terus memukulku?" Mingyu masih mengelus kepalanya. Pukulan Wonwoo kali ini cukup menyakitkan. Mereka selesai sarapan dan bersiap untuk berangkat. Wonwoo mengunci pintu dan berlalu meninggalkan Mingyu. "Kau tau Mingyu, kau memang cukup tampan hari ini." Mingyu senyum-senyum sendiri setelah mendengar kata-kata itu.
-0-
Hari ini kelas Wonwoo dan Mingyu sampai jam 4 sore, ini membuat Woozi dan Hoshi menguap bosan karena dosen yang tak menyenangkan. Seharian ini pula, Wonwoo terus menatap wajah Mingyu. "Hyung, apa kau suka padaku? Ini sangat membuat ku gugup, kau tak berhenti menatapku sejak tadi pagi." Wonwoo yang merasa terpergoki melanjutkan menulis catatannya. Mingyu hanya terkekeh tanpa menengok ke arah Wonwoo, ia yakin kini wajah Wonwoo sangat malu. Hoshi dan Woozi yang melihat kelakuan Wonwoo membuatnya sedikit tertawa. "Menurutmu kenapa Wonwoo menatapnya seharian ini?" tanya Hoshi mulai untuk membuat gossip baru. Woozi lama tak menjawab, kerut di keningnya menandakan ia sedang berpikir keras. "Mungkin, Wonwoo bingung harus bagaimana jadi ia melihat wajah Mingyu untuk mencari pencerahan." Ucapnya setelah beberap menit berpikir. "Kalau menurutku, Wonwoo mungkin merasa kasihan pada Mingyu karena mendengar cerita Jeonghan-hyung kemarin." Woozi mengangguk setuju juga.
Saat pulang kuliah, baru kali ini keempat rambut beda warna ini pulang bersama, Mingyu yang jalan di depan bersama Hoshi dan Wonwoo di belakang bersama Woozi. "Wonwoo-ya, kau baik-baik saja?" tanya nya menyenggol pelan lengan Wonwoo. "Ah aku baik-baik saja."
"Apa kau sudah menemukan cara untuk menyelesaikan masalah ini." Bisiknya lagi. "Aku sudah memikirkan berbagai macam cara, dan aku sudah memutuskannya, mungkin ini agak menyakitkan dengan membuka ingatan pahitnya kembali tapi aku yakin, ini akan berhasil" Wonwoo telah bertekad, Woozi tak bisa berkomentar, ia hanya bisa mendukung temannya agar masalah yang di hadapinya dapat selesai.
-0-
Mingyu menyiapkan makan malam, sebenarnya Mingyu agak sedikit aneh karena Wonwoo bilang ia ingin makan malam bersama, ini adalah hal yang tak biasa bagi Mingyu, karena Wonwoo tak pernah mau untuk di ajak makan malam. Mingyu telah menyiapkan beberapa makanan yang menurutnya cukup mewah hari ini, ada daging dan cola.
Di depan pintu Mingyu, Wonwoo bersiap menguatkan mental dan semua rencana yang sudah ia pikirkan. Saat ia memasuki kamar Mingyu, Mingyu telah menyambut nya dengan senyum sumringah seperti biasa, wajahnya selalu ceria di hadapan Wonwoo. Ia tak ingin kehilangan senyum nya itu. Setelah Wonwoo perhatikan ternyata di pojok kamar Mingyu, memang ada boneka rubah kuning yang di pakaikan baju berwarna biru, ini membuatnya kembali mengingat cerita kemarin. Mingyu sebenarnya tidak melupakan masa lalunya, hanya saja ia tak ingin menerima kenyataan bahwa Wonwoo teman masa kecilnya telah menghilang.
Makanan malam ini begitu nikmat di lidah Wonwoo bahkan wajah Mingyu begitu berseri saat ia makan bersamanya. "Masakanmu memang benar-benar enak Mingyu." Pujinya berharap suasana hati Mingyu hari ini sedang baik. "Aku sedikit heran hyung, kenapa kau tumben sekali ingin makan malam di kamarku?" Mingyu bicara masih dengan penuh makanan di mulutnya. "Mingyu-ya.. aku ingin bertanya padamu." Mingyu berhenti makan dan memperhatikan wajah Wonwoo. "Tanya apa pun yang kau ingin kan, aku pasti akan menjawabnya." Ucapnya dengan senyum sumringahnya.
"Apa aku benar-benar orang yang berharga bagi mu?"
"Hmm, tentu saja hyung. Kenapa kau selalu bertanya seperti itu?"
"Kenapa? Kenapa aku begitu berharga bagi mu?"
"Bukankah sudah jelas, kau selalu ada untuk ku, entah itu kapanpun, bahkan orang tua ku saja tidak bisa melakukannya seperti mu. Aku sangat menghargaimu hyung, menghormati mu, menyayangimu, sampai-sampai aku berpikir jika kau seorang wanita pastinya kau sudah ku nikahi."
"Berhenti bercanda Mingyu-ya, aku sedang serius."
"Aku juga serius Wonwoo-ya."
"Panggil aku hyung, bodoh." Di pukulnya lagi kepala Mingyu.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan hyung? Katakanlah aku tak akan marah." Tanya Mingyu berusaha menerka apa yang sebenarnya ingin Wonwoo katakan. Sumpitnya masih tak berhenti menyuapkan nasi ke mulut pria tampan di hadapannya ini. Wonwoo meletakkan sumpit diatas mangkuknya terlihat seperti ia selesai makan. Mata Mingyu melirik, apa yang sedang di lakukan pemuda sipit di hadapannya. Tangan Wonwoo merogoh saku celananya dan mengeluarkan barang yang benar-benar membuat keadaan akan semakin runyam nantinya. Wonwoo menyodorkan begitu saja, selembar foto lama ke hadapan Mingyu. Membuatnya sedikit tersedak dengan memukul pelan dada nya berulang kali.
Segelas air Mingyu tenggak sampai habis dengan sangat cepat, mengambil foto yang tergeletak begitu saja di hadapannya. "Dimana kau menemukannya hyung?" wajahnya terlihat ceria mengira Wonwoo adalah pahlawannya karena menemukan hal yang penting baginya. Mata Mingyu masih berbinar sarat akan kesenangan. "Aku yang mengambilnya dari bukumu kemarin saat kau sedang mandi. Aku menemukannya begitu saja saat aku membuka halaman tengah bukumu." Mingyu tak mengerti perkataan Wonwoo. "Apa maksudmu hyung?" matanya menerawang kea rah mata Wonwoo. Mata Wonwoo begitu tajam memperlihatkan kesungguhan hatinya untuk memberikan kebenaran untuk Mingyu.
"Siapa orang yang ada di foto itu?" tanya Wonwoo serius. Mingyu sedikit tertawa. "Tentu saja kau, siapa lagi. Apa kau sudah lupa wajahmu sendiri?"
"Sayangnya, orang yang ada di foto itu bukanlah diriku. Aku bukanlah orang yang ada dalam foto itu." Foto yang di pegangnya terlepas dari genggaman Mingyu dan jatuh begitu saja. "Apa maksudmu hyung?" tanya Mingyu ulang.
TBC
Kaze: Yaaaaaa haloooo udah lama kita ga ketemu…. Maaf aku baru sempet posting soalnya sibuk cari tempat magang. Yaaaa, seventeen udah mulai konser shining diamond nyaaaa…. Dan meanie moment bertebaran di mana mana wkwk. Semoga kalian suka.. untuk kali ini maaf banget aku gak akan balas review satu-satu. Pokonya aku terima kasih buat kalian yang sudah review, silahkan review lagi jika berkenan, karena hanya review lah yang bisa membuatku semangat melanjutkan cerita wkwk.
Akhir kata, Mingyu dan Wonwoo pamit.
