"Siapa orang yang ada di foto itu?" tanya Wonwoo serius. Mingyu sedikit tertawa. "Tentu saja kau, siapa lagi. Apa kau sudah lupa wajahmu sendiri?"
"Sayangnya, orang yang ada di foto itu bukanlah diriku. Aku bukanlah orang yang ada dalam foto itu." Foto yang di pegangnya terlepas dari genggaman Mingyu dan jatuh begitu saja. "Apa maksudmu hyung?" tanya Mingyu ulang.
Chapter 8
Wajahnya seakan tak percaya, angin malam berhembus begitu saja melalui celah pintu yang ukurannya tidak besar. Udara dingin menerobos masuk menambah kesan serius pada percakapan mereka. Wonwoo tetap mempertahankan wajah datarnya mencoba membuat Mingyu yakin akan perkataannya. Makanannya di abaikan Mingyu saat ia mendengar kabar yang tak di kiranya. "Kenapa kau selalu bercanda di saat seperti ini hyung?" ucapnya lagi. Mingyu terkekeh pelan tak percaya omong kosong yang di lontarkan Wonwoo. Mingyu melihat foto yang kini ada di genggaman tangannya. Wonwoo dengan cepat menghampiri Mingyu yang ada di seberangnya mencengkram kedua bahunya kuat-kuat. Menghadapkan wajah Mingyu tepat di depan Wajah Wonwoo. "Tatap Mataku, Kim Mingyu." Ucap Wonwoo sedikit keras mengguncang bahu Mingyu. Mata Mingyu melebar, kaget dengan apa yang di lakukan pemuda yang lebih kecil darinya ini. Mingyu mentap mata Wonwoo melihat kesungguhan di matanya. "Apa aku terlihat berbohong? Katakan padaku! Lihat mataku baik-baik. Kau harus sadar Kim Mingyu."
Untuk beberapa saat, Mingyu menatap mata Wonwoo tak terlihat sedikit kebohongan di mata sipitnya. Wonwoo memang tak berbohong tapi Mingyu tak ingin mempercayai itu. Mingyu mendorong pelan Wonwoo berdiri meninggalkan Wonwoo sendirian di meja makan. Foto yang ada di genggamannya semakin erat, langkah kakinya terlihat lurus menuju boneka yang ada di pojok ruangannya. "Hyung, bukankah boneka ini yang kau berikan saat itu? Kau bilang boneka rubah ini akan mengingatkanku pada dirimu." Mingyu memeluk boneka itu dengan erat. Wonwoo terlihat agak sedih, saat ini ia berpikir mungkin ia adalah orang yang sangat jahat, memaksa orang lain untuk mengingat masa lalu yang benar-benar menyakitkan. Matanya sedikit sendu melihat Mingyu yang mencium bau harum yang menguar dari tubuh boneka itu. "Aku bukanlah Wonwoo yang kau kenal." Wonwoo sudah tak bisa menahannya lagi. Mingyu berbalik. "Hyung, kau tak bisa bercanda terus seperti ini. Jelas-jelas kau adalah Wonwoo yang dulu selalu bermain dengan ku. Kau sendiri yang bilang kita sudah seperti saudara kandung."
Sebenarnya Wonwoo sudah tak bisa melanjutkan kata-katanya, hatinya terlalu sakit untuk mengatakan kebenaran yang begitu menyakitkan ini. "Mingyu, dengarkan aku. Aku bukanlah Wonwoo yang kau kenal. Aku hanya seorang Jeon Wonwoo yang baru saja pindah ke Seoul untuk melanjutkan sekolah ku di universitas A dan aku tak pernah mengenalmu sebelumnya." Mingyu masih saja tak percaya. "Tak Mungkin. Hyung, ayolah ini bukanlah tanggal april mop atau hari ulang tahunku."
"Aku telah menyelidikimu beberapa minggu ini, aku sampai meminta tolong seseorang untuk pergi ke kampung halamanmu untuk mendapatkan fakta bahwa aku bukanlah Wonwoo yang kau kenal. Bahkan aku menyangka aku adalah orang yang pernah lupa ingatan karena aku tak mengenalmu saat pertama kali kita bertemu. Aku seperti orang gila memikirkan masalah ini setiap hari sampai membuat kepala ku sakit. Bahkan aku sampai menelepon adikku hanya untuk bertanya apakah aku pernah punya sahabat dengan nama Kim Mingyu. Dan dia menjawab tidak. Bagaimana aku harus menjelaskan padamu bahwa aku tidak berbohong?" Wonwoo menjelaskan panjang lebar, berharap Mingyu mengerti apa yang dia ucapkan. Wonwoo beberapa kali mengitari meja makan saat ia memberikan penjelasan panjang kepada Mingyu.
Prank! Tiba-tiba sebuah gelas pecah, Wonwoo dalam sekejap menengok apa yang terjadi. dilihatnya Mingyu sedang memegangi kepalanya, pecahan kaca yang ada di sampingnya di abaikan Mingyu, beberapa pecahan menancap telapak kakinya. "Hyung… Hyung… Wonwoo-hyung…" teriak Mingyu berulang kali masih memegangi kepalanya. "Aku tau ini semua salahku. Maafkan aku." Lanjutnya lagi. Wonwoo tak mengerti apa yang terjadi. Wonwoo mengguncang pelan bahu Mingyu, "Kau tak apa?" tangan Wonwoo di hempaskan membuat Wownoo jatuh terduduk. Mingyu beralih ke dalam kamarnya, kakinya sudah mengeluarkan banyak darah karena pecahan kaca yang mengenainya. Ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding di kamarnya. "Ini semua salahku.. ini semua salahku." Teriaknya lagi berulang kali.
Wonwoo tak tau apa yang harus dia lakukan, Mingyu seperti orang gila yang lepas kendali. Mingyu tak mendengar apa yang di katakan Wonwoo. Ia terus berteriak tak jelas bagai ingatan lamanya terbuka. Wonwoo sungguh tak tega melihatnya, Mingyu terlihat sangat kesakitan. Wonwoo sudah mencoba untuk menyadarkannya tapi berkali-kali ia terlempar seperti Wonwoo yang ada di hadapannya bukanlah orang yang dia kenal. Wonwoo sudah tak tau harus berbuat apa, jadi ia pergi keluar untuk meminta pertolongan. Wonwoo berlari dengan kencang keluar kamar dan menggedor tiap tetangganya. Siapapun itu kini ia membutuhkan pertolongan. Orang pertama yang keluar adalah Scoups. "Hyung tolong aku… hyung tolong aku…" Wajahnya begitu khawatir membuat Scoups bingung dengan semua yang terjadi. Woozi dan Hoshi menyusul keluar. "Ada apa? Ada apa?" waktu sudah menunjukkan pukul 9, ini cukup malam untuk menggedor pintu tetangga. "Mingyu… Mingyu…. Apa yang harus ku lakukan?" Scoups, Woozi dan Hoshi seperti melihat adegan ulang saat Mingyu menggendong Wonwoo pulang kehujanan. "Apa yang terjadi dengannya?" Wonwoo menarik tangan Scoups, membawanya ke kamar Mingyu. Mereka berempat masih melihat Mingyu yang seperti orang gila.
"Apa yang kau lakukan padanya?" ucap Hoshi panik. "Hyung, apa yang harus kita lakukan?" Hoshi menarik-narik tangan Scoups mendesak nya untuk bergerak cepat. Pasalnya Mingyu terus saja membenturkan kepalanya ke dinding. Woozi yang tanpa kesepakatan mendekati Mingyu yang sedang menggila, "Mingyu, sadarlah." Woozi berteriak di dekatnya tapi tanpa pemberitahuan Mingyu tak sengaja memukul wajah imut Woozi. Ia terlempar agak jauh dari tempatnya berada. Hoshi yang panic mendekati Woozi yang sudah terlempar. "Ugh.." Woozi meringis sakit. "Ya! Jihoonie kau berdarah." Woozi membelalak. Tangannya meraba wajah imutnya, menerka kira-kira dimana pukulan Mingyu yang membekas di wajahnya. Darah segar sedikit mengalir dari hidung Woozi, Hoshi yang panic segera mengambil tisu untuk menyumbatnya.
Scoups bingung, harus menolong Woozi atau menenangkan Mingyu. Wonwoo tak bisa berkata apa-apa, ia diam mematung masih memperhatikan kegilaan Mingyu. Ia sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan menghajar Mingyu habis-habisan saat ia sadar, karena sudah membuat khawatir tetangganya. "Ya! Hyung, apa yang harus ku lakukan dengan Jihoonie?" teriak Hoshi membuat kepala Scoups tambah sakit. "Tidak bisakah kau urus Woozi sendiri, aku akan menangani Mingyu disini." Scoups menjaga sedikit jarak dari Mingyu berteriak 'sadarlah' berulang kali. Tapi percuma, ia tak mendengarkannya. Scoups sudah tak kuat lagi menahannya ia terlalu sedih melihat keadaan Mingyu dengan kaki yang berdarah-darah. Jadi saat ada kesempatan dengan sekuat tenaga. Ia memukul Mingyu tepat di wajahnya berharap pukulan pertamanya akan membuatnya pingsan.
Dan Buk! Benar saja dalam sekali pukul Scoups berhasil membuat Mingyu pingsan. Wonwoo yang sudah tak tau harus bagaimana, akhirnya ia meminta tolong Scoups untuk membawa Mingyu ke kasurnya. "Hoshi-ya bagaimana dengan Woozi?" Hoshi mengacungkan jempolnya, bertanda urusannya juga telah selesai. Mereka semua berkumpul di ruang tengah kecuali Wonwoo yang terlebih dahulu membersihkan kaki Mingyu dari darah dan pecahan kaca, tak lupa untuk memperbannya. Begitu juga dengan wajahnya yang sudah penuh dengan lebam. Ketiga tetangganya masih setia menunggu Wonwoo untuk mendapat penjelasan yang masuk akal atas semua yang terjadi.
Woozi melihat keadaan sekitar, kamar Mingyu begitu berantakan. Sisa makanan yang masih ada di meja makan, pecahan kaca yang bertebaran, bercak darah yang ada di lantai dari kaki Mingyu, dan buku-buku yang berjatuhan karena benturan yang berkali-kali ia lakukan. Sekitar 10 menit, akhirnya Wonwoo berhasil bergabung dengan mereka. Wonwoo menghela nafas setelah keadaan sulit yang ia alami malam ini. Ia sangat berterima kasih kepada Scoups yang membuat Mingyu pingsan dengan sekali pukulan, padahal jika dilihat Mingyu mempunyai tubuh yang besar.
Ketika Wonwoo kembali ke meja makan, wajah semua orang terntunduk. Terlihat sedang memikirkan sesuatu. Scoups terlihat menyilangkan tangannya di depan dada dan wajahnya menggambarkan ia berpikir keras. Sedangkan Hoshi dan Woozi masih berdiskusi apakah Woozi masih mengeluarkan darah dari hidungnya. Wonwoo akhirnya mengambil tempat di samping Scoups. Scoups dan yang lainnya menengadah melihat Wonwoo yang ingin duduk. "Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?" Wonwoo lama tak menjawab. Wajah Hoshi dan Woozi tampak begitu khawatir, Scoups sudah tak tahan dengan Wonwoo yang masih saja membisu. "Ini semua salahku." Ucapnya pelan sambil menunduk. "Apa maksudmu?" Scoups sampai-sampai berbalik menghadap Wonwoo untuk mendapat penjelasan yang masuk akal.
"Aku memaksanya untuk mengingat kembali masa lalunya dan kurasa ia tidak siap." Ketiga temannya masih menunggu penjelasan selanjutnya. "Aku mengatakan bahwa orang yang ada di foto itu bukanlah aku. Sepertinya dia tak bisa menerimanya. Lalu tiba-tiba saja ingatannya kembali terbuka. Aku benar-benar merasa bersalah. Jika terjadi apa-apa dengannya apa yang harus kulakukan?" Wonwoo menutup matanya dengan kedua tangannya. ia merasa sedikit frustasi dengan semua kejadian malam ini. Scoups dan yang lainnya tak bisa sepenuhnya menyalahkan Wonwoo apalagi ia tau bahwa Wonwoo tidak nyaman dengan semua keadaan yang ia alami selama ini. Hoshi merangkul Wonwoo mencoba untuk menenangkannya. "Hey tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa pada Mingyu."
"Mingyu butuh kebenaran, ini adalah tugasmu untuk mengungkapnya dengan cara mu sendiri. Tak ada yang salah, hanya mungkin waktunya tidak tepat. Jangan terlalu salahkan dirimu sendiri. " Woozi yang diam sejak tadi akhirnya angkat bicara. Scoups mengangguk menyetujui pendapat Woozi. "Sudahlah lebih baik kau istirahat malam ini. Ini sudah jam 10 malam." Scoups mulai khawatir kepada adik-adiknya. Wonwoo mengangkat kepalanya, melihat semua tersenyum kepadanya berkata seakan-akan semuanya akan baik-baik saja. "Aku akan menginap disini. Aku akan menjaga Mingyu, kakinya penuh luka, aku yakin ia tidak bisa berjalan, aku akan membantunya jika ia membutuhkan sesuatu." Scoups tak membantah, ia hanya berkata baiklah. Akhirnya ketiga tetangganya kembali ke kamar masing-masing sebelum pergi Woozi hanya berkata," panggilah kami jika terjadi sesuatu. Kami akan selalu ada untukmu." Wonwoo merasa sangat di hargai, walaupun baru beberapa bulan bertemu dengan para tetangga barunya ini dia sudah merasa sangat di sayangi.
-0-
Wonwoo berinisiatif untuk membereskan kamar Mingyu, walaupun tubuhnya sudah lelah, tapi ia tak bisa melihat ruangan ini begitu berantakan. Pecahan beling yang mengenai kaki Mingyu ia bersihkan bahkan debu nya juga agar tak dapat melukai orang lain lagi. Piring bekas mereka makan pun di cuci Wonwoo. Begitu juga buku-buku yang berserakan. Wonwoo adalah orang yan g suka kebersihan, ia akan membersihkan apapun yang menurutnya berantakan apalagi ia sangat menyukai buku. Buku adalah teman baginya. Karena buku akan mengisi kekosongan waktunya jika ia sedang tidak melakukan kegiatan apapun. Semua telah bersih, kecuali bercak darah yang di tinggalkan Mingyu di beberapa tempat yang ada karpetnya. Ia tak mungkin mencucinya malam hari begini, jadi ia memutuskan untuk melihat keadaan Mingyu apakah dia sudah membaik.
Wajah Mingyu terlihat begitu gelisah. Sepertinya tidurnya pun tidak tenang. Hati Wonwoo merasa sedikit sakit saat melihat keadaan Mingyu yang menyedihkan dengan luka yang ada di sekujur tubuhnya. Wonwoo sempat berpikir, sejak ia tinggal di Seoul, dari seluruh tetangganya Mingyu lah yang paling perhatian padanya. Walaupun itu karena ia salah menyangka dirinya adalah teman masa kecil tapi Wonwoo tak dapat menampik fakta bahwa Mingyu adalah orang yang sangat perhatian. Kini, Wonwoo seperti ingin membalas semua kebaikannya, terlebih lagi Mingyu juga lah yang menjaganya saat demam.
Saking lelahnya, Wonwoo tertidur di samping Mingyu dengan posisi duduk. Kepalanya ia sandarkan di kedua tangan yang disilangkan dan kasur sebagai penumpunya. Matanya seakan tak mau terbuka karena lelah yang begitu sangat. Wajah Wonwoo pun begitu khawatir dalam tidurnya.
-0-
Udara sejuk telah mengitari sekeliling tubuh pemuda sipit ini. Hawa dingin bahkan masuk menelusup bajunya. Tangannya sedikit bergerak menandakan tidurnya sudah terganggu. Diangkat kepalanya, mata sipitnya ia kucek, dan menegakkan tubuhnya untuk meregangkan otot yang sudah cukup pegal karena tidur dalam posisi duduk. "Selamat pagi, apa tidurmu begitu nyenyak?" Wonwoo sedikit kaget melihat Mingyu yang sudah terbangun lebih dulu dan mengucapkan selamat pagi padanya. Wajahnya terlihat begitu ceria seperti tak terjadi apa-apa malam itu. "Mingyu? Kau sudah bangun. Apa kau merasa sakit? Di sebelah mana? Katakan padaku. Atau kau mau minum? Akan ku ambilkan air." Pertanyaan bertubi di lontarkan Wonwoo. Mingyu sedikit bingung dengan semua pertanyaan Wonwoo. "Ehmm,, memang kakiku sedikit sakit. Saat kulihat sudah di perban, lalu wajahku juga." Mingyu meraba di sekitar wajahnya, meringis di bagian yang ia sentuh menandakan rasa sakit langsung menyengat bagian tubuh yang di pegangnya.
"Apa yang terjadi padaku semalam?" tanya Mingyu. Wonwoo sedikit aneh mendengar Mingyu mengatakan itu. Wonwoo memiliki firasat yang tidak enak terhadapnya. "Ehm.. apa kau tidak ingat, kau mengamuk semalam." Mingyu yang mendengar penjelasan Wonwoo sedang asyik menyantap roti yang diambil kan Wonwoo di rak makanannya. Mingyu memang selalu sedia makanan, katanya ini adalah makanan darurat kalau kalau ia sedang terburu-buru. "Begitukah? " Wonwoo berbincang dengan Mingyu yang sedang di kasur,sedangkan dirinya sedang membuat susu coklat panas untuk mereka berdua. "Apa aku terlihat seperti orang gila semalam?" Wonwoo mengangguk dan menjawab tentu saja. "Ada yang aneh." Ucap Wonwoo pada dirinya sendiri. Wajah Mingyu seakan tak memiliki masalah, begitu ceria seperti seorang anak kecil yang sedang sarapan bersama dengan kakaknya. "Tunggu," ucap Wonwoo, Mingyu langsung menengok ke arahnya. "Ada apa?"
"ini apa?" Wonwoo mengangkat tangannya membentuk tanda v dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Mingyu bingung, "dua jari? V sign? Atau apa?" ia menjawab reflek. "lalu ada dimana kita sekarang?"
"Di Seoul." Jawab Mingyu cepat. "Apa kita sedang main tebak-tebakkan?" tanya nya lagi seperti anak kecil. Mingyu masih di tempat tidur memegang roti dan selimut yang masih ada di atasnya. "untuk apa kau ke Seoul?" Mingyu menunjuk dirinya sendiri. "Aku? Aku adalah mahasiswa di universitas A, jurusan musik. Hey kau tau aku adalah siswa akselerasi." Tanpa di beritahu Wonwoo sudah tau tentang itu, karena Mingyu mengatakannya di hari kedua mereka bertemu. "Lalu siapa aku?" tanya Wonwoo lagi. Mingyu tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai ia hampir mengeluarkan air mata. "Kau?" Wonwoo mengangguk meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. "Kau sangat lucu. Bukankah kita baru bertemu, aku bahkan tak tau namamu dan siapa kau." Jawab Mingyu tenang. "Jadi siapa namamu? Namaku Kim Mingyu."
Seakan ribuan jarum yang menusuk hatinya, Wonwoo merasa ingin pingsan saat ini juga. Ia tak mengerti apa yang terjadi. gelas yang di pegangnya hampir saja pecah terjatuh karena fakta baru yang ia temukan pagi ini.
-0-
"Apa yang harus kulakukan hyung?" Wonwoo benar-benar merasa frustasi, dalam semalam ia menyebabkan begitu banyak masalah. Kepalanya ia sandarkan di meja dingin kantin di tempat favorit Wonwoo. Matanya melihat kosong ke arah depan yang bahkan tak penting untuk di lihat. Suaranya juga putus asa dengan semua kejadian pagi ini. "Apakah pukulan ku terlalu keras?" Scoups juga merasa bersalah, apakah Mingyu hilang ingatan karena dirinya.
-This Morning-
"Sepertinya hari ini kau tidak bisa kuliah. Istirahatlah di rumah, ini nomor telponku. Telpon aku jika terjadi sesuatu. Oke? Namaku Jeon Wonwoo, aku akan kuliah hari ini. Pulang nanti aku akan kembali ke kamarmu." Wonwoo meninggalkan Mingyu dengan perasaan ragu-ragu. Mingyu hanya mengucapkan selamat tinggal dengan senyum ceria. Wonwoo menggedor-gedor keras pintu Scoups, si pemilik rumah hanya menguap mengatakan ada apa. "Hyung… hyung… apa yang harus kulakukan? Mingyu… Mingyu…" Wonwoo masih teriak-teriak di depan kamar Scoups. "Ada apa lagi dengan mu Wonwoo-ya?" Hoshi telah siap berangkat kuliah dengan Woozi yang ada di sampingnya. "Apa yang harus kulakukan? Mingyu hilang ingatan." Semua mata terbelalak, tak percaya. "Apa maksudmu dengan hilang ingatan?" Woozi benar-benar harus menanyai Wonwoo secara jelas.
-This Morning End-
'Slurrrp..' Woozi tampak asyik menyedot strawberry milkshake nya yang hampir habis. "Apakah sebuah pukulan seperti itu dapat membuat orang hilang ingatan?" Lanjut Woozi. "Kurasa, aku tak terlalu keras memukulnya. Pukulanku hanya cukup membuatnya pingsan tidak sampai hilang ingatan." Tak percaya dengan kelakuannya sendiri. Wonwoo seperti ingin mengutuk dirinya sendiri, ia tak tau bagaimana ia menghadapi Wonwoo saat pulang nanti. 'Drrt..Drrt..' ponsel putihnya bergetar, nomor yang ia tau sebagai Kim Mingyu, langsung diangkatnya telpon itu membuat hati Wonwoo menjadi berdebar, takut memikirkan kenapa Mingyu menelpon dirinya.
"Hallo… hyung… apa ini benar nomor Jeon Wonwoo-hyung?" Mingyu berbicara dengan formal takut orang yang sedang dia telpon adalah orang yang bukan dia maksud. "Benar… ada apa denganmu? Apa kau butuh sesuatu?"
"Hey, bukankah sekarang Wonwoo yang terlalu peduli pada Mingyu?" Hoshi mulai bergosip lagi. "Kupikir juga begitu." Sambung Woozi. "Hey, apa yang kalian bicarakan? Kupikir ini keadaan yang aneh, apa iya hanya dengan pukulan ku ia lupa ingatan?" Scoups masih bertanya-tanya. "Ah?" Woozi mengangkat tangannya. "Ada apa?"
"Aku pernah membaca sebuah artikel, katanya jika ada seseorang yang di paksa untuk mengingat masa lalu yang menyakitkan dia bisa hilang ingatan sementara tapi hanya untuk orang yang sangat penting baginya." Woozi mencoba menjelaskan. "Apa itu dari sumber terpercaya?" Hoshi menunggu jawaban. "Aku tidak tau." Lalu Woozi tertawa. "Apa maksudmu dengan tidak tau Jihoonie -.-?" Hoshi memukul kecil kepala Woozi.
"Sepertinya aku harus pulang sekarang." Wonwoo kembali dari telponnya. "Ada apa dengannya?" sambung Scoups. "Ku jelaskan nanti, aku harus buru-buru hyung maaf. Ah Woozi, bisakah aku meminjam catatanmu nanti sepertinya aku harus membolos." Ucapnya sambil berteriak di kejauhan.
-0-
"Kenapa dia seperti anak kecil saat kehilangan ingatan seperti ini?" Wonwoo mempercepat langkahnya. Sebelumnya ia harus mampir ke supermarket karena kasa yang ia butuhkan sudah ia pakai semua kemarin. Mingyu belum beranjak sejengkal pun dari tempatnya tadi pagi. Wonwoo yang melihat Mingyu terbaring sungguh sedih, pemuda yang biasanya selalu perhatian dengan sikap anehnya ini, kini tak bisa melakukan apapun karena kakinya yang terkena pecahan beling kemarin.
"Yaampun apa yang kau lakukan? Kenapa bisa seperti ini?" ucap Wonwoo khawatir. Darah di kaki Mingyu sedikit mengalir, sepertinya lukanya semalam kembali terbuka. "Aku sungguh tak tau apa yang harus ku lakukan, aku tak bisa memanggil siapapun dari sini, dan aku tak bisa berjalan. Bisakah aku meminta tolong padamu mengganti perban di kaki ku. Karena ini sungguh menyakitkan." Mingyu memelas, wajahnya sangat terlihat kesakitan. "Tunggu sebentar." Wonwoo menyiapkan semua yang ia perlukan. "Maafkan aku harus merepotkanmu, padahal kita baru saling mengenal."
"Jangan katakan itu. Tolong anggap aku sebagai kakak mu atau keluargamu." Wonwoo mengelap darah di kaki Mingyu dan mulai memakai kan perban yang baru. "Tunggulah disini, aku akan membuatkanmu makanan." Setelah memakaikan perban, Wonwoo dengan cekatan pergi ke dapur untuk mulai memasak. "Hyung, terimakasih atas semua bantuanmu, tapi boleh kah aku meminta tolong padamu sekali lagi?" tanya nya pelan. "sebenarnya aku ingin ke kamar mandi sejak tadi, bisakah kau papah aku?" ucapnya sungguh pelan, tapi Wonwoo tak keberatan dan langsung memapah Mingyu ke dalam kamar mandi. "Hyung, ternyata badanmu sangat kecil ya, aku merasa bersalah memintamu untuk memapahku." Ucapnya saat Mingyu merangkul bahu Wonwoo. "Kenapa kau sangat cerewet saat sedang sakit?" Mingyu hanya terkekeh mendengar jawaban Wonwoo.
-0-
Wonwoo telah selesai memasak dan mereka sedang makan siang sekarang, walaupun hanya masakan sederhana setidaknya Wonwoo telah menyiapkannya dengan baik. Mingyu meminta Wonwoo untuk memapahnya sekali lagi ke meja makan, Mingyu berkata ia sangat bosan seharian di tempat tidur. "Makanlah yang banyak," Wonwoo menyodorkan nasi dan lauk ke depan Mingyu dan mulai memakan masakannya. Tak terlalu enak, tapi juga tak terlalu buruk, ini adalah ketiga kalinya Wonwoo memasak untuk orang lain, selain untuk ibunya dan adiknya.
"Hyung, kenapa kau begitu baik padaku? Padahal kita baru bertemu. Atau apakah aku melupakan sesuatu?" Wonwoo terdiam, seperti boomerang. Pertanyaan yang dulu pernah Wonwoo lontarkan kini di ulangi oleh Mingyu. Wonwoo sedikit bingung jawaban apa yang harus ia berikan. "Aku hanya menghargai mu sebagai tetangga yang paling dekat. Maksudku kita bersebelahan. Lagipula kau juga sering membantuku, mungkin kau tidak ingat tapi kau sangat baik padaku." Akhirnya Wonwoo menjawab.
"Benarkah?" tanya Mingyu sambil memakan masakan Wonwoo. "Masakan mu tidak buruk hyung. Apa kau sering memasak?" tanyanya lagi, mulutnya masih penuh dengan nasi. "Ah tidak, aku tak pernah memasak." Wonwoo hampir selesai dengan makanannya.
"Terimakasih telah memperhatikanku. Hyung bisakah kau ceritakan tentang dirimu? Aku sangat ingin tau tentang orang yang selalu membantuku." Wonwoo berhenti makan, ia melihat makanan Mingyu ternyata sudah habis. Lagi-lagi seperti terulang kini Mingyu tengah memperhatikannya. "Aku? Tak ada yang spesial dari kehidupanku. Aku hanyalah anak laki-laki dari keluarga yang biasa aku punya satu adik, dan saat lulus SMA aku ingin sekali kuliah di Universitas A. dan disini aku bertemu dengan tetangga yang sungguh baik."
"Ah kenapa singkat sekali?"
"Bagaimana dengan mu Mingyu? Ceritakan tentang dirimu." Ini adalah kesempatan Wonwoo untuk mengetahui masa lalu Mingyu.
"Aku? Aku hanya punya masa kecil yang menyedihkan. Kau pasti tak ingin mendengarnya."
"Tentu saja aku mau. Ayolah." Wonwoo masih merasa nyaman di hadapan Mingyu walaupun pemuda di hadapannya sedang hilang ingatan sementara menurutnya.
"Orang tua ku tidak pernah peduli padaku. Tapi aku benar-benar punya seseorang yang spesial dalam hidupku, dia sungguh baik, sayangnya dia telah meninggal. Hyung, apa kau menjadi orang yang spesial di hidupku? Kau begitu baik sama seperti dia."
'Mingyu mengingatnya.' Ucap Wonwoo dalam hati.
TBC
: bagaimana chapter kali ini? Apa membuat kalian jadi kesal wkwk. Maaf karena lama, salahkan wonu yang selalu bikin aku galau. Hufft… kalian tau aku sudah dapat tempat magang wkwk oke curhat lagi, h-14 fanmeeting in Jakarta u,u
Waktunya balas review :
Itsmevv: sudah dilanjut,, mohon tunggu lanjutannya lagi ya u,u semoga ga kena wb
Arlequeen kim: gimana masalah di chapter kali ini? Kayanya chapternya bakal nambah dan nunda tamat nih hehe
Monwiimalaslogin: jangan ngambekkkkkkk ayo berikan aku inspirasi buat chap selanjutnyaaa…
auliaMRQ: udah di lanjut,,, chap kali ini seru gaaa?
Akhir kata,, Mingyu dan Wonwoo pamit.
