"Orang tua ku tidak pernah peduli padaku. Tapi aku benar-benar punya seseorang yang spesial dalam hidupku, dia sungguh baik, sayangnya dia telah meninggal. Hyung, apa kau mau menjadi orang yang spesial di hidupku? Kau begitu baik sama seperti dia."
'Mingyu mengingatnya.' Ucap Wonwoo dalam hati.
Chapter 9
-Wonwoo POV-
Sudah tiga hari sejak kejadian itu, aku sangat sangat merasa bersalah. Apakah Mingyu kehilangan ingatan karena aku telah memaksanya untuk mengingat hal yang tak ingin dia ingat. Sebenarnya saat ini aku sungguh bingung, apa yang harus kulakukan. Aku sangat berhati-hati bicara dengan Mingyu. Bahkan rasa penasaran yang teramat sangat yang selalu menghantuiku setiap hari ku hilangkan sementara, tak ingin mengusik ingatan Mingyu lagi.
Siang itu, Mingyu ingin menceritakan kehidupannya padaku. Tapi entah mengapa aku sungguh tak siap untuk menerima kenyataannya. Seharusnya ini adalah kesempatan emas karena aku akan tau kebenaran di balik kematian Wonwoo teman masa kecilnya. Aku sungguh tak bisa menanyakan nya lebih jauh mengenai masa lalunya. Aku terlalu takut Mingyu akan mengingat hal yang menyakitkan.
Sejak ia mengalami hilang ingatan, Mingyu benar-benar seperti anak kecil. Bahkan ia lebih seperti anak ayam yang membutuhkan induknya. Ia tak bisa menjauh dari ku. Aku sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan kakinya. Karena kesalahanku, lagi-lagi Mingyu yang merasakan sakit. Aku memutuskan merawatnya selama ia tak bisa berjalan, lukanya benar-benar dalam, saat ku bilang ia harus memakai tongkat untuk berjalan, Mingyu menolaknya. Sebenarnya ingatannya tak ada yang bermasalah, selain ingatan tentang diriku. Ia melupakan semua kegiatan dan ucapan yang pernah ia ucapkan kepadaku. Sebenarnya aku sedikit tak menyukainya tapi ini sudah terjadi. aku hanya harus membuatnya mengingatnya lagi.
"Kurasa besok aku sudah bisa berangkat kuliah hyung." Ucap Mingyu sambil menulis catatan pelajaran yang sudah tertinggal selama beberapa hari ini. Aku mengukir senyum di wajahku, merasa lega akhirnya ia dapat kembali ke kampus. Terkadang aku sempat berpikir, walaupun baru beberapa bulan kami saling kenal. Tapi tak ada satupun keluarga Mingyu yang datang berkunjung. Aku tau orang tua Mingyu telah meninggal, dan adiknya ada di luar negeri. Tapi apakah ia tak punya paman atau bibi yang tinggal di korea.
"Apa kau punya paman atau bibi yang tinggal di Korea? Kudengar orang tua mu sudah meninggal dan adikmu ada di luar negeri." Akhirnya pertanyaan itu muncul begitu saja setelah memandangi wajahnya yang serius mencatat. "Ah, kenapa kau bisa tau hyung. Aku tak pernah mengatakan itu sebelumnya."
"Aku tau Jeonghan-hyung adalah sepupumu, waktu itu tak sengaja aku mendengar darinya." Rasanya agak aneh bicara seakan-akan aku baru saja memberitaunya apa yang telah ku ketahui selama ini. "Ah seperti itu, bibi dan pamanku sebenarnya yang sedang menjalankan perusahaan ayahku, tapi aku benar-benar jarang sekali bertemu dengan mereka, selalu tak ada waktu yang pas. Mereka bilang aku adalah penerus Pledis Group saat aku lulus, tapi aku benar-benar tak siap untuk menjadi seseorang yang langsung berada di puncak." Aku mendengarkan penjelasannya dengan sangat baik. Jadi kerabat Mingyu masih ada di Korea hanya saja mereka tak bisa bertemu.
"Mungkin saat aku lulus, aku akan mulai menjadi anak magang atau karyawan biasa dulu untuk membuatku beradaptasi disana. Apa Wonwoo-hyung juga ingin bekerja di Pledis Group aku akan membantumu, karena secara sah aku adalah pemilik perusahaan, mereka hanya yang menjalankannya saja."sebenarnya aku cukup bingung, kenapa pembahasan kita sampai ke masalah pekerjaan. Tapi aku sedikit kasihan terhadap Mingyu. Padahal ia berasal dari kalangan kaya, tapi ia tak bisa mendapat apa yang ia butuhkan. Aku hanya tertawa membalas pertanyaannya. "Ikutlah denganku hyung. Saat sudah lulus nanti, aku akan menjamin kehidupanmu." Aku memukul kepalanya sedikit keras untuk membuatnya sadar. "Aku juga akan berusaha bodoh. Jangan samakan aku seperti seorang gelandangan. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mencapai apa yang kumau." Aku sedikit senang karena kita bisa berteman dengan baik mulai dari awal.
Seminggu waktu berlalu, setiap hari adalah hari yang sama bagiku. Walaupun Mingyu hilang ingatan, tapi aku tetap memenuhi janjiku. Aku selalu berangkat kuliah bersamanya, sarapan dan makan siang bersamanya, bahkan kali ini kita mengerjakan tugas bersama. Apalagi besok adalah ujian akhir semester rasanya begitu banyak yang terjadi di semester awal ini. Aku sedikit tak percaya dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini, terlebih lagi aku memiliki misi untuk mengembalikan ingatan Mingyu tentang diriku. Tapi aku tak ingin terlalu memaksanya seperti waktu itu, aku rela walaupun ia tak mengingatku saat ini.
"Hey, bisakah kita belajar bersama?" Hoshi tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Mingyu sambil membawa buku yang telah ia peluk. "Hoshi-hyung, kenapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dulu?" Mingyu sedikit kesal walaupun itu tak membuatnya sangat marah. "Maaf aku terlambat." Woozi memasuki kamar dan berdiri di belakang Hoshi dengan pose yang sama. "Kalian? Siapa yang sebenarnya mengundang kalian." Ucap Mingyu lagi.
"Ya! Kim Mingyu kenapa kau begitu sombong. Kau kira siapa yang merawatmu saat sakit?" Woozi kesal, akhirnya ia sedikit mengungkit kejadian seminggu laiu. "Bukankah Wonwoo-hyung yang merawatku? Ia yang ada disana saat aku terbangun." aku hanya bisa tertawa mendengar jawaban Mingyu. Walaupun sedikit sakit, saat tau fakta bahwa Mingyu tak melupakan siapapun kecuali diriku, seorang Jeon Wonwoo yang bahkan sebelumnya Mingyu sebut sebagai orang yang berharga. Mingyu bercanda akrab dengan Woozi dan Hoshi bahkan terkadang membicarakan masa lalu saat ia memasuki kelas pertamanya.
Kami semua belajar dengan sangat giat untuk melewati semester pertama kami. Bisa di bilang kami adalah rekan seperjuangan, Hoshi, aku, Woozi dan Mingyu adalah mahasiswa satu angkatan yang masuk bersama, dan ku harap kita juga dapat lulus bersama. "Hey, bagaimana jika kita selesai ujian, kita pergi berlibur?"Hoshi memecah keheningan. Woozi terlihat senang dan mengangguk setuju dengan usul Hoshi. Sedangkan aku hanya diam, mungkin bertanda aku juga telah setuju. Mingyu terlihat tersenyum sepertinya ia juga menyetujuinya. "Hmm, sepertinya semua setuju, sekarang tinggal kita pikirkan kemana kita akan berlibur?" Buku-buku Hoshi telah diabaikan dan mata sipitnya terlihat begitu senang saat kami mulai membicarakan tentang liburan.
"Kita harus mengajak yang lainnya." Woozi terlihat sedikit berpikir. Aku sungguh senang melihat mereka begitu ceria. Aku bukanlah orang yang banyak bicara, jadi aku hanya memperhatikan mereka dan setuju dengan semua usul mereka. Walaupun wajahku datar dan tak banyak bicara sebenarnya aku sangat peduli terhadap orang lain tapi terkadang aku tak tau bagaimana cara mengekspresikannya. "Adik kelas kita sepertinya tak bisa ikut karena mereka bilang kemarin ada kegiatan di sekolahnya saat liburan."
"Jeonghan-hyung dan Scoups-hyung juga harus ikut." Hoshi menambahkan. "Hyung, bagaimana jika kita pergi ke kampung halamanku? Rumahku cukup besar untuk kita menginap dan tak ada yang menempatinya. Disana juga suasananya cukup bagus, setidaknya dapat menenangkan pikiran setelah ujian." Woozi, Hoshi dan aku saling berpandangan setelah mendengar usul Mingyu. "Baiklah sudah di putuskan kita akan ke kampung halaman Mingyu." Hoshi mengangkat tangannya ke atas seperti ingin terbang ke udara saja. Dirinya sangat bersemangat saat sudah membicarakan mengenai liburan. Tapi setelah ku pikir, ini adalah ide yang buruk, Mingyu bisa saja mengingat sesuatu yang buruk jadi aku sedikit berbisik ke Hoshi mengenai pemikiranku. Hoshi mengangguk mengerti apa yang aku katakan.
"Ah tapi aku punya tempat yang lebih baik, bagaimana dengan pantai?" ucap Hoshi lagi mencoba meyakinkan Mingyu untuk mengubah pikirannya. "Tidak, tidak. Hyung kau sudah menyetujuinya, pokoknya kita akan tetap ke kampung halaman ku. Lagi pula aku sangat rindu suasana rumah." ucapnya tak menerima penolakan, mau tak mau mereka semua setuju.
-0-
Jeonghan-hyung dan Scoups-hyung juga tak lupa ku beritau dan mereka setuju, sebenarnya mereka sempat menanyaiku tentang ini. "Apa Mingyu akan baik-baik saja? Dan kau juga?" tanya Scoups. "Aku tak masalah hyung, ku harap semua akan baik-baik saja." Aku menjawab mencoba meyakinkan Scoups-hyung agar ia tak khawatir lagi. Sebenarnya Jeonghan-hyung masih belum tau masalah ini, aku terlalu takut untuk bicara padanya. Aku tau walaupun jeonghan-hyung adalah orang yang lembut, tapi ia juga punya sisi yang tak akan kita duga juga.
H-1, aku begitu berdebar menanti hari esok yang ku tunggu-tunggu dan tak juga kuharapkan. "Bagaimana ini? Bagaimana jika terjadi sesuatu besok?" aku menghela nafas mencoba untuk tidur agar tak meninggalkan lingkar hitam di mataku esok. Dan benar saja, aku sungguh-sungguh tak bisa tidur dan mataku benar-benar terlihat buruk. Hoshi-hyung dan Woozi telah siap dengan kopernya, terlihat seperti ingin pindah rumah daripada jalan-jalan. Aku hanya membawa tas punggung yang cukup memuat pakaian ku dan kantung kecil berisi snack. Mingyu bilang ia telah menyiapkan mobil yang pas untuk kita. Dan benar saja, ini sedikit mewah untuk ukuran anak mahasiswa, Jeonghan yang tau latar belakang keluarga Mingyu tak terkejut dengan apa yang telah dia siapkan.
"Apa kalian siap?" Hoshi teriak memberi aba-aba untuk Mingyu mulai menyetir mobilnya. Mingyu dan Scoups-hyung ada di baris paling depan, sedangkan aku dan Jeonghan-hyung ada di baris paling belakang. Woozi dan Hoshi terlihat sangat senang , wajahnya begitu ceria sepanjang perjalanan. Aku meminta Coups-hyung duduk di samping Mingyu untuk berjaga takut-takut terjadi sesuatu dengannya, Coups-hyung adalah orang yang cekatan dan bertanggung jawab. Sedangkan aku, mengambil tempat paling belakang bersama Jeonghan-hyung karena aku harus menceritakan kejadian seminggu yang lalu kepada Jeonghan-hyung, agar ia tak kaget jika Mingyu mengatakan hal yang aneh-aneh mengenai diriku.
Sudah satu jam kami berkendara, Hoshi dan Woozi terlihat sangat lelah jadi mereka tertidur. Sedangkan Mingyu terus di ajak bicara Coups-hyung agar ia tak mengantuk, menurut Coups-hyung itu adalah cara terbaik agar tidak mengantuk di perjalanan. Aku mengambil kesempatan ini untuk bicara dengan Jeonghan-hyung, walaupun kami tak terlalu dekat, aku percaya ia adalah orang yang dewasa dan juga mengayomi. "Jeonghan –hyung, sebenarnya ada sesuatu yang terjadi seminggu yang lalu, aku tak tau kau kemana tapi saat itu kau memang sedang tak ada di kamar. Dan aku baru sempat bicara dengan mu hari ini. Aku sungguh minta maaf, tapi kau benar-benar harus tau keadaan ini." Ucapku menjelaskan terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Aku menceritakan detail kejadian yang terjadi. dan ekspresi nya pun berubah. Ia mengatakan apa! Dengan suara begitu lantang, sebelumnya aku sangat takut, wajahnya begitu terlihat marah, entah merasa kecewa karena aku tak memberi tau hal ini. Scoups dan Mingyu hampir saja menengok dan menanyakan keadaan kami, tapi Coups-hyung ku beri tanda agar ia terus mengobrol dengan Mingyu. Jeonghan reflek menutup mulutnya kuat-kuat setelah berteriak seperti itu. "Apa yang lain tau tentang ini?" Tanya Jeonghan-hyung dengan wajah yang begitu serius. lagi-lagi aku menjelaskan dengan detail.
"Apa kau tidak apa-apa Wonwoo-ya?" Terlihat Jeonghan-hyung sedikit khawatir padaku. Sebenarnya aku sama sekali tak masalah ia melupakanku, tapi fakta bahwa Mingyu tersakiti karena aku itu adalah hal yang ku khawatirkan. Pasalnya aku tau beban yang di tanggung Mingyu selama ini. Jeonghan-hyung menceritakannya dengan sangat baik. "Ku yakin, ada saatnya ingatan Mingyu akan kembali. Dan firasatku itu tak lama lagi." Jeonghan-hyung hanya menatap sendu terhadapku lalu tersenyum.
-0-
Setelah perjalanan yang cukup panjang, kami sampai di sebuah rumah yang begitu mewah bahkan halamannya saja sungguh indah di lihat. Hoshi terlihat menguap dari tidur panjangnya. Mingyu telah meregangkan ototnya, pasti ia sangat pegal setelah berjam-jam menyetir. Aku tampak agak risih, sejak dua menit yang lalu Mingyu tampak memperhatikanku. "Ada apa?" bentakku. Sebenarnya aku sangat tak suka di perhatikan orang lain, itu seperti gerak-gerik ku di awasi. "Hyung, lingkar hitam di matamu jelas sekali. Apa kau tak bisa tidur?" aku memilih berlalu meninggalkan Mingyu dan mengikuti yang lain masuk ke dalam rumah. Rumahnya tampak sedikit berdebu, walaupun interiornya sangat mewah dan luas. Coups-hyung, Hoshi dan Woozi juga tampak menengadah memperhatikan tiap inci dari tempat ini.
Jeonghan merasa rindu akan tempat ini, ia terlihat senyum-senyum sendiri memperhatikan sekeliling rumah Mingyu. "Ah, padahal baru 6 bulan di tinggal tapi sudah berdebu seperti ini." Mingyu menghempaskan tubunya di sofa yang terletak di ruang tengah. Yang lain mengikuti gerak Mingyu, terasa bebas bergerak setelah beberapa jam berada di dalam mobil. Mereka semua berisitirahat tanpa membuka koper terlebih dahulu.
'kruyuuuuk~' rona merah terlihat di wajah Woozi, ia begitu malu karena suara perut yang tak bisa di tahannya. "Woozi-hyung apa kau sangat lapar?" Mingyu terbahak-bahak membuatnya mendapat satu pukulan yang mendarat di kepalanya. "Sepertinya kita harus mencari makanan." Hoshi dengan suara lemasnya mendukung Woozi untuk cepat-cepat mencari makanan. "Bagaimana jika kita memasak saja?" ucapku reflek. "Masakan buatan Mingyu sangat enak." Pujiku, sedikit rindu dengan masakan buatannya.
"Baiklah, Jeonghan-hyung, bisakah kau pergi ke minimarket yang ada di persimpangan itu?" Jeonghan mengangguk setuju, setelah mendapat resep dari Mingyu, ia langsung menggandeng Hoshi untuk ikut dengannya. "Ya! Bisakah aku tinggal di rumah saja?" wajahnya begitu sedih seakan ingin di siksa oleh Jeonghan. "Tidak kau harus ikut dengan ku." Ucapnya.
Kami di bagi menjadi dua tim, Coups-hyung dengan Mingyu menyiapkan peralatan masak sedangkan aku dan Woozi menyiapkan alat makan. Meja makan Mingyu cukup besar ini membuatku seperti makan dengan orang-orang kerajaan. "Wonwoo-ya.. apa Mingyu masih belum bisa mengingatmu?" aku menggeleng dan menjelaskan pada Woozi. "Apa menurutmu kita akan mendapatkan sesuatu disini?" tanyanya lagi. Aku mengatakan tidak tau dan memberitaunya semoga tak terjadi sesuatu yang buruk.
Sekitar 30 menit berlalu, Jeonghan dan Hoshi terlihat memasuki rumah. "Ya! Hyung kenapa kau lama sekali?" Mingyu agak kesal di buatnya, raut wajahnya berubah sejak di tinggal Jeonghan tadi. "Kau tau? Kita tersesat, padahal Jeonghan-hyung bilang ia sangat tau lingkungan daerah sini." Hoshi mencibir, mengejek Jeonghan membuatnya senang, Jeonghan membuat kesalahan hari ini. "Ah tadi juga kami sempat mengobrol dengan seorang ibu-ibu, siapa di panggilnya Jeonghan-hyung?" tanya Hohsi lagi. "Bibi Kim, tadi dia menanyaimu, dia bilang mampirlah berkunjung kalau sempat." Ucapnya menjelaskan sambil mengeluarkan bahan-bahan yang telah mereka beli. Aku hanya memperhatikan raut wajah Mingyu. Tapi ia begitu tenang,
Aku dan Woozi telah selesai menyiapkan alat makan, jadi aku memilih untuk ke ruang tengah dan nonton tv terlebih dahulu sambil menunggu Mingyu dan Coups-hyung menyiapkan makanannya. Jeonghan –hyung dan Hoshi pun memilih kegiatan yang sama dengan ku. Tak berapa lama Coups-hyung memanggil kami untuk makanan, ternyata masakan telah tersaji. Aku sedikit menganga, ketika masakan yang di hidangkan begitu banyak. Tapi dengan 6 orang seperti ini, makanan ini pasti akan habis dalam waktu singkat. Tak menunggu waktu lama untuk mengetahui faktanya, dugaanku selalu benar. Ternyata makanan ini habis di makan oleh para kuli yang memang kelaparan.
-0-
Karena rumah Mingyu yang begitu besar, kami terbagi ke dalam 3 kamar. Masing-masing dari kami memiliki pasangan, tentunya itu adalah orang terdekat bagi mereka. Jeonghan dan Coups-hyung memilih untuk tidur di kamar orang tua Mingyu, Hoshi dan Woozi tidur di kamar tamu dan aku tidur di kamar Mingyu. Saat ku lihat ke dalam kamarnya, tak begitu banyak barang di sana, hanya ada kasur yang cukup besar, lemari dan meja belajar. Kamarnya pun di dominasi warna hitam dan putih. Saat ku lihat keliling kamarnya tak ada bingkai foto atau foto yang di letakkan di meja belajarnya, kamarnya begitu minim perabotan dan cukup luas.
Saat itu jam 8 malam, kami memilih untuk pergi ke kamar masing-masing karena terlalu lelah dengan perjalanan hari ini. Aku belum bisa tidur jadi aku memutuskan untuk pergi ke balkon menghirup udara luar. Kulihat lingkungan rumah Mingyu disini begitu sepi. Dari lantai dua rumahnya dapat kulihat beberapa rumah yang tak jauh darinya bahkan sebuah sungai yang tampak dari kejauhan. "Hyung, apa yang kau lakukan disini?" aku hampir saja terjatuh saat Mingyu mengagetkanku. Hawa keberadaannya begitu tak kusadari. "Aku tak bisa tidur, ini baru jam 8 malam." Aku menjawabnya tanpa menengok ke arahnya. Pandanganku lurus ke depan atau bahkan sedikit melihat langit mengecek apakah ada banyak bintang disini.
"Hyung, kenapa kau terlihat begitu kekanakan?" aku menatapnya tajam tak terima dengan omongannya yang membuatku sedikit jengkel. "Maafkan aku, maksudku tubuhmu begitu kurus, jika ada angin yang kencang kau bisa saja terbawa." Aku semakin jengkel mendengar tawa Mingyu yang begitu lepas. Suasana nya begitu pas, angin tenang dan udara malam yang tak begitu dingin, hening dan sepi. Membuatku ingin mengetahui kebenaran masa lalunya. Dan saat ini aku benar-benar berniat untuk menanyainya. Tiap bagian diriku sudah tak sabar untuk mengetahui kebenaran itu. "Hyung, terimakasih telah mau menjadi temanku. Aku sungguh menghargai dan menyayangimu." Mata Mingyu tak menoleh ke arahku. Kenapa dia selalu saja membuat orang lain bingung dengan tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.
"Maafkan aku telah membohongimu," aku mengernyit tak mengerti apa maksud dari perkataannya. "Apa maksudmu? Minta maaf untuk apa?" ucapku menghadap ke arahnya. Mingyu mengikuti dan kini kami berhadapan. Tangan Mingyu memegang bahuku, membuatku merasa sedikit takut. "Maafkan aku telah berbohong padamu, sebenarnya…"
"Pemandangan apa yang kulihat ini?" seseorang mengganggu pembicaraan kami, dan ternyata dia adalah Jeonghan-hyung. "Jeonghan-hyung, ada apa?" ucapku langsung menghampirinya. Ia sedikit membenarkan poninya. "Apa kau tidak dengar aku memanggilmu dari tadi, bibi Kim datang berkunjung." Mingyu sedikit mengernyit. "Malam-malam begini?" tanya nya. Kami langsung pergi ke ruang tamu untuk menemui perempuan yang sering di panggil bibi Kim.
Kulihat seorang wanita paruh baya yang bisa dibilang masih sangat cantik untuk wanita seusianya. Terlihat ia membawa kantung plastik, kulihat Mingyu langsung memeluknya saat melihat wanita itu. Terlihat sangat akrab, mungkin Mingyu sudah menganggap orang itu sebagai ibunya sendiri. Ternyata bibi Kim hanya ingin mengantarkan kue. "Ku dengar teman-temanmu sedang berkunjung, jadi kubuatkan sedikit kue sebagai cemilan." Mingyu menanggapi nya dengan senyum ramah, terlihat bibi Kim juga sangat menyayangi Mingyu. Aku hanya bisa diam, saat aku bertanya pada Jeonghan-hyung dimana yang lainnya, dia bilang mereka sudah tertidur. "Jadi ini yang namanya Wonwoo, kau sangat tampan." Aku sedikit bingung, kenapa bibi Kim bisa mengetahui namaku. Kupikir Jeonghan-hyung yang mengatakannya. Aku hanya menjawab terima kasih dan tersenyum, setelah berbincang cukup lama akhirnya bibi Kim pamit pulang, aku mencicipi kue buatannya dan itu sangat enak.
-0-
Karena obrolan Mingyu dan bibi Kim yang cukup lama, kini jam menunjukkan pukul 10 dan aku benar-benar mengantuk. Aku memutuskan untuk tidur lebih dulu daripada Mingyu, niat yang tadinya ingin menanyainya ku urungkan, ku pikir ini terlalu malam untuk membuat masalah lagi. Mingyu terlihat sedang membaca buku di sampingku dengan menyandarkan kepalanya di kepala ranjang. Aku mengabaikannya, mengucapkan selamat tidur dan lalu pergi ke alam mimpi.
Pagi harinya, aku terlihat bangun kesiangan. Matahari sudah tinggi, gorden dan jendela sudah di buka. Kulihat Mingyu juga sudah tak ada di kamar. Aku memilih mandi terlebih dahulu, tapi selesai mandi aku menemukan sebuah surat. Disana tertulis dari Mingyu,
"hyung, bisakah kau ikuti peta ini dan temui aku disana. Tolong jangan ajak siapapun buatlah alasan apapun untuk kau datang sendiri, ada yang ingin ku katakan padamu. Jangan khawatir, ini bukanlah sesuatu yang berbahaya."
Aku sedikit tak mengerti, tapi setelah rapi aku menuruni tangga dan melihat yang lainnya ada yang sedang menonton tv dan ada juga yang sedang sarapan. "Hyung dimana Mingyu?" aku bertanya penasaran sebenarnya dimana Mingyu. "Entahlah, dia pergi pagi-pagi sekali. Wonwoo-ya kami ingin pergi ke pantai hari ini. Apa kau mau ikut?" aku berpikir tentang surat yang Mingyu berikan jadi aku sedikit membuat alasan. "hyung, kau bisa jalan duluan. Aku akan mencari Mingyu sepertinya aku tau dia dimana, nanti kami akan menyusul." Hoshi percaya dan mengiyakan. Jadi aku mulai keluar rumah dan mengikuti peta yang sudah di buat Mingyu dengan sangat baik. Gambar petanya begitu jelek jadi aku hanya bisa menerka saja.
Kira-kira sudah 10 menit aku berjalan, dan di ujung jalan terlihat sebuah plang panti asuhan, walaupun dari jauh aku bisa membacanya itu adalah panti asuhan harapan, "sepertinya ini panti asuhan yang di ceritakan Jeonghan-hyung." Aku mengabaikannya dan berbelok mengikuti arahan di peta. Kira-kira lima menit dari sana, terlihat sungai yang dapat kulihat dari balkon lantai dua rumah mingyu. Dan ternyata Mingyu telah duduk disana, di bawah pohon rindang di pinggir sungai. Aku mendekatinya secara perlahan mencoba untuk tak membuat suara, ternyata Mingyu sedang memegangi foto dirinya dengan Wonwoo teman masa kecilnya.
"Mingyu-ya… untuk apa kita bertemu disini? Dan itu siapa?" aku berusaha pura-pura tidak tau, karena setelah Mingyu kehilangan ingatan, ia tak pernah mengungkit teman masa kecilnya. "Bukankah kau sudah tau hyung, ini adalah Wonwoo yang mirip sekali dengan mu. Bahkan karena foto ini dan melihatmu membuatku terlihat seperti orang gila selama ini." Mingyu menjawabku tanpa menoleh. "Kau? Sudah ingat semuanya?" jawabku begitu kaget. Ya aku benar-benar kaget, setelah sekian lama, Mingyu mengatkan bahwa lagi-lagi aku mirip dengan teman masa kecilnya. Mingyu menoleh ke arahku dan menyuruhku duduk disampingnya. Mingyu menghadap ke arahku. Lagi-lagi keadaan semalam terulang. "Maafkan aku hyung telah membohongimu, sebenarnya aku tak pernah hilang ingatan mengenai dirimu." Mataku hampir saja keluar saat mendengar itu. Memang sedikit kesal saat di bohongi seperti ini. Aku benar-benar ingin menghajarnya saat ini. "Maafkan aku juga karena selalu menyamakanmu dengan teman masa kecilku. Kau pasti sungguh tidak nyaman." Aku memilih diam untuk mendengar semua penjelasannya.
Mingyu tiba-tiba saja berdiri di pinggir sungai, aku mengikutinya ke pinggir sungai. "Disinilah tempat Wonwoo meninggal." Aku sedikit kaget tapi tak bermaksud menyela ceritanya. "agar lebih mudah mungkin dia akan ku panggilk kang, namanya adalah Kang Wonwoo." Akhirnya aku lega karena nama kita memang beda.
-Wonwoo POV END-
Wonwoo terlihat memperhatikan Mingyu, menunggu kelanjutan cerita yang akan dia dengar. Mingyu kembali memulai ceritanya, Wonwoo memilih untuk memandang ke depan. "Saat itu, akan ada badai hujan, tapi tiba-tiba saja Kang mengajak ku untuk bertemu disini."
-The Past-
Hari ini adalah hari kelulusan Mingyu, Mingyu terlihat sangat ceria. Ia memeluk banyak bunga dari teman-temannya termasuk Kang Wonwoo. "Hey, selamat. Kau akan menjadi siswa menengah pertama. Kau sudah cukup cocok dengan wajahmu yang tua itu." Mingyu terlihat sedikit memukul Kang Wonwoo. "Hentikan candaanmu Wonwoo-ya." Tapi Wonwoo malah membalas memukul Mingyu. "Ya! Bodoh panggil aku hyung. Aku ini lebih tua darimu tau." Wajah cerianya belum luntur. "Ayo kita berfoto dulu, aku benar-benar senang hari ini." Mereka berfoto dengan Mingyu yang memeluk banyak bunga. Tak tau kejadian apa yang menimpa mereka. Tapi senyum Wonwoo hari ini akan jadi yang terakhir di lihat Mingyu.
Wonwoo dan Mingyu berpisah di persimpangan. Tapi sebelum berpisah Wonwoo membisikkan sesuatu di telinga Mingyu. "Hey temui aku di pinggir sungai tempat biasa jam dua belas nanti, ada yang ingin ku beritahu padamu." Mingyu terlihat baik-baik saja dan menyetujui permintaan Wonwoo. Mingyu telah siap berangkat, ia sedikit telat sepuluh menit karena harus makan siang terlebih dahulu. Mingyu kecil menyusuri jalan seperti biasa tanpa ragu. Sebenarnya ia sedikit khawatir, karena awan terlihat mulai menghitam tapi ia sudah terlanjur janji dengan Wonwoo untuk datang. Wonwoo terlihat sudah datang dan memegang sebuah boneka yang sedikit besar.
"Hey." Panggil Mingyu dari kejauhan, Wonwoo yang ada beberapa meter di depannya melambaikan tangan. "untuk apa boneka itu?" Wonwoo terlihat memeluk boneka rubah dengan sangat erat. Saat itu Mingyu tak sadar posisi Wonwoo benar-benar ada di pinggir. "ini untukmu." Ucap Wonwoo dengan senyumnya. "Kau pikir aku anak perempuan di beri hadiah boneka."
Wonwoo sedikit tertawa. "Aku akan pergi ke Seoul. " Mingyu sedikit kaget. "ini ku berikan untuk mu agar kau selalu mengingatku. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau aku seperti rubah." Lanjutnya. "Apa akan sangat lama kau pergi ke Seoul?" Wonwoo sedikit menggeleng. "Aku akan tinggal selamanya di sana. Aku diadopsi keluarga dari Seoul." Mingyu sedikit senang akhirnya temannya kini akan mempunyai sebuah keluarga tapi ia juga sedih karena akan berpisah dengan Wonwoo. "Jadilah orang sukses dan kita akan bertemu di Seoul, kau tau di Seoul ada universitas ternama namanya universitas A, aku ingin sekali mendaftar kesana, jika kau sudah lulus SMA, pergilah ke Seoul dan masuk ke universitas A aku akan menemui mu disana." Mingyu mendengarkan dengan baik. Air matanya sedikit keluar. Saat itu awan sudah sangat menghitam dan hujan sudah mulai turun dengan sangat deras. "Kapan kau akan berangkat?" hujan turun begitu deras sampai-sampai mata Mingyu pun tak dapat melihat dengan jelas, Mingyu meneriaki Wonwoo untuk pergi dari tempat itu. Tapi baru saja Wonwoo melangkah tanahnya bergeser dan longsor, Wonwoo terjatuh ke dalam sungai. Tangan Wonwoo masih bisa mencapai rumput. Tapi baru saja Mingyu ingin menolongnya Wonwoo terbawa arus.
Mingyu yang saat itu masih lulus Sekolah dasar tak tau harus berbuat apa. Ia masih memeluk boneka yang di berikan Wonwoo meneriaki siapapun untuk meminta pertolongan. Mingyu begitu putus asa ia sudah tak bisa melihat kepala Wonwoo yang menyembul. Ia benar-benar tak tau harus apa. Sedangkan hujan semakin deras, membuat bibirnya bertambah pucat. Mingyu tak berani untuk melangkah lebih jauh tapi ia tak bisa pergi meninggalkan Wonwoo begitu saja. "Hyung…. Wonwoo-hyung kau dimana? Jawab aku" Mingyu berlari mengikuti arah sungai tapi ia tetap tak bisa menemukannya. Ia berlari dan terus berlari tapi naasnya Mingyu terjatuh dan kepalanya terbentur batu yang membuatnya pingsan.
-The Past End-
Mingyu terlihat mengeluarkan air mata, tangisnya tak mampu ia bendung saat menceritakan teman masa kecilnya. "sejak kejadian itu, aku benar-benar mengingat semuanya. Tentang Kang, dan aku juga tak melupakan mu Wonwoo-hyng." Wonwoo yang melihat keadaan Mingyu menjadi bingung tak tau harus apa. Akhirnya ia memutuskan untuk merubah posisi Mingyu menghadapnya dan memeluknya dengan sangat erat. Wonwoo tak mengatakan apa-apa ia hanya memeluk Mingyu dengan erat. Mingyu yang di peluk membalas pelukan Wonwoo dan tangis pun pecah, baju Wonwoo kini di basahi oleh tangisan Mingyu. "Dia adalah orang yang sangat berharga untukku hyung. Ia yang selalu menyemangatiku melebihi orang tua ku sendiri. Ia adalah orang yang sangat hebat yang pernah ku temui." Lagi-lagi Wonwoo tak membalas perkataan Mingyu. Ia hanya mengusap punggung Mingyu mencoba untuk menenangkannya.
Setelah Mingyu puas menangis, dan kini baju Wonwoo benar-benar basah. Wonwoo melepas pelukannya, "Jangan menangis lagi, dia memang orang yang hebat juga jangan pernah melupakannya, tapi, jika kau terus mengingat masa lalu mu itu. Kau akan terus sedih. Wonwoo yang disana pasti tak mau kau begitu." Ucapnya. Mingyu hanya mendengarkan, "jangan terus bersedih karena kini kau memiliki banyak teman, ada Scoups-hyung, Jeonghan-hyung, Woozi dan juga Hoshi. Dan mulai saat ini, aku juga akan selalu ada untuk mu. Mungkin Kang Wonwoo ada dalam diriku, tapi jika kau berniat menjadikanku orang yang berharga bagimu tolong kenal lah aku sebagai Jeon Wonwoo bukan sebagai Kang Wonwoo." Ucap Wonwoo dengan wajah serius. Mingyu mengangguk dan sekali lagi ia memeluk Wonwoo. "Hey, Coups-hyung tadi mengajak kita pergi ke pantai." Wonwoo langsung menggandeng tangan Mingyu untuk pergi kea rah pulang.
"Ah seperti nya menyenangkan." Mereka akhirnya dapat mengerti satu sama lain. "Hyung, bagaimana jika nanti lulus, kita akan berpisah seperti kebanyakan orang, dan aku sudah menganggapmu sebagai kakak kandungku. Aku tak ingin berpisah dengan mu."
"Jangan pikirkan hal seperti itu saat ini, yang lebih penting lagi aku ingin bertanya padamu, kenapa kau pura-pura hilang ingatan?"
"Karena aku ingin melihatmu sebagai Jeon Wonwoo bukan Kang Wonwoo, kau pasti selalu tak nyaman jika harus terus ku samakan dengan Kang. Ah aku sudah tau apa yang harus kita lakukan nanti."
"Apa?"
"Kita akan membangun sebuah perusahaan bersama, bagaimana menurutmu?"
"itu tidak buruk."
-END-
Kaze: Maafkan saya jika ending yang tak menyenangkan ini. Tapi sepertinya otak ku sudah mulai lelah memikirkan alur. Dan semakin galau dengan dekatnya fanmeeting ini. Okeh deh sepertinya untuk chapter terakhir aku tak perlu balas review pokonya terima kasih atas semua perhatian kalian dan terimakasih buat yang udah baca sampai habis. Jika memungkinkan ini akan dibuat sekuel atau mungkin kalian punya request tinggal DM aku aja,akan ku usahakan buat cerita itu. Akhir kata bagaimana dengan chapter terakhir ini?
Mingyu dan Wonwoo pamit ^^
