-disclaimer-
Genres: Romance, Hurt/Comfort
Rating: T
Length: Chaptered

Warn(s): Shounen-Ai | OOC | AU | EYD-failure

.

.

.


Sehun hanyalah seorang aktor muda yang menjalani karirnya saat ia masih berstatus murid kelas 2 SMA di sekolahnya. Bertemu dengan pria yang baru saja di tolaknya 2 hari lalu, di sebuah bar. Tetapi ada yang berbeda dari pria itu. Sorot matanya, tindakannya, dan juga penampilannya. Sehun berpikir mungkin itu pengaruh dari cinta pria itu yangsudah di tolaknya.


nemonion present

.

.

WHO ARE YOU?

.

.


Chapter 2


Sebuah gedung mewah dengan tinggi sekitar 6 meter di atas permukaan tanah menyambut kedua iris mata pria muda berbalut jas sma dengan dasi yang bertengger apik melingkari leher jenjang pria itu. Rambutnya yang sedikit tersibak oleh hembusan angin pagi di sekitarnya membuat ia menggerakkan tangan untuk menyisir helaian rambutnya ke belakang. Arloji di tangan kirinya telah menunjukkan pukul 07.15 saat matanya melirik ke arah benda berwarna hitam itu.

Sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu. Berdiri di hadapan gerbang berukuran besar dengan di ekori beberapa pasang mata yang menatap penuh dengan bisik-bisik ke arahnya. Tetapi sejauh pengamatan, mereka semua tidak pernah ada yang berani menatapnya secara langsung. Jangankan menatap, dengan jarak hanya beberapa centi dengannya saja sudah membuat ia melihat raut penuh ketegangan dari para manusia di sekitarnya.

Tapi kali ini lain. Ia sama sekali tidak menemukan satu orang pun yang menatapnya dengan penuh ketakutan seperti biasa. Bahkan ada yang malah sengaja menyikutnya sampai ia hendak terjatuh kalau saja refleksnya tidak berjalan lebih cepat.

"cih, orang sepertimu tidak pantas menyukai seorang idola seperti Sehun oppa, Jongin ssi" sindir seorang siswi berseragam sama dengannya di susul dengan anggukan dari teman-temannya yang lain. Beberapa diantaranya tertawa dan beberapa lainnya menatap nyalang ke arah pria yang menjadi pusat perhatian para siswa-siswi terlambat di sekolah kala itu.

Alih-alih merasa tersinggung dengan perkataan siswi tadi, pria bermarga Kim itu malah menaikkan sudut bibirnya hingga tercetak jelas sebuah seringai di wajahnya. Dan secara bersamaan memorinya kembali pada kejadian yang membuat dirinya berada dalam situasi seperti saat ini.

.

.

.


Malam sudah terlalu larut bahkan bulan sudah enggan menyisakan sedikit cahayanya untuk ia bagi pada alam kalau saja sang pencipta menghendakinya untuk itu. Berbeda dengan angin yang semakin menyebar luaskan desirannya tanpa kenal lelah. Membuat para pekerja yang masih berada di luar ingin segera pulang ke rumah dan menikmati segelas kopi panas di kamarnya.

Sama halnya dengan seorang pria yang tengah berdiri di depan sebuah toko sambil sesekali mengisap batang rokok di jarinya perlahan. Berulang kali ia mengecek arloji di tangannya dan berulang kali pula bibirnya berdecih kasar karena seseorang yang sedang ia tunggu saat ini benar-benar jauh dari kata 'tepat waktu'.

Ia bukan tipe orang yang hobi menunggu bahkan ia sangat membenci hal itu. Tapi untuk kali ini, ia membiarkan hal itu terjadi pada dirinya karena seseorang yang ia tunggu tidak bukan adalah saudara kandungnya sendiri. Mungkin lebih tepatnya saudara kembarnya sendiri.

"Maaf, aku terlambat Kai"

Sebuah suara akhirnya memecah keheningan yang sempat terjadi malam itu. Merasa namanya terpanggil, Kai menolehkan wajahnya dan menemukan sosok yang ia sebut sebagai saudara kembarnya itu dalam kondisi tidak baik-baik saja. Banyak luka di sekujur tubuhnya bahkan lebam di wajahnya sangat terlihat jelas.

"Aku diserang oleh 4 pria sekaligus. Entah karena apa tapi setelah kupikir mungkin mereka mengira aku adalah kau, Kim Kai" tutur Jongin merasa pria di hadapannya tengah heran dengan kondisi fisiknya saat ini. Kai hanya mengangguk tanda mengerti lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Dengan kondisi seperti ini apa kau masih ingin aku menuruti perintahmu, Jong?" Kai sedikit tertawa sinis di dalam kata-katanya. Sementara Jongin hanya diam merespon pertanyaan saudaranya itu.

"Lanjutkan saja. Mungkin aku akan lebih bisa menjaga diriku setelah ini" jawab Jongin pasti.

"Apa yang kau dapat hari ini belum seberapa, Jong. Aku tak yakin kau akan tahan hidup sebagai seorang Kai dengan fisikmu yang lemah seperti itu"

"Berhenti mengataiku lemah karena aku tidak selemah itu. Anemia bukan masalah besar bagiku. Masalahku hanya ada pada Oh Sehun" ucap Jongin sedikit berteriak.

Kai menatap Jongin dengan ekspresi datar sebelum bibirnya berdecih untuk kesekian kalinya hari ini.

"Kim Jongin, kau sudah di butakan oleh cinta rupanya. Kau menyuruhku untuk berada di posisimu dan mendekati Oh Sehun? Lalu setelah aku berhasil kau akan kembali menjadi dirimu, begitu?"

"Hanya sebentar saja. Aku benar-benar butuh bantuanmu."

Jongin membalas tatapan mata Kai berusaha meyakinkan bahwa ini adalah permohonannya yang terakhir. Karena ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa setelah mendapat penolakan dari Sehun tempo hari.

"Tak kusangka kau memiliki pikiran sempit seperti ini Jong. Tapi baiklah"

Kai akhirnya mengalah. Lagipula kurugian bukan berada di pihaknya melaikan di pihak Jongin, kakaknya. Baru saja sehari orang-orang mengira Jongin adalah dia, tubuhnya langsung babak belur seperti itu. Bagaimana jika Jongin benar-benar menyamar menjadi dirinya? Kai bahkan tak bisa membayangkan hal itu.

.

.

.


"Kau sudah mengawasinya, Park?"

Pria dengan marga Park itu menoleh malas ketika seorang Kris – pria yang kini berada satu mobil dengannya itu menanyakan hal yang menurutnya sangat mengganggu akhir-akhir ini.

"Awasi saja sendiri. Kau kan tahu aku benar-benar malas berurusan dengan dia"

Chanyeol kembali meneruskan kegiatan yang tadi sempat ia hentikan – yaitu memasang seatbeltnya. Matanya kembali beralih pada Kris dan seperti yang ia duga – pria itu marah pada ucapannya tadi.

"Aku memintamu untuk membantuku bukan untuk membantahku, Park Chanyeol"

Kris menekankan setiap perkataannya bermaksud untuk membuat Chanyeol mengerti jika perintahnya adalah sesuatu hal yang mutlak. Tidak ada satu orang pun yang bisa membantahnya. Termasuk Park Chanyeol, sahabatnya sendiri.

"Damn you, Kris"

"Hellya it's me. Whatever you say"

Tidak ada yang bisa Chanyeol lakukan selain menerima kekalahannya ketika berdebat dengan Kris. Sahabatnya itu benar-benar sudah di luar kendali.

Suasana di mobil itu kemudian hening. Keduanya tampak berada dalam pikirannya masing-masing.

"Kemarin aku memang tidak sempat mengawasinya. Tapi saat aku dalam perjalanan pulang dari rumah seseorang, aku melihatnya berbicara dengan seorang pria"

Dahi Chanyeol mengerut. Berpikir lebih keras untuk mereplay memori di otaknya.

"Tapi posisi pria itu membelakangiku jadi aku tidak dapat melihat wajahnya" lanjut Chanyeol.

Kini giliran Kris yang nampak berpikir keras berusaha memutar balik ingatannya. Satu persatu tragedi di masa lampau kembali melintas di otaknya saat ini. Tidak. Kris tidak butuh kilas balik tentang dirinya di masa lalu, ia hanya butuh sederet tulisan dalam sebuah map bernama Kim Kai yang memuat seluruh biografi pria itu kembali mengisi memorinya.

"Sepertinya aku tahu sesuatu"

.

.

.


Jongin memutar knop pintu apartementnya dan masuk dengan langkah gontai. Kakinya melangkah menuju dapur dan mengambil salah satu minuman favoritnya di kulkas.

Setelah meneguk habis minumannya, ia segera pergi ke kamar dan membiarkan dirinya berdiri di depan sebuah cermin berukuran besar dan menatap siluet tubuh di hadapannya.

Tangan Jongin bergerak menyentuh area di sekitar mata dan mulai menanggalkan sesuatu yang bersifat bening di matanya itu.

Sudah tiga hari sejak dirinya menyamar sebagai Kai. Dan selama itu pula ia menjalani kehidupan yang sangat bertolak belakang dengan kehidupannya dulu. Jongin yang sebelumnya hanya mengenal sekolah, belajar, dan beberapa aktifitas membosankan lainnya kali ini dihadapkan berbagai masalah yang berbeda setiap harinya. Mulai dari Soojung, gadis yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Jinho, pria berbadan kekar yang tak pernah berhenti mengganggunya, bahkan tadi ia hampir saja di hajar oleh pria itu kalau saja tidak ada guru yang langsung menghentikannya.

Jongin menghela nafasnya berat. Dunianya benar-benar berubah sejak 3 hari lalu. Tidak ada makian, ejekan, dan hinaan yang hampir setiap hari ia dengar. Tidak lagi terdengar tawa Baekhyun, satu-satunya teman Jongin yang selalu menemaninya. Tidak ada lagi Oh Sehun, pria yang menjadi alasannya mengapa ia melakukan hal yang tidak masuk akal seperti ini.

Jongin dan Kai memang terlahir sebagai kembar identik. Tapi sayangnya, Jongin memiliki tubuh yang lemah. Ia bahkan mengidap penyakit anemia yang cukup parah sejak lahir. Karena itulah ayah dan ibu mereka memperhatikan Jongin lebih dari apapun, termasuk Kai.

Kai kecil memang tak menanggapinya secara berlebih. Ia memaklumi apa yang orangtuanya lakukan padanya dan Jongin. Tapi seiring waktu berjalan, Kai menyadari bahwa orangtuanya lebih peduli pada kembarannya itu. Entah karena Jongin lebih pintar atau lebih penurut tapi Kai benci dirinya dibedakan. Dan dari perasaan benci itulah yang membuat Kai memutuskan untuk tinggal seorang diri sejak SMP.

Sedangkan Jongin, sikap kedua orangtuanya yang begitu memanjakannya membuatnya tumbuh menjadi seorang pria yang pendiam dan tertutup.

.

.

.


Kai berjalan menelusuri koridor sekolah. Matanya sibuk mencari ruangan yang sejak tadi di carinya.

"Maaf, bisa tunjukkan aku dimana Ruang Klub Dance?" Tanya Kai pada seorang siswa yang kebetulan berpapasan dengannya. Tetapi bukannya menjawab, siswa itu malah menatap Kai dengan tatapan remeh yang membuat pria yang tengah menyamar sebagai Kim Jongin itu memutar bola matanya kesal.

"Cih, cepat katakan saja dimana tempatnya. Aku sedang tidak ingin mencari masalah" perintah Kai agak sedikit membentak lawan bicaranya. Sungguh ia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana Jongin betah diperlakukan seperti ini di sekolahnya. Apa saudaranya itu benar-benar tidak pernah melawan? Huh.

Siswa itu agak terkejut mendengar siswa culun –menurutnya- berani membentaknya walau tidak dengan suara yang cukup kencang. Tentu saja dia tidak terima.

"Wah wah apa kau baru saja membentakku Jongin ssi?" siswa bernametag Jaehyun itu menaikkan satu oktaf suaranya dan mulai menarik kerah seragam Kai. Kedua matanya menatap Kai dengan tatapan tajam seakan siap untuk menghabisinya saat ini. Sementara tangan kanannya menarik kerah seragam Kai, tangan satunya siap melayangkan pukulan kearah wajah Kai. Dan-

BUAGHH!

-sayangnya Kai bukanlah Jongin yang tetap diam saja meski ada yang berani melawannya seperti ini. Ia kini memandang siswa yang sudah terpental cukup jauh dari tempatnya itu akibat serangan tinjunya tadi. Senyum sinis menguar setelah ia selesai merapihkan letak seragamnya yang sempat berantakan sebelumnya. Kai tidak perlu memandangi sekitar untuk mengecek apakah ada siswa atau siswi lain yang melihat kejadian itu atau tidak karena jelas saja, ia tengah menjadi pusat perhatian saat ini.

"Kuperingatkan padamu untuk yang pertama dan terakhir kalinya, jangan membuat masalah denganku kalau kau masih ingin hidup tenang di sekolah ini" ucap Kai tanpa memandang lawan bicaranya yang masih merintih menahan sakit di lantai koridor. Siswa-siswi disana tampak tak percaya dengan apa yang mereka lihat baru saja. Suara bisik-bisik disana sini semakin terdengar sampai ke telinga Kai.

"Oke, jadi sekarang apakah ada yang bisa memberitahuku dimana ruang klub dance?" Tanya Kai dengan aura mengintimidasi yang tak bisa ditolak siapapun yang menyaksikannya saat itu.

.

.

.

TBC


A/N

Annyeong~~

Saya tahu ini udah kelewat lama banget buat update karena beberapa hal. dan baru bisa update sekarang. miahae~ T.T

saya juga gatau ff ini ada yg nunggu apa engga hahahah tapi yasudahlah silahkan dibaca saja, yah walaupun di chapter ini kai belum ketemu sehun haha mungkin chapter depan baru ketemu ^^

Akhir kata maaf kalo tulisannya ada yg typo dan berbagai kesalahan lainnya.

Mind To Review?

nemonion