Karena kalian oneshot ini berubah jadi chaptered. Macam sinetron yak? Kalo bagus, dipanjang-panjangin XD #bagusmananyacoba #abaikan. Sebenarnya gak gitu sih, lebih kepada karena masih banyak yang bingung sama alur maupun penyelesaiannya.
Inilah dia, awal dari semuanya! Hal yang terjadi di chapter ini terjadi sebelum kejadian yang ada di prolog.
ChanHun fic
EXO © SM Entertainment
EXO's members © Their parents
Warning: AU, OOC, Typo(s), Weird, Failed, etc
.
.
Don't like, don't read
.
.
Sehun tidak bisa memprediksi apa yang terjadi di hidupnya. Sejak awal dia lahir sampai sekarang, hidupnya penuh dengan kejutan.
Kejutan pertama adalah saat ia baru menyadari kalau dia gay saat menginjak umur 14 tahun. Terlalu belia, dan dia tak ada niatan untuk memberi tahu siapa pun saat itu, dia menjalani hidupnya dengan luar biasa santai tanpa ada orang yang menarik perhatiannya. Sampai akhirnya seorang Park Chanyeol datang, bukan untuknya; tapi untuk menggoda Jongin, sahabatnya.
"Dia tampan," ujarnya suatu hari pada Jongin, "kau tak tertarik?"
"Maaf saja, aku bukan bi, apalagi gay," ujar Jongin dengan nada agak ketus, "ambil saja kalau mau, aku tidak peduli."
Sehun saat itu hanya tertawa, "Kau gila apa? Walau aku ingin pun, tetap tak akan bisa. Dia sudah kepincut denganmu duluan."
Jongin tertawa sarkastik, "Mau lihat yang lebih menarik?" tanyanya pada Sehun, bibirnya mengunggingkan seringai, "Kau makan saja di kantin, dan lihat bagaimana kelakuan Sunbae kita yang tampan itu. Dijamin, kau akan merasa mual."
Awalnya Sehun tak mengerti. Tapi dia hanya mengangkat bahu dan berlalu, "Aku tak sepeduli itu sampai menguntit orang yang menyukaimu, Jongin. Terima kasih banyak."
Jadi Sehun tak pergi kemana-mana. Ditelannya rasa penasaran yang dimilikinya, dan menjalankan hidupnya seperti biasa. Chanyeol tetap datang ke kelas mereka, semata-mata untuk menggoda Jongin; dan Sehun sering tertawa dibuatnya setiap kali melihat wajah Jongin yang menampakkan wajah tak suka yang sangat kentara.
"Tak mau beri dia kesempatan?"
Jongin menggeleng, "Memberi kesempatan? Sehun-ah, dengarkan aku," wajah sahabatnya itu menjadi sangat serius, "walaupun tiba-tiba aku menyimpang dan mengalihkan perhatianku dari perempuan, aku tidak akan mau memberi kesempatan pada seorang playboy kelas kakap yang akan mengumbarku kemana-mana dengan bibir yang bertaut hampir setengah hari lamanya setiap hari."
Sehun mengernyitkan dahi, bingung.
"Mau lihat? Ayo kita ke kantin Sekolah," Jongin menyeringai, "Kuatkan dirimu, bro, kita akan disuguhi pemandangan luar biasa di pojok kantin nanti."
Jongin mengalungkan lengannya ke bahu Sehun, dan menggiring Sehun ke kantin Sekolah yang penuh dengan siswa-siswi yang kelaparan. Walau begitu, ada satu tempat yang dikerumuni oleh sebagian siswa-siswi di sana; di bagian pojok kantin sebelah kanan, yang jelas bukan tempat pembagian makanan. Suara riuh terdengar jelas, dan Sehun hanya bisa mengernyitkan dahi karenanya.
"Kau lihat kerumunan itu, Sehun-ah?" Jongin berbisik padanya, "Di sana sedang terjadi suatu hal yang sangat panas dan tak pantas."
"Jongin, menurutku di sini bukan tempat kita, dan aku tidak tertarik untuk melihat hal semacam itu."
"Kau yakin? Kita sudah jauh-jauh ke area ini."
Lalu kerumunan itu membuka di tengah, bak film saat sang pemeran utama lewat dan orang-orang memberi jalan. Beberapa langkah dari sana seorang pria tampan, Sunbae mereka yang Sehun tidak tahu siapa namanya, berdiri dengan kedua tangan disilangkan di depan dada. Dan Sehun melihatnya dengan cukup jelas, bibir Chanyeol tak lepas dari area tulang selangka seorang perempuan di bawahnya; yang baju bagian atasnya sudah hilang entah kemana, tak menyadari kerumunan yang sudah sedikit melonggar dengan kedatangan Sunbae yang lain.
"Park Chanyeol!" teriakkan itu luar biasa, Chanyeol melepaskan pagutan bibirnya; berdiri di depan perempuan yang baru saja dijamahnya, "Kita ada latihan, cepat ke lapangan."
Kerumunan yang ada di sekitar situ mendesah kecewa, namun seakan tak peduli Chanyeol hanya mengangguk, lalu mengerling pada perempuan yang ada di belakangnya.
"Aku pergi sebentar."
Dan laki-laki itu pun pergi dengan cepat, perempuan yang tadi dijamahnya segera turun dari meja kantin yang tadi digunakan dan mengambil bajunya yang ternyata ditaruh di kursi kantin.
"Apa yang baru saja—"
Jongin menyeringai, "Kau lihat?"
"Itu tindakan asusila, Jongin! Kau lihat 'kan tadi, mereka—"
"Siapa yang peduli, Sehun-ah?" Jongin menggeleng-gelengkan kepala, seringai masih tampak di wajahnya, "Begitulah jika kau sampai menjadi milik seorang Park Chanyeol, dipertontonkan di depan umum layaknya bintang porno murahan. Harga dirimu harus benar-benar kau kikis habis jika ingin bersama laki-laki sekelas Park Chanyeol."
"Wow…."
Jongin tertawa, "Ayo kita kembali ke kelas, tontonan sudah berakhir."
Sehun terkesima, sekaligus terkejut. Perlakuan yang sangat berani; bahkan bisa dikatakan sangat ekstrim. Di depan banyak orang, melakukan hal semacam itu; benar-benar tak masuk di akal.
"Lagipula, bukannya dia menyukaimu?" tanya Sehun pada Jongin, "Dia ke kelas kita setiap hari, hanya untuk melihatmu. Tapi di kantin dia malah melakukan hal seperti itu dengan orang lain."
"Kau bercanda atau bagaimana?" Jongin geleng-geleng kepala, "Sunbae kita yang tampan itu tak pernah berkomitmen dengan siapa pun. Dia akan menggoda siapa pun yang menarik perhatiannya. Jangan terjebak, Sehun-ah; perhatiannya padaku hanyalah sebuah alat agar aku bertekuk lutut padanya."
Jongin dan Sehun pun akhirnya tak pernah lagi mendekati area kantin. Walaupun Chanyeol masih ke kelas mereka untuk menggoda Jongin, entah dengan cara apa pun. Setelah Sehun melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Chanyeol mampu melakukan hal tak senonoh kepada siswi itu, pandangannya mulai berubah. Dia juga menolak untuk memandang wajah Chanyeol lagi; terlalu memalukan rasanya.
Namun ada hal yang terkadang tak bisa kita prediksi dan menjadi sesuatu yang luar biasa; terutama bagi Sehun sendiri. Saat itu ia pulang sangat larut dari Sekolahnya, dan entah karena pendengarannya yang terlalu tajam atau karena suaranya yang terlalu keras, dia mendengar suara desahan seseorang yang berasal dari tempat dance practice yang Jongin biasa gunakan.
Yah, sepengetahuan Sehun hanya Jongin yang biasanya bertahan sampai sangat larut di Sekolah hanya untuk berlatih dance.
"Apa aku salah dengar?"
Dia semakin mendekat, bulu halus di belakang lehernya meremang.
"Sunbae, jangan di situ."
Sehun menelan ludah. Ini suara Jongin!
Menahan napas, ia semakin mendekat ke pintu ruangan dance practice itu.
"Emh…" suara desahan tertahan itu hampir membuat Sehun terkesiap, "more please…."
Dengan tangan gemetar, didorongnya pintu ruangan itu hingga terbuka sedikit celah. Dan benar saja, di sana dapat dilihatnya Jongin yang sedang bersandar di kaca ruangan dengan wajah yang kentara sekali sedang menikmati apa yang dilakukan oleh orang di atasnya.
"You like it, hm?" suara berat yang sangat dikenal Sehun, "You have to pay, you know? Bukan hanya kau yang ingin merasakan kenikmatan di sini."
Lalu bibir mereka saling bertaut. Suara-suara sensual dapat terdengar dari pagutan-pagutan mereka pada bibir masing-masing. Dengan perlahan Sehun menarik tangannya dan membuat pintu kembali tertarik ke luar. Napasnya memburu, pikirannya tiba-tiba terasa kacau. Rasanya dia ingin berteriak saking tak habis pikirnya dengan apa yang baru saja dia lihat.
Jongin, sahabatnya yang keras kepala dan selalu mengejek apa pun yang dilakukan oleh Park Chanyeol, takluk dan membiarkan laki-laki itu menjamah tubuhnya dengan sesuka hati.
"Aku harus pergi."
"Ini benar-benar gila! Apa yang sebenarnya ada di pikiran Jongin?!"
Sehun berjalan dengan cepat, menjauhi pintu itu; ingin cepat-cepat rasanya ia meninggalkan area Sekolah.
"Park Chanyeol pikir dia itu siapa? Berani-beraninya dia menjamah sahabatku di tempat umum seperti ini!"
Lalu pikirannya kembali kepada wajah Jongin yang terlihat menikmati apa yang dilakukan oleh Chanyeol.
Pikiran Sehun serasa berasap.
"Apa yang dipikirkan oleh Jongin?"
"Kenapa dia mau melakukan hal semacam itu di tempat umum?"
Sehun menepuk pipinya keras.
"Kenapa aku memikirkan hal itu?" ia memijat pelipisnya yang terasa pusing, "itu urusan Jongin dan Chanyeol-sunbae; apa pun yang mereka putuskan, aku tidak ikut andil di dalamnya."
Sehun berjalan cepat menuju ke rumahnya. Matanya menangkap langit yang berhiaskan ribuan bintang.
"Indah sekali malam ini," ujarnya tersenyum, "benar-benar indah."
Sehun tidak merasa canggung dengan Jongin, sungguh. Mereka masih jalan bersama, berbagi lelucon yang sama; banyak hal yang tak berubah. Namun terkadang Sehun menangkap ekspresi sedih di wajah Jongin tiap kali laki-laki itu menatap pintu masuk kelas mereka.
Dia tak berkomentar apa pun. Tapi siapa pun bisa menyadari, kalau Park Chanyeol tak ke kelas mereka lagi untuk menemui Jongin.
Namun Sehun tak pernah berkomentar karena itu bukan urusannya.
"Sehun-ah, kau mau ke kantin tidak?"
"Huh?" Sehun mengangkat sebelah alis, bingung. Namun kata kantin berarti ada hubungannya dengan Chanyeol, dan Sehun yang segera paham langsung menggeleng cepat, "Ah, tidak, aku di kelas saja. Kalau kau mau ke kantin, ya ke kantin saja."
Jongin pun mengangguk dan berlalu.
Sehun tersenyum kecil lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, matanya terpejam.
"Hey!"
Dia membuka mata, menemukan seseorang sedang menatapnya dari atas.
"Ya?"
"Namaku Huang Zi Tao, salam kenal!"
Sehun mengangguk, "Aku sudah tahu, kita kan sekelas. Ada apa memangnya?"
Tao tersenyum, "Kau ingat aku? Wow, aku lumayan terkejut," lalu ia menyerahkan satu map yang di atasnya tertulis formulir pendaftaran, "kau tidak ikut klub apa-apa kan? Berminat masuk klub Basket tidak?"
"Aku tidak ada minat masuk klub apa-apa," ujarnya jujur, tapi tetap diambilnya formulir itu, "tapi akan kupikirkan."
"Tinggimu itu di atas rata-rata, coba saja dulu," ujar Tao, "kalau begitu aku duluan ya."
Laki-laki itu melambaikan tangan lalu berlalu, ia membalas lambaian tangan itu sebentar lalu diamatinya map itu dengan pandangan menilai, "Jadi… klub Basket ya?"
Dia menaruh map itu di dalam tasnya, dan tak memikirkannya lagi untuk waktu yang cukup lama.
Banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama itu. Park Chanyeol benar-benar berhenti ke kelas mereka untuk menggoda Jongin; rumor beredar dan dari yang Sehun dengar taste Chanyeol dan Jongin dalam hubungan seks sangat berbeda. Jongin terlalu vanilla untuk Sunbae mereka itu, dan akhirnya tersingkir dalam satu kali hubungan intim. Walau Sehun tak tahu pasti apa vanilla yang dimaksud; dan pada awalnya malah mengira bahwa hal itu berhubungan dengan makanan.
Jongin tak pernah bercerita padanya, dan Sehun sendiri bisa mengerti. Sulit menerima bahwa dirimu terperangkap pada sesuatu yang sudah kau ketahui sebagai jebakan. Bahkan mungkin Jongin juga sulit menerima bahwa dia tidak selurus yang dia pikir.
"Ternyata aku bi, atau mungkin malah gay."
Sehun agak sedikit terkejut mendengar kalimat itu meluncur keluar dari mulut Jongin dengan nada santai.
"Maaf?"
Jongin tersenyum kecut, "Kau tahu rumor yang beredar? Itu semua benar. I was one of Chanyeol's bitch; suka tidak suka aku harus menerimanya."
Dia hanya bisa terdiam mendengarnya. Bukan hanya tahu, dia juga melihat mereka berdua melakukan hubungan intim di ruang praktik dance; tidak akan bagus jika Jongin tahu bahwa dia tahu.
"Bungkam lebih baik."
"Jongin tidak perlu tahu kalau aku tahu, hal itu hanya akan lebih menyakiti hatinya."
"Kau tidak boleh berkata seperti itu, Jongin," ujarnya hati-hati, "lagipula, kau dan aku tahu Park Chanyeol adalah seorang playboy; dan dia tak pantas untuk dicintai. Terlebih olehmu."
Jongin menundukkan kepalanya, dan Sehun mengusap punggung sahabatnya itu dengan lembut. Tidak ada air mata, namun Sehun dapat merasakan tubuh Jongin gemetar.
"Kau tidak jatuh terlalu dalam 'kan?" dia mengusap rambut Jongin dengan lembut, "Berenanglah ke atas, dan berdiamlah pada tempat yang dangkal, Jongin."
Namun Sehun salah besar saat itu, Jongin jatuh terlalu dalam pada pesona seorang Park Chanyeol; dan patah hati yang dirasakan sahabatnya itu ternyata dapat menghilangkan rasionalitas yang dimilikinya. Tanpa sepengetahuan Sehun, Jongin seringkali menyelinap ke luar malam dan menemui Park Chanyeol di klub malam. Dia baru mengetahuinya setelah orang tua Jongin menelpon ke rumahnya dan mencari Jongin yang menghilang dari kamar tidurnya.
"Apa Jongin bersama denganmu, Sehun-ah?"
Matanya yang awalnya masih terkatup langsung terbuka lebar, "Jongin?" tanyanya memastikan.
"Iya. Biasanya dia menginap ditempatmu 'kan?"
Sehun menggigit bibir bawahnya. Apa yang harus dilakukannya? Dia harus jawab apa?
"Sehun-ah?"
"Emm…" dia menarik napas pelan, "dia sedang tidur, Mrs. Kim," pada akhirnya dia berucap, lalu dia menguap dengan suara keras; mencoba menipu Mrs. Kim, "maaf respon saya agak lambat, saya masih mengantuk. Nanti saya kabari kalau anda menelepon, tenang saja."
Lalu helaan napas lega terdengar dari seberang telepon, "Benarkah? Ah, syukurlah. Aku kira pergi kemana anak itu," Sehun benar-benar merasa tidak enak sekarang, "baiklah kalau begitu, sampai nanti ya."
"Jongin, apa yang sebenarnya kau lakukan?!"
Keadaan sahabatnya itu sudah sangat kacau, dan Sehun tak tahan untuk tak berteriak.
Di ruang gemerlap penuh dengan tubuh yang saling bergesekan mencari kenikmatan, duduk seorang Jongin dengan baju yang sudah tak karuan dan bibir yang bengkak.
Dia menangkup dua pipi Jongin dan memandang sahabatnya di mata, kemarahannya memuncak. Mata Jongin sudah tak focus; kemungkinan karena terlalu banyak menenggak alkohol. Namun yang paling dibencinya adalah bibir itu yang membengkak namun masih menampilkan seringai bak orang kesetanan. Ya, dia yakin Jongin sedang kesetanan saat ini karena laki-laki itu sudah tak sadar akan sekitarnya namun menikmati keadaan itu.
"Kau tahu betapa khawatirnya aku?! Ibumu meneleponku, dia pikir kau menginap di tempatku!"
"Sehun-ah, tenang!"
"Tenang katamu?" dia melebarkan matanya, "Kita pulang, sekarang!"
Jongin tertawa cekikikan, "Aku ingin bersama Chanyeol di sini."
Sehun melihat sekitar, dan dia tak melihat Park Chanyeol di sudut manapun, "Orang gila itu tak ada di sini," ucapnya dengan keras, dipegangnya kedua bahu Jongin dan diremasnya dengan keras, "kau tidak sadar, huh? Dia mempermainkanmu, bodoh! Dia tidak peduli denganmu, dia bahkan meninggalkanmu sendirian di tempat seperti ini!"
Sahabatnya itu menggeleng keras, tangannya terulur dan jarinya menunjuk ke belakang Sehun, "Kau salah Sehun-ah. Dia di sini, dia di belakangmu dan menatapku dengan penuh cin—"
Kesabaran Sehun habis dan dia memukul Jongin dengan kepalan tangannya. Jongin jatuh dari bangkunya ke lantai dan meringis kesakitan.
"Kau masih mengharapkan hal itu darinya?! Buka matamu! Kau sekacau ini dan—"
Dan satu tangan besar menangkap tangannya dari belakang, membuatnya terkesiap dan secara refleks melayangkan pukulan dengan tangan satunya yang sebelumnya bebas. Dia menatap ke atas, menemukan seorang Park Chanyeol sudah berdiri di depannya dan memandangnya dengan pandangan takjub.
Dia mendesis; memandang Chanyeol dengan pandangan jijik, "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu," lalu dia berjalan ke arah Jongin dan membopong tubuh sahabatnya itu yang ternyata sudah tak sadarkan diri, "kau lihat perbuatanmu? Kau mengacaukan hidup seseorang hanya dengan gaya hidupmu yang sembarangan," dia berjalan melewati Chanyeol dengan pandangan lurus ke depan.
"Dasar bajingan murahan!" umpatnya dengan keras, sebelum akhirnya menghilang di balik kerumunan.
TBC
