Yosh Ari kembali! Updatenya pas 1 bulan minna! Ehehe lumayan cepat kan?
Minna, Ari bener-bener gak menduga ada yang mau berbaik hati review fic ini dan minta next :') Terimakasih untuk yang sudah mereview, follow dan menfavorite fic ini ^^ Yang sudah membaca juga terima kasih banyak, tapi lain kali direview dan favorite dong XD /plak/
Here I present to you the 2nd chapter! Enjoy!
Chapter 2 : Rival
Sosok pirang melangkah masuk ke dalam rumah bertingkat. "Tadaima!" sahutnya sambil melepas sepatu dan menaruhnya di rak yang ada. "Oh, tumben pulang cepat bocah" balasan yang terdengar seenaknya sendiri itu berhasil membuat Naruto merengut. Seorang pemuda berambut merah berjalan menuruni tangga.
"Heh, kau sendiri tumben, biasanya jam segini kau masih bermesraan dengan Itachi-nii kan?" Komentar Naruto sukses membuat asap keluar dari sosok didepannya yang mukanya juga mulai merona merah.
"Hei bocah! Kemana sopan santunmu hah? Memanggil kakak itu dengan embel-embel 'nii' ! Lagipula kenapa kau memanggil si keriput itu dengan 'nii' sedangkan aku yang merupakan kakakmu ini dipanggil dengan sebutan 'kau' hah?". Naruto hanya bisa sweatdrop di tempat mendengar racauan sang kakak. Naruto sendiri sudah terbiasa diomeli kakaknya yang diam-diam overprotektif kepadanya. Hanya saja Namikaze Kyuubi enggan mengakui berkat harga dirinya yang hampir setinggi ayah Sasuke.
"Iya-iya Kyuu-niichan yang sangat kucintai, maafkan aku." Naruto membuat wajah sok imut sambil melangkahkan kaki kearah tangga.
Kyuubi menjitak dahi adik kesayanganya membuat Naruto sekali lagi merengut. Aah, setelah si Teme itu sekarang Kyuu-nii! pikir Naruto sambil mengusap dahinya. Ia menghiraukan Kyuubi dan naik ke lantai dua, tempat kamarnya dan Kyuubi berada. Kyuubi merupakan mahasiswa di Universitas Konoha sedangkan Naruto sendiri kelas dua SMA di Konoha High School, SMA favorit yang juga merupakan SMA Kyuubi dulu. Oh, dan Kyuubi merupakan kekasih Uchiha Itachi, kakak lelaki Sasuke. Well, Naruto sendiri tidak pernah mempermasalahkan orientasi seksual kakaknya. Begitu juga Sasuke. Justru Sasuke senang bisa menggoda kakak kesayangannya.
'BRUK'
Sesampainya di kamar, Naruto langsung merebahkan diri di kasur tanpa menghiraukan seragam yang masih melekat di tubuhnya. Ia meraih handphone nya dari saku dengan malas-malasan. Hm? Ada pesan baru, Naruto merubah posisinya yang tengkurap menjadi duduk.
[New message from 'Sasuke-teme']
Dobe aku lupa bilang. Jangan kira kau bisa kabur, oke? Yah tidak apa-apa sih kalau kau ingin aku beri tahu Kakashi-sensei agar mengikutkanmu di kelas tambahan saat liburan. Aku yakin kau pasti senang bisa menghabiskan liburanmu dengan lebih bermanfaat. Benar-benar bodoh. Dari dulu, kau ini senang sekali merepotkan orang.
"Kalau ini sih namanya pengancaman! Lagipula apa-apaan dia? Padahal dia sendiri yang mau mengajariku" Naruto mengetik balasannya.
[Message sent to 'Sasuke-teme']
Heh, aku tau teme jelek bodoh menyebalkan! Kau kira aku anak kecil yang bisa diancam? -_- Lagipula kalau kau tidak mau dari awal tidak usah menerima segala. Seenaknya saja sebut orang merepotkan?!
Kembali ke posisi tengkurapnya, Naruto entah kenapa merasa ingin membuka-buka galerinya. Dilihatnya foto-foto di hp nya satu-persatu. Pemuda pirang tersebut kadang tertawa sendiri melihat foto-foto aib anak kelasnya yang mungkin hasil jepretan Kiba. Haah menghabiskan memori saja, nanti kupindah ke laptop saja.
Jari Naruto berhenti saat melihat foto yang tidak asing baginya. Foto dua anak kecil berambut pirang dan hitam sedang berpose setelah kelulusan SD. Di foto itu, nampak Naruto menyengir lebar sambil mengalungkan satu lengannya di sekitar leher Sasuke yang menampakkan senyum tipis. Heh, ternyata si pangeran dingin itu dulu bisa tersenyum juga ya? Naruto membalikkan badannya menghadap langit-langit kamar sambil mencermati foto yang entah sejak kapan ada di hpnya. Maklum, ia jarang membuka galeri kalau tidak perlu.
Merasa bosan, Naruto beranjak dari kasur dan mengganti pakaiannya. Matanya melirik sebuah buku -mungkin lebih tepatnya album- bersampul tebal yang tergeletak tidak rapi di dekat tumpukan buku pelajarannya. Ia membungkuk hendak mengembalikannya agar terlihat rapi sempurna. Namun, jangan bayangkan Naruto sebagai penderita OCD yang tidak tahan melihat barang yang tidak rapi. Karena bisa dibilang ia sebenarnya kebalikan dari OCD. Kalau bukan karena Kyuubi atau Kushina yang akan berteriak 7 oktaf padanya, mungkin kamar Naruto akan terlihat seperti kapal pecah.
Masih menggenggam album bersampul oranye tersebut, Naruto mendudukkan diri di kursi. Tangannya bergerak membuka halaman demi halaman. Naruto tersenyum melihat foto-fotonya saat kecil. Ia memperhatikan setiap foto sambil bernostalgia. Ada fotonya saat masih di bangku TK sedang bermain bersama, lalu foto-fotonya saat kelas 3 SD dengan berbagai ekspresi.
"Ahaha, mukaku dulu imut juga!" Naruto melanjutkan membuka halaman lain.
Satu hal yang ia sadari adalah betapa banyak fotonya bersama Sasuke. Memang, keduanya sudah mengenal sesama dari Playgroup. Sejak itu, mereka bersahabat dekat sampai seperti keluarga sendiri. Apalagi ternyata Sasuke dan Naruto mendaftar di SD yang sama dan pada akhirnya masuk ke SMP dan SMA yang juga sama. Haah, Shikamaru yang merupakan teman mereka dari SMP juga terkadang heran sendiri, bagaimana bisa dua orang yang selalu berbeda pendapat mampu bertahan selama itu?
Naruto dan Sasuke terkenal sebagai rival sejati dikalangan teman-teman mereka. Mungkin seperti Gai-sensei dan Kakashi-sensei. Dari dulu sampai sekarang, ada saja hal yang selalu mereka jadikan bahan saingan. Mereka seperti langit dan bumi. Tidak pernah akan bersatu tapi saling melengkapi.
Kalau dilihat dari sejarah mereka, semua persaingan selalu berakhir dengan hampir seri. Dari nilai ujian sampai jabatan sebagai kapten tim basket. Naruto dan Sasuke selalu saling mengejar dan tanpa disadari, mendorong lainnya lebih keras. Kepribadian Naruto yang keras kepala dan Sasuke yang tidak akan mau kalah memacu mereka untuk saling mengalahkan. Dan anehnya, Sasuke yang dikenal sebagai murid keren berjulukan Konoha's Ice Prince, selalu berhasil dipancing oleh Naruto.
Si pirang memejamkan mata sejenak mengingat masa lalunya bersama pemuda bermarga Uchiha tersebut. Matanya kembali membuka ketika mendengar ringtone hpnya.
sonna kimi o naze ka
konna boku wa zutto hitei dekinakute
hashitteiru sono senaka o
taiyou mitai ni oika-
Naruto segera mengangkat hpnya setelah melihat kontak pemanggil. "Moshi-moshi, yo ada apa Kiba?"
"Oi, aku dekat rumahmu. Ayo main basket!" terdengar suara keras Kiba dari ujung telepon. Tak perlu panjang lebar, Naruto, dengan senyum lebarnya, meraih bola basketnya dan bergegas keluar. Meninggalkan album foto yang masih terbuka, dengan foto dua pemuda bersurai pirang dan onyx yang membelakangi matahari tenggelam.
TBC
Yosh, gimana pendapat minna? Terlalu pendekkah? Kurang baguskah? Tulis pendapat kalian di review! Chapter ini memang cuma semacam ceritain masa lalunya Sasu sama Naru jadi agak plotless. Apalagi Ari lagi kondisi kurang tidur (T_T) Jadi tolong kalau ada yang menemukan typo atau apapun beri tau Ari ya, onegai.
Ehehe minna, dari chapter ini agak kelihatan ya kalau Ari cinta banget sama yang namanya basket? :p
Ari rencana mau buat oneshot SN bertema basket nih minna, jadi stay tuned ya!
Jaa, until we meet again! ^^
