Two Sides (Now!AU) | Luhan x Xiumin [Xiuhan/Lumin] | PG-13 | girl!Xiumin [GS!Xiumin] | Xiumin adalah seorang wanita yang kurang beruntung di lubang sempit sudut kota Miami. Dan Luhan hanyalah seorang pria misterius yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan statisnya.
Disclaimer applied.
#2 : Misfit
Sang Raja Siang sudah hampir sampai di pucuk kepala tapi hawa musim panas yang begitu pekat membuat manusia manapun di Miami malas untuk beranjak dari teduhannya. Tak terkecuali untuk lelaki yang masih berada jauh di dalam alam mimpinya, Luhan. Sekalipun terik matahari telah menerobos dari jendela kamarnya sejak beberapa jam yang lalu, ia masih setia bergelung di atas tempat tidurnya. Tapi ketenangan ini tidak berlangsung lama saat dering ponsel di atas nakas berbunyi nyaring. Luhan mengerjap sekali, dua kali, tangan kirinya terulur mengambil ponsel yang mengganggu tidur tenangnya. Mengumpat keras, bukan dengan cara seperti ini Luhan ingin dibangunkan. Ia baru bisa memejamkan matanya sesaat sebelum bulan digantikan matahari.
"What!" Luhan membentak kasar.
"Ini sudah jam berapa, Lu." Suara di seberang menyatakan, bukannya menanyakan. Sepertinya telah terbiasa dengan perilaku Luhan tepat setelah bangun tidur.
"Yo."
"Kita punya kambing baru. Siang ini saat homecoming the Hurricanes. 122-13 dan kau di 122-15." Balasnya singkat. Luhan mulai bangkit, mengikat rambutnya ke atas, rasa kantuknya hilang seketika.
"Lalu?" Luhan menekan tombol loudspeaker, meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Kemudian beranjak untuk memilih kaos hitam di bawah tumpukan kaos hijau—Luhan mengurutkan warnanya sesuai abjad—di kolom paling atas lemarinya, meraih celana jeans di barisan terbawah. Luhan punya tendensi untuk menjadi obsesif kompulsif, meskipun dia tidak pernah mengakuinya.
"Potong dan buang." Sambungan terputus begitu saja. Tidak lama ponselnya berbunyi lagi, kali ini sebuah pesan singkat datang. Luhan membukanya, mendapati foto seseorang berkulit hitam—mungkin imigran Kuba—, botak dan tirus, tepat di bawahnya tertulis Luis Greg. Kemudian menghapus pesan tersebut. Luhan menyambar jaket kulit warna hitamnya di gantungan dan dengan langkah cepat Luhan keluar dari karavannya setelah mengunci semua pintu dan jendela. Seseorang tidak akan pernah merasa terlalu aman.
.
.
.
Luhan memarkir Civic Classic abu-abunya di lapangan parkir stadion Sun Life, mengambil teleskop di dasbor dan mengalungkannya di leher. Lautan oranye dan hijau sebagai warna ofisial the Hurricanes, poster-poster bertuliskan nomor punggung dan nama pemain favorit serta teriakan yel-yel penyemangat menyambut Luhan di bawah terik Florida siang ini. Miami Hurricanes akan melawan tim dari Virginia. Football adalah olahraga yang digilai Miami dan the Hurricanes sebagai salah satu tim andalan tidak mungkin dilewatkan, apalagi ini adalah pertandingan homecoming. Miami won't miss it for the world.
Luhan mendatangi salah satu kios di pinggir pelataran, memilih-milih topi dan mencobanya. "Berapa harga topi ini?" ia menanyakan pada laki-laki separuh baya penjaga kios yang kedua pipinya dilukis huruf 'U' kapital dengan warna oranye-hijau di sebelah kanan dan kiri.
"$10 saja untuk newbie sepertimu. Aku memberikannya diskon, kid!" ujar paman itu bersemangat.
"I am no kid. Aku ambil satu," Luhan mengeluarkan dua lembar $5 dari dompetnya. "Thanks." Saat Luhan akan berlalu, paman itu memberikan bendera kecil berwarna putih dengan desain huruf 'U' yang sama dengan lukisan di pipi gembulnya.
"Gratis." Paman tersenyum dan Luhan membalasnya dengan anggukan kecil.
Atribut yang dibeli Luhan adalah bentuk penyamaran terbaik. Si Kambing tidak akan dengan mudah menemukannya, rencana yang sempurna. Mungkin. Kalau saja suasana hatinya sedang bagus. Sebenarnya dia sama sekali tidak menyukai keramaian semacam ini. Terlalu banyak manusia. Manusia yang tidak mengerti definisi ruang pribadi. Seperti gerombolan remaja tepat di belakangnya yang menggebu-gebu memprediksi pertandingan hari ini layaknya spektator handal sehingga tidak memedulikan Luhan, yang kapan saja bisa membunuh mereka dengan tangan kosong, sambil sesekali mendorong bahu dan punggungnya. 'Sekali lagi saja, kalian akan menjadi sejarah.' Luhan menggeram dalam hati. Beruntung Luhan sudah masuk ke dalam stadion sebelum berita di koran berganti dari pertandingan football menjadi pembunuhan.
Buruk sekali temperamen pria ini, memang, ditambah lagi orang lain tidak mampu mengira-ngira apa yang sebenarnya dirasakannya karena ekspresi di wajahnya itu terbatas sekali. Bahkan mungkin ia sendiri lupa kapan terakhir kali menunjukkan emosi. Luhan bukannya mati rasa, hanya saja tidak ada sesuatu hal yang benar-benar menyentuhnya. Selama ini hidupnya hanya dipenuhi warna monokrom. Tidak berwarna. Membosankan.
Luis Greg duduk di barisan 13, tubuh cekingnya tertutupi hoodie hitam. Di antara kerumunan oranye-hijau dia terlihat mencolok sekali, memudahkan Luhan untuk menemukannya bahkan di antara puluhan ribu kepala. 'Gotcha.' Luhan yang duduk dua baris di atasnya menepatkan teleskop ke arah Luis. Seorang lelaki dengan pakaian kasual dan kacamata hitam terlihat menghampiri Luis, menyerahkan satu kantong kertas McDonald's kepadanya, satu barang lagi yang segera dimasukkan ke dalam dompet Luis, kemudian beranjak pergi—Luhan akan mencari tahu siapa lelaki Spanyol itu nanti. Luis melirik ke dalam kantongnya sekilas, berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Luhan mengikuti setiap gerak-geriknya.
Luhan melepaskan topi dan membuangnya di tempat sampah samping toilet bersama dengan benderanya. Tidak melepaskan pandangannya dari Luis yang berjalan lambat ke arah lapangan parkir. Luis mengeluarkan ponselnya saat ia berada tepat di samping Fiat 1973 butut, Luhan melambatkan langkahnya dan berjalan melewatinya.
"Aku akan membeli mobil baru, 8-balls untuk seluruh hidupku dan aku masih tetap kaya! Temui aku di SoBe. Kita pesta bes-" Luis masuk ke dalam mobilnya dan menghidupkan mesin. Luhan berjalan cepat ke arah mobilnya, berusaha agar tidak kehilangan jejak Luis.
.
.
.
Miami adalah kota dengan stereotip hingar bingar pesta dan kehidupan happy-go-lucky yang sepenuhnya dimanfaatkan dan dijadikan alasan untuk bersenang-senang tanpa kenal waktu. Sehingga bukan pemandangan aneh dive bars di South Beach dibuka sejak sore, bahkan siang. Luis dan kawanannya berhenti di salah satu dive bar dengan dekorasi futurustik dihiasi lampu-lampu neon merah-hijau-biru yang menyala terang menyusuri tepian dan lekukan ruangan yang sepenuhnya gelap. Luhan duduk di meja bar, memesan bir dan mengamati Luis dalam diam.
Luis mengikuti salah satu pria dengan kaos bertuliskan Born in this South Bitch ke dalam kamar mandi. Luhan tidak repot-repot mengikuti karena ia tahu apa yang mereka lakukan. Bertransaksi untuk 8-balls. Seorang bartender meletakkan bir di hadapan Luhan, "birmu," tersenyum singkat, "apa kau akan datang ke pesta pantai malam ini, Tuan?" ia kemudian bertanya, dengan sedikit aksen Spanyol, sambil mengelap meja dan gelas-gelas tinggi.
"Pesta?" Luhan bertanya setelah menengguk birnya.
"Iya," bartender itu menyerahkan selebaran kepadanya, "acara ulang tahun salah satu milyuner Downtown yang terbuka untuk orang-orang keren Miami."
Luhan membaca selebaran itu cepat, "Anda harus datang, Tuan, karena akan ada banyak sekali wanita cantik," lanjutnya dan ditanggapi datar oleh Luhan, "atau mungkin... lelaki tampan?" tambahnya salah tingkah.
"Mungkin." Luhan menjawab singkat. Bartender itu tersenyum canggung, lalu mendatangi pelanggan lain yang baru saja datang. Luhan kini fokus mendengarkan percakapan Luis dan gerombolannya yang sama sekali tidak bisa dikatakan pelan, sekalipun musik bar ini juga sama kerasnya.
"Brenda akan datang ke pesta pantai malam ini," seseorang bertopi hitam berujar dengan aksen kreyola yang kental, "dan aku yakin dia akan datang bersama si seksi Jess," kawanannya menyahuti dengan siulan.
"Kita harus datang!" kali ini Luis bersuara, Luhan menajamkan pendengarannya. "Dan kita akan habiskan semua wanita cantik," Luis tertawa keras yang diikuti oleh teriakan setuju dan tawa yang sama kerasnya dari kelompoknya.
'Shit! Keramaian sekali lagi.' Luhan mengumpat keras dalam hati.
Pesta pantai yang sama sekali tidak dinantikan oleh Luhan telah dimulai. Ia dapat masuk melewati bouncer dengan mudah karena, ayolah, ia tetap terlihat menarik bahkan bagi orang Miami. Luhan duduk disini selama empat jam tiga puluh tujuh menit lima detik—Luhan menghitungnya—dan telah menghabiskan dua gelas gin, satu gelas brandy dan satu gelas vodka. Segelas bir sedang digenggamnya. Tidak masalah, Luhan punya toleransi alkohol dan kesabaran tinggi.
Ia menyadari dengan cepat bahwa Luis bukan seorang paus. Ia hanya teri, hanya ikan kecil di lautan. Kantong McD yang diterima Luis tadi berisi sejumlah uang pemberian paus yang memekerjakannya, kendati demikian, Luhan masih belum tahu pasti pekerjaan macam apa yang dilakukan Luis itu. Namun, sekecil apapun posisi Luis, Luhan tidak dapat begitu saja meremehkannya. Masih ada satu barang yang dibawa Luis di dalam dompetnya, barang yang kemungkinan besar dapat semakin mendekatkan Luhan pada paus. Jadi sebelum saat itu tiba, ia akan dengan sukarela menjadi pemburu teri.
Ekor matanya mengikuti Luis kemana pun, menjaga jarak dengan hati-hati. Luis menenggak bergelas-gelas rum dan ia mulai mabuk. Luhan harus mendapatkan dompetnya malam ini, dan Luis yang mabuk adalah Luis yang mudah ditaklukkan. Ia hanya tinggal menunggu saat yang tepat saja dan hari yang melelahkan ini akan segera berakhir. Jujur, Luhan lebih memilih untuk dilemparkan ke hutan Florida kapan pun daripada harus menghabiskan malamnya bersosialisasi.
Seorang wanita dengan pakaian minim mendekati Luhan yang duduk sendiri di kursi bar. Duduk tepat di sampingnya dan menghadapkan kursinya ke arah Luhan. "Aren't you a cutie," wanita tersebut bersuara dengan suara yang dibuat seksi, "mengapa kau sendirian?" jemarinya membentuk lingkaran kecil di paha kanan Luhan. Luhan melirik sekilas, "kau akan menyesal bersamaku," jawab Luhan cepat sambil menyingkirkan tangan wanita itu dari pahanya perlahan. Wanita itu menggerutu keras merasa ditolak dan meninggalkan Luhan cepat. Sudah lima orang wanita dan satu lelaki mendekati Luhan selama ia duduk di bar dan sudah enam kali pula Luhan menolak siapapun yang mendekatinya.
'Malam ini tidak bisa lebih buruk lagi.'
.
.
.
Luhan terlalu cepat menyimpulkan. Nyatanya, malam ini masih bisa bertambah buruk. Setelah keluar dari pesta pantai di SoBe, Luis dan kawanannya harus ditilang karena menabrak palang rambu lalu lintas di Jalan Flagler karena mengendara di bawah pengaruh alkohol. Luis secara diam-diam meninggalkan teman-temannya yang masih diinterogasi seorang polisi. Ini jam dua dini hari, seorang polisi tua tidak akan sanggup menangani sepuluh lelaki mabuk sekaligus. Dan, lagipula, ini Miami.
Luhan terpaksa meminggirkan mobilnya dan mengikuti Luis dengan langkah yang oleng menyusuri jalanan. Sesekali Luis akan menggoda wanita dengan pakaian ketat yang berjalan melewatinya, pelacur tentu, wanita normal mana yang akan berjalan di jalanan sepi dengan pakaian seadanya. Luhan berhenti saat Luis tiba-tiba berdiri di hadapan wanita berambut oranye menyala. 'Another hooker,' desah Luhan dalam hati. Diamatinya wanita itu lebih jauh, tubuhnya tidak tinggi, kulitnya kuning, bukan putih Hispanik seperti yang biasa dilihatnya di Miami—'mungkin orang Asia?' tanyanya.
Dilihatnya wanita itu menepis tangan Luis dan berlalu. Luis mengikutinya. Luhan melanjutkan langkahnya. Ketika Luhan membelok, Luis tidak dapat dilihatnya dimanapun, 'sial!' Luhan mempercepat langkahnya. Hanya beberapa langkah setelahnya ia dikagetkan oleh teriakan meminta tolong seorang wanita bersamaan dengan si Rambut Oranye yang muncul beberapa meter di depannya, namun kembali ditarik oleh seseorang sebelum ia sempat menoleh ke arah Luhan. 'Luis,' ia mengenalinya dengan cepat.
Luhan berjalan cepat tanpa suara menuju lorong dan menyaksikan pemandangan yang sudah diperkirakannya. Namun, beberapa saat ia terdiam, ia tertegun mendapati kedua manik mata wanita yang sedang dihimpit oleh Luis itu begitu indah, sekalipun tertutupi oleh uraian air mata. Sama sekali bukan saat yang tepat untuk mengagumi seorang wanita, Luhan terkekeh. Suaranya mengagetkan Luis, tentunya, dan menghentikan perilaku rendahnya sejenak.
Luhan merasakan emosi yang sudah lama tidak dirasakannya, 'kau tidak seenaknya menyentuh si Mata Indah!', detak jantungnya berpacu dan ia mendengus. Luhan mendekati Luis dan memberikannya tendangan tepat di ulu hati, melemparkannya ke samping, pelipisnya membentur tempat sampah dan seketika ia pingsan. Tanpa tubuh Luis yang menutupinya, Luhan kini dapat melihat wanita kecil itu dengan jelas, mata yang menyerupai mata kucing, pipi yang sedikit bulat, bibir kecil—dengan sedikit bercak darah di sudutnya—kesemuanya dibingkai oleh wajah halus. Luhan yakin ia sedang bersama peri dari negeri dongeng.
Tanpa berpikir Luhan mendekati wanita itu dan menyerahkan jaketnya. Menyadari raut ketakutan di wajah wanita peri itu Luhan beringsut mundur. Ia memerhatikan si Peri dengan seksama, berusaha menempatkan setiap jengkal tubuhnya ke dalam memorinya. Rambut sebahu warna api, wajah indah, tubuh yang kecil tapi berlekuk sempurna, jemari yang kecil dan sepasang kaki ramping. Luhan tidak mengerti mengapa tapi ia ingin menyimpan si Peri ini untuknya sendiri, tidak mengijinkan siapapun mendekati tanpa sepengetahuannya. Sesaat si Peri menatapnya dalam diam dan akhirnya beranjak tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Luhan memandangi perinya berjalan tertatih sambil menopang pada tembok, sampai ia menghilang.
Luhan kemudian mendekati Luis, merogoh saku celananya mencari-cari dompet. Ia menemukannya di saku samping, mengeluarkan semua isinya dan mengantonginya ke dalam sakunya, kemudian melemparkan dompet Luis ke bawah. Melepaskan jam tangan dan perhiasan lain yang menempel di tubuh Luis, membuatnya seakan ini adalah perampokan biasa.
Ia menarik ponselnya dan menekan nomor yang dihafalnya diluar kepala. Dua kali nada dering sebelum tersambung, "Ya?" suara di seberang menyambut, "kambing sudah mati." Luhan memutuskan sambungan.
Sebelum benar-benar pergi dari sana, di sudut dekat dengan tempat sampah, Luhan melihat tas jinjing berwarna coklat, mengenalinya sebagai tas milik si Peri yang mungkin terlempar saat berusaha berlari tadi. Luhan meraihnya dan sekilas ia merasakan rasa hangat menjalari perut dan berakhir hingga ujung jari-jarinya. Kemudian ia pergi.
Malam ini tidak seburuk yang ia pikirkan.
.
.
.
TBC
SoBe : singkatan untuk South Beach Miami
8-balls : bahasa slank yang digunakan untuk 3.5 gram kokain. Banyak yang mengatakan, mendapatkan narkotika di dive bars SoBe itu mudah.
Dan menemukan hooker saat malam hari di jalanan Flagler juga mudah.
A/N: hola. Again. Sur-surprise.
Wow. Aku tidak menyangka akan mendapatkan pembaca, apalagi review. Lol
Terima kasih. You guys rock! Maaf karena aku tidak bisa membalas review, aku sangat amat awkward. You guys won't even talk to me anymore lol nope
Untuk ainichan-xiuhan1 ; Iya, tebakan kamu benar. Ksatria di atas kuda putih-nya Umin itu Lulu. ; Dan apa itu pekerjaan umin, dia pelacur btw.
Untuk kamu yang mungkin penasaran. Part-part awal ini lebih kepada perkenalan karakter utamanya. Mereka belum benar-benar berinteraksi. Mungkin nanti di #3, yang belum tahu kapan akan kubuat. Dan kemungkinan part selanjutnya pun akan tetap sepanjang 1k+ saja. Again, i'm not really sure. Expect nothing from me tbh lol sorry.
Xiuhan ship sails forever.
Dan kamu bisa panggil aku M. I'm not thor. Kthxbye.
.
