Two Sides (Now!AU) | Luhan x Xiumin [Xiuhan/Lumin] | PG-15 | girl!Xiumin [GS!Xiumin] | Xiumin adalah seorang wanita yang kurang beruntung di lubang sempit sudut kota Miami. Dan Luhan hanyalah seorang pria misterius yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan statisnya.

Disclaimer applied.

#3 : Domino Effect

(warning: cuss words, general idea of adultery, contents inside [] are flashbacks)

Air dingin dari kepala pancuran meluncur turun membasahi sesosok wanita tepat di bawahnya. Jemari lentik menyusup di antara rambut yang telah basah, menuruni leher dan menyeka seluruh tubuhnya. Kedua tangan wanita itu—Xiumin—mengepal erat saat mencapai pangkal paha, geraman keluar dari bibirnya yang terluka. Digosoknya dengan kuat dan berulang-ulang, berusaha menghilangkan jejak yang ditinggalkan tangan-tangan kotor yang sempat menyentuhnya secara paksa.

'I wish you hell!' kutuknya dalam hati.

Geraman perlahan berubah menjadi teriakan. Xiumin tidak lagi menangis, tidak bisa lagi lebih tepatnya, yang tersisa hanya rasa pahit di belakang tenggorokannya. Ia tidak tahu harus dengan cara apa lagi untuk mengeluarkan emosinya.

Ia meraih botol sabun untuk yang kesekian kalinya. Mengulang ritual yang sama berulang-ulang. Berharap air akan membuang serta seluruh kepedihan, berharap busa-busa akan membersihkan tubuhnya dari memori kelam yang tidak ingin ia ingat selama hidupnya. Kulit alabaster kini memerah tidak wajar, beberapa bahkan lecet dan lebam. Tapi Xiumin baik-baik saja, luka yang sekarang ini lebih baik seribu kali.

Sama sekali tidak menyakitinya.

Entah berapa jam yang terlewati tapi langit telah berubah menjadi keunguan saat Xiumin memutuskan untuk keluar dari kamar mandi, bilik sempit di pojok kamarnya. Tetesan air masih menurun deras dari ujung rambutnya, membasahi handuk yang melilit badannya. Ia kemudian duduk di meja rias, menatap pantulan wajahnya. Mata yang mulai membengkak karena tangisan menatapnya balik tanpa binar. Goresan di sudut bibir kecil, luka lecet di sekitar leher, menuruni tulang selangka dan menghilang di atas dada yang tertutupi balutan handuk. Menyedihkan.

Hanya satu yang Xiumin inginkan jika ia ingin menenangkan pikiran kalutnya; rokok. Rokok mungkin adalah teman hidup satu-satunya yang tidak pernah mengecewakannya. Ia ingat masih mempunyai satu atau dua batang di bungkus yang ia jejalkan ke dalam tas jinjingnya kemarin. Ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri mencari tas berwarna coklat itu tapi tak ditemukannya di manapun. Matanya menyapu seluruh permukaan, sedikit rasa panik menelusup. Ia bangkit dan berjalan sedikit terburu-buru ke arah ceceran pakaian semalam yang ia buka di depan pintu kamar mandi, kemudian mengobrak-abriknya. Nihil.

Xiumin jatuh terduduk berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali ia melilhat tas jinjingnya. Kepalanya berputar, pening sekali rasanya, fragmen-fragmen memori yang sudah dengan susah payah dikuburnya kembali digali keluar. Ia memegang erat kedua sisi kepalanya yang terasa berat dan meneriakkan rasa kesalnya kencang.

"Great job, bitch, you lost your dignity and all of your money," Xiumin bergumam getir, "sekarang apa yang akan kita bayarkan untuk melunasi sewa?"

Seketika itu langkah cepat dan kasar memenuhi koridor depan kamarnya, 'speak of the devil', ketukan atau lebih tepatnya gedoran keras menggema tidak lama kemudian.

"Jalang, keluar kau sekarang!" teriakan tidak sabar dari sang Pemilik Rumah. Xiumin mengenakan pakaiannya cepat-cepat, entah apa yang ia pasangkan, ia tidak punya waktu untuk peduli karena teriakan yang disertai gedoran keras kembali terdengar.

"Cepat buka atau akan kubuka paksa! Penyewa baru akan segera datang mengisi kamar ini!"

"Tunggu!" Xiumin berseru sambil memasukkan seluruh barangnya ke dalam satu tas ransel—ia tidak mempunyai banyak barang bahkan setelah dua tahun menetap di Miami. Jika harus meninggalkan ruangan ini, ia yang akan memutuskan untuk pergi, tidak dengan perintah siapapun, apalagi si Pemilik dengan mulut kotornya itu.

Tak lama Xiumin telah berada di luar rumah susun yang masih ia tempati beberapa menit lalu. Ia masih berteduh di pintu depan. Pagi ini, Miami diguyur hujan—summer shower—sehingga hawa dingin menusuk sekalipun di tengah musim panas. Ia mengeluarkan beanie oranye yang senada dengan warna rambutnya dan memakainya. 'Great. Xiumin adalah seorang tunasusila yang merangkap menjadi tunawisma sekarang,' ia berpikir miris dalam hati. What a tragedy.

Xiumin semakin merapatkan jaket hitamnya dan menutupi torso dengan kedua lengannya, mencari kehangatan. Sejenak ia terdiam, teringat bahwa jaket hitam ini adalah milik lelaki penolongnya. Rasa hangat yang lain megaliri tubuhnya.

Xiumin merasa aman.

Motel adalah satu-satunya harapan Xiumin untuk beberapa hari kedepan dengan hanya beberapa ratus dolar uang yang disimpan di laci lemari kamar sewanya. Ia tidak keberatan dengan segala macam suara yang menembus tembok tipis kamar 206-nya, yang terpenting baginya hanya atap dan lantai.

Xiumin berdiri menghadap cermin di kamar mandi dalam kamar dan mengguratkan lipstick merah di bibirnya—luka lecetnya tertutupi concealer, sentuhan terakhir untuk dandanannya malam ini. Ia akan mengunjungi LIV di SoBe jadi ia harus berdandan ekstra. Ia harus mendapatkan uang, yang lagi-lagi, dengan jumlah yang banyak dan dalam waktu yang singkat. Setidaknya dalam waktu satu minggu sebelum masa sewa di motelnya benar-benar habis.

Meskipun hari ini adalah hari Senin, nightlife Miami tidak pernah mengenal kalimat I hate Monday. Bahkan mungkin kalimat yang tepat adalah thank God, everyday is Friday night. LIV di Collins Avenue, apalagi, adalah salah satu klub hits di SoBe atau mungkin seantero Miami. Good crowds, good music and good service. Untuk yang terakhir, Xiumin juga akan memastikan untuk memberikan servis terbaik di LIV.

Tentu saja seperti klub-klub ternama lainnya di Miami, untuk memasuki LIV seseorang harus antri dalam antrian yang panjang dan dalam waktu yang lama. Kemudian sia-sialah segala usaha apabila bouncer tidak mengizinkan masuk. Tapi, Xiumin tidak perlu mengantri untuk memasuki LIV karena salah seorang bartender LIV, Clerk Ray, adalah pelanggan lama Xiumin, dan sudah menunggunya di depan pintu. Xiumin menelepon Ray lewat telepon motel tadi sore—ponselnya memang hilang bersama dengan tas jinjingnya tapi kartu nama Ray masih tersimpan di nakasnya.

'Play hard, bitch,' pikirnya dalam hati saat tangannya menyambut uluran tangan si Bartender.

.

.

.

Hari ini Jumat. Xiumin masih berada di motel yang sama. Masih tanpa uang. Bukan berarti ia tidak pergi bekerja atau ia tidak mendapatkan pelanggan. Ia melakukannya, berulang kali, tapi tetap dengan hasil yang sama. Nihil. Bukan karena pelanggannya tidak membayar, tapi karena ia tidak bisa melakukannya.

Matahari sudah di pucuk kepala tapi Xiumin masih di atas kasurnya, menggulung badannya di bawah selimut tipis motel. Ia tidak sedang tidur—ia bahkan lupa kapan kali terakhir ia benar-benar tidur selama beberapa hari ini—lebih tepatnya, tidak bisa. Badannya lelah sekali, namun acap kali memejamkan mata, kepalanya terasa akan pecah karena berbagai ingatan yang masih sangat segar berputar-putar di balik kelopaknya yang tertutup.

[ Ray menuntun Xiumin ke ruang peralatan di belakang counter—Ray mencuri kesempatan di tengah jam kerjanya. Ray mendudukkannya di meja di pinggir ruangan, menempelkan bibir pada belakang telinganya. Mengarah turun ke pundaknya yang telanjang tidak tertutupi tube dressnya.

"Let's do it my way, Ray," Xiumin mendesah di antara kecupan panas Ray. Seketika berlutut di hadapan Ray dan membuka kancing celana kain seragam hitamnya perlahan, sambil terus mendongak menatap Ray dengan tatapan menggoda.

"Cepat, girl!" Ray memerintahnya tidak sabar, pupilnya melebar pertanda nafsu yang sudah memuncak. Berperilaku sebaliknya, Xiumin makin melambatkan aksinya menurunkan boxer Ray. "Demi Tuhan, Xiumin!" Ray menjambak rambut Xiumin tidak sabar, mendekatkan wajah Xiumin pada selangkangannya.

Xiumin tersentak. Manik matanya melebar, rasa ini rasa yang tidak asing, rasa panik. Xiumin merasa terintimidasi—tubuh besar yang menutupi tubuhnya terasa sangat mengintimidasi—'Oh Tuhan!' dengan cepat Xiumin berdiri, matanya tidak fokus, memancarkan rasa takut yang sama sekali tidak ingin ia rasakan lagi. "Apa yang kau lakukan, Xiumin?" Ray membentak frustasi.

"A-A-Aku tidak, maaf tidak, aku-" Xiumin mengedarkan pandangan ke segala arah, kemudian menggeleng cepat dan pergi meninggalkan Ray dengan langkah cepat.]

Xiumin menjambak rambutnya keras.

[ Mungkin kemarin perlakuan lelaki brengsek itu masih terlalu baru untuknya, jadi hari ini ia yakin akan baik-baik saja. Sehingga dengan langkah lebar Xiumin mengikuti lelaki dengan logat Latin kental yang kini tengah menggenggam tangan kirinya, berjalan melewati pergulatan panas lantai dansa, menuju sudut yang gelap di klub.

Lelaki itu mencium Xiumin ganas, menggigit bibir bawahnya keras dan melesakkan lidah ke dalam mulutnya yang hangat. Dengan kasar lelaki itu merapatkan tubuh Xiumin dengan tembok, Xiumin membeku—menekan tubuh mungil Xiumin di tembok dengan tubuh besarnya—]

Xiumin menekan telapak tangan ke kedua matanya yang terpejam erat.

[ 'Kau bisa melakukannya, Xiumin, tentu kau bisa,' Xiumin tanpa henti merapalkan mantra setelah kemarin ia, lagi-lagi, tidak bisa menyelesaikannya. Ia tengah berada di kubik sempit salah satu bar South Beach bersama dengan lelaki New York yang sedang merayakan pesta lajang di kota pesta Miami.

Xiumin berada di pangkuan lelaki yang duduk di atas tutup toilet, kedua tangannya meremas perlahan rambut pirang sebahu lelaki itu. Bibir keduanya saling mengunci dalam ciuman yang basah dan menuntut. Merasa diberikan lampu hijau, tangan lelaki itu menelusup masuk ke bawah rok jeans mini Xiumin, mengusap paha bagian dalamnya. Lumatan dari bibir Xiumin seketika berhenti—dan sebelah tangan yang bukan miliknya masuk ke dalam rok—

Xiumin mendorong keras torso lelaki itu dan membebaskan diri dari pelukannya.]

Xiumin menekan kepalanya semakin dalam ke bantal yang basah, entah karena air mata atau keringat dingin yang mengucur tanpa henti.

[ Xiumin mengusap sudut bibirnya yang kotor karena lelehan cairan bening pria yang tengah terengah di atas boks bir di dalam ruangan suplai bar. Xiumin sedang menggodanya, pria itu belum selesai dan Xiumin juga sedang tidak terburu-buru. Xiumin akan mendekatkan wajahnya kembali sebelum ketukan keras terdengar di balik pintu yang tertutup.

"Tom? Kau di dalam?" Tom, pria yang sedang bersama Xiumin, kemudian menidurkan Xiumin di lantai dingin di balik lemari dan membekap mulutnya, "jangan mengelurakan suara atau kita akan ketahuan," Tom berbisik sambil menatap pintu was-was. Xiumin menegang—lelaki itu menurunkan celananya dan kembali membekap mulut Xiumin—]

Xiumin mendekap jaket hitam milik lelaki penolong semakin dalam ke pelukannya. 'Tolong aku,' lirihnya.

.

.

.

Kurang dari sepuluh jam lagi dan Xiumin akan menjadi gelandangan tanpa pekerjaan dan tanpa tempat tinggal. Ia memantapkan hati saat ditatapnya lampu neon plakat bertuliskan Neverland. Neverland di Biscayne Boullevard adalah salah satu klub striptease ternama di Miami, bahkan disebut-sebut sebagai yang nomor satu. Salah seorang pengelola Neverland, Smith Reamus,pernah menghampiri Xiumin di pesta pantai beberapa bulan yang lalu, menyodorkan kartu nama dan menawarkan pekerjaan sebagai entertainer atau bahkan lap dancer di klubnya. Xiumin dan tubuh indahnya punya potensi.

Neverland tidak terlihat sebagai klub yang murah, sekalipun menawarkan gadis-gadis tanpa busana sebagi atraksinya, malah terlihat sebagai klub eksklusif. Memang benar adanya, untuk masuk dan mendapatkan pelayanan di klub dengan gaya burlesque itu seseorang harus melakukan reservasi terlebih dulu. Jadi, Xiumin tahu jika kerumunan di Neverland adalah kerumunan orang-orang kaya yang rela menghamburkan dolar untuk kepuasan birahi. Neverland mungkin tidak menjual seks, tidak secara resmi, tapi setidaknya wanita telanjang dan lap dance di bilik VIP akan cukup menggantikannya. Tapi, world knows, apa yang akan diminta pelanggan sebelum keluar Neverland.

Xiumin segera diminta untuk mengunjungi Neverland setelah sebelumnya menghubungi Smith melalui telepon motel. Smith memberikan Xiumin satu hari untuk masa percobaan, Xiumin bisa mencoba menjadi pramuniaga bertelanjang dada, penari pole, atau mungkin lap dancer. Khusus untuk lap dance ia akan mendapatkan $400 setiap satu jam tarian. Fast money, right?

Tawaran yang menggiurkan. Xiumin hanya perlu menanggalkan atasannya, meliukkan badan di pangkuan pria hidung belang, dan, voila, apartemen baru. 'Seandainya melakukannya semudah apa yang dibayangkan,' Xiumin tidak pernah sekalipun memperlihatkan badannya untuk orang lain, memperbolehkan untuk menyentuh adalah satu hal, tapi memperlihatkan adalah hal lain.

Jangan terkejut, karena begitu adanya. Xiumin adalah seorang mouth hooker. Ia mendapatkan uang dengan servis mulut dan beberapa heavy touching tapi tidak pernah seks dengan penetrasi. Xiumin masih gadis perawan, well, mungkin tidak lagi dengan rongga mulutnya. Jadi tanpa perlu ditanya, berjalan melayani mata pembeli, apalagi menari hanya dengan berbalut celana dalam adalah hal baru yang sungguh tidak ingin ia lakukan.

'Apa yang kulakukan demi dolar sialan,' kutuk Xiumin saat menatap jajaran wanita telanjang di ruang ganti. Ia memutuskan untuk mencoba menjadi lap dancer, setidaknya ia tidak harus melenggok kesana kemari dengan lingerie dan gartier di hadapan para pengunjung. Harga dirinya tidak akan pernah mengizinkan.

Satu panggilan datang untuknya di ruang VIP nomor tujuh. Lucky seven, albeit Xiumin feels rather unlucky. Xiumin mempersiapkan diri dengan dandanan tebal dengan warna yang menantang, bustier brokatungu tua di balik coat hitam berbahan kulit imitasi dan high heels 17 senti dengan temali yang juga hitam mencapai pergelangan kakinya. Xiumin tidak pernah merasa semurah ini.

Ia berjalan perlahan, berusaha mengulur waktu. Perjalanannya terasa teramat singkat, hatinya terasa sangat berat. Setelah sampai di depan ruangan tujuh yang tertutup tirai berwarna gelap, ia berhenti dan memejamkan mata. Menghitung mundur satu hingga sepuluh, menenangkan gemuruh di dadanya. Selangkah saja ia maju tidak akan ada kata kembali.

Maka, Xiumin memilih mundur.

.

.

.

Xiumin duduk termenung di trotoar belakang Neverland, tas ransel diletakkan begitu saja di sampingnya. Bustier dan coat telah digantikan oleh kaos sabrina putih dan jaket kulit hitam. Makeup masih menempel sekalipun ia tengah berurai air mata. Xiumin putus asa, ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan selain dengan menjadi pelacur, tapi tidak akan pernah bisa dengan menjadi wanita seperti ini. Menjadi seorang mouth hooker saja merupakan pilihan teramat sulit hingga ia harus meyakinkan dirinya ribuan kali sebelum bisa memulainya. Tapi, menjadi seorang stripper tidak akan pernah bisa ia lakukan. Xiumin tahu ia bukan wanita suci, tapi setidaknya menjaga satu-satunya miliknya yang berharga akan membuatnya merasa masih pantas dihargai.

'Fuck this dollar-driven universe!' Xiumin mengutuk berulang kali sambil terus menenggelamkan kepalanya di atas lipatan kedua tangan yang bertumpu pada lututnya. Isakannya tidak keras tapi siapapun yang melewatinya tentu akan mendengar. Xiumin tidak peduli, toh siapa yang akan melewati lorong sempit seperti ini. 'Dimana aku harus tinggal besok? Apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan uang? Mencuri? Hell no! Berapa lama ak-' pertanyaan retorisnya terhenti saat sebuah suara menembus lamunannya.

"Mengapa aku selalu menemukanmu saat kau sedang menangis?" Xiumin terdiam dan tanpa disadari air matanya berhenti mengalir. Perlahan ia mengangkat kepalanya. "Kau-," Xiumin tercekat.

"Kita bertemu lagi," lelaki itu berjongkok di hadapannya. Dekat sekali, sampai-sampai di lorong yang gelap ini, Xiumin bisa melihat kerutan di samping matanya, hidung mancung dan senyuman yang menghangatkan wajahnya, "mengapa menangis?"

Xiumin mendengus, entah kenapa orang asing ini membuatnya ingin meluapkan isi hatinya hanya dengan berada di dekatnya saja, ini benar-benar diluar kebiasaannya. Xiumin orang yang tertutup, tapi di hadapan lelaki ini ia menceritakan semuanya. Lelaki di hadapannya ini hanya terdiam, sesekali mengangguk sebagai pertanda ia mendengarkan. "My life is so fucked up," Xiumin mengakhiri ceritanya. Tapi, tetap saja ia tidak bisa mengartikan pancaran dari kedua manik mata penolongnya saat ia selesai menumpahkan kisahnya.

"Come home with me," Xiumin kembali dikejutkan oleh perilaku lelaki yang tiba-tiba dan tidak bisa ditebak ini. Nada bicaranya mengisyaratkan keseriusan, bukan menanyakan tapi menyatakan, tidak menyediakan ruang untuk penolakan. Keduanya terdiam, larut dalam pemikiran masing-masing. Cukup lama lalu, tanpa kata Xiumin mengangguk, menyetujui ajakannya.

.

.

.

Xiumin memandang keluar jendela mobil tua si Penolong. Mereka tidak mengatakan sepatah katapun semenjak meninggalkan Biscayne. Ia tidak tahu mereka akan kemana dan anehnya ia juga tidak terlalu ingin tahu. Xiumin memercayakan dirinya pada lelaki yang baru ia temui dua kali, mereka bahkan tidak saling bertukar nama, atau sekedar berbasa-basi.

Xiumin menghilang, ia sedang tidak menginjak bumi, sedang tidak berada di dalam sini pada situasi entah apa, pergi entah kemana, bersama dengan entah siapa. 'Bagaimana ia dapat menemukanku disana? Apa yang membuatku begitu impulsif di hadapannya? Siapa lelaki ini? Apa yang akan ia lakukan padaku? Seks? Tentu ia tahu kalau aku hooker kan?' terlalu banyak pertanyaan, tak satupun terlontar. Pemandangan di luar jendela memburam seiring dengan semakin menghilangnya Xiumin di tengah-tengah kekalutannya.

Setidaknya ia punya atap dan lantai untuk malam ini.

.

.

.

TBC

LIV adalah klub yang benar-benar ada di Miami, tapi karakter dan segala kejadian di dalamnya hanya buatan pengarang.

Mouth hooker / oral hooker : seseorang yang menjual teknik seks oral saja tanpa menjual bagian tubuhnya yang lain seperti tangan atau bagian genital.

A/N: huwho! We meet again, thanks God.

First of all, congrats EXO untuk empat penghargaan di MAMA 2014! Bitches SLAY!

Oke, so, ini bagian ketiga yang masih minim interaksi Xiuhan, sebenarnya aku sudah tidak sabar menuliskan all-those-xiuhan-cheese, tapi itu mungkin akan semakin menghancurkan jalan cerita yang sudah hancur, jadi.. lol

Terima kasih untuk semua review yang tidak kusangka akan dituliskan padaku. Terima kasih sudah rela meluangkan waktu yang berharga demi cerita tanpa harga. Words won't be enough.

Btw,

ega. iya begitulah, jatuh cinta pada pandangan pertama. luhan memang lelaki gampang.

frostlightx iya M, abjad setelah L sebelum N.

luckygirl91 gratis? Apa aku kurang jelas menuliskannya di #2? Lol

untuk pertanyaan yang belum terjawab, yah, kuharap kamu sabar menunggu lol sorry.

But anyway, menurut kamu, apa rating yang tepat untuk genre cerita semacam ini? Rate R? Rate M? Aku bingung.

Bagi kamu yang mungkin menunggu, semoga kita bertemu di bagian selanjutnya secepatnya

Xiuhan ship have no anchor.

Kthxbye.