Two Sides (Now!AU) | Luhan x Xiumin [Xiuhan/Lumin] | PG-15 | girl!Xiumin |
Disclaimer applied.
#4: Upside Down
(warning: cuss words, words in bold are messages)
Juan Carlo duduk di satu-satunya kursi di dalam pabrik permen yang telah lama dikosongkan dan ditinggalkan. Keringat bercucuran dari pelipis pria Spanyol itu, meluncur bebas dari balik topi pad coklatnya, ia tengah dikelilingi orang-orang bersenjata dan seorang pimpinan kartel Italia, Michael Brasi. Don—begitulah Carlo memanggilnya—menyelamatkan gangnya dari pertarungan antarkelompokbeberapa waktu lalu, tapi aksi heroik itu harus dibayarkan dengan menjadi bawahan Brasi di Miami, mereka harus mengamankan sejumlah jalur perdagangan narkotika di Miami sekaligus memberikan suplai yang cukup untuk memenuhi permintaan. Namun tiga hari yang lalu, kepolisian tiba-tiba mengepung dan memergoki transaksi di jalur-jalur perdagangan yang seharusnya aman. Beberapa anggota Carlo tertangkap di tempat dan yang lainnya, termasuk dirinya, lari dari incaran kepolisian dan Don Brasi.
Nafas Carlo tertahan saat moncong pistol Beretta M9milik anak buah Brasi ditodongkan ke arahnya, "mengapa kau lari dariku, hah?" Don Brasi bertanya dengan suara kecil tapi penuh penekanan sambil menyalakan cerutu Gurkha kesukaannya, "atau ulahmu yang membuat tikus-tikus itu tahu jalurku?" lanjutnya dengan meniupkan asap cerutu ke wajah Carlo.
"Ti-tid-tidak akan pernah, Don. Tapi ku-kurasa ini berhubungan dengan Kurir Kuba sialan, si Luis Greg itu, dia menghilang sejak Minggu. Dia punya data tentang seluruh trek," Carlo tergagap menatap Don Brasi, sesekali melirik pistol yang dekat sekali dengan wajahnya. "Hilang? Apa ini salah satu bagian dari pertarungan gang bodoh kalian?" Don Brasi menurunkan cerutu yang akan dihisapnya, menatap Carlo berang.
"Tidak, Don. Aku pemenangnya, mereka tidak akan berani," Carlo menggeleng pelan dengan nada sedikit meremehkan, "ku-kurasa ini mata-mata pemerintah-" jawab Carlo dengan nada menggantung di akhir, ia sendiri tidak yakin. "Omong kosong! Kita sudah menghabisi seluruh intel sial itu dua tahun lalu dan jalur yang ditutup ini adalah jalur baru yang kita buat tiga bulan lalu!" Don Brasi menolak keras, "dan aku akan tahu jika ini perbuatan pemerintahan busuk," ia memang mempunyai hubungan yang bisa dibilang saling menguntungkan dengan pemerintah, jadi apapun yang mengancam bisnisnya akan segera diketahuinya.
"Kau cari kurir tolol itu dan temukan bajingan mana yang berani mengacak bisnisku! Atau kau ucapkan selamat tinggal pada dunia," Don Brasi mengayunkan tangan ke arah anak buahnya, memerintahakannya untuk menurunkan pistol, ia membuang cerutu dan menginjaknya. "Te-tentu, Don, tentu." Carlo menawarkan jawaban dengan takut-takut, ia tidak tahu siapa yang menjadi targetnya. Ia juga tidak tahu darimana harus mulai mencari.
.
.
.
Luhan nampak sangat berkonsentrasi dengan laptop di atas meja kopinya. Terlihat jendela dengan deretan bilangan biner yang berlalu cepat di layar, jemarinya mengetik dengan cepat. Luhan sedang memecahkan kode pengaman ponsel hitam yang terhubung dengan laptop. Ponsel itu milik si Peri. Luhan mendapati beberapa lembar ratusan dolar, sebungkus rokok dan ponsel di dalam tas jinjing yang ia temukan di dekat tempat sampah.
Pada awalnya ia berniat untuk tidak menyentuh apapun dan menjaga privasi Peri. Lama sekali ia hanya meletakkan tas jinjing itu di atas nakas, tapi benaknya mengkhianati, di hari keenam runtuhlah pertahanannya. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk mengehack kode rahasia, malahan ia kini tengah memindahkan seluruh data ponsel tersebut ke dalam laptop. Sebut Luhan seorang maniak dan ia akan menjawab, 'hal yang tidak diketahui tidak akan menyakiti,' tidak hanya mengopi seluruh data, ia juga memasukkan mesin pelacak di dalamnya.
Melihat data-data yang telah digandakan dari ponsel, ia tahu Peri bukan wanita yang terbuka dengan kehidupan pribadinya. Kontak-kontak di ponselnya hanya diberikan inisial dengan angka; 1,2, dan seterusnya, tidak satupun memunyai nama. Tidak ada nama orang tua, tidak ada teman atau kerabat. Peri juga tidak mempunyai satupun media sosial. Dan tidak ditemukannya gambar ataupun video yang tersimpan. Tidak ada hal yang personal di dalam ponselnya, kecuali playlist musiknya, setidaknya ia jadi tahu Peri-nya mendengarkan Lana Del Rey.
Ia beralih membuka ponsel, mengecek panggilan terakhir dan kotak pesan singkat yang diterima Peri. Dari sekian pesan singkat yang ia baca, semakin meyakinkan dugaan bahwa Perinya adalah seorang pelacur. Luhan merasa sangat terganggu, bukan karena memikirkan statusnya, melainkan karena memikirkan sudah berapa lelaki, atau mungkin wanita, yang menyentuh Perinya. Ia harus segera menemukan Peri dan membuatnya berhenti menjadi pelacur. Entah bagaimana pun caranya. Atau kalau tidak ia akan gila. Not that he isn't crazy to begin with.
Selama enam hari ini pula Luhan berusaha mencari Perinya. Mulai dari menyusuri jalanan Flagler, mencari di seluruh klub di sekitar Flagler, klub-klub di Downtown, North Beach, South Beach hingga Overtown. Tidak diketemukannya dimanapun. Ia tidak punya apapun yang dapat mengarahkannya ke wanita itu, jangankan dimana ia berada, nama saja ia tak tahu. Benar-benar langkah seorang genius.
Ketika ia beranjak untuk mengambil kunci mobil dan melanjutkan pencarian tanpa dasarnya, ponsel miliknya berdering. Dengan air muka geram ia menerima panggilannya, "what!" Luhan membentak tidak sopan.
"Kau bahkan tidak sedang terbangun dari tidurmu, Lu, untwist your panty," suara di ujung sana berujar malas.
"Cepat katakan apa maumu, Baek," Luhan mendesah tapi memelankan nada suaranya. Ia melangkah keluar caravan.
"Aku sudah menemukan kambing nomor dua. Dan ia kepercayaan si Terrone," Ujar lelaki yang dipanggil Baek, Byun Baekhyun, teman sejawat Luhan di misi Miami. Baekhyun dapat dengan cepat memahami lelaki batu semacam Luhan dibandingkan orang lain yang pernah bekerjasama dengannya, dan hal ini adalah pencapaian luar biasa, sehingga ia dikategorikan sebagai satu-satunya orang yang dapat mendampingi Robot Luhan. Pilihan yang tepat, keduanya adalah duo yang hebat.
Luhan terkesiap, "benarkah?" tangan kanannya berhenti di tengah jalan menghidupkan mesin mobil. "Yes. Ini akan semakin menyenangkan, Lu. Terrone akan benar-benar habis kali ini." Tanpa melihat Luhan pun tahu, Baekhyun sedang tersenyum tolol saat ini. Kemudian Luhan pun melesat pergi.
.
.
.
Dari sekian barang yang ditemukan Luhan di dompet Luis Greg, ada dua barang yang bernilai. Satu, flashdisk jalur perdagangan narkotika yang dikuasai oleh kartel Carlo dan Brasi. Dan yang kedua, kartu anggota klub elite Neverland beserta memo tempel bertuliskan Minggu, 12 AM di atasnya. 'Flashdisk sudah di tangan kepolisian tolol yang lambat, tapi bajingan satu ini urusanku.'
Disinilah Luhan berada, di dalam Neverland. Di pintu masuk ia bertemu tiga orang Italia bersiaga dan di seluruh klub setidaknya 10 orang lagi tersebar di segala sisi, Luhan menebaknya sebagai suruhan Brasi. 'Tolol sekali, siapa yang akan kau buru?' Luhan berpikir dalam hati, yakin tidak akan ada satu orang pun yang akan mengenalinya. Luhan menyatu sekali dengan suasana Neverland, ia adalah seorang bouncer hari ini—well, bouncer yang asli sedang pingsan dan terikat di salah satu kloset. Dengan banyaknya bouncer yang berkeliarandi dalam ia tidak akan dicurigai. Sehingga ia dapat mengamati gerak-gerik si Spanyol, Juan Carlo, dari jarak yang cukup dekat.
Carlo beranjak dari tempat duduknya menuju lantai atas dengan bilik-bilik VIP, Luhan dengan langkah natural mengikutinya. Carlo bersama salah satu manager klub menaiki tangga dengan perlahan, mereka sedang bertransaksi. Mungkin weeds atau beans. 'Tunggu saja sampai aku mendapatkanmu,' Luhan menggeram, mengeluarkan ponselnya diam-diam dan menangkap momen tersebut. Mungkin nanti akan berguna.
Mereka membuka tirai satin ungu dan memasuki bilik VIP nomor tujuh, membuatnya terpaksa harus menunggu di ujung tangga. Luhan mengamati keseluruhan desain klub untuk menghabiskan waktu, langit-langit yang tinggi menciptakan ilusi ruangan yang terlihat lebih luas daripada aslinya, pencahayaan yang temaram dan musik yang tidak terlalu keras, beberapa panggung yang tersebar di lantai dasar dan lantai kedua diisi oleh penari pole. Wanita-wanita pekerja yang lain duduk atau berdiri di sekitar bar, serta pengunjung yang hampir mengisi penuh belasan sofa. Neverland terkesan chill untuk standar klub strip lainyang cenderung naughty.
'Aku harus mendatang-' pemikirannya seketika terhenti saat ia memutar badannya dan menemukan figur yang familiar berdiri di depan bilik tujuh. Luhan terpaku menatap rambut oranye dan tubuh kecil itu, 'akhirnya aku menemukanmu, Peri,' Luhan tersenyum lebar, 'fuck! Those curves is all mine!' dan sekelebat pemikiran kotornya berbicara saat ia menamatkan dandanan Perinya malam ini. Tampaknya Luhan telah menemukan seseorang yang mampu menjungkirbalikkan aksisnya. Hidupnya tidak lagi monokromatik. It's all rainbow.
Luhan terdiam, mengikuti Xiumin yang lama hanya berdiri di depan ruang tujuh. Jarak yang cukup jauh dengan disertai cahaya yang temaram membuat Luhan tidak dapat melihat air muka Xiumin dengan jelas. Namun kemudian, dengan terburu-buru Xiumin setengah berlari menjauh dan menghilang di belokan. Dengan tergesa Luhan mengikutinya, tidak ingin kehilangan sosok yang terus dicarinya seminggu ini, melupakan si Spanyol yang seharusnya menjadi buruannya malam ini.
.
.
.
Luhan menyesali banyak hal dalam hidupnya, meski juga tidak sedikit hal yang ia syukuri. Tetapi kali ini ia tidak tahu ia harus merasa apa. Semenit lalu ia masih sibuk menyesap whisky dan memberikan satu gelas rum pada Perinya, namun menit berikutnya didapatinya Peri melempar jaket dan membuka kaos dengan gemulai di hadapannya, memperlihatkan bra semerah darah yang kontras dengan kulit pucat. Beruntung whisky-nya sudah tertelan masuk—kalau tidak mungkin ia akan mati—tapi gelasnya yang tidak terselamatkan menggelinding dan tumpah isinya di atas karpet coklat kusam. Luhan merasa sangat bersyukur masih bernafas sekaligus sangat menyesal ia tidak mati tersedak.
"A-ap-apa yang kau, eh, la-lakukan?" Luhan bercicit gagap, mengalihkan pandangannya dari tubuh Xiumin. Wajahnya sedikit bersemu dan ia tanpa henti mengumpat—'sial sial sial fuck that body'—di dalam hatinya. Si Peri membuat Luhan banyak mengumpat hari ini. Bukan karena Luhan tidak pernah melihat tubuh wanita, tapi ini Peri.
Tanpa menghiraukan keterkejutan Luhan, Xiumin bersimpuh tepat di depan kakinya. Kedua tangannya terulur berniat melepaskan kancing celana jeans Luhan. Luhan yang merasakan pergerakan di sekitar arealnya yang berbahaya sontak menundukkan kepala tepat kepada Xiumin. "He-hei, wait- wha-" tangan Luhan menggenggam pergelangan tangan wanita di bawahnya erat, menghentikan jemari yang sudah setengah jalan melepas kancing celana. Xiumin mendongak terkejut, "mengapa menghentikanku? Kau tidak ingin?" menatap Luhan penuh tanda tanya.
"Ingin? A-aku ingin apa?" Luhan menelan ludahnya. Badannya mulai terasa panas. Ia tahu apa yang dimaksud Xiumin tapi ia tidak memercayainya.
"Menginginkanku," Xiumin menjawab dengan senyuman lambat yang sensual, senyuman untuk para pelanggannya. Senyuman yang terasa asing di wajah Xiumin menurut Luhan.
"Tidak! Eh, iya, maksudku ti-tidak, tidak seperti ini. Tapi iya, aku sangat- aargh!" Luhan menyangkal tidak jelas, menggelengkan kepalanya cepat seakan ingin menyadarkan diri dari segala ilusi, kemudian beranjak untuk mengambil jaket hitam yang tadi dilemparkan Xiumin sambil terus meracau dan mengumpat dengan suara pelan, "fuck-fu- aku tidak bisa fokus jika kau terlihat begitu- begitu- shit- di depanku," Luhan menghampiri Peri, menyampirkan jaket untuk menutupi tubuhnya dan melekatkan tangan di kedua pundak Peri. Ia bersimpuh di belakang Peri, berusaha meredakan detak jantung yang berpacu keras, kemudian menempelkan dahi pada puncak kepala Peri setelah nafasnya tidak lagi memburu.
"Aku menginginkanmu, sangat, sangat, tapi-" ia tidak menyelesaikan kalimatnya, menggantung. Namun, keduanya tahu apa yang tidak terucap. Luhan memejamkan mata, menghirup wangi rambut Peri yang mendesirkan hatinya dengan perasaan nyaman. Cukup lama mereka terdiam, merasakan kehadiran masing-masing di dekatnya. "Beristirahatlah di kamar," Luhan mengusap rambutnya lembut, kemudian berdiri dan melangkah keluar Caravan, menutup pintunya pelan.
.
.
.
Xiumin jatuh terduduk, dadanya bergemuruh, ia tidak mengerti perasaan apa yang sekarang ia rasakan. Xiumin tidak pernah salah menilai, ia tahu tatapan lelaki saat melihat tubuhnya, tatapan mata yang berkilat penuh nafsu. Luhan pun tidak terkecuali. Tapi Luhan adalah satu-satunya lelaki yang tidak menerima ketika Xiumin menawarkan, Luhan melihatnya sebagai wanita. Dan Luhan tidak sedang menolak Xiumin, Luhan sedang menahan diri. Tanpa disadari, Xiumin menitikkan air mata dan menangis dalam diam.
Xiumin merasa berterima kasih sekaligus mengasihani pilihan hidupnya.
.
.
.
Malam semakin larut tapi langit Miami Beach tidak bertabur bintang, sinarnya kalah dengan terang benderang lampu nightlife di kota, hanya hawa malam yang sedikit hangat dan kegelapannya saja yang mengingatkan bahwa bulan sedang menggantung di langit. Di pemukiman ini pun sunyi senyap, hanya satu dua kendaraan yang melewati jalanannya. Berbeda dengan Luhan yang hingga kini masih belum bisa menghentikan kerasnya suara di dalam kepalanya. Hal yang terjadi hari ini membuat kepalanya tidak berhenti berputar, tapi seberapa keras ia mencoba untuk beristirahat geligi di kepalanya tidak berhenti aktif. Fokusnya selalu berhenti pada wanita yang kini mungkin sudah terlelap di ranjangnya, sedangkan ia masih sangat terbangun di tangga depan caravannya.
Luhan sangat ingin melihat keadaan wanita itu, tapi ia baru saja mengetahui bahwa ia tidak bisa menghadapi tangisan seorang wanita, terlebih lagi jika itu wanita yang mungkin sudah mengisi sudut khusus di dalam ruang hatinya. Bahkan dari luar caravan ia bisa mendengar isakannya, hanya saja ia tidak tahu bagaimana menghentikannya. 'Dasar lelaki tidak berguna,' rutuknya sepanjang tangisan Xiumin. Sudah kesekian kali ia berniat masuk untuk hanya sekedar melihat keadaannya tapi saat itu juga diurungkan niatnya.
Kira-kira sudah setengah jam lalu ia tidak lagi mendengar suara tangisan, 'mungkin ia sudah tertidur,' Luhan merasa lega sekaligus gugup. Kini tidak ada lagi alasan sah baginya untuk mendatangi wanita tersebut, selain niatannya untuk mengintip wanita yang sudah jauh di alam mimpi, it's totally not creepy. Not at all. Bahkan membayangkan wanita itu tengah berbaring di ranjangnya saja sanggup membuat seluruh tubuhnya panas—meskipun ia meyakinkan diri sendiri bahwa rasa panas itu berasal dari hawa hangat malam musim panas. 'Kau bercanda,' suara di kepalanya bahkan tidak setuju.
Berulang kali otaknya membayangkan berbagai imajinasi yang, apabila Xiumin tahu, akan membuatnya pergi detik itu juga dari hadapan Luhan. Luhan mungkin menolongnya di lorong malam itu, tapi siapa yang akan menolong Xiumin darinya. Luhan sangat tidak ingin membayangkan skenario yang satu ini, akan sangat berbahaya jika ia tidak bisa mengontrol gairahnya. Ia sudah menghisap rokok yang kelima dan menyesap gelas brendinya yang ketiga tapi pikirannya tidak kunjung tenang. Kombinasi nikotin dan alkohol mungkin bukan ide yang bagus karena ia menemukan kakinya membawanya melangkah ke dalam dan tiba-tiba ia sudah berada di luar pintu kamar tidur yang tidak tertutup.
Entah itu keberuntungan atau kesialan untuknya karena dengan begitu ia dapat langsung menyaksikan pemandangan indah tanpa repot, 'shit, dia benar-benar terlihat seperti malaikat jatuh saat tertidur, dan terlebih di ranjangku,' kepalanya semakin aktif saja. Namun anehnya, bukan perasaan membara penuh nafsu yang ia rasakan saat seperti ia bayangkan tadi, melainkan rasa hangat yang menjalar hingga ujung jari-jarinya. Luhan begitu ingin merengkuh wanita ini. Lama ia bersandar di kusen pintu, hanya menatap Perinya dalam diam.
'Apakah itu jaketku yang sedang dipeluknya?' dahinya mengernyit ingin tahu saat ia mengalihkan pandangan dari wajahnya, ia melangkah masuk makin dalam untuk memastikan hingga ia benar-benar berada di samping ranjang menghadap wajah damai Xiumin, 'itu benar-benar milikku, fuck, kenapa harus jaketku yang dipeluk' perasaan yang benar-benar tidak terduga terbersit di dadanya, Luhan sedang cemburu pada selembar jaket. Tanpa pikir panjang ia menyingkirkan jaket hitam itu ke lantai lalu berbaring untuk menggantikannya.
Wajahnya berada dekat sekali dengan wajah Xiumin, bahkan mereka mungkin berbaring di bantal yang sama. Hembusan nafas yang hangat dan bau vanila segar menguar menerpa wajah Luhan, semakin memabukkannya yang sudah sedikit mabuk. Entah mendapat keberanian darimana tapi sedetik kemudian lengan kirinya melingkari pinggang ramping Xiumin, membawanya masuk ke pelukannya. Senyuman merekah di bibir Luhan kala Xiumin merapatkan tubuh ke dadanya tanpa sadar, Luhan berdoa pada apapun yang dipercayainya agar Xiumin tidak mendengar tabuhan genderang jantungnya dan membuatnya terbangun dari tidurnya.
Luhan tidak pernah terlelap secepat malam itu. Dan katakan ia gila, tapi ia berharap matahari tidak terbit esok hari.
.
.
.
Suara langkah yang tergesa-gesa memenuhi seisi ruang tamu raksasa milik villa Don Brasi di tepian pantai SoBe. Seorang bawahannya menampakkan air muka gugup dan sedikit terkejut, di kedua tangannya tergenggam sekotak gabus yang berlogokan merk jual ikan segar. Isinya, yang jelas, membuat gempar seisi pos penjagaan. Sebab tiba-tiba saja paket itu muncul tanpa diketahui siapa pengirimnya di depan pintu masuk, bahkan jejaknya pun tidak terlihat di cctv.
Ia mengetuk pintu kamar tidur Don, dengan takut-takut ia sedikit berteriak, "Don Brasi, kita mendapatkan sebuah paket," suara deritan dan desahan dari dalam seketika terhenti. "Berdoalah agar paket itu penting, atau kepalamu akan hancur karena telah menggangguku!" Don Brasi berujar sambil membuka pintu, ia hanya terbalut bathrobe, di belakang beberapa wanita berbaring di balik selimut di atas tempat tidur king size, hari ini adalah sesi bagi Don dan wanita-wanita bayarannya untuk bersenang-senang hingga esok pagi dan semua bawahannya tahu itu. Tapi paket ini begitu penting hingga membuat bawahannya berani mengacaukan hari khususnya.
"Ti-tidak, Don, aku pe-percaya ini-ini hal yang mendesak," telapak tangannya sedikit basah karena keringat dingin saat Don menghadapinya dengan wajah tenang tapi mematikan. "Berikan padaku!" seru Don sambil menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju ruangan kerjanya di ujung lorong. Bawahannya meletakkan paket di atas meja kerja Don. Dengan sedikit kasar Don membuka penutup kotak gabus itu, dan seketika terkesiap saat mendapati isinya. "Siapa yang mengirimkan ini, hah!" raut muka Don berubah sangar, ia yang biasanya tenang mendadak menjadi gusar, menatap bawahannya nyalang meminta jawaban. "Ki-kita tidak menemukan jejaknya, D-Don, bahkan ia tidak ter-ter-terekam di cctv," bawahan itu menundukkan kepalanya dalam, suaranya bergetar bahkan kakinya sedikit gemetar, ia tidak pernah melilhat Don seperti sekarang ini.
Don melemparkan kotak itu ke bawahannya, menumpahkan seluruh isinya ke lantai dan mengotori jasnya. Di antara ceceran serpihan es yang sudah mencair, seekor ikan besar yang sudah mati lengkap dengan topi pad coklat milik Carlo terjatuh di dekat sepatunya, dan satu ekor ikan yang lebih besar dengan cerutu Gurkha tersemat di mulutnya tergeletak tak jauh dengan kotaknya. "Bajingan tidak berguna!" Don mengeluarkan pistol Colt Derringer dari laci meja dan menembak kepala bawahannya saat itu juga.
Mengirimkan ikan mati adalah cara mafia kuno Sisilia untuk menyampaikan pesan bahwa orang yang dimaksud telah dihabisi. Orang yang mengirimkan ini tidak sedang main-main, Don Brasi tahu itu, karena tidak banyak orang, kecuali orang kepercayaannya, tahu dimana ia tinggal ketika sedang melewati harinya dengan lonte-lonte. Bahkan pengirim ini tahu ia berhubungan dengan Carlo. Dan, ikan mati dengan cerutu yang menggambarkan dirinya menyampaikan pesan yang jelas bahwa Don Brasi juga sudah mati.
Dengan tangan gemetar ia menyalakan cerutu, berusaha menenangkan pikirannya yang kalang kabut. Sesaat sebelum ia menghisap cerutu, ponselnya di atas meja berbunyi. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan kepadanya,
Kau sekarang milikku, terrone.
Beserta di dalam pesannya, terlampir data-data kejahatan kelompoknya hingga seluruh silsilah keluarga yang ia lindungi selama ini. Bahkan kepolisian Miami dan Italia tidak akan berani menyentuhnya. Seketika itu juga cerutu yang belum sempat dihisapnya terjatuh menggelinding di atas lantai marmer.
.
.
.
"Lu, terrone is down. Tapi, Panda menelepon. Wu ditembak mati dini hari tadi, kita harus terbang kesana."
.
.
.
TBC
Kartel : sekelompok orang yang berurusan dengan segala aktivitas ilegal narkoba
Weeds : bahasa slank untuk marijuana
Beans : bahasa slank untuk pil-pil ekstasi
Terrone : secara harfiah berarti seseorang yang bekerja sebagai pengolah lahan (petani) dalam bahasa Italia. Namun, secara derogatif digunakan untuk merendahkan orang bagian selatan Italia (bagian Roma ke bawah, termasuk Sisilia) yang dikatakan lebih rendah taraf kehidupannya dibandingkan bagian Utara.
A/N:
Yo yo yo. Bagaimana kabar kamu?
Aku kembali dengan update yang aku sendiri tidak begitu yakin, tapi semoga kamu menikmatinya. (Atau kalau tidak, berpura-puralah menikmatinya untuk menyenangkan hatiku) Lmao
Adakah hal yang ingin kamu tanyakan sepanjang cerita ini? Atau ada bagian yang kamu suka atau kamu tidak suka? Ceritakan padaku, oke.
Beberapa nama dan cara Sisilia kuno kuambil dari buku bapak Mario Puzo, the Godfather. Buku yang kurasa adalah sebuah kitab bagi penyuka cerita kriminal.
Terima kasih untuk segala dukungan melalui review dan follow dan fave, it means that you love me. I feel so loved, thank you so much. :*
