Two Sides (Now!AU) | Luhan x Xiumin [Xiuhan/Lumin] | PG-15 | girl!Xiumin |

Disclaimer applied.

#5 Stray Cat

Hujan yang mengguyur Miami Beach dini hari itu membuat hawa menjadi dingin dan sedikit lembab. Xiumin terbangun mendengar gemericik air yang menjatuhi atap caravan, matanya mengerjap perlahan di ruangan yang gelap. Dingin membuatnya menggulungkan badan semakin dalam kepada sesuatu yang menghangatkannya. Kepalanya masih berat dengan rasa kantuk saat ia berhadapan dengan tato tinta hitam di sebelah kiri dada bidang dari balik perpotongan lebar lengan singlet, tapi sebagian besar gambarnya masih tertutupi kain. Xiumin yang masih setengah sadar tidak mengindahkannya dan kembali terlelap tanpa sepenuhnya menyadari bahwa Luhan mendekap tubuhnya ke dalam pelukan sepanjang malam.

Saat tetesan gerimis hujan yang tersisa turun melalui atap dan jatuh ke tanah, barulah Xiumin benar-benar terbangun. Ia sendirian di tengah-tengah ranjang, sama seperti saat ia menghempaskan tubuhnya semalam. Ia tidak begitu mengingat tato yang dilihatnya semalam sehingga ia menganggapnya hanyalah mimpi dan tidak terlalu memikirkannya. Ia menggeliat dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, tidak pernah merasa senyaman ini dalam tidurnya, sekalipun matanya masih terasa bengkak karena begitu banyak air mata yang ia keluarkan semalam. Kemudian, ia bangun untuk menata tempat tidur dan keluar dari kamar untuk mengambil segelas air.

Lelaki itu sedang tidak berada disini, tapi ia meninggalkan sebungkus roti lapis tuna di atas kulkas dan meletakkan tas yang nampak familiar di samping piring. Xiumin terkesiap,

"apa ini milikku?"

Ia menerka dalam gumaman saat ia meraih tas jinjing itu. Dibuka dan ditemukannya semua barang yang ia masukkan masih berada di dalam, ponsel, uang dan rokok.

Ia menghela nafas dalam, "mengapa pria ini tiba-tiba melakukan semua untukku?"

Ia gusar dengan segala temuan ini, terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya lelaki ini inginkan darinya. Di satu sisi, ia tidak bisa menahan rasa curiga bahwa lelaki ini tidak sekedar berbuat baik kepadanya tanpa pamrih. Tapi di sisi lain, ia menjadi gelisah karena ia tidak tahu dengan apa ia harus membayarkan kebaikannya, harga apa yang sepadan untuk melunaskan perlakuan lelaki itu kepadanya. Ia tidak punya uang, tidak punya sesuatu yang bisa ditawarkan lagi selain tubuhnya, tapi itu pula secara terang-terangan ditolaknya kemarin. Ia menghembuskan nafas dengan berat sambil mengeluarkan satu-satunya batang rokok yang tersisa di kotak dan berjalan keluar untuk duduk di tangga luar pintu masuk. Ia butuh meluruskan pikirannya. Terlalu banyak prasangka di dalam kepala kecilnya.

Xiumin memejamkan mata dan menghirup rokoknya dalam. Asap yang memenuhi dadanya menjadi penenang. Entah sudah berapa lama ia mematung sebab rokoknya hanya tersisa beberapa senti saat ia mendengar suara mesin mobil menderu di dekatnya dan berhenti, lalu merasakan kehadiran seseorang duduk di sampingnya. Tanpa membuka mata ia tahu itu siapa, ia mengenali bau khasnya dari jaket hitam yang dipinjamkannya—rum, kayu manis dan tembakau. Mereka sama-sama tidak bersuara sampai Xiumin menekan ujung rokok yang telah habis di lantai kayu tangga dan membuangnya di tanah yang masih basah karena hujan.

"Sudah sarapan?" Luhan memecah kesunyian yang terasa sedikit menyesakkan.

"Rokok?" Xiumin menjawabnya dengan pertanyaan.

Kalau saja Luhan tidak berada di dekatnya, ia tidak akan mampu mendengar suara Xiumin yang begitu lirih. Luhan sedikit terkejut saat menatap sisi wajah Xiumin yang sedikit sendu, ia tidak tahu apa yang dipikirkan wanita ini tapi ia tidak suka melihat sinar di matanya meredup seperti ini.

"Roti lapisnya tidak enak?"

"Belum kumakan, maaf. Kau sudah makan?"

"Rokok?" Luhan menirukan jawaban Xiumin.

Keduanya tersenyum, mencairkan suasana yang sedikit kaku.

Xiumin berdeham.

"Terima kasih sudah menyelamatkanku malam itu," ia terpejam saat sekelebat bayangan malam kelam itu melewati kepalanya,

"memberikanku tumpangan dan mengembalikan tas serta barang-barangku," perasaan berat kembali menggelayuti dadanya,

"ka-kau menginginkan apa dariku sebenarnya?"

"Tidak ada."

Jawaban lugas itu membuat Xiumin bingung.

"Tidak ada? Lalu, dengan apa aku harus membayarnya?"

"Kau tidak perlu membayarnya dengan apapun."

"Tapi aku berhutang kebaikan padamu," Xiumin beralih menatap pria itu, "aku harus membayarnya," ia tidak melepaskan matanya.

Sekian lama mereka hanya bertatapan.

"Kau yakin?"

Xiumin mengangguk sekali.

"Jika kau bersikeras membayar, aku tidak akan segan untuk meminta sesuatu yang sangat mahal," Luhan menjawab perlahan.

"A-aku sedang tidak punya banyak uang sekarang ta-tapi aku berjanji akan memberikan apapun untukmu," Xiumin membuang mukanya sedikit gugup, "apa yang kau inginkan?"

"Apapun? Baguslah. Pergilah bersamaku."

Mendengar jawabannya, Xiumin mengernyit lalu kembali menatap lelaki itu dengan tatapan penuh tanya.

"Apa?"

"Pergilah bersamaku," Luhan mengulang perkataannya, "kita akan ke Macau dan meninggalkan Miami hari ini."

Xiumin terkekeh, tidak percaya bahwa lelaki ini tiba-tiba melontarkan lelucon di saat seperti ini. Lagipula, permintaan Luhan terdengar tidak lebih dari sekedar gombalan.

"Sudah berapa wanita yang kau goda dan kau minta dengan cara seperti ini, Tuan?" Xiumin menopangkan dagu di atas kedua lututnya yang tertekuk sambil menatap Luhan jenaka.

"Sejauh ini," Luhan pura-pura berpikir sambil menirukan posisi Xiumin, "hanya kau, Nona."

Tanpa sadar, dengan posisi seperti itu di tangga yang sempit ini, keduanya menjadi berhadap-hadapan dengan jarak yang sangat dekat hingga hembusan nafas keduanya saling menerpa wajah satu sama lain.

"Benarkah," Xiumin tertawa lepas, menganggap segala ucapan Luhan hanya bualan semata. Melihat tawa Peri untuk pertama kalinya, membuat Luhan tidak bisa untuk tidak ikut tertawa.

Namun kemudian, Luhan menggumam mengiyakan dengan tatapan serius yang dalam dan senyuman lembut. Xiumin balik menatapnya, mencari-cari kebohongan di balik manik coklat tua itu. Tapi ia tidak menemukannya. Dan tawanya berangsur menghilang saat Luhan terus menatapnya dengan lembut dan penuh keyakinan, memintanya untuk percaya. Dadanya berdesir lembut.

"Benarkah," Xiumin kembali bertanya dengan suara yang tidak lebih keras dari bisikan. Sebagian dari dirinya berharap bahwa Luhan tidak sedang mempermainkannya, sebagian lagi sulit mempercayai perkataan orang asing ini.

"Percayalah padaku," Luhan ikut berbisik.

Begitu saja, Xiumin tiba-tiba menemukan dirinya kembali melakukan apa yang lelaki ini pinta tanpa pikir panjang. Ada apa dengannya.

"Mengapa kau menginginkanku pergi bersamamu?" Xiumin mengerjabkan matanya bingung, "apa kau tidak mengenaliku?"

"Apa maksudmu?"

Xiumin menutup matanya rapat, tidak mengerti apakah lelaki ini benar-benar tidak tahu atau hanya memancingnya untuk mengaku.

"Apa kau tidak mengetahui aku ini wanita macam apa?" Xiumin membuka mata dan menatap Luhan.

Luhan mendapati pantulan mata yang tajam, tapi jika dilihat lebih dalam, manik itu juga memperlihatkan seberapa keras kehidupan menempanya selama ini, penuh dengan perasaan letih dan tegar sekaligus. Luhan terkesiap. Bukan perasaan iba yang saat ini menyergapnya, namun perasaan menyesal mengapa ia tidak menemukan wanita ini lebih cepat. Mungkin dengan begitu, kedua mata indah itu akan memancarkan sinar yang berbeda. Luhan mengulurkan tangan, menyelipkan anak rambut Xiumin yang keluar dari kuncirannya ke belakang telinga,

"namaku Luhan, mari kita mulai semua dari awal."

Luhan tidak menjawab pertanyaan Xiumin, tapi keduanya mengetahui apa yang tidak terucap.

Xiumin kembali menutup matanya menikmati sentuhan kecil dari Luhan. Sentuhan hangat seperti ini sudah lama sekali tidak ia rasakan, ia hampir melupakan betapa teduhnya perasaan ini. Perasaan aman karena ia tidak sendiri, nyaman karena mengetahui masih ada seseorang yang rela berada di sisinya. Sebuah senyuman pedih terukir di bibirnya dan tanpa perintah air matanya mengalir turun perlahan,

"aku bukan wanita baik-baik, Luhan."

Xiumin tahu ia tidak boleh berharap, ia tahu posisinya.

"Aku juga bukan pria baik-baik," tangan Luhan berpindah turun menghapus bercak air mata di pipi kiri Xiumin.

Xiumin membuka mata perlahan saat merasakan tangan yang besar dan hangat menangkup wajahnya. Ia benar-benar bingung sekarang. Apa lelaki ini tidak memahami ucapannya barusan? Mengapa ia masih disini, masih menatapnya seperti itu, masih mencoba membuatnya berhenti menangis?

"Apa kau mendengarkan aku?" Xiumin menepis tangan hangat yang masih mengusap pipinya, nada suaranya terdengar sedikit frustasi.

Luhan lagi-lagi hanya menggumam.

"Lalu? Kau seharusnya menarik kata-katamu kembali."

"Mengapa aku harus melakukan itu?"

"Apa maksudmu mengapa? Kau tidak mengerti!"

Xiumin sudah akan beranjak tapi jawaban lelaki itu membuatnya terpaku.

"Itu bukan masalah."

Xiumin tidak bergeming. Menunggu apa yang akan ia ucapkan.

"Itu bukan masalah," Luhan mengulang seraya menarik tangan Xiumin ke dalam genggamannya dan membawanya kembali duduk, "bukankah aku sudah mengatakan untuk memulai semua dari awal."

Xiumin terdiam mengamati tautan jemarinya dengan lelaki di sampingnya. Lagi-lagi perasaan teduh yang sama menghinggapinya.

"Tapi kau seharusnya lari menjauh dariku."

Mereka terdiam lama, memaku pandangan satu sama lain dan merasakan perubahan hawa yang begitu kentara melingkupi mereka. Sebuah ketegangan yang selalu hadir di antara mereka kini terasa semakin kuat.

"Well, kau juga seharusnya menjauh dariku. Kita sama-sama bukan orang baik, kan?"

"Benar."

Sebelum akhirnya ketegangan itu membuncah.

"Kita tidak seharusnya bertemu."

"Tentu tidak."

Dan, bibir keduanya bertemu dalam sebuah ciuman.

.

.

.

Entah bagaimana, Xiumin kini telah berada di bawah kungkungan lengan Luhan di atas ranjang, masih saling berpagutan dalam cumbuan yang panas membara. Bibir Luhan turun menelusuri dagu, leher dan pundak Xiumin yang terbuka karena kerah kaos yang begitu rendah. Memberikan beberapa kecupan dan hisapan dalam-dalam hingga kulitnya membengkak kemerahan.

"Luhan," Xiumin memanggil namanya dalam desahan, "Luhan."

Xiumin mengerang tertahan, jemarinya meremas rambut Luhan pelan, mengarahkan bibirnya untuk kembali bertemu, kali ini dalam ciuman yang lambat dan menyeluruh. Bagai candu, keduanya sulit untuk melepaskan tautan, bahkan saat berhenti untuk mengambil nafas bibir mereka masih bersentuhan.

Xiumin menyapukan telapak tangannya di kedua sisi wajah Luhan, menaiki kepala dengan rambut panjang yang terurai membingkai rahang, menuruni tengkuk dan melingkar di bahu lebar,

"aku akan ikut denganmu, Luhan," Xiumin bersuara dengan nafas satu-satu.

Luhan yang masih terselimuti kabut gairah belum begitu bisa mencerna perkataannya, apalagi di bawahnya kini tubuh hangat Perinya terengah-engah dengan mata sayu, pipi memerah dan bibir membengkak karena ciumannya. Luhan hanya bisa melenguh tanpa makna.

Xiumin terkekeh menyaksikan Luhan kehilangan fokusnya, ia lalu menepuk pelan kedua pipinya, "kubilang, aku akan ikut denganmu, Luhan," ujarnya perlahan-lahan.

Seketika itu pula mata Luhan melebar, menatap Xiumin yang tengah tersenyum manis, tanpa berkedip. Sedetik kemudian wajah Luhan berbinar,

"kau akan ikut?"

Xiumin mengangguk.

"Kau benar-benar akan ikut?"

Xiumin mengangguk sambil tergelak. Luhan menatap Xiumin dengan kebahagiaan yang meletup-letup,

"terima kasih," ucapnya.

Xiumin merasa hangat melihat lelaki misterius ini bisa begitu membuka diri di hadapannya, "tidak, Luhan, terima kasih."

Luhan mengecup dahinya lama. Kemudian, menuntun Xiumin berbaring di sisinya dan memeluk tubuhnya erat. Xiumin menengadah, "dan, Luhan," Luhan meregangkan lengannya sedikit untuk menatap wajah Xiumin di bawah dagunya,

"namaku Xiumin, mari kita mulai semua dari awal."

.

.

.

Xiumin tidak tahu kapan dia memejamkan mata dan tertidur, mungkin saat ia berada di dalam pelukan hangat Luhan yang membuatnya merasa begitu nyaman. Lengan Luhan terasa seperti rumah. Sebuah tempat yang sudah ia lupakan, perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak ia tinggal sebatang kara di Miami.

Saat terbangun ia sudah berada di jok belakang mobil dengan Luhan di kursi kemudi. Ia menahan kuap sambil mengusap kedua matanya yang masih terasa sedikit berat karena kantuk. Perlahan ia duduk dan menangkap tatapan Luhan dari kaca spion.

"Awake, Sleeping Beauty?" gurau Luhan.

"Terkejut karena kau tidak perlu memberikan true love kiss untuk membangunkanku, My Prince?"

"Bukankah aku sudah memberikanmu banyak ciuman tadi, Xiumin," balas Luhan menggoda meskipun pipinya sendiri memerah—ciuman Xiumin masih terasa menggelitik bibirnya.

"Kau benar. Those kisses will keep me awake for a lifetime," Xiumin membisikkan kalimat terakhir tepat di samping telinga Luhan yang kian memerah, apalagi kini ia tengah mengalungkan lengannya di sekeliling leher Luhan dari belakang.

Mobil itu sedikit oleng ke kiri.

Xiumin tertawa keras sambil berpindah duduk di jok depan.

"You are cute, Luhan," ujarnya di sela tawa.

Luhan tercekat dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya,

"I am not!"

Xiumin kembali tertawa, tidak menanggapi penolakan kuat dari lelaki itu, justru menaikkan volume suara radio yang mengalunkan West Coast milik Lana Del Rey. Ia bersenandung pelan mengikuti lirik yang ia hafal, menyandarkan kepala di tangan yang terlipat di atas daun jendela yang terbuka lebar. Rambut oranyenya berantakan tertiup angin, tapi ia tidak peduli. Ia merasa di atas awan sekarang. Permasalahan apapun yang ia pikirkan tadi seakan semakin menghilang seiring dengan semakin jauh ia meninggalkan kota ini.

Entah mengapa bersama Luhan ia merasakan banyak hal baru yang tidak pernah ia bayangkan akan dialaminya. Semua ini berlangsung begitu cepat, satu detakan jantung dan, begitu saja, semuanya berubah. Sebelum Luhan hanya ada Xiumin yang menjalani hari tanpa memikirkan masa depan, terus terjebak dalam masa lalu. Luhan menyanyikan nada baru dalam lagu hidupnya yang statis—kalau kau bisa mengatakannya hidup karena Xiumin hanya tidak mati—dan memberikannya sedikit nyawa.

Ia tidak mengerti apa yang telah dilakukan lelaki ini padanya, tapi ia tahu pasti bahwa ia tidak sedikitpun menolaknya. Ia tidak tahu siapa Luhan dan begitu pula sebaliknya. Ia hanya percaya.

'Selamat tinggal, Miami.'

Kemanapun Luhan membawanya, ia akan mengikuti.

.

.

.

Luhan menoleh ke arah Xiumin, tanpa sadar tersenyum lembut mendapati wanita yang kini tengah memejamkan kedua matanya meskipun mulut kecilnya terus bergerak menggumamkan lirik. Bias sinar mentari yang terbenam menerpa kepalanya, seakan membingkai, membentuk halo di sekelilingnya. Di matanya, Xiumin nampak sangat indah seperti ini. Ia berharap dirinyalah alasan wanita itu tidak lagi mendung dan menampilkan senyuman kecil yang kini menyinari wajah mungilnya.

Ia berjanji demi apapun untuk menjaga agar Xiumin tetap tersenyum di sisinya seperti ini.

.

.

.

Sesampainya di hangar bandara privat Miami, Luhan memarkir sedannya tidak jauh dari pesawat pribadi yang akan mereka naiki. Seseorang melambaikan tangan ke arah keduanya, nampak telah menunggu kedatangan mereka. Ia lelaki dengan tubuh ceking dan rambut hitam yang terurai tertiup angin. Dari dekat ia memiliki wajah oriental yang sedikitnya berkarakter sama tapi juga berbeda sekaligus dengan milik Luhan. Garis wajahnya halus dan keras terkombinasi. Dengan senyum lebar yang menampilkan deretan giginya, ia mengucap halo dan memeluk Luhan singkat.

"Xiumin, ini Byun Baekhyun," Luhan menuntun Xiumin untuk berdiri di sampingnya, "Baek, ini Xiumin."

Xiumin tersenyum canggung, ia tidak biasa bertemu dengan orang baru. Berbanding terbalik dengan lelaki—Baekhyun—yang kini tengah tersenyum ramah ke arahnya.

"Hai, Nona, senang bertemu denganmu. Tapi bisakah aku pinjam Tuan Lu sebentar?" izinnya sambil menarik Luhan menjauh darinya.

Luhan sedikit berontak dan menghempaskan lengan Baekhyun saat mereka sudah agak jauh dari Xiumin.

"Apa yang kau inginkan, Baek," bukan pertanyaan, seperti biasa dari seorang Luhan.

"Siapa wanita itu?"

"Bukankah sudah kubilang dia Xiumin?"

Baekhyun memutar matanya.

"Aku tahu itu. Maksudku, Xiumin itu siapa?"

"Oh. Dia hanya, eh, Xiumin."

"Sangat jelas," ucap Baekhyun sarkastis, "jadi, sekarang kau memutuskan untuk tertarik dengan manusia?"

"Maksudmu apa," dahi Luhan berkerut.

"Aku pikir selama ini kau adalah seorang apatis layaknya robot yang mati rasa," Baekhyun berujar dengan suara kecil, "anyway, dimana kau temukan wanita ini? Dia cukup manis dan seksi," tanyanya sambil mengamati Xiumin dari jauh dengan senyuman nakal.

Dahi Luhan semakin berkerut. Sebelum ia sempat menjawab, Baekhyun sudah melontarkan komentarnya lagi.

"Tapi sekalipun ia seksi, kau tidak seharusnya membawa seorang pelacur bersama kita, lagipula kau akan temukan pelacur lainnya di Ma-" Baekhyun terdiam saat ia merasakan besi dingin—moncong pistol handgun—menempel di pelipisnya.

"Jaga mulutmu, Byun, atau aku akan meledakkannya bersama kepala kosongmu."

Nada suara Luhan begitu dingin dan menusuk, tidak menyediakan ruang untuk berargumentasi.

"Kau sedang mengancamku, Lu?" Baekhyun terbelalak sambil menolehkan kepala dengan cepat menghadap Luhan.

Luhan menarik pelatuk sebagai jawabannya.

"OH MY GOD! KAU-" tak disangka, Baekhyun justru tertawa keras sembari bertepuk tangan dan menatap Luhan dengan mata yang berkilat-kilat senang, "SELAMAT, KAU MENUNJUKKAN EMOSI, LUHAN! KAU SEDANG CEMBURU! NONA XIUMIN KAU SANGAT AMAT DITERIMA DI PERJALANAN KITA!"

Baekhyun berteriak-teriak seperti orang gila, mendekat ke arah Xiumin dan meninggalkan Luhan tercengang mendapatinya. Tawanya membahana di hangar yang lengang, membuat Luhan berjengit. Bergegas ia berjalan cepat mendahului Baekhyun dan menggandeng Xiumin masuk pesawat sebelum lelaki itu melakukan hal yang lebih aneh daripada ini.

"You are so whipped already, Lu, so whipped."

Baekhyun belum pernah tertawa sebanyak ini selama hidupnya.

.

.

.

A/N:

Halo! It's been a long long time.

Maaf, aku tidak punya alasan selain kehidupan nyata.

Tidak banyak yang terjadi di part ini, hanya seperti sebuah filler. Tapi, part ini menjelaskan dinamika hubungan Lulu dan Umin yang berubah secara cepat. Ini menunjukkan bahwa hubungan mereka sudah terbentuk kuat dari awal (dan tidak akan ada pihak ketiga, fyi). Sekaligus memperlihatkan perkembangan karakter keduanya.

Semoga kamu menyukai update ini.

APA KAMU SUDAH MENDENGAR LAGU-LAGU BARU DI EXOLUXION KEMARIN (JIKA BELUM, KAMU HARUS)

Terima kasih yang sudah membuang waktu membaca cerita dan review dan fave dan follow. Aku sangat menghargai itu. Dukungan kamu membuatku bersemangat.

Sampai ketemu di part depan, bagi kamu yang sudi menunggu lol.

Luhan is straw to Xiu's berry.

Kthxbye.

Hyejinpark : sebenarnya aku suka sekali novel Godfather-nya Mario Puzo. Analisis litwork? Wow. Jurusan sastra inggris?

Pekerjaan Luhan masih menjadi bagian dari plot yang belum kujabarkan haha.

There is no other panda, right? Dan Wu, yah, sebenarnya nama itu kuketik begitu saja tanpa pikir panjang, maafkan.

Terima kasih atas reviewnya, semoga kamu suka part depan.