Disclaimer applied.
# 5.5 : Solitary
Kim Minseok tidak pernah mengenal ibunya. Baginya, ayah adalah segalanya. Jadi Minseok tidak mengerti mengapa guru memarahinya ketika ia tidak mengerjakan tugas menggambar Ibu. Mengapa gurunya tidak menjawab ketika ia bertanya apa itu ibu?
Tetapi, Minseok tidak mengerti mengapa teman-teman sekolahnya menunjuk dan menertawakannya karena tidak mengerti ibu itu apa. Saat ia bertanya apa yang mereka bicarakan, teman-temannya justru menatapnya aneh dan mendorongnya dari ayunan, mereka berkata anak-anak tanpa ibu tidak boleh main ayunan. Minseok menangis keras karena ayunan adalah mainan kesukaannya.
Minseok sungguh tidak mengerti karena ia tidak mengetahui siapa itu ibu.
.
.
.
Kim Minseok berusia dua belas tahun saat ayahnya dipromosikan menjadi intelijen Korea Selatan. Pekerjaan dengan pendapatan yang begitu besar, sebesar resiko yang ditimbulkannya pula. Minseok mengingat ayahnya mengajaknya pergi bermain ke taman hiburan sebagai hari perayaan. Minseok juga mengingat hari perayaan itu sebagai hari terakhirnya sebagai Kim Minseok, anak kesayangan ayah.
Sebagai intel, ayahnya tidak dapat memiliki kelemahan yang dapat dengan mudah dilacak. Dan negara percaya bahwa hubungannya dengan anaknya adalah kelemahan itu, sehingga mereka memusnahkannya. Begitu saja.
Kim Minseok, dua belas tahun, kini menjadi Xiumin, dua belas tahun. Tinggal di panti asuhan, tidak punya siapapun. Tidak punya ibu, tidak punya ayah. Tidak ada Kim Minseok.
Ayah mendudukkannya di ayunan di taman bermain panti asuhan, memeluk sambil tersenyum hangat kepadanya dan berpamitan untuk berangkat bekerja. Ayah tidak kembali hingga malam keesokan harinya saat Minseok sudah akan berlayar ke alam mimpi dan memeluknya hingga ia terlelap—tapi pagi harinya, ayahnya sudah tidak lagi di sampingnya. Begitu terus, hingga suatu saat, satu hari tidak bertemu menjadi dua, lima, sembilan, lima belas, tiga puluh, bahkan angka setelah angka kesukaannya, sembilan puluh sembilan hari.
Di hari keseratus, Minseok duduk di mainan kesukaannya, ayunan. Bukan tawa lebar yang biasa menyertainya, tapi kini air mata yang mengalir. Ia menangis, merindukan ayahnya.
Ia sungguh tidak mengerti mengapa, tapi di usia dua belas tahun ia telah memahami perasaan kehilangan ayah.
.
.
.
Xiumin tidak lagi menanti ayah. Xiumin lima belas tahun sudah mengerti pekerjaan ayahnya. Ia masih merindukannya tapi ia akan bersabar menanti. Lagipula, ia punya teman-teman yang bahkan tidak pernah bertemu seorang ayah selama hidupnya, jadi ia tidak akan menangis—meskipun ia juga tidak tertawa—karena ia masih punya ayah, sekalipun ia hanya bisa bertemu dengan ayah dalam hitungan jari.
.
.
.
Saat Xiumin berusia delapan belas tahun, ia meninggalkan panti asuhan dan tinggal di apartemen kecil di Seoul yang telah disewa ayahnya. Ia tinggal di kamar 21 dan ayahnya tinggal di kamar 20—jika bisa dikatakan tinggal, karena ayah jarang sekali di rumah—tapi di tengah-tengah tembok tipis pemisah kamar keduanya terdapat pintu penghubung. Tidak seorangpun boleh tahu hal ini, tapi itu bukan masalah bagi Xiumin.
Sebab, sekali lagi, ia bisa menjadi Kim Minseok. Di ruangan ini saja, dengan Ayah.
.
.
.
Ayahnya ditugaskan ke Miami saat Minseok berumur dua puluh satu tahun lebih satu minggu—ia merayakan hari ulang tahunnya dengan kue tar mini dan banyak lilin bersama ayahnya di seberang telepon di belahan dunia lain—dan sekali lagi harus menjadi Xiumin.
Minseok tidak tahu mengapa kali ini ia harus mengikuti ayahnya ke Miami, yang ia tahu hanya jika kasus ini selesai ayahnya akan dibebastugaskan dan mereka dapat kembali hidup sebagai keluarga Kim normal seperti dulu. Ia tidak sabar menanti hari itu datang.
Ayah menceritakan padanya bahwa beberapa langkah lagi akan membawanya bertemu dengan kepala mafia dalam kasus yang sedang ia tangani dan menangkapnya. Tunggu sesaat lagi dan kasus ini akan selesai. Tinggal sedikit lagi dan mereka akan kembali pada keluarga kecil miliknya. Sebentar saja, Minseok.
Tapi, belum genap empat bulan mereka menetap di Miami, ia harus mengucapkan selamat tinggal pada ayahnya. Selamat tinggal pada kehidupan normalnya. Selamat tinggal pada keluarga kecil impiannya. Selamat tinggal Kim Minseok.
.
.
.
Xiumin dua puluh satu tahun, tinggal di Miami. Tidak lagi bersekolah karena ia tidak sanggup membiayai. Tidak punya tempat tinggal. Tidak punya pekerjaaan. Tidak punya ayah. Sebatang kara.
.
.
.
a/n
okay. Jadi ini hanya sebuah kilas balik kehidupan Minseok sebelum menjadi Xiumin.
sekalipun singkat, bagian ini adalah bagian basis dari cerita yang sudah lebih dulu kubuat sebelum aku mulai menulis. Jadi, mungkin, bagian ini juga memegang peranan penting dalam perkembangan cerita secara keseluruhan. Meskipun memang banyaaaaak sekali hal yang aku lewati selama hidup Minseok lol
Dan, entah tersampaikan atau tidak, tapi semoga bagian ini bisa menggambarkan perasaan solitary.
Aku tidak bisa menjanjikan kapan aku akan menyelesaikan part selanjutnya tapi aku sedang menulisnya. So, rest assure, it might not be that long lol
Lastly, fellow exo-l, mungkin atau tidak, akhir-akhir ini adalah waktu yang sedikit berat buat kita 'kan? Tapi tetap percaya Tao dan tetap percaya EXO.
Aku mendukung exo dan akan tetap begitu seterusnya. Semoga kamu juga begitu. Saranghaja.
Kthxbye.
