Disclaimer applied.

Warning: italic inside bracket (exp: [asdfg]) is a phone conversation

# 6 : Vow


Luhan meninggalkan kokpit dan berjalan ke arah kabin, waktu menunjukkan dini hari dan masih ada beberapa jam lagi sebelum mereka tiba di Makau. Xiumin sedang terlelap di kursi pesawat yang dibaringkan, kedua lengannya mendekap tubuhnya tampak sedikit kedinginan. Dengan sigap Luhan mengambil selimut dan memakaikannya pada wanitanya, lalu berlutut di sisinya, menyingkirkan poni yang menghalangi mata yang tertutup dan mengusap pelan tulang pipinya. Ia sudah akan mengecup dahinya jika saja ia tidak mendengar pintu toilet yang terbuka.

"Kau bisa menciumnya, Luhan, " Baekhyun berbisik menggodanya.

"Tutup mulutmu, Baek," Luhan bangkit berdiri, berjalan ke kursi di seberang Xiumin dan menghempaskan tubuhnya berat, "aku benci sekali harus berada di penjara besi yang melayang tanpa pintu keluar ini," ujarnya sambil bergumam.

Luhan hanya sedikit takut ketinggian.

Baekhyun tertawa geli.

"Agen robot yang takut ketinggian adalah hal yang sangat sulit dipercaya," Baekhyun ikut duduk di hadapan Luhan.

Luhan menatap Baekhyun dengan tatapan tidak tertarik.

"Aku bukan robot dan, well, faktanya, setiap orang di dunia ini selalu punya setidaknya satu phobia. Aku tidak terkecuali. "

Luhan tengah berniat menutup matanya sejenak saat Baekhyun memanggil namanya, nadanya terdengar serius dan berat.

"Lalu, wanita itu?" tanya Baekhyun dengan tatapan penuh arti.

"Dia tidak membuatku takut, justru sebaliknya."

.

.

.


"Kau... sudah memperhitungkan semuanya?"

"Xiumin?"

"Ya. Kau tahu kalau anak-anak tidak akan menyukainya 'kan?"

"Aku tahu," Luhan memalingkan wajahnya ke arah jendela, langit yang gelap menyambutnya, "tapi aku tidak akan meninggalkannya di Miami." Tidak di manapun.

"Apa yang akan kau lakukan nanti?"

"Aku akan membawanya ke point zero."

Baekhyun memekik tertahan.

"Apa kau gila?! Mereka akan membunuhmu, kau ta-"

"Tidak akan terjadi, Baek. Mereka tidak akan membunuhku, atau tidak akan bisa lebih tepatnya."

"Iya, oke, baiklah, kau benar. Itu tidak mungkin terjadi. Tapi bukan berarti kau bisa melakukan apapun, ka-" lagi-lagi Baekhyun dipotong.

"Benarkah? Watch me."

"Kau memang selalu keras kepala, hyung," Baekhyun menggeleng pasrah.

"Hyung," setelah terdiam agak lama Baekhyun memanggilnya lagi, tapi kali ini dengan suara yang sedikit kaku, "Wu ditembak di dalam ruang kerjanya dan kemungkinan besar pelakunya tahu apa yang sedang Wu coba lakukan," rasa kantuk Luhan menghilang seketika, rahangnya mengeras, "pelakunya tertangkap saat ia mencoba kabur di gerbang timur tapi Wu tewas seketika, ia ditembak tepat di tengah-tengah dahinya."

Wu Yi Fan adalah pebisnis besar di Makau, seperti halnya taipan mainland lainnya, ia menjalankan bisnis—legal dan juga ilegal, tentunya—yang menghasilkan banyak uang. Katakan saja dalam bisnis ilegalnya ini, Wu bisa dengan mudah memanfaatkan koneksinya untuk menelusuri oknum-oknum yang tengah dicari Red Lotus. Orang baru ini perlu tahu siapa bosnya kata Wu dan Red Lotus sanggup membayar mahal—sangat mahal—jika Wu sanggup membereskan misi ini. Tapi Wu menolak—padahal ia seorang pengusaha rasional hingga ke tulang-tulangnya. Hitung sebagai balas budi yang belum dibayarkan, begitu kata Wu. Namun, tugas Red Lotus dalam misi ini salah satunya adalah menjamin nyawa Wu, jika keamanan mereka bisa dipecah, hal ini hanya berarti dua; pelakunya punya informasi dalam atau pelakunya benar-benar berkemampuan tinggi. Tapi Luhan meragukan nomor dua karena anak-anak bukan orang sembarangan, jadi ini menyisakan pilihan nomor satu.

"Orang dalam?" dan Luhan menanyakan hasil pemikirannya pada Baekhyun.

"Ya, salah satu tukang kebun baru Wu ternyata adalah mata-mata dari sumber yang belum kita ketahui tapi Soo, maksudku Kyungsoo," Baekhyun berdeham kecil menutupi selip lidahnya, "masih berusaha mendapatkan lebih banyak informasi."

"Tukang kebun baru? Seberapa baru?"

"Sebelum kita sampai di Makau, Lu, tentu saja," Baekhyun menyanggah cepat saat dilihatnya wajah Luhan semakin menggelap. Untungnya, Luhan terlihat sedikit rileks saat mendengar jawaban Baekhyun selanjutnya, "itu sama sekali di luar kendali kita."

Mata-mata ini jelas tahu apa yang dilakukannya dan ia punya banyak banyak keberanian untuk mencoba membunuh singa di dalam kandangnya. Luhan jadi berpikir siapa yang mengirim mata-mata ini? Sejauh mana ia tahu soal Wu atau Red Lotus.

"Ia tahu soal klan?"

"Eh, entahlah. Kita belum tahu itu."

Ini baru sebuah masalah. Jika ada orang luar yang mengetahui gerak-gerik Red Lotus, ia tidak bisa dibiarkan berkeliaran bebas lebih lama.

Baekhyun menggeleng pelan dengan mata tertunduk.

.

.

.


Makau. Distrik di tengah-tengah nuansa yang oriental tapi berdiri kokoh dengan nuansa venesian. Kontras yang sangat kentara menjadikannya begitu memikat. Bangunan-bangunan dengan arsitektur Barat memenuhi sudut-sudut kota yang dipenuhi oleh orang-orang Timur. Tidak hanya itu, konglomerasi judi dengan gaya Barat yang dipenuhi oleh permainan judi ala Cina juga begitu kentara. Kasino-kasino raksasa yang menjadi roda penggerak Makau adalah atraksi yang paling dituju, bahkan kasino terbesar dunia adalah milik Makau, tidak pernah tidur dan terus gemerlapan selayaknya julukan untuknya: Monte Carlo di tengah Orien—bahkan mungkin sesaat lagi kutub akan berputar, Vegas yang akan menjadi Makau di Barat—.

Kau bisa temukan chinatown di belahan manapun di dunia, tapi westside di tengah-tengah Cina adalah hal yang berbeda sama sekali. Seperti sebuah anomali. Mungkin karena hasil koloni Portugis masih terus melekat di setiap sudut Makau—bangunan, taman, makanan, hingga bahasa—nafas Makau menjadi berbeda dengan areal lain Cina.

Xiumin berkendara bersama Luhan yang kini tengah mengarahkan mobil semakin jauh dari tengah kota—Baekhyun menaiki mobil lain di depan mereka dengan seorang wanita bernama Kyungsoo dan seorang lelaki bernama Sehun. Hari yang masih sangat pagi membuat jalanan lengang. Luhan terus memacu mobil dengan kecepatan tinggi ke utara sampai ke jembatan yang menghubungkan Cotai Strip dan metro, kini pemandangan di metro Makau berubah ketika mereka melewati gedung-gedung pencakar langit, kasino-kasino besar, bangunan dan landmark bergaya art deco dan jalanan yang kental dengan karakter Portugis. Dan akhirnya memasuki sebuah rumah, atau lebih tepatnya manor, dengan besarnya pagar, luasnya taman dan megahnya hunian.

Luhan mengganti roda gigi mobil dan menghentikan mobilnya. Tapi ia masih belum beranjak dari kursi kemudi, hanya melepas sabuk pengaman dan menghadapkan tubuhnya ke arah Xiumin. Tanpa kata, ia juga melepaskan sabuk pengaman Xiumin, wanita itu sedikit terkejut saat Luhan merapat ke dalam ruang privasinya sebelum akhirnya kembali tenang, seolah sudah terbiasa dengan kedekatan semacam ini di antara mereka. Kemudian, Luhan menggenggam ringan kedua tangan Xiumin, membawanya menghadap Luhan.

"Luhan."

Xiumin justru yang membuka suara pertama kali.

"Ya?"

"Ada suatu hal yang perlu aku tanyakan padamu," Xiumin berujar serius.

"Hal apa?" Luhan merasakan sedikit ketegangan tercipta.

"Apa kau akan memberitahukan padaku mengapa kau membawaku kemari?"

Luhan terlihat sedikit gusar.

"Maksudku, aku tidak keberatan dengan tempat manapun, asalkan itu jauh dari Miami, tapi...yah, kau tahu maksudku."

Mereka berdua terdiam lama, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Xiumin mengamati pergerakan kecil di wajah Luhan, apa yang ia pikirkan? Xiumin belum terlalu mengenal Luhan tapi entah mengapa ia bisa mengartikan gerak-gerik lelaki ini seakan mereka sudah bersama seumur hidup. Tapi, kali ini Xiumin merasakan Luhan menarik diri darinya, mendirikan batas perlahan-lahan di antara mereka dan perasaan itu membuat perutnya melilit. Xiumin tidak menyukai perasaan ini.

"A-aku, mungkin, sedikit banyak, tidak berbohong saat mengatakan aku bukan lelaki baik-baik... " Luhan berujar cepat untuk menutupi kegugupannya. Ia tidak berani menatap muka Xiumin.

"Hah? Apa maksudmu?"

"Maafkan aku, nanti setelah kau tahu semuanya ka-kau bisa melakukan apapun padaku, tapi aku tidak bisa meninggalkanmu di Miami," Luhan mengeratkan genggamannya pada tangan Xiumin sebelum melepaskannya perlahan, seperti memberikan Xiumin ruang untuk bernafas. Tapi Xiumin justru merasa tercekat.

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Luhan, tapi kau tidak perlu meminta maaf," Xiumin menangkap tangan Luhan sebelum genggamannya terlepas, "aku setuju untuk ikut denganmu, 'kan, lagipula aku juga sudah tahu kau bukan lelaki biasa sejak kau muncul di lorong malam itu. Meskipun, aku tidak benar-benar tahu seberapa tidak biasanya kau," Xiumin tersenyum kecil mengingat Luhan dengan sigap menjatuhkan bajingan itu sekali pukul.

"Dan, Luhan, bagian mana dari diriku yang pantas mendapatkan lelaki baik? Aku bukan wanita baik-baik," Luhan nampak tidak setuju tapi Xiumin hanya menggelengkan kepalanya, "lagipula, aku akan memilih kehidupan manapun daripada kehidupanku di Miami," Luhan perlahan menatapnya kembali. Xiumin bernafas lega, tidak menyadari bahwa ia menahan nafas semenjak Luhan mengalihkan wajah darinya.

"Sekalipun kau tidak tahu apa pekerjaanku dan kemungkinan bahwa kehidupanku ini akan membahayakan nyawamu?" Luhan bertanya lirih.

"Sejauh yang kuingat, aku selalu hidup di ujung tanduk selama aku bernafas, Luhan, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku," Xiumin menggeleng sekali, "kau tidak bertanggungjawab atas hidupku."

Sekalipun Xiumin bukan wanita kuat tapi ia sanggup bertahan hidup jauh dari ayahnya. Ditambah lagi, ayahnya, orang terdekat dalam hidupnya dulu, tergabung dalam satuan pasukan khusus, yang pekerjaannya juga tidaklah jauh dari milik Luhan—meskipun, mungkin mereka berada dalam jalur yang berkebalikan. Ia sanggup bertahan walaupun akhirnya pekerjaan ayahnya pula yang merenggutnya dari Xiumin selamanya. Dan ia juga sanggup bertahan hidup sebatang kara sekalipun terkadang ia merasa hidup di neraka akan jauh lebih baik daripada hidupnya di Miami.

"Aku ingin melakukannya," tegas Luhan tiba-tiba.

"Hah?"

"Bertanggungjawab atas hidupmu, aku ingin melakukannya."

Xiumin tertawa renyah, "kita lihat saja nanti, Luhan. Jangan buat janji yang tidak bisa kau tepati," karena aku tahu seperti apa sakitnya berada dalam janji yang hanya akhirnya diingkari.

"Jadi... kau tidak marah atau terkejut atau, um, semacamnya?" Luhan menatapnya ragu.

"Tidak," Xiumin menjawab mantap, "hidupmu adalah pilihanmu, Luhan, aku tidak perlu mempermasalahkan itu, seperti kau juga tidak mempermasalahkan hidupku," Xiumin bisa melihat Luhan menghela nafas lega, dan itu membuatnya tersenyum lebar. Hanya saja hal ini menyisakan satu pertanyaan di kepala Xiumin.

"Tapi, apa yang membuatmu mengatakan ini semua padaku, Luhan?"

"Aku..." Luhan berhenti sebentar untuk menata ucapannya, "ada alasan yang kuat mengapa kau harus tahu identitasku."

"Alasan apa?" Xiumin sedikit berjengit membayangkan skenario terburuk dari alasan yang akan diberitahukan Luhan. Tapi saat Luhan mengeratkan genggaman tangannya lagi, Xiumin menjadi sedikit tenang. Selalu Luhan dengan perasaan nyaman yang dibawanya.

"Aku berjanji akan menjelaskan semuanya nanti setelah aku menyelesaikan tugas di sini. Kau bisa menunggu, Xiumin?"

"Menunggu? Maksudmu... kau ingin aku tetap tinggal bersamamu?" manik mata Xiumin melebar, rasa ingin tahu dan keterkejutan melebur menjadi satu. Karena, sejujurnya, Xiumin berprasangka bahwa Luhan hanya akan mengajaknya keluar Miami, bukan pergi bersama setelah keluar Miami. Maksudnya, Xiumin tidak akan pernah mengharapkan hal semacam itu akan dilakukan Luhan untuknya. Baginya, sempat menemukan Luhan adalah momen yang akan ia jaga sepanjang umurnya. Tapi, sungguh, ia tidak menantikan apapun bagi mereka. Bagi Xiumin dan Luhan. Xiumin sudah terbiasa sendiri dan konsep kebersamaan baginya sangatlah asing.

"Bukankah itu sudah jelas?" pertanyaan Luhan terdengar seperti pernyataan. Dan Luhan juga sedikit terkejut karena menurutnya setiap perbuatannya pada Xiumin sudah cukup meneriakkan maksudnya.

Tentu saja, Luhan dan segala perbuatan yang tidak terduga miliknya.

Xiumin termenung menatap Luhan lama dengan manik kelamnya, menenggelamkan Luhan dalam samudra tanpa batas. Luhan ingin tinggal di dalamnya, meskipun itu berarti ia harus menyerahkan seluruh napasnya. Begitu hanyut dalam arus, Luhan tidak menyadari tangan Xiumin tengah terulur ke arahnya, hingga ia merasakan telapak tangan kecil yang dingin itu menutupi kedua matanya. Luhan berhenti bernafas saat ia merasakan sebelah tangan Xiumin yang lain berhenti di pundaknya dan perlahan turun untuk merasakan detak jantungnya. Sekejap kemudian ia mendengar Xiumin bergerak ke arahnya.

Sesaat hingga ia merasakan sesuatu menyentuh dahinya yang tidak tertutup poni lembut, hanya sepersekian detik dan hilang. Xiumin melepaskan tangan yang menutupi matanya perlahan, tapi Luhan tetap memejamkan matanya saat hembusan nafas Xiumin menyapu wajahnya. Nafas Xiumin turun ke arah mandibulanya, dan sesuatu yang lembut itu kembali menyentuh Luhan. Kali ini tepat di bibirnya, menyapa sekejap dan hilang.

Xiumin berharap Luhan bisa membaca afirmasi dalam setiap gerak-geriknya. Karena sekalipun Luhan tidak menjawab satupun pertanyaannya, jawaban Luhan sudah cukup untuk saat ini. Xiumin sudah terbiasa menunggu seumur hidupnya, tapi mungkin barulah saat ini ia merasa penantiannya akan berujung.

.

.

.


Luhan masuk ke ruangan bawah tanah manor Wu, ruangan dengan pintu tersembunyi tepat di samping garasi yang dipenuhi deretan koleksi Rolls Royce. Pintu putih yang warnanya menyatu dengan tembok itu berderit pelan tapi bunyinya terdengar keras di ruangan tiga meter persegi yang sunyi. Baekhyun menoleh ke arah Luhan, di hadapannya duduk seseorang dengan tangan dan kaki terikat erat di kursi kayu. Juan Carlo, kaki tangan terrone.

Luhan menyeret kursi kayu di sudut ruangan dan menempatkannya di sisi Baekhyun sebelum ia duduk. Juan Carlo mengangkat kepalanya lemah, lebam-lebam yang diberikan Luhan di wajahnya beberapa hari lalu tampak menguning, membuatnya terlihat semakin kuyu dan menyedihkan. Carlo tidak sanggup menandingi Luhan ketika Luhan tiba-tiba menyergapnya di rumah pantainya di SoBe saat ia sedang akan bercinta dengan pelacur—karena Luhan dengan sigap menyambar tangan kanannya yang akan menggapai handgun di nakas dan memelintir pergelangan tangannya dengan keras—jadi Carlo pasrah saja saat Baekhyun mengikatnya dan menariknya masuk ke dalam bagasi mobil. Saat terbangun, ia sudah berada di dalam van di belahan benua lain—namun dia belum tahu ia berada dimana saat ini, tentu saja.

Dengan rahang menegang, Baekhyun menyingkap lengan baju Carlo yang ternoda darah dan lusuh untuk memperlihatkan lengan kirinya yang ditato tinta hitam dan merah dengan simbol yang sangat familiar bagi Luhan. Luhan melebarkan matanya sesaat, sebelum ia bisa menguasai diri dan menyipitkan matanya ke arah Carlo. Cukup lama Luhan terdiam mengamati tawanannya, memikirkan skenario-skenario yang mungkin terjadi.

"Jadi, Tuan Carlo, ceritakan bagaimana kau dapatkan tato itu," Luhan memilih untuk menanyakan pertanyaan kedua.

Carlo mengangkat kepalanya perlahan, menatap Luhan dengan tatapan tajam yang berarti ia tidak akan begitu saja mengaku. Luhan menilai ekspresi Carlo dengan pandangan malas, "kurasa kau ingin tahu rasanya dihajar sampai mati."

Mendengar hal itu, manik mata Carlo sedikit bergetar. Dengan kentara ia menelan ludah, mengingat bagaimana Luhan menghajarnya beberapa waktu lalu. Dan ia tahu lelaki dengan tubuh ceking ini tidak main-main.

"D-Don-Don yang me-memaksaku, eh, melakukannya," Carlo berujar gugup saat dilihatnya Luhan beranjak dari kursi di hadapannya.

"Terrone, hah," Luhan kembali duduk, "lanjutkan."

"Sa-saat pertama kali aku menangani trayek baru di Miami, Don menato semua anggota yang terlibat dengan tato yang sama. Tato ini digunakan saat kami harus bertransaksi dengan bandar baru Cina kalau kami tidak ingin mati—eh, setidaknya begitu kata Don."

"Bandar Cina?"

"Y-ya, Cina brengsek yang menghancurkan usahaku," Carlo menggumamkan kalimat terakhir pada dirinya sendiri.

"Dan kau bilang bandar baru?"

"Be-betul, eh, bandar Cina itu baru saja masuk ke dalam rute sekitar dua atau tiga tahun lalu. A-aku tidak yakin bagaimana tapi, eh, kurasa, Don ada hubungannya dengan itu. Hanya itu yang kutahu, su-sungguh."

"Aku simpulkan kau tidak tahu apa arti tato itu, hah," cebik Baekhyun.

Carlo menggeleng, "tidak, eh, itu tidak penting, selama ini mendatangkanku uang."

Baekhyun dan Luhan saling melempar pandangan penuh arti.

"Jadi pasti kau mengetahui siapa pimpinan bandar itu, bukan?" Luhan kembali angkat bicara.

Carlo terdiam untuk berpikir, kemudian ia menggeleng, "eh, tidak, tapi Don sering menyebutkan satu nama. Aku tentu ti-tidak tahu, eh, itu siapa tapi kurasa ia, eh, Fan Gang orang yang penting."

Sekujur tubuh Luhan menegang, rahangnya kaku dan matanya membulat terkejut. Ia mengarahkan pandangannya ke segala arah, roda gigi di kepalanya berputar tidak terkendali. Fan Gang. Luhan tersadar dari pemikiran-pemikirannya saat ia mendengar Baekhyun memanggil namanya. Dengan cepat Luhan beranjak dari duduknya, menolehkan kepalanya ke arah Baekhyun sebagai isyarat dan berbalik keluar ruangan.

Ini sebuah tantangan terbuka tentu saja, menempatkan kambing-kambing umpan di teritori serigala. Dan ini berarti, serigala tidak perlu lagi mengejar kambing karena mereka punya seorang gembala kambing untuk diburu. Dan Luhan akan pastikan sendiri, si gembala akan mati dengan cakarnya.

.

.

.


[Ya, Tuan Muda, Tuan Fan berada di Makau sekarang- Kasino Imperial adalah investasi besar miliknya disana.

Dan, Tuan Muda, saya rasa Tuan Fan sudah menanti kedatangan Anda. ]


[a/n]:

Shoutout to rose34929 pls kindly check your DM. :)

Dan, hai, folks.