Suatu hari, satu pertanyaan yang sama selalu terlontar.
"Apa pekerjaanmu, Appa?"
Dan dijawab dengan hal yang sama pula.
"Pengawal Sang Ratu."
.
.
.
Gerimis mampir malam itu. Ketika dingin meresap dan beku terselip di baliknya. Seolah London bercerita bahwa waktu meminta untuk bergelung manis di balik selimut tebal, ditemani secangkir cokelat panas yang menggoda, dan dongeng pengantar tidur untuk akhir yang bahagia.
Namun sayangnya, semua itu hanya angan-angan bagi Kim Taehyung.
"Pelaku baru saja mengirim telegram ke kantor kepolisian." Suara Jimin menggema dalam benaknya, menyusup di antara suara kasar gesekan aspal jalanan dan roda kereta kuda yang saat ini ditumpanginya, bersama Jungkook. "Anehnya, terlegram ini tidak dibentuk dalam deretan abjad."
"Apa maksudmu, Jimin?"
"Sandi morse. Kau pasti mengerti."
"Lalu, soal Kim Hyoin?"
"Telegram ini baru saja dikirim lewat kediaman keluarga Kim. Dan kau tahu sendiri, Taehyung. Kim Hyoin masih berada di sana bersama Nyonya Chon. Polisi tidak terlalu mengamankannya karena sebelumnya tetap fokus pada keselamatan mendiang Kim Jae Rin."
Taehyung mendesah frustrasi. Ibu jari yang terjepit di antara deretan giginya sama sekali tidak membuatnya sadar; menggigitnya dengan panik, tak menimbulkan sakit, dan terlihat layaknya seekor tikus pengejar keju. Dua keping mahoninya belingsatan, seperti kesetanan akan rasa takut yang berlebih.
"Jungkook."
Yang dipanggil menoleh langsung, melirik Taehyung dengan khawatir. Jungkook tahu, jika ia berkomentar dengan nada cemas sedikit saja, pemuda Kim itu akan langsung membentak. Emosinya sedang tidak stabil. Entah apa yang membuatnya gelisah seperti ini, Jungkook mendapati dirinya bahwa ia tidak mengerti. Tidak biasanya Kim Taehyung terlihat sepanik ini bahkan dalam sebuah kasus yang rumit, serumit apa pun itu.
"Katakan lagi."
Jungkook tertegun.
"Cepat, katakan."
Napas ditarik kasar, diseling dengan detik yang hening sampai akhirnya Jungkook berkata. "Konsentrasimu terganggu," ia merogoh sesuatu dalam saku celana katunnya, "aku tidak akan mengatakannya."
"Demi Tuhan, Jungkook—"
"Berikan tanganmu," potong Jungkook cepat. Tepat setelah bolpoin dalam saku celananya berhasil ditemukan. Ia tak meminta lebih sampai akhirnya meraih tangan kiri Taehyung dengan pelan, pelan sekali. Seolah gemetar yang dirasakan pemuda itu tak mempan terhadapnya. "Kau terlalu banyak berpikir, Tae." Ia mengusap sesaat punggung tangan Taehyung, lantas membaliknya dan menulis beberapa simbol titik dan tanda strip pada telapak tangan detektif muda itu.
Jungkook melakukannya dengan lancar. Taehyung mengerjapkan mata beberapa kali, menormalkan detak jantungnya sejenak. Lima detik setelah geli yang menjalar di telapak tangannya berhenti, ia menunduk. Mengamati dalam diam dua simbol yang kontradiktif, ditulis berulang-ulang dengan jumlah yang berbeda. Di sana tertulis;
/ — — / . / —. / —.— —/ . / .—. / .— / . . . . / . — .. / . — / . . . . /
Sepasang alis Taehyung bertautan. Pelipisnya berkedut begitu dalam.
Pesan telegram itu terlalu janggal baginya.
"Menurutku, Kim Hyoin tidak benar-benar dalam bahaya."
Kepala diangkat perlahan, menemukan sepasang netra gelap Jungkook yang memakunya lebih dulu. Tidak tajam seperti biasa, tidak juga dingin atau sinis. Namun, Taehyung tidak menemukan pula kelembutan yang terlintas di sana. Seperti orang asing.
"Mungkin hanya perasaanku, tapi aku merasa pesan yang dikirimkan pelaku sedikit aneh." Jungkook menarik napas dalam-dalam. Ia kembali menarik tangan Taehyung sembari menangkupkannya hati-hati. Mengungkung kepalan kecil itu dengan kesepuluh jemarinya sendiri, menggenggamnya begitu dalam, namun tidak erat. "Untuk itu, aku minta jangan terlalu memikirkannya, Taehyung. Kau tidak sendirian menangani kasus ini."
Taehyung menggeleng pelan, lalu mendesah kecil. "Kasus ini terlalu rumit, kalau boleh jujur."
Kening Jungkook berkerut samar.
"Kematian Kim Jongin, Kim Joonmyeon, dan terakhir ini Kim Jae Rin. Semua itu benar-benar dilakukan dengan sempurna dan rapi. Tapi …" Ia berhenti sejenak dengan tarikan napas panjang, "… juga terlihat sangat bodoh." Lanjutnya pelan.
"Apa maksudmu, Taehyung?"
Ada segaris senyum di sana. Tipis, nyaris tersembunyi dengan halus. Namun Jungkook melihatnya dengan kentara dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya dipikirkan pemuda itu sekarang ini. Ia boleh saja mengaku mengenal Kim Taehyung dengan baik, walaupun ada saat di mana Jungkook bisa merasa begitu payah jika ia gagal menebak jalan pikiran Kim Taehyung.
"Pembunuhan ini terlalu mudah jika si pembunuh sendiri berniat untuk membuatnya tampak lebih mudah." Genggaman tangannya dalam kungkungan jemari Jungkook menegang tanpa sadar. "Kematian keluarga Duke itu, apa terdengar tidak terlalu mudah bagimu, Jungkook?"
"Demi Tuhan, Taehyung," Jungkook membuang napas tidak sabar. "Aku sama sekali tidak paham dengan maksudmu. Jangan berbicara berbelit-belit seperti itu."
Lagi, Taehyung menggeleng. Raut wajahnya kembali memucat. "Lupakan saja. Yang penting, aku hanya berharap Kim Hyoin tidak menjadi korban terakhir. Dia terlalu belia untuk mati."
Dalam sudut-sudut hatinya yang tertutupi, Jungkook mengutuk diri habis-habisan. Teringat akan kemampuan payahnya untuk bisa mensejajarkan diri dengan seorang detektif bermarga Kim itu. Jungkook mungkin mengenal cara bagaimana Kim Taehyung bersikap. Caranya tersenyum kala mendengar sekelumit kasus. Caranya mengernyit ketika mengamati. Caranya menganalisis. Caranya berspekulasi. Caranya menarik kesimpulan. Caranya bercerita dan mengucap kelogisan yang teramat gila. Bahkan cara bagaimana pemuda itu menatap setiap binar meremehkan yang ditujukan ke arahnya langsung dengan sorot mata kemenangan.
Sepanjang memori fotografinya berkata, ia mengagumi Kim Taehyung. Dengan sangat dan selalu. Sampai Jungkook merasa mengenal detektif muda itu dengan sangat baik pula.
Namun, ketika ia mendapati raut wajah Taehyung tampak depresi dan gelisah di saat bersamaan ketika malam di dalam sebuah kereta kuda, juga tepat pada detik yang tak pernah berhenti, Jungkook mendadak ragu.
"Mengertilah, Jungkook."
Yang dipanggil mengangkat alis heran.
"Terlalu banyak skenario kematian di dunia ini tanpa kita ketahui."
Derak roda berputar dan derap langkah kaki kuda yang menembus malam hari itu, berhasil menutup perbincangan mereka setelahnya.
London seolah menjadi kota mati.
~oooOOOooo~
.
.
.
"Verum"
Disclaimer : tokoh yang digunakan bukan milik saya kecuali ceritanya. Terinspirasi dari kemampuan seorang tokoh fiksi Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle.
Cast(s) : Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Park Jimin, BTS member, and other cast.
Rated : M to be safe
Warning : bottom!V, of course.
.
Finally, the final chapter! *cries* Saya mau kasih tau aja, ini bakal jadi cerita yang panjang 8"D Dan kalau bisa, ikutin setiap adegannya. Satu adegan yang kelewat, bakal bingung sama endingnya #oy. Gak deng, pokonya nikmatin aja~~ XD
.
.
.
Proudly Present by Cakue-chan
.
.
Bagian Ketiga
(There is only one truth; Shinichi Kudo)
.
.
.
~oooOOOooo~
Ini adalah kali kedua bagi Taehyung maupun Jungkook bertemu dengan wanita paruh baya keturunan Perancis itu, salah satu pelayan rumah setia keluarga Kim. Nyonya Chon tampak sehat seperti biasa, meski warna hitam pada kedua kantung matanya terlihat jelas dan tak tanggung pula menyembunyikan kesedihan dalam hatinya, wanita itu tetap saja mengulas senyum ramah dan menyambut kedatangan mereka dengan gembira.
"Selamat malam, Madame. Saya harap kedatangan kami tidak terlalu mengganggu, apalagi setelah mendengar—maaf jika lancang—kematian Lady Kim."
Enam puluh menit sebelum kereta kuda yang membawanya sampai, pihak kepolisian telah mengabari berita duka mengenai Kim Jae Rin kepada Nyonya Chon. Reaksi yang didapat pun tidak jauh berbeda, terpukul dan histeris yang berusaha disembunyikan. Semua itu terlihat dari sepasang kelopak mata yang keriput itu dan luka yang menggoresnya, mata gelap Nyonya Chon.
"Kematian memang tidak pernah bisa dihindari, ya?" ujar wanita itu, lengkap dengan intonasi pertanyaan.
Taehyung membungkuk sopan. "Begitulah."
Bibir keriput itu tersenyum maklum. "Omong-omong, senang bertemu denganmu lagi, anak muda," sahut Nyonya Chon kalem; tanpa sadar mengalihkan permbicaraan, lantas menepuk salah satu bahu Taehyung ketika ia mendapatinya di depan pintu rumah dan langsung mengajaknya masuk. "Dan, astaga, kenapa kau terlihat kurus sekali? Kau tentu tidak lupa makan dengan baik ketika mengangani kasus, bukan?"
Taehyung terkekeh ringan. Membiarkan Nyonya Chon mengomel dan menyentuh beberapa bagian tubuhnya yang disebut kurus. Dan tidak lupa juga—meski melakukannya dalam hati—merutuk habis-habisan ketika dengusan geli Jungkook (ditambah gumaman kecil seperti; memang benar) tertangkap gendang telinganya.
"Terima kasih atas perhatiannya, Madame. Dan maaf mengganggu waktumu di malam sekali."
"Nah, jangan dipikirkan." Nyonya Chon mengibaskan sebelah tangan asal, sebelum wanita itu mempersilakan kedua tamunya untuk duduk di ruang tengah. Ia menghilang sebentar hanya untuk pergi ke dapur dan kembali dengan membawa dua cangkir teh hitam sebagai ucapan selamat datang. "Jadi, ada masalah apa kemari?"
Pertanyaan itu simpel, juga terkesan wajar dan biasa. Tetapi, wajar dalam kamus Kim Taehyung bunkanlah hal yang lumrah. Detektif muda itu melirik Jungkook dengan kening mengernyit, yang dibalas dengan hal serupa oleh sang subjek yang ditatap, sebelum akhirnya kembali melihat Nyonya Chon yang memandang mereka dengan sorot mata kebingungan; sedikit saja, terselip heran dan pernasaran di sana.
"Anda tidak tahu, Madame?"
Nyonya Chon mengerutkan kening. "Soal apa?"
"Telegram yang dikirimkan melalui alamat rumah ini?" Taehyung bertanya hati-hati, menyembunyikan panik yang mengikuti. "Saya dan rekan saya diperintahkan untuk kemari karena kantor kepolisian Scotland Yard baru saja menerima sebuah telegram malam ini, tepatnya pukul setengah sebelas tadi."
Jari-jari keriput Nyonya Chon tampak gemetar. "Telegram? Saya sama sekali tidak mengirimkan telegram. Lagi pula, alat telegram itu berada di ruang kerja Tuan Muda Jongin, dan saya tidak bisa masuk begitu saja tanpa diminta untuk merapikannya."
"Apa anda merasa seseorang baru saja memasuki rumah ini sebelum jam-jam malam tiba? Atau tamu, mungkin?" kali ini, Jungkook bertanya. Lagaknya seperti seorang polisi selayaknya, serius namun penuh kehati-hatian. "Siapa pun itu, Madame."
Nyonya Chon merenung sejenak, seakan mengingat. "Pukul tujuh tadi, saya menerima tamu. Kebetulan saya mengenalnya dengan baik, seorang pria, beliau adalah teman dekat Tuan Muda Jongin. Tapi kedatangannya hanya sebentar dan kemari untuk mengucap bela sungkawa. Lalu, kira-kira tiga puluh menit setelah itu, tiga orang wartawan kemari. Saat itu yang menerimanya kepala pelayan rumah ini, jadi saya tidak terlalu memperhatikan mereka. Setahu saya, tiga wartawan itu tidak diperbolehkan masuk dan mengajukan beberapa pertanyaan di luar. Dan terakhir, pukul setengah sembilan tadi kalau tidak salah, seorang pengantar bunga datang."
"Pengantar bunga?" tanya Jungkook, begitu pula Taehyung. Bertanya secara sermpak.
"Oh, itu. Memang saya yang memesannya dengan sengaja. Siang sebelum Nyonya Besar …" ia berhenti sesaat untuk menarik napas, mengusir sesak yang tiba-tiba mampir, "… maksud saya, sebelum beliau pergi ke gedung opera, Nyonya Besar menitipkan pesan pada saya untuk membeli karangan bunga. Beliau akan pergi ke makam Tuan Besar dan Tuan Muda setelah pertunjukan selesai. Tetapi, saat pukul enam sore, pihak toko bunga sendiri menelepon bahwa karangan bunga yang dipesan akan tiba malam sekali karena satu atau dua hal yang terjadi. Saya mengiyakan, mengingat Nyonya Besar akan pulang lebih malam meskipun tidak terlalu larut."
Sorot mata Taehyung meredup. Sedikitnya ia bisa memahami perasaan Nyonya Chon saat ini. Ia menegerti bagaimana pikiran wanita itu, teringat akan perintah Kim Jae Rin mengenai karangan bunga. Yang secara tidak langsung, dalam keadaan sadar atau tidak, diharapkan atau tidak, menjadi permintaan terakkhir dari sang Lady. Permintaan yang tidak akan pernah didengarnya nanti untuk esok, lalu esok, dan esoknya lagi sampai kapan pun.
"Baiklah, saya mengerti." Kepala dianggukan beberapa kali, Taehyung tak kuasa bertanya banyak jika pertanyaannya nanti akan berakhir melukai perasaan wanita itu lebih jauh lagi. "Jadi, tidak ada seorang pun yang benar-benar mendekati ruang Kim Jongin?"
Nyonya Chon menggeleng lemah. "Sama sekali tidak ada. Paling jauh pun hanya sebatas ruang tamu. Lagi pula, saya di sini tidak sendirian. Ada kepala pelayan yang menemani, beberapa koki masak, dan juga kenalan saya yang baru saja pu—"
"Grand-mere!"
Mereka bertiga serentak menoleh.
Ada kaki kecil yang berlari, melintasi anak-anak tangga lantai dua hingga meloncat pada pijakan terakhir, yang detik berikutnya kaki kecil itu kembali melesat lebih cepat. Taehyung melihat seorang gadis kecil, berperawakan mungil dan manis di balik rok piyamanya, lengkap dengan rambut panjang digerai dan satu boneka panda kecil yang terjepi di ketiak kiri. Gadis kecil itu melewatinya begitu saja, mengabaikan Jungkook, sampai menabrak kaki gemuk Nyonya Chon dengan sengaja lalu memeluknya erat.
"Kim Hyoin." Taehyung bergumam, lebih kepada dirinya sendiri. Tak sadar ketika Jungkook mengerling dengan sebelah alis terangkat.
"Astaga, kenapa kau belum tidur, Hyoin?" protes Nyonya Chon lembut, membungkuk sejenak lantas menuntun gadis itu agar duduk di salah satu sofa kosong. "Ini sudah melewati jam tidurmu, sayang. Ada apa, hm?"
Gelengan keras sebagai jawaban awal. "Mom," cicitnya pelan. "Belum pulang."
Hening selanjutnya.
Mendadak, atmosfer dalam ruangan terasa begitu berat. Entah Taehyung maupun Jungkook, bahkan Nyonya Chon sendiri, tak pernah sedikit pun berani membuka suara demi sederet jawaban jujur terhadap pertanyaan polos yang dilontarkan begitu lugasnya. Mereka tahu, mereka paham, bahkan lebih dari sekadar mengerti bahwa terdapat satu keadaan di mana mengucap dusta adalah pilihan terbaik.
"Ibumu belum pulang." Hening itu pecah dengan ketenangan dan kontrol diri yang hebat milik Nyonya Chon. "Nah, sambil menunggu ibumu pulang, bagaimana jika grand-mere bacakan sebuah cerita sampai kau tertidur—Hyoin, kau mendengarku?"
Namun, secepat Nyonya Chon mengubah suasana menjadi tegang, secepat itu pula keadaan berbalik kembali. Kali ini, hening yang terjadi tidak setegang sebelumnya. Tepat ketika dua kelereng bulat sang gadis kecil beralih fokus dengan perlahan, mempertemukan dua pasang iris yang berbeda; cokelat tua dan hitam, lugu dan serius, seorang bocah tak berdosa dan detektif gila.
"Taehyung," bisik Jungkook tak tahan. "Anak kecil itu melihat ke arahmu."
"Eh?"
Lima belas detik, sekiranya waktu bergulir. Yang detik kemudian Hyoin meloncat turun dari posisi duduknya, berjalan tergesa ke arah Kim Taehyung, sampai tak tanggung-tanggung pula membenturkan diri di sepanjang jenjang kaki dan memeluk kedua kaki pemuda itu tanpa tedeng aling-aling.
"D. Karyopilus!"
Taehyung tersentak keras, tak lupa juga dengan Jungkook yang membelalak. Walaupun gurat wajah Nyonya Chon tampak memaklumi dan berhasil menghilangkan bingung yang sempat berkunjung beberapa sekon sebelumnya, wanita itu hanya terkekeh geli.
"Tu, tunggu bocah," tolak Taehyung halus, berusaha menarik Hyoin dari kakinya. "Aku tidak mengerti apa maksudmu, kenapa kau tiba-tiba memeluk kakiku? Dan apa tadi? D… Kar—"
"D. Karyopilus!" ulang Hyoin sekali lagi. Mendongak dan memperlihatkan bola matanya yang bulat, manis dan lucu. "Karyopilus!"
"Aduh, duh, maaf ya, anak muda." Nyonya Chon beringsut maju, bermaksud menarik Hyoin dari jangkauan Taehyung. Namun gadis kecil itu menolaknya jengah. "Biasanya, si kecil Hyoin tidak seperti ini jika bertemu orang baru. Tapi, jika dia memang merasa nyaman, bahkan dengan orang baru sekali pun, dia akan langsung menempel. Meskipun terkadang perkataannya sulit dimengerti. Jangankan oleh saya, Tuan besar dan Nyonya besar pun kadang kewalahan."
Hyoin masih merengek, manja dengan caranya sendiri. Nyonya Chon dengan sabar menanganinya, wanita tua itu tampak telaten meskipun lingkar-lingkar hitam di bawah matanya cukup memberi penjelasan bahwa asisten rumah tangga itu kelelahan.
"Tidak apa-apa, Madame." Taehyung mengambil alih, berdiri lantas menarik Hyoin dalam pangkuannya. "Orang bilang, perasaan anak kecil itu lebih peka. Sepertinya Hyoin baru saja mimpi buruk, apalagi ia mendapati keadaan pintunya tertutup dan tidak dibuka seperti biasanya. Atau, ia sengaja menunggu kepulangan …"
Begitu Jungkook menyikutnya cukup keras, Taehyung akhirnya sadar.
Tidak boleh, batinnya berteriak. Nama Kim Jae Rin seharusnya dihapuskan dalam perbincangan malam ini.
"Maaf, Madame."
Segaris senyum tipis tersungging. "Tidak apa-apa," sahutnya maklum, lalu mengernyit heran. "Omong-omong, kenapa kau bisa tahu aku biasa membiarkan pintu kamar tidur Hyoin terbuka?"
Belum ada jawaban langsung ketika Nyonya Chon bertanya. Taehyung tampak sibuk dengan Kim Hyoin, terlebih ketika gadis kecil itu menarik rambut cokelatnya dengan derai tawa renyah dan usil. Beberapa detik setelah Taehyung berhasil melepaskan diri, pemuda itu segera berujar.
"Hanya menebak." Taehyung mengerling jenaka. "Well, sepertinya ketegangan tadi mulai mereda. Untuk itu, Nyonya Chon, bolehkah saya mengantar Hyoin ke kamar—"
Suara ketukan menginterupsi. Ucapan Taehyung terpotong spontan.
Kepala pelayan yang membukakan pintu. Taehyung sedikitnya bisa mendengar perbincangan singkat walau samar-samar. Sesuatu seperti ekonomi sedikit melunjak, atau polisi Scotland Yard yang kewalahan, sampai di mana berita duka dan tragedi Royal Opera House malam ini.
(Detektif muda itu sempat mengernyit ketika gedung opera terdengar, sepertinya ia mengenal suara sang tamu).
"Nyonya Chon ada di sini, ia baru saja kedatangan dua tamu beberapa jam yang lalu. Nah, itu mereka—"
"Ah!"
Empat pasang mata orang dewasa saling menatap; satu terkejut karena melihat kedatangan orang baru, satu tidak terbaca, dua tersentak karena teriakan cukup keras; dan terakhir sepasang netra polos yang mengantuk.
Sepuluh detik hening yang canggung.
Sampai Kim Taehyung merusaknya tanpa ragu.
"Yoongi-hyung?"
~oooOOOooo~
"Maaf merepotkanmu, Jungkook."
Min Yoongi tak ubahnya seseorang yang Jungkook segani. Pria itu bahkan rela-rela mampir ketika dingin menyambut malam menuju kediaman keluarga Kim dan menjemput Taehyung karena perintah Seokjin. Dokter forensik itu berpesan, demam Taehyung akan bertambah parah jika tidak ada seorang pun yang mau menyeretnya pulang. Akan tetapi, alih-alih Taehyung yang seharusnya mengucap penolakan, protes si kecil Kim Hyoin-lah yang menarik pemuda AB itu untuk menetap lebih lama. Bahkan Nyonya Chon sampai meminta Taehyung agar menginap.
(Dan Jungkook tentu saja membantah. Enak saja kekasihnya sendiri harus menghabiskan waktu dengan seorang—meski anak kecil sekali pun—wanita).
"Tidak perlu sungkan, Hyung." Jungkook terkekeh ringan. Mengangkat beberapa tumpukan karangan bunga di depannya. "Aku hanya terkejut saja. Tidak menyangka Hyung mengenal Nyonya Chon jauh sebelum Taehyung."
Mereka berdiri di antara petak-petak trotoar yang mulai sepi. Ketika detik jam semakin larut dan beberapa toko di sekitar pelataran jalan London telah lama tutup. Tidak semuanya, memang. Termasuk toko bunga yang sengaja mereka datangi karena permintaan secara tidak langsung (lengkap dengan permohonan maaf pula karena merasa direpotkan) dari kepala pelayan dan Nyonya Chon. Katanya, karangan bunga itu untuk pemakaman mendiang Lady Kim esok hari. Karena sang kepala pelayan terlalu sibuk mengurus beberapa adiminitrasi makam dan sebagainya, juga kesibukan Nyonya Chon dalam urusan rumah tangga, Yoongi dan Jungkook menawarkan diri.
Karangan bunga itu dipesannya secara mendadak. Beruntung bagi mereka karena pihak toko bunga mengiyakan tawaran keluarga Duke sehingga rela menutup toko pada jam dua belas malam nanti.
"Aku kan sudah bilang," sahut Yoongi geli sekaligus sarkatik, "sebelum menetap di London dan tinggal bersama Taehyung, aku sudah lama mengenal Nyonya Chon. Well, aku tidak bisa mengatakan lebih spesifiknya kapan, tapi aku tahu sejak lama."
"Dan Hyung tidak pernah menceritakannya kepada Taehyung?"
"Taehyung tidak pernah bertanya," balasannya mengandung nada tersinggung, "untuk itu aku tidak pernah cerita. Lagi pula, jujur saja, aku cukup terkejut saat mengetahui Nyonya Chon pernah diwawancara oleh anak itu saat kematian Kim Jongin terjadi." Ia menoleh sejenak ke pintu yang terbuka, di mana seorang wanita muda berdiri anggun. "Ah, Miss Swan, bisa kau tambahkan sedikit karangan bunga krisannya? Ya, yang itu—oh, bukan, bukan. Maksudku yang bewarna putih. Tersisa berapa lagi? Pardon, Miss Swan, aku akan ke sana saja,"
Simpul mati berhasil dilakukan, mempertahkan ikatan karangan bunga yang Jungkook tangani. Ia melirik sesaat ketika Yoongi pergi, sebelum akhirnya mengambil waktu berharga itu untuk istirahat sembari melakukan peregangan kecil pada otot-otot luriknya yang kaku. Ia ingin sekali tidur, astaga. Dan keinginannya itu tak bertahan lama ketika sorot matanya sempat tertegun, memandang pot kecil yang terletak di ujung kusen jendela toko. Nyaris terlupakan atau tidak terlihat sama sekali jika ketelitian yang dimiliki Jeon Jungkook berkurang.
Pot itu bisu, secara makna konotatif. Namun, lima tangkai bunga yang menghiasnya terlihat begitu cantik. Kelopaknya masih segar, anggun dengan caranya sendiri. Hijau tangkainya mengundang perhatian mata. Dan Jungkook bertanya-tanya mengapa bunga itu bisa nyaris terlupakan.
Atau mungkin… karena bunga itu mengundang banyak kutukan dan kematian?
"Kau menyukai anyelir putih, Sherrif?"
Bahu Jungkook tersentak pelan. Seorang wanita lanjut usia muncul di hadapannya tanpa peringatan. Dengar-dengar, toko bunga yang sekarang dipijaknya ini dikelola dengan baik oleh seorang wanita tua dan cucu laki-lakinya yang sudah beristri. Tak salah bukan spekulasinya berkata bahwa wanita lanjut usia itu memanglah pemiliknya.
"Aku jadi teringat seorang pemuda sepertimu. Orangnya menyenangkan sekali, juga sopan."
Jungkook mengangguk kaku. Berkata penolakan pun rasanya tidak sopan.
"Wajahnya mengingatkanku pada makna anyelir putih itu sendiri."
Anyelir putih, Jungkook mengingatnya dengan baik. Selalu. Teringat akan sekelumit kasus layaknya labirin tak berujung. Berliku-liku. Bahkan kemungkinan besar berakhir dengan jalan buntu.
"Ya, itu sudah lama sekali, kalau aku tidak salah. Duh, maaf anak muda, daya ingatku mulai mengalami penurunan akhir-akhir ini."
Tidak mengejutkan, sih. Jungkook sengaja menahan pernyataan itu di ujung lidah. "Lalu, apa makna bunga tersebut, Ma'am?"
Wanita tua itu memandangnya dengan sorot mata yang begitu jernih. Dan Jungkook mendapati kenyataan bahwa wanita itu memang mendedikasikan hidupnya demi bibit-bibit, keindahan, serta makna dari bunga itu sendiri yang selama ini diwujudkannya melalui toko yang dibangunnya sejak dulu.
"Simpel saja," sahutnya tenang, tenang sekali. "Sama seperti nama latinnya … err—ah, sayang sekali aku melupakannya."
Anyelir itu cantik, sungguh. Jungkook sampai tidak bisa mengalihkan fokusnya.
"Makna dari bunga itu, kalau tidak salah …"
Dan kelopak-kelopak putihnya seolah mengingatkan Jungkook pada luka yang dalam, ditorehkan dengan begitu apiknya kepada setiap korban. Kematian yang tidak terduga. Kode-kode itu, kepanikan polisi dan inspektur, keresahan Jimin juga Hoseok, kecemasan Yoongi, termasuk kebencian Taehyung.
"… good luck."
~oooOOOoo~
"Kau tidak bohong, kan? Park Jimin?"
Pada malam yang sama, tepat ketika Jimin kembali menghabiskan waktu seorang diri di balik meja ruang kerjanya, satu fakta kecil menyusup masuk. Bahkan tak tanggung-tanggung menarik sepasang alis Hoseok agar berkedut.
"Aku mengeceknya sendiri, Hyung." Jimin menyandarkan punggung pada sandaran kursi, merilekskan seluruh bagian tubuhnya yang pegal. "Dokumen itu, aku sempat menemukannya saat mencari di perpustakaan pusat kota London. Memang bukan mengenai keluarga Duke sepuluh tahun silam, dan nyaris tidak bisa ditemukan satu pun petunjuk di sana. Tapi dokumen itu memuat data silsilah keluarga Kim. Termasuk satu nama yang belum aku ketahui di dalamnya."
Hoseok memijat pelipis, mendadak kepalanya terasa begitu pening.
Kepingan-kepingan masalah yang berjalan, pembantaian yang terjadi, dan fakta yang terselip dan nyaris tidak diketahui.
"Lalu, kau simpan di mana dokumen itu, Jimin-ah? Astaga, kenapa bisa sampai hilang?" Hoseok lelah, semua situasi ini menarik energinya tanpa belas kasih.
"Demi Tuhan, Hyung. Aku tidak menghilangkannya." Jimin frustrasi. "Yang aku ingat terakhir kali, dokumen itu kusimpan sebelum bersiap-siap pergi ke gedung opera."
"Aissh, aku tidak butuh detail seperti itu," Hoseok mengeluh kesal. "Kenapa kau tidak bilang lebih cepat sebelum ini, sih? Ingat baik-baik di mana kau menyimpannya."
"Aku suda h mengingatnya dengan baik." Suaranya teredam ketika ia menunduk di bawah meja kerja, mencari di antara loker dan laci yang ada, "lagi pula, menurutku dokumen itu tidak terlalu penting—duh! Hyung, jangan tendang mejanya! Kepalaku sakit!"
"Bagian mananya yang tidak penting, eoh?" Hoseok merutuk. Nyaris melayangkan tendangan—lagi. "Dokumen itu bisa saja berhubungan dengan pesan yang dikirimkan si pelaku. Kemungkinan yang kecil, memang. Tapi kita harus mencobanya."
"Pesan?"
Hoseok berdecak. "Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"
"Maksud Hyung," kepala Park itu tersembul di balik meja, "surat yang terselip di buket bunga anyelir putih yang diberikan kepada Lady Kim?"
"Retoris."
"Hanya meminta konfirmasi," bela Jimin, sedikit tidak mau kalah. Ia mendesah lelah, sebelum kembali mengistirahatkan bokongnya di atas kursi. "Omong-omong soal pesan itu, Hyung mengerti maksud di dalamnya?"
Pelipis berkedut enggan. "Entahlah, pesan yang ini sedikit aneh." Hoseok membayangkan deretan aksara yang bermain dalam benaknya. Pesan yang dikirimkan semenjak kematian Kim Jongin, berlanjut kepada kepala keluarga, hingga detik di mana sang Lady mengembuskan napas terakhir. Semua itu berkumpul dalam satu kemungkinan yang disebut petunjuk kematian. "Aku jadi teringat dengan pesan kedua sebelum kematian Lady Kim."
Jimin menanti.
"Apalagi ketika pelaku menulis; aku di sini, di antara kalian yang menemukan. Tidakkah kau berpikir itu seperti menjelaskan semuanya? Maksudku, dalam keadaan ricuh di gedung opera tadi, pelaku seolah-olah tahu bahwa keadaan itu akan terjadi, atau memang seperti itulah yang harusnya terjadi."
"Hyung, kau tidak berpikir pelakunya sedekat itu, kan?"
"Tapi aku memang berpikir seperti itu," jawab Hoseok serius. "Coba pikirkan baik-baik, tiga kasus pembunuhan yang berturut-turut ini dilakukan dengan sangat, sangat sempurna. Sama sekali tidak ada cela atau kesalahan—sekecil apa pun itu—untuk menemukan siapa pelakunya. Jangankan berpikir untuk menemukan, menebak pun rasanya masih terlihat samar."
Hercule Poirot pernah berkata; insting adalah sesuatu yang menakjubkan. Sesuatu yang dapat dijelaskan, atau sebaliknya, dapat diabaikan.
Maka ketika potongan-potongan kejadian yang membentuk tragedi dan dikumpulkannya melalui pesan si pelaku itu terus merangsek dalam benak sang inspektur, Hoseok mempercayai insting dalam relung hatinya. Ada yang salah dalam kasus-kasus ini. Tidak seperti kasus yang selama ini dihasutnya. Ada yang salah, sesuatu yang terlihat di depan matanya namun tak ada satu pun orang yang mampu melihatnya. Termasuk ia sendiri, atau mungkin pula detektif gila macam Kim Taehyung.
Karena Hoseok sadar, pembantaian keluarga sang Marquess yang dilakukan si pelaku terjadi dengan begitu apiknya. Bahwa apa yang dilakukannya akan aneh jika tidak disebut suatu pembunuhan di luar nalar manusia.
"Tunggu," sahut Jimin gugup, bulir keringat mengalir dari pelipis kanannya. Napasnya memburu kecil, dan Hoseok seolah melihat ketakutan dalam binar mata gelap itu. "… Hyung, jangan bilang kalau kau …"
"Tepat seperti yang kau pikirkan." Sesuatu melintas, cepat, cepat sekali. Kilatan dalam mata Jung Hoseok ketika ia mengambil keputusan final. Dentang jam di luar ruangan terdengar nyaring, terjadi dalam dua belas kali; tepat tengah malam. Ketika Hoseok berkata begitu dalam.
"Sang pelaku jelas berada di sekitar kita, Park."
~oooOOOooo~
Dalam skala pengamatan tajamnya, Jeon Jungkook memberikan nilai sembilan koma lima kepada Nyonya Chon secara diam-diam.
Wanita itu, meski umurnya hampir menapaki setengah abad atau mungkin lebih, tetap memiliki kendali emosi yang sangat bagus. Orang mungkin akan memilih untuk berhenti mengabdi kepada keluarga Kim. Terlebih ketika empat dari lima anggota keluarga bangsawan itu dibunuh dengan cara yang tidak wajar. Nyonya Chon bisa saja melarikan diri atau kabur, atau memutuskan untuk melanjutkan hidup di kampung halaman. Sehingga para polisi tidak perlu mencurigainya sebagai tersangka.
Dalam keadaan ini, Jungkook sebenarnya mengerti. Dan ia tak ragu jika Kim Taehyung memiliki kesimpulan yang sama sepertinya. Bahwa dedikasinya wanita itu terhadap keluarga Kim, pengendali kontrol yang baik, dan bahkan perasaannya yang dengan pintar tersembunyi di depan para polisi, dapat menjadikan eksistensi Nyonya Chon sebagai tersangka utama.
Mungkin terdengar gila. Teramat gila.
Namun Jungkook tidak akan berusaha untuk menyingkirkan spekulasi kecil itu.
"Seperti biasa, sifat pelupamu tidak pernah hilang, Yoongi. Padahal sudah kubilang sejak awal, jangan terlalu buru-buru pulang. Dan—oh, oh, aku cukup terkejut karena kau mengenal detektif hebat itu."
Min Yoongi tertawa kecil. Jungkook bisa melihat pemuda itu di balik sekat yang memisahkan dapur dan ruang tengah. Tiga puluh menit setelah kepulangannya dari toko bunga, ia ditinggalkan begitu saja. Si kecil Hyoin tak mau lepas dengan Taehyung, malah meminta kekasihnya itu untuk tidur bersama.
(Dasar bedebah kecil, awas saja kalau sampai dia menyentuh Taehyung, meh).
Sedangkan Nyonya Chon tanpa ragu meminta Yoongi untuk menemaninya di dapur. Menyiapkan cangkir-cangkir kopi sampai menjelang fajar nanti. Jangan tanya kenapa ia harus begadang, pihak kepolisian sendiri—dan segala tektek bengeknya Komisaris Park—yang meminta Jungkook dan Taehyung agar menginap sementara di kediaman Kim. Tidak benar-benar menginap juga. Mereka ditugaskan misi khusus untuk mengawasi keadaan sekitar.
Atau dengan kata lain, melindungi sang target terakhir dan memecahkan setiap kode yang ditinggalkan pelaku pembunuhan.
"Aduh, duh, kadang aku ingin memarahi Hyoin karena sulit sekali untuk tidur. Kau tahu, Yoongi, Nyonya Besar bahkan pernah menguncinya di dalam kamar. Meskipun hanya bertahan sampai tiga puluh menit karena kasihan."
"Jangan salah, Bibi. Aku juga pernah melakukan hal yang sama terhadap Taehyung. Yaa, meskipun bocah itu lebih pintar dariku karena berhasil keluar seorang diri dengan trik murahan detektifnya. Well¸ salahku juga karena meninggalakan kuncinya di lubang kunci."
"Nah, kau pasti mengerti, jaman sekarang anak muda bisa lebih pintar."
Derai tawa lolos dengan begitu ringan.
"Omong-omong, aku tidak menyangka Hyoin bisa seakrab itu dengan Taehyung," kata Nyonya Chon tulus, tertinggal sisa tawa renyah ketika ia berbicara. "Terus terang saja, itu membuatku lega, Yoongi. Sebelum kematian Tuan besar, anak itu tidak pernah dekat dengannya, walaupun ayahnya sendiri. Aku tidak boleh mengatakan ini, tapi Tuan besar hanya terlalu fokus kepada Tuan Muda Jongin. Beliau hanya memikirkan kedudukannya tanpa menghiraukan keadaan si kecil Hyoin. Begitu pula dengan Tuan muda, meskipun terkadang putra sulungnya lebih bisa menyisihkan waktu untuk adiknya, meski tidak lama. Tapi beruntung, satu-satunya orang yang bisa menjaga senyuman Hyoin adalah Nyonya besar—"
"Astaga, aku lelah sekaliiii."
Jungkook menoleh refleks. Matanya bergulir tajam ketika Taehyung berjalan ke arahnya dengan langkah gontai. Akan tetapi, pendengarannya yang tajam pula tidak berhenti mendengar percakapan Nyonya Chon walaupun terdengar samar.
"—tak bisa kukatakan sepenuhnya bahwa peran Nyonya besar sangat besar di sini, Yoongi. Maksudku, maaf jika ini lancang, apa yang dilakukan Nyonya besar tak lebih dikatakan cukup seperti halnya yang dilakukan Tuan besar dan Tuan muda. Mungkin ini hanya perasaanku saja, namun jangan pernah mengabaikan seorang pengabdi keluarga. Bahwa apa yang kulihat selama ini adalah, segala sesuatu yang berada di kepala mereka terkecuali Hyoin, semata-mata untuk mendapatkan sebuah gelar. Semata-mata karena status tertinggi di mata sang Ratu dan Inggris—"
"Jungkook, berhenti mengerutkan kening seperti itu. Kau bisa menjadi tua lebih cepat."
Jari telunjuk sengaja menempel di depan bibir, Jungkook sedikitnya menahan diri untuk tidak berteriak sebal.
"—aku terus bertahan di sini karena Hyoin. Karena gadis kecil itu membutuhkan perhatian lebih—"
"Oi! Kau itu kenapa—hmph!"
"—untuk itu, ketika Taehyung datang dan sikap Hyoin begitu berbeda terhadapnya, aku merasa lega. Karena ini pertama kalinya aku melihat gadis itu bahagia—"
"Hentikan—ukh, jangan gigit telingaku, bodoh." Bisikan panik. "Bagaimana kalau Yoongi-hyung mendengar?"
"—aku tidak mengerti maksud kata Karyopilus yang diucapkannya. Yang aku tahu, Hyoin selalu mengeluarkan istilah-istilah tertentu ketika ia mulai bisa mempercayai seseorang. Untuk itu—"
"Demi Tuhan, Jungkook," Taehyung melenguh lirih, memejamkan mata sesaat kala basah dan geli menggelitik perpotongan lehernya. Kala tubuh terhempas begitu mudah dalam empuknya sofa dan kungkungan Jeon Jungkook menguasai situasi. "Jung… kook… Yoongi-hyung—ukh,"
"Ssst, pelankan suaramu, Tae. Kau tidak ingin membangunkan Hyoin kecilmu itu, bukan?"
"Breng—sek, jangan cium perutku," tarikan napas dilakukan sepanjang mungkin. "Sebenarnya apa yang kau inginkan, eoh?"
"Memberimu hukuman, tidak lebih,"
"Breng—aah, bloody hell …"
"—sama sekali tidak takut dengan pelaku semua tragedi ini, Yoongi," getar dalam nada suaranya menandakan ia tak gentar. "Siapa pun dia, apa motifnya, penyebab di balik semua ini, aku tidak akan takut. Satu-satunya yang kucemaskan dalam hal ini adalah Hyoin. Hanya dia satu-satunya. Aku tak peduli bahkan jika harus bertemu dengan pelakunya sekali pun. Bahkan seandainya membiarkan pelaku bebas menjadi pilihan terbaik demi keselamatan Hyoin, aku tidak akan segan melakukannya. Kau paham maksudku, bukan?"
"Aku mengerti, Bibi."
"Senang mendengarnya. Nah, bantu aku membawakan ini. Aku harap Taehyung sudah kembali dan berhasil membuat Hyoin tertidur."
Yoongi tertawa pendek. Lebih ke arah meremehkan. "Aku yakin Jungkook tidak akan diam saja."
~oooOOOooo~
"Matamu aneh."
"Aku tidak perlu komentarmu," gerutu Taehyung sebal, lalu mendelik jengah begitu Jungkook berjalan di sampingnya, ketika pagi menjelang dan mereka memutuskan untuk pulang setelah yakin keadaan Kim Hyoin akan baik-baik saja. Taehyung dalam hati bertanya-tanya, mengapa dia tetap terlihat sama seperti ketika pertama kali mengunjungi kediaman Keluarga Kim? Malah jika boleh dibilang—Taehyung hanya mengakui sedikit, ya, sedikit—wajah berahang tegas itu tak kalah tampannya seperti kemarin-kemarin. Cih, dunia tidak adil, Ya Tuhan.
"Nah, kita sampai."
Langkah Taehyung berhenti, diikuti Jungkook setelahnya. Pemuda Kim itu menghela napas pendek, sengaja menjejalkan kedua tangan ke dalam mantel dan meniti anak tangga gedung flat-nya pelan-pelan; lagi pula, hanya terdapat lima anak tangga yang harus dilaluinya. Namun Taehyung tak pernah sampai begitu suara alto Jungkook memanggilnya dalam.
"Tae,"
"Hm?" Anak tangga kedua tidak jadi dipijaknya, sebelum akhirnya Taehyung berputar dan ia melihat Jungkook masih di tempat yang sama. Pijakan yang sama. Dan jarak yang berbeda di antara mereka; terpisah satu tangga dan Taehyung tak perlu mendongak lagi untuk memandang Jungkook.
"Kau masih bisa bertahan, kan?"
Taehyung mengernyit. "Aku tidak mengerti," akunya lugas, "tapi, jika pertanyaanmu itu menyangkut kasus menyebalkan ini, kau pasti tahu jawabannya, Jungkook."
"Yeah, tipikal sekali," Jungkook mendesah kecil. "Untuk itu aku mencemaskanmu, dasar bodoh."
"Astaga, aku tersanjung sekali." Mau tak mau, detektif muda itu tertawa kecil. "Kau, Jeon Jungkook, dan kata mencemaskan itu, sama sekali terdengar tidak cocok," bahu berkedik tak acuh. "Menurutku."
Sorot mata Jungkook menajam. "Aku serius, Kim."
Ada masa dimana Taehyung merasa bahwa hidup yang dijalaninya selama ini memang benar-benar tak bisa berjalan secara statis. Atau, begitulah pikirnya. Waktu selalu berjalan dengan monotonis, perubahan dunia adalah dinamis, dan ia menganggap setiap kasus yang diselidikinya seorang diri tak jauh dari gaya sistematis.
Dan kenyataan dari semua itu, memanglah logis.
Akan tetapi, ketika ia dihadapkan dengan seorang Jeon Jungkook dan mengakui (sepenuh hati) hubungannya bersama polisi muda itu adalah nyata, Taehyung seakan mendapati poros hidupnya berhenti. Statis. Menarik-narik sisa hidupnya sampai Jungkook menguasainya dengan begitu mudah.
Tak jauh berbeda dalam detik ini. Ketika akhirnya Taehyung sadar bahwa perkataan Jungkook serius. Pemuda itu mengucapkannya dengan serius, tanpa ragu, tanpa takut sedikit pun. Bahwa apa yang dirasakannya mengenai seorang Kim Taehyung tidaklah main-main dan memang beralasan.
"Baiklah, aku mengerti." Taehyung menunduk sejenak, mengamati sepatu hitamnya yang mulai lecet. "Tapi, dengar ini baik-baik Jungkook," kepala kembali diangkat, tangan dikeluarkan dari saku mantel lantas menepuk sebelah pipi Jungkook, "sebuah kasus akan selamanya menjadi kasus. Kau tidak akan bisa memecahkannya jika pertahananmu mulai lengah, sekecil apa pun itu. Sebentar saja kau berpaling, kau akan kehilangan segalanya."
Jungkook mendengus. "Tapi aku sama sekali tidak mendapatkan kesan kalau kau menaruh perhatian penuh pada kasus ini, Taehyung," tanggapannya itu berhasil menarik sisi terkejutnya Taehyung. "Kau hanya berpikir bagaimana cara menghentikan kasusnya, bukan menemukan siapa pelakunya."
Kaki dihentak kesal, Taehyung nyaris melayangkan satu pukulan telak mengenai bahu kiri Jungkook. "Itu bukan alasan!" tandasnya ketus, pipinya merah karena marah. "Jangan bersikap seolah-olah kau mengerti apa yang kupikirkan, Jungkook! Seolah-olah kau memahamiku dengan baik, atau mungkin sangat baik. Faktanya, kau hanya berusaha bersikap layaknya seorang polisi profesional. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh, mencoba mengerti dan memberi perhatian penuh, meskipun akhirnya tetap menganggapku sebagai detektif gi—"
"Hei, hei, tidak Taehyung. Tidak." Panik, Jungkook lekas meraih tangan kanan sang detektif, menggenggamnya begitu erat namun lembut sebelum jemari-jemari pemuda Kim itu menolak tautannya. Gemetar, Jungkook tahu Taehyung gemetar. Entah karena dingin, entah karena perasaan dikhianati, atau karena emosi yang memuncak hingga ubun-ubunnya.
Bibir bawah digigit pelan. "Tapi kau—"
"Bukan begitu, Taehyung," sorot mata Jungkook berbilur konfesi maaf; bukan begitu, aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu. Maafkan aku, maafkan aku; sembari ia berjinjit sedikit agar bisa meraih bibir Taehyung dan mengecupnya pelan. Mengirimkan sejuta perasaan yang Jungkook sendiri tak dapat mengeluarkannya. Ia bingung. Jungkook kebingungan.
"Aku tahu," balas Taehyung, akhirnya, untuk segala Jungkook yang ia terima. "Aku tahu."
Jeon Jungkook melakukan satu kesalahan hari ini. Dan kesalahan tololnya itu baru saja meninggalkan luka sayatan di relung hati Taehyung. Tidak panjang atau lebar, namun dalam.
"Kau benar, mataku mulai terasa aneh." Pernyataan sepihaknya itu (yang secara tidak langsung sebagai pengalih perhatian pula) berhasil mencairkan suasana tegang di antara mereka. Bahkan mengundang tawa kecil dari Jungkook. "Yoongi-hyung akan pulang sebentar lagi, aku harus segera masuk dan menyiapkan teh, mungkin."
"Ambilah waktu istirahat sebisa mungkin, Tae—dan, oh," potongnya cepat sebelum Taehyung protes. "Aku bilang sebisa mungkin. Bukan selama mungkin."
Taehyung mencibir geli, yang detik berikutnya menuruti permintaan Jungkook dengan sebuah anggukan samar.
"Jungkook,"
"Apa lagi," katanya halus. Tidak bernada interogasi.
"Jika—kubilang jika—kau berhasil menangkap pelakunya, cepat atau lambat, suatu saat nanti," napas ditarik berat, "apa yang akan kau lakukan?"
Tak ada jawaban langsung. Belum. Jungkook menatapnya lekat, juga lama. Tidak berkata 'aku tidak mengerti maksudmu' dan tidak pula bertanya balik 'kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?'
"Tergantung,"
Sepuluh sekon, dan Taehyung berhasil menemukan oksigennya kembali.
"Ada yang bilang padaku," tatapan mata Jungkook menerawang, "bahwa seorang pembunuh pasti memiliki alasan yang kuat mengapa mereka harus membunuh. Alasan yang membuat mereka harus melakukannya, secara sadar atau tidak, dengan kemauan atau tidak. Bukankah begitu?"
Jawabannya nihil. Taehyung bungkam dengan hati-hati.
Ketika angin berhembus dingin dan menyusup pelan di antara mereka.
~oooOOOooo~
"Wah, aku tidak menyangka kau akan datang lagi, Sherrif."
Toko bunga Mrs. Caroline, dalam pengamatan seorang Jeon Jungkook, selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk bisa menarik para pengunjungnya. Seperti pagi ini, saat Jungkook akhirnya sadar bahwa rute yang diambilnya dalam perjalanan pulang ternyata memiliki arah yang sama dengan letak toko bunga yang malam lalu ia kunjungi bersama Yoongi. Ia tidak menyadarinya lebih awal karena kemarin malam jalanan terlalu gelap. Dan ia mengantuk, juga lelah, dan kesal di saat bersamaan karena si kecil Hyoin ternyata memiliki sifat modus yang tinggi terhadap Taehyung, meh.
Dan omong-omong, Jungkook menginjakan kaki ke tempat ini juga karena murni kebetulan.
"Morning, Ma'am." Jungkook membungkuk sopan, tak lupa juga memamerkan senyum hangat ketika wanita tua pemilik toko bunga itu—Mrs. Caroline—menyapanya dengan ramah. "Toko bunga anda buka sangat pagi sekali, ya."
Jam dalam dirinya berkata, angka menunjuk pukul delapan tepat.
"Aku selalu memegang teguh pada pepatah, bahwa kecantikan alami dari setangkai bunga terjadi pada waktu pagi hari," sahut Mrs. Caroline, diplomatis. "Kau pasti bisa merasakannya bukan, anak muda? Duh, rasanya aku kembali menjadi muda jika sudah menyangkut bunga dan pagi hari."
Kelakar itu disambut Jungkook dengan tawa kecil, meskipun nyatanya tidak terlalu lucu. "Pantas toko bunga anda sangat terkenal di sini, Ma'am."
Bola mata Mrs. Caroline berbinar antusias. "Kau selalu bisa menyenangkan hati wanita tua," ia mengedarkan pandangannya sejenak, sebelum kembali kepada Jungkook. "Jadi, bunga seperti apa yang kau inginkan untuk kekasihmu, Sherrif?"
"Oh?" Jungkook mengangkat alis. "Ah, tidak, tidak. Saya kemari bukan untuk itu, Ma'am. Kebetulan sekali rute perjalanan pulang sama dan melewati tempat ini, jadi tak ada salahnya saya mampir sebentar."
"Memang benar," Mrs. Caroline mengangguk khidmat. "Aku selalu menyukai anak muda yang sopan sepertimu. Biasanya, toko bunga ini dilalui begitu saja oleh kalangan anak-anak muda. Kecuali bagi mereka yang memang sengaja untuk membeli bunga dan akan diberikan kepada orang yang penting, atau semacam itu kebanyakannya. Tapi untuk anak muda sepertimu, aku tidak terlalu yakin."
Terus terang saja, Jungkook senang mendengar pujian tidak langsung itu.
"Mungkin tidak terlalu sering, tapi selalu ada saja yang dengan senang hati mampir kemari bahkan tanpa membeli bunga sekali pun." Maksud dari perkataannya tidak menyinggung, dan Jungkook tidak keberatan mendengarnya. "Omong-omong, Sherrif, sekarang aku jadi teringat dengan bunga anyelir putih yang kautatap kemarin."
Bahu Jungkook menegang. Tidak, Jungkook, tenangkan dirimu. Anyelir di sini bukan berarti ciri khusus suatu pembunuhan yang ditunjukan oleh sang pelaku. Ini hanya toko bunga, hanya toko bunga. Wajar jika Mrs. Caroline menjual bunga anyelir sebagai salah satunya. Wajar pula jika wanita tua itu mengalihkan pembicaraan pada bunga anyelir karena perbincangan mereka kemarin malam.
Sudut mata Jungkook melirik waspada, di tempat yang sama, di mana pot bisu berisi bunga anyelir putih yang dimaksud masih tersimpan dengan begitu manisnya. Kusen jendela toko itu tampak bersinar karena berkas sinar matahari yang menyorotnya.
"Sama sepertimu, orang yang membeli anyelir putih waktu itu juga sangat sopan sekali."
Jungkook menoleh cepat, lalu mengernyit. Tunggu, tunggu, ada yang janggal di sini. Sesuatu yang dilupakannya meski ia sendiri tidak pernah memikirkannya. Sesuatu yang penting...
"Seorang pembeli?"
Mrs. Caroline mengangguk semangat. "Aku sudah bilang, kalau tidak salah. Dia orang yang mengingatkanku akan makna bunga itu sendiri. Tetapi aku langsung teringat dengan nama lain dari bunganya. Aku lupa, bahasa biologi-kah?"
'Wajahnya mengingatkanku pada makna anyelir putih itu sendiri.'
"Ma'am," panggil Jungkook, bibirnya sempat gemetar saat ia berbicara. "Kalau boleh saya tahu, kapan tepatnya orang yang anda maksud itu membeli bunga anyelirnya di sini?"
"Ah, coba kuingat-ingat,"
'Ya, itu sudah lama sekali, kalau aku tidak salah. Duh, maaf anak muda, daya ingatku mulai mengalami penurunan akhir-akhir ini.'
"Aku tidak terlalu mengingatnya dengan baik,"
Ingatlah, kumohon ingatlah.
"Tapi kalau tidak salah, itu terjadi di malam hari. Saat aku baru saja mau menutup tokonya." Jari telunjuk diketuk pelan di bawah dagu. "Sekitar pukul sepuluh malam—ya, ya, pukul sepuluh."
Jungkook mematung. Fragmen-fragmen kecil mulai melayang dalam benaknya secara acak.
'Ada perbedaan yang terlihat di antara Anyelir putih yang disimpan si pelaku hari ini dan pembunuhan sebelumnya.'
[Kasus kematian Kim Joomyeon. Pukul sebelas. Korban kedua. Alamat nomor seratus lima puluh lima]
'Ya, karena si pembunuh tidak memetiknya langsung. Tapi membelinya dari seorang penjaga toko bunga.'
[Perdebatan kecilnya bersama Park Jimin]
"Sherrif, kenapa wajahmu pucat sekali?"
Jungkook merasa saraf-saraf di sekujur tubuhnya mati, membeku, dingin dalam beberapa detik ke depan. Ada yang menyentaknya tanpa peringatan. Ingatan fotografinya yang berjalan begitu cepat layaknya aliran darah dalam saluran pembuluh. Ada yang hilang di sini. Ada yang hilang. Kepingan terpenting yang selama ini tidak dihiraukannya.
Anyelir putih ...
Ia mual. Kepalanya begitu pening. Otaknya menolak untuk berhenti mengeluarkan spekulasi.
Anyelir ...
... putih.
Astaga! Kenapa ia tidak menyadarinya lebih cepat?
—Good luck.
~oooOOOooo~
"Jungkook, kenapa kau terlihat seperti baru saja melihat han—"
"Lupakan itu, Hoseok-hyung. Sekarang, dengarkan aku baik-baik,"
Hoseok mengerutkan kening, tampak kebingungan ketika Jungkook merangsek masuk ke ruang kerjanya tanpa tedeng aling-aling. Bulir-bulir keringat jatuh membasahi pelipisnya, sorot matanya kacau, bahkan napasnya terengah-engah karena lelah telah berlari.
"Ada apa?" tanya Hoseok waspada. "Kau terlihat... panik."
"Hyung, apa Hyung tahu kapan spesifiknya telegram yang dikirimkan pelaku kemarin malam?"
"Maksudmu, pesan morse itu?"
Jungkook mengangguk tidak sabaran. "Kapan lebih tepatnya? Dari mulai jam, menit, dan detik."
"Ow, ow, tenang Jungkook,"
"Demi Tuhan, Hyung! Jangan memintaku tenang di saat seperti ini."
"Baiklah, baiklah. Dari kabar yang kudengar, pesan itu baru dilihat oleh pihak kepolisian pukul setengah sebelas malam. Akan tetapi, beberapa pihak menduga bahwa pesan itu dikirimkan jauh sebelum pukul setengah sebelas. Tapi, Jungkook, jika kau mendengar kesimpulanku, aku bisa menjamin bahwa telegram morse itu tiba di waktu sama ketika Lady Kim meninggal."
"Saat itu, tidak ada satu polisi pun yang menyadarinya?"
"Kalau pun ada," sanggah Hoseok, "dia tidak terlalu memperhatikannya. Kematian Lady Kim saat itu benar-benar mengguncang banyak orang, termasuk pihak kepolisian Scotland Yard."
"Itu berarti, memang terjadi saat Lady Kim meninggal?"
"Kesimpulanku, ya." Kening berkerut samar. "Omong-omong, ada apa, Jungkook? Kalau kau menembukan petunjuk, sekecil apa pun itu, katakan saja. Itu akan sangat membantu."
Jungkook membuang napas kasar. "Tidak terlalu bisa dikakan petunjuk juga,"
"Kau yakin?"
Jeda sejenak, setelah itu, "Sangat."
"Lalu, bisa kau jelaskan kenapa sekarang—"
Brak!
"Hyung!"
Mereka berdua serentak menoleh.
Park Jimin masuk tanpa diminta, bahkan mengabaikan daun pintu yang menganga begitu saja. Jungkook menatapnya dengan jengkel, meski Jimin tidak terlalu memperhatikannya.
Hoseok bertanya lebih dulu. "Terjadi sesuatu, Jimin-ah?"
"Interogasi bersama Miss Claire baru saja selesai."
"Oh? Sudah sele—"
"Claire?" Diliriknya Hoseok sekilas, meminta penjelasan. "Asistennya Lady Kim?"
"Ada masalah dengan hal itu?"
Pelipis Jungkook berkedut, ia terdiam beberapa detik kemudian. Menimang apakah hal yang dilakukannya nanti akan memberikan hasil yang baik. Tetapi untungnya, keputusan yang diambilnya itu tidak terlalu memakan waktu yanga banyak.
"Hoseok-hyung," sorot mata Jungkook berkilat serius. "Bisakah aku berbicara dengannya sebentar?"
~oooOOOooo~
Miss Claire, atau dengan nama lengkap Renata Claire, adalah seorang wanita karier di penghujung umur dua puluh enam; dengan rambut cokelat panjang yang disisir halus, pipi tirus dipoles pemerah natural, dan sapuan lipstiknya yang rata. Jungkook mendapati kesan bahwa Miss Claire adalah seorang wanita yang cerdas, matang, dan penuh pertimbangan. Dan semua itu terlihat jelas dari cara bagaimana ia bersikap atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan polisi untuknya.
"Maaf mengambil waktumu lagi, Miss." Jungkook mengulas senyum ramah (yah, cukup untuk membuat pipi gadis itu merona. Dan semoga saja Taehyung tidak marah). "Saya hanya ingin meminta beberapa informasi yang sekiranya penting."
"Tentu," Miss Claire berdeham kecil. "Asal kau tahu saja, semua yang kuketahui sampai saat ini sudah kujelaskan pada polisi-polisi sebelumnya."
Jungkook mengangguk paham. "Semoga pertanyaan saya ini tidak membuat anda bosan." Kira-kira setelah dua puluh detik berjalan dengan hening canggung, Jungkook memulai. "Menurut informasi yang saya dengar, anda ini asistennya Lady Kim?"
"Asisten pribadi, lebih tepatnya. Atau bisa dibilang sekretaris yang mengatur segala sesuatunya yang berhubungan dengan Nyonya. Dimulai dari pertemuan penting, rapat politisi, pesta-pesta yang harus dikunjunginya bersama suaminya, bahkan acara minum teh sekali pun. Kalau boleh saya bersombong diri, saya hampir mengetahui semua jam-jam khusus Nyonya selama beliau hidup dan membutuhkan bantuan saya."
Lagi, anggukan sebagai repon awal. Jungkook tidak menduga bahwa wanita muda di depannya itu senang berbicara.
"Lalu, kudengar bahwa anda selalu membawakan lipstiknya beberapa menit sebelum Lady Kim naik ke panggung?"
"Itu benar." Matanya berkata jujur. "Nyonya tak pernah menghilangkan kebiasaan yang satu itu. Beliau pernah bilang, dia harus selalu tampil sempurna di atas panggung. Tidak boleh mengecewakan penonton. Tidak boleh setengah-setengah ketika berakting. Segala sesuatunya harus berjalan dengan semaksimal mungkin."
"Anda sama sekali tidak sadar bahwa lipstik itu ditaburi racun?"
Air muka Miss Claire mendadak keruh. "Saya akan berterus terang, Sir. Bahwa ketika malam itu, tepat sebelum Nyonya bersiap-siap menuju belakang panggung, lipstik Nyonya tiba-tiba saja hilang."
"Hilang?"
"Ya. Lipstik itu biasa saya simpan di meja rias Nyonya setelah Nyonya berganti baju. Boleh dibilang, itu adalah lipstik yang istimewa. Karena Ratu Victoria sendiri yang memberikannya kepada Nyonya di pesta dansa waktu itu. Tapi, begitu saya dan Nyonya keluar untuk melakukan pemanasan bersama pemain lain, lalu saya kembali lagi untuk mengecek ruang rias Nyonya, lipstik itu sudah tidak ada di tempatnya."
"Anda tidak merasa ada seseorang yang mengambilnya?"
"Saya rasa tidak ada," Claire begitu yakin. "Saya pikir Nyonya sendiri yang membawanya, jadi saya tidak terlalu mencemaskan hal itu."
Jungkook membayangkan, apa yang dijelaskan Miss Claire saat itu adalah kronologi ketika ia sendiri bertemu dengan Lady Kim dan sempat berbincang ringan. Membicarakan tentang bela sungkawa dan rasa terima kasih kepada Taehyung.
"Lalu, apa yang terjadi setelah itu?"
"Saya kembali ke ruang Nyonya, tentu saja. Pemanasan tidak terlalu memakan waktu banyak dan Nyonya selalu meminta waktu seorang diri sebelum pentas. Singkat cerita, begitu saya kembali agar memintanya segara bersiap-siap, lipstik itu sudah berada di tangan Nyonya."
Suatu pekerjaan yang cerdik sekali. Dilakukan dengan begitu apik dan teliti. Juga hati-hati.
"Apa saat itu—anda tidak melihat orang lain di sana? Keluar dari ruangan Lady Kim, misalnya?"
"Tidak, tidak ada. Dan jika pun ada, orang itu tidak lain adalah para staf atau sutradara sendiri. Dan percayalah, mereka sama sekali tidak tahu menahu soal lipstik dan kebiasaan Nyonya."
Jungkook menarik napas sepanjang mungkin. Semakin ditelusuri lebih jauh semakin sulit pula kesimpulan yang dapat diambilnya.
"Oh, satu hal lagi, Sir."
Telinga dipasang baik-baik.
"Saya juga melihat buket bunga anyelir putih di ruang Nyonya, tepat di atas meja riasnya. Dan begitu saya bertanya buket itu dari siapa, Nyonya hanya tersenyum kecil."
Sepasang netra Jungkook memicing.
"Nyonya bilang, keluarga lama datang berkunjung. Saat itu, Nyonya terlihat senang sekali, tapi juga sedih di saat bersamaan. Beliau pernah bilang, bahwa ada seseorang di luar sana yang disayanginya tetapi tak pernah bisa diraihnya. Seolah-olah kau melihatnya dengan jelas, namun tidak bisa menyapa."
~oooOOOooo~
"... apa kau bilang... Jungkook?"
Bekerja sama dengan si omong besar ini menyusahkan, batin Jungkook.
"Aku yakin kau mendengarnya."
"Kau gila!"
"Memang, aku terlihat gila, Jimin. Tapi inilah faktanya."
"Fakta katamu!?" teriak Jimin. "Dengan menunjuk orang yang—"
"Park Jimin!" Cukup, amarahnya sudah dipuncak. "Kau detektif, pasti jauh lebih mengerti dalam hal ini. Bukankah kau seharusnya bersikap profesional? Sekali pun kau tidak ingin melakukannya?"
"Tapi, demi Tuhan Jungkook, ini benar-benar gila!" Jimin mengacak rambut frustrasi. "Bagaimana kalau kau salah?"
"Aku tahu. Dan aku bisa saja salah total sampai mendapatkan hukuman yang setimpal." Napas dihembus gusar. "Tapi ini kenyataannya, semua ini adalah nyata. Kumohon, mengertilah Park Jimin."
Bola mata Jimin membelalak.
Tak pernah sekali pun dalam hidupnya, bahkan dalam mimpinya sendiri, Jeon Jungkook mengucapkan sebuah permohonan di hadapannya langsung.
~oooOOOooo~
Kim Taehyung menyelipkan sandal rumah di sepasang kaki telanjangnya, memakai sweater kebesaran dengan terburu-buru, lalu berderap santai menuju wastafel yang terletak tidak jauh dari kamar tidurnya. Ia merasa segar begitu bangun, hasil dari waktu istirahatnya (for God sake, empat jam. Seharusnya Jungkook berterima kasih untuk hal ini). Ketika senja mulai muncul dan menyalip di sela-sela jendela gedung flat-nya.
"Taehyung," panggilan Yoongi menggema, dari arah ruang makan. "Selai madu atau saus apel?"
"Madu!" balas Taehyung, nyaris berteriak. "Dan jangan lupa tambahkan esens mint di dalam cangkir tehku."
Perlu waktu sepuluh menit begitu Taehyung selesai membasuh muka, menyikat gigi, bahkan melakukan olahraga kecil agar otot-otot tubuhnya tidak terlalu kaku. Ia tidak biasa tidur terlalu lama, apalagi sampai menghabiskan berjam-jam non-stop. Taehyung tahu benar bahwa manusia sekurang-kurangnya membutuhkan waktu selama enam dari dua puluh empat jam untuk tidur. Namun, jika bukan karena Min Yoongi dan segala rentetan kalimat protes yang menjengkelkan, ia bisa saja menghabiskan waktu seharian penuh tanpa harus tidur. Gila, terserah—memang bakatnya.
"Bagaimana tidurmu, eoh?"
Taehyung mendelik sinis, sampai kursi depan meja makan ditarik sambil mendudukinya dongkol. "Berhenti Hyung, kau membuatku geli."
"Meh," cibir Yoongi. "Padahal Jungkook sering melakukannya denganmu, tapi kau sama sekali tidak protes. Dasar pilih kasih."
"Aku—" Taehyung kelu. Dan ia berani bersumpah seluruh wajahnya begitu panas. "Berisik! Tidak perlu bawa-bawa Jungkook ke sini!"
"Kukirim foto meronamu baru tahu rasa kau, Taehyung."
"Hyung!"
Senja itu seharusnya menjadi hari yang tenang. Senja yang damai. Senja yang berjalan sebagaimana mestinya dan Taehyung tak perlu memikirkan sejauh mana penyelidikannya berakhir. Jungkook benar, ia membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Barang sedetik saja, dan semuanya akan berjalan seperti sedia kala.
Setidaknya, begitulah harapan Taehyung.
Sampai akhirnya ...
—Suara gebrakan pintu yang dibuka paksa.
"Angkat tangan dan jangan ada yang bergerak."
"Astaga, Jung—tunggu! Ada apa ini!?"
—dua orang polisi termasuk Jungkook, dan Jimin yang mengikuti, merangsek maju tanpa dipersilakan.
"Jungkook!" Yoongi berteriak panik. "Kenapa tidak bilang—hei, hei! Apa maksud kalian!? Itu sakit! Lepaskan!"
Taehyung berusaha melawan, bahkan tak tanggung mengambil ancang-ancang untuk melakukan pukulan telak terhadap dua polisi yang menahan Yoongi. Akan tetapi, niatnya tak berhasil. Ia melupakan keberadaan Jeon Jungkook dan Park Jimin di sekelilingnya, yang dengan gesit menahan pergerakannya. Ia lupa bahwa kekuatannya tidak akan seimbang dengan mereka berdua. Taehyung lupa akan segalanya.
(Saraf motoriknya terus memberontak. Hentikan! Hentikan. Jangan sakiti Yoongi-hyung! Jangan menyakitinya. Jangan menyakitinya).
Dan tak ada satu pun di dunia ini—satu pun—yang mampu mempersiapkan batin seorang Kim Taehyung begitu salah satu dari polisi itu, dengan tangan besar dan kekarnya, membanting Yoongi ke atas meja makan hingga posisi berbalik dengan kedua lengan di belakang, sedangkan polisi lainnya mengingatkan borgol di kedua pergelangan tangan Yoongi.
Taehyung membelalak, darah mendidih di sekujur tubuhnya, membakar setiap sel-sel hidupnya tanpa ampun. Ia marah. Ia marah. Ia marah dan tak ada hal yang bisa dilakukannya selain berontak juga berteriak.
Persetan dengan Jungkook dan Jimin!
"Taehyung dengarkan aku, dengarkan—"
"Diam kau Park Jimin! Kau sama sekali tidak tahu apa-apa!" Tangan menepis kasar, tetapi Jungkook berhasil menahannya. "DAN KAU JUNGKOOK! APA MAKSUDNYA SEMUA INI! APA YANG SEBENARNYA KAU LAKUKAN!"
Demi Tuhan! Jeon Jungkook baik-baik saja saat pagi tadi. Pemuda itu mencemaskannya, mengkhawatirkannya, bahkan mengomel tentang matanya. Jeon Jungkook yang Taehyung kenal tidak seperti ini! Yang dengan sengaja berpaling sinis dan tidak berani memandang matanya langsung.
"Aku sudah tahu, Taehyung. Semuanya." Sorot mata Jungkook menajam. "Ingat baik-baik apa yang dikatakan Nyonya Chon kemarin malam. Dia tidak sendirian berada di rumah itu. Seorang kepala pelayan, beberapa koki masak, dan satu orang lagi yang belum selesai disebutkan olehnya ketika akhirnya Kim Hyoin muncul." Nadanya tegas, penuh keyakinan dan tanpa ragu sedikit pun. "Tapi aku yakin, orang yang akan disebutkan oleh Nyonya Kim saat itu adalah seorang kenalan yang baru saja pulang. Sampai beberapa menit kedatangan Kim Hyoin, dia datang kembali dengan segala alasannya yang logis dan mudah dipercaya."
Hening, yang terasa bagai satu windu lamanya, ketika Jimin mengambil alih keadaan.
"Jungkook..."
"Orang yang mengirim telegram morse ketika malam itu, dan terjadinya serangkaian kasus akhir-akhir ini, adalah kau ..."
Bola mata Taehyung membesar. "... tidak. Bukan dia pembunuhnya."
"... Min Yoongi."
Taehyung lekas melirik panik ke arah Yoongi, meminta penjelasan lebih. "Hyung, katakan kalau itu tidak tidak benar."
Namun, Min Yoongi tak pernah mengucap pembelaan.
~oooOOOooo~
Koridor itu kosong, penuh akan trauma, dan berbau sepi yang mencekam.
Jung Hoseok mempercepat kedua langkah kakinya, asap rokok melambung tinggi ketika ia sengaja meniupnya dengan bibir gemetar, sampai terbatuk sesekali karena sesak yang menggerogoti dada. Ia sudah biasa melewati koridor yang digunakan untuk menuju ruang interogasi itu, yang dipajaknya saat ini. Akan tetapi, terkadang Hoseok tak dapat memungkiri, bahwa ada saat dimana ia merasa takut dan putus asa. Merasa begitu kecil dan tak berdaya.
Terlebih ketika ia tahu bahwa orang yang dianggap tersangka adalah seseorang yang tidak pernah Hoseok duga untuk melakukan suatu pembunuhan keji.
Kenop diputar sembilan puluh derajat, sampai daun pintu terbuka dan Hoseok tak perlu menunggu persutujuan untuk masuk. Sebuah ruangan kecil, tidak kosong namun juga tidak penuh dengan barang-barang penting kecuali meja dan kursi.
"Bagaimana, Jimin-ah?"
"Seperti dugaanku, ini omong kosong," Jimin medesah, tampak depresi. "Tapi, Min Yoongi sama sekali tidak membantah soal telegram itu."
"Maksudmu, dia mengakuinya?"
"Tidak, dua-duanya tidak. Dan semua ini membuatku bingung karena Yoongi-hyung tidak berbicara apa-apa saat interogasi tadi. Di sisi lain, hipotesa-hipotesa yang dikeluarkan Jungkook benar-benar logis dan tidak ada yang menyalahkan."
"Sampai sekarang?"
"Sampai sekarang."
Hoseok mendesah pasrah, ia tahu betapa sulitnya masalah yang dihadapi Jimin. Karena ia sendiri pernah merasakannya, dulu. "Lalu, bagaimana dengan Taehyung?"
"Kacau." Mata dipejamkan erat. "Taehyung begitu kacau. Aku bahkan tidak ragu kalau dia membenci Jungkook seumur hidupnya."
"Kenapa Taehyung harus membenci Jungkook?"
Kelopak mata dibuka perlahan. "Sudah jelas, bukan? Karena Jungkook menuduhnya sebagai pembunuh?"
"Kalau kau mendengar kesimpulanku, Park Jimin, kasus ini terlalu janggal untuk dipahami."
"Aiish, percuma Hyung berkata seperti itu, aku bahkan sudah menduganya jauh sebelum Hyung mengatakannya. Semua ini benar-benar tidak ada gunanya, cih."
Jimin bangkit, dan Hoseok meliriknya dengan waspada.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Apa lagi?" Bola mata berotasi malas. "Sebelum Taehyung berubah membenciku, aku akan melepaskan Yoongi-hyung, hanya sebentar. Sampai Taehyung tenang dan mau menerima keadaan ini dengan kepala dingin."
~oooOOOooo~
Itu terjadi ketika malam semakin mencekam dan hujan tiba-tiba datang. Ia merapatkan mantel yang dipakainya, berjalan di sepanjang petak-petak gang kecil dengan langkah besar namun hati-hati. Keciprak air yang membasahi sepatu dan ujung celana hitamnya tidak menghentikan dirinya untuk berhenti.
Ia berhenti pada sebuah bangunan belakang yang tua dan mungkin sudah lama terlupakan. Yang tak lain dan bukan adalah kantor kepolisian Scotland Yard sendiri. Tempat di mana mimpi buruk para pendosa dimulai, sebelum akhirnya mereka dikirim ke sebuah penjara bawah tanah untuk dipermainkan batin dan akal sehatnya.
Bangunan terpencil itu kosong, nyaris tak ada tanda-tanda kehidupan. Namun, ia tetap berjalan layaknya orang mati. Ada, namun tak disadari. Bahkan ketika lengan basah mendorong salah satu pintu hingga suara derit kasar terdengar dan terbuka sepenuhnya, tak ada seorang pun yang melarang.
Malam itu dingin.
Ketika ia mengendap pada jalan setapak khusus begitu masuk, dalam remang nyala lilin yang berkibar kecil, dan pengap yang membuat dadanya sesak. Ia sendirian, di antara remang yang mematikan, dan seolah buta dengan sendirinya. Tak apa, pikirnya. Kegelapan ini akan segera berakhir. Sampai ia berhenti di sebuah lorong tak berujung, dan membawa paranoid yang berlebih.
Sedikit lagi, hiburnya lebih ke arah diri sendiri. Sampai ia menemukan ruang tujuan utamanya, menemukan apa yang dicarinya, dan semuanya akan berakhir seperti sedia—
"Aku tidak memanggilmu untuk datang kemari,"
Tap.
Ia berhenti, tidak berbalik tidak pula menoleh. Tidak gemetar dan ketakutan seolah baru saja tertangkap basah. Dan tak sekali pun menunjukan rasa cemasnya akan sosok tak asing yang berdiri sejauh dua meter darinya.
"Tuan Anyelir Putih, begitukah kau menamai diri sendiri? Lucu sekali," tawa getir mengudara, "benar-benar jauh dari dugaanku. Lucu, sampai si kecil Hyoin seolah membeberkan segalanya."
Bahu menegang refleks, hanya sekilas, bahkan hampir tidak disadari. "Dari mana kau tahu," jeda sejenak, "Jeon Jungkook?"
Tak sampai waktu setengah sekon ketika ia berbalik dengan ringan, ringan sekali. Seringan bagaimana ia menarik tudung mantelnya dan menampakan helai rambut cokelat tua, iris mata yang sewarna, dan rona pipi pucat karena dingin. Seringan ia memandang jauh terhadap sosok tinggi yang menantinya, jauh, jauh sebelum kunjungan diam-diamnya.
Dan bagaimana sepasang kelereng favoritnya itu memandang Jungkook dengan begitu datar.
"D. Karyopilus," sahut Jungkook kalem. "Adalah pengucapan yang salah dari kata D. Caryophyllus, atau biasa disebut Dianthus Caryophyllus, yang berarti anyelir putih dalam bahasa latin. Penjaga toko bunga itu berkata, bahwa makna bunga itu sendiri mengingatkannya akan seseorang. Kepada seorang pemuda yang datang hanya untuk membeli setangkai bunga anyelir putih dan bertepatan dengan hari kematian Kim Joomyeon."
Tak ada perubahan pada ekspresi wajah lawan bicaranya. Sama sekali tak ada perubahan, sekecil apa pun itu.
"Kim Hyoin sengaja memberimu panggilan D. Karyopilus karena dia tahu. Karena gadis itu mengenalmu dengan baik, jauh sebelum kau bertemu dengannya lagi kemarin malam. Kim Hyoin tahu benar siapa kau, dan panggilan itu bukanlah semata-mata karena asal."
Sorot mata bersirobok telak.
"Kim—ah, tidak, bukan itu. Perlukah kupanggil ..." ludah ditelan susah payah. "... Min Taehyung?"
~oooOOOooo~
Taehyung kecil terkadang tidak mengerti, mengapa ayah dan ibunya terlihat seperti menyimpan sebuah rahasia besar. Raut mereka selalu khawatir, merasa cemas tak beralasan, dan sering kali bertingkah terlalu posesif terhadapnya. Namun, Taehyung kecil tak pernah mengeluh.
Ia pernah mendapati ayahnya mendekam seorang diri di ruang kerja, ketika malam disambut oleh guntur dan petir karena badai besar. Saat itu, Taehyung kecil baru saja bermimpi buruk hingga terjaga dari tidurnya. Ia tak bisa menemukan sang ibu di sampingnya, tidak juga dengan kakaknya, sampai kaki kecilnya berhenti di depan pintu kembar besar ayahnya.
Ayahnya adalah pria yang hebat. Sangat hebat, pikir Taehyung kecil.
Pria itu berhasil menarik kehidupan keluarga kecil dan sederhananya dengan bergelimang harta dan tahta, walaupun sifat ramah dan baik hatinya tidak pernah dihilangkan. Banyak orang yang menyukainya, menyukai keluarga kecilnya, bahkan sang Ratu sekali pun.
Hari itu, Taehyung kecil bertanya lugu. "Apa pekerjaanmu, Appa?"
Dan dijawab dengan tulus oleh sang ayah. "Pengawal sang Ratu."
Taehyung kecil pikir, itu adalah jawaban yang lumrah. Karena gelar Duke yang disandangnya tak mudah untuk didapatkan. Ia bisa sampai hidup dengan segala keinginan terpenuhi dan mainan yang menumpuk setelah kepindahannya ke Inggris, dan semua itu terjadi karena jerih payah ayahnya. Atas dedikasinya yang tinggi kepada sang Ratu dan keluarganya.
Sering kali Taehyung bertanya hal yang sama, karena menurutnya itu sangat lucu. Ayahnya akan tersenyum dengan lembut, mengusap puncak kepalanya dengan sayang, dan menjawab dengan begitu sabarnya meski berulang kali pula ia harus menjawab hal yang sama. Taehyung kecil selalu suka bertanya, ia selalu ingin mengetahui tentang dunia luar dan betapa luasnya bumi yang dipijaknya ini.
Taehyung kecil bahagia dengan keluarga kecilnya.
Sampai suatu saat ...
"Taehyung, Taehyung sayang, dengarkan Eomma baik-baik."
Semua itu terjadi begitu cepat. Api melambung besar dan menyelimuti seluruh bangunan mansion. Panas yang menjalar. Dan teriakan seluruh penghuni di dalamnya.
"Teruslah hidup untuk Appa dan Eomma-mu. Teruslah hidup sampai kau berhasil."
Darah mengalir dengan lancar; di tubuh ayahnya, di setiap jengkal kulit ibunya; merah, merah, semuanya tampak merah dan oranye.
"Jaga baik-baik hubunganmu bersama kakakmu, Taehyung sayang. Kau adalah keberuntungan kami."
Seseorang menarik lengannya. Taehyung kecil berteriak. Ia berteriak kala jilatan panas itu mengaburkan segalanya.
"Yoongi akan melindungimu. Kakakmu akan selalu melindungimu, Taehyung."
Dan semuanya begitu gelap.
.
Keesokan harinya, berita besar disebarkan.
'Kediaman Duke hancur. Keluarga bangsawan Min hanya tinggal nama. Diduga tak seorang pun yang bertahan hidup termasuk kepala keluarga, sang istri sendiri, dan dua anak laki-lakinya.'
.
~oooOOOooo~
.
.
"Apa pekerjaanmu, Appa?"
"Penjaga Sang Ratu."
.
.
~oooOOOooo~
"Kau benar, Jungkook." Seulas senyum diukir manis. Begitu manis sampai Jungkook tak kuasa untuk memandangnya lama. "Marga Kim dalam nama Kim Taehyung diberikan ketika keluarga Kim sendiri memberikan marga itu untukku. Ketika mereka tahu, bahwa warisan yang diberikan sang Ratu kepada keluarga Min tidak bisa dikatakan sedikit. Ketika akhirnya mereka sadar, bahwa salah satu anggota keluarga sang Duke bertahan hidup hingga saat ini."
Kedua tangan Jungkook terkepal sampai buku-buku jarinya memutih. Sekali pun ia meyakinkan diri bahwa semua ini adalah mimpi, meski akhirnya fakta berkata lain. Buka matamu, Jeon Jungkook! Kau sedang menghadapi kenyataan.
"Mereka sebenarnya tolol, sangat tolol. Menganggap bahwa salah satu anggota keluarga Min masihlah hidup. Mereka hanya melihat seorang, tidak dengan kedua anaknya. Sampai akhirnya mereka menemukanku dan memintaku untuk datang ke Inggris dengan alasan menjadikanku sebagai anak angkat mereka. Sebagai bagian dari keluarga Kim." Sepasang netra cokelatnya mendelik sinis. "Tapi, bagaimana kau tahu itu adalah aku, Jeon Jungkook?"
"Berterima kasihlah kepada Park Jimin, Taehyung. Dengan kemampuan telatennya, aku menemukan berkas silsilah keluarga Kim dan menemukan namamu di sana." Jungkook teringat, pada hari di mana mereka ditugaskan di tempat yang sama. Hari di mana panggung terakhir Kim Jae Rin digelar. Hari di mana ketika Jungkook mendapati berkas acak itu di atas meja kerja Jimin dan ia mengambilnya tanpa permisi. "Awalnya aku tidak menduga kalau itu namamu. Yang bisa kubaca hanyalah marga Min, seorang Min dalam silsilah keluarga Kim."
Hari di mana Jungkook mendapati satu petunjuk kecil yang mematikan rasa percayanya.
"Kau tahu apa yang kulakukan pertama kali? Ya, berpikir bahwa semua ini hanyalah kebetulan konyol. Bahwa nama itu tidak mengarah pada Min Yoongi." Rahang Jungkook mengeras. "Terlalu banyak seseorang di dunia ini menggunakan marga Min. Pasti bukan, pasti bukan Min Yoongi orangnya. Orang yang tinggal denganmu selama ini bukanlah pelakunya. Dan keyakinanku terbukti benar, begitu kematian Lady Kim terjadi dan telegram morse yang dikirimkan pada alamat kantor polisi tidak mungkin dilakukan oleh orang yang sama, pada waktu yang sama pula."
Taehyung bergeming.
"Lalu aku memutar semuanya dari awal. Pasti ada seseorang, seseorang yang memiliki akses besar untuk bisa mendekati kediaman Kim, kantor Lord Kim sendiri, bahkan menarik perhatian seorang anak kecil pada pertemuan pertama."
"Itu bukan alasan, Jungkook. Siapa pun bisa memasuki rumah dan kantor keluarga Kim dengan bebas. Bahkan pencuri amatir pun bisa melakukannya. Atas alasan apa kau menuduhku bahwa aku akan masuk ke ruangan kerja Lord Kim, membunuh pria itu, lalu keluar dengan keadaan jendela terkunci dari dalam?"
"Luka di tanganmu," jawab Jungkook, kelewat cepat. "Aku ingat luka yang ditanyakan Seokjin-hyung. Luka itu, meskipun sudah mengering dan nyaris tidak terlihat, tetap menunjukan bahwa luka itu baru saja kau dapatkan. Pada malam ketika Lord Kim berontak dan perlawanannya itu membuahkan hasil. Sedikit, memang. Tapi kau tetap mendapatkan luka itu." Benaknya kembali berkelana. Pada saat di mana obrolannya bersama Lady Kim terjadi. "Lalu, Lady Kim pernah berpesan padaku, untuk menyampaikan rasa terima kasihnya pada seorang Kim Taehyung karena menjadi orang pertama yang telah menemukan mayat suaminya. Bukankah sudah jelas? Orang pertama. Simpelnya, setelah Lord Kim terbunuh pada malam itu dan kau berhasil melarikan diri lewat jendela, kau kembali dari pintu depan. Memberi tahu para petugas untuk mengecek keadaannya dan membiarkan kau masuk lebih dulu. Memastikan bahwa jendela yang sebelumnya tidak terkunci sudah kau kunci dari dalam. Ini hanyalah sebuah trik amatir."
"Hah!" Taehyung tertawa. Suara tawanya itu menggema di sepanjang lorong sepi dan dipantulkan dengan liarnya. "Kau harus melihat bagaimana ekspresi pria tua itu ketika melihatku! Yang dengan bodohnya, menerimaku masuk karena aku adalah anak angkatnya. Karena dia tidak pernah menduga anak angkatnya akan datang berkunjung dengan alasan ingin bertemu secara pribadi. Dia tentu mengizinkanku dengan mudah. Para bawahannya pasti akan menuruti semua perintahnya. Akan tetapi, yang terjadi malam itu sama sekali tidak pernah disangka-sangka karena dia sendiri yang akan dibunuh olehku."
Jungkook tidak mengenal Taehyung yang ini. Ia tidak mengenal pemuda dengan senyum manis di hadapannya itu.
"Lalu, si tampan Kim itu, cih! Sejak dulu aku tidak pernah suka dengannya. Dan kau tahu kenapa, Jungkook? Dia, bedebah Kim Jongin dan segala sifat busuknya, menginginkan tubuhku secara terang-terangan. Dia memintaku untuk menjadi pelacur pribadinya. Yang benar saja! Kakak angkatku sendiri? Menginginkan adik polosnya sebagai pelacurnya? Lucu sekali! Untuk itu aku sengaja menerima undangannya, dengar, dia sendiri yang dengan sukarela mengundangku malam itu. Tanpa sepengetahuan Bibi Chon dan kepala pelayan. Hanya dia yang tahu bahwa aku akan datang. Dan hanya dia seorang yang tahu bahwa aku adalah pembunuhnya."
Darah mendidih di sekujur tubuh Jungkook. Selama ini, ia menempatkan Taehyung dalam prioritas utamanya sebagai seseorang yang seharusnya ia lindungi. Segala hal dalam diri seorang Kim—tidak—Min Taehyung adalah miliknya. Taehyung adalah miliknya, milik seorang Jeon Jungkook dan tak ada seorang pun yang mampu membantah ultimatum mutlaknya.
"Terakhir, adalah Lady Kim." Obsidian Jungkook menggelap. "Aku tahu Yoongi-hyung tidak membiarkanmu keluar saat itu, Taehyung. Aku tahu dia tidak akan melakukannya. Tapi, apa yang menjadi fatalnya adalah ketika aku meninggalkan kunci kamar di lubang kuncinya."
Dengan kata lain, ada sebuah trik tidak tertulis namun cukup wajar di kalangan masyarakat. Seperti ketika Taehyung tahu bahwa ia terkurung di dalam ruangan terkunci dengan anak kunci yang tergantung di lubangnya. Ia hanya perlu menyelipkan kertas tipis pada sela bawah pintu, melakukan trik khusus di lubang kunci sebaliknya dengan sebuah kawat tipis, hingga anak kunci di luarnya terlepas dan jatuh tepat di atas kertas yang ia selipkan. Dan berakhir dengan kertas ditarik dan kunci berhasil didapatkan.
Trik itu terlalu mudah, sungguh. Terlalu mudah sampai Jugkook sendiri melupakannya.
Terlalu mudah layaknya kode kematian yang merujuk pada kata 'Strychim' dan Jungkook menyadarinya bahwa sang pelaku memang sengaja menulis kodenya tidak jauh dari kata 'Strychnine' itu sendiri.
"Hebat sekali, bukan, Lady Kim itu?" Ringisan kecil dilakukan. "Jujur saja, aku mengagumi permainan aktingnya. Benar-benar menganguminya dengan segala sandiwara yang dia mainkan. Sebagai Lady Capulet, misalnya. Seolah-olah kau tahu setiap cerita yang dituliskan William Shakespeare memang ditujukan untuknya." Taehyung terkekeh ringan, "tapi, karena sifat cerdik dalam sandiwaranya itu, orang tidak akan pernah tahu bagaimana dengan kejahatan yang pernah dilakukannya, dulu. Kejahatan yang disembunyikannya dengan rapi di balik senyum ramah dan sikap disukainya oleh semua orang. Ironis, ya?"
Jungkook menggeleng pelan. Tidak, Taehyung, kau salah. Karena kau tidak pernah melihat bagaimana ekspresi sesungguhnya Kim Jae Rin ketika membicarakanmu. Pemuda Jeon itu mengingatnya dengan jelas. Wanita itu tulus menyayangimu.
"Bagaimana denganmu, Jungkook? Kenapa kau bisa menyadarinya dengan cepat bahwa aku pelaku sebenarnya?"
"Kecerobohan kecilmu, Tae. Kecil, tetapi fatal. Saat kau berkata bahwa Min Yoongi bukan pembunuhnya, padahal aku hanya menyebut pelaku yang mengirimkan telegram morse itu, bukan mengacu pada pembunuhnya. Aku tidak pernah menyebutkan kata pembunuh sebelumnya. Tapi kau mengatakannya, dan semua itu cukup menjelaskan."
"Tipikal sekali,"
"Dan aku melihat sorot mata itu," lanjut Jungkook, terdengar menyedihkan. "Sorot mata yang kau tunjukkan kepada Kim Hyoin, bukanlah sorot mata ingin membunuh. Itu adalah sorot mata seorang kakak kepada adiknya. Sorot mata yang sama seperti Min Yoongi berikan untukmu."
Telegram morse itu berkata; menyerahlah. Sesuatu yang Jungkook pahami karena faktanya, pada kenyataannya, Yoongi memohon pada sang adik untuk menghentikan segala kekacauan yang dibuatnya sendiri. Serangkaian pembunuhan dan dendam sepuluh tahun silam yang tidak pernah dilupakan.
"Kau tulus menyayangi gadis itu, Taehyung."
Taehyung memejamkan mata. "Aku tahu itu." Ia tersenyum getir. "Aku tahu."
"Tae—"
"Lalu, kenapa kau tidak segera melakukannya, Jungkook?"
Sepasang alis terangkat heran. "Melakukan apa?"
Senyum manis kembali diukir. "Membunuhku, tentu saja."
~oooOOOooo~
Mudah mengatakan untuk meminta seseorang membunuh seseorang, terlebih ketika kau dihadapkan dengan seorang pembunuh keji yang melakukan serangkai pembantaian dengan sempurna. Mudah memperlihatkan raut wajah datar dan dingin, seolah kau tidak peduli, dan berkata bahwa membunuh memang seperti itulah adanya. Mudah bagi Taehyung untuk meminta, namun Jungkook tak mudah menerimanya.
"Kenapa Taehyung?" Jungkook merasa sesak. "Padahal aku mempercayaimu sebegini besarnya." Padahal aku mencintaimu begitu besar. Menyayangimu agar kau selalu merasa terlindungi. Tapi... kenapa?
"Kenapa, katamu? Kau bertanya kenapa, Jeon Jungkook?" Lagi, suara tawa menggema. Dan Jungkook bisa mendengar luka, kesakitan, rasa kecewa, kebencian juga perih yang dalam ketika pemuda itu kembali berkata. "Ingatlah seperti yang seringkali aku singgung padamu, dunia ini tercipta dari banyaknya hukum sebab akibat. Satu keberadaan menimbulkan reaksi. Sebuah eksistensi menimbulkan retensi."
Jungkook bergeming. Mencerna tiap tutur kata yang diucapkan Taehyung dengan begitu lancarnya. Sebuah eksistensi menimbulkan retensi. Jika dendam terus disimpan dan tidak dikeluarkan, semua itu cukup untuk mematikan satu area yang selama ini dilindungi.
"Sekarang, dengan adanya aku di sini, masalah seperti apa lagi yang akan timbul, Jungkook?" Pemuda itu lantas beringsut, berjalan mendekati sang polisi dengan begitu anggunnya. Dengan begitu elegannya, namun mematikan. Jarak menipis, ketika akhirnya Taehyung berhenti sejauh sepuluh sentimeter dari posisi Jungkook berpijak. "Lakukan, Jungkook." Suaranya dalam, tetapi juga sarat akan penyesalan. "Lakukan sebagaimana kau melakukannya kepada seorang pendosa."
Bukan, bukan seperti ini. Jungkook kerap kali menolak, meski satu tangannya dengan spontan menarik revolver yang tersampir bisu pada pinggang kirinya. Senjata kecil yang selama ini menemaninya ke mana pun ia pergi. Kapan pun, di mana pun, dalam keadaan apa pun. Dan sekarang, revolver itu tergenggam di antara kesepuluh jemarinya, siap menembak tempurung otak Taehyung kapan saja; ketika dinginnya ujung laras menyentuh kening Taehyung tanpa penolakan.
"Tembak," bisik Taehyung parau, bibirnya gemetar. "Lakukan dengan cepat."
Taehyung maju selangkah dengan sengaja, berjinjit sejenak untuk meninggalkan satu kecupan singkat di bibir Jungkook, dan—
"Hentikan, Taehyung!"
Dor!
~oooOOOooo~
Janji tetaplah janji.
Ketika mandat sang ibu sejak sepuluh tahun silam memasuki gendang telinganya, Min Yoongi tak ragu mengucap sumpah. Bahwa tugas hidupnya yang dipenuhi dengan rasa sakit dan dendam yang terpendam selama ini, ia dedikasikan demi nyawa adik kandungnya sendiri, yaitu Min Taehyung.
Akan tetapi, keluarga bangsawan itu merusak janjinya. Pasangan suami-istri bangsawan Kim menghancurkan sumpahnya, meluluh-lantahkan segala harapan dan mimpi yang Min Yoongi simpan dengan rapat. Ketika marga Taehyung berubah menjadi Kim, ketika Taehyung diambil dari sisinya tanpa izin darinya sedikit pun. Ketika ia lagi-lagi ditinggalkan, dan meninggalkan luka yang sama.
Untuk itu, ketika ia dipertemukan kembali dengan seorang Min—tidak, ia mulai menyebutnya—Kim Taehyung, Yoongi akhirnya sadar. Bahwa adiknya itu telah lama mengambil satu langkah lebih maju darinya. Bahwa kepercayaan yang ditinggalkan Taehyung kepada orang-orang di sekitarnya sudah lebih dari cukup untuk meninggalkan luka yang sama terhadap keluarga Kim. Bahwa dendam adiknya jauh lebih besar dibandingkan dendamnya selama ini.
Namun, lagi-lagi takdir berkata lain.
Jeon Jungkook. Pemuda kepolisian Scotland Yard itu dengan seenaknya menerobos masuk ke dalam teritori hidup Kim Taehyung, teritori adik kecilnya. Yoongi marah, ia tidak menyukainya. Pemuda itu merebut kasih sayang dan perasaan adiknya. Pada awalnya, ia membenci Jeon Jungkook. Awalnya, ketika Yoongi sadar bahwa selama ini ia telah meninggalkan satu perasaan besar yang tidak bisa diberikannya kepada Taehyung, tetapi dimiliki oleh seorang Jeon Jungkook.
Yoongi mengajarkan Taehyung tentang perasaan yang salah; dendam, termasuk kecewa dan luka yang tidak pernah bisa diceritakan. Ia mengajarkan semua itu pada adiknya tanpa sesal sedikit pun.
Termasuk benci.
Namun, ketika Jungkook mampir dalam hidupnya, hidup dari kronologi seorang Kim Taehyung, sang adik menemukan perasaan lain. Jauh lebih kuat dan lebih berharga.
Yaitu cinta.
Dan Yoongi memutuskan untuk mundur dengan perlahan.
.
Dor!
Taehyung membelalak, tepat ketika orang lain melesat maju, menarik lengannya sembari menepis revolver yang Jungkook genggam, ketika pelatuk ditarik dan peluru menembak sasaran yang salah.
Matanya menangkap figur sang kakak.
"Hyung!" pekik Taehyung keras, terlebih ketika Jungkook tersungkur sampai terjatuh. Dan Yoongi menggunakan kesempatan kecil itu untuk menyeret Taehyung agar menjauh, menarik lengan sang adik sekuat mungkin. Berlari di sepanjang arah yang berlawanan dan kembali pada jalan yang sebelum Taehyung lalui di bawah deras hujan yang membesar. "Tunggu, Jungkook—"
"Tak ada waktu, Taehyung!" sentak Yoongi. "Lari sampai ke tempat pertama kali kau datang, ada kereta kuda yang menunggu. Lari dan jangan pernah sekali pun menoleh—"
Dor!
"Jangan lari, Taehyung!"
Suara Jungkook.
Yoongi panik. "Sekarang—"
"Tidak, Hyung! Kau juga harus ikut!" Kali ini, tarikan berbalik kepada Yoongi. Taehyung memaksanya untuk ikut. "Kumohon, Hyung. Kau hanya satu-satunya keluarga yang—"
Dor!
Semuanya terjadi begitu cepat.
Secepat ketika pelatuk kembali ditarik, martil logam melesat acak, bahkan menghamburkan kaca jendela terdekat di antara gang-gang kecil yang Taehyung dan Yoongi lewati. Awalnya satu, dua, tiga, dan seterusnya dengan membabi buta. Teriakan Jungkook menggema, melawan derasnya hujan, mengeluarkan sederet kalimat maki yang memilukan. Secepat ketika akhirnya Taehyung melihat kereta kuda yang dimaksud; di sana! Sedikit lagi. Lari sedikit lagi dan kau akan bebas; dan secepat pula saat Yoongi mendahului langkah kaki Taehyung yang melemah, membuka pintu kereta dengan terburu-buru sampai pijakan kaki berhasil naik, dan ia mengulurkan sebelah tangan untuk menarik lengan Taehyung—
Dor!
"Argh!"
Yoongi semakin panik. Ia harusnya berteriak meski pita suaranya mendadak bungkam. Dan ia melihat bagaimana Taehyung terjatuh di depannya, merasakan nyeri yang menjalar di satu kakinya yang berkhianat. Tepat ketika martil logam yang ditembakan Jungkook menembus epidermis kulitnya; bau anyir menguar, merah segar merembes, dan menyatu dengan aroma petrikor yang memabukan.
Layaknya kaset video yang diputar secara slow motion.
Sampai akhirnya Yoongi berhasil menarik Taehyung untuk masuk, menutup pintu kereta kuda hingga terdengar suara debuman yang keras, dan Jungkook kembali mengarahkan ujung revolver-nya meski hasilnya nihil.
Pelatuk ditarik, lagi dan lagi. Namun peluru tak mau keluar.
"Jalan!"
Yoongi memerintah, Taehyung menjerit ngilu, dan Jungkook berteriak sekeras yang dapat dilakukan oleh pita suaranya. Memecah hening, mengalahkan butir-butir hujan yang terpelanting, menyalahkan suara derak roda yang berputar, ketuk kaki kuda yang belari, dan membangunkan malam yang tak pernah selesai.
Ia memohon agar kereta kuda yang menembus malam dan derasnya hujan untuk kembali. Kembali, kembali, pulanglah kemari.
Namun, Jungkook mendapati dirinya seorang diri. Tanpa ditemani.
Dan Kim Taehyung hanyalah bayang-bayang yang telah lama pergi.
.
.
~oooOOOooo~
.
.
"Apa kau bilang?"
"Tidak, tidak ada apa-apa, Tae. Aku hanya merasa beruntung sekali karena mengenalmu."
"Cih, picisan."
"Ya, picisan sekali, ya."
"Omong-omong soal keberuntungan, aku jadi ingat nama bunga dengan makna yang sama,"
"Dan itu adalah?"
"Astaga, kau ini. Apalagi kalau bukan anyelir putih?"
.
.
~oooOOOooo~
.
.
Berlin, 5 tahun kemudian
.
"Oh, Guten Morgen, Herr Jungkook."
Denting bel berbunyi nyaring ketika Jungkook mendorong pintu kedai, masuk dan disambut langsung oleh senyum lebar seorang bartender unik. Kim Namjoon, begitulah orang-orang memanggilnya. Walaupun umur pria itu berada tiga tahun di atasnya, Jungkook tak segan-segan untuk bersikap seperti layaknya kawan lama terhadap Namjoon.
"Mencoba menikmati masa-masa liburan, eh?" Namjoon tertawa keras. "Jadi, pesan apa hari ini? Classic Martini?"
"Kopi saja, Hyung." Balas Jungkook lugas, menarik kursi di hadapan meja kayu panjang sebagai pemisah antara pelanggan dan bartender. "Ada berita baru-baru ini? Semenjak aku pergi ke kota sebelah, misalnya?"
"Tidak terlalu baru juga," Namjoon meraih cangkir berukiran kolot, membersihkannya sejenak dari debu sebelum menuangkan cairan pekat hitam ke dalamnya. "Dengar-dengar, kalau tidak salah, baru saja terjadi perampokan di toko sebelah."
Satu alis Jungkook terangkat, namun ia tidak bertanya jauh.
Sherrif bukan lagi nama pangkatnya, revolver bukan lagi senjata utamanya, dan kantor dengan asap-asap nikotin keras tak lagi menjadi rumah keduanya.
Selang lima tahun berlalu dan Jungkook mulai belajar memaafkan kesalahannya, ia pergi meninggalkan London. Meninggalkan segalanya sampai habis tak bersisa; pangkat, rumah, pekerjaan, bahkan hidupnya yang lama. Ia melupakan gelar Komisaris dan Inspektur yang sering kali didengarnya, melupakan siapa dirinya dan berubah menjadi seorang Jeon Jungkook yang baru.
Setidaknya, begitulah pikir Jungkook.
Walaupun pada awalnya ia sempat kesulitan untuk berimigrasi. Ketika kepolisian Scotland Yard menyerah pada salah satu kasus pembunuhan keluarga Duke yang tidak pernah selesai. Komisaris Park sendiri yang menutup kasusnya. Meski gurat-gurat wajahnya tampak tidak puas, namun pria itu terpaksa menghapusnya dari daftar masalah yang harus ditangani oleh polisi. Terlebih ketika anggota keluarga terakhir keluarga Duke itu sendiri tetap hidup sampai sekarang.
Yang Jungkook tahu, nama Min Yoongi dibersihkan dari daftar tersangka. Telegram morse yang dikirimkannya lewat kediaman Duke waktu itu hanyalah keisengan fatal. Kesalahan yang terjadi karena gagal dalam pengiriman dan alamat yang tidak sesuai—ya, ceritanya seperti itu. Jungkook tidak terlalu menaruh perhatian.
(Tak ada yang bertanya lebih, kala itu. Ke mana perginya Kim Taehyung dan atas alasan apa detektif muda itu menghilang. Tak ada yang menaruh minat, atau mereka memang sengaja untuk pura-pura tidak tahu. Karena bagi mereka, bahkan bagi Komisaris Park sendiri, nama Kim Taehyung jauh dari kata tersangka).
Hoseok sempat merasa bingung dengan keputusannya untuk pergi. Tapi Jungkook tak menjelaskan lebih. Jung Hoseok mungkin mengetahui alasannya, tetapi tidak sebanyak yang Jeon Jungkook tahu. Hoseok hanya perlu mengerti, dan Jungkook tak perlu lagi merasa khawatir.
Lain lagi dengan Park Jimin.
Ah, pemuda menyebalkan itu ...
.
.
.
"Jadi, memutuskan untuk kembali?"
Jimin tertawa riang, meski pilu sempat terselip. "Korea Selatan adalah rumahku. Aku kemari hanya sebagai formalitas dan memastikan keadaan, Jungkook."
"Keadaan Taehyung maksudmu?"
Hening sejenak, dan Jimin memecahnya dengan segaris senyum simpul. "Kau tidak berpikir bahwa aku tahu semuanya, bukan?"
"Tidak, kau memang tidak tahu," Jungkook mendengus. "Tapi kau menyadarinya, bukan begitu?"
"Yah..." bahu dikedikkan dengan tak acuh. "Bisa saja itu benar, tapi bisa juga salah."
"..."
"Yang jelas, ingat perkataanku baik-baik, Jungkook. Ada masa dimana sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, tapi nyatanya terjadi, harus bisa kau lupakan secara total. Memang rasanya sulit, tapi percayalah, kau pasti bisa melakukannya."
"Mudah berbicara, Jimin."
"Kau perlu waktu, aku perlu waktu, kita semua perlu waktu untuk menerima suatu keadaan yang tidak diinginkan. Inilah hidup sesungguhnya, Jungkook. Dan kau pasti mengerti itu."
"Aku mengerti, sangat. Seperti kau yang dengan senang hati menutup mulut selamanya."
"Nah, itu akan menjadi lain soal."
Mereka berhenti sebentar, ketika akhirnya Jimin mengulurkan sebelah tangan di hadapan Jungkook.
"Ini akan menjadi waktu yang lama," Jimin nyengir, menjabat tangan Jungkook tegas ketika pemuda itu menerima uluran tangannya. "Tapi, senang bisa bertemu denganmu, Jeon Jungkook."
"Aku juga." Jungkook mengulas senyum tipis. "Dan selamat tinggal."
.
.
.
"Pemiliknya bahkan hampir tewas karena racun arsenik."
Jungkook tersentak pelan, suara riang Namjoon berhasil membuyarkan lamunan sesaatnya. Ia melihat pria itu meletakan cangkir kopi di hadapannya, tersenyum jenaka, dan mengambil cangkir lainnya untuk melayani pelanggan yang datang.
"Arsenik?" tanya Jungkook akhirnya, tidak bisa tidak merasa penasaran. "Siapa?"
"Pemilik toko yang dirampok tempo hari lalu, siapa lagi," pengucapan dalam lidah Namjoon begitu lancar. "Tapi, karena seorang pengunjung mengetahuinya dengan cepat, pemiliknya berhasil diselamatkan. Arsenik itu ditemukan pada alat semprot hidungnya, ha ha, lucu sekali."
"Racun itu memang mudah didapatkan, ya?"
"Sangat mudah, kalau boleh kubilang," asumsi Namjoon terdengar yakin. "Tapi, dibandingkan dengan racun arseniknya, aku lebih tertarik pada seorang pelanggan yang cerdas itu."
Kepala mengangguk tak acuh. "Begitukah?"
(Jungkook tak tertarik, astaga).
"Kudengar dia orang yang agak pincang, berjalan dengan satu kakinya yang masih berfungsi, padahal dua-duanya masih dapat digunakan meskipun tidak terlalu maksimal. Dan hebatnya, dia berjalan tanpa tongkat!"
Namjoon tertawa, mau tak mau, Jungkook mengikutinya.
Kim Namjoon itu, meski memiliki selera humor yang buruk, namun kemampuannya dalam menarik orang ikut tertawa sangat hebat dan patut diacungi jempol.
"Nah, kabar baiknya, aku bertemu dengan orang itu kemarin. Dan dengan senang hati menawarkan undangan untuk datang kemari—ah, itu dia!"
Gemerincing bel kembali berdenting nyaring, daun pintu terbuka perlahan, dan derit halus terdengar ringan sebagai pertanda seseorang melangkah masuk.
Jungkook menoleh perlahan, pada arah yang dituding Namjoon; yang detik berikutnya, ia terpaku.
Waktu bagai berhenti dan napas menolak untuk berhembus. Otaknya bahkan ikut membeku dalam beberapa sekon berikutnya.
Ketika mata berbeda warna saling bersirobok dan mengirimkan radar rindu yang tak perlu dicari lagi. Cokelat bertemu hitam. Lugu bertemu tajam. Dan bibir yang sengaja terkatup rapat.
Ketika Jeon Jungkook ...
... dipertemukan kembali.
"Guten Morgen, Herr Taehyung!" Namjoon berseru riang. "Selamat datang di kedai kecil ini. Mari masuk!"
~oooOOOooo~
.
.
.
For My Dear, Readers
.
Gelap tak selamanya hitam
Orang berkata, manusia bertanya, dan kita bersua
Mata tak selamanya memandang
Antara kau dan aku, sampai frasa terucap
Windu yang tak lagi terasa
Oh, tunggu sampai kita bertemu kembali
.
Tertanda
A Piece of Cake
.
p.s : mereka bilang, awal adalah kunci utama dari segala kunci yang ada.
.
.
.
.
Fin
A/N : SELESAAAAAAAAAIIIIIIIII *tebar confeti*/nyungsep kasur.
Mama ini jari keriting ngetiknya 8"D/gaknanyaplis. Dan saya bingung mau ngomong apa, saya gak tau harus nulis apa lagi, saya bingung... bingung... bingung... #oy.
Oke, maafkan. Jadi intinya, Verum tamaaaaaaaaat!/gelundungan/ Ini fanfic MC kedua yang tamat setelah Deal? Huehuehuehue.
Buat Hyesang-nim, akhirnya fanfic ini selesai kawan 8""D hikssss... *sedot ingus* Dan selamat bagi yang benar menebak kalo pelakunya adalah Taehyung X"D Eheheheh. Semoga tidak ada yang ganjal/nanges.
Oh yah, saya mau bikin Q and A aja di bawah sebagai penjelas dulu, ya~
.
Kenapa judulnya Verum?
Jujur, sebenarnya saya mau kasih judul "Case" buat fanficnya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, rasanya kurang ngena di hati #tsaaah. Dan akhirnya mangkal di gugel translate, di mana saya iseng buka bahasa-bahasa asing dan sebagainya, wkwkwk. Sampai akhirnya, didapatlah judul "Verum"
Verum berarti kebenaran dalam bahasa Latin.
Jadi maksud dari cerita ini adalah, kebenaran sosok si pelaku pembunuhan, ha ha ha #dibuang.
Kenapa Victorian era?
Err... dari dulu pengen bikin kookv pake setting jaman Inggris baheula, huhuhuhu.
ITU KENAPA ADA MORSE SEGALA SIH?
Abis saya bingung mau nulis apa lagi 8"D
Makna morse itu, MENYERAHLAH. *dibuang*
KookV sama MinV-nya kurang.
YA AMPUN *sungkem*
Karena saya pengen menitikberatkan sama kasusnya, muehehehe. Tapi moga-moga puas sama interaksi mereka, ya X'D
Kenapa V jadi pelakunya T^T?
Saya juga ndak ngerti kenapa T^T
Endingnyaaaaaaaa waaaaaiiii?
Kan waktu itu saya pernah nanya, mau sad ending atau bad ending? Dan votingnya jatuh ke bad ending X''D awalnya Taehyung mau dibuat mati, sih. Tapi, ya... gak tega T^T/labil.
Jadi, ini bad ending. Karena Taehyung, si penjahat itu sendiri, masih berkeliaran dan tidak dihukum mati, wakakakak.
Kenapa gantung?
*hening*
Ng, saya kalau bikin ending di fanfic, pasti gantung. Ehe.
Ada sequel?
/kayang/
Kayaknya enggak, hshshshs.
.
HAHAHAHAHAHA—staph. Maafkan atas pertanyaan dan jawaban gaje di atas 8"D Btw, saya mau kasih rekomendasi lagu di tiap chapter-nya boleh, ya?
Chapter 1 : Re-bye by AKMU.
Chapter 2 : House of Cards by BTS.
Chapter 3 : ... *bingung* Ada rekomendasi? *diblender*
.
Yoossssssh! Pokonya saya mau mengucapkan terima kasih sebanyak mungkin bagi yang mengikuti Verum sampai akhir, ya , Maaf kalau update-nya lama, maaf kalau bikin pusing sama tiap penjelasannya, maaf atas segala kekurangan dalam fanfiksi ini *sungkem*
Satu hal lagi, saya bikin beberapa penjelasan tentang kode-kode di chapter dua. Bisa cek di-blog saya kok :3 (cakuechanfanfic. wordpress. com) *hilangkan spasi* Dengan judul post-nya "Let's break the code". Dan kalau ada typo nyelip di chapter ini, cepet-cepat kasih tau ya, nanti saya perbaiki :"D
Pokonya makasih bangeeeeeeet X"DDD buat yang udah baca, review, fave, dan follow. Sini sini, saya pelukin dulu satu-satu :'D Maaf saya gak bisa balesin review dan nulis Special Thank's. Tapi saya udah baca semua reviewnya :"3 Maafkan *sungkem*
Semoga Verum selalu terkenang di hati kalian dan hari kalian menyenangkan! (~^3^)~*~(^o^~)
.
With smile and kiss (and the code, of course),
Bandung, 8 Mei 2016
—Cakue-chan—
.
