House of Cards

BTS

HopeKook

.

.

.

.

.

.

Rae Present

.

Tittle : House of Cards

Author : Rae

Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others

Rated : T, G, K

Cast : HopeKook [with Other's]

Length : Chaptered

Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.

Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...

TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^

.

.

.

.

Pintu kafe berdesain eropa kuno itu terbuka, menimbulkan suara gemerincing lonceng yang sengaja dipasang di atas pintunya. Jungkook melangkah masuk dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan mungil Jungho. Ya, ia datang dengan Jungho. Jujur saja, jantung Jungkook terus saja berdegup kencang sedari tadi.

Jungkook mendekati meja nomor sembilan didekat jendela, dimana seorang laki-laki tengah duduk membelakanginya.

"Permisi.." Jungkook menepuk pelan bahu laki-laki itu, membuatnya menoleh. Kemudian seulas senyuman Jungkook ukir di bibirnya.

Laki-laki itu menatap Jungkook dari atas sampai bawah, kemudian berhenti menatap wajah Jungkook. Ia tersenyum dan menyuruhnya duduk di seberangnya.

"Annyeong hyungie.." Jungkook berucap. Suaranya sedikit bergetar karena gugup.

"Annyeong Kookie." Laki-laki dihadapan Jungkook itu tersenyum.

"Tidak mau memberi Hyung-mu yang tampan ini sebuah pelukan?"

Jungkook terkekeh sebelum akhirnya berdiri dan memeluk laki-laki tampan dihadapannya. Cukup erat.

"Aku merindukanmu Jiwon Hyung."

"Aku jauh lebih merindukanmu, bocah."

Mereka kemudian melepas pelukannya dan Jungkook kembali duduk di kursinya.

"Kook, dia siapa?" telunjuk Jiwon menunjuk bocah laki-laki yang sedari tadi hanya diam disamping Jungkook, Jungho.

"Jungho, beri salam sayang. Dia paman Jiwon dari Korea."

Jungho menuruti perkataan Jungkook. Turun dari kursinya dan membungkuk sopan pada Jiwon.

"Annyeonghaseo, Jung-Ho imnida. Salam kenal paman." Jungho tersenyum. Sangat manis. Dan Jiwon terkejut mengetahui senyuman itu.

"Jungkook, dia siapa? Maksudku—apa hubunganmu dengannya?" Jiwon bertanya dengan hati was-was. Entah mengapa ia merasa was-was saja sekarang. Terlebih saat Jungkook tersenyum sedikit miris padanya.

"Dia putraku, Hyung."

Bagai disambar petir disiang bolong, hati Jiwon seolah ditusuk pisau tumpul. Putra? Jadi bocah cilik ini anak adiknya? Dengan...

"Tentu kau tahu siapa ayahnya, Hyung."

Ya. Jiwon tahu dengan sangat benar siapa ayah dari bocah tampan ini. Terlebih setelah ia melihat senyum manis yang menawan itu. Bocah ini mirip ayahnya.

"Tapi...bagaimana bisa? Bukankah kalian..."

"Aku hamil saat aku pergi dari mansion Jung." Jungkook tersenyum jauh lebih miris. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengusap surai hitam Jungho.

"Jadi.."

"Ayahnya belum tahu, Hyung."

Jiwon mengusap kasar wajahnya. Sakit. Ya. Hati Jiwon sakit. Kakak mana yang akan merasa senang jika adiknya mengalami kehidupan yang bahkan jauh lebih sulit dari dirinya.

"Ya Tuhan. Aku harus bilang apa pada eomma Kook? Astaga..."

"Tidak hyung. Jangan katakan apapun pada yang lainnya. Jangan bilang pada mereka jika kita bertemu di London."

Jiwon mendongak dengan pandangan menuntut penjelasan.

"Belum saatnya Jungho menerima semua ini Hyung, ia masih kecil."

Jiwon kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Ia meraih tangan Jungkook diatas meja dan menggenggamnya dengan erat.

"Dengar. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi dia...ayah Jungho...dia sudah menikah lagi Kook."

Jungkook diam. Akan tetapi ia balas menggenggam tangan Jiwon jauh lebih erat.

"Aku tahu Hyung. Untuk itu aku tidak ingin mengganggu kebahagiannya."

Jiwon tidak habis pikir, terbuat dari apa sebenarnya hati adiknya itu. Masa lalunya begitu kelam dan ia bertahan hingga lima tahun. Tuhan...

"Bagaimana dengan Jungho?" jiwon menatap dalam manik kelam Jungkook yang sendu.

"Dia tahu bagaimana wajah ayahnya. Tapi dia tidak tahu siapa namanya. Dia hanya tahu jika dia punya ayah. Hanya itu saja."

Jiwon menghela nafas. Ia melepaskan tangan Jungkook dan beralih mendekati Jungho yang sedari tadi menikmati eskrim yang Jiwon pesan.

"Jungho.." Jiwon memanggil. Ia berjongkok guna mensejajarkan tingginya dengan Jungho.

"Apa Jungho ingin bermain dengan paman?"

Jungho mengerjap. Menatap Jiwon dengan bingung.

"Paman, daddynya Jungho ya?" Jungho bertanya dengan polos. Sedikit banyak hati Jiwon mencelos sebenarnya. Ternyata keponakannya ini memang tidak mengetahui ayahnya dengan benar.

"Aniyo. Paman bukan daddynya Jungho. Paman ini kakaknya mommy."

Jungho terlihat sedikit menerawang. Mencoba berfikir dan mencerna perkataan Jiwon.

"Jadi, Paman Jiwon bukan daddynya Jungho, Mommy?" Jungho berbalik menatap Jungkook. Sebuah anggukan dari Jungkook menjadi jawaban bagi Jungho.

"Jadi bagaimana? Jungho mau bermain dengan paman?"

Dan sebuah anggukan antusias menjadi jawaban bagi Jiwon.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jam menunjukkan pukul setengah tiga sore. Dan Jungkook beserta Jungho baru saja menginjakkan kaki mereka di teras rumahnya. Jiwon mengajak Jungho bermain kesana-kemari tanpa lelah. Bahkan bocah kecil yang sering mengeluh ini-itu tidak lagi mengeluh saat bersama Jiwon. Diam-diam Jungkook bersyukur.

"Jungho suka paman Jiwon?"

Jungho mengangguk. "Kapan-kapan kita main ke rumah paman Jiwon ya mom."

Jungkook tersenyum dan mengacak surai Jungho.

"Jungho, kalau Jungho bertemu daddy, Jungho mau bilang apa?"

Jungho berhenti melangkah saat kakinya sudah berada di anak tangga ke satu menuju lantai dua. Kenapa ibunya suka sekali menanyakan ayahnya padanya?

"Jungho cuman mau bilang kalau Jungho rindu daddy." Dan setelahnya Jungho menaiki anak tangga, menuju kamarnya.

Jungkook menatap punggung kecil putranya dengan air mata menggenang di kedua matanya. "Maafkan mommy sayang..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ting Tong! Ting Tong!

Lagi-lagi bel rumah Jungkook dipencet. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Siapa yang bertamu? Batin Jungkook.

Jungkook mengecek intercom rumahnya. Terdapat siluet seorang anak perempuan yang tengah membelakangi Jungkook. Dengan dahi berkerut heran, Jungkook keluar rumah dan membuka pintu pagar.

"Annyeong Bibi~~!"

Jungkook berjengit ke belakang saat suara melengking dari anak perempuan di depannya menyapa telinganya.

"Annyeong. Kau siapa ya?" Jungkook bertanya hati-hati. Dalam hati ia berfikir jika mungkin saja bocah cantik ini adalah jelmaan hantu kompleks yang sedang ramai di bicarakan.

"Eomma!" Bocah cantik itu malah berbalik dan memanggil seseorang.

Oh. Jungkook baru sadar jika ada mobil yang terparkir di depan rumahnya. Tak lama kemudian, munculah seorang laki-laki yang tingginya tidak lebih dari Jungkook dari dalam mobil.

Jungkook memicingkan matanya. Mempertajam penglihatannya.

"D-donghyuk Hyung?"

Laki-laki itu tersenyum.

"Annyeong Jungkook-ah. Maaf bertamu jam segini. Dan maafkan putriku yang seenaknya berteriak di depan rumahmu." Namja itu masih saja tersenyum.

"Hyung ngapain disini? Sama Jiwon hyung ya?"

Namja bernama Donghyuk itu mengangguk. Dan kemudian keluarlah namja yang sama dengan yang ditemui Jungkook tadi siang dari dalam mobil. Jiwon, kakaknya.

"Hyemi-ah, tidak baik berteriak seperti tadi di depan rumah orang." Jiwon mengacak rambut panjang bocah perempuan yang tadi berteriak.

"Kook, kau tidak menyuruh istri dan anakku untuk masuk?"

Jungkook gelagapan. Ia baru sadar jika mereka masih berdiri di depan pagar rumahnya. Dengan senyuman tidak jelas, Jungkook membuka pagarnya lebih lebar dan menyuruh keluarga kakaknya itu untuk masuk.

Mereka duduk santai di ruang tamu sekarang. Hyemi—bocah perempuan tadi, tengah berdiri antusias di depan sebuah etalase kaca di samping televisi. Oh maaf, itu bukan etalase, melainkan akuarium.

"Eomma~~ ikannya boleh Hyemi bawa pulang satu?" celetuk Hyemi dengan mata yang masih tertuju pada ikan-ikan di dalam akuarium.

"Tidak boleh sayang. Itu punya Bibi Jungkook." Donghyuk berjalan mendekati Hyemi dan mengajak putrinya itu untuk duduk di samping Jiwon.

"Sebentar Hyung, aku panggil Jungho dulu."

Setelah Jiwon mengangguk, Jungkook bergegas menuju lantai dua. Memanggil anaknya untuk turun.

"Jungie, ada paman Jiwon di bawah."

"Benarkah?" Jungho segera meloncat dari kursi belajarnya dan berlari menghampiri ibunya di ambang pintu.

"Iya. Ada bibi Donghyuk dan Hyemi noona juga disana. Yang sopan ya."

Jungho mengangguk antusias kemudian berlari menuruni tangga menuju ruang tamu.

"Paman Jiwon~~!" suara husky-nya menggelegar ke seisi rumah.

"Hei jagoan!" Jiwon menerima uluran tangan Jungho dan memeluk bocah laki-laki itu cukup erat. Padahal mereka baru bertemu tadi siang.

"Jungho, beri salam dulu sama bibi Donghyuk." Suara Jungkok menginterupsi.

"Ah iya. Annyeonghaseo bibi Donghyuk. Jung-Ho imnida." Jungho membungkuk di depan Donghyuk kemudian beralih menghadap anak perempuan di antara paman dan bibinya.

"Ini pasti Hyemi noona. Halo noona~~" Jungho menampakkan eyesmile-nya yang menawan.

"Annyeong Jungie~" Hyemi turun dari duduknya dan berjalan ke samping Jungho.

"Eomma, Hyemi boleh main sama Jungie kan?"

Donghyuk mengangguk. Setelahnya, Hyemi menyeret lengan Jungho untuk pergi bersamanya ke sebelah televisi. Akuarium.

"Hyung sekalian mau minum apa?" Jungkook bertanya.

"Terserah Kook." Dan Donghyuk yang menjawab.

"Cokelat panas, bagaimana? Cuaca sedang dingin."

Jiwon dan Donghyuk kompak mengangguk. "baiklah, tunggu sebentar hyung."

Tak lama kemudian, Jungkook kembali dari dapur dengan sebuah nampan berisi lima mug cokelat panas.

"ngomong-ngomong, kalian ngapain kesini Hyung?" Jungkook menaruh satu persatu mug itu diatas meja.

"Liburan lah." Ini Jiwon yang menjawab.

"Aissh. Bukan itu maksudku Hyung. Maksudku, kalian ada perihal apa sampai bertamu di rumahku segala? Dan jangan bilang kalau Jiwon hyung tahu rumahku dari Bambam."

"Tepat sekali! Bambam yang memberikan alamat rumahmu saat aku menelepon Mark Hyung tadi sore." Jiwon menampakkan gigi kelincinya. Ia begitu senang rupanya.

"Kami kesini karena aku dan Hyemi ingin melihat kalian berdua. Jiwon bilang kalau Jungho sangat tampan. Jadi aku memutuskan untuk berkunjung kesini. Apa merepotkan Kook?"

Jungkook buru-buru menggeleng. "Tidak Hyung. Tidak merepotkan kok. Malahan aku senang karena kalian berkunjung kemari. Jungho ada teman mainnya." Jungkook melirik dua bocah beda gender yang sekarang sibuk bermain transformers di lantai beralas karpet,

"Oh iya Kook. Hyung ingin mengajakmu ke Korea minggu depan. Bagaimana?"
Jungkook terkejut. Tentu saja! Ia tidak pernah berfikir untuk kembali ke Korea.

"Ke Korea ngapain Hyung?" nada bicara Jungkook sedikit sendu.

"Pulang lah. Ngapain lagi?"

Jungkook menunduk dan meremas pelan bantal sofa yang berada di pangkuannya.

"Aku tidak berniat untuk kembali ke sana. Kami punya rumah disini, Hyung."

Terdengar helaan nafas dari Donghyuk. Sepertinya, membiarkan Jiwon yang menjelaskan maksud kedatangan mereka yang sebenarnya malah akan menghancurkan semuanya.

"Jungkook," panggil Donghyuk pelan.

"Tidakkah kau merindukan Himchanie umma dan Yongguk appa?"

Jungkook mendongak. Menatap mata Donghyuk. Kemudian ia mengangguk. "Sangat Hyung. Aku sangat merindukan mereka."

"Lalu? Kenapa?"

Jungkook kembali menunduk. "Aku tidak siap Hyung."

"Apa yang tidak kau siapkan Kook?" suara Jiwon kembali terdengar.

"Semuanya. Aku tidak siap dengan semuanya."

Jiwon menyeruput cokelatnya sebentar. Kemudian kembali memadangi wajah adiknya.

"Kami semua disini. Tidak ada yang perlu kau takutkan ketika kau bertemu dengannya. Aku yang akan melindungi kalian berdua."

Jungkook menggeleng. "Bukan itu, Hyung. Bukan itu."

"Lalu?"

"Mommy~~" suara Jungho menginterupsi. Membuat mereka bertiga menoleh ke arah bocah itu.

"Iya sayang?"

Jungho menunjuk Hyemi yang duduk agak jauh dengannya. "Hyemi noona ingin membawa pulang ikannya satu. Apa boleh mom?"

Jungkook terkekeh kemudian menghampiri dua bocah itu.

"Tentu sayang. Sebentar ya, Mommy ambilkan wadah dulu." Setelahnya Jungkook beranjak menuju dapur, mengambil toples kecil untuk tempat ikannya.

"Paman," Jungho memanggil Jiwon. Membuat Jiwon mendekatinya.

Jungho berjalan menjauhi Jiwon menuju ke perapian. Ia mengambil sebuah figura foto dari atas meja perapian. Kemudian membawanya menuju Jiwon. Ia menyerahkan figura itu kepada Jiwon. Dan Jiwon menerimanya dengan dahi berkerut heran.

"Kalau Jungho ke Korea, apa Jungho bisa bertemu daddy?"

Jiwon tersentak. Ia kemudian memandang figura yang ada di tangannya. Ia baru menyadari jika figura itu berisi foto seorang namja tampan yang tengah tersenyum.

Mulut Jiwon terbuka hendak menjawab. Namun suara Jungkook menginterupsi.

"Jungho bantu mommy menangkap ikannya untuk Hyemi noona ya?"

"Yes Mom!" Jungho berlari meninggalkan Jiwon yang terpaku di tempatnya. Menuju Jungkook yang sudah berada di dekat akuarium lengkap bersama jaring kecil dan sebuah toples kecil.

Jiwon berjalan menuju perapian dan kembali meletakkan figura itu ketempatnya semula. Ia menatap orang di dalam foto dengan dalam.

'Kenapa kalian begitu mirip?' batin Jiwon miris.

.

.

Jiwon dan Donghyuk berada di rumah Jungkook selama hampir dua jam. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan saat Jungkook mengantar keluarga kecil kakaknya itu ke depan rumah. Jungho sudah tertidur bersama Hyemi sejak tiga puluh menit yang lalu.

"Kami pulang Kook, jaga diri kalian baik-baik." Donghyuk memeluk Jungkook erat, begitu pula dengan Jungkook.

Jiwon berdiri di hadapan Jungkook setelah ia meletakkan hyemi yang tertidur ke dalam mobil.

"Hei adikku, jangan lupa mengunci pintu rumah sebelum tidur."

Jungkook tersenyum dan memeluk kakaknya itu tak kalah erat.

"Aku bukan kau yang begitu ceroboh Hyung."

Jiwon melepas pelukan mereka dan menangkup kedua pipi adiknya dengan sayang.

"Hah...aku tidak menyangka adikku yang dulu sering merengek minta ini-itu sekarang sudah menjadi seorang ibu. Rasanya waktu berjalan begitu cepat sekali."

Jungkook menggeplak pelan bahu kakaknya. "Ada istrimu Hyung. Jangan menangkup pipiku sembarangan. Donghyuk hyung akan membunuhku nanti."

Dan ketiganya tertawa bersama.

Jiwon menepuk pelan bahu Jungkook sebelum berbalik meninggalkannya. Donghyuk terlebih dulu memasuki mobil. Meninggalkan Jiwon yang melangkah dengan sangat pelan seolah enggan meninggalkan adiknya.

"Hyung.." Langkah Jiwon terhenti saat suara Jungkook memanggilnya. Terdengar helaan nafas dari belakang Jiwon.

"Aku akan memikirkannya Hyung."

Jiwon berbalik menghadap Jungkook yang tersenyum padanya.

"Aku akan memikirkan ajakanmu Hyung."

"Benarkah?"

Jungkook mengangguk kemudian mendorong Jiwon untuk kembali berjalan menuju mobilnya.

"Ja. Sekarang pulang dan beristirahatlah. Hati-hati di jalan Hyung~~"

.

.

.

.

.

.

.

.

Kota Seoul terlihat sibuk di pagi hari yang cerah ini. Tak terkecuali di mansion besar keluarga Jung yang sibuk seperti biasanya. Seorang namja tampan dengan setelan formal yang lengkap tengah berdiri menghadap jendela besar di kamarnya. Memandangi pemandangan indah di halaman belakang rumahnya.

"Hyung, sedang apa?"

Namja tampan itu berbalik saat sebuah suara mengiterupsinya. Ia kemudian tersenyum.

"Hanya memikirkan hal yang sama seperti kemarin."

Terdengar helaan nafas dari namja manis yang memanggilnya tadi.

"Kau terlihat kacau hyung. Apa kau yakin akan berangkat dengan kondisi seperti ini?"

Namja tampan itu terkekeh dan berjalan mendekati namja manis didepannya.

"Taehyung.." namja tampan itu memanggil. Namja manis yang dipanggilnya Taehyung tadi hanya menatapnya dengan pandangan 'ada apa?'

"Kapan Seokjin menjemput kalian?"

Taehyung terlihat berfikir. "Bulan depam mungkin. Waeyo?"

Namja tampan itu menggeleng. Ia kemudian mendudukan dirinya di tepi tempat tidur. Diikuti taehyung disampingnya.

"Tae, dia sedang apa ya?" pandangan laki-laki disamping Taehyung itu menerawang.

"Apa dia juga merindukanku? Ah, kurasa aku menanyakan hal yang sama setiap harinya. Maafkan aku." Namja tampan itu terkekeh.

'Apa kau merindukanku Kim Jungkook?'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

tBc.

Hai hai~~~ Chapter dua kaming~~~

Gak nyangka ada juga yang baca ini ff, makasih mwehehe...:D

Btw, kalian semua pada kepo ya...ahahaha...silahkan ditebak" saja.

nuruladi07: makasih pujiannya. Ini udah apdet ya^^ TFR

YulJeon: engg...kasih tahu gak ya siapa daddy nya jungho *ketawa epil* nanti akan terjawab seiring berjalannya cerita^^ TFR

michaelchildhood: papanya jungho siapa ya? Kenapa ya mereka gak sama"? akan terjawab seiring berjalannya cerita, hehe...TFR

milapriscella25: udah lanjut~~ TFR

Anna-Love 17Carats: Jiwon kan mas-nya jungkook, jadi jungho ketem pamannya duluan. Daddy nya jungho siapa ya? Akan terjawab seiring berjalannya cerita^^ TFR

DozhilaChika: Pertama, annyeong juga. Makasih pujiannya. Komentarmu yang paling panjang btw.^^ hehe. Kedua, namanya jungho ya? Hmm...begitulah *ketawa epil* ketiga, biasku jehop...samaan ya^^ saya terlalu cinta mati sama makhluk berjidat selapangan itu, haha...keempat, janji ya? TFR

GitARMY: Jungho anaknya siapa ya? Yang sebenarnya terjadi akan terkuak(?) seiring berjalannya cerita. TFR^^

: kamu aja yang baca nyesek, apalagi aku yang nulis sambil ngebayangin adegannya? Banjir air amata huweee TFR

CookingCookies: iya, ff hopekook langka :3. Aku suka nulis hopekook karena aku hardshipp-nya mereka, hehe. Mau bayangin gimana wajahnya Jungho ya, gabungan aja poto Hosiki sm Kuki di N.O, ahahaha :D kuki kenapa di london? Akan terjawab seiring berjalannya cerita. TFR

Yeka: umur kuki ya...hmmmzzz hitung ya, pokoknya kuki nikah pas umur sembilan belas, baru lulus SMA. Hehe...TFR

Figaoi: tergantung saya apakah akan menyiksa kuki ato tidak. Mwehehe...:D TFR

Cookies: udah next. TFR ^^

.

.Huwaaa~~~

HAPPY BIRTHDAY BIAS~~~

HOPIE SAENGILCHUKA~~

LOVE U SO MUCH~~

Cie nambah tua, cie 23, cie jehop ulang tahun~~~

Hahahahahah...see you next chapt readers-deul...gamsha~~

#Rae.