House of Cards

BTS

HopeKook

.

.

.

.

.

.

Rae Present

.

Tittle : House of Cards

Author : Rae

Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others

Rated : T, G, K

Cast : HopeKook [with Other's]

Length : Chaptered

Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.

Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...

TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^

.

.

.

.

Jungho mendribble bola basket ukuran sedang di tangannya. Membawanya berlari mengelilingi lapangan basket mini di halaman sekolahnya. Suara bedebam bola yang beradu dengan lantai lapangan terdengar begitu nyaring. Lapangannya sedang sepi sekarang, tentu saja, karena para murid sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Jungho mendribble bolanya semakin keras dan melemparkannya begitu saja ke arah ring. Bingo! Bola itu masuk kedalam ring.

Jungho menjatuhkan tubuhnya, membiarkan dirinya tidur telentang di tengah lapangan. Nafasnya terengah dan matanya menatap langit-langit dengan kosong.

"Hiks..." entah ini sudah isakan yang keberapa tetapi jujur saja, Jungho sendiri tidak tau mengapa ia menangis hari ini.

"Hiks...hiks..." isakannya semakin terdengar.

Jungho memejamkan matanya, membiarkan air mata mengaliri paras tampannya.

"Hiks...kapan daddy pulang? Hiks.."

Oh, ayahnya. Jungho menangis karena ayahnya?

"Daddy...hiks...Jungho rindu Daddy. Jungho ingin seperti teman-teman Jungho yang setiap hari di jemput ayahnya masing-masing. Hiks...bahkan Mommy tidak pernah menjemput Jungie...hiks..."

Jungho merubah posisinya menjadi tengkurap. Menyembunyikan wajahnya pada kedua lengan yang ia lipat. Membiarkan lengan seragamnya basah oleh air mata.

"Jungho," seseorang memanggil. Namun Jungho enggan mengangkat wajahnya.

"Hei kid. Your Mom in here."

Jungho buru-buru bangun dari tengkurapnya. Mengusap wajahnya serampangan. Itu tadi suara salah satu gurunya. Aihh..Jungho bahkan lupa jika hari ini ibunya berjanji akan menjemputnya.

"A-ahh...Yes, Sir. Thank you." Jungho membungkuk sebentar pada gurunya dan berjalan meninggalkannya.

"Hei Jungho!" gurunya kembali memanggil, membuat Jungho menghentikan langkahnya dan berbalik. Memandang gurunya bingung.

Gurunya terlihat membungkuk dan memungut sesuatu berwarna perak dari lantai. Kemudian ia berjalan menghampiri Jungho dan menyerahkan sesuatu yang di pungutnya tadi pada Jungho.

"Your bracelet."

Jungho menerima benda perak yang di berikan gurunya itu dan memasangkannya kembali pada pergelangan tangan kirinya. "Thank you Sir."

Setelahnya Jungho kembali berjalan meninggalkan gurunya dan gedung olahraga. Sebelah tangannya mengeratkan pegangannya pada tali tas punggungnya dan sebelahnya lagi mengusap sesuatu berwarna perak pada pergelangannya.

'I miss you so bad, daddy...'

.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook duduk berdua dengan putranya di sebuah kafe. Kafe yang sama dengan yang ia datangi bersama Jiwon kemarin lusa. Ngomong-ngomong soal Jiwon, kakaknya itu sudah kembali ke Korea tadi malam.

"Jungie mau pesan apa?"

Jungho mendongak menatap ibunya dan tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya. Oh, Jungkook sepertinya tidak menyadari mata sedikit sembab putranya karena habis menangis tadi.

"Eskrim green tea saja, mom. Boleh?"

Jungkook mengangguk dan memanggil seorang pelayan untuk mengatakan pesanan mereka. Tak berapa lama, satu cup sedang eskrim green tea dan satu gelas lemon tea dingin sudah terhidang di hadapan mereka. Mata Jungho berbinar dan ia segera saja menyantap eskrim kesukaannya itu.

"Jungie, besok lusa sekolah sudah liburan musim dingin kan?"

Jungho mengangguk tanpa mengalihkan atensinya dari cup eskrim.

"Mommy mau mengajak Jungie jalan-jalan. Bagaimana?"

Jungho menghentikan acara makannya dan menatap Jungkook dengan mata yang jauh berbinar.

"Benarkah Mom? Kemana?"

"Korea. Kita akan menemui kakek dan nenek, juga keluarga paman Jiwon disana. Mau kan?"

Bahu Jungho merosot ke bawah. Mendengar bahwa ia akan menghabiskan liburan musin dinginnya di Korea, itu membuat mood baik nya sedikit menguap sekarang.

"Kenapa Korea, mom?" tanyanya dengan mata sendu.

"Mommy ingin memperkenalkan Jungie dengan kakek dan nenek, dan juga kerabat yang lainnya."

Jungho diam. Ia menyendokkan eskrimnya dengan pelan-pelan. Matanya menatap tidak fokus.

"Bagaimana sayang? Jungie mau menemani mommy bertemu kakek dan nenek kan?"

Jungho masih diam. Ia memandangi cup eskrimnya sebentar sebelum menghela nafas. Dan setetes air mata tersembunyi ia keluarkan bersamaan dengan kepalanya yang mengangguk dan bibirnya berujar pelan.

"Baiklah. Jungie ikut ke Korea."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Daddy~~!"

Seorang bocah laki-laki berusia lima tahunan tengah berlari menuju ke tempat seorang namja tampan dengan setelan formal yang tengah berdiri disebelah gerbang masuk sebuah sekolah dasar.

"Annyeong~" namja tampan itu melambaikan tangannya dan menerima uluran kedua tangan bocah di depannya. Menggendongnya.

"Dad, mommy tidak ikut ya?"

Namja tampan itu menggeleng. "Tidak. Mom sedang bertemu dengan Seokjin appa."

Bocah yang digendong itu mengangguk. "Dad, ayo kerumah kakek Kim."

Namja tampan yang menggendong itu diam. Ia tidak ingin menjawab putranya.

"Daddy~~"

"Hyunjin, kita main ke tempat yang lain saja ya? Kakek Kim sedang ada keperluan dengan mommy dan appa."

Bocah digendongan yang dipanggil 'Hyunjin' itu mengangguk faham. Ia tau jika ibu dan Seokjin appa-nya tidak bisa diganggu.

"Baiklah. Kalau begitu, kita jalan-jalan saja ya dad?"

"Oke Call!"

"Hoseok?"

Namja tampan yang tengah menggendong Hyunjin itu berbalik ke belakang. Ia tertegun mendapati sepasang iris sipit yang tengah menatapnya. Seolah bertanya.

"Jiwon hyung?"

.

.

"Apa kabar?" Jiwon bertanya sambil tersenyum.

"Baik hyung. Kau sendiri apa kabar hyung?" Namja tampan yang diketahui bernama Hoseok itu balas tersenyum.

"Seperti yang kau lihat. Aku baik."

Jiwon terkekeh sebentar. Kemudian ia memandang bocah berseragam sekolah dasar yang duduk di samping Hoseok. Tengah menikmati segelas jus apel yang tadi mereka pesan, Hyunjin.

"Putramu?"

Hoseok melirik Hyunjin sebentar dan mengangguk. Agak kaku.

Jiwon masih saja tersenyum.

"Dengan Taehyung?"

"Uhm...nde.." Hoseok mengangguk lagi. Lebih kaku dari sebelumnya.

Jujur saja. Hoseok tidak menyangka akan bertemu dalam situasi seperti ini dengan orang yang pernah menjadi kakak iparnya—bahkan sekarang pun masih menjadi kakak iparnya.

"Mirip Taehyung ya.." Hoseok mengikuti arah pandang Jiwon. Jiwon masih tersenyum sambil menatap Hyunjin. Senyumnya miris.

"Ya...begitulah..."

"Siapa namamu?" Jiwon bertanya pada Hyunjin. Bocah itu tersenyum dengan sangat unik. Jiwon menyadari sesuatu. Bocah ini benar-benar mirip Taehyung.

"Jung Hyunjin imnida." Senyumnya semakin lebar.

"Kelas berapa?"

Hyunjin menunjukkan jari telunjuknya di depan Jiwon.

"Kelas satu paman."

Jiwon tersenyum dan mengacak surai cokelat tua Hyunjin.

"Masih kelas satu ya...kukira sudah kelas dua. Keponakan paman seusia denganmu, ah tidak. Ia lebih tua satu tahun. Hhh...kapan ia ke Korea ya..."

Hoseok tertegun mendengar ucapan Jiwon barusan. Keponakan? Keponakan yang mana? Setahunya, Donghyuk itu anak tunggal. Dan hanya Jiwon yang punya saudara. Jadi...keponakan yang mana? Tidak mungkin jika...

"Keponakanmu yang mana Hyung?" Hoseok memutuskan untuk bertanya. Ia tidak berani untuk berfikir siapa keponakan yang di maksud hyung iparnya ini.

"Keponakanku yang di Inggris. Aku baru saja mengunjunginya kemarin." Jiwon tersenyum pada Hoseok. Seolah tidak tahu apa yang tengah berkecamuk dipikiran Hoseok. Tidak. Jiwon tahu apa yang Hoseok pikirkan. Ia memang sengaja memancing Hoseok.

"O-oh...anak dari adikmu ya..."

Jiwon terkekeh. Ia meminum latte yang tadi dipesannya. Kemudian matanya menyipit diiringi tawa kecil dari mulutnya.

"Apa yang kau maksud Jungkook?" Jiwon masih tertawa.

Punggung Hoseok menegak. Nama itu...Hoseok terdiam.

Jiwon menghela nafas dan menatap menerawang kebelakang Hoseok. Ia ingat perkataan Jungkook yang memintanya untuk diam tidak memberitahukan semua yang ia ketahui pada semua orang. Terutama mantan adik iparnya ini. Ahh...Jiwon sendiri bingung apakah pantas jika orang di depannya ini ia sebut mantan adik ipar jika pernikahan keduanya saja masih legal?

"Mungkin. Mungkin jika Jungkook punya anak, ia akan seusia Hyunjin."

Jiwon kembali meminum latte-nya. Ia melirik Hoseok yang masih terdiam.

"Sayangnya aku sendiri tidak tahu dimana adikku berada. Hhh...hyung macam apa aku ini."

Hoseok menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya sesak mendengar semua yang dikatakan Jiwon.

"Hyung..."

Jiwon menatap Hoseok.

"Apa...Jungkook, baik-baik saja?" suara Hoseok memelan.

"Aku tidak tahu."

.

.

.

.

.

.

.

.

Hoseok duduk di kursi kerjanya. Membelakangi meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan kertas. Ia menghela nafas, entah untuk yang ke berapa. Ia sudah menanggalkan jas kerjanya dan melonggarkan dasinya. Kacau. Ia begitu kacau sekarang. Perkataan Jiwon tadi siang terus saja berputar-putar di kepalanya.

"Hah...apa yang sebenarnya sedang terjadi..." Hoseok memejamkan matanya. Ia merasa kepalanya berputar-putar karena perkataan Jiwon.

"Masih kelas satu ya...kukira sudah kelas dua. Keponakan paman seusia denganmu, ah tidak. Ia lebih tua satu tahun. Hhh...kapan ia ke Korea ya..."

"Apa yang kau maksud Jungkook?"

"Arrggh!" Hoseok mengacak rambutnya frustasi.

"Hoseok, kau baik-baik saja?"

Hoseok berbalik saat ia mendengar suara pintu dibuka dan suara seorang laki-laki.

"Daehyun hyung? Ada apa?" Hoseok menatap malas orang yang dipanggilnya 'Daehyun' itu.

"Hah, dasar! Sopanlah sedikit pada kakakmu ini. Ditanya malah balik bertanya." Daehyun mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sudut ruangan kerja Hoseok. Meraih remote tv dan mulai menyalakan televisi, memindah-mindah channel satu ke channel-channel yang lain.

"Hyung kesini mau numpang nonton tv? Apa tv di kantormu rusak huh?" Hoseok menatap Daehyun semakin malas. Hyung-nya itu sedikit banyak menyebalkan.

"Ck! Tidak lah! Aku tadinya ingin membicarakan proyek baru kita. Tapi setelah bertemu Youngjae di bawah tadi, aku menjadi kehilangan mood." Daehyun masih menggonta-ganti channel televisi.

"Biar kutebak! Kalian pasti bertengkar lagi gara-gara kau lupa menjemput Daewon di sekolahnya hingga jam tujuh malam kan?"

Daehyun mengangguk malas.

"Dasar!" Hoseok melempar pulpen yang ada di atas mejanya pada Daehyun. Sukses mengenai keningnya.

"Yak bocah! Aku ini Hyung-mu! Aisshh..."

Hoseok mendengus.

"Aku bukan bocah lagi hyung. Aku sudah punya anak."

Hoseok terkesiap dengan ucapannya sendiri. Anak ya?

Haiss...ia jadi teringat ucapan Jiwon tadi siang kan...

"Hyung,"

Hoseok memanggil Daehyun. Matanya menerawang langit-langit.

"Hm.." Dan Daehyun menggumam sebagai jawaban.

"Apa menurutmu, Jungkook sudah punya anak?"

Daehyun mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.

"Mungkin. Jika dia menikah lagi, kurasa dia sudah punya anak."

Hoseok mendelik mendengar jawaban Daehyun.

"Maksudku, apa mungkin jika Jungkook punya anak dariku?"

Daehyun diam kemudian menatap Hoseok jengah.

"Hei, kau ini makan apa sih? Bicaramu aneh Jung!"

"Hyung, aku kan hanya bertanya" Hoseok kembali memutar kursi kerjanya menjadi membelakangi meja dan Daehyun.

"Jika pada saat itu Jungkook hamil, mungkin dia sudah punya anak sekarang jika dia tidak menggugurkannya. Tapi apa dia pernah bilang padamu jika dia hamil? Kurasa tidak. Dan Jungkook tidak menunjukkan tanda-tanda orang hamil saat itu. Jadi Jungkook tidak mungkin punya anak darimu. Dasar! Begitu saja kau tidak bisa memikirkannya. -_-"

Hoseok menghela nafas. Diam-diam ia meremas dada kirinya yang terasa berdenyut sakit saat Daehyun mengatakannya. Ternyata semua masih memandang Jungkook sebelah mata meski sudah hampir tujuh tahun berlalu. Meski semua hanya salah paham.

'Kim Jungkook...'

.

.

.

.

.

.

.

.

"Mom, aku mau bawa yang ini juga~~"

"Tidak sayang, nanti kopernya tidak muat."

"Ayolah mom, nanti kalo ini ditinggal dirumah terus ada yang nyuri bagaimana? Dibawa saja ya mom~"

"Tidak Jungie baby."

"Please~"

"No."

"Mom~"

Jungkook menghela nafas. Ia menatap Jungho dengan jengah. Bocah itu tengah menyatukan kedua telapak tangannya sambil memeluk sebuah boneka kelinci hitam bermasker merah.

"Shishimato tidak akan dicuri orang sayang. Jadi ditinggal di rumah saja ya?"

Jungho cemberut seketika. Ia kemudian mendudukkan dirinya di atas lantai kamarnya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menopang kepalanya dan sebelahnya lagi memainkan telinga boneka kelincinya yang panjang menjulang ke atas.

"Jungho tidak bisa tidur kalo Shishimato tidak ada di sebelah Jungho"

Jungkook menghela nafas.

"Baiklah. Hanya Shishimato. Tidak dengan yang lainnya. Bagaimana?"

Jungho langsung bangun dari duduknya. Ia menunjukkan ibu jarinya di depan Jungkook.

"Oke Call! Thank you Mom~~"

Dan setelahnya, bocah itu berlari keluar kamar. Mengelilingi rumahnya sambil terus mendekap 'shishimato'nya.

Jungkook tersenyum dan kembali pada pekerjaannya yang sempat tertunda. Melipat beberapa baju Jungho dan mengepaknya kedalam koper.

"Aisshh...kenapa anak itu mengeluarkan baju sebanyak ini huh?" Jungkook memisahkan baju yang sudah ia lipat ke ujung tempat tidur.

"Jungho-ya...kau mau memakai semua baju ini eoh?!" Jungkook sedikit berteriak agar anaknya mendengar.

"Yes Mom!" dan Jungho menjawab dengan sebuah teriakan dari lantai bawah.

"Dasar -_-" Jungkook mendengus dan kembali memilah-milah baju Jungho.

Saat akan memasukkannya ke dalam koper, ponsel Jungkook yang terletak di nakas berbunyi.

Jungkook melirik layar ponselnya. Nama Jiwon tertera di ID si pemanggil.

"Halo hyung?"

"Halo Kookie! Sedang apa?"

Jungkook mendengus(lagi). Kakaknya ini bodoh atau apa sih.

"Sedang mengepak barang-barang. Hyung ngapain sih menelepon? Mengganggu tahu -_-"

"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin memastikan kau jadi ke Korea besok."

"Tentu saja hyung. Apa aku sebodoh itu untuk membuang lembaran won-ku? Tentu tidak!"

Terdengar tawa di seberang telepon.

"Ngomong-ngomong Kook, aku bertemu Hoseok tadi siang."

Jungkook menghentikan pekerjaannya. Tubuhnya menegak karena terkejut.

"A-apa maksudmu, hyung?"

Jiwon menghela nafas.

"Aku bertemu dengannya saat menjemput Hyemi di sekolah. Tak kusangka anaknya juga bersekolah di sana. Huh...dunia begitu sempit ternyata."

"A-anak? Uhm...maksudku, putranya dengan...Tae-Taehyung?"

"Ya begitulah. Tapi anehnya, bocah itu tak punya satupun unsur dari wajah Hoseok. Ia hanya punya unsur Taehyung...ah tidak juga. Matanya tidak seperti Taehyung. Tapi jika ia tersenyum, aku seperti melihat Taehyung yang tersenyum"

Jungkook menghela nafas.

"Astaga hyung...memang harus ya kalau anak itu punya kedua unsur wajah orang tuanya? Kurasa tidak. Hyemi contohnya, dia lebih mirip Donghyuk hyung daripada dirimu -_-"

"Aihh Kook~ jangan membahas itu, aku tahu jika putriku yang cantik itu 100% menuruni wajah cantik ibunya."

Jungkook tertawa. Ia bisa memastikan wajah hyung-nya itu sudah pasti sedang cemberut.

"Hahaha...maaf hyungie. Ya sudah ya hyung, aku masih harus mengepak barang bawaanku. Bye hyungie~"

"Baiklah. Bye too Kookie~"

Sambungan terputus. Jungkook menghela nafas lagi. Ia kembali menyibukkan dirinya dengan baju-baju Jungho dan juga bajunya. Jika dikira Jungkook tidak memikirkan perkataan Jiwon barusan, kalian salah. Jungkook justru sangat memikirkannya. Hanya saja, Jungkook tidak ingin memikirkannya untuk saat ini. Masih banyak hal yang lain yang harus ia pikirkan. Terutama bagaimana menjelaskan pada kedua orang tuanya besok, tentang ia dan Jungho.

"Jungho baby~~! Cepat tidur sayang, besok kau akan kesiangan!"

Jungkook keluar kamar. Bermaksud menyeret anak lelakinya itu untuk tidur.

"Nanti saja Mom~ Jungho masih harus memikirkan kata apa yang tepat untuk salam perpisahan dengan Matoki's Brothers."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pesawat yang ditumpangi Jungkook sudah sampai di Korea tiga puluh menit yang lalu. Saat ini Jungkook dan Jungho tengah duduk di ruang tunggu. Menunggu Jiwon yang katanya akan menjemputnya.

Ponsel Jungkook berdering. Menampilkan sebuah e-mail dari Bambam. Sahabatnya itu sudah di Korea sejak kemarin lusa.

"Kook kau sudah sampai? Apa perlu aku menjemput kalian?"

Jungkook tersenyum dan mulai mengetik balasan untuk Bambam.

"Sudah. 30 menit yang lalu. Tidak perlu menjemput, Jiwon hyung yang akan menjemput kami"

Baru saja Jungkook menekan tombol send dan pesannya terkirim, Bambam sudah kembali membalas.

"Benarkah? Ya Tuhan...aku tidak sabar ingin bertemu denganmu. Jangan lupa main ke rumah baru kami. Welcome kookie~"

Dan Jungkook tertawa membaca pesan Bambam.

"Astaga Bam..."

"Siapa? Bambam?"

Jungkook terlonjak kaget. Ia mendongak. Menemukan wajah kakaknya yang tengah menyengir padanya.

"Aissh... kau mengagetkanku hyungie "

Jiwon tertawa.

"Maaf. Oh ya, sudah lama? Maaf tadi aku harus menandatangani beberapa berkas lebih dulu."

Jungkook menggeleng.

"Tidak apa-apa hyung. Aku tahu kau orang yang sibuk."

"Eihh..kau ini memuji atau mengejekku sih."

Jungkook menyeringai dan mengendikkan bahunya.

"Ayo Hyung, kasian Jungho. Dia kelelahan."

Jungkook berdiri dan menunjuk Jungho yang tertidur ditempatnya. Jungkook sendiri tidak tahu kapan bocah-nya ini sudah tertidur.

"Aigoo tampannya."

Jiwon mengacak poni Jungho yang sedikit menyembul dari balik bennie hitam yang dipakainya.

"Aku akan menggendongnya. Kasihan jika harus dibangunkan. Jadi aku tidak akan membantumu membawa barang bawaan kalian."

Jiwon melepas boneka kelinci hitam bermasker merah yang dipeluk Jungho dan menyerahkannya pada Jungkook. Kemudian ia mengangkat tubuh kecil Jungho untuk digendongnya. Menyandarkan kepala bocah tampan itu pada pundaknya.

"Apa tidak apa-apa hyung? Dia lumayan berat." Jungkook mengikuti Jiwon yang sudah melangkah lebih dulu.

"Berat darimana? Jungho enteng sekali. Kau tidak memberinya makan ya?"

"Yak hyung! Ibu macam apa aku jika tidak memberinya makan? Memangnya aku tega ya?! Aishh.."

Jiwon tertawa mendengar celotehan protes dari Jungkook.

"Maafkan aku."

Dan mereka kembali berjalan menuju mobil Jiwon yang akan membawa mereka ke kediaman lama Jungkook. Yang sangat Jungkook rindukan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mobil sport itu tengah memasuki sebuah gerbang—agak—besar sebuah rumah bernuansa tradisional Korea. Melaju pelan diatas jalan beraspal batuan kecil yang disebar acak di atas semen abu-abu menuju sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat satu mobil lain. Sebut saja garasi.

"Sudah sampai Kook." Ini suara Jiwon.

Jungkook menoleh ke-kanan ke-kiri. Dan setelahnya ia kembali menghempaskan tubuhnya pada sandaran mobil Jiwon.

"Hah...rasanya aku tidak ingin turun dari sini hyung."

"Terus kau mau berdiam diri disini begitu? Kau tidak kasihan pada anakmu huh?"

Jungkook melirik Jungho yang masih tertidur pulas di jok belakang melalui spion dalam mobil.

"Melihatnya begitu pulas seperti itu membuatku jadi tidak tega untuk membangunkannya."

Jiwon menghela nafas dan hendak membuka pintu di samping kemudi. Namun suara Jungkook menghentikannya.

"Apa appa dan eomma ada di rumah hyung?"

Jiwon tampak berfikir—mengingat lebih tepatnya.

"Kurasa hanya ada eomma. Appa mungkin belum pulang. Turunlah, aku yang akan menggendong Jungho."

Jiwon turun dari mobil. Membuka pintu belakang tempat Jungho dan kembali menggendong bocah tampan itu.

Jungkook menoleh saat kaca pintu di samping kemudi di ketuk dari luar.

"Ayo turun!"

Jungkook menghela nafas. Ia mengikuti Jiwon membuka pintu mobil dan berjalan di belakangnya menuju pintu utama rumah itu.

Setiap langkah Jungkook terasa begitu berat. Seperti ada yang menaruh beban di kedua kakinya. Jungkook berhenti saat Jiwon membuka pintu utama dan masuk kedalam rumah beserta Jungho di gendongannya.

"Jiwon? Sudah pulang? Anak siapa ini?"

Sebuah suara lembut dari dalam rumah membuat Jungkook semakin merasa tidak bisa berjalan karena kakinya terlalu berat.

"Dia cucumu eomma."

"Cucuku? Dari siapa? Kau selingkuh dari Donghyuk?!" bahkan suara halus itu seakan ikut memporak-porandakan diri Jungkook. Rasa bersalah mendatanginya saat suara yang amat dirindukannya itu kembali terdengar.

"Dari siapa huh? Kau punya simpanan Kim Jiwon?!" lelaki berparas cantik yang menyandang gelar sebagai ibu Kim Jiwon itu mulai mengomeli anak sulungnya.

"Tidak eomma. Dia bukan anakku. Dan aku tidak selingkuh."

"Lalu anak siapa hah?!"

"Kau akan tahu Himchanie eomma." Jiwon berbalik menghadap pintu. "Hei bocah! Mau sampai kapan berdiri di situ?"

Jungkook terkesiap. Ia mendongak dan mendapati Jiwon yang mengisyaratkan padanya untuk masuk.

"Kau bicara dengan siap-"

Mata Himchan, ibu Kim Jiwon itu sukses melebar saat ia melongokkan kepalanya untuk melihat siapa si'tamu' dari balik tubuh Jiwon. Nafasnya tercekat dan suaranya menghilang begitu saja.

"J-Jungkook?"

Jungkook menatap laki-laki yang telah melahirkannya di depan sana dengan mata berembun. Seluruh tubuhnya kaku tidak bisa bergerak saat iris keduanya bertemu.

"Jungkook? Kau Jungkook?"

Jungkook bergetar seketika. Seluruh tubuhnya bergetar saat namanya disebut oleh sosok itu.

"Eom-ma..."

Jungkook menjatuhkan tas selempangnya dan berlari begitu saja. Menubruk tubuh Himchan dan memeluknya begitu erat.

"Eomma...hiks...eomma..."

"Jungkook? Kim Jungkook?"

Jungkook mengangguk cepat. Ia semakin mengeratkan pelukannya.

"Ya Tuhan...kemana saja selama ini? Eomma merindukanmu...hiks"

Jungkook bisa merasakan tubuh yang dipeluknya itu ikut bergetar karena tangis.

"Maafkan aku Eomma...hiks...ceritanya panjang..."

Himchan melepas pelukan mereka. Ia menangkup wajah Jungkook dengan kedua tangannya. Masih sama. Wajah putra terkecilnya ini masih sama dengan saat terakhir mereka bertemu, nyaris tujuh tahun yang lalu. Himchan mengusap air mata yang mengalir dari mata cantik Jungkook.

"Tahukah kau betapa eomma merindukanmu hm..."

Jungkook menggenggam tangan Himchan yang berada di pipinya. "Maafkan aku eomma..."

"Ekhem! Aku diabaikan nih disini."

Pasangan ibu dan anak itu serempak menoleh ke arah Jiwon yang masih berada ditempatnya dengan Jungho di gendongannya. Mereka lupa akan keberadaan Jiwon ternyata.

"Aku akan membawa si tampan ini ke kamar lamamu Kook. Kau berbicaralah dengan eomma."

Setelahnya Jiwon beserta Jungho yang masih tidur itu beranjak meninggalkan ruang tamu, menuju sisi lain rumah itu yang akan mengantarkan mereka ke kamar lama Jungkook.

Himchan memandang Jiwon dengan heran.

"Anak siapa sebenarnya yang di bawa Jiwon itu?"

Jungkook menghela nafas. Ia menatap Himchan yang masih memandangi punggung Jiwon yang semakin menjauh.

"Dia putraku eomma."

Himchan berbalik. Menatap Jungkook dengan mata membulat tidak percaya.

"Apa?!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.tBc

.

.cieee...chapter 3 kaming~~~ huhu...maaf gak bisa bales review ya readers-deul~~ terimakasih buat yang udah mau baca+review, makasih juga buat yg udah fav+follow, makasih juga buat siders*kalo ada* pokoknya makasih aja.

see you next chapter guys^^ RnR please

Gamsa~~

#Rae

A/N : Cerita akan diupdate setiap hari Jum'at