House of Cards
BTS
HopeKook
.
.
.
.
.
.
Rae Present
.
Tittle : House of Cards
Author : Rae
Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others
Rated : T, G, K
Cast : HopeKook [with Other's]
Length : Chaptered
Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.
Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...
TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^
.
.
.
.
.
.
.
Himchan dan Jungkook duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Di depannya ada Jiwon yang sedang bermain ponsel.
"Kookie, apa maksudmu sayang? Eomma tidak mengerti." Ini sudah Himchan tanyakan sebanyak lima kali. Dan ini adalah kali keenam.
"Iya eomma. Jungho memang putraku."
Himchan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Jawaban Jungkook sama seperti sebelumnya.
"Apa kau sudah menikah lagi? Siapa ibunya?" ini juga sudah ditanyakan Himchan enam kali.
"Aku ibunya."
Punggung Himchan menegak. Lima kali ia menanyakannya, Jungkook tidak menjawab. Dan kali keenam Himchan menanyakannya, Jungkook menjawab dengan jawaban yang mampu—sedikit—menampar Himchan.
"M-maksudmu?"
Jungkook menghadap Himchan kemudian ia menggenggam kedua tangan ibunya itu dengan erat.
"Aku ibunya, eomma. Dan aku tidak menikah lagi disaat pernikahanku sebelumnya masih legal."
Himchan balas menggenggam tangan Jungkook tak kalah eratnya. Sebulir air matanya lolos begitu saja.
"Jungkook...jadi dia...Hoseok?"
Jungkook mengangguk. Ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Namun sia-sia karena air matanya tetap saja menetes.
"T-tapi...bagaimana bisa?"
Jungkook menunduk. Ia menghela nafas sebelum pada akhirnya ia menceritakannya. Kejadian yang nyaris tujuh tahun berlalu namun masih meninggalkan bekas yang nyata pada Jungkook. Semuanya. Dari awal sampai akhir, sampai sekarang.
Himchan memeluk Jungkook. Menenangkan anaknya yang tengah menangis hebat itu.
"Lalu Hoseok...dia tahu?"
Hati Himchan mencelos saat Jungkook menggeleng. Jadi, namja itu belum tahu? Ia mencari kesana-kemari dan belum tahu sampai sekarang? Sampai anaknya sebesar ini? Bahkan ia menikah lagi... Ya Tuhan, Himchan rasanya ingin menenggelamkan dirinya sendiri ke laut. Ia tidak sanggup membayangkan beban yang harus di tanggung anak bungsunya selama hampir tujuh tahun lamanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook berjalan menyusuri lorong luas yang menghubungkan ruangan utama dengan ruangan kamarnya. Ia berhenti saat ia menatap sebuah figura besar yang dipajang di ujung lorong. Diatas meja perapian yang juga dipenuhi figura-figura foto.
Jungkook berjalan dan berhenti tepat dihadapan figura besar itu. Potret keluarga besarnya. Lengkap dengan namja tampan yang tengah memeluk pinggangnya mesra dan tersenyum begitu cerah. Sebuah foto keluarga yang diambil seminggu setelah pernikahannya. Tanpa sadar air mata Jungkook kembali mengalir. Dadanya serasa diremas kuat. Rasa sakit yang dirasakannya masih membekas dengan begitu jelas.
Jungkook menghela nafas. Ia tidak ingin berlama-lama merasakan sakit hari ini. Jadi ia memutuskan untuk menghapus air matanya dan berjalan menjauhi perapian. Menuju kamarnya yang terletak tepat disamping kamar Jiwon.
Pintu geser khas Korea dihadapan Jungkook itu masih sama. Tidak ada yang berubah. Masih ada tulisan hangeul transparan 'Jungkook' yang menempel di daun pintunya.
Tangan Jungkook terulur untuk menggeser pintu itu. Setelah pintu tergeser, hal pertama yang menyapa Jungkook adalah pemandangan putranya yang tengah tidur diatas ranjang miliknya.
Kaki Jungkook melangkah perlahan memasuki kamar berukuran sedang itu. Mengamati setiap sudutnya. Masih sama. Benar-benar tidak ada yang berubah. Bahkan, sebuah figura besar berisi foto pernikahannya pun masih bertengger manis di dinding yang berhadapan langsung dengan tempat tidurnya.
Jungkook medudukkan dirinya di sisi ranjang, menatapi wajah damai Jungho yang tidur. Jungkook mengusap sayang surai hitam bocah itu dan menaikkan selimutnya sebatas dada.
"Jangan bertanya soal Daddy-mu ya... Mommy belum bisa menjawabnya..."
Jungkook tersenyum miris. Matanya menangkap sebuah figura kecil yang berisi foto 'mereka' berdua saat sebelum menikah. Jungkook mengambil figura itu dan mengusap wajah namja tampan yang tengah mencium pipinya di dalam foto.
"Hyung, jangan muncul dihadapan Jungho ya nanti... aku tidak tahu harus mengatakan apa jika dia bertanya nanti."
Dan sebulir air matanya jatuh menetes tepat ke wajah namja tampan di foto itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungho terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di tempat yang asing. Bukan ruang tunggu bandara yang hanya berisis kursi-kursi dan orang berlalu-lalang saja. Melainkan sebuah kamar bernuansa vint-age dengan ornamen-ornamen khas tahun 90'an yang menghiasi setiap sudut.
Jungho mengedarkan pandangannya kesekeliling. Ia mendapati shishimato-nya duduk manis di samping tempatnya duduk saat ini. Di atas ranjang yang tidak terlalu besar dengan bed cover berwarna cokelat muda.
"Mommy..." suara husky Jungho keluar dengan pelan dari bibirnya. Ia masih merasa asing dengan keadaan sekitarnya. Pikiran jika ia di culik pun bahkan mampir di pikirannya saat ini.
Jungho menoleh kesana-kemari. Bermaksud mencari keberadaan orang lain di kamar itu. Ia berhenti menoleh saat matanya menatap sebuah figura besar di dinding yang tepat berada dihadapannya. Doe eyes-nya menyipit. Mempertajam penglihatannya pada sosok yang ada di foto itu.
Jungho pada akhirnya memutuskan untuk turun dari tempat tidur dan berdiri dihadapan figura itu. Senyum manisnya terkembang.
"Daddy..."
Senyuman Jungho semakin melebar saat ia melihat tangan kokoh di foto itu melingkar manis di pinggang—ekhem—ibunya. Jungho mengerti jika itu adalah foto pernikahan. Pernikahan ibunya dengan...ayahnya. Mungkin?
Jungho melangkah menuju pintu keluar dan menggeser pintu itu. Ia keluar dari kamar dan mengikuti instingnya untuk menjelajahi rumah yang terlihat tradisional namun mewah itu.
Ia sampai di ruangan besar yang diyakininya sebagai ruang keluarga. Banyak sekali perabotan bernuansa tradisional-modern di sana. Jungho berjalan mendekati sebuah grand piano di sudut ruangan. Ia mendapati sebuah foto di meja nakas dekat piano itu. Foto dua orang anak laki-laki yang saling berangkulan dan tersenyum manis. Background foto itu adalah sebuah pantai. Jungho bisa membaca hangeul, dan tulisan hangeul di pojok kanan bawah figuranya berbunyi 'Kim Jiwon & Kim Jungkook'.
Oh...ibunya dan paman Jiwon sewaktu mereka masih kecil.
Jungho kembali melangkah meninggalkan grand piano itu. Ia kembali mengikuti instingnya yang mungkin akan membawanya ke dapur. Karena ia mencium bau masakan yang sangat wangi.
Bingo! Benar saja. Jungho sampai di dapur. Berdiri di ambang pintu seraya mengamati dua orang namja dewasa yang sama-sama sibuk berkutat dengan bahan-bahan dapur. Jungho mengenal salah satu dari mereka.
"Mommy..." panggilnya pelan.
Kedua sosok itu menoleh bersamaan. Jungkook dan Himchan.
"Jungie? Sudah bangun hm?" Jungkook mendekati Jungho dan menuntunnya untuk duduk di meja makan.
Jungho menurut saja. Toh ia masih sedikit asing dengan keadaan sekitarnya meskipun ia mengetahui jika kemungkinannya ia sudah sampai di rumah Kakek-neneknya.
"Mom, kita sudah sampai ya?"
Jungkook mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaanya.
"Jungie mau makan apa? Biar halmeoni yang masak untuk Jungie. Bagaimana?"
Jungho mengerjap pelan pada sosok cantik yang baru saja bertanya padanya. Ia bingung, kenapa bayangan 'nenek'nya tidak sama dengan kenyataanya. Ia membayangkan jika yang namanya nenek pasti akan memiliki wajah keriput dan rambut beruban. Namun kenapa yang ada di depannya ini tidak sama sekali? Neneknya justru terlihat sangat cantik, wajahnya tidak keriput dan rambutnya pun tidak beruban, hitam legam.
"Jungie, Halmeoni bertanya sayang. Kenapa tidak di jawab?"
"E-eh...hehehe..." Jungho tersadar dari pemikirannya dan terkekeh pada sosok cantik yang di sebut ibunya sebagai 'Halmeoni'nya.
"Maaf halmeoni. Hehe.."
Himchan tersenyum maklum. "Tidak apa-apa sayang. Jungie mau makan apa?"
Jungho terlihat berfikir.
"Nasi goreng kimchi?"
Himchan mengangguk. "Baiklah. Akan segera datang jagoan~"
Jungkook tersenyum. Hubungan mereka baik meski ini baru pertama kalinya mereka bertemu. Jungkook bersyukur karena ibunya menerima putranya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hei jagoan, siapa namamu?"
Jungho diam tanpa reaksi saat suara berat itu meyapa pendengarannya. Ia hanya menatap polos sang pemilik suara. Oh ayolah...Jungho sedikit ketakutan sekarang.
"Jungie~"
Jungho menatap Jungkook. Seolah meminta bantuan karena ia ketakutan dengan sosok yang katanya adalah kakeknya itu. Sementara Jungkook, bukannya membantu ia malah menyuruh Jungho segera menjawab kakeknya—ini pemikiran Jungho.
"Jung-ho imnida." Suara husky Jungho yang biasanya selalu lantang itu kini tak ubahnya seperti sebuah bisikan.
"Just Jungho?"
"N-ne. Just it."
"Lalu marganya? Kim?"
Jungho menggeleng. "Aniyo. Margaku Jung."
Hening. Jungho diam-diam mendongak ke si penanya yang mendadak diam setelah menanyakan marganya.
"Jungho...Jung Jungho?"
Jungho menggeleng lagi. Ternyata kakeknya hanya sedang berfikir saat suasana hening mendadak tadi.
"Just Jung-ho, grandpa." Jungho sedikit kesal juga sebenarnya. Kakeknya ini tidak terlihat tua, tapi kenapa susah sekali memahami perkataannya.
"Kook, aku tidak paham maksud anakmu."
Jungho mendengus. Benar kan, kakeknya tidak paham. -_-
"Appa, namanya hanya Jung-ho. 'Jung' untuk marganya dan 'Ho' untuk nama panggilannya. Tapi karena dipanggil 'Ho' saja itu terdengar lucu, aku memutuskan agar semua orang memanggilnya Jungho. Sudah paham appa?"
Namja bersuara berat itu manggut-manggut. Membuat Jungho kembali mendengus—jauh lebih kesal dari sebelumnya.
"Hei jagoan. Mau berlatih militer dengan grandpa besok pagi?"
Jungho membelalak. Ia hampir saja menyemburkan minumannya saat mendengar ajakan kakeknya. Apa tadi? Latihan militer? Ya Tuhan...dirinya bahkan masih kelas dua sekolah dasar. Untuk apa latihan militer?
"Sudahlah. Jungho ikut saja, jangan cemberut seperti ini baby.." Jungkook mencubit pipi anaknya itu dengan gemas. Ia terkikik dalam hati. Ia tahu 'latihan militer' apa yang dimaksud ayahnya itu.
"Baiklah. Jika itu maumu, Mom.."
Dan ketiga orang dewasa di sana tertawa begitu nada malas itu keluar dari mulut putra seorang...ekhem—Jung Hoseok.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi-pagi sekali. Bahkan matahari belum muncul. Jungho sudah siap dengan hoodie hitam, celana training hitam, dan bennie hitamnya. Berdiri di depan pagar besar rumah yang sejak kemarin siang ia tempati. Menunggu kakeknya yang sedang menutup pintu gerbang. Kakeknya itu ternyata mantan seorang angkatan militer nasional. Ini baru diketahui Jungho tadi malam dari ibunya saat ia hendak tidur.
"Yongguk grandpa, kita mau ngapain sih? Kenapa Hyemi noona tidak ikut juga?"
Sekedar informasi saja, kakeknya Jungho itu Kim Yongguk. Ayah Kim Jiwon dan Kim Jungkook, sekaligus suami Kim Himchan.
"Waeyo? Kau takut hm?"
Jungho buru-buru menggeleng. "T-tidak kok! Kan Jungho hanya bertanya."
Yongguk terkekeh. Ia mulai lari-lari kecil di tempat. "Kita akan lari pagi keliling kompleks."
"Apa?!"
Yongguk menatap Jungho dengan dahi berkerut. "Kenapa reaksimu seperti itu hm? Tidak pernah lari pagi ya?"
Jungho menggeleng, kali ini tidak buru-buru seperti sebelumnya. "Aku hanya lari jika sedang latihan basket. Hanya itu."
Yongguk tertawa kecil. Ia kemudian berjongkok di hadapan cucunya itu. Membenarkan letak bennie-nya.
"Kalau begitu. Ini akan jadi yang pertama bagimu. Grandpa jamin, kau tidak akan menyesal."
Jungho memiringkan kepalanya ke kanan. "Benarkah?"
Dan Yongguk mengangguk penuh keyakinan. Ia kemudian berdiri dan sedikit melakukan peregangan pada kedua lengannya.
"Ja. Sekarang kita mulai larinya. Kajja!" Yongguk berlari lebih dulu. Meninggalkan Jungho di belakang.
"Grandpa!"
Pada akhirnya Jungho-pun mengikuti Yongguk. Berlari desebelah kakeknya yang terus saja menertawakannya.
.
.
Dua orang namja beda usia sekaligus beda ukuran tubuh itu tengah berdiri di dekat pembatas sebuah sungai. Mereka adalah pasangan kakek dan cucu yang baru terbentuk(?) tadi malam. Jungho dan Yongguk.
"Grandpa lihat! Mataharinya sebentar lagi muncul!" telunjuk Jungho menunjuk lurus kedepan. Ke sebuah cahaya yang menyembul di ujung sungai yang mungkin tak berujung ini.
"Jungho belum pernah melihat matahari terbit?"
Sebuah gelengan menjadi jawaban atas pertanyaan Yongguk.
"Jungho selalu tidak punya teman yang bisa diajak pergi untuk melihat matahari terbit di pinggir tebing di London." Mata Jungho masih menatap antusias matahari yang perlahan-lahan menyembul di sana.
"Mommy tidak bisa bangun pagi. Jungho tahu jika mommy mungkin sangat lelah karena mengurus Jungho sendirian. Sementara daddy, Jungho bahkan tidak tahu daddy dimana sekarang."
Yongguk berbalik. Ia menyandarkan punggungnya pada pembatas dan menatap cucunya itu dalam. Meski yang ditatap hanya fokus pada matahari yang sebentar lagi akan benar-benar terbit itu.
"Jungho tahu wajah daddy?"
Jungho mengangguk yakin. "Mommy bilang, Jungho itu mirip daddy. Hanya saja mata kami yang berbeda. Tidak sepenuhnya berbeda, karena mommy juga bilang jika daddy dan Jungho itu punya sorot mata yang sama."
Dalam hati Yongguk membenarkan perkataan Jungkook pada Jungho tentang ayahnya. Kesan pertama saat ia bertemu dengan sosok manis dan tampan ini hanya satu. Ia mirip ayahnya. Hanya matanya saja yang berbeda bentuk, namun ia melihat adanya sosok Hoseok di dalam mata cucunya itu. Bahkan tanpa bertanya pun Yongguk sudah tahu siapa ayah dari bocah ini. Hanya melalui sorot matanya.
"Jungho tidak merindukan daddy?"
Jungho diam kali ini. Cukup lama. Hingga akhirnya matahari benar-benar terbit.
"Uwahhh~~! Sangat cantik!" sebuah teriakan kagum yang menjadi jawaban atas pertanyaan Yongguk beberapa saat yang lalu.
Yongguk tersenyum. Bahkan tanpa Jungho katakan pun Yongguk tahu jika sosok kecil dihadapannya ini sangat merindukan sosok ayahnya. Yang bahkan hanya diketahuinya melalui gambar dan bayangannya sendiri. Yongguk pun tahu jika teriakan kagum Jungho saat ini hanyalah caranya mengalihkan perhatian dari pertanyaan yang ia lontarkan. Dan Yongguk menerima jawaban itu.
"Jika sudah puas melihatnya, kita pulang. Ibumu pasti akan memarahai grandpa jika tidak segera membawa pulang. Oke?"
"Yes sir!"
Dan keduanya tertawa. Melupakan jika tadi malam mereka bahkan sempat di-sangsikan untuk bisa akur layaknya kakek-cucu pada umumnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hyunjin berhenti! Jangan lari-lari di dalam rumah sayang!" Taehyung berlari kecil mengejar bocah yang hanya memakai atasan seragam sekolahnya.
"Hyunjin pakai celanamu! Ya Tuhan..."
Bocah laki-laki bernama Hyunjin itu malah semakin berlari dengan kencang. Sengaja mengejek ibunya.
"Jung Hyunjin!"
"Sudahlah Tae, biarkan saja." Hoseok menepuk pelan bahu Taehyung yang seketika merosot lelah.
"Hyung, ini sudah setengah delapan. Anakmu itu belum memakai celana dan blazernya. Dia juga belum sarapan hyung!" Taehyung merengek. Membuat Hoseok menggeleng hendak menertawakan rengekan Taehyung.
"Hyunjin, berhenti berlarian dan pakai seragammu dengan benar. Lalu sarapan."
Bocah lima tahun itu berhenti seketika. Suara Hoseok yang dalam dan terkesan mengintimidasi itu membuatnya merinding ketakutan. Ia berjalan dengan kepala tertunduk mendekati Taehyung.
"Mommy tidak akan mengajakmu bertemu Seokjin appa hari ini. Itu adalah hukumanmu. Mengerti?"
"Mianhae Mom..."
Taehyung menghela nafas dan mulai memakaikan seragam Hyunjin dengan benar.
"Sekarang pergi sarapan sama Daddy. Jangan disisakan."
Tanpa menjawab dan kepala masih tertunduk, Hyunjin berjalan ke meja makan. Duduk dihadapan ayahnya dan mulai memakan sarapannya.
"Dimarahi Mommy eoh?"
Hyunjin mengangguk menjawab pertanyaan ayahnya.
"Makanya, kalau setiap pagi itu turuti saja apa kata Mommy. Bukankah jika Mommy marah itu sangat menyeramkan hm?" Hoseok meletakkan sendok dan garpunya. Ia beralih menatap bocah fotokopian Taehyung itu dengan senyum manis.
"Ya. Sangat menyeramkan." Hyunjin berujar dengan nada takut. Hoseok terkekeh dan mengasak surai cokelat bocah dihadapannya.
"Ja. Cepat habiskan dan kita berangkat."
Hyunjin mengangguk.
"Hyung, kau saja yang antar Hyunjin ya. Aku sedang malas menghadapi bocah itu." Ini suara Taehyung yang masuk ke ruang makan sambil menenteng tas punggung hijau bergambar singa kuning milik Hyunjin.
"Aku yang akan mengantarnya. Jika kau yang mengantarnya, Hyunjin bisa menangis di sekolah." Dan Hoseok tertawa karena Taehyung cemberut.
"Mom~"
Taehyung menoleh menatap Hyunjin yang melirik takut padanya.
"Wae?" bahkan suara Taehyung masih dingin.
"Mianhae...jangan marah ya..." Hyunjin mendongak. Matanya sedikit berkaca.
Hoseok melirik ibu dan anak itu secara bergantian.
"Sudahlah Tae..."
"Please mom..."
Taehyung menghela nafas. Ia melenggang begitu saja meninggalkan meja makan. Dan Hyunjin menatap punggung ibunya itu dengan terluka.
"Sudahlah. Jangan menangis ne...Daddy kan sudah bilang kalau Mommy akan menyeramkan saat marah. Jadi minta maafnya nanti saja ya..."
Hyunjin menunduk kemudian mengangguk.
"Ayo berangkat Dad.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook menatap malas putranya yang pulang dengan peluh di sekujur tubuhnya. Ia tahu Jungho habis 'latihan militer' dengan Yongguk. Jungkook tidak marah, hanya saja...ia sedikit kesal karena putranya itu langsung duduk di sofa ruang tengah dengan pakaian serba hitamnya, bukannya pergi mandi.
"Jungho...pergi mandi sekarang."
Jungho menggeleng dengan mata terpejam. "Wait a minute Mom~"
"Jungho."
Jungho masih menggeleng.
"Kim Jungho."
"Mom~ margaku Jung. Jangan panggil aku seperti itu!" suara Jungho meninggi karena kesal. Informasi saja, Jungho paling tidak suka jika marga-nya diganti.
"Makanya pergi mandi sekarang!" suara Jungkook balas meninggi karena ia juga sedang kesal.
Jungho bangun dan berjalan dengan menghentak kecil.
"Aissh iya! Aku mandi!"
Ia kemudian meninggalkan Jungkook dan masuk kamar.
"Kook, tidak baik memarahi anak kecil seperti itu."
Jungkook menoleh dan menemukan Himchan tengah berjalan kearahnya.
Jungkook mendudukkan tubuhnya pada sofa dengan kesal. Ia kemudian mendengus.
"Kau tidak tahu rasanya berhadapan dengan Jungho eomma. Dia itu sedikit banyak pemalas."
"Jiwon juga seperti itu dulu. Jadi eomma tahu rasanya sayang" Himchan tertawa. Membuat Jungkook kembali mendengus kesal.
"Terus saja eomma manjakan dia."
Himchan tertawa lagi. Ia kemudian mengusap bahu Jungkook maklum.
"Oh iya Kook. Hari ini bagaimana jika kau ajak Jungho jalan-jalan? Donghyuk bilang, toko buku langganan kalian sedang cuci gudang. Akan baik jika kau mengajak Jungho pergi kesana."
Jungkook menatap ibunya dengan kepala miring. "Benarkah?"
Himchan mengangguk.
"Baiklah. Mungkin aku bisa membeli beberapa novel untuk Jungie."
"Jungho suka novel?"
Jungkook mengangguk antusias. "Ia sangat menyukai apapun itu yang berbau fiksi. Novel terutama."
Himchan menggeleng takjub. "Anak sekecil dia sudah membaca novel? Mengejutkan."
.
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok memberhentikan mobilnya tepat di depan Bangtan Elementary School. Ia kemudian menatap Hyunjin yang masih duduk diam dengan kepala tertunduk di sebelahnya.
"Kau tidak mau turun?"
Hyunjin terkejut. Ia bergegas mendongak dan memperhatikan sekelilingnya.
"Sudah sampai ya?"
"Iya. Kita sudah sampai. Cepat turun sana, nanti kau terlambat."
"Baiklah." Hyunjin melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu disampinya. Ia turun dari mobil dengan sedikit ogah-ogahan. Pikirannya masih memikirkan ibunya yang marah padanya.
"Belajar yang baik Kim!"
Hyunjin menoleh saat kalimat itu terucap dari bibir Hoseok. Ia tersenyum dan mengangguk.
Hoseok melajukan mobilnya meninggalkan area sekolahan saat Hyunjin telah menghilang di balik gerbang.
Hoseok menghela nafas. Ia memandang lurus jalanan yang cukup ramai di depannya.
"Kim. Ya...sebentar lagi Jung akan berubah menjadi Kim. Kurasa itu akan jauh lebih cocok. Tapi kalau dia tetap ingin menggunakan Jung, kurasa juga tidak masalah."
Hoseok kemudian terkekeh. Ia terus tersenyum sambil terus menatap jalanan di depannya. Tak lama kemudian. Hoseok tersentak. Seorang anak kecil kira-kira sedikit lebih tua dari hyunjin menyebrangi jalanan begitu saja. Sontak ia menginjak rem kuat-kuat dan menekan klaksonnya hingga berbunyi sangat kencang. Anak itu diam ditempatnya dan menatap mobil Hoseok dengan terkejut. Hoseok masih menginjak remnya. Entah kenapa mobilnya tidak mau berhenti.
"Apa rem-nya blong?!" batin Hoseok kalut. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk.
Mata Hoseok menatap nanar pemandangan di depannya. Ia semakin menginjak remnya dengan kuat. Hoseok bisa melihat anak itu sama sekali tak berkedip melihatnya.
CKITTTT.
Dugh.
Hoseok terengah. Ia sedikit meringis karena dahinya terantuk kemudi. Ia menghela nafas lega saat dirasanya mobilnya tidak menabrak sesuatu.
Hoseok mendongak guna memastikan keadaan anak kecil yang hampir atau mungkin sudah ditabraknya itu.
DEG.
Mata Hoseok membelalak sempurna. Mulutnya ternganga tidak percaya. Pemandangan di depannya begitu nyata untuk dikatakan hanyalah ilusi semata.
Seorang namja tengah memeluk anak kecil tadi dengan erat. Posisinya menyamping, jadi Hoseok bisa melihat wajah namja itu dari samping. Namja itu menangis sementara anak kecil yang dipeluknya masih menatap Hoseok dengan tatapan shock.
Tubuh Hoseok bergetar. Ia mencengkram kemudinya dengan erat. Keringat dingin mengaliri pelipisnya. Anak kecil itu seperti mengucap sesuatu, membuat namja yang memeluknya itu menoleh menatap Hoseok yang masih berada di dalam mobil melalui kacanya.
Mata mereka bertemu. Mata namja itu membulat. Ia tak kalah terkejutnya dengan Hoseok.
Hoseok meraih kenop pintu dengan tergesa. Karena ia buru-buru ia gagal membuka kenop itu berkali-kali. Ia melirik ke arah depan. Namja itu memeluk anak kecil tadi mengajaknya berlari pergi dari sana.
Hoseok semakin gusar membuka pintu.
Klik. Berhasil. Pintu terbuka dan Hoseok keluar dari sana. Menatap dua orang yang baru saja menyebrangi jalan dan berlari menjauh.
"Kim Jungkook!"
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook menggandeng lengan Jungho begitu erat. Mereka hendak pergi ke toko buku yang dibicarakan Himchan tadi. Jungho begitu antusias saat Jungkook memberitahunya jika ia akan mendapatkan novel baru.
Mereka berjalan di atas trotoar. Jungho bilang, ia ingin membeli eskrim sebentar tadi. Dan saat ini mereka baru saja keluar dari kedai eskrim dan hendak menuju toko bukunya.
"Nanti kalau menyeberang, tunggu lampu lalu lintasnya merah ne."
Jungho mengangguk. Wajar saja jika ia tidak tahu caranya menyeberang di persimpangan jalan. Sekolahnya di London tidak melewati persimpangan. Dan ia juga tidak pernah pergi ke pusat kota jika tidak ada sesuatu yang penting.
Mereka berdua berdiri bersama orang-orang yang hendak menyeberang. Tiba-tiba saja ponsel Jungkook bergetar. Sebuah panggilan masuk.
Jungkook melepaskan tautannya dengan Jungho dan mengambil ponselnya.
"Bambam?"
Jungkook mengernyit. Kenapa Bambam meneleponnya?
"Halo?"
"..."
Jungho memandang ibunya yang asyik berbincang di telepon. Ia kemudian mendengus karena merasa diabaikan.
Jungho menatap lampu penyeberangan. Hijau. Di pelajaran bahasa inggrisnya, jika lampu hijau artinya jalan. Jungho melirik seorang pria paruh baya di sebelahnya yang mulai berjalan ke depan. Tanpa ragu Jungho berlari mendahului pria itu. Ia sedang kesal dengan ibunya karena diabaikan, jadi ia berinisiatif meninggalkan ibunya.
Saat sampai seperempat jalan, Jungho baru sadar jika pria tadi tidak menyebrang bersamanya. Dan Jungho juga sedikit panik saat di depannya masih banyak mobil yang berjalan. Sesekali bunyi klakson terdengar. Jungho panik. Ia memutuskan untuk tetap berlari. Dalam pikirannya, jika ia terus berlari kedepan, maka ia akan sampai di seberang dengan selamat.
TIN. TIN. TINNNNNN.
Jungho berhenti di tengah jalan karena suara klakson yang begitu memekakkan telinga. Ia menoleh ke arah mobil yang melaju sedikit kencang dari samping kanannya. Ia tidak berkedip menatap mobil itu.
"Jungho!"
Jungho mendengarnya. Suara teriakan panik ibunya. Namun entah kenapa kaki Jungho terasa berat. Ia sulit bergerak, bahkan hanya untuk menoleh saja.
Ia menatap lurus wajah pengemudi mobil itu yang terlihat begitu panik. Suara klaksonnya semakin membabi buta.
Jungho menahan nafas. Siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.
"Nak apa yang kau lakukan? Menyingkirlah!"
"Nak kau bisa tertabrak!"
"Jungie! Menyingkir dari sana! Jungho!"
Suara-suara itu terngiang dikepala Jungho. Buntu. Ia tidak bisa berpikir jernih.
"JUNGIE!"
CKITTTTT.
GREP.
Jungho diam. Nafasnya terengah.
Ia merasakan seseorang memeluknya sambil menangis. Sementara orang didalam mobil yang berhenti tepat satu setengah meter darinya itu perlahan mendongak.
"Jungie apa yang kau lakukan?!"
Jungkook memeluk tubuh Jungho begitu erat. Ia tidak henti-hentinya mengusap surai hitam anaknya tersebut. Ia ketakutan. Sangat.
Jungho diam. Ia mendengar ibunya namun ia tidak bisa meresponnya. Matanya menatap lurus wajah orang dibalik kemudi mobil itu. Yang menatap ia beserta ibunya dengan terkejut.
"Daddy..."
Jungkook tersentak saat panggilan itu keluar dari mulut Jungho dengan pelan. Jungkook menatap Jungho yang terdiam dengan pandangan lurus kedepan. Dengan ragu, Jungkook mengikuti arah pandang Jungho.
DEG.
Jungkook menggenggam jemari Jungho dengan tangan bergetar. Terkejut. Ia begitu terkejut.
Matanya bertemu dengan mata tajam yang menatapnya terkejut dari dalam mobil. Pengemudi itu terlihat membuka kenop pintu mobilnya berkali-kali.
Jungkook menghela nafas gugup dan segera memeluk Jungho erat.
"Kita pergi dari sini sayang. Kita pulang."
Jungkook tidak mengindahkan protes yang keluar dari mulut Jungho. Ia menghadapkan tubuh Jungho kedepan dan membawanya berlari menyeberangi jalan. Menuju ke seberang jalan.
Jungkook semakin mengeratkan genggamannya dan mempercepat larinya saat namanya terdengar dari arah belakang.
"Kim Jungkook!"
Tidak. Ini halusinasi! Jungkook tidak peduli apapun. Ia hanya ingin membawa Jungho menjauh dari tempat ini sekarang. Menjauh. Bersembunyi dari namja tampan yang mungkin mengejarnya saat ini.
"Jungie jangan dengarkan apapun dan jangan menoleh kebelakang. Ara?"
.
.
.
.
.
.
.
.tBc.
.
.Holla~~ Chapter 4 is kaming~~
Hmzzz...agak sedih sih sebenarnya soalnya menurun, padhal viewers nya banyak. Tapi gpp deh, kalian udah mau review aja aku bersyukur banget ^^
Disini, Kookie udah ketemu noh sm Himchan jg Yongguk, yepp BangHim jd ortunya Jeka. Dan Hosiki udah nyempil tuh di ending~~
Maaf juga ya, masih gak bisa bales review kalian satu", aku lagi ada acara keluarga dan ini aja apdetnya nyuri" waktu, soalnya aku takut ngecewain kalian karena telat apdet padahal udah janji cerita akan apdet tiap hari Jum'at. Yang pasti segala macam bentuk pertanyaan dan protes(?) kalian akan dijawab seiring di updatenya cerita, kkkk~. Sekali lagi maaf ya~~
See you next chapter on next week guys~~
Review Please~~ juseyo~~
#RnR Please
Gamsha~~
Rae#
