House of Cards
BTS
HopeKook
.
.
.
.
.
.
Rae Present
.
Tittle : House of Cards
Author : Rae
Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others
Rated : T, G, K
Cast : HopeKook [with Other's]
Length : Chaptered
Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.
Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...
TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^
.
.
.
.
.
Hoseok berlari menyeberangi jalanan yang sempat macet beberapa saat itu dengan tergesa. Matanya masih menemukan dua orang yang tengah berlari seolah menjauhinya. Batinnya seperti di remas kuat dan rasa bersalah menghinggapinya saat si pemilik nama yang ia teriakan tidak sedikitpun menoleh padanya.
"Kim Jungkook!"
Hoseok berteriak. Mencoba memanggil sosok namja dewasa yang tadi memeluk anak kecil yang nyaris ditabraknya. Namun tetap saja, namja itu tidak menoleh sama sekali.
"Jungkook-ah!"
"Jung Jungkook!"
"Jungie!"
"Jungkook!"
Nihil. Namja yang sedari tadi dipanggilnya 'Jungkook' itu tidak menoleh sama sekali.
Hoseok berhenti. Ia membungkukkan badannya dan menumpukan kedua lengannya pada lututnya. Matanya menatap nanar dua orang yang kini tengah menaiki bus yang mereka berhentikan secara mendadak.
"Aku yakin itu kau, Kookie."
Air mata Hoseok menetes. Membasahi pipi dan wajahnya yang telah bermandikan peluh. Pandangannya masih menatap bus yang membawa keduanya pergi.
Lama. Cukup lama Hoseok berdiam di tempatnya. Memandangi tempat terakhir dua orang yang dikejarnya. Padahal bus yang membawa mereka telah menghilang sedari tadi. Tiba-tiba Hoseok teringat seuatu. Segera saja ia berbalik berlari menuju mobilnya yang ia telantarkan. Mengendarainya menuju suatu tempat.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook memeluk Jungho begitu erat. Pandangannya kosong dengan air mata yang terus mengalir. Jungho menatap ibunya itu dengan khawatir. Jungho tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ingin bertanya, ia tak tega pada ibunya.
"Mom.."
Jungkook menoleh. Ia menghapus air matanya dan tersenyum. Senyum yang terlihat dipaksakan.
"Kenapa? Kenapa mommy menangis?"
Jungkook mengecup sayang dahi Jungho. Air matanya kembali mengalir.
"Jangan nekat seperti tadi. Maafkan mommy yang mengabaikanmu. Maaf ya..."
Jungho memandang ibunya polos dan memeluknya erat. Ia mengangguk pelan. Membuat Jungkook semakin menangis.
'Maafkan mommy sayang...menjauhkanmu dari daddy-mu...maaf'
.
.
.
.
.
Mobil warna hitam itu memasuki gerbang besar mansion 'Kim' dan berhenti tepat di depan pintu utama. Dengan langkah tergesa, namja tampan pengemudi mobil hitam itu keluar dari mobil dan mengetuk pintu utama rumah itu dengan tidak sabaran. Pintu terbuka dan menampilkan wajah seorang namja cantik yang sudah berumur yang menatap namja tampan itu terkejut.
"Hoseok?"
Namja tampan yang ternyata Hoseok itu memeluk sekilas ekhm—mantan—iyakah?—ibu mertuanya.
"Eomma, biarkan aku masuk. Kumohon..."
Himchan kebingungan namun ia membiarkan Hoseok masuk dan mereka duduk berhadapan di sofa ruang tamu.
"Apa yang membawamu kesini Jung?"
Hoseok tidak menjawab Himchan. Ia menggenggam tangan ibu mertuanya itu dengan erat. Ia menangis sekarang.
"Eomma, Jungkook ada disini kan?"
DEG.
Himchan terkejut. Ia menatap Hoseok tidak percaya.
"A-apa yang kau katakan Hoseok-ah?"
"Eomma katakan padaku. Jungkook disini kan?"
Hoseok berdiri dan bersimpuh dihadapan Himchan. Sontak hal itu semakin membuat Himchan terkejut.
"Eomma...hiks...katakan padaku...Jungkook, dia disini kan? Eomma jebal..."
Himchan menggeleng. Ia membawa tubuh Hoseok untuk berdiri. Diusapnya air mata yang mengaliri paras tampan dihadapannya. Ia menggeleng lagi.
"Jungkook tidak ada disini, Hoseok-ah"
Bohong! Himchan menggigit bibirnya. Ia sungguh tidak bermaksud seperti itu. Hatinya sedikit tercabik saat ia melihat raut wajah Hoseok yang begitu mengkhawatirkan.
"Eomma kumohon..."
"Hoseok-ah, jangan seperti ini. Jungkook tidak ada disini. Ia mungkin sudah tiada Hoseok-ah...hiks..." Himchan menangis. Menangisi namja tampan yang bertahun-tahun diliputi rasa penyesalan dan bersalah yang teramat sangat.
"Eomma. Jangan berbicara seperti itu."
"Hoseok-ah, dengarkan eomma. Jungkook pergi tujuh tahun yang lalu tanpa ada yang mengetahui kemana perginya. Ia pergi dengan kondisi batin dan pikiran yang buruk. Ia tidak pernah lagi kembali kesini ataupun menghubungi salah satu dari keluarganya. Tidak pernah Hoseok-ah."
Hoseok menunduk. Batinnya semakin merasa bersalah dan sakit.
"Aku...bertemu dengannya eomma. Dengan seorang anak kecil dipelukannya."
DEG.
Himchan kembali terkejut. Jungkook bertemu Hoseok?
"Dimana?"
Hoseok menghela nafas. "Aku...hampir menabrak anak kecil itu. Jungkook memeluknya saat mobilku berhenti tepat sebelum menyentuh anak itu. Kami sempat bersitatap, tapi ia langsung lari begitu mengetahui itu diriku."
Himchan merasa jantungnya ingin copot. Ia terkejut bukan main. Terlalu terkejut.
"Hoseok-ah, mungkin itu bukan orang yang sama. Bukan Jungkook. Jika Jungkook memang di Korea, harusnya ia pergi kesini untuk pulang. Tapi ia tidak ada disini. Bahkan ia dimanapun eomma tidak tahu."
Hoseok diam. Begitupula dengan Himchan.
"Eomma-"
"Pulanglah. Taehyung dirumah menunggumu."
Himchan tersenyum miris dan mengusap sayang surai cokelat tua namja yang pernah—masih—menjadi menantunya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jungie boleh eomma masuk?"
Jungkook menatap pintu kamarnya yang diketuk pelan dari luar. Ia dan Jungho sampai di mansion Kim setelah mobil hitam yang Jungkook hapal di luar kepala meninggalkan mansion itu tiga puluh menit yang lalu.
"Ne. Masuklah eomma."
Pintu dibuka dan Himchan melangkah masuk. Duduk di sebelah Jungkook yang tengah mengusap sayang surai hitam Jungho yang tidur dengan damainya.
"Kau bertemu Hoseok?"
Jungkook terdiam. Tangannya berhenti mengusap rambut Jungho. Ia kemudian mengangguk pelan tanpa memandang Himchan.
"Jadi kalian benar-benar bertemu?! Katanya, Hoseok hampir menabrak Jungho, apa benar?"
Jungkook kembali mengangguk.
"Ya Tuhan! Kukira dia berbohong." Himchan mengusap wajahnya kasar. Ia kemudian meraih bahu Jungkook dan membuatnya menghadap dirinya.
"Kenapa lari?"
Jungkook memandang Himchan dengan sendu. Air matanya mulai mengalir secara perlahan.
"Aku...tidak siap...eomma."
Himchan meraih Jungkook kedalam pelukannya. Membiarkan anak bungsunya itu menangis dalam dekapannya.
"Apa yang tidak kau siapkan sayang? Apa?"
"Semuanya. Aku tidak siap untuk semuanya. Aku tidak ingin kehilangan Jungie eomma...tidak ingin."
Himchan semakin mengeratkan pelukannya.
"Hoseok mencarimu bertahun-tahun. Ia sangat merasa bersalah padamu. Jika kau menghindarinya seperti tadi, tidakkah itu akan semakin menambah bebannya?"
"..."
"Temui dia ne?"
Jungkook menggeleng kuat. "Tidak eomma. Aku tidak akan menemuinya lagi. Kami harus kembali ke London. Secepatnya."
Himchan melepas pelukannya dan menatap Jungkook dengan terkejut.
"Kembali ke London? Kalian bahkan baru tiba kemarin."
Jungkook menghapus airmatanya dan menatap Himchan seolah minta maaf.
"Ini yang terbaik untuk Jungie eomma. Kuharap eomma bisa mengerti."
"..."
"Mianhae eomma.."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Taehyung! Taehyung!"
Suara derap kaki yang terkesan tergesa-gesa itu memenuhi mansion Jung. Namja tampan pemilik kaki tersebut berlari menaiki tangga rendah menuju lantai dua. Ia kemudian membuka pintu kamar utama dengan tidak sabaran.
"Taehyung!"
"Astaga! Kau mengagetkanku hyung!" Namja cantik yang tengah membereskan tempat tidur itu berjengit saat namja tampan disana memeluknya erat.
"Hiks Tae...hiks..aku menemukannya. Aku menemukannya...hiks."
Taehyung—namja cantik—balas memeluk namja tampan itu dengan alis bertaut. Bingung.
"Menemukan? Menemukan apa Hyung?"
"Jungkook! Aku menemukannya Tae!"
Taehyung melepas pelukannya dan menatap namja tampan dihadapannya dengan kedua mata melebar.
"Benarkah?! Kau tidak berbohong kan hyung?"
Namja tampan itu mengangguk yakin. Tapi sedetik kemudian, raut wajahnya berubah menjadi sendu.
"Hyung, bawa aku bertemu dengannya! Ayo hyung!" Taehyung mengguncangkan kedua bahu Hoseok dengan mata berbinar. Namun sedetik kemudian, bahu Taehyung merosot.
Hoseok menggeleng.
"Aku tidak tahu ia di mana Tae,"
"Apa maksudmu Hyung?"
Hoseok berjalan menjauhi Taehyung dan terduduk di tepi tempat tidur.
"Aku punya seorang putra Tae. Dari Jungkook."
Mata Taehyung kembali melebar. Ia lantas mendudukkan dirinya di samping Hoseok.
"Kau bercanda hyung?!"
Hoseok mengusap wajahnya kasar lalu menggeleng.
"Aku tidak bercanda Tae. Anak itu mirip denganku, sekilas."
"Bagaimana kalian bertemu?"
Mata Hoseok menerawang ke arah jendela besar di kamarnya.
"Aku nyaris menabrak anak itu. Dan Jungkook memeluknya. Aku yakin penglihatanku masih berfungsi dengan baik. Jadi aku tidak akan salah lihat."
Taehyung menghela nafas. Ia meraih Hoseok kedalam pelukannya, menyandarkan kepala namja tampan itu pada bahunya.
"Kita bisa mencarinya Hyung. Jangan khawatir."
Taehyung menutup matanya. Ia membiarkan sebutir air matanya lolos. Dalam hati ia berdoa, setidaknya ia ingin Tuhan membiarkan ia membantu Hoseok kembali bersama Jungkook. Sebelum Seokjin resmi mengambilnya dari sisi Hoseok.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Apa?! Yang benar saja Kook?!" Jiwon hampir saja menyemburkan makanan di mulutnya saat mendengar kata-kata Jungkook.
Tidak hanya Jiwon, Yongguk bahkan Donghyuk pun nyaris melakukan hal yang sama dengan Jiwon. Kecuali Himchan.
"Jungkook, apa maksudmu nak?" Ini suara Yongguk. Pria paruh baya itu baru saja meneguk air minumnya, menghindari tersedak.
"Maafkan aku. Kami harus kembali ke London secepatnya." Jungkook memandang Jungho yang memandangnya penuh tanya. Jungkook belum memberitahu anak itu.
"Tapi kalian baru saja disini. Apa yang terjadi Kook?" Donghyuk juga sama terkejutnya dengan Jiwon. Jadi ia ikut menanyakannya juga.
"Aku tidak bisa menjelaskannya, hyung."
"Mom.."
Semua pasang mata tertuju pada Jungho. Bocah itu memandang Jungkook dengan sedih.
"Maafkan Jungie." Jungho menunduk. Jungkook tahu ke arah mana pembicaraan anaknya nanti. Oleh karena itu ia segera mengusap surai hitam putranya.
"Jiwon. Siapkan tiket keberangkatan ke London untuk mereka berdua. Besok pagi."
Mata Jiwon melebar mendengar perintah Himchan.
"Eomma apa maksudmu?!" Bahkan tanpa sadar nada Jiwon meninggi.
"Hyungie, kami akan kembali ke London besok pagi. Kumohon hyung, jangan menanyakan alasannya."
"Aku butuh penjelasan di sini." Jiwon menatap semua orang satu persatu. Matanya tajam mengintimidasi.
"Kami punya rumah di sana. Itu alasan kami."
Jiwon kini menatap Jungkook. Raut wajahnya datar dan dingin.
"Kau bertemu Hoseok?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mom, boleh Jungho bertanya?"
"Tentu sayang."
"Kenapa kita cepat-cepat kembali ke London?"
Jungkook menghentikan aktivitas melipat baju kedalam kopernya-nya. Ia berdiri dan mendekati Jungho yang tengah duduk bersila di atas tempat tidur.
"Apa karena tadi siang Jungho hampir tertabrak mobil?"
Jungkook tersenyum.
"Kau benar sayang. Tidak seharusnya mommy membawamu ke Korea."
Jungho mengerjap bingung.
"Maafkan Mommy. Mommy janji, tidak akan memaksa Jungie untuk ke Korea lagi."
Jungkook menelan ludahnya berusaha meredam suaranya yang tercekat dan bergetar. Namun tampaknya Jungho telah lebih dulu menangkap suara bergetar ibunya.
"Jungie sudah bilang, Jungie tidak bisa melihat mommy menangis. Maafkan Jungie..." Jungho menghambur memeluk Jungkook. Ia menangis.
"Maafkan Jungie Mom..."
Dan Jungkook pada akhirnya membiarkan air matanya ikut mengalir. Ia mengeratkan pelukannya dan menciumi puncak kepala Jungho berulang kali.
.
.
.
.
.
Himchan memandang dua orang yang tengah berpelukan dalam tangis itu dengan miris. Air matanya mengalir dan Ia meremas pelan dadanya yang berdenyut sakit melihat dua orang yang begitu ia sayangi.
"Jung Hoseok, apa kau melihat betapa berharganya setiap airmata yang mereka keluarkan untukmu? Apa kau mendengar betapa mirisnya tangisan mereka untukmu? Aku masih berharap kau mencegah mereka besok pagi. Itu mustahil. Aku hanya berdoa dan berharap."
.
.
.
.
.
.
.
.tBc.
Langsung baca Chapter berikutnya aja ya~~ aku update dua sekaligus karena aku sadar jika chapt ini kependekan. Hehe...jadi biar gak kecewa, aku update juga chapter 6. ^^ siap-siap tissue ya buat chapter 6~~ *itupun kalo sukses bikin scene tangisannya-_-*
RnR Please~~ juseyo~~
Gamsha~
Rae#
