House of Cards
BTS
HopeKook
.
.
.
.
.
.
Rae Present
.
Tittle : House of Cards
Author : Rae
Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others
Rated : T, G, K
Cast : HopeKook [with Other's]
Length : Chaptered
Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.
Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...
TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^
.
.
.
.
.
Tiga bulan berlalu setelah Jungkook kembali dari Korea dengan tergesa-gesa waktu itu. Kini pasangan ibu dan anak itu sudah berada di London, di rumah mereka. Menjalani hidup seperti sebelumnya. Bedanya kali ini, baik Jungkook maupun Jungho, keduanya tidak pernah menyinggung 'pulang ke Korea' lagi seperti sebelum-sebelumnya.
"Mom, ayo ke rumah Shannon noona."
Jungkook meletakkan pancake terakhirnya yang baru saja matang ke atas piring dan membawanya ke meja makan. Ke tempat putranya menunggu.
"Shannon Noona sudah kembali dari German?"
Jungho mengangguk sementara tangannya mengambil garpu dan menusuk satu pancake di hadapannya.
"Baru saja. Aku melihat mobilnya di depan pagar rumahnya tadi. Dan Shannon noona menyapaku dari lantai dua. Ia bahkan menyuruh kita berkunjung."
Jungho mulai menggigit ujung pancake-nya, mengunyahnya dengan mata terpejam dan menelannya.
"Bagaimana mom? Apa kita akan berkunjung?"
Jungkook terlihat berfikir sebelum pada akhirnya mengangguk.
"Baiklah. Kita akan berkunjung setelah ini. Tapi hanya satu jam ya, tidak lebih."
"Yes Mom!"
Jungkook tertawa melihat pose hormat yang Jungho lakukan. Bocah itu mempelajari pose seperti itu dari Yongguk. Ngomong-ngomong soal Yongguk, ayahnya itu baru saja mengirimi Jungho paket berisi satu set perlengkapan kemiliteran anak-anak seminggu yang lalu.
"Mom, sedang melamun ya?"
Jungkook menggeleng mendengar pertanyaan Jungho.
"Tidak sayang. Mommy hanya sedang menertawakan pose konyol-mu itu."
Dan seketika Jungho mendengus mendengar tawa meledak dari bibir ibunya.
"Jadi, kapan kita akan berkunjung?"
Jungkook berhenti tertawa dan mulai berdiri dari duduknya, mengambil kotak bekal ukuran sedang dan memasukkan beberapa pancake nya kedalam kotak.
"Sekarang, jagoan."
"Yeah!"
Jungho bersorak dan menerima uluran kotak berisi pancake dari Jungkook. Mereka berdua lantas keluar rumah untuk pergi ke rumah yang tepat berada di depan rumah mereka. Bahkan pintu pagarnya saja saling berhadapan.
"Halo Shannon noona~~" Jungho bersorak saat pintu pagar di depannya di buka oleh gadis cantik berambut pirang.
"Halo Jungho. Halo juga Jungkook oppa." Gadis berambut pirang bernama Shannon itu membuka lebih lebar pintu pagar rumahnya. Mempersilahkan Jungho dan Jungkook untuk masuk ke dalam dan duduk di kursi santai di teras.
"Apa kabar Shannon? Bagaimana German dan bagaimana kuliahmu?"
Shannon tersenyum sambil menerima kotak bekal dari Jungho.
"Wow, thankyou Kid." Shannon mengacak rambut Jungho dan kembali menatap Jungkook.
"Kabarku baik oppa. German begitu menakjubkan. Dan seperti yang kau lihat, aku bisa kembali ke London karena kuliahku telah selesai dengan cukup baik."
"Hahaha...ya..I know, girl. Ngomong-ngomong, kau tidak kembali bersama paman dan bibi?"
Shannon sedikit mendengus mendengar pertanyaan Jungkook. Ia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.
"Yeah...they're .couple. And I hate it."
Jungkook dan Jungho sama-sama tertawa.
"Noona, kalau noona membenci mereka yang sibuk. Kenapa noona tidak menetap di german bersama mereka saja?"
Shannon mendelik ke arah Jungho.
"Hei Kid, noona lebih baik berada di sini dari pada berada di sana dengan keadaan yang sama meski satu atap." Shannon mendengus.
"Mereka bersamaku tapi rasanya seperti tidak bersamaku. Berangkat pagi pulang lewat tengah malam. Huft."
Jungkook tersenyum penuh pengertian.
"Mereka tetap orang tuamu. Jadi jangan pernah mengeluhkan apapun keadaan mereka karena mereka melakukannya hanya untukmu. Kau putri mereka satu-satunya."
"Benar noona. Setidaknya mereka masih bersama dan saling memberikan kasih sayang mereka pada noona. Setidaknya noona pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki orang tua yang hebat."
Jungkook mencelos mendengar perkataan Jungho. Terlebih saat ia melihat senyum dan mata penuh binar Jungho yang menatap Shannon. Ada rasa bersalah yang kembali menyerang Jungkook. Apa putranya ini baru saja menyinggung kehidupannya sendiri?
"Yeah Kid. Kau belajar dari mana kata-kata bijak seperti itu hm?"
Jungho dan Shannon tertawa.
"Shannon, kami harus kembali. Ini sudah sore. Jungho belum mandi."
"Yah Mom! Aku sudah mandi sebelum makan pancake tadi!"
Shannon dan Jungkook sama-sama tertawa sebelum akhirnya Shannon berdiri.
"Sebentar. Aku ada oleh-oleh untuk kalian."
Shannon berlari memasuki rumah dan keluar dengan sebuah paper bag sedang di tangannya. Ia memberikan paper bag itu pada Jungho.
"Kuharap kalian menyukainya."
Jungkook tersenyum dan menggandeng lengan Jungho untuk berdiri.
"Kami akan menyukainya, girl. Sampai nanti."
"Sampai nanti noona."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook menggenggam ponselnya cukup erat. Wajahnya telah basah oleh air mata. Jungho yang duduk di sampingnya hanya mampu menggenggam sebelah tangan ibunya yang berkeringat itu dengan erat.
"Kapan pemakamannya hyung?"
Suara Jungkook terdengar sangat lirih. Intonasi suaranya pun datar. Jelas sekali jika ia mencoba untuk kuat.
"Baiklah. Kami akan berangkat malam ini juga."
"..."
"Tolong tunggu sampai kami berada di sana Hyung. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya."
Telepon di tutup. Jungkook menjatuhkan ponselnya begitu saja. Membuat benda kotak pipih itu menghantam lantai dan casing belakang serta baterainya terlepas.
Jungkook mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dadanya naik turun menahan tangis dan airmatanya tak bisa berhenti.
"Mom...siapa yang meninggal?"
Jungkook menoleh menatap Jungho. Ia balas menggenggam tangan Jungho yang sedari tadi menggenggam tangannya.
"Kita siap-siap sekarang ya. Mom akan memesan tiket ke Korea sebentar. Jungie bawa apa saja yang Jungie perlukan ya."
Jungkook menatap Jungho dengan senyum miris.
Jungho tahu, kondisi nya tidak memungkinkan untuk bertanya. Jadi ia mengangguk dan berlari ke lantai dua. Mengemasi beberapa barang yang sekiranya ia perlukan untuk perjalanan dadakan ini.
Sepeninggal Jungho, Jungkook kembali mengambil ponselnya, membenahi kemudian menyalakannya. Ia menekan beberapa nomor untuk di hubunginya.
"Hallo. Can I get two tickets to Korea? Tonight, please."
"..."
"Yes. For Kim Jungkook."
"..."
"Ok. Thankyou."
Jungkook menghela nafas. Kembali membiarkan air matanya mengalir. Ia lantas mendekati potret keluarga besar Kim di atas perapian. Dan saat itu juga tubuhnya merosot ke lantai.
"Appa...hiks...appa..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook dan Jungho tiba di bandara internasional Korea tepat pukul empat pagi. Mereka di jemput oleh mertua Jiwon, orang tua Donghyuk.
"Jungkook, kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat nak."
Jungkook memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.
"Saya baik-baik saja paman. Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya."
Setelahnya mobil kembali di liputi keheningan. Jungkook menatap jendela mobil dengan kosong dan ia semakin merapatkan tubuh Jungho pada pelukannya.
Tak berapa lama, mobil ayah Donghyuk memasuki pagar utama mansion Kim yang di sekelilingnya telah di penuhi mobil-mobil. Mobil yang mereka tumpangi melaju pelan dan berhenti di depan pintu utama. Jungkook menatap teras rumahnya yang telah di penuhi banyak orang berpakaian serba hitam. Airmatanya kembali menetes seiring genggamannya di sela-sela jemari Jungho menguat.
Pintu mobil dibuka dari luar oleh Jiwon. Namja tampan itu memakai kemeja hitam dan jas hitam. Kedua mata namja itu sedikit membengkak. Dan jelas sekali jika namja itu tak jauh kacaunya dari Jungkook, namun ia masih sedikit bisa mengontrolnya.
"Kookie, ayo turun."
Suara Jiwon hampir seperti berbisik. Dan sedikit bergetar.
Jungkook memandang lurus kedepan dengan kosong. Membiarkan airmatanya terus mengalir.
"Hyung..."
Jiwon diam, menunggu adiknya meneruskan.
"Aku tidak bisa."
"Kookie..." Jiwon berjongkok dan menggenggam sebelah tangan Jungkook yang tidak di genggam Jungho.
"Hyung yakin kau bisa. Kau kuat sayang."
Jungkook menggeleng. Ia masih memandang lurus ke depan.
"Aku takut hyung. Aku takut."
Jiwon menunduk. Membiarkan setetes air matanya jatuh ke tanah. Ia kemudian menarik nafas dengan susah payah. Tenggorokannya tercekat karena menahan tangis.
"Ayo."
Jiwon berdiri dan sedikit menarik Jungkook untuk keluar dari mobil. Meski Jungkook masih memandang lurus ke depan, ia mengikuti ajakan Jiwon yang memintanya keluar mobil dan berdiri. Diikuti Jungho di sampingnya.
"Jungie, pegang tangan Mommy erat-erat ya."
Jungho mengangguk mengiyakan permintaan Jiwon.
Kemudian Jiwon berjalan perlahan dengan menggandeng Jungkook menuju pintu utama yang di dalamnya sudah sangat ramai orang berpakaian serba hitam. Disetiap langkahnya, Jungkook merasakan kakinya semakin melemas. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Jiwon dan juga Jungho.
Mereka berhenti sesaat setelah memasuki pintu utama. Berada di antara orang-orang berpakaian serba hitam yang sebagian besar menatap Jungkook dengan terkejut.
Jungkook merasa nafasnya dan juga detak jantungnya berhenti saat itu juga melihat sebuah peti mati di tengah-tengah ruangan. Dengan ibunya yang duduk di sebelah peti itu dan menatap kosong lantai dibawahnya.
BRUK.
Jungkook jatuh merosot ke lantai. Seluruh tubuhnya bergetar dan airmatanya semakin banyak yang mengalir.
"Appa.."
Ia memanggil dengan sangat lirih.
"Appa.."
Jungho ikut berjongkok dan memeluk Jungkook dari samping. Ia menangis. Kini ia tahu apa yang menyebabkan ibunya begitu kacau saat pamannya menelepon tadi malam. Jika ia tahu ini penyebabnya, mungkin ia juga akan ikut menangis sejak tadi, bersama ibunya.
"Appa..." Jungkook memanggil dengan suara yang sedikit lebih keras. Ia balas memeluk Jungho.
"Appa!" Jungkook berteriak dengan suara paraunya.
Dan ia merasakan kedua lengan kokoh milik seseorang melingkupi dirinya dan Jungho kedalam sebuah pelukan.
"Gwaenchana. Sshhh...gwaenchana Kookie. Gwaenchana."
Jungkook mengenal suara orang yang memeluknya. Dan hal itu semakin membuat ia menangis lebih keras. Tak terkendali.
"Mom...kumohon jangan menangis. Jungie mohon..."
Dan Jungkook justru tidak bisa menghentikan tangisannya.
"Appa mianhae...mianhae..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok mati-matian menahan air matanya saat ia menenangkan Taehyung yang menangis hebat di pelukannya. Yang bahkan membuat Hyunjin terbangun. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan kabar buruk Hoseok terima sesaat setelah ia pulang dari kantornya.
"Hoseok...ayah mertuamu...meninggal."
Begitulah sekiranya apa yang ibunya bilang. Awalnya Hoseok mengira yang dimaksud ibunya adalah ayah Taehyung meski nama ayah Jungkook juga sempat melintasi otaknya. Namun setelah ibunya meyebut nama Jungkook dan Jiwon, saat itulah Hoseok menyesal telah membiarkan nama 'itu' melintasi pikirannya sebelumnya.
"Tae, sudahlah. Berhenti menangis dan kita siap-siap kesana ya?"
Taehyung melepas pelukannya. Ia kemudian mentap Hyunjin.
"Hyunjin bagaimana? Kita pasti akan di sana sampai besok pagi. Apa kita akan meninggalkannya?"
Hoseok menggeleng. "Tidak. Kita akan mengajaknya. Nanti kau bisa meminjam kamar tamu disana jika Hyunjin tertidur. Aku yakin semua orang ada disana."
"Baiklah. Aku akan bersiap sebentar."
Sepeninggal Taehyung, Hoseok menghela nafas dan membiarkan airmatanya mengalir tanpa isakan. Secara tidak langsung, Hoseok merasa bersalah pada seseorang yang masih ia hormati sampai sekarang.
Pukul setengah dua pagi tepat, Hoseok beserta Taehyung dan Hyunjin sampai di mansion Kim. Sudah banyak mobil-mobil yang Hoseok yakini sebagian besar milik rekan kerja ayah mertuanya dan juga Jiwon. Hoseok turun dari mobil diikuti Taehyung yang menggendong Hyunjin yang tertidur. Mereka disambut oleh Jiwon yang berdiri di pintu utama.
"Hyung.."
Hoseok memeluk Jiwon cukup lama. Saling memberi semangat satu sama lain.
"Dimana Himchanie eomma?"
Jiwon menunjuk ke dalam rumah dengan tatapan matanya.
"Masuklah dan hiburlah eomma. Biar aku yang mengantar Taehyung ke kamar tamu untuk menidurkan Hyunjin."
Hoseok mengangguk dan melangkah memasuki rumah. Mendekati sosok namja cantik paruh baya yang duduk di dekat suaminya yang tertidur damai.
"Eomma..."
Namja cantik itu mendongak. Ia memaksakan sebuah senyuman pada Hoseok. Yang dibalas Hoseok dengan senyuman miris. Hoseok berjongkok di samping ibu mertuanya dan memeluknya.
"Kau datang Hosiki..."
Hoseok mengangguk dalam pelukannya.
"Yang kuat ya eomma..."
Hoseok merasakan kepala namja yang dipeluknya itu mengangguk.
"Terima kasih."
Hoseok melepas pelukannya. Ia kemudian duduk di samping Himchan. Menggengam jemari kecil ibu mertuanya. Hoseok memutuskan untuk duduk disana menemani Himchan.
"Jiwon-ssi, bisakah kita memandikan jenazahnya dan segera melangsungkan upacara pemakaman Tuan Kim?"
"Sebentar lagi ahjussi. Kalian bisa memandikannya, tapi kita harus menunggu Jungkook tiba dari London untuk memulai upacara pemakamannya. Mungkin kita harus menunggu hingga subuh karena Jungkook sedang dalam perjalanan."
Tubuh Hoseok menegang. Ia menoleh ke arah Jiwon yang tengah berbincang dengan seorang bapak-bapak di dekat mereka.
Apa tadi mereka baru saja mengatakan Jungkook akan berada disini?
"Hosiki..."
Hoseok terkesiap dan beralih menatap Himchan yang masih memandang kosong ke depan.
"Ne eomma?"
"Kau merindukan Jungkook kan?"
Hoseok diam. Dalam hati ia menjawab 'ya'. Hanya saja, ia terlalu gugup untuk sekedar mengangguk.
"Mereka akan berada disini. Jungkook dan putramu."
Hoseok kembali menegang. Jungkook dan putranya?
"Kau pasti terkejut. Tapi apa yang kau lihat tiga bulan yang lalu memang benar. Tentang Jungkook dan seorang anak kecil yang hampir kau tabrak."
Nafas Hoseok tercekat. Ia terkejut bukan main. Jadi apa yang ia lihat waktu itu benar?
"Kau bisa bertanya pada Jungkook nanti."
Kini Himchan menoleh dan tersenyum kearah Hoseok. Senyum tulus yang membuat Hoseok terdiam dengan hati bergemuruh.
"Eomma, izinkan aku ikut memandikan appa."
Himchan mengangguk. "Tentu sayang."
Jam menunjukkan pukul empat pagi. Semua persiapan untuk upacara pemakaman Kim Yongguk telah siap, hanya tinggal menunggu anak bungsunya tiba sebentar lagi. Hoseok berdiri di antara ayahnya dan ayah Taehyung, Jung Taekwoon dan Park Chanyeol. Sementara ibunya dan ibu Taehyung duduk di dekat Himchan, di dekat peti mati ayah mertuanya, Kim Yongguk.
Deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah terdengar. Hoseok menunggu dengan hati was-was. Ia tidak pernah berharap akan kembali bertemu Jungkook dalam situasi seperti ini.
Jiwon datang memasuki rumah dengan seorang namja manis dan anak kecil yang saling bergandengan. Hampir semua pasang mata menatap namja manis yang di gandeng Jiwon dengan terkejut. Begitu pula Hoseok. Hoseok bisa merasakan seluruh tubuhnya kaku saat matanya menatap sosok manis yang terlihat kacau itu.
"Jungkook..." Hoseok berbisik.
Ia ingin berlari memeluk Jungkook saat namja manis itu jatuh bersimpuh dilantai dengan air mata berderai.
"Appa!"
Cukup! Hoseok tidak tahan. Ia memutuskan untuk berjalan mendekati dua orang yang tengah berpelukan satu sama lain. Ia memeluk kedua sosok itu dengan tangan bergetar.
"Gwaenchana. Sshhh...gwaenchana Kookie. Gwaenchana."
Hoseok semakin mengeratkan pelukannya dan namja dewasa yang dipeluknya semakin menangis. Hoseok tidak peduli akan tatapan penuh tanya orang-orang disana, ia hanya ingin merengkuh sosok yang terlihat begitu rapuh itu.
"Mom...kumohon jangan menangis. Jungie mohon..."
Hoseok tersentak. Jantungnya seperti diremas kuat hingga air mata yang sedari tadi ia tahan mengalir begitu saja. Anak kecil di pelukan Jungkook baru saja memanggil Jungkook dengan sebutan 'Mom' ? Jadi anak ini benar...
"Mianhae appa...mianhae..."
Hoseok semakin mengeratkan pelukannya.
"Kookie gwaenchana...ini bukan salahmu. Menangislah sepuasmu...ini salahku...hiks...gwaencahana..."
Semua pasang mata menatap ketiganya dengan air mata berurai. Bahkan Jiwon memilih menatap langit-langit untuk menyembunyikan airmatanya. Dan Himchan menangis di pelukan Hakyeon, ibu Hoseok.
"Hoseok hyung..."
Dan Jungkook kehilangan kesadarannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook meronta dalam pelukan Jiwon. Wajahnya kacau penuh airmata. Suaranya serak karena terus menangis dan berteriak sedari tadi.
"Appa! Andwae!"
"Kookie sudahlah. Biarkan appa tenang sayang."
"Jangan! Jangan bawa appa kesana! Kumohon! Hyung hentikan mereka! Hentikan Hyung!"
Jungkook merosot ke tanah. Ia kacau. Ia hancur. Ayah yang sangat dibanggakannya, pergi secepat ini tanpa ia dan keluarganya kira. Serangan jantung tiba-tiba, begitulah sekiranya yang Jungkook dengar dari ayah Donghyuk di perjalanan. Seminggu yang lalu, Jungkook masih bisa melihat tulisan tangan ayahnya yang rapi di surat di dalam paket yang beliau kirimkan untuk Jungho. Kemarin Jungkook bahkan masih mendengar suara berat ayahnya di telepon. Bahkan tawa khasnya. Tapi sekarang? Pria tampan yang dielu-elukannya pergi meninggalkannya. Tanpa Jungkook sempat meminta maaf karena meninggalkannya begitu lama. Tiga bulan yang lalu mereka bahkan masih bertemu dan saling melempar senyum.
"Hyung...hentikan mereka. Kumohon hyung..."
Jungkook meminta pada Jiwon dengan suara lemah. Diantara semua orang yang melayat, hampir semuanya menitihkan air mata melihat Jungkook. Anak bungsu keluarga Kim itu terlihat hancur melebihi ibunya sendiri. Bahkan Himchan sudah tidak menitihkan air mata semenjak Hoseok datang tadi malam.
Tentang Hoseok...namja tampan itu membantu beberapa orang untuk memasukkan peti mati ayah mertuanya ke dalam tanah. Menggantikan Jiwon atas permintaan Jiwon. Karena hanya Jiwon yang mampu menangani Jungkook saat ini.
"Hyung! Hentikan mereka!"
"Jungkook!"
Jiwon membentak. Ia mengeratkan pelukannya pada Jungkook.
"Dengarkan hyung. Hentikan tangisanmu! Jika terus menangis, appa akan semakin berat menuju kesana! Hentikan sekarang juga!"
Bibir Jungkook terkatup. Meski ia masih sesenggukan, ia berusaha meredam tangisnya. Ia bersandar dengan pasrah pada dada Jiwon. Memandang peti mati ayahnya yang diturunkan ke dalam tanah. Jungkook semakin mencengkeram lengan Jiwon yang memeluknya dengan erat. Air matanya masih mengalir tanpa isakan.
"Hyung, dimana Jungho?"
"Ia bersama anak Hoseok dengan Taehyung, Hyunjin."
Jungkook mengikuti arah jari telunjuk Jiwon yang menunjuk dua orang namja cilik beda tinggi badan yang berdiri dengan foto Yongguk di masing-masing tangannya, di kanan-kiri Hyemi yang menggenggam erat karangan bunga untuk kakeknya.
"Apa Hoseok hyung tahu?"
"Ia bertanya padaku tadi, tapi aku memintanya untuk bertanya sendiri kepadamu. Karena kau yang lebih tahu."
Hening. Jungkook memandang miris kearah peti ayahnya yang sudah berada di dalam tanah dan perlahan di tutupi tanah hingga tertutup sepenuhnya.
"Ayo kita beri penghormatan terakhir pada appa hyung."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok menatap sosok di hadapannya dengan dalam. Sorot matanya bercampur antara rindu, kecewa, dan menyesal. Hoseok mengalihkan pandangannya menjadi menatap jari jemarinya yang saling bertautan di atas meja.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada yang terjadi." Suara lembut itu terdengar dingin. Dan Hoseok cukup sadar untuk alasan apa nada dingin itu keluar.
"Apa kau baik-baik saja?"
Sosok dihadapan Hoseok mengangguk.
"Bisakah kau menjelaskannya padaku?"
"Penjelasan apa? Tidak ada yang perlu di jelaskan disini."
Hoseok menghela nafas. Ia kemudian meraih tangan lain yang berada di atas meja di seberangnya. Menggenggamnya lembut.
"Jungkook-ah.." Hoseok memanggil. Sosok dihadapannya yang ia panggil Jungkook itu masih diam. Tak berniat menjawab panggilan Hoseok.
"Dia putraku?"
Jungkook mendongak dengan tiba-tiba. Sorot panik bercampur takut terpancar dari matanya.
"Si-siapa?" suara Jungkook bergetar karena gugup.
Hoseok menerawang ke belakang Jungkook. Ke arah anak kecil yang tengah berdiri dibelakang Jungkook. Memandang polos padanya.
"Anak itu. Siapa ayahnya? Dia putraku kan?"
Jungkook menghempaskan tangan Hoseok dari tangannya. Ia mengepalkan tangannya pelan-pelan.
"Tidak! Dia anakku. Hanya anakku."
Hoseok tersenyum miris. "Ayahnya?"
Jungkook berdiri dari duduknya. Terkejut menatap Jungho yang ternyata telah berada di belakangnya. Memandang penuh tanya padanya.
"Ku-kurasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Aku akan pergi."
Hoseok tidak menahan Jungkook. Ia hanya memandang miris Jungkook yang dengan tergesa menarik anak itu menjauh darinya. Anak kecil itu menoleh kebelakang, menatap Hoseok dengan mata beningnya. Mengukir sebuah senyuman dibibir Hoseok. Entah mengapa, hati Hoseok menghangat melihat sosok kecil itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mom...itu tadi, Daddy ya?"
"Bukan Jungho! Dia bukan ayahmu!"
Tanpa sadar Jungkook membentak Jungho. Membuat bocah itu diam dan memandang ibunya takut. Jungkook mengacak rambutnya frustasi dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Menangis.
"Mom-"
"Diam!"
Jungho tersentak. Ia mundur selangkah dengan memandang Jungkook takut. Kedua tangannya saling bertautan dan matanya mulai berarir.
"Mom..."
"Keluar!"
Jungho semakin melangkah mundur hingga menabrak pintu. Air matanya mengalir.
"Mom..."
"Kubilang keluar!"
Jungho berbalik dan membuka pintu kamar ibunya pelan. Keluar kamar. Ia melangkah menuju ruang tengah dengan seluruh tubuh bergetar ketakutan.
Bruk.
Jungho berjongkok di lantai saat ia sampai di ruang tengah yang masih ada beberapa orang yang tengah berbincang. Diantaranya Jiwon dan Hoseok.
"Hiks..."
Satu isakan Jungho membuat tiga orang yang tengah berbincang itu menoleh. Terkejut melihat keadaannya.
"Jungho?" Jiwon berdiri dan mendekati Jungho. Menyentuh bahu anak itu pelan. Dan Jungho langsung terduduk saat Jiwon menyentuh bahunya.
"Hiks...hiks..hiks.."
Jiwon di buat bingung dengan tangisan Jungho.
"Jungho ada apa?"
"Hiks...paman, mommy...hiks..." Jungho tidak meneruskan kata-katanya. Ia menangis dengan keras dan memandang Jiwon dengan terluka.
"Hei..."
Jiwon terkejut saat ia melihat Hoseok berada di hadapannya dan membawa Jungho dalam gendongannya. Namja tampan itu menepuk pelan punggung Jungho.
"Sshhh...berhenti menangis ya. Sshh."
Jungho bukannya diam, ia malah memeluk leher Hoseok kuat dan menangis disana.
"Wae? Kenapa menangis hm? Mommy kenapa?"
Jungho mengeratkan pelukannya. "Mommy...hiks...memarahi Jungie..."
Hoseok menatap Jiwon penuh tanya. Namun namja dihadapannya itu mengangkat bahu tanda tidak tahu.
"Kenapa mommy memarahi Jungie hm?"
"Mommy marah karena Jungie bertanya apa paman Daddy-nya Jungie. Hiks...mianhae mom..."
Hoseok menghela nafas berat. "Kenapa Jungie bertanya seperti itu?"
"Karena paman mirip dengan Daddy-nya Jungie. Sangat."
Hoseok kembali menghela nafas. Ia lantas mengecup sayang pucuk kepala bocah di gendongannya itu. Diam-diam Hoseok menahan air matanya.
"Jungho!"
Hoseok menoleh dan mendapati Jungkook yang memandangnya marah. Namja manis itu berjalan cepat menghampiri Hoseok dan menarik Jungho dari gendongannya.
"Jangan menyentuhnya!" Jungkook menarik Jungho kembali ke kamar.
Namun Hoseok dengan cekatan menahan lengan Jungho yang mau tidak mau membuat Jungkook berhenti. Ia menoleh dan menatap Hoseok marah.
"Kubilang jangan menyentuhya Jung Hoseok!" Jungkook membentak marah.
"Sadarkah kau baru saja membuatnya ketakutan?" nada bicara Hoseok datar. Ia sebenarnya kesal dengan perlakuan Jungkook pada Jungho.
"Ya! Aku sadar!"
"Apa kau bodoh? Bagaimana bisa kau memarahinya yang hanya bertanya hal sederhana padamu?"
"Dia anakku dan aku berhak melakukan apapun padanya." Jungkook mendesis dan kembali menarik Jungho untuk berada di belakang tubuhnya.
"Jadi berhentilah mencampuri urusanku Tuan Jung yang terhormat." Jungkook memberikan penekanan pada setiap kata-katanya.
"Kim Jungkook!"
"Jangan sebut namaku!"
"Wae?! Katakan saja jika dia juga anakku Jungkook!"
"Tidak! Dia bukan anakmu!"
Tangan Hoseok terkepal. Ia menahan semua amarahnya untuk tidak menyakiti namja manis dihadapannya.
"Lalu, siapa ayahnya? Kenapa kau tidak mengatakan padaku siapa ayahnya?!"
"Dia tidak punya ayah! Puas?!"
Jleb. Jungkook merasakan hatinya tertancap pisau saat ia mengucapkan kalimat terakhirnya. 'Tidak, Jungho punya ayah. Kau ayahnya.' Inginnya Jungkook berkata demikian, tapi rasa sakit yang di pendamnya tujuh tahun menutup semua rasa cintanya. Ia marah. Kecewa.
"Mom...Jungho punya ayah. Mommy bilang Jungho punya ayah. Momyy bohong ya?"
Jungkook menoleh dan menatap Jungho. Ia terkejut melihat wajah tampan nan manis itu berurai air mata dan matanya menatap kecewa. Jungkook baru sadar jika ia melukai hati putranya.
"Mommy bohong ya? Jadi Jungie tidak punya daddy?"
Jungkook inginnya menggeleng kuat. Tapi ia tidak bisa untuk menggerakan sedikit saja bagian tubuhnya. Tatapan terluka dan kecewa Jungho membekukan seluruh saraf dan tulang-tulangnya.
"Mom jawab...hiks..."
'Kau punya ayah sayang. Kau punya ayah.'
"Mom!"
Jungho berteriak frustasi. Ia memandang Jungkook dan Hoseok bergantian. Dan ia menatap dalam mata Hoseok. Kemudian menatap mata Jungkook tak kalah dalamnya.
"Mom, Jungie benci mommy."
Setelahnya Jungho berjalan meninggalkan Jungkook dan memasuki kamarnya. Ia berjalan cepat dengan air mata yang semakin deras mengalir. Ia kecewa.
"Jungho!"
.
.
.
.
.
.
.
.tBc.
Hola~~~~ saya apdet dua sekaligus ini~` semoga aja kalian gak kecewa ya^^ btw, ada yang nangis nggak pas baca scene Yongguk meninggal? Yah...saya menangis bombay pas ngetiknya, Yongguk bias bruhh~~ dan saya dengan tega matiin(?) dia, mana munculnya cuman dikit pula -_-
Saya gak bisa bales review satu-satu (lagi), ^^ tapi ada beberapa pertanyaan yang akan saya jawab.
Q : Vhope/HopeV mau cerai?
A : entahlah~ jawaban ttg ini akan ada di Chapter 10^^
Q : Penasaran sama flashbacknya HopeKook
A : Flashbacknya akan mampir di Chapter 7 ya^^
Q : Aku masih ga paham sama HopeV-nya
A : HopeV akan lebih jelas di chapter 9, tunggu ya^^
Q : Hyunjin anak siapa? Kenapa marga Jung diganti Kim?
A : Nah, ini juga akan ada di chapter 8, dan lebih jelas lagi di Chapter 9 ^^
Q : Sebenarnya Hoseok sama Tae nikah ato gimana sih?
A : Tentu mereka nikah readers-deul~~ hanya saja posisi-nya Jungkook masih istri sah-nya Hoseok. Yah...dengan kata lain, Taehyung istri kedua, tapi karena Jungkook menghilang, orang-orang nganggap dia sbg istri pertama Hoseok. Paham gak? Paham aja ya ^^
Q : Anaknya Taehyung bukan anaknya Hoseok kan thor?
A : silahkan ditunggu Chapter 9 ya ^^
Q : Kenapa Hyunjin marganya jadi Kim? Trus si Tae manggilnya Jung Hyunjin. Yang bener yang mana?
A : Dua-dua nya bener kok^^ ada nanti di chapter 8, 9, ^^
Oke...itu tadi beberapa pertanyaan yang sudah saya jawab. Sudah lumayan jelas belum readers-deul? Jelas"in aja ya^^. Tetep tunggu chapter selanjutnya ya^^ thanks buat review dan pertanyaan" kalian.
Oh ya satu lagi, saya mau nanya ini Kalian bayangin Hoseok pas jaman apa? Dijawab ya readers-deul^^ dan jangan sungkan buat coret-coret kotak ripiuw lagi.
See you next chapter~~
RnR please~~ juseyo~~
Gamsha~
Rae#
