House of Cards
BTS
HopeKook
.
.
.
.
.
.
Rae Present
.
Tittle : House of Cards
Author : Rae
Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others
Rated : T, G, K
Cast : HopeKook [with Other's]
Length : Chaptered
Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.
Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...
TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^
.
.
.
.
"Bisa kau panggilkan Jungkook kesini?!"
"Katakan dulu padaku apa yang terjadi dan aku akan memanggilnya!"
"Kubilang bawa dia kesini Hoseok!"
Pukul sepuluh malam dan mansion Jung dipenuhi teriakan dan bentakan keras dari dua orang namja dewasa beda rupa. Namja yang lebih muda terlihat meahan marah menatap namja yang lebih tua yang berstatus ayahnya.
"Jung Hoseok!"
"Appa! Aku akan membawa Jungkook kesini setelah appa mengatakan semua yang terjadi!" Hoseok menggeram marah. Tangannya terkepal kuat disisi tubuhnya.
"Oh! Jadi kau ingin tahu alasannya?! Baiklah." Tuan Jung terlihat menghela nafas kasar sebelum menatap Hoseok dengan sengit.
"Dengar, Jung Hoseok. Istrimu tercinta itu telah membohongimu."
Dahi Hoseok mengernyit. "Maksud appa?"
"Dasar bodoh! Jungkook hanya memanfaatkan keluarga kita untuk ayahnya! Dia tidak tulus mencintaimu!"
Hoseok terkejut. Pernikahannya dengan Jungkook baru dua bulan, tapi ayahnya sudah menuduh Jungkook sembarangan. Ia tahu, dari semua anggota keluarganya, hanya ayah-nya lah yang dengan terang-terangan tidak menyukai Jungkook.
"Kupikir aku akan percaya?" hoseok menaikkan sebelah alisnya, menantang.
Tuan Jung mendengus kemudian merampas ponsel yang sedari tadi dipegang oleh Nyonya Jung yang hanya menunduk.
"Lihat baik-baik gambar ini bocah!"
Hoseok menerima ponsel yang disodorkan ayahnya. Matanya menyipit menatap sebuah foto yang tampak buram di layar ponsel ayahnya. Sepersekian detik kemudian, matanya melebar dengan nafas tercekat.
"Ti-tidak mungkin..."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kim Jungkook!"
Jungkook menoleh kearah pintu kamarnya yang dibuka secara paksa. Menampilkan Hoseok yang terlihat sangat kacau.
"Hyung sudah pulang? Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu hyung."
Sapaan ramah dan senyum cerah Jungkook dibalas oleh tarikan kuat Hoseok pada lengannya.
PLAK.
Jungkook menganga. Apa Hoseok baru saja menamparnya?
"Hyung..."
"Katakan padaku siapa laki-laki itu! Katakan!"
Jungkook menatap Hoseok bingung. Sedang yang ditatap terlihat begitu marah.
"Apa maksudmu hyung? Laki-laki siapa?"
Hoseok mendengus. "Kau tidak perlu bersandiwara lagi, Kim Jungkook."
"Sungguh! Aku tidak mengerti maksdumu hyung." Jungkook masih menatap Hoseok bingung.
Hoseok melangkah mendekati cermin sedang disebelah lemari pakaian. Ia menatap benci pantulan dirinya dan Jungkook disana.
PRANG.
Sedetik kemudian, cermin itu retak dan beberapa bagiannya pecah berkeping-keping.
"Hyung!" Jungkook berlari mendekati Hoseok dan membalik tubuh tegap yang sekarang jauh lebih kacau itu.
"Apa yang kau lakukan hyung?! Kau menyakiti dirimu sendiri!"
Hoseok menatap nanar tangan berlumuran darah yang digenggam Jungkook erat. Tangannya.
"Apa pedulimu jika aku menyakiti diriku sendiri. Sementara kau dengan teganya merusak semua cinta yang tulus kuberikan untukmu."
"Hyung apa yang kau bicarakan?"
"Katakan padaku, siapa laki-laki yang kau temui tadi siang. Bersama seorang anak perempuan. Siapa?!"
Mata Jungkook membola. "Aku tidak menemui siapapun hyung."
"Bohong!" Hoseok merogoh sakunya dan mengambil ponsel milik ayahnya disana. Menunjukkan pada Jungkook gambar yang sama dengan yang dilihatnya beberapa saat yang lalu.
"Siapa dia?"
Jungkook menggeleng. Gambar itu bukan dirinya. Dirinya tidak pernah berciuman dengan laki-laki di dalam foto itu. Apalagi dengan seorang anak perempuan yang di gendongnya.
"Dia anakmu? Dengan laki-laki itu?"
Jungkook menangkap nada kecewa dan terluka dari bibir Hoseok.
"Tidak hyung. Semua ini salah paham. Aku tidak mengenal siapa mereka."
Hoseok mendengus. "Berhentilah menyakitiku Kim Jungkook."
Jungkook meraih tangan Hoseok. Menatap memohon pada namja yang berstatus suaminya itu.
"Hyung kau percaya padaku kan?"
"Aku percaya padamu, tapi sayangnya kau sendiri membuat kepercayaanku hilang."
"Hyung!"
Hoseok menghempaskan tangan Jungkook dan mendorongnya. Tubuh Jungkook sukses mendarat di atas dinginnya lantai kamar.
"Akh.." Jungkook sedikit meringis dan refleks lengannya meraba abdomen bawahnya. Tanpa Hoseok sadari.
"Pergi dari hadapanku sekarang juga."
Air mata Jungkook lolos begitu saja saat kalimat itu terlontar dari bibir namja tampan yang sangat ia hormati.
"Hyung...apa maksudmu?" Jungkook meremas abdomen bawahnya yang terasa sedikit ngilu.
"Keluar dari rumah ini. Mulai saat ini juga, kau bukan lagi bagian dari keluarga Jung. Aku akan menceraikanmu. Secepatnya."
Jungkook menatap Hoseok tidak percaya. Pandangannya mengabur karena air mata. Pernikahan mereka baru dua bulan. Apakah harus berakhir secepat ini? Setragis ini? Ini mungkin hanya kesalah-pahaman. Kenapa Hoseok tidak ingin mendengar penjelasannya? Ia tahu ayah mertuanya tidak menyukainya. Tapi haruskah seperti ini? Menjelek-jelekan Jungkook dimata semua orang? Harus ya?
Jungkook menghapus airmatanya. Ia berdiri dan berjalan sedikit tertatih menuju almari pakaian. Ia mengemas beberapa keperluannya kedalam tasnya. Masih dengan air mata berurai. Jungkook membuka laci dan meraih sebuah benda dari sana. Menggenggamnya kuat sebelum memasukkannya dalam tas.
"Baiklah. Aku akan pergi karena aku mencintaimu hyung. Dan mungkin, kau sebaiknya memang tidak usah tahu. Jangan mencariku, aku tidak akan kembali. Maaf melukaimu hyung."
Jungkook memandang nanar Hoseok yang bahkan tidak memandangnya sama sekali. Cukup. Ia terluka. Sangat.
.
.
.
.
KLAP.
.
.
Jungkook bangun terduduk diatas tempat tidurnya. Wajahnya basah oleh air mata. Nafasnya tersenggal.
"Kejadian itu..."
Jungkook memejamkan matanya. Refleks lengannya mengusap abdomen bawahnya. Dan ia tersentak. Jungho!
Jungkook menoleh kesamping kanannya. Ia mendapati malaikat kecilnya tidur bergelung membelakanginya. Kedalam pelukan seseorang.
Tunggu!
"Hoseok hyung?" Jungkook memandang sosok disamping Jungho tidak percaya.
Jungkook memejamkan matanya. Mencoba mengingat hal apa yang menyebabkan—ehem—suaminya—ehem—itu tidur dikamar mereka. Diranjang yang sama. Saling berpelukan dengan putranya.
Jungho menangis tidak mau bertemu dengannya. Anak itu terus berucap jika ia membenci ibunya. Hanya itu yang Jungkook ingat.
"Terbangun?"
Jungkook buru-buru membuka matanya saat suara serak khas bangun tidur itu menyapa indera pendengarannya. Ia menatap kedepan dengan gugup.
"Kau menangis?"
Jungkook meraba wajahnya yang masih sedikit basah. Ia mengumpat dalam hati.
"Ti-tidak." Bahkan suaranya saja terdengar begitu gugup.
Pergerakan diranjang sebelah Jungkook membuat Jungkook sedikit melirik putranya. Takut jika anak itu terbangun.
"Maafkan aku."
Jungkook diam tak bergeming. Memilih mendengarkan apa yang akan dikatakan sosok tampan yang—masih dicintai—dibencinya itu.
"Berapa usianya? Kelihatannya ia seumuran dengan Hyunjin."
Namja itu menatap miris foto pernikahan yang bertengger manis di dinding dihadapannya.
"Namanya Jungho ya. Apa marganya?"
Jungkook masih diam.
"Tidak apa-apa jika kau tak ingin menjawab pertanyaanku. Hanya saja, tolong turuti apa yang kukatakan ini."
Namja itu menggela nafas. Ia masih memandang lurus kedepan.
"Jika kau tidak ingin dia tahu jika aku memang ayahnya, tidak apa-apa. Tapi tolong, jangan kau bentak dan marahi dia seperti tadi. Jungho masih kecil. Ia tidak seharusnya berada diantara ini semua. Harusnya ia berada ditengah keluarga yang begitu harmonis, tidak diantara keluarga yang bahkan tidak ia ketahui dengan jelas."
Jungkook menggigit bibirnya. Ia tahu tangisannya akan segera tumpah.
"Kookie..."
Cukup. Biarkan Jungkook menangis sekarang.
"Maafkan aku. Aku tidak berada disampingmu saat kau berada dalam masa sulitmu."
Jungkook meraih dada kirinya dan meremasnya pelan. Ia menunduk, tidak ingin namja tampan disampingnya melihat air matanya.
"Maafkan aku."
"Hyung..."
"Hm?"
"Kau tahu aku terluka."
"Ya. Aku tahu. Sangat tahu. Oleh karena itu aku tidak memintamu untuk memaafkanku sekarang juga. Aku bahagia memiliki kalian, meski hanya melihat kalian dari jauh."
.
.
.
.
"Hyunjin bukan putraku."
.
.
.
.
.
.
.
Suasana ruang makan keluarga Kim tampak begitu sunyi. Manusia penghuninya tampak khidmat menikmati hidangan yang tersaji di depan masing-masing.
"Ehm...Apa tidur kalian nyenyak semalam?"
Hening seketika. Pertanyaan Himchan barusan menghentikan seluruh aktifitas disana.
"Jungkook-ah, Hoseok-ah, eomma bertanya pada kalian berdua."
"Uhuk!"
Jungkook tersedak ludahnya sendiri. Ia buru-buru mengambil air minumnya.
"Ya. Tidur kami nyenyak eomma."
"Uhuk!" Jungkook tersedak (lagi). Kali ini karena air minumnya dan perkataan namja tampan diseberangnya.
Sekedar informasi, satu-satu nya namja dewasa bermarga 'Jung' masih ada disana sejak semalam. Ah, kemarin malam lebih tepatnya.
"Halmeoni, Jungie boleh main keluar sama Paman Hoseok?"
"Tidak."
Himchan, bahkan Jiwon dan Donghyuk, tertegun mendengar nada datar dan dingin Jungkook. Jungkook tidak pernah seperti ini sebelumnya. Yah, pengecualian kemarin sore. Saat ia bertengkar dengan Hoseok dihadapan Jungho.
"Mommy tidak usah mencampuri kehidupan Jungho lagi. Bukankah Jungho tidak ada artinya bagi mommy? Mommy bahkan tega membohongi Jungho."
Suara Jungho terdengar lelah dan begitu kecewa. Mengundang tatapan miris dari namja tampan disebelahnya, Hoseok.
"Kim Jungho."
"Margaku Jung, mom. Jangan menggantinya seenaknya."
"Baiklah. Mulai sekarang, tidak ada lagi 'Jung' dalam namamu. Margamu Kim mulai hari ini."
SRET.
Jungho bangkit dari duduknya. Memandang tajam orang yang paling ia hormati. Orang paling ia sayangi dan orang paling berharga baginya.
"Terserah. Jungho tidak peduli. Toh Jungho juga tidak punya ayah kan ? Jadi seharusnya Jungho juga tidak punya mommy. Jadi buat apa Jungho disini jika orang tua saja tidak punya."
"Jungho. Jaga ucapanmu!"
"Wae? Kau siapa? Kau tidak berhak mengatur hidupku seperti ini, Bibi."
"Jungho!"
"Jungkook!"
Hoseok bangkit dari duduknya dan menyeret Jungkook keluar rumah. ia sudah cukup menahan amarahnya sejak kemarin. Dan ia sangat marah sekarang. Terbukti dari cengkeramannya pada lengan Jungkook yang sangat kuat.
"Lepaskan aku!"
"Aku akan lepaskan setelah kau menjauh dari anakku."
"Dia bukan anakmu Jung Hoseok!"
"Terserah."
"Jung Hoseok!"
Oke. Hoseok melepaskanmu, Kim Jungkook.
"Katakan apa maumu padaku."
Hoseok memandang Jungkook jengah. Dan Jungkook mendengus.
"Anak itu sudah kurang ajar padaku. Kau pikir aku akan melakukan apa hm?"
"jangan sekali-kali kau memukul atau apapun itu yang akan menyakitinya. Dia masih dibawah umur."
"Apa pedulimu?"
"Dia anakku."
"Tidak ada yang mengatakannya."
"Himchan eomma mengatakannya padaku."
Jungkook menatap tajam Hoseok. Jadi, namja dihadapannya ini sudah tahu jika Jungho anaknya?
"Baguslah."
"Aku tidak akan mengakuinya jika kau sendiri belum mengatakan padaku apa yang terjadi sebenarnya."
Jungkook menghela nafas. Ia memandang Hoseok sendu. Membuat Hoseok sedikit terkejut. Jungkook berbeda.
"Kau ingin aku menjelaskannya? Kenapa kau tidak ingin mendengarkanku waktu itu? Aku hamil anakmu saat kau mengusirku!"
Hoseok terkejut. Sangat sangat terkejut! Jungkook mengatakannya dengan sebuah bentakan frustasi diiringi lelehan air mata. Jungkook terlihat begitu rapuh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua bulan berlalu semenjak kejadian dimana Hoseok dan Jungkook bertengkar hebat tentang siapa Jungho dalam hidup Hoseok. Tentu jawabannya sudah diketahui. Itu jika Hoseok percaya pada apa yang Jungkook dan ibu mertuanya katakan. Hanya saja, Hoseok tetap pada prinsipnya. Ia akan percaya jika Jungkook mengatakan sendiri kepadanya bahwa Jungho adalah anaknya. Lalu, bukankah waktu itu Jungkook sudah mengatakannya? Belum. Jungkook belum mengatakannya. Ia hanya mengatakan perihal kehamilannya pada Hoseok. Hanya sebatas itu, tidak lebih.
"Mom~~ seragamnya Jungie mana~~"
Dan Jungho sudah berbaikan dengan Jungkook. Setelah Jungkook berlutut dihadapan putra tampannya itu dengan air mata berurai. Meminta maaf berkali-kali hingga namja cilik itu menghambur memeluknya dan menangis disana. Saling mengucap maaf.
"Ada di atas tempat tidur sayang~~"
Dan Jungkook memutuskan untuk pindah ke Korea. Ia memutuskan menemani Himchan disana setelah ayahnya meninggal dua bulan yang lalu. Tentu saja hal ini disambut suka cita oleh keluarga Kim disana.
Dan ngomong-ngomong...
"Mom nanti Jungie barengan sama Hyemi noona ya~"
"Ne~~"
Jungho akan bersekolah ditempat yang sama dengan Hyemi dan Hyunjin, putra Hoseok dengan Taehyung. Ya, Jungkook tahu mereka punya seorang putra. Namun satu hal yang Jungkook pikirkan, apa maksud perkataan Hoseok waktu itu? Tentang "Hyunjin bukan putraku". Jangan kira Jungkook melupakannya.
Ngomong-ngomong soal Hoseok...namja itu memperhatikan Jungho dengan baik, hanya saja semuanya harus melewati filter Jungkook. Dan Jungkook benar-benar melarang namja itu untuk menemui Jungho sampai sekarang. Dan Hoseok menurut saja. Membuat siapa saja akan heran dan berfikir. Sudah jelas kebenarannya, kenapa masih ditutupi? Ingat jika Hoseok masih memegang teguh prinsipnya.
Jungkook acuh akan hal itu. Ia masih menyembunyikan fakta jika Jungho darah daging seorang Jung Hoseok. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Yah...hanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Annyeonghaseo, Jung Ho imnida. Aku pindahan dari London, senang bertemu dengan kalian. Dan mohon bantuannya ya~"
Jungho membungkuk sopan dihadapan sekitar dua puluh wajah asing yang baru di temuinya sekarang. Ia memakai seragam yang sama dengan mereka semua.
"Jungie, siapa ayah dan ibumu? Mereka pasti sangat tampan dan cantik, karena kau begitu tampan~~" seorang anak perempuan berambut ekor kuda yang duduk paling depan bertanya. Matanya penuh harap dan rona tipis menjalar dikedua pipi putihnya.
"Ibuku sangat cantik, juga manis. Namanya Jungkook, Kim Jungkook." Jungho tersenyum sendiri membayangkan wajah manis ibunya yang tengah tersenyum.
"Woahh~~ kuharap aku bisa bertemu dengan wanita cantik yang melahirkanmu Jungie~~"
Jungho tersenyum tipis dan menggeleng. "Kau salah. Ibuku namja, bukan perempuan seperti yang kau katakan tadi."
Mendadak kelas terasa hening dan terdengar sedikit desas-desus suara yang Jungho sudah kebal mendengarnya. Orang-orang pasti tengah bertanya kenapa ibunya laki-laki. Dan kenapa laki-laki bisa melahirkan. Jungho sudah pernah mengalami hal yang sama saat ia pertama kali masuk sekolah di London, jadi hal seperti ini bukanlah perkara yang berarti.
"A-ah...jadi, Bibi Kim laki-laki ya...ah maafkan aku Jungie. Aku tidak tahu."
Jungho menggeleng dan kembali tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku sudah pernah mengalami hal seperti ini kok saat aku masih di London."
"Jungho!"
Jungho mengalihkan pandangannya pada seorang anak laki-laki yang tingginya mungkin tidak jauh beda darinya, tengah mengangkat tangannya keudara. Anak itu duduk di bangku paling belakang, lurus kebelakang dari bangku anak perempuan ekor kuda tadi.
"Ya?"
"Dari tadi kau membicarakan ibumu saja. Siapa ayahmu?"
Jungho terkesiap. Jujur saja, ia belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan satu ini. Ibunya juga tidak lagi menyinggung ayahnya setelah mereka menetap di Korea.
"Ayahku..."
Hening. Semua menanti lanjutan dari Jungho. Jungho sendiri sudah bergetar gugup. Telapak tangannya basah oleh keringat dan matanya berpendar mengelilingi ruangan. Memikirkan jawaban apa yang sekiranya pas.
"Ayahku..."
"Kau tidak punya ayah ya? Atau jangan-jangan, ibumu yang laki-laki itu sebenarnya adalah ayahmu dan kau anaknya dengan perempuan lain. Karena ibumu seperti perempuan, jadi ia mengenalkan dirinya sebagai ibu padamu. Begitukah? Hahahaha..."
Tawa cempreng anak itu memenuhi seisi penjuru kelas. Membuat amarah Jungho naik perlahan-lahan menuju ubun-ubunnya yang mendidih. Ia tidak suka jika ada yang menghina keluarganya. Apalagi ibunya.
"Aku punya ayah. Namanya Jung Hoseok."
Diam. Anak laki-laki itu diam. Memandang Jungho seolah meremehkan. Dan tawanya kembali meledak. Kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya.
"Hahahaha? Apa katamu? Jung Hoseok? Yang benar saja heh!"
Jungho memandang anak itu tajam. Oke, Jungho tidak akan menyukai anak itu. Kesan pertamanya sungguh tidak baik.
"Jung Hyunjin."
Diam. Kelas kembali diam.
"Ayahnya bernama Jung Hoseok kan?"
Anak laki-laki itu mengangguk remeh. "Ya. Sebab itulah aku menertawakanmu!". Kemudian tawanya kembali terdengar.
"Dia juga ayahku."
Anak laki-laki itu memandang Jungho dengan sengit.
"Perkenalkan, Jungho-ssi. Namaku Ahn Jaemin, dan Jung Hyunjin adalah anak dari teman kerja ayahku. Ibunya Park Taehyung, bukan Kim Jungkook."
"Terserah."
'Kau tidak tahu jika ayahku begitu mirip dengan paman Hoseok'
Jungho kini menatap guru cantik yang sedang menatapnya dengan mulut terbuka. Oh, kita melupakan gurunya. Jangan heran kenapa guru muda nan cantik itu tidak menyela ucapan anak laki-laki bernama Ahn Jaemin itu tadi. Tentu saja kalian tahu apa jawabannya.
"Saem, aku harus duduk dimana?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hyung!"
Jungho menoleh. Ia mendapati anak kecil yang tingginya dibawahnya tengah berlari menghampirinya. Anak itu lantas mendudukkan dirinya di bangku kosong disebelah Jungho.
"Aihh Hyung~~ aku mencarimu ke seluruh penjuru sekolah. Aku takut kau tersesat hyungie~"
Jungho tertawa. Matanya memandang teduh manik gelap yang begitu cantik dihadapannya.
"Hyunjin, hyungie kan sudah besar. Tidak mungkin tersesat~"
"Tapi kan hyung orang baru~"
Jungho terkekeh dan merangkul pundak anak laki-laki yang ternyata Hyunjin itu.
"Hyunjin, bagaimana rasanya punya ayah?"
Hyunjin tertawa. "Bahagia hyung~ Kau akan merasa seperti mempunyai seorang pahlawan~ Superhero~ apalagi jika kau mempunyi dua ayah~~"
Jungho terkekeh. Miris sebenarnya jika kalian mendengarnya dengan seksama. Namun sayang, Hyunjin tidak akan sempat berpikir untuk mendengarkan dengan seksama. Bahkan Jungho sekalipun tidak akan sadar jika kekehannya begitu miris. Jalan pikiran anak kecil dan orang dewasa itu berbeda.
"Hyung tahu tidak, Hyunjin baru saja ulang tahun lho!"
"Oh ya? Hyung sebentar lagi ulang tahun."
Hyunjin duduk menyamping menatap Jungho tidak percaya.
"Benarkah? Tanggal berapa hyung? Aku 4 April!"
"25 Mei. Hmm...tinggal dua belas hari lagi ya menuju ulang tahunku... Ngomong-ngomong, 4 April itu sudah lewat, Hyunjin-ah..." Jungho tampak menerawang dengan jari-jarinya bergerak seperti menghitung.
"Biarin! Hyung nanti kita tukeran hadiah ya~~"
Jungho mengangguk antusias. "Hyung akan mengatakan pada Mom nanti. Biar Mom memasak yang enak untuk kita berdua!"
Hyunjin turun dari dudukknya dan meloncat kegirangan dihadapan Jungho.
"Hyung, kata Mommy-nya Hyunjin. Jungho hyung akan jadi kakaknya Hyunjin."
Jungho diam. Mencoba memaknai satu-persatu kata yang Hyunjin lontarkan dengan senyum perseginya itu. Tanda jika ia begitu bahagia.
"Kakak? Bibi Taehyung yang mengatakannya?"
Hyunjin mengangguk.
"Sebentar lagi, Hyunjin akan ikut Seokjin appa. Dan kata mommy, jika bibi Jungkook mengijinkan. Jungho hyung akan tinggal dengan daddy"
"Hah?"
Jungho memang cerdas. Tapi secerdas apapun Jungho, ia masih enam tahun. Terlalu berat baginya untuk memahami ucapan polos penuh kebahagiaan Hyunjin yang mungkin saja si pelontar juga tidak memahaminya. Katanya cukup sederhana, namun maknanya terlalu rumit untuk dua anak kecil disana. Kepala mereka berdua sebenarnya dipenuhi tanda tanya besar.
Hyunjin pikir, tidak ada salahnya jika ia berbagi kebahagiaannya pada orang yang kata ibunya akan menjadi kakaknya. Tanpa tahu jika Jungho kebingungan dengan ucapan polosnya. Se-sederhana itulah pemikiran Hyunjin. Tidak rumit bukan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hyung, mau ikut Hyunjin tidak?"
Jungho menoleh. "Kemana?"
"Ke toko buku diseberang sana Hyung. Hyunjin mau beli buku."
Jungho mengikuti telunjuk Hyunjin yang mengarah pada sebuah toko buku di seberang jalan. Jungho ingat itu adalah toko buku yang hendak ia kunjungi bersama ibunya waktu itu, sebelum dirinya nyaris tertabrak mobil milik paman Hoseok.
"Bagaimana hyung?"
Jungho tersenyum dan mengangguk. Membuat Hyunjin bersorak girang. Bocah fotokopian Taehyung itu langsung berlari dengan riang. Sebenarnya Jungho tidak tahu apa yang membuat Hyunjin begitu bahagia hanya dengan diriya yang mau menemaninya masuk ke toko itu.
"Hyung ayo!"
Jungho kembali tersenyum dan melangkah hendak menyusul Hyunjin.
"Jungho!"
Belum sampai dua langkah, Jungho kembali berbalik saat sebuah suara memanggilnya. Ia mendapati paman Hoseok tengah melambai padanya.
"Paman..."
Jungho tersenyum. Jujur saja, ia merindukan sosok tampan dihadapannya. Sosok yang dikatakannya begitu mirip dengan sosok ayahnya. Namun kenyataannya, sosok itu bukanlah ayahnya. Dialah ayah Jung Hyunjin, Jung Hoseok.
"Mana Hyunjin? Bukankah kalian harusnya bersama?"
Hoseok menghampiri Jungho dan langsung menayakan keberadaan anaknya yang satunya. Yah...kalian mengerti maksud dari 'anaknya yang satunya'.
"Hyunjin ingin membeli buku paman. Dia di san-"
TIINN TINNN !
Hoseok dan Jungho serempak menoleh dengan mata membulat terkejut.
""Hyunjin!""
BRAK.
.
.
.
.
.
.
.
.tBc
Hola~~ chapter 7 kaming~~ gimana chapter kemaren? Aku baca review kalian sambil senyum-senyum gaje btw,
Ahaha...entah ini perasaanku saja atau emang kalia juga ngerasain, kalau chapter ini agak gagal+aneh, iya gak? Aku mau ngedit, takut keseluruhan sampe endingnya ngubah...gimana menurut kalian?
Oke. Sekarang aku bakalan bales review kalian ^^ *udah sempet*
Michaelchildhood : tujuh tahun lalu emang menyakitkan kok :D disini udah numpang lewat flashbacknya. Tenang aja, masih ada flashback yang lebih panjang kok ^^ Jungkook nggak kembali ke London, sebenarnya dia mau nerima Hoseok, tapi lumayan pikir-pikir dulu dianya. Hahah...justice for them aja. TFR~~
Kim Zuki : Aku juga no comment dengan review-mu :D Maaf jika chapt ini mengecewakan. TFR~~
Diannurmayasari : Semuanya aja, sedih+terharu+kesel. ^^TFR~~
JeonJeonzKim : Flashbacknya udah nyempil ini. Kurang puas? Tenang aja, masih ada yang lebih panjang kok, ditunggu dengan sabar aja ya ^^ TFR~~
Dhantieee : Langsung update? Aduh, maaf ya...nggak bisa. Nanti kalo langsung apdet sampe chapt 10, kalian gak penasaran lagi ^^ *ketawa epil* Ditunggu yang sabar aja ya, tiap hari Jum'at apdet kok. TFR~~
Yessi94esy : Jungkook egois karena ada alesannya :D, ini disini dia udah agak nggak egois kok ^^ TFR~~
Hopekies : Taehyung jangan dibuat cerai dong thor...kasian dia jomblo... Hahahah...Taehyung nggak akan jomblo, tenang aja. Dan belum tentu Vhope cerai ^^ Taehyung punya bagian sendiri yang bakal banyak munculnya ^^ TFR~~
Tryss : kamu yang di ig : trys_s kan? Ahh...gak nyangka ketemu disana :D mau sampe chapt berapa? Kasih tau nggak ya? *ketawa epil* ditunggu aja sampe tulisan tBc berganti jadi EnD^^ TFR~~
: Iya, hidupnya jungho full air mata :'( scene buat jintae? Ada kok, ntar tapi di chapt berikut"nya. Aku juga sayang hopekook *cinta malahan* ^^ TFR~~
Gotbangtanxo : Iya, sama nyeseknya kek aku pas nulis scene itu. Yang sabar ya..orang sabar disayang Tuhan kok ^^ TFR~~
KahoriKen : Emang ff nya ada teka-teki nya ya? Kok aku gak nyadar kalo ada teka-teki disini, apa aku terlalu asyik ngebikin sampe gak sadar ya? Yodah deh, selamat menikmati teka-teki nya ^^ TFR~~
YM424 : Jungkook punya alasan untuk tidak mengatakannya pada hosiki ^^ dia sakit hati banget~~ TFR~~
Panda : Kenapa kookie segitu bencinya sama Hoseok? Di chapt" depan akan terjawab ^^ TFR~~
GitARMY : aduh kaka...kapslok nya jebol ya :D Jungkook kesurupan mungkin kak :D istri Leo? Maaf tapi istrinya N kak, bukan Ken. Aku LeoN shipp soalnya ^^ Iya, Chanyeol ayahnya Taetae ^^ TFR~~
Guest : Hahaha...aku ketawa baca review-mu :D pertanyaanmu akan terjawab di chapt" berikutnya ^^ TFR~~
Kuki0123 : Siapa yang salah? Siapa yang dosanya lebih dominan? Kayaknya Hoseok, Jungkook, Taehyung, dan seseorang yang lain, sama-sama salah deh, sama-sama dosa :D hu'uh, jleb banget kata-kata nya Jungho TFR~~
Y : Jungkook itu namja atau yeoja? Ehm...maaf sebelumnya, apa kamu tidak membaca tulisan yang di kapslok gede" dalam summary? Jungkook disini namja , ^^ khan udah ada tulisannya YAOI. MPREG. ^^ TFR~~
Potato : aduh ini kapslokmu jebol kah? Kamu speechless baca ceritanya? Aku lebih speechless baca reviewmu :D aduh...jangan baper dong, aku gak mau tanggung jawab dengan lempar jehop ke kamu, soalnya jehop itu punya saya :D makasih udah muji cerita+tulisannya, maaf kalau chapter ini kurang memuaskan ^^ Update tiga hari sekali ya...maaf nggak bisa. Aku Cuma free buat jelajah di hari Jum'at. Jadi apdetan ceritaku selalu tiap Jum'at. Maaf ya...kamu fans berat aku? Woah~~ makasih ya ^^ TFR~~
Ah yeah~~~~ review kalian, saya bahagia membacanya~~
Ngomong-ngomong banyak yang bayangin Hoseok era I.N.U ya...kok aku malah ngebanyangin dia era DOPE? Era Danger? Sesekali sih aku juga ngebayangin era itu :D. Yodah deh, terserah kalian ngebayangin era apapun, asalkan kalian bahagia membaca cerita ini ^^
Untuk Jungkook, boleh tu yang era N.O, tapi N.O untuk tujuh tahun yang lalu aja ya, untuk yang masa sekarang, aku suka era INU.
Disini aku ngebuat karakter Jungkook tujuh tahun yang lalu sama sekarang itu beda. Yang sekarang lebih dewasa dan lebih ke ibuan, kerasa gak?
Aihh~~ ini panjang sekali ya cuap-cuap ku. Yasudah, maafkan saya~~
RnR please~~ juseyo~~
Gamsha~~
Rae#
