House of Cards
BTS
HopeKook
.
.
.
.
.
.
Rae Present
.
Tittle : House of Cards
Author : Rae
Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others
Rated : T, G, K
Cast : HopeKook [with Other's]
Length : Chaptered
Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.
Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...
TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok memegang ponselnya dengan tangan bergetar. Jas kantornya sudah ia tanggalkan entah kemana. Lengan kemejanya digulung sampai ke siku. Dan noda berwarna merah membasahi sebagian kemejanya yang kebetulan berwarna putih. Bahkan tangannya yang menggenggam ponsel pun turut berwarna merah.
"Seokjin!" Hoseok sedikit menghela nafas saat panggilannya terjawab.
"..."
"Bawa Taehyung kemari sekarang juga! Kau juga ikut! Sekarang! Cepatlah!"
Hoseok kembali mengetik beberapa digit nomor diponselnya.
"Jungkook-ah ayo angkat teleponmu..." Hoseok mondar-mandir dengan gusar. Pasalnya orang yang tengah dihubunginya ini tidak kunjung mengangkat panggilannya.
"Jungkook please..."
"Halo?"
"Jungkook! Ya Tuhan kenapa baru diangkat?!" tanpa sadar Hoseok meninggikan suaranya.
"Wae? Aku sedang di kamar Donghyuk hyung tadi. Ada apa?"
"Kemari sekarang juga! Cepatlah!"
"Kemana? Bicaralah yang jelas Jung!"
"Seoul International Hospital! Sekarang juga dan tolong jangan banyak tanya. Kau harus cepat Kook!"
PIP.
Hoseok mematikan panggilannya. Ia bersandar pasrah pada dinding ruang tunggu. Matanya terpejam dan setetes air mata mengaliri paras tampannya.
"Harusnya aku lebih cepat tadi...hiks...harusnya aku lebih cepat! Arggghh!"
.
.FLASHBACK
.
"Mana Hyunjin? Bukankah kalian harusnya bersama?"
Hoseok menghampiri Jungho dan langsung menanyakan keberadaan anaknya yang satunya.
"Hyunjin ingin membeli buku paman. Dia di san-"
TIINN TINNN !
Hoseok dan Jungho serempak menoleh dengan mata membulat terkejut.
""Hyunjin!""
"Hyunjin apa yang kau lakukan?!" Jungho berteriak dengan nyaring. Berharap sosok yang tengah diam mematung di tengah sana tersadar dan segera menyingkir. Demi apapun Jungho ketakutan. Ia teringat kejadiannya waktu itu. Nyaris saja.
"Hyunjin!" Hoseok tak kalah terkejutnya dengan Jungho. Ia hendak berlari ketengah sana. Namun ia kembali diam karena keterkejutan kembali melandanya.
Jungho berlari ke tengah jalan. Ia tidak peduli apapun saat ini, sekalipun itu adalah nyawanya. Yang ia pedulikan hanyalah nyawa orang yang sudah dianggapnya adik sendiri. Hyunjin harus selamat, begitulah pikirnya.
"Hyunjin!"
BRAK.
Jungho mendorong Hyunjin. Tubuh Hyunjin tersenggol sedikit badan mobil dan terpental dua meter dari posisi awal.
"J-jungho Hyung..."
"JUNGHO!"
Hoseok tersadar dari keterkejutannya. Nafasnya tercekat melihat pemandangan dihadapannya. Jeritan para pengguna jalan seolah menampar Hoseok akan kebodohannya yang hanya diam menyaksikan tanpa berbuat apapun.
Tubuh Jungho sukses dihantam bagian depan mobil dengan keras. Membuat tubuh kecil itu terpental keatas dan terguling tiga kali setelah sebelumnya meghantam kerasnya aspal. Darah mengalir dengan deras dari kepala bocah itu. Membasahi aspal dibawahnya.
"Jungho..."
Hoseok berlari ketengah jalan. Melepas jasnya dan menaruhnya dibagian belakang kepala Jungho. Berusaha menghentikan pendarahannya. Ia kemudian melihat Hyunjin yang tidak sadarkan diri juga dengan darah dari kepalanya namun tidak sebanyak Jungho. Hyunjin tergelatak lima meter jauhnya dari Jungho.
'Siapa yang lebih dulu?!'
Hoseok bingung. Sungguh, ia tidak tahu harus memberi pertolongan pertama pada siapa. Hyunjin, putranya yang sangat dicintainya, yang selama lima tahun dibesarkannya dengan Taehyung meski bukan anak kandungnya. Atau Jungho, bocah yang berkemungkinan besar adalah anak kandungnya. Hoseok mencintai keduanya. Ia tidak bisa memilih salah satu.
"Hyunjin.."
Akhirnya Hoseok memilih mendekati Hyunjin. Menggendong bocah itu kembali ke posisi Jungho dan membaringkannya pada paha kanannya. Sementara paha kirinya ia gunakan untuk membaringkan Jungho. Darah terus mengalir dari kepala keduanya. Dengan tangan bergetar Hoseok meraih ponselnya.
"SIAPA SAJA TOLONG PANGGILKAN AMBULAN !"
Hoseok berteriak kesetanan. Batinnya kalut. Ia ketakutan sungguh.
"Maafkan Daddy sayang...maaf...harusnya Daddy bisa lebih cepat tadi...maaf Jungie, Hyunjin...maaf..."
.
.FLASHBACK END
.
"Hyung!"
Hoseok membuka matanya dan menoleh. Ia mendapati Taehyung yang sedang berlari dengan Seokjin dibelakangnya. Seokjin masih mengenakan pakaian formal, kemungkinan besar namja itu sedang bekerja saat Hoseok meneleponnya.
"Hoseok-ah apa yang terjadi?"
Hoseok tidak menjawab. Ia berjalan gontai menghampiri Seokjin dan memeluknya. Ia menangis.
"Hiks...maafkan aku Seokjin-ah, maaf..."
"Hyung apa yang terjadi? Kenapa kau bisa berada di sini dan kenapa dengan pakaianmu?"
Hoseok melepas pelukannya dan menatap Taehyung. Ia merasa bersalah disini.
"Hyunjin, kecelakaan Tae...dengan Jungho..."
"Apa?"
Hoseok beralih memeluk Taehyung. Ia tahu Taehyung bisa saja pingsan di tempat saat ini. Terlihat dari tatapan matanya yang kosong dan tubuhnya yang melemas dipelukan Hoseok.
"Kau bercanda kan Hyung?"
Hoseok menggeleng.
"Hoseok hyung!"
Ketiganya menoleh. Mendapati Jungkook yang berlari menghampiri.
"Apa yang terjadi?"
Hoseok berjalan ke arah Jungkook dan menghambur memeluknya. Jungkook yang tidak tahu apa-apa hanya bisa balas memeluk Hoseok yang kini menangis dibahunya.
"Kookie maafkan aku...hiks...maaf."
Jungkook menatap Seokjin yang tengah memeluk Taehyung yang menangis dengan tatapan penuh tanya. Namun Seokjin menggeleng.
"Hyung ada apa?"
"Jungho...dia kecelakaan bersama Hyunjin..."
"Apa?"
Reaksi Jungkook tak jauh beda dengan Taehyung. Ia lemas seketika, membuat Hoseok mengeratkan pelukannya.
"Kenapa bisa terjadi hyung?"
"Jungho mendorong Hyunjin yang hendak tertabrak. Mengorbankan dirinya sendiri untuk Hyunjin."
Jungkook jatuh terduduk dilantai. Setetes air mata mengalir dari matanya. Jungho itu trauma sejak dirinya hampir tertabrak Hoseok beberapa bulan yang lalu. Dan tadi Hoseok bilang, Jungho mengorbankan dirinya untuk Hyunjin? Jungkook merasa dadanya dihantam batu besar. Mengakibatkan rasa sakit yang begitu mendalam.
"Apa yang kau lakukan disana hyung? Kenapa kau diam saja saat hal itu menimpa mereka? Kenapa?!"
Jungkook berontak saat Hoseok berusaha memeluknya. Nalurinya sebagai seorang ibu merasa tersakiti. Bagaimana seorang ayah hanya diam saja saat kejadian bertaruh nyawa menimpa putranya? Jungkook ingin memukul Hoseok saat ini juga.
"Hyung kenapa tadi kau diam saja?! Kenapa?!"
Hoseok memeluk Jungkook dengan erat. Berusaha meredam emosi Jungkook yang tidak terkendali.
"Aku minta maaf Kookie, aku minta maaf."
"Jika terjadi sesuatu pada Jungho bagaimana? Kau tahu dia hartaku satu-satunya hyung!"
Hoseok mendekap Jungkook dengan erat. Menenggelamkan kepala namja manis itu pada dadanya. Membiarkan Jungkook memukul-mukul pelan dadanya.
"Hyung dia anakmu, hiks...dia anakmu hyungie...kenapa kau diam saja tadi...harusnya kau berbuat sesuatu hyung...hiks...Jungie..."
Hoseok tertegun. Jadi benar jika Jungho anaknya? Darah dagingnya sendiri? Tuhan...Hoseok merasa begitu bersalah sekarang.
Klek.
Pintu ruang gawat darurat di buka. Menampilkan seorang namja dengan jas putih melekat pada tubuh sedangnya. Benda pipih berkilau bertuliskan 'Park Yoongi' menempel di jas bagian dada kanannya.
"Wali dari Jung Hyunjin?"
Hening. Tidak ada yang menjawab. Hoseok diam, begitu pula dengan Taehyung.
"Wali dari Jung-Ho?"
Semuanya masih diam.
"Maaf, kami membutuhkan wali dari Jung Hyunjin dan Jung-Ho secepatnya. Kedua pasien membutuhkan donor darah sekarang juga." Dokter itu menatap satu-persatu orang yang masih terdiam disana. Sampai seorang namja bersuara.
"Saya ayahnya."
Doker itu tersenyum dan menatap namja tampan yang berdiri disamping Taehyung.
"Jung Hyunjin. Saya ayahnya." Kim Seokjin.
"Baiklah, eung...nama anda?"
"Seokjin. Kim Seokjin."
Dokter itu mengernyit sekilas. Sempat merasa kebingungan.
"Baiklah Seokjin-ssi, anda bisa masuk kedalam lebih dulu untuk melakukan pengecekan dan apabila darah anda cocok, anda bisa segera melakukan transfusi darah."
Seokjin mengangguk. Ia mengecup sekilas kening Taehyung dan menatap Hoseok dan Jungkook bergantian.
"Hoseok-ah..."
Seakan tahu maksud Seokjin memanggilnya, Hoseok mengangguk.
"Masuklah hyung, kau lebih berguna daripada aku. Kalaupun aku yang masuk, darahku tidak akan cocok dengan Hyunjin."
Hoseok tesenyum miris. Dan Seokjin membalas senyumannya. Bergumam 'terimakasih' seraya memasuki ruang gawat darurat.
"Wali Jung-Ho-ssi?"
Jungkook menoleh dan berdiri diikuti Hoseok.
"Saya ibunya dokter. Anak saya baik-baik saja kan?" Kentara jelas nada khawatir dalam ucapan Jungkook. Membuat dokter dihadapannya merubah raut wajahnya menjadi lebih serius.
"Pasien mengalami pendarahan. Ia kehilangan banyak darah. Dan..sepertinya anda sudah tahu jika anak anda mengalami kelainan pada darahnya. Ia hanya bisa menerima darah dari keluarganya. Dan kami membutuhkannya sekarang juga. Sebelum semuanya terlambat."
Jungkook menghela nafas berat. Ia tahu ini pasti terjadi. Jungho harus mendapatkan donor darah secepatnya.
"Hoseok hyung..."
Hoseok menatap Jungkook. Namja manis itu menghadap padanya. Menatapnya penuh harap.
"Masuklah hyung. Jungho membutuhkanmu."
Hoseok mengernyit. "Kau bisa memberikan darahmu untuk Jungho, Kookie. Jungho tidak ada hubungannya denganku, jadi darahnya tidak akan cocok."
Jungkook menggeleng.
"Darahku tidak cocok dengan Jungho. Aku sudah memeriksanya sewaktu ia masih kecil. Ia hanya bisa menerima darah dari keluarganya. Dia hanya bisa menerima darahmu Hyung. Karena dia putramu, kau ayahnya hyung."
Hoseok tersentak. Semakin kesini semuanya semakin jelas. Semakin jelas jika Jungho adalah putranya.
"Hyung kumohon...aku tidak bisa kehilangannya hyung..."
"Benarkah dia putraku? Benarkah aku ayahnya?"
Jungkook mengangguk. Ia meraih kedua tangan Hoseok untuk di genggamnya erat.
"Kau ayahnya hyung. Aku tidak lagi berbohong padamu. Kita orangtua-nya. Jadi kumohon hyung. Masuklah dan-"
"Lakukan sekarang juga Dokter! Selamatkan anakku!"
Jungkook terkejut. Ia belum selesai memohon pada Hoseok namun namja tampan itu sudah lebih dulu melepaskan genggamannya dan beralih memegang kedua bahu dokter itu dengan erat. Menyeret dokter itu memasuki ruang gawat darurat.
"Jungkook.."
Jungkook menoleh. Ia mendapati Taehyung yang mengisyaratkan padanya untuk duduk disebelahnya.
"Kau dan Hoseok hyung berhutang satu penjelasan padaku Tae. Ah, Seokjin hyung juga!"
Taehyung terkekeh. Ia meraih sebelah tangan Jungkook dan menggenggamnya.
"Nanti. Setelah kita berdoa untuk anak-anak kita."
Jungkook tersenyum dan mulai mengikuti Taehyung yang telah lebih dulu memejamkan matanya. Memanjatkan doa untuk keselamatan dua bocah bermarga 'Jung' di dalam sana.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok dan Seokjin keluar dari ruang gawat darurat bersamaan. Seokjin nampak baik-baik saja, hanya ada sedikit gurat lelah di wajah tampannya. Namun lain halnya dengan Hoseok. Namja tampan bermarga 'Jung' itu keluar dengan kondisi yang tidak bisa dibilang baik-baik saja. Wajahnya pucat dan raut gelisah, khawatir, sekaligus lelah bercampur aduk di wajah tampannya.
"Hyungie, Jungie baik-baik saja kan?"
Jungkook berdiri dari duduknya dan meraih sebelah lengan Hoseok untuk dituntunnya ke tempat duduk. Namja tampan itu tampak begitu lemas, mungkin ia mengambil darahnya terlalu banyak.
"Dia baik-baik saja. Kau jangan melihatnya Kook, aku tidak yakin kau akan sanggup." Hoseok tersenyum lelah pada Jungkook.
"Hyunjin baik-baik saja. Jangan khawatir." Seokjin berucap saat ia melihat Jungkook membuka mulutnya hendak menanyakan keadaan Hyunjin.
"Syukurlah. Tapi, apa keadaan Jungie begitu parah hyung?"
Seokjin hanya menepuk bahu Jungkook. Memberikan kekuatan padanya.
"Hoseok hyung, kau perlu mengganti pakaianmu."
Jungkook menatap kondisi Hoseok sekarang setelah Taehyung berucap. Namja berstatus suaminya ini dalam kondisi yang begitu kacau. Pakaiannya penuh noda darah, hampir sebagian.
"Taehyung benar. Kau harus mengganti pakaianmu dan juga mengisi energimu lagi hyung. Ayo!" Jungkook menarik pelan lengan Hoseok hingga ia berdiri.
"Tae, aku titip Jungie sebentar padamu ya."
Taehyung mengangguk seiring berjalannya Jungkook dan Hoseok menjauhi ia dan Seokjin.
"Mereka bertemu lagi. Apa mereka akan kembali bersama?"
Taehyung tersenyum dan memeluk Seokjin. Ia menenggelamkan kepalanya pada dada bidang namja bermarga 'Kim' dihadapannya.
"Ya. Kurasa mereka akan bersama lagi. Dan aku akan segera bersamamu hyung. Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi mereka berdua hyung?"
"Hyunjin baik-baik saja. Tapi tidak dengan Jungho."
Taehyung melepas pelukannya dan menatap Seokjin dengan alis bertaut.
"Jungho koma."
"Apa?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok tengah duduk berdampingan dengan Jungkook di taman belakang rumah sakit. Dengan posisi Hoseok yang bersandar pada bahu Jungkook. Ia sudah mengganti kemeja putihnya dengan kaos hitam polos lengan panjang. Jangan tanya Jungkook mendapatkannya untuk Hoseok dari mana.
"Kookie..."
"Hm?"
"Maafkan aku..."
Jungkook menghela nafas. "Hyung, makan makananmu. Jangan hanya meminta maaf saja." Jungkook menunjuk mangkuk jajangmyeon disebelah Hoseok. Lengkap dengan sebotol minuman isotonik. Namun Hoseok menggeleng.
"Aku tidak lapar."
"Setidaknya makanlah hyung. Kau baru saja mengambil darahmu. Aku tahu tranfusinya cukup banyak. Jadi makanlah dan biarkan dirimu pulih."
Hoseok menggeleng lagi. Ia memejamkan matanya lelah. Setetes air mata mengalir dari sudut mata kirinya.
"Jungho, dia putraku kan? Benar-benar putraku kan?"
Jungkook menghela nafas dan mengangguk pelan. "Ya. Dia putramu."
Hoseok tersenyum, masih dengan mata yang tertutup.
"Bagaimana ia ada? Kenapa tidak memberitahukannya padaku?"
Jungkook menarik nafasnya dalam-dalam. Bersiap untuk mengorek lagi kenangan pahit yang jujur saja tidak ingin diingatnya. Baginya itu hanya masa lalu yang tidak seharusnya ia tengok ulang. Namun Hoseok memintanya, ayah dari putranya ini memintanya.
"Aku hamil dua minggu saat kau mengusirku dari mansion Jung waktu itu."
Hoseok meringis perih mendengar kalimat Jungkook. Rasa bersalahnya masih membekas.
"Malam itu, aku berniat memberitahukannya padamu hyung. Tapi apa yang aku harapkan tidak pernah terjadi. Kau marah-marah, tidak mau mendengar penjelasanku, bahkan kau mengusirku dan berniat akan menceraikanku."
Hoseok kembali meringis. Jujur saja, ia juga merasa sakit Kook. Ia juga tidak ingin mengorek masa-masa kelam itu.
"Lalu?" Namun hati kecilnya berontak.
"Aku pergi ke London. Tanpa sepengetahuan siapapun. Aku tidak ingin pernikahan kita yang baru dua bulan itu kandas begitu saja. Terlebih, aku tidak ingin anakku lahir tanpa ayah nantinya."
"Jadi, kau lari ke London, untuk menghindari perceraian kita?"
Jungkook mengangguk.
"Apa Jungho tau aku ayahnya?"
Jungkook menggeleng. Mengundang ringisan lagi dari Hoseok.
"Tidak. Jungho hanya tahu wajahmu saja, tidak dengan namamu. Oleh karena itu, dia hanya berani berharap jika kau memang ayahnya. Karena ia tidak tahu siapa nama ayahnya sedangkan wajah kalian begitu mirip."
"Kenapa tidak memberitahukan padanya siapa ayahnya?"
"Hanya tidak ingin dia tertekan. Ketahuilah hyung, Jungho begitu merindukanmu."
Suara Jungkook bergetar diakhir kalimatnya.
"Kookie, bagaimana jika Jungho tidak membuka matanya?"
Jungkook tersentak. Ia menarik bahu Hoseok dan menghadapkannya padanya. Saling berhadapan.
"Hyung apa maksudmu? Jangan mengatakan yang tidak-tidak!"
Hoseok meraih pipi Jungkook dan mengusapnya pelan. Matanya memandang sendu Jungkook.
"Jungho koma, Kookie..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook memandang miris dan penuh luka. Hatinya sebagai seorang ibu seperti diremas kuat hingga hancur berantakan. Bagaimana ini semua bisa terjadi? Jungkook ingin menyalahkan siapa disini ia tidak tahu. Hoseok? Tidak, ia tahu Hoseok sudah berusaha mencegah ini semua terjadi.
"Jungie..." panggil Jungkook pelan. Jemarinya menggenggam erat telapak tangan mungil yang terasa begitu dingin digenggamannya. Membawanya ke pipinya dan menggenggamnya dengan erat.
"Jungie buka matamu sayang.."
Airmata Jungkook mengalir perlahan. Jungho terbaring lemah dihadapannya. Dengan kepala diperban dan berbagai alat medis menempeli tubuh ringkihnya. Mata indah yang selalu Jungkook kagumi itu kini terpejam damai. Masker oksigen berada di wajahnya menutupi mulut dan hidungnya.
"Jungie maafkan Mom sayang...maaf.." Jungkook mengecup punggung tangan Jungho lama. Sarat akan kesedihan.
"Jungkook..."
Jungkook melirik sebuah tangan yang berada dibahu kanannya.
"Kita keluar sebentar ya? Jungie dan Hyunjin harus dipindahkan ke ruang rawat."
Jungkook menggeleng. "Tidak hyung, biarkan aku menemani Jungie."
"Jungkook, please.."
Jungkook menggeleng lagi. Terdengar helaan nafas dari si pemilik tangan yang sedari tadi berbicara dengannya.
"Kita keluar Kookie. Tidak ada penolakan." Jungkook sedikit berontak saat merasakan lengan kokoh memeluk kedua bahunya dan membawanya berdiri, keluar dari ruang gawat darurat.
"Hoseok hyung, Jungie akan bangun kan?"
Hoseok—sipemilik lengan—mengangguk.
"Pasti Kookie. Dia pasti bangun, tapi tidak sekarang."
Jungkook memandang kosong ke lorong rumah sakit yang tampak begitu ramai. Ia bersandar pada bahu Hoseok dan membiarkan suaminya membawanya entah kemana. Didepannya ada Taehyung yang sedang berjalan berdampingan dengan Seokjin.
Pikiran Jungkook berkelana entah kemana. Tentang Jungho, Hyunjin, dan juga kedua orang yang berjalan didepannya ini.
"Hoseok hyung.."
"Hm?"
.
.
.
.
.
.
"Siapa Hyunjin sebenarnya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
"Putra Kim Seokjin dan Park Taehyung."
.
.
.
.
.
.
.tBc.
Holla~~ chapter delapan kaming~
Gimana? Gimana? Aneh? So pasti! xD
Ngomong-ngomong, maaf nggak bisa bales review*egen*, tapi percayalah saya selalu membacanya.
Lagi disibukkan sama tugas bikin makalah dan juga UTS. Mohon maaf ya readers-deul~~ saranghaeyeo~ tetep review ya~
RnR please~ juseyo~
Gamsha~
Rae#
