House of Cards
BTS
HopeKook
.
.
.
.
.
.
Rae Present
.
Tittle : House of Cards
Author : Rae
Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others
Rated : T, G, K
Cast : HopeKook [with Other's]
Length : Chaptered
Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.
Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...
TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^
.
.
.
.
Tiga belas bulan setelah kepergian Kim Jungkook...
.
.
"Appa! Sudah berapa kali aku mengatakan padamu jika aku dan Taehyung hanya bersahabat? Aku sudah menganggapnya adikku appa, tidak lebih! Oh dan satu lagi! Perlu appa ketahui jika Taehyung sudah memiliki kekasih."
Hoseok menghempaskan tubuhnya pada sofa dengan kasar. Ia memandang ayahnya marah.
"Taekwoon-ah, berhenti memaksa Hoseok menikah dengan Taehyung. Jungkook masih istri sah Hoseok."
Tuan Jung menggeram marah. "Kalian masih menganggap anak itu bagian dari keluarga ini? Aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan! Sudah jelas-jelas anak itu-"
"Bisakah appa berhenti menuduh Jungkook? Semuanya tidak terbukti appa! Orang di dalam foto itu bukan Jungkook!"
"Jung Hoseok!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hiks hyung...hiks...kenapa?"
Taehyung mencengkeram ujung selimut yang menyelimuti tubuhnya. Disampingnya, terbaring Seokjin yang memandang lurus langit-langit kamar yang mereka tempati.
"Maafkan aku Tae...ini begitu mendadak..."
Taehyung semakin menangis dan mencengkeram selimutnya jauh lebih kuat.
"Berapa lama hyung? Berapa lama aku harus menunggumu?"
"Aku tidak tahu..."
Taehyung bangkit dari tidurnya dan terduduk. Bahunya bergetar hebat. Mengundang tatapan bersalah dari Seokjin.
"Aku bisa menunggumu hyung, selama apapun itu. Aku bisa menunggumu! Tapi..." Menarik nafasnya dalam-dalam. Ada ketakutan yang mengiringi ucapannya.
"Bagaimana jika...hiks...jika terjadi sesuatu...hiks...padaku?"
Seokjin bangkit dari tidurannya dan bergeser ke belakang Taehyung.
"Semua akan baik-baik saja Tae. Percayalah."
Seokjin memeluk Taehyung dari belakang. Menempelkan punggung telanjang Taehyung pada dada bidangnya yang tak terbalut apapun. Menarik selimut yang telah turun hingga paha Taehyung menjadi sebatas pinggangnya.
"Aku ada untukmu. Meski kita terpisah, aku akan selalu bersamamu."
Sebuah kecupan sayang Seokjin berikan pada tengkuk Taehyung, kemudian beralih ke pucuk kepala bersurai coklat itu.
"Jangan pergi hyung...hiks...aku bagaimana?" tangan Taehyung meremas pelan lengan kokoh Seokjin yang melingkar di bahunya. Diiringi lelehan air matanya yang semakin deras.
Seokjin meraih pipi Taehyung dan menolehkannya ke kanan. Menyatukan kedua kening mereka. Dapat Seokjin lihat wajah manis yang selalu tersenyum itu kini memerah. Basah oleh air mata.
"Hyung..." Taehyung membalikkan tubuhnya menjadi menghadap Seokjin sepenuhnya. Kembali menyatukan kening mereka .
"Tetaplah disini...aku takut hyung..."
Helaan nafas terdengar dari Seokjin. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi Taehyung dan memberikan sebuah kecupan singkat pada bibirnya.
"Aku minta maaf Taehyung."
Kedua bibir itu kembali menyatu. Saling memagut penuh rasa kefrustasian. Air mata Taehyung semakin deras mengalir. Kedua telapak tangannya digenggam erat oleh tangan Seokjin. Ciuman yang sarat akan kesedihan.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hoseok-ah, apa memintaku untuk memberitahumu jika hari ini kau harus menemui paman Chanyeol dan bibi Baekhyun untuk membicarakan pernikahanmu dengan Taehyung."
Hoseok menghentakkan pulpen ditangannya dengan keras di atas meja kaca ruangannya. Ia menatap benci dan juga jengah pada Hyung yang terpaut tiga tahun dengannya itu. Jung Daehyun.
"Hyung, aku sudah bilang jika aku tidak akan menikah dengan Taehyung. Taehyung sendiri juga sudah mengatakannya pada appa kan? Aishhh!"
Daehyun mendudukkan dirinya di sofa. Mengambil ponselnya dan terlihat mengetikkan sesuatu disana. Setelahnya ia kembali menyimpan ponselnya di saku jas-nya dan melangkah keluar ruangan dengan sebuah seringaian. Membuat Hoseok menatap penuh tanya.
Kling.
Hoseok melirik ponselnya yang tergeletak diatas meja. Lampu indikatornya berkedip-kedip. Sebuah pesan masuk.
"Jam sebelas. Di restoran milik keluarga Park. Jika kau menolak, appa akan membunuh Hyung-mu yang tampan ini."
Hoseok melemparkan pulpen yang tadi di pegangnya ke arah Daehyun yang melambai di depan pintu. Namun naas, pulpennya hanya menghantam pintu yang baru saja ditutup Daehyun.
"Sialan Kau Jung Daehyun!"
.
.
.
.
.
.
.
"Seokjin hyung...kapan pulangmu?"
Seokjin tersenyum teduh. Menggenggam tangan Taehyung dengan erat dan membawanya untuk dikecup sayang.
"Aku bahkan belum berangkat Taehyung. Akan aku usahakan. Jangan khawatir."
"Berjanjilah satu hal padaku hyung..." Taehyung menunduk. Menatap cincin polos terbuat dari perak yang melingkari jari manisnya dengan begitu manis. Cincin pemberian Seokjin sebulan yang lalu. Seokjin bilang, ia melamar Taehyung.
"Apa?"
"Kau akan kembali dan berikrar denganku di altar."
Seokjin memeluk Taehyung. Jemarinya mengusap cincin Taehyung.
"Aku akan kembali. Aku berjanji."
Diam. Keduanya diam. Hanya ada deru nafas yang berat dari keduanya. Keduanya sama-sama terlarut akan bayang-bayang kehidupan keduanya di masa yang akan datang. Seokjin mengatakan pada Taehyung tadi malam, jika ia harus ke Amerika. Ayahnya memintanya untuk mengurus semua perusahaan miliknya disana yang sebelumnya hanya dikelola ayahnya. Tuan Kim harus mengurus cabangnya yang ada di Australia. Seokjin bilang semuanya mendadak. Ayahnya baru mengatakan pada Seokjin kemarin sore. Dan Seokjin diharuskan berangkat hari ini juga.
"Berangkatlah hyung. Aku akan menunggumu..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Tae, kita tidak akan menikah kan? Kau tahu statusku kan?"
Taehyung menyesap milkshake-nya sambil mengangguk. Ia dan Hoseok tengah duduk bersebelahan di taman dekat Restoran keluarganya. Memilih keluar berdua di tengah acara keluarga keduanya yang sedang berlangsung.
"Jungkook akan marah padaku jika kita menikah nantinya, Hyung. Seokjin hyung juga, ia akan membunuhku." Taehyung tertawa. Sebenarnya, ia berusaha menutupi kesedihannya setelah melepas Seokjin ke Amerika tadi pagi.
"Dia sudah melamarmu?"
Taehyung menyesap kembali milkshake-nya dan menjulurkan tangan kirinya yang menganggur kehadapan Hoseok. Mengundang senyuman manis di wajah tampan pria bermarga 'Jung' itu tatkala melihat cincin perak yang berkilauan diterpa cahaya mentari.
"Kapan aku mendapatkan undangannya?"
"Setelah kau berhasil menemukan Jungkook dan membawanya kembali."
Hoseok meringis. Ia melonggarkan simpul dasi hitamnya dan menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran bangku yang mereka tempati. Sementara Taehyung berjalan ke tempat sampah di seberang mereka guna membuang bungkus milkshake-nya.
"Kalau kau menunggu hal itu, kalian tidak akan pernah tahu kapan pastinya kalian akan menikah. Karena aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus mencari Jungkook dan kapan aku bisa membawanya kembali."
Taehyung mendengus. "Tanpa menunggumu membawa Jungkook kembali pun aku sebenarnya juga tidak tahu kapan kami akan mengikat diri kami di hadapan Tuhan."
Hoseok mengernyit. Merasa bingung dengan ucapan Taehyung.
"Seokjin hyung pergi ke Amerika. Kami tidak tahu kapan dia akan pulang."
"Apa? Namja itu pergi begitu saja setelah melamarmu?"
Taehyung menghela nafas.
"Paman Hanbin memintanya untuk mengurus perusahaannya yang ada di Amerika karena beliau harus ke Australia, mengurus perusahannya yang ada di Australia. Ini semua sangat mendadak, bahkan Seokjin hyung bilang ia baru mendapatkan kabarnya kemarin malam dan dia diharuskan berangkat hari ini."
Hoseok menepuk pelan bahu Taehyung.
"Dia akan kembali. Aku mengenal Seokjin, dia bukan tipe orang yang akan melanggar janjinya begitu saja. Terlebih janji-nya pada orang yang dianggapnya paling berharga di kehidupannya setelah ibunya."
Taehyung menunduk.
"Aku hanya takut hyung."
"Takut untuk apa?"
"Entahlah..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Taehyung mengerang di balik selimutnya. Kepalanya berdenyut dan ia merasa tubuhnya lemas.
"Akh! Apa yang terjadi denganku?"
Taehyung menyibak selimutnya dan membawa tubuhnya duduk. Punggungnya bersandar pada kepala ranjang dan matanya terpejam menahan denyutan di kepalanya.
"Eomma..." suara Taehyung lirih.
"Eomma kemarilah..."
Klek.
Pintu kamar Taehyung dibuka dan menampilkan seorang namja cantik yang mirip dengannya.
"Ya Tuhan! Taehyung!"
Ibunya berlari mendekati Taehyung dan mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur. Telapak tangannya menempel di kening Taehyung.
"Sejak kapan kau demam sayang?" nada khawatir jelas terdengar dari bibir Nyonya Park Baekhyun.
"Aku baik-baik saja eomma, hanya pusing"
"Badanmu panas Taehyung. Bagaimana bisa kau mengatakan dirimu baik-baik saja? Tunggu sebentar, eomma akan ambilkan obat di bawah."
Taehyung hanya mengangguk dan ibunya meninggalkannya kemudian.
"Ugh...kenapa sekarang aku mual huh?"
Taehyung menuruni tempat tidurnya dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi di sudut kamarnya. Sungguh, ia merasa mual luar biasa.
"Hoek.."
Kosong. Tidak ada apapun yang ia muntahkan ke wastafel, selain cairan bening. Perutnya seperti diaduk-aduk dan kepalanya pusing. Ia mual tapi tidak memuntahkan apapun.
"Hoek...hoek"
"Taehyung!"
Baekhyun masuk ke kamar mandi dan menepuk pelan punggung Taehyung. Kemudian jemari lentiknya mengurut tengkuk Taehyung.
"Hoek..ugh!"
"Tae, apa yang terjadi sayang? Kau kenapa?"
"Aku tidak tahu eomma. Tapi aku merasa-hoek!"
Taehyung kembali memuntahkan cairan bening ke wastafel. Kening Baekhyun berkerut khawatir.
"Chanyeol! Anakmu sakit dan bawa dia ke rumah sakit sekarang!"
.
.
.
.
.
Terbaring lemas di sebuah ranjang di tengah ruangan bernuansa putih dengan bau obat yang mendominasi. Dengan lengan kirinya yang terinfus. Inilah kondisi Taehyung sekarang. Akhirnya dengan segala bentuk pemaksaan dari ayah dan ibunya, Taehyung berakhir di ranjang rumah sakit ini.
Taehyung menatap lurus ke arah seorang dokter yang sedang memeriksanya. Ayah dan ibunya menunggu di luar ruang rawat. Kondisi Taehyung yang lemas dan hampir pingsan saat dibawa kemari membuatnya harus menjalani serentetan pemeriksaan yang sampai sekarang belum selesai.
"Engg...Dokter Kim"Taehyung memanggil Dokter berkacamata disebelahnya setelah sebelumnya membaca name tag di jas putih dokter itu.
"Ya?"
"Apa aku baik-baik saja?"
Dokter Kim tampak menggeleng sekilas dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Taehyung-ssi, aku tidak yakin akan hal ini. Akan kupanggil rekanku untuk memastikan. Tunggu sebentar."
Taehyung mengernyit heran saat dokter bernama "Kim Namjoon" itu beranjak menjauhinya. Terlihat menelepon seseorang.
"Dia akan segera datang." Namjoon tersenyum ramah.
Klek.
Pintu terbuka dan menampilkan seorang pria—yang Taehyung perkirakan seumuran dengan dirinya—bertubuh sedang, berambut orange terang. Taehyung sedikit heran, seorang dokter memilik warna rambut seaneh itu?
"Ada apa Namjoon hyung?"
"Ini Jimin, aku ingin kau memeriksa Taehyung-ssi. Aku agak tidak yakin dengan hasil pemeriksaanku."
Dokter berambut orange yang diketahui bernama Park Jimin—Taehyung melirik name-tag-nya—itu mendekatinya. Melakukan sederet pemeriksaan berulang.
"Kurasa tidak ada yang salah dengan hasil pemeriksaanmu, Hyung." Jimin tersenyum menatap Taehyung dan Namjoon bersamaan.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Taehyung bertanya was-was.
"Selamat." Jimin tiba-tiba menjabat tangan Taehyung dengan senyuman yang masih terpatri di bibir tebalnya.
"Anda hamil tiga minggu, Taehyung-ssi."
Apa?!
Kedua mata Taehyung membola. Ini tidak mungkin kan? Ketakutannya terbukti? Apa yang harus ia lakukan?
"Kondisimu cukup lemah Taehyung-ssi. Anda terlalu stress dan hal tersebut berdampak pada kehamilan anda. Mengakibatkan anda mengalami pusing dan mual yang berlebihan. Saya menyarankan agar anda dirawat beberapa hari di rumah sakit agar kondisi anda dan kandungan anda membaik."
Taehyung masih melongo dengan mata melebar mendengar penuturan Dokter muda bernama Park Jimin itu.
"Taehyung-ssi, anda tidak perlu khawatir. Park Jimin ini adalah seorang dokter kandungan dan istrinya juga tengah mengandung sekarang. Dan anda tidak perlu takut karena kasus kehamilan pada namja tidak hanya terjadi pada anda saja. Istri Dokter Park juga seorang namja." Jelas Namjoon panjang lebar. Diiringi senyuman Jimin.
Taehyung terdiam. Pikirannya berkelana pada Seokjin. Jika dirinya memang benar tengah hamil, berarti anak ini adalah anak Seokjin. Dan apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya?
"Dokter, bisakah anda merahasiakan hal ini dari kedua orang tuaku?"
Jimin dan Namjoon sukses mengernyit tidak mengerti.
"Kenapa seperti itu Taehyung-ssi?"
Taehyung menghela nafas.
"Aku akan memberitahukannya sendiri pada mereka."
Tidak. Sebenarnya bukan itu alasan Taehyung. Ia hanya butuh waktu untuk menyusun apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia harus memberitahu ayah dari bayinya. Yah. Harus.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Seokjin Hyung..."
"Ya Taehyung?"
Taehyung menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Aku hamil..." bersuara lirih dengan tenggorokan tercekat menahan tangis.
Hening.
"Hyung...k-kau masih disana?"
Terdengar helaan nafas dari seberang telepon.
"Ya Taehyung, aku disini." Suara Seokjin terdengar putus asa.
"Apa yang harus kulakukan hyung? Aku takut.."
"Taehyung maafkan aku..."
Air mata perlahan menuruni pipi Taehyung, mengundang isakan lirih dari bibirnya. Jemarinya semakin mencengkeram ponsel yang menempel dengan telinganya.
"Jadi...hyung tidak bisa pulang untuk ini?"
"Maafkan aku.."
Taehyung terisak. Ia meremas dada kirinya yang berdenyut ngilu. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia tidak tahu.
"Baiklah...tidak apa-apa..."
Hening kembali.
"A-aku tutup teleponnya hyung.."
"Tunggu Tae!"
Taehyung mengurungkan niatnya untuk menutup sambungan teleponnya saat suara Seokjin mencegahnya.
"Temui Hoseok. Katakan semuanya pada Hoseok. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang. A-aku tidak bisa pulang, Taehyung-ah...maafkan aku..."
.
.
.
Tubuh Taehyung merosot ke lantai kamar mandi rumah sakit. Seokjin baru saja menutup teleponnya. Ia merasa begitu hancur sekarang. Ia merasa begitu bodoh. Ia merasa...ah—Taehyung tidak tahu harus mendeskripsikan dirinya dengan kata 'buruk' apa lagi. Ia sudah sangat-sangat buruk.
"Hyung wae? Hiks...kenapa kau melakukan ini padaku hyung...kenapa?"
Seokjin tidak bisa pulang barang seminggu saja. Jangankan seminggu, delapan menit Taehyung menelepon saja sudah mengganggu pekerjaannya. Lalu selama ini janji manis itu berarti apa?
Jemari Taehyung mengusap cincin yang melingkari jari manisnya. Tersenyum sedih dengan air mata yang masih mengalir. Taehyung meremat tangannya kuat-kuat.
"Hyung aku bisa menunggumu...tapi anak ini tidak hyung! Dia tidak bisa menunggumu!"
Taehyung bodoh! Dia akui itu! Tidak ada gunanya ia menangis disini, memohon disini. Toh Seokjin tidak akan mendengar dan pulang untuknya.
"Menemui Hoseok hyung? Apa aku sebodoh itu hyung? Apa aku sebegitu tidak berharga-nya dimatamu?"
Kembali. Taehyung merutuki dirinya bodoh karena bertanya pada ubin kamar mandi yang sudah jelas-jelas tidak akan menjawab pertanyaannya.
"Seokjin hyung..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Taehyung terbangun diatas tempat tidur di ruangan rawatnya. Jarum infus kembali berada di punggung tangan kirinya. Wajah khawatir seseorang yang begitu dikenalnya menjadi hal pertama yang menyambut.
"Hoseok hyung.." suara Taehyung lirih. Sangat lirih.
"Apa yang terjadi Tae? Bibi Baekhyun menelepon bahwa kau sakit, jadi aku datang menjengukmu. Tapi saat aku sampai disini, ibumu bilang jika kau menghilang. Dan lima menit kemudian, kau ditemukan di kamar mandi dalam keadaan tak sadarkan diri."
Taehyung mengalihkan pandangannya dari wajah Hoseok. Menatap langit-langit dengan sendu. Taehyung menangis.
"Tae, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja? Dokter mengatakan padaku jika aku harus...menjagamu dengan baik...karena kau bisa drop kapan saja...A-aku tidak mengerti sebenarnya..."
Hoseok semakin bingung melihat Taehyung yang terisak semakin keras. Wajahnya menunjukkan ia begitu rapuh dan butuh sandaran sekarang. Jujur saja, Hoseok teringat Jungkook. Ia akan memeluk Jungkook jika namja manis itu tengah menangis seperti Taehyung. Persis seperti saat-saat sebelum mereka menikah. Namun sayang, tiga belas bulan ia mencari, sosok manis-nya itu tak pernah ia temukan.
"Hyung, nikahi aku."
Mata Hoseok melebar dua kali lipat. Ia salah dengar kan?
"Hyung kumohon...nikahi aku...hiks...aku tidak tahu harus memohon pada siapa lagi...hiks..."
"T-tae...a-apa maksudmu?"
Taehyung menatap memohon pada Hoseok. Kentara sekali raut terkejut di wajah namja yang sudah ia anggap kakak kandung ini.
"Hyung aku hamil...hiks..anak Seokjin hyung.."
Hoseok bagai terjatuh kedalam jurang. Ia tidak percaya.
"Tae jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda hyung! Aku hamil! Anak Seokjin hyung dan Seokjin hyung menghianatiku!"
"Tae aku sudah punya Jungkook, kau tahu itu."
Taehyung bangkit dari tidurannya dan duduk menghadap Hoseok.
"Aku tahu hyung, hiks aku tahu..tapi apa yang harus kulakukan sekarang? Aku mungkin bisa menunggunya pulang, tapi anak ini tidak bisa hyung. Dia butuh ikatan hukum yang jelas diantara orang tuanya! Dia butuh seorang ayah dan Seokjin hyung memintaku mengatakan hal ini padamu!"
Hoseok diam. Ia memperhatikan segala luapan emosi dan frustasi Taehyung yang menggebu. Ia merasakan rasa sakit melihat Taehyung. Adiknya tak jauh polosnya dari Jungkook. Mereka berdua adalah orang yang paling berharga bagi Hoseok, setelah ibunya. Ia mencintai Jungkook dan ia menyayangi Taehyung. Namun kenyataan membuatnya merasa bodoh. Ia kehilangan Jungkook atas kebodohannya sendiri dan menyaksikan Taehyung hancur karena sahabatnya sendiri, yang bahkan sudah beribu kali berjanji akan membahagiakan Taehyung. Jungkook dan Taehyung hanya mengenal cinta yang tulus, bukan sebuah penghianatan seperti ini. Hoseok menyindir dirinya sendiri? Tidak. Ini lebih ke-mengumpati diri sendiri. Ia harus apa sekarang?
"Hyung..." Taehyung memanggil. Nada suaranya begitu lemah.
Hoseok meraih bahu Taehyung dan memeluknya. Membiarkan Taehyung menangis. Ia tahu ini begitu berat. Dia hamil di luar nikah, dan ayah dari bayi-nya pergi begitu saja. Hanya meniggalkan janji manis yang palsu.
"Taehyung.."
Taehyung tidak menjawab. Sebuah beban Hoseok rasakan pada dadanya. Seperti ada yang bersandar disana.
"Tae!"
Taehyung kembali tidak sadarkan diri, membuat Hoseok kalang kabut memanggil dokter yang menanganinya.
"Tuan, bisa ikut saya ke ruangan saya sebentar?"
Hoseok mengangguk dan mengikuti dokter berambut orange itu ke ruangannya setelah selesai memeriksa Taehyung.
"Silahkan duduk."
Hoseok menurut saja. Mengambil tempat duduk di depan meja kerja dokter bernama Park Jimin itu. Saling berseberangan dan berhadapan.
"Ini kondisi yang serius. Tubuh Taehyung-ssi tidak sekuat para namja umumnya yang mengalami kasus yang sama dengannya. Kurasa anda sudah tahu jika Taehyung-ssi tengah mengandung tiga minggu."
Untuk sekejap Hoseok menganga. Tiga minggu? Itu berarti tepat tiga minggu setelah kepergian Seokjin ke Amerika. Jika seperti itu, saat Seokjin berangkat ke Amerika, Taehyung sudah hamil. Tuhan...
"Tolong jangan membiarkan Taehyung-ssi terlarut dalam stress yang dialamainya. Ini bisa berdampak buruk pada kandungannya. Kandungannya sangat lemah dan ini masih masa awal. Saya takut janin-nya tidak akan mampu bertahan lama."
"Maksud anda, Taehyung bisa saja keguguran?"
Jimin mengangguk dengan raut wajah menyesal.
"Dia harus menjalani perawatan lebih dari dua minggu mulai saat ini. Jika tidak, Taehyung-ssi akan semakin sering pingsan dan kondisinya semakin melemah. Jika hal ini terjadi, bukan hanya janin-nya saja yang tidak mampu bertahan. Tapi ibunya juga tidak akan bertahan."
Hoseok semakin terkejut dengan semua penjelasan yang diutarakan dokter muda dihadapannya ini. Jadi, Taehyung bertaruh nyawa dalam hal ini? Apa yang harus ia lakukan?
"Sialan kau Kim Seokjin!"—desis Hoseok dalam hati.
.
.
.
.
.
.
"Taehyung, menikahlah dengan Hoseok. Hanya dia yang bisa membantumu. Aku tahu kau terluka, tapi aku tidak bisa berbuat apapun Taehyung. Aku juga terluka karena dengan bodohnya berdiam disini. Seharusnya aku kembali ke Korea, menikahimu. Tapi aku tidak bisa berbuat apapun Tae. Aku mohon mengertilah. Jagalah anak itu, rawatlah dan besarkan dia bersama Hoseok. Biarkan dia memakai marga Jung. Aku menghargaimu Taehyung, sangat. Dan aku berjanji satu hal pada kalian. Setelah anak itu lahir, setelah ia berusia tiga tahun. Aku akan menjemput kalian. Aku janji padamu Taehyung. Aku akan membantumu memohon pada Hoseok dan juga...Jungkook. Aku mencintaimu, Park Taehyung. Dan aku minta maaf. Maafkan aku..."
.
.
.
.
"Eomma, nikahkan aku dengan Taehyung. Minggu depan."
"A-apa?! Kau sudah gila Hoseok? Pernikahanmu dengan Jungkook masih legal!"
"Aku tahu eomma, tapi hanya ini yang bisa kuperbuat untuk menolong Taehyung. Jungkook pasti...akan mengerti"
.
.
.
.
.
.
.
.
.tBc.
Yuhu~~~ Chapter ini isinya FULL FLASHBACK ya~~ ini mengisahkan ada apa diantara Hoseok dan Taehyung, dan apa alasan dari Hoseok yang mengatakan jika 'Jung' pada namanya Hyunjin akan berubah menjadi 'Kim' sebentar lagi. Dan sepertinya kalian sudah tahu siapa ayah Hyunjin sejak chapter kemarin. Kim Seokjin. Dan inilah alasan mengapa Taehyung menikah dengan Hoseok sementara pernikahan Hoseok dengan Jungkook masih legal.
Pada bingung nggak dengan Chapter ini? Udah jelas belum? Semoga aja nggak bingung dan udah lumayan jelas ya^^
Maafkan karena chapter ini Jungkook gak muncul dan kesannya fokus pada Taehyung. Memang saya sengaja hanya memfokuskan pada Taehyung di chapt ini. Supaya readers-deul mengetahui masa lalu HopeV*ugh, nulis hopev nya kok nyesek ya*, dan untuk masa lalu Jungkook, ada di chapt" depan, tidak diberitahu chapter berapa ya~~^^
Oke, saatnya balas-balas review~~
GithaCallie : Jungho koma tenang aja, gak lama kok. Saya juga kesian plus gak tega kalo lama komanya. TFR ^^
DozhilaChika : aku juga sayang sama Jungho HopeKook Mrate?! Sumpah ini aku kaget sama reviewmu~ kayaknya aku gak nulis Rate-M deh...coba cek egen, mungkin maksud kamu itu M-PREG. Iyasih, M-Preg seharusnya ada di rated M bukan T, soalnya itu bukan konsumsi anak dibawah 17 taun, *padahal aku masih 16 tahun -_-* tapi karena gak ada adegan sesuanu nya, aku kasih rated T. Solanya genre utamanya Family-Angst. Coba deh dicek ulang, jangan-jangan kamu salah baca~ TFR^^
Michaelchildhood : jangan baper pweasee~~ Jungho pasti bangun kok ini udah jelas pan flashbacknya Tae? Udah aja ya xD TFR^^
Tryss : Jungie bangun kok ntar tapi, gak bakalan lama-lama kok komanya. TFR^^
Yessi94esy : Park Taehyung? Bukan~ dia bukan sodaranya Park Jimin, khan chapter berapa ya *lupa* pas waktu Yongguk meninggal udah sempat disinggung siapa ayah Taehyung, dan disini dijelaskan juga siapa ayahnya Taehyung. Yapz, Park Chanyeol ayahnya Taehyung, dan ibunya Park/Byun Baekhyun. Jadi itulah mengapa marga Taehyung diubah jadi Park. Dan dia smaa Jimin nggak sodaran, jimin beda lagi. Hehehe... TFR^^
Hopekies : Kenapa Tae nikah sm Hoseok kalo dia udah ada Seokjin? Disini terjawab sudah pertanyaanmu~ semoga nggak bingung ya~ TFR^^
JeonJeonzKim : Park Taehyung? Bukan~ dia bukan adenya Jimin~ khan pas waktu Yongguk meninggal udah pernah disinggung, dan disini juga udah dijelasin, Taehyung itu anaknya Park Chanyeol, dan dia sama Jimin nggak sodaraan. Jimin beda lagi. Hehehe... TFR ^^
KahoriKen : Hyunjin anak JinV. Trs knp nikahnya sm Hoseok? Disini pertanyaanmu terjawab~~ semoga nggak bingung ya~ TFR ^^
Diannurmayasari15 : Jadi Hyunjin itu anak Seokjin? Kok bisa. Bisa dong~~ jawabannya di chapter ini. Hehehe... TFR ^^
Guest : Tae pernah nikah dengan Jin baru cerai gitu? Baru nikah dengan hobi? Nggak kok, dia sama Seokjin belum nikah ._. kenapa? Di chapter ini terjawab. Hehe... Waduh! Apdet langsung dua chapt? maaf nggak bisa satu-satu aja biar kalian makin penasaran~ mwehehe... penjelsan? Kemungkinan aku kasih, tapi di ending. ^^ TFR ^^
Dhope : Aku kok ketawa ya baca review-mu xD iya, Jungho bangun kok nanti~ beneran deh TFR ^^
YM44 : Hyunjin baik banget yak...mau berbagi. Hahaha...aku ketawa baca ini, sumpah. Sebenarnya yang berbagi itu Jungho ke Hyunjin, bukan Hyunjin ke Jungho. Why? Karena sejatinya, si Hoseok itu bapaknya Jungho, kok bisa? Jawabnnya ada disini, hehehe... TFR ^^
TaeHobi : apdet dua langsung ya...eumm...maaf ya, nggak bisa, hehe... xD penjelasannya kemungkinan aku kasih, tapi di ending. Heheh... TFR ^^
Kuki0123 : Rumit ya...semoga abis baca chapter ini gak terlalu rumit lagi ya. Hehe... TFR ^^
Okey...ini udah jam setengah dua belas, dan saya baru selesai bales review kalian~ dan apa ini? 100 lebih review nya? Saya senang sekali makasih readers-deul *nangis haru bareng hopekook* makasih maasih makasih *tebar cinta* makasih dukungan kalian~ saya terharu sampe rasanya pengen teriak-teriak, tapi saya sadar ini sudah malam -_- Baiklah readers-deul,
See you next chapt~~
RnR please~~ juseyo~~
Gamsha~
Rae#
