House of Cards

BTS

HopeKook

.

.

.

.

.

.

Rae Present

.

Tittle : House of Cards

Author : Rae

Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others

Rated : T, G, K

Cast : HopeKook [with Other's]

Length : Chaptered

Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.

Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...

TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^

.

.

.

.

"Begitulah pernikahan itu terjadi. Maafkan aku Jungkook-ah..."

Mata bulat Jungkook berkaca-kaca memandang manik gelap Taehyung yang menatapnya bersalah. Seolah mengucapkan maaf tiada henti.

"Taehyung, aku yang harusnya minta maaf disini. Aku meninggalkan kalian begitu saja dan memaksa Hoseok menikah denganmu. Aku yang salah Tae.."

Seokjin meraih bahu Taehyung dan memeluknya hangat.

"Jadi Jungkook, apa kau akan kembali bersama dengan Hoseok hyung?"

Menoleh menatap Hoseok, Jungkook mengembangkan senyum manisnya. Membuat mata bulatnya melengkung cantik. Menimbulkan desiran halus di dada Hoseok. Oh, sudah berapa lama dirinya tidak melihat senyum sempurna istrinya itu? Falling in love again huh...

"Ya. Tapi tidak sekarang Tae."

Dahi Hoseok berkerut meminta penjelasan.

"Hoseok hyung, kita masih legal. Kita masih suami-istri yang sah secara hukum. Kita masih terikat. Tapi kau juga terikat dengan Taehyung. Jadi..."

"Aku akan berpisah dengan Hoseok hyung! Kau tidak perlu khawatir Jungkook. Bagaimanapun juga, Nyonya Jung yang sebenarnya itu adalah dirimu." Ucapan Teahyung yang terkesan tergesa memotong ucapan Jungkook.

"Taehyung akan menikah bersama Seokjin, Kookie."

Marbel Jungkook mengerjap beberapa kali. "Lalu Hyunjin?"

"Dia akan ikut dengan kami."

"Jadi, kembalilah pada Hoseok."

.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook duduk disebelah tempat tidur Jungho. Ia memandang miris putranya. Sunguh demi apapun! Jungkook rela berbaring disana dan merasakan segala macam rasa sakit asal bukan putranya yang ada disana. Jungkook merasa gagal menjadi seorang ibu yang melindungi putranya.

"Kookie, istirahatlah. Biar aku yang menjaga Jungho."

Jungkook menggeleng. "Tidak hyung. Kau saja yang beristirahat. Kau terlihat begitu lelah."

Hoseok menghela nafas kemudian memeluk Jungkook dari belakang. Menghirup wangi Jungkook yang masih sama meski tujuh tahun berlalu.

"Bisakah kau duduk di sofa sana dan membiarkanku tidur diatas pahamu?"

Kekehan kecil keluar dari bibir Jungkook. Ia mengusap sayang surai cokelat tua Hoseok yang bertumpu dibahu kanannya.

"Hyung, putramu terbaring sakit disana dan kau memintaku melakukan hal seperti itu? Jangan konyol hyung."

"Aku tidak konyol, Jung Jungkook. Itu 'Hak'-ku!" Hoseok memberikan penekanan pada kata 'Hak'-nya.

"Aku akan melakukannya. Tapi nanti, setelah Jungie bangun."

Hoseok mendengus. Ia beralih menatap Jungho tanpa sedikit pun beranjak dari posisinya memeluk Jungkook.

"Aku merasa bersalah, Kook."

"Untuk?"

"Semuanya. Dirimu, Jungie, dan juga...Yongguk appa."

Jungkook sedikit tersentak. Kenapa nama mendiang ayahnya dibawa-bawa?

"Kenapa dengan appa?"

"Lima bulan setelah kepergianmu waktu itu, aku mendatangi ayahmu. Menerima segala umpatan kasar yang baru sekali seumur hidup kudengar langsung dari beliau. Ia memaki-ku, bahkan nyaris memukuliku...jika saja Himchanie eomma tidak menahannya. Kau tahu apa yang appa katakan?"

Jungkook menggeleng.

"Jung Hoseok. Aku bodoh telah mempercayakan putraku padamu." Hoseok sedikit meringis mengucapkannya. Terlintas dipikirannya wajah penuh amarah Yongguk waktu itu.

"Appa bilang jika aku adalah laki-laki terbodoh yang pernah menyia-nyiakan putra bungsunya. Yang dengan begitu bodohnya percaya hal fana seperti itu. Yang dengan bodohnya membuat putra bungsunya hilang bak ditelan bumi. Yang dengan bodohnya mencari setelah semuanya hancur. Haha...appa benar, aku bodoh Kook."

"Dan aku menyetujui kata-kata beliau. Jika saja saat itu aku memilih mendengar penjelasanmu daripada mengusirmu. Mungkin aku akan mencari semua kebenarannya dan menjaga kalian berdua. Menemanimu dalam masa-masa sulitmu, seperti aku yang menemani Taehyung yang sekarat waktu itu. Hidup bahagia bersama keluarga kecilku dan mengirim Taehyung ke Amerika. Membiarkan Hyunjin dibesarkan di tengah-tengah keluarga biologisnya. Merengkuh Jungho dalam dekapanku. Tapi sayang, itu hanya angan-angan masa lalu."

"Kau tahu, Yongguk appa begitu membenciku setelah semua itu. Hanya Himchan eomma yang menaruh setitik harapan padaku jika aku akan membawamu kembali. Hingga apa meninggal pun, aku masih belum mendapat maaf darinya. Appa belum memaafkanku. Aku merasa begitu bersalah Kook, mungkin saja appa akan terbebani dengan hal ini."

Jungkook mengusap wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Semenjak Hoseok mulai bercerita, satu-persatu kenangan pahitnya terbuka. Dan Jungkook benci itu.

"Hyung..." suaranya terdengar parau. Hoseok tercekat dan membalikkan tubuh Jungkook. Didapatinya wajah manis itu basah oleh air mata.

"Kookie, wae? Kenapa menangis?"

"Appa sudah memaafkanmu, hyung. Percayalah..."

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook terbangun saat sinar mentari pagi menerobos kedalam retina matanya secara perlahan. Matanya perlahan-lahan terbuka. Sedikit membiasakan diri.

Jungkook memperhatikan sekitarnya. Sejak kapan ia tidur disofa dengan sebuah selimut?

"Sudah bangun, Jungie eomma?"

"Hyung?"

Jungkook membawa tubuhnya untuk duduk dan menatap heran Hoseok yang kini duduk didepannya.

"Kau tahu, kau menangis sampai tertidur di sana semalam." Telunjuk Hoseok menunjuk sebuah kursi di sebelah tempat tidur Jungho.

"Benarkah? Kau yang memindahkanku kesini?"

Sebuah anggukan menjadi jawaban dari Hoseok.

"Apa ada perkembangan dari Jungie hyung?"

Hoseok menggeleng. "Belum. Semua butuh proses, sayang."

Jungkook membawa tubuhnya beranjak dari sofa dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia kembali dan mendapati Hoseok duduk di kursi yang tadi ditunjuknya. Berbicara dengan Jungho.

"Jungie, kau mendengarnya kan? Daddy disini sayang. Buka matamu ne?"

Jungkook mematung di ambang pintu. Ini pertama kalinya ia mendengar Hoseok memproklamasikan dirinya dengan sebutan 'daddy' dihadapan Jungho.

"Hoseok hyung.."

Kepala bersurai cokelat tua itu meoleh.

"Antarkan aku ketempat Hyunjin ya.."

.

.

.

.

.

.

"Dia baik-baik saja, Kook. Dokter bilang, Hyunjin akan segera sadar karena pengaruh obat biusnya sudah mulai melemah."

Jungkook ikut tersenyum seperti yang Taehyung lakukan. Hoseok benar-benar mengantarnya ke ruang rawat Hyunjin yang tepat berjarak dua kamar dari ruangan Jungho. Meninggalkannya berdua dengan Taehyung.

"Kuharap Hyunjin cepat sadar Tae."

"Kuharap Jungie juga."

Senyum kembali terkembang di bibir Jungkook. "Terima kasih."

"Kapan kau tinggal bersama Hoseok hyung? Aku akan pindah dengan Seokjin hyung saat kau sudah disana."

"Aku tidak tahu." Gelengan pelan dari Jungkook membuat kening Taehyung berkerut.

"Kenapa?"

Jungkook kembali menggeleng.

"Hyung tahu kan, ayahnya Hoseok hyung begitu tidak menyukaiku."

Taehyung ikut menunduk lesu saat bahu Jungkook merosot. Menandakan namja manis itu tengah bersedih.

"Taekwoon appa dan Hakyeon eomma belum tahu yang sebenarnya."

"Apa?!"

"Mereka mengira jika Hyunjin adalah putra Hoseok hyung. Karena mereka tahu aku hamil setelah dua minggu menikah dengan Hoseok hyung. Padahal kenyataannya aku sudah hamil satu bulan waktu itu. Terlebih Hyunjin terlahir prematur dan ia mewarisi hampir seluruh wajahku, kecuali matanya. Ia memiliki mata ayahnya."

Jungkook sedikit melongo mendengar penuturan Taehyung. Jadi, yang tahu jika Jung Hyunjin itu sebenarnya adalah putra seorang Kim Seokjin, hanya Taehyung, Hoseok, dan Seokjin sendiri?

"Hyunjin prematur?"

"Ya. Seharusnya ia dan Jungho terpaut usia dua tahun tiga bulan. Mengingat aku hamil saat bulan ke-tiga belas kau menghilang. Tapi ia lahir saat bulan April. Itu artinya, ia lahir saat usia kandunganku baru berusia delapan bulan."

"B-bagimana Hyunjin bisa prematur Tae?" kentara sekali jika Jungkook terkejut sekaligus bingung dengan penjelasan Taehyung. Bayi lahir prematur hanya ada dua kemungkinan, kandungan lemah dan penyakit. Tapi Hyunjin tampak sehat-sehat saja.

"Kandunganku lemah Kook. Saat aku hamil, aku dalam kondisi stress yang berlebihan. Bahkan bulan pertama hingga bulan kelima usia kandunganku, aku hanya mampu berbaring diatas tempat tidur rumah sakit dan bergantung pada segala macam obat-obatan agar janinku bertahan minimal sampai berusia tujuh bulan. Dan saat kandunganku genap delapan bulan, Hyunjin dipaksa lahir secara prematur karena kondisiku tidak memungkinkan untuk mengandungnya selama genap sembilan bulan."

Mata Jungkook semakin melebar. Taehyung berada di antara hidup dan mati saat mengandung Hyunjin. Tak jauh beda dengan dirinya saat mengandung Jungho.

"Aku nyaris kehilangan Jungho, Tae."

"Hah?! Maksudmu?" kini giliran mata gelap Taehyung yang terbelalak.

"Aku nyaris keguguran tiga kali. Itu yang menyebabkan Jungho memiliki kelainan pada darahnya. Yah, aku juga tidak mengerti saat dokter megatakan kenapa 'nyaris keguguran' berdampak pada 'kelainan darah'."

Nafas Taehyung tercekat. Tiga kali? Itu bukan angka yang sedikit bagi ibu—namja—hamil!

"B-bagaimana bisa?"

"Pertama, saat usia kandunganku baru menginjak satu bulan. Saat aku pertama kali mengetahuinya. Saat kejadian menyesakkan itu terjadi. Saat aku diusir Hoseok hyung dari mansion Jung. Hoseok hyung mendorongku hingga membentur lantai."

Taehyung menarik nafasnya. Entah mengapa ia merasa ngeri untuk mendengar cerita Jungkook selanjutnya.

"Aku pergi ke rumah sakit ini dan bertemu Park Jimin, seorang dokter kandungan disini. Jimin mengatakan padaku, jika aku bisa saja keguguran jika aku terlambat datang lima menit. Janinku hampir bergeser dari tempatnya."

"Jungkook, aku tidak membayangkan betapa sakitnya itu. Dan kau pergi ke London dengan keadaan seperti itu?"

Jungkook menggeleng.

"Jimin membawaku ke rumahnya setelah aku menangis tidak ingin kembali ke rumahku sendiri. Aku bertemu istrinya, seorang namja cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah. Dokter yang menangani Jungho dan Hyunjin kemarin. Park Yoongi."

"Apa? Kau dan dokter Park saling mengenal?"

"Ya. Dan aku tinggal di sana selama seminggu. Memulihkan kondisiku, sebelum aku memutuskan pergi ke London."

"Kau pergi ke London seminggu kemudian?"

Sebuah anggukan dan senyuman Taehyung terima.

"Ya. Dan saat aku pertama kali tiba di London, hah...aku tidak sanggup menceritakannya Tae, maaf..."

Taehyung mengusap bahu Jungkook. Ia mengerti perasaan Jungkook. Itu kenangan masa lalu yang pahit.

"Tidak apa-apa, aku mengerti.."

"Terima kasih, dan...aku harus kembali ke ruangan Jungho."

Taehyung tersenyum dan mengantar Jungkook sampai ke pintu. Mempersilahkan istri pertama Jung Hoseok itu kembali ke tempat putranya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook tidak kembali ke kamar Jungho. Ia berbelok ke kanan menuju ke lorong yang mengarah ke tempat yang disebut kamar mandi. Pikirannya melanglang-buana...berkelana ke masa silam yang sejujurnya tidak ingin ia ingat, mengingat bagaimana dirinya dan keluarganya yang sekarang.

.

.

.

.

.

FLASHBACK

.

Juli, 28th

.

.

"Ya. Saya bersedia."

"Mulai saat ini, kalian resmi menjadi sepasang suami-istri. Saling mencintai hingga maut memisahkan kalian."

Riuh tepuk tangan para tamu undangan memenuhi sebuah gereja di tengah-tengah kota Busan. Di sebuah gereja yang sudah di sulap sedemikian rupa untuk dijadikan tempat suci pengikraran janji dua insan manusia yang saling mencintai dihadapan Tuhan.

"Jung Hoseok-ssi, silahkan mencium pasangan anda."

Namja tampan berbalut tuxedo putih dengan rambut hitam legamnya, menatap penuh arti pada namja manis dihadapannya.

"Kim Jungkook, aku mencintaimu."

Dua bibir itu saling menyatu. Menyalurkan perasaan cinta yang membuncah hingga rasanya mereka terbang diatas awan. Menerbangkan jutaan kupu-kupu di dalam perut. Mengembangkan senyuman paling bahagia di sela ciuman manisnya.

"Aku juga mencintaimu, Hoseok hyung."

.

.

.

.

.

.

August, 1st

.

.

Jam menunjukkan pukul enam tiga puluh malam. Ini hari pertama Jungkook menginjakkan kakinya di mansion Jung, sebagai salah satu bagian di dalamnya. Menyandang gelar istri Tuan Jung yang bungsu. Sebagai seorang istri Jung Hoseok, yang menikahinya tiga hari yang lalu di kota kelahirannya.

"Kookie~~ ayo masuk sayang~" seorang namja manis dengan kulit sedikit lebih gelap merentangkan kedua lengannya. Bermaksud meminta sebuah pelukan selamat datang.

"Annyeonghaseo, Hakyeonie eomma." Jungkook memberikan sebuah pelukan hangat pada ibu—ehm—mertuanya.

"Anggap rumah sendiri ya sayang...Oh ya! Dimana Hosiki?"

"Aku disini eomma~"

Hakyeon menoleh ke belakang Jungkook. Putra bungsunya tengah berdiri di belakang sang istri.

"Aigoo~~ sini! Beri ibumu ini sebuah pelukan!"

Hoseok terkekeh namun tetap memberikan sebuah pelukan untuk ibunya.

"Masuklah ke kamar kalian. Eomma akan memanggil saat jam makan malam. Daehyunie akan berkunjung hari ini." Senyum merekah mengiringi wajah manis Nyonya Jung.

"Hyung datang?! Astaga~ ia bahkan tidak datang di hari pernikahanku!"

"Mungkin Daehyun hyung sangat sibuk, hyung."

Oh! Hoseok bahkan lupa jika ia mengajak sang istri ke rumah ini. Salahkan saja otaknya yang masih terbiasa dengan kebiasaan lamanya sebelum menikah.

"Kau membelanya Kookie? Tidak membela suami-mu yang tampan ini?"

Putaran bola mata malas Jungkook hadiahkan untuk Hoseok. Daehyun dan Hoseok tidak ada bedanya. Sama-sama narsis! Pantas saja Youngjae—istri Daehyun—pernah memperingatkannya dulu.

"Aigoo~~ jangan bermesraan disini! Sana ke kamar kalian!" Hakyeon dengan gemas berjalan meninggalkan Hoseok dan Jungkook. Sungguh, ibu dua anak itu tengah menahan senyum saat ini.

"Kau dengar Kookie? Eomma meminta kita untuk bermesraan di kamar. Hm?"

"A-apaan sih hyung!"

Jungkook mendorong bahu Hoseok menjauh saat dirasanya namja tampan itu berbisik begitu rendah di telinganya. Sial! Hoseok berniat menggodanya. Apalagi dengan tampang mesumnya itu.

"Ja~~ kita lanjutkan yang semalam tertunda. Berapa ronde hm?"

"Hyung!" Jungkook memekik.

Bagaimana tidak? Hoseok dengan seenak jidatnya menggendong dirinya menaiki tangga. Brydal style. Dan Jungkook bersumpah, ia mendengar cekikikan ibu mertuanya dari arah dapur.

Aihh~~ rumah ini auranya 'negatif'.

.

.

.

.

.

.

.

Mata tajam Tuan Jung tidak lepas dari Jungkook. Membuat Jungkook merasa kecil di sini. Di saat ia duduk bersebelahan dengan Hoseok di meja makan untuk makan malam bersama keluarga Jung lainnya.

"Kenapa anak itu ada disini?"

Bahkan Jungkook baru saja hendak mengucapkan doa di dalam hatinya, tetapi ayah mertuanya ini sudah lebih dulu mematahkan harapan doa Jungkook yang belum terucap.

"Dia istriku appa, jadi ia berhak disini selama aku juga ada disini."

Tuan Jung mendengus. Menatap remeh Hoseok.

"Dengar Jung Hoseok, aku tidak pernah menganggap anak ini sebagai istrimu dan menantuku."

Kini giliran Hoseok yang mendengus.

"Bisakah appa berhenti membicarakan hal tidak berguna seperti ini huh?"

"Sudahlah, Taekwoonie. Terima Jungkookie dan hapus ego tak beralasanmu itu." Kali ini Nyonya Jung ikut bersuara. Dalam hatinya ia merasa tidak enak dengan menantunya yang bahkan baru beberapa jam yang lalu tiba disini.

"Jung Hakyeon kau diamlah."

"Kau memandang menantuku seperti itu dan kau menyuruhku diam? Ya Tuhan, otakmu itu sebenarnya terisi apa sih?!" Nyonya Jung membanting sendoknya dengan keras di atas meja makan.

"Hei! Bisakah kalian bertiga tidak bertengkar disini? Lihatlah Jungkook, dia disini, eomma, appa! Dan kau Jung Hoseok, lihat keadaan istrimu sekarang!"

Daehyun mendelik tajam pada tiga orang dewasa yang menurutnya sangat menyebalkan. Ayahnya, ibunya, dan juga adiknya. Ugh..Daehyun menjadi merasa kasian pada adik iparnya yang sungguh, seharusnya pertengkaran tak bermutu ini tidak terjadi di depan Jungkook.

"A-ahh..aku tidak apa-apa, Daehyun Hyung..." suara Jungkook bergetar. Ia takut sebenarnya.

"Lihat! Apa kalian tidak berfikir jika seharusnya hal bodoh ini tidak perlu kalian lakukan? Setidaknya tidak dihadapan Jungkook!" Oke, Daehyun melupakan sopan santunnya. Persetan dengan itu semua, ia benci sekaligus malu melihat orang tua dan adiknya selalu adu mulut seperti ini.

"Jung Daehyun, lebih baik kau diam!"

Dengusan kesal terdengar dari Daehyun. Ia meraih gelas minumnya dan meminum isinya dalam sekali teguk.

"Appa, aku tahu kau tidak suka Jungkook. Tapi tolong...setidaknya jangan seperti ini di depannya. Kau sama saja menyakitiku appa." Ini Hoseok. Ia memandang sedih ayahnya yang memandang tajam pada dirinya.

"Coba saja jika kau menuruti perkataanku untuk menikah dengan Taehyung, ini semua tidak akan terjadi."

""Appa!/Taekwoon!""

SRET.

"Ma-maaf, aku akan kembali ke kamar. Permisi, eomma, appa."

Jungkook berdiri dari duduknya. Membungkuk sebentar dan melangkah meningalkan meja makan dan menghiraukan teriakan Hoseok dan Nyonya Jung yang menyuruhnya kembali duduk.

.

.

.

.

.

.

.

"Mianhae.."

Jungkook melirik lengan kokoh yang baru saja melingkari pinggangnya dengan manis. Memeluknya dari belakang.

"Maafkan aku Kookie..."

Membawa lengannya untuk diletakkan di atas lengan yang memeluknya. Jungkook bersandar sepenuhnya pada dada bidang orang yang menikahinya beberapa hari yang lalu. Matanya memandang lurus langit gelap dari atas balkon kamarnya.

"Hyung..."

"Hm?"

"Mungkin memang sebaiknya kau menikahi Taehyung, bukan diriku."

Nadanya terdengar miris dan terluka. Oh ayolah, siapa yang tidak akan terluka jika disikapi seperti itu oleh mertuanya sendiri.

"Kau ini bicara apa Kook. Itu tidak mungkin terjadi." Pelukan di pinggang Jungkook mengerat.

"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Hyung."

"Kurasa satu hal yang tadi presentase kemungkinannya hanya lima persen. Kau tahu aku hanya mencintaimu."

Diam-diam Jungkook tersenyum dengan setetes air mata mengalir perlahan menuruni pipinya dan jatuh tepat diatas lengan yang memeluknya.

"Ayahmu tidak menyukaiku."

"Tidak. Appa hanya belum menyukaimu sayang."

Jungkook tertawa. Orang bodoh akan tahu jika tawa Jungkook memilukan.

"Hanya belum, dan selamanya akan seperti itu."

Terdengar helaan nafas dari belakang Jungkook.

"Jung Jungkook,"

"Hm?"

"Kau istriku. Harusnya kau percaya semua yang aku katakan."

"Aku percaya. Tapi.."

Jungkook membiarkan air mata yang sudah berkumpul di ujung matanya jatuh begitu saja. Semakin lama semakin deras.

"Aku takut aku tidak bisa bertahan."

Tubuh Jungkook dibalik tiba-tiba hingga ia berhadapan dengan namja tampan berstatus suaminya, Jung Hoseok. Ia melihat wajah tampan itu terkejut dengan air matanya.

"Dengarkan aku."

Hoseok menarik nafasnya dan menggenggam kedua tangan Jungkook erat. Seolah Jungkook akan terbang jauh jika genggamannya terlepas.

"Kita tidak akan tinggal disini lagi. Aku akan membeli apartemen untuk kita tinggali. Jadi, tunggulah sebentar lagi. Bertahanlah sampai saat itu tiba. Ya?"

Airmata Jungkook tidak berhenti. Wajahnya semakin basah dan isakannya keluar dengan lancar. Ia bahkan tidak mampu memandang manik gelap yang sama terlukanya dengan ia.

"Sayang lihat aku. Aku mencintaimu. Jadi jangan pernah sekalipun berfikiran jika kau tidak akan bertahan denganku. Sekalipun jangan pernah."

Jungkook mengangguk pelan. Membiarkan Hoseok membawanya ke dalam dekapan hangatnya.

"Aku akan bertahan. Meski nanti kita tidak akan bersama, percayalah aku masih mencintaimu sampai saat itu dan seterusnya."

.

.

.

.

.

.

.

September 24,

.

.

Langkah kaki Jungkook begitu ringan. Di tangan kanannya ada sebuah paper bag ber-logo-kan sebuah toko ternama di Korea. Ya, Jungkook baru saja membeli sesuatu.

Hari ini Hoseok bilang jika ia sudah membeli sebuah apartemen baru untuk mereka tempati. Setelah dua bulan lamanya, akhirnya hal itu bisa terwujud. Meski Hoseok harus kerja keras banting tulang seorang diri. Ia bilang, ia tidak mau menerima 'bantuan' apapun dari keluarga Jung untuk apartemennya. Dan Jungkook baru saja membeli sebuah jam meja dengan desain eropa klasik. Berniat meminta Hoseok untuk meletakkannya di apartemen baru mereka.

Brak.

Baru saja Jungkook tersenyum membayangkan hari pertamanya di apartemen besok, ia telah dikejutkan dengan paper bagnya yang jatuh ke trotoar. Ia memekik sesaat dan hendak memarahi orang yang baru saja menabraknya. Tidak sampai sebuah suara terdengar.

"Junni-ya, kau tidak apa-apa?"

Seorang namja yang Jungkook perkirakan beberapa tahun lebih tua dari Daehyun tengah berjongkok di sebelah anak perempuan yang ternyata adalah orang yang menabrak Jungkook.

"Maaf, apa dia putri anda?"

Orang itu mengangguk. "Maafkan kesalahan putriku, Tuan."

Jungkook menggaruk tengkuknya canggung. Ia melihat anak perempuan itu menangis karena darah keluar dari lututnya yang tergores.

"Sepertinya putrimu terluka. Sini, biar aku yang mengobati. Kebetulan aku membawa obat luka tadi."

Jungkook berjongkok dan mulai mengobati luka anak kecil yang diketahui bernama Junni itu.

"Akh! Perih~~"

Junni menangis saat ia mencoba berdiri. Wajar saja karena Jungkook rasa luka di lututnya cukup dalam. Dan Jungkook merasa bersalah karena telah berfikir untuk memarahi anak ini.

"Ugh...sudah sayang. Jangan menangis, sini paman gendong.."

Jungkook mengulurkan kedua lengannya dan disambut manja oleh gadis cilik berusia sekitar tiga tahunan itu. Dan ngomong-ngomong, Jungkook geli sendiri dengan sebutan 'paman' untuk dirinya.

"Huhuhu...appa~ ini sakit~"

Anak itu merengek pada ayahnya sambil menujuk lututnya. Dan ayahnya mendekat untuk melihat lukanya.

Dan Jungkook cukup terkejut karena namja itu meletakkan sebelah lengannya di pinggangnya dan yang lainnya di lutut anaknya. Ugh, wajah mereka teralu dekat. Dan Jungkook sadar ini tidak benar. Ia sudah memiliki suami bung!

"Eum..ma-maf, tapi saya harus segera pergi. Maaf Tuan."

Namja dihadapan Jungkook tersenyum paham dan mengambil alih Junni dari gendongannya.

"Maaf merepotkanmu dan juga telah menabrakmu."

"Tidak apa-apa. Itu hanya kesalahan kecil. baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa!"

Jungkook buru-buru melangkah menjauh. Sungguh, perasaannya tiba-tiba saja tidak enak.

Dan tanpa Jungkook sadari, namja dan anak kecil digendongannya itu tersenyum—menyeringai.

"Selamat, Kim Jungkook."

.

.

FLASHBACK END

.

.

.

.

.

.tBc

Yuhuuuu~~ chapter 10 kambek~~~ gimana-gimana? Aneh? Maaf ya..

Aihh...aku gak bisa bales review, lagi ada acara sekolah. Ini aku update jm segini juga karena ada break. Tapi aku selalu baca review kalian kok. Sekali lagi maaf ya

See you next chapter~

RnR please~ juseyo~

Gamsha~

Rae#