House of Cards

BTS

HopeKook

.

.

.

.

.

.

Rae Present

.

Tittle : House of Cards

Author : Rae

Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others

Rated : T, G, K

Cast : HopeKook [with Other's]

Length : Chaptered

Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.

Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...

TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^

.

.

.

.

Jungkook memandang sendu pantulan wajahnya pada kaca kamar mandi. Terlihat sekali perbedaan yang ada padanya. Sorot matanya kelam. Seperti enggan untuk berbinar. Jungkook akui, ia bahagia sekarang. Tapi disisi lain, ia terluka. Putranya berada disini antara hidup dan mati.

Drrt. Drrt.

Ponsel Jungkook bergetar. Menampilkan ID Hoseok di layarnya.

"Ya hyung?"

"..."

"B-benarkah?! A-aku akan segera kesana sekarang!"

Jungkook memutus panggilannya dan berlari keluar kamar mandi. Air mata bahagia menetes dari mata kirinya. Senyuman lega diiringi ucapan syukur terlontar dari bibirnya.

Jungho sadar dari komanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jungie!"

Jungkook tidak bisa berfikir jernih hingga ia membuka—membanting—pintu ruang rawat Jungho dengan tidak sabaran. Ia menemukan wajah Jungho yang menatapnya bingung sesaat setelah ia masuk.

"J-jungie..." suaranya bergetar. Sarat akan kebahagiaan yang meluap-luap.

"Mom.."

Tangis Jungkook pecah seketika. Ia merindukan panggilan itu. Panggilan paling indah dalam hidupnya. Jungho hanya tertidur sehari semalam, tapi bagi Jungkook terasa seperti setahun.

"Kau baik-baik saja sayang?"

Jungho mengangguk dalam pelukan hangat Jungkook. Matanya memandang lurus ke arah Hoseok yang berdiri di sebelah Jungkook. Mengusap bahu ibunya sambil tersenyum.

"Dad.."

Oh Tuhan! Hoseok lupa caranya bernafas sekarang. Tepat saat bibir mungil itu mengucap sebuah kata yang selama ini hanya Hoseok dengar dari Hyunjin.

"J-jungie.."

"Dad...kemarilah.." Jungho memberi isyarat agar Hoseok mendekat. Memeluk dirinya dan Jungkook bersamaan.

Sebuah isakan lirih terdengar ke telinga Jungkook dan Hoseok yang saling berpelukan dengan Jungho.

"Hiks...aku sudah lama memimpikan hal seperti ini. Hiks..maaf paman Hoseok, Jungie hanya rindu Daddy...maaf memanggilmu seperti itu."

Baju bagian depan Jungkook diremas kuat oleh Jungho. Dan terasa basah. Jungkook juga merasakan tubuh kecil yang di dekapnya ini bergetar seiring tangisannya yang semakin keras.

"Hiks..Mom...mianhae..mianhae mom..."

"Untuk apa sayang? Minta maaf untuk apa?"

Jungho semakin mencengkeram baju Jungkook.

"Grandpa bilang, Jungie boleh ikut grandpa kesana.."

DEG.

Hoseok dan Jungkook mematung. Tanpa sadar keduanya saling pandang. Bingung dengan maksud Jungho.

"Jungie apa maksudmu sayang?" Ini Hoseok. Ia melepas pelukannya dan menghadapkan Jungho ke arahnya. Memandang tegas manik yang sama dengan miliknya itu.

"Paman...grandpa bilang, Jungie boleh ikut grandpa. Hiks...tapi Jungie tidak boleh membawa Mommy..."

"Grandpa? Yongguk Grandpa?"

Jungho mengangguk. Sukses membuat tubuh Jungkook lemas seketika. Ia berjongkok di sebelah tempat tidur dan memandang putranya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Mom...Jungie ingin bertemu dad..."

"..."

"Please Mom..."

Jungkook meraih kepala Jungho untuk di kecupnya lama. Membiarkan air matanya meleleh disana.

Hoseok menunduk. Tangannya terkepal. Ia menangis.

"Mom..."

"Ya sayang. Jungie akan bertemu dad, sekarang."

Jungho tersenyum. Senyuman yang membuat Jungkook semakin terluka dan ketakutan.

"Jungie.." Hoseok memanggil. Sesaat setelah Jungkook meraih tangannya yang terkepal. Seolah mengatakan 'Ya'.

"Sini peluk Daddy sayang.." Kedua lengan Hoseok terbuka, bersiap menyambut si kecil yang menatapnya bingung.

"Paman kenapa?"

Kekehan kecil terdengar dari bibir Hoseok. Ia meraih Jungho ke dalam pelukannya dengan paksa. Menenggelamkan kepalanya pada dada bidangnya. Hoseok tertawa tapi air mata keluar dari matanya.

"Jungie bilang ingin ketemu daddy kan? Lalu kenapa tidak memeluk dad?"

"Paman, jangan buat Jungie berharap!" Nada protes yang manja itu membuat Hoseok semakin tertawa dan menangis.

"Jung-Ho, putra kandung Jung Hoseok dengan Kim Jungkook. Kakak tiri Jung—ah tidak, Kim Hyunjin. Anak tiri bibi Park Taehyung dan paman Kim Seokjin. Puas sayang?"

Manik gelap Jungho membelalak kecil. Mulutnya terbuka seolah bertanya pada Jungkook. Dan ibunya itu tersenyum seraya mengangguk.

"Paman Hoseok daddy-nya Jungie..."

Senyuman lebar terlukis di paras tampan Jungho. Reflek lengannya membalas pelukan Hoseok. Ia merasa...nyaman.

"Paman tidak bohong kan?"

Sebuah gelengan menjadi jawaban bagi Jungho.

"Daddy?"

"Ya sayang?"

Pelukan Jungho mengerat. Ia menangis.

"Dad...a-aku mencintaimu..hiks..maaf..."

"Wae? Kenapa minta maaf sayang?"

Tangisan Jungho semakin keras. Ia memandang ibunya dengan tatapan bersalah.

"Jaga mommy ya dad...untuk Jungie..please..."

Hoseok mengangguk. Tapi ia merasa perasaannya tidak enak.

"Jungie mau kemana?" Jungkook bertanya dengan nafas tercekat dan suara bergetar.

"Ikut grandpa. Jungie tidak bisa melihat Mommy menangis dan terluka. Jadi, karena Dad sudah disini, mungkin Jungie bisa ikut grandpa dan tidak menjadi beban untuk Mommy."

Jungkook jatuh terduduk di lantai. Air matanya semakin deras. Dan Hoseok memeluk erat putra kecilnya. Ia juga menangis. Sungguh demi apapun! Perasaannya tidak enak.

"Appa...jangan bawa Jungie..hiks...kumohon..." Jungkook terdengar memohon.

"Appa tahu kan? Dia itu nyawaku appa, hartaku yang paling berharga. Hiks..j-jika appa membawanya, aku akan seperti apa nantinya? Kumohon jangan appa..."

"Yongguk appa..." suara berat Hoseok terdengar putus asa.

"Aku bersalah appa. Tidak seharusnya aku mendatangi mereka seperti ini. Aku minta maaf appa. Kumohon...jangan bawa Jungie..hiks...J-jungkook mencintainya. Lebih dari apapun, appa!"

"Appa...kumohon..."

"Mom...Dad..."

Keduanya menatap Jungho. Anak yang sekarang terlihat benar-benar seperti kembaran Hoseok itu tengah tersenyum.

"Jungie berangkat ya..."

"Andwae!" Jungkook berdiri. Lengannya mencengkeram erat kedua bahu mungil itu.

"Dengarkan Mommy sayang. Yongguk grandpa sudah tenang disana. Yang berbicara dengan Jungie itu bukan grandpa! Jungie tahu jika Mommy mencintaimu lebih dari apapun kan?"

Jungho mengangguk.

"Oleh karena itu jangan pergi sayang. Jungie tidak menjadi beban Mommy. Jungie bilang ingin bertemu daddy kan? Sekarang Jungie sudah bertemu dengannya, lalu apa Jungie akan meninggalkan dad begitu saja? Dad juga merindukanmu sayang."

"T-tapi mom...Jungie harus pergi. Jungie hanya ingin berpamitan—"

"Tidak! Mom tidak mengijinkan!"

"Jungie, bercandamu tidak lucu sayang."

"Jungie tidak bercanda! Hyunjin juga akan ikut!"

DEG.

Hyunjin?

"A-apa maksudmu sayang?"

Jungho menarik nafas.

"Kami akan merayakan ulang tahunku di makam Yongguk grandpa. Ish Mom tidak peka!"

"Apa?"

Jadi, mereka semua menguras air mata tadi untuk apa?

"Jungie..kau bercanda kan?"

Jungho merebahkan tubuhnya dengan kasar ke atas tempat tidur. Ia sedikit meringis karena kepalanya yang diperban dan terluka.

"Dengarkan Jungie baik-baik Mom. Kemarin, entah kapan, Jungie lupa karena Jungie tidak tahu berapa lama Jungie tertidur. Jungie dan Hyunjin sepakat merayakan ulang tahunku di makam grandpa."

Hoseok dan Jungkook cengo.

"Jungie tidak mau Mom menangis seperti ulang tahun Jungie yang sebelumnya. Mom selalu berkata 'seandainya ayahmu disini dan mengucapkan selamat ulang tahun padamu' dengan tangisan setiap Jungie tidur di malam ulang tahun Jungie."

What?

"Dan tadi Jungie berangkat itu maksudnya Jungie mau mencari Hyunjin, berpamitan pada bibi Taehyung dan paman Seokjin. Memintakan izin untuk Hyunjin."

"Lalu kenapa kau menangis tadi sayang? Dan meminta maaf juga?"

Jungho mendengus.

"Ish, dad juga tidak peka! Jungie tadi menangis bahagia tau! Setelah sekian lama Jungie bertanya pada Mom dan meminta untuk dipertemukan dengan daddy, akhirnya hari ini Jungie bertemu dengan Daddy. Dan Jungie meminta maaf karena Jungie tahu Jungie jadi beban buat Mommy setiap kali Jungie bertanya seperti itu."

"Tadi Jungie bermimpi, Jungie melihat Dad dan Mom menikah. Ada halmeoni dan grandpa juga disana. Tapi anehnya Mom dan Dad tidak tahu kalau Jungie ada ditengah-tengah kalian."

"Jadi, kau tadi bilang ingin ikut grandpa itu maksdunya kau hanya ingin merayakan ulang tahunmu di makam Yongguk grandpa? Berdoa disana maksudmu sayang?"

Jungho mengangguk antusias.

Oh Tuhan! Ini siapa yang harus Jungkook benturkan ke tembok. Dirinya dan Hoseok yang kurang peka atau Jungho yang keterlaluan? Demi apapun ia dan suaminya sudah terbawa suasana dan berfikiran macam-macam. Tapi ternyata...

Ia dan Hoseok sama-sama merasa bodoh disini. -_-

.

.

.

.

.

.

.

.

"Halmeoni!" Jungho berteriak antusias menyambut kedatangan lelaki cantik yang muncul dari balik pintu yang baru saja dibuka dari luar.

"Jungie sayang~ apa kabarmu nak?" Himchan datang bersama Jiwon.

"Baik halmeoni." Senyum lebar menghiasi wajah tampan yang sekarang benar-benar mirip Hoseok itu.

"Mana yang sakit sayang?"

Jungho menggeleng imut. "Nothing."

"Syukurlah. Ngomong-ngomong...dimana ibumu sayang?"

"Aku disini eomma.."

Himchan berbalik dan mendapati Jungkook yang tengah duduk bersebelahan dengan Hoseok di sofa di ujung ruangan.

"Hei kalian! Anakmu sakit tapi malah bermesraan diujung sana!" Ini Jiwon. Ia menunjuk wajah Jungkook dan Hoseok bergantian.

"Sudahlah paman, mungkin Mom and Dad sedang melepas rindu."

Jiwon mendelik kearah Jungho. Heol..bagaimana bocah sekecil ini mengerti apa itu 'melepas rindu'?

"Hosiki disini?"

Wajar jika Himchan tidak tahu. Karena kemarin Jungkook langsung melesat begitu saja kerumah sakit tanpa pamit. Dan pagi tadi Jungkook baru menelepon dan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya.

"Ne eomma."

Entah untuk apa, senyum penuh kelegaan timbul dari bibir Himchan. Ia lantas tertawa pelan.

"Terimakasih. Sudah menemani cucu laki-laki eomma ini setiap saat."

Jungkook tertawa. Ia hendak berdiri dari duduknya namun sebelah lengan Hoseok yang sedari tadi tidak lepas dari pinggangnya itu terasa mengerat.

"Hyung singkirkan tanganmu. Aku ngin memeluk eomma!"

Bukannya melepas, Hoseok malah menggeleng imut dengan bibir bawah dimajukan. Persis seperti aegyo Jungho yang baru saja tadi dikeluarkannya untuk sang nenek.

"Tidak, sayang. Ada Jiwon hyung disana. Biarkan aku memelukmu~"

Jungkook yakin wajahnya merah padam sekarang. Demi apapun kata-kata Hoseok sangat cheesy, seolah-olah mereka masih berpacaran, belum menikah. Dan, jangan lupakan jika ada Himchan, Jiwon, dan juga 'kembaran Hoseok' disana.

"Sudahlah Kookie, temani saja suamimu. Eomma biar Jungho saja yang memeluk. Iya kan Jungie?"

Jungho mengangguk antusias dan merentangkan kedua lengannya. Himchan menyambut baik pelukan sang cucu. Sedikit menggoyangkan badan Jungho ke kakan-ke kiri.

"Lain kali hati-hati ya Jungie, jangan sampai kecelakaan seperti ini lagi. Tidak kasian pada Mommy? Mom sampai punya lingkar panda di matanya." Himchan berbisik—masih dengan memeluk Jungho.

"Jungie begini juga karena Hyunjin, halmeoni." Jungho membalas dengan bisikan pula.

"Hyunjin? Hyunjin kenapa?"

"Harusnya yang terluka parah itu Hyunjin halmeoni, jika saja Jungho tidak mendorongnya dan mengorbankan diri sendiri."

Himchan menepuk-nepuk pelan punggung sempit Jungho.

"Kau baik sayang. Seperti ibumu."

"Terimakasih, grandma.."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ini sebenarnya tidak terlalu serius. Namun bisa menjadi serius suatu saat."

Sepasang manusia tengah memandang serius layar yang menampilkan hasil X-Ray di sebuah ruangan. Jemari mereka saling bertautan dengan gugup.

"Benturan di kepalanya cukup keras. Pendarahannya untung tidak terjadi di dalam. Tapi satu yang perlu kita antisipasi dan perlu bagi kita untuk mempersiapkan diri."

Detak jantung sepasang manusia disana semakin cepat. Seiring tatapan serius sang dokter berambut silver dengan tag name 'Park Yoongi'.

"Jungho gegar otak."

"Apa?!"

Mulut Hoseok terkatup, berbeda dengan Jungkook yang langsung mengutarakan keterkejutannya. Oh, jadi sepasang tadi adalah Hoseok dan Jungkook.

"Anda bisa melihat bagian tempurung kiri atasnya sedikit retak kan? Nah itulah yang bisa menyebabkan ia gegar otak. Itu juga yang menyebabkan Jungho sadar dari komanya lebih cepat. Mungkin ada beberap hal yang Jungho lupakan."

Jungkook menelan ludahnya kasar. "Jungho amnesia semi-permanen?"

Park Yoongi mengangguk. "Mungkin dia akan sedikit melupakan kenangannya saat tinggal di London, Jungkook-ah. Dan satu lagi, kemungkinan Jungho untuk pingsan beberapa kali setelah ini cukup besar."

"Yoongi Hyung jangan bercanda.."

"T-tunggu.."

Yoongi dan Jungkook sama-sama menatap Hoseok yang kini menatap mereka satu persatu dengan bingung.

"Kau dan Dokter Park saling mengenal Kookie?"

Jungkook dan Yoongi mengagguk bersamaan.

"Yoongi hyung yang membantu ku saat aku pendarahan di malam kau mengusirku hyung. Suaminya yang menolongku saat aku nyaris keguguran."

Mulut Hoseok menganga. Ia hendak mengutarakan sebuah pertanyaan.

"Simpan pertanyaanmu untuk nanti hyungie. Ada yang lebih penting dari itu." Tidak sampai telunjuk Jungkook berada di depan bibirnya. Otomatis membuat bibirnya kembali terkatup. Ingatkan Hoseok untuk bertanya kepada Jungkook setelah ini.

"Baiklah Yoongi hyung, lanjutkan penjelasanmu."

Oh bung, Yoongi hanya memasang tampang datarnya. -_-

"Jadi, kalian harus bersiap-siap jika Jungho mengalami mood-swing seperti ibu hamil. Misalnya ia menjadi sangat sensitif dan emosional dalam beberapa hal. Dan Hoseok-ssi..."

Hoseok menegakkan tubuhnya. Ia menjadi dua kali lebih serius.

"Jungho butuh anda untuk selalu bersama Jungkook dan menemaninya, menjadi orang pertama yang ia lihat ketika ia bangun."

"Saya akan melakukannya, Yoongi-ssi."

Sebuah senyuman tersemat di bibir Yoongi. Dalam hati mengucap syukur atas kedua pasangan yang sudah dipertemukan kembali oleh Tuhan dihadapannya ini. Ia bersyukur karena Jungkook tidak lagi menanggung jungho sendirian. Ya, Yoongi tahu segala hal tentang Jungkook, Jungho, dan Hoseok.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hei hei..sudah sayang..cup cup..sini peluk Mom..cup cup.."

Taehyung memeluk—menggendong—Hyunjin yang langsung menangis saat ia sadar. Sempat membuat ia dan Seokjin kebingungan sebenarnya.

"Mom..kepala Hyunjin sakit~ tangannya Hyunjin juga...huhuhu..."

Jujur saja, Taehyung tidak tega. Hyunjin mengeluh kepalanya sakit namun dokter mengatakan ini hanya efek halusinasi pasca kecelakaan. Jadi sebenarnya rasa sakitnya tidak ada. Hanya perasaan Hyunjin saja.

"Mau di gendong Seokjin appa sayang? Siapa tau sakitnya hilang."

Sebuah anggukan manja Taehyung terima. Ia lantas mengisyaratkan Seokjin mendekat dan mengambil alih Hyunjin.

"Ugh...kau semakin berat sayang." Dendang Seokjin. Mencoba menghibur anaknya. Ekhm...udah pada tahu Hyunjin anaknya Seokjin kan..

"Appa~"

"Iya sayang?"

"Hyunjin mau ketemu Jungho hyung...ayo kesana..."

Seokjin menatap Taehyung. Yang ditatap hanya mengangguk.

"Baiklah. Kita mengunjungi Jungho hyung ya. Tadi Dad bilang Jungho hyung sudah bangun. Tapi berhenti nangis dulu dong.."

"Baiklah. Hyunjin berhenti nangis."

Hyunjin mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Berusaha meredam isakannya meski bahunya masih naik turun. Mengundang kikian geli dari Seokjin.

.

.

.

"Jungho hyung!"

"Hyunjin!"

Oke. Sekarang ruangan rawat Jungho dipenuhi teriakan dua anak manusia beda usia dan beda nada suara. Yang satu husky, yang satu cempreng.

"Appa~ Hyunjin mau duduk disana~ disebelah Jungho hyung~~"

Seokjin menurut saja. Ia membawa Hyunjin mendekat dan mendudukkannya di tepi tempat tidur. Sementara ia berdiri dan menyangga botol infus Hyunjin.

"Hyung sendirian? Mana Dad dan bibi Jungkook?"

"Mereka masih diluar Hyunjin. Kau baik-baik saja kan?"

Senyum persegi Taehyung menghiasi wajah Hyunjin. Saat ini ia benar-benar mirip Taehyung.

"Hyunjin baik-baik saja. Hyung juga kan?"

Jungho mengangguk antusias. Namun sedetik kemudian ekspresinya berubah. Bibirnya melengkung kebawah. Ia seperti hendak menangis.

"Hiks.." dan benar saja, sedetik kemudian ia terisak.

"Mommy...hiks...Mom kemana halmeoni?" Oh, dia menangis menanyakan Jungkook pada Himchan.

"Mom masih diluar dengan Dad sayang...why?"

"Hiks...suruh Mom kembali halmeoni. Sekarang!" Nadanya terdengar menuntut. Kontan saja Himchan kebingungan. Namun ia menuruti permintaan Jungho. Mengambil ponselnya dan bersiap menelepon Jungkook.

Klek.

"Mom~~" Tidak, sampai pintu dibuka dan Hoseok muncul bersama Jungkook.

"Jungie why?"

Jungkook kebingungan. Jelas saja. Ia baru masuk dan langsung disuguhi pemandangan Jungho yang sedang menangis. Dan ada Hyunjin, Seokjin, dan Taehyung juga disana.

"Mom peluk Jungie~ hiks..."

Masih dengan wajah bingung, Jungkook mendekat dan segera saja Jungho menghambur ke pelukannya. Dan menangis tersedu-sedu disana.

"Hei hei, kau kenapa sayang? Ada yang sakit?"

Jungho menggeleng namun tangisnya makin keras.

"Jungkook, kurasa...efeknya mulai terasa..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jungho tengah mengerucutkan bibirnya. Merajuk. Dihadapannya terhidang satu mangkok bubur lengkap dengan segelas besar susu cokelat. Jungkook duduk disebelahnya dengan satu sendok penuh bubur. Sedangkan Hoseok berdiri di seberang Jungkook menyangga botol infus Jungho. Informasi, Jungho sedang duduk di kursi tunggu yang terletak di lorong tangga darurat sekarang. Yang jujur saja, Jungkook dan Hoseok sempat kebingungan kenapa putranya menangis, merengek, meminta untuk makan di lorong tangga darurat.

"Dad...Jungie mau permen..." mata bening Jungho menatap memohon pada Hoseok.

"Nanti sayang, setelah buburmu habis."

Jungho kembali mengerecutkan bibirnya. Kedua kakinya yang bergelantungan digoyangkan dengan manja.

"Sekarang~"

"Nanti Jungie, setelah buburmu habis dan obatmu kau telan."

"Mom..."

Jungkook menggeleng.

"Turuti Daddy-mu sayang..." ujarnya seraya menyodorkan sesendok penuh bubur ke hadapan Jungho. Yang mau tidak mau, Jungho telan dengan setengah ikhlas.

"Jungie, kalau ada yang sakit, beritahu Mom sama Dad ya? Jangan diam saja."

Jungho menatap Hoseok dan Jungkook bergantian. Sedetik kemudian ia tersenyum. Tapi anehnya, ada air mata dari mata kanannya.

"Jadi, begini ya rasanya punya orang tua lengkap?"

Mata Jungho melengkung. Persis Hoseok ketika tersenyum. Bibirnya tersenyum lebar meski air mata masih mengaliri paras tampannya.

"Mom, tau tidak? Jungie merasa menjadi orang yang paling bahagia disini. Ternyata Hyunjin benar, punya ayah itu menyenangkan."

Diam-diam Hoseok menarik senyum tipis. Ia merasakan kehangatan yang berbeda dari Jungho. Berbeda seperti saat Hyunjin yang mengucapkan kalimat itu. Hoseok merasa benar-benar berbeda.

"Mom jangan menangis lagi ya...Jungie tidak akan menanyakan daddy lagi. Dan Daddy jangan buat Mom menangis ya..nanti Jungie akan mengajak Mommy kembali ke rumah halmeoni."

Sebuah cengiran lebar terlukis pada wajah Jungho.

"Ne. Dad tidak akan membuat Mommy menangis. Tidak akan sayang."

Jungkook tersenyum. Memandang Hoseok yang kini mencium pucuk kepala sang putra dengan sayang. Memberi kehangatan tersendiri pada ruang hatinya.

'Jadi begini ya...rasanya bersama-sama dalam sebuah keluarga kecil. saling tersenyum satu sama lain. Memberi kehangatan yang berbeda.'

.

.

.

.

.

.

.

.

.tBc.

Panas-panas~~~~ disini jam setengah tiga sore masih panas, gimana di tempat kalian readers-deul? Oh...maafkan saya apdetnya sore-sore begini xD hehe...

Balas-balas review ya~~

Michaelchildhood : Leo gak suka sama Jungkook itupun saya juga gak tau kenapa~ hikseu~ sekarang gimana? Iya, Leo masih kagak suka sama Jungkook TT_TT Iya, Justice for Jungkook aja ya~~ TFR ^^

Jung Jn : Aduhhh...jangan baver please, aku gak mau tanggung jawab loh, hehe xD TFR^^

GithaCallie : Kelam plus suram banget! Saya juga gak tahu kenapa si Leo kagak suka sama Kuki huweeeeeeee~~ TT_TT TFR^^

Tryss : Iya, kuki nelangsa banget, duh maafkan saya dedek kuki TT_TT Junni? Nanti kalian bakalan tahu kok, hehe TFR^^

hosokpie98 : Kalo aku gak bikin sendiri ff hopekook, yang ada nambah ngenes hidup saya soalnya kekurangan asupan Hopekook. Ini Jungho udah bangun *Horeeeeee!* Btw, aku juga cinta kamu *tebar lope"* TFR^^

JeonJeonzKim : HAI JEONN ! *lambai-lambai* iya, rasanya emang susah dijelaskan liat mereka berdua baikan, seneng-seneng gimana gitu~ aku sebenarnya juga gak tega sama taetae~~ *tonjok seokjin* Aku suka vkook jd bestfriend soalnya, makanya aku bikin mereka saling menyayangi meski pada dasarnya seperti itu, jangan lempar leo pake aq*ua please~~ dia gak ganteng egen nanti Hahaha, yodah entar aku bilangin si kuki kalo baik dia harus pilih-pilih xD Btw, review-mu puanjangg sekali jeon xD Thx semangat nya^^ TFR^^

KahoriKen : Aku lebih suka kamu menebaknya. Mwehehehe~~~ TFR^^

Yymin : Yang sudah terjadi sudahlah terjadi, penyesalan pasti selalu berada di akhri, spt Hosiki *sok bijak mode on* TFR ya ^^

YM424 : Daehyun kan punya keluarga sendiri, ya masa Kuki nya dibawa, apa xD TFR^^

Potato : Kamu minta NC ?! Aku gak berani bikin NC, huweeee~~ TT_TT , TFR ya ^^

Hopekies : sudah terbayar rasa penasaranmu? Syukurlah~~ xD TFR ^^

Huahahahahahahahahah~~ gaje, abaikan.

Bagaimana chapter ini? Ada yang nangis gak pas scene Jungho pamitan? Pasti nggak ada~ awalnya si Jungho mau tak bikin meninggal, tapi aku gak tega sama Kuki, dan kalo Jungho meninggal pasti Hosiki juga akan semakin merasa berasalah dan menyesal, dan endingnya tidak bisa dibikin. Jadilah waktu itu saya memilih buat gak ngebikin Jungho mati. Jahat ya aku~~~~~~~

Baiklah-baiklah, karena ini saya lagi di telkom buat download Hope On Street *maklum kuota nipis*, jadi hanya segini ya cuap-cuap saya. Dan buat yang nunggu kelanjutan dr Dhampir's, harap bersabar ya~ masih proses soalnya, hehe..xD

See you next chapter~~

RnR please~~ juseyo~

Gamsha~

Rae#

.

.

A/N : Minggu depan House of Cards akan Double Update! Just stay~