House of Cards

BTS

HopeKook

.

.

.

.

.

.

Rae Present

.

Tittle : House of Cards

Author : Rae

Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others

Rated : T, G, K

Cast : HopeKook [with Other's]

Length : Chaptered

Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.

Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...

TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^

.

.

.

.

Satu minggu penuh Jungho dan Hyunjin menginap di rumah sakit. Selama satu minggu itu pula, Jungkook dan Taehyung harus dipusingkan dengan rengekan dua bocah bermarga 'Jung' yang minta ini-itu. Dan selama itu pula, Hoseok dan Seokjin harus pontang-panting kesana kemari mencari semua yang diinginkan kedua bocah itu. Namun semua terbayar saat keduanya dinyatakan sehat dan boleh pulang ke rumah masing-masing.

Hoseok mengijinkan Hyunjin dan Taehyung untuk menginap di rumah Seokjin, sementara ia memaksa Jungkook dan Jungho untuk menginap dirumahnya.

"Jungie akan tinggal disini?"

Hoseok mengangguk. Menghasilkan binar yang indah pada mata warisannya dihadapannya.

"Mommy juga?"

Hoseok kembali mengangguk.

"Dad akan mengantarmu ke kamar barumu sayang. Kajja!"

Hoseok meraih Jungho ke dalam gendongannya dan membawanya menaiki tangga rendah menuju lantai dua. Hoseok kemudian berhenti di depan sebuah pintu putih tepat di depan kamar yang di tempati Hyunjin. Membukanya.

"Woah~~ ini kamar Jungho Dad?"

Hoseok mengangguk.

"Jungho suka?"

Anggukan antusias penuh binar kepuasan menjadi jawaban untuk Hoseok saat kedua kaki panjangnya memasuki kamar bernuansa merah putih itu. Di tengah ruangan ada sebuah kasur ukuran sedang dengan bed cover senada dengan dindingnya. Lengkap dengan rak penuh novel di sudut kiri ranjang.

"Shishimato? Matoki's Brothers? Daddy turunkan Jungie~"

Hoseok terkekeh dan menurunkan Jungho. Hanya untuk melihat bocah itu berlari dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia memeluk boneka kelinci hitam bermasker merah dengan begitu erat sambil berguling-guling.

"Rasanya aku lama sekali tidak menyapamu Shishi~ Aihh...aku merindukanmu~ Matoki yang lain juga~" Kini Jungho sibuk menciumi satu persatu dari 'Matoki's Brothers', boneka-boneka kelinci hitam bertelinga panjang dengan masker yang berbeda satu sama lain.

"Kapan kau membawa Matoki's Brothers kemari hyung?"

"Oh Astaga! Kau mengagetkanku Kookie!"

Hoseok mengusap dadanya yang terasa melonjak akibat suara Jungkook yang bertanya tepat di sebelah telinganya. Membuyarkan raut bahagianya memandangi Jungho.

"Hehehe...maaf hyungie..."

"Issh...kau ini." Hoseok mengacak gemas surai hitam pekat Jungkook. Hoseok baru menyadari, Jungkook kurusan sekarang.

"Kapan kau membawa 'mereka' hyung?"

"Himchan eomma memberikannya padaku saat aku mengantarnya pulang dari rumah sakit. Dan tolong jangan bertanya, sejak kapan aku mempersiapkan kamar ini untuk Jungho."

Jungkook terkekeh. "Baru saja aku ingin benar-benar menanyakannya."

"Ngomong-ngomong, kau kurusan baby~"

"A-apaan sih hyung! Minggir sana!"

Jungkook merona hebat. Pasalnya, Hoseok berbisik tepat di telinganya dengan nada rendah dan...Oh, jangan lupakan lengan kokoh yang sudah bertengger di pinggangnya entah sejak kapan.

"Kau tidak makan dengan baik ya tujuh tahun belakangan?" Nada Hoseok terdengar menyelidik. Membuahkan sebuah tatapan 'What the-' dari mata doe Jungkook.

"Kalau aku tidak makan dengan baik, aku mungkin sudah mati Hyung.." tampang datar menghiasi wajah Jungkook. Ia berjalan keluar kamar diikuti Hoseok yang menutup pintu kamar Jungho. Mereka berdua berjalan menuju pintu putih lain diseberang kamar Jungho, tepat di sebelah kanan kamar Hyunjin.

"Kamarmu dengan Taehyung?" Jungkook menunjuk pintu putih dihadapannya. Hoseok mengangguk.

"Boleh aku masuk?" Hoseok kembali mengangguk.

Pintu putih itu terbuka. Menampilkan sebuah kamar sederhana namun elegan. Ada sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang disana. Jungkook membawa tubuhnya untuk duduk di tepi tempat tidur.

"Aroma Taehyung sekali." Ia terkekeh sembari jemarinya mengusap selimut tebal berwarna putih disana.

"Eii...kau cemburu?"

Jungkook tersenyum dan menggeleng. Ia menepuk tempat kosong disebelahnya, menyuruh Hoseok untuk duduk disana.

"Untuk apa aku cemburu pada istrimu Jung Hoseok?"

Hoseok melingkarkan sebelah lengannya pada pinggang Jungkook. Menarik namja manis itu dan menyuruhnya bersandar pada bahunya.

"Kau juga istriku, Jung Jungkook."

Sebuah kekehan sampai di telinga Hoseok.

"Kurasa, kau masih menyimpan botol parfumku sejah tujuh tahun yang lalu hyung."

"Dari mana kau tahu?"

Tawa renyah lepas dari bibir Jungkook. Membuat matanya melengkung cantik.

"J-jadi...hahaha..benar ya? Ya ampun hyungie..."

"Heii, itu karena hanya botol transparan dengan cairan merah maroon itu saja yang kau tinggalkan."

Jungkook semakin tertawa. Ia berani bersumpah jika suaminya itu tengah mengerecutkan bibirnya. Dan see...benar saja jika Hoseok tengah mengerucutkan bibirnya sekarang. Antara malu, gemas, dan juga kesal.

"Beruntung Taehyung tidak membuangnya."

"Taehyung tidak akan membuangnya Kookie, justru dia yang menyimpannya dengan apik di dalam lemari."

Tawa Jungkook semakin keras. Ia menepuk-nepuk pelan lengan Hoseok.

"Kau ini hyung...hahaha...kurasa, sebenarnya tangan Taehyung sudah gatal ingin melemparkan botol itu ke dalam bak sampah."

"Sudahlah Kookie~ jangan membahasnya...aku malu ishh!"

"Kyaa~~ Hosiki manis sekali~~"

Oh! Jungkook beteriak layaknya fangirl sekarang. Ia sepertinya sungguh bahagia dengan wajah merah padam plus bibir mengerucut milik Hoseok.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Mau bercerita denganku?"

Jungkook merapatkan tubuhnya semakin dekat dengan Hoseok. Membiarkan namja tampan itu semakin merengkuh pinggangnya erat. Keduanya kini tengah berbaring di atas tempat tidur di kamar Hoseok. Dengan Hoseok yang memaksa Jungkook untuk bersandar penuh pada dirinya.

"Tentang apa?"

Sejenak Hoseok tampak berfikir, menimang-nimang apakah tepat jika ia menanyakannya sekarang.

"Kuharap kau tidak keberatan."

Sebuah anggukan Hoseok rasakan dari kepala Jungkook yang bersandar pada bahunya.

"Apapun hyung."

"Jadi...maukah kau menceritakannya untukku? Tentang masa-masa setelah itu. Tentang kehidupanmu di London."

Jungkook tertegun. Namun ia lantas mengangguk. Sepertinya membiarkan Hoseok penasaran tidak akan mengubah keadaan. Toh pada akhirnya Hoseok harus tetap tahu masa lalunya.

"Kau ingin aku memulainya dari mana?"

"Eungg...hari setelah malam itu?"

.

.

.

.

Flashback

.

Jungkook meremas kuat tali tas yang dibawanya. Perutnya terasa nyeri luar biasa. Ia hanya takut satu hal. Hoseok mendorongnya hingga membentur lantai tadi. Dan cukup kuat. Ia hanya takut kemungkinan terburuk menghampirinya. Ia akan keguguran. Jungkook hanya takut itu.

Keguguran?

Ya. Apa yang ingin Jungkook katakan pada Hoseok tadi adalah ini. Ia hamil satu bulan. Anaknya dengan Hoseok. Hal terindah yang selama ini keduanya tunggu-tunggu.

Namun sepertinya, Jungkook tidak akan pernah mendapatkan kesempatan mengatakannya langsung pada Hoseok. Karena apa yang di dapatnya malam ini, cukup untuk menorehkan sebuah luka padanya.

"Akh!"

Mata Jungkook membola. Tangannya bergetar hebat. Ia meraih dinding disebelahnya, mencoba berpegangan.

"Se-sebentar lagi...kumohon...akh.."

Dengan susah payah Jungkook berjalan ke sebuah bangunan bertuliskan "Seoul International Hospital" di dekat tempatnya berdiri. Sedari tadi memang ini tujuan Jungkook. Rumah sakit. Ia harus mengecek keadaan bayinya.

Cairan merah kental sudah mengalir melewati pahanya. Semakin lama semakin banyak. Air mata luruh begitu saja dari pelupuk matanya.

"Hiks..kumohon.."

Jungkook jatuh terduduk tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Aliran darah di kakinya semakin banyak.

"To-tolong..."

"TOLONG! ADA PASIEN GAWAT DARURAT DISINI!"

Selanjutnya yang menyelimuti Jungkook hanya kegelapan. Ia sempat melihat, seorang dokter laki-laki berkacamata berlari ke arahnya, diikuti seorang dokter dan beberapa perawat lainnya.

.

.

.

.

.

.

.

Hal pertama yang menyapa Jungkook saat ia membuka matanya adalah wajah cantik dengan mata sipit sayu alami seorang dokter. Dokter itu tersenyum.

Jungkook sadar ia ada dimana. Rumah sakit. Reflek, lengannya meraba perutnya yang masih datar. Setetes air mata lolos menuruni pipinya. Ia menangis tanpa isakan.

"Ia..baik-baik saja kan Dokter?" Suara Jungkook tercekat di akhir saat ia mengucapkannya. Kini ia terisak.

"Min—ah bukan Min lagi. Park Yoongi. Panggil aku Yoongi Hyung. Karena kurasa kau lebih muda dariku."

"Yoongi...h-hyung?"

Dokter bermata sipit yang mengaku bernama Yoongi itu mengangguk.

"Namamu?"

"J-jungkook. Kim Jungkook."

Yoongi tersenyum hangat. Kemudian ia mengusap sayang surai hitam Jungkook. Mencoba menenangkan calon ibu di hadapannya. Begitulah persepsi Yoongi. Suaminya adalah Dokter Kandungan yang tadi menangani Jungkook. Dari sanalah Yoongi tahu jika pasien di hadapannya ini tengah hamil.

"Tenanglah, jangan menangis. Dia baik-baik saja."

Tangis Jungkook pecah saat itu juga. Ia meraih tangan Yoongi untuk digenggamnya dengan erat. Melampiaskan seluruh emosinya. Sementara Yoongi hanya dapat tersenyum maklum dan balas menggenggam tangan Jungkook.

"Hiks...hiks..."

"Sshh...berhenti menangis Jungkookie. Dia nyaris saja meninggalkanmu. Tapi sepertinya ia sangat menyayangimu. Ia bertahan. Bayimu bertahan Jungkookie. Bayimu hanya nyaris bergeser dari posisinya. Tapi kau tahu, kau menyelamatkannya. Jika saja tadi kau terlambat, mungkin dia benar-benar akan meninggalkanmu."

Entah mengapa, senyum hangat Yoongi justru membuat tangis Jungkook semakin keras.

"T-terima kasih..hiks...terimakasih.."

.

.

.

.

.

.

.

"Kau gila Jungkook?! Dengar Jungkookie, kau dan kandunganmu belum sepenuhnya pulih. Dan kau nekat akan ke Luar negeri dengan kondisimu ini? Ya Tuhan Jungkook, aku bisa mati mengkhawatirkanmu."

Sebuah usapan Yoongi terima di bahunya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Jungkook. Orang yang sudah hampir lima belas menit di semproti kata-kata oleh Yoongi. Sedangkan Jimin—suami Yoongi—hanya menggeleng melihat tingkah Yoongi yang sudah seperti ibu-ibu hendak ditinggal anaknya.

"Kenapa tidak tinggal saja disini Jungkook-ah? Kau bisa menemani Yoongi hyung selama aku lembur."

Kini Jungkook beralih menatap namja berambut merah yang duduk tak jauh darinya dengan Yoongi. Park Jimin. Jungkook sampai sekarang masih bertanya-tanya, kenapa Jimin suka sekali mengecat warna rambutnya dengan warna aneh-aneh seperti itu.

"Aku sudah banyak merepotkan kalian. Dan sepertinya, keputusan ini tidak perlu ku pertimbangkan lagi."

"Apanya yang tidak perlu di pertimbangkan eoh.." Yoongi mendengus. Membuat Jungkook dan Jimin terkekeh bersamaan.

"Terlalu banyak kenangan di Korea hyung. Jika ke luar negeri adalah satu-satu nya cara untuk melupakan kenangan itu. Maka aku harus melakukannya."

"Jadi kau ingin melupakanku, begitu bocah?!"

Jimin tertawa. Diikuti Jungkook yang tertawa keras sambil memeluk Yoongi dengan sayang.

"Tidak Hyungie, kau dan Jimin masih bisa menghubungiku nantinya."

Hening. Yoongi melepas pelukannya dan menatap Jungkook sendu. Jujur saja, ia menyayangi Jungkook selayaknya adik kandung. Karena memang dirinya anak tunggal. Ia kesepian jika ia dan Jimin ada jadwal operasi bersamaan. Ia dokter bedah dan Jimin dokter kandungan. Jadi intensitas bertemu mereka di rumah sakit bisa dibilang jarang. Bahkan pulang bersama saja bisa di hitung jari.

"Semoga London menyenangkan."

"Tentu Hyung. Aku menyayangimu."

"Aku jauh lebih menyayangimu Jung Jungkook"

Jimin muncul di tengah-tengah mereka. Merangkul bahu keduanya.

"Aku menyayangi kalian berdua~~"

.

.

.

.

.

.

.

.

Pesawat dengan penerbangan Incheon—London baru saja mendarat di bandara International Inggris. Seorang pemuda berpakaian serba hitam, dengan bennie hitam dan kaca mata hitam juga, meraih kopernya dan berjalan menuju area tunggu. Jemarinya sibuk bermain di atas layar touchscreen benda putih pipih yang digenggamnya. Tak lama kemudian, ia mendongak. Terlihat mencari sesuatu di antara kerumunan banyak orang. Ia tersenyum saat matanya menangkap seorang wanita berumur sekitar tiga puluhan. Tengah mengangkat papan bertuliskan hangeul 'Kim Jungkook' tinggi-tinggi.

"Halo.." pemuda serba hitam itu menyapa wanita yang mengangkat papan tadi.

"Are you Kim Jungkook?" wanita itu bertanya. Ia telah menurunkan papannya dan menatap pemuda serba hitam dihadapannya.

"Yes. I'm Kim Jungkook. And...Mrs. William?"

Wanita itu mengangguk antusias. Ia meraih lengan pemuda serba hitam dihadapannya. Menuntunnya ke sebuah mobil yang terparkir di area luar bandara.

"Welcome to London, Kim Jungkook."

.

.

.

.

.

Jungkook meletakkan kopernya dengan hati-hati di ruang tamu sebuah rumah. Matanya berpendar mengelilingi ruangan. Sebuah helaan nafas terdengar kemudian.

"Bibi, apa anda bisa membantuku menata rumah ini? Itu jika anda tidak sibuk." Tanya Jungkook dalam bahasa Inggris.

Wanita di depan Jungkook tersenyum.

"Tentu, Jungkook. Yoongi sudah mengatakan padaku tadi malam. Kau sedang hamil dan butuh banyak istirahat. Jadi aku akan dengan senang hati membantumu." Senyum mengiringi jawaban wanita itu.

Yoongi?

Ya. Wanita dihadapan Jungkook ini adalah saudara jauh Yoongi. Dia istri dari adik sepupu ayahnya Yoongi. Yang berarti dia adalah bibinya Yoongi. Rumah yang akan di tempati Jungkook ini adalah rumah milik bibi Yoongi. Yang Jungkook beli sebagai tempat tinggalnya selama di London. Yoongi bilang, ia tidak menerima penolakan saat ia memaksa Jungkook untuk membeli salah satu rumah milik bibinya. Katanya, agar Yoongi bisa lebih leluasa memantau kondisi Jungkook.

"Yoongi hyung mengatakannya? Oh astaga."

Mrs. William—bibi Yoongi—tertawa. Ia menepuk-nepuk pelan bahu Jungkook.

"Aku punya seorang putri yang berumur empat belas tahun. Namanya Shannon. Dia akan lebih dulu membantumu setelah ini, karena aku harus memasak makanan untukmu dan juga untuk keluargaku. Tidak apa-apa kan Jungkook?"

"Tentu bibi. Terimakasih banyak sudah mau membantuku."

"No problem, Son."

.

.Flashback End

.

.

.

.

"Hanya itu?"

"Lalu kau mau apa lagi hyung?"

Hoseok mengubah posisi tidurannya menjadi menyamping. Lebih leluasa memandangi wajah Jungkook.

"Setelahnya, bagaimana? Kehidupanmu di London, kehamilanmu, dan juga saat kau melahirkan."

Jungkook menangkap binar ingin tahu di kedua manik tajam Hoseok. Ia membawa sebelah tangannya untuk membingkai wajah Hoseok. Memandang jauh ke dalam mata Hoseok.

"Hyung, maafkan aku. Tapi aku tidak ingin menceritakannya padamu. Aku tidak ingin membuka luka lama, dan membuat rasa bersalahmu kembali."

Dahi Hoseok mengernyit. "Kenapa?"

"Itu...menyakitkan untukku. Karena aku nyaris keguguran lagi setelahnya. Dua kali."

Mata Hoseok membola. "Jungkook jangan bercanda. Dua kali?! Ditambah sebelum keberangkatanmu ke London, berarti tiga kali?!"

Jungkook mengangguk. Kini ia tidak lagi menatap mata Hoseok. Ia menunduk. Tangannya pun sudah berpindah dari wajah Hoseok.

"Ya Tuhan..." Hoseok mendongak. Mencoba menahan jatuhnya liquid dari kedua matanya yang entah sejak kapan sudah berkaca-kaca.

"Maafkan aku Kookie, maafkan aku karena aku tidak ada saat itu. Maaf.."

Hoseok menarik Jungkook ke pelukannya. Mengecup sayang pucuk kepala Jungkook berulang kali. Rasa bersalahnya kembali. Ia benar-benar merasa bodoh untuk hal itu. Menyesali semuanya, hanya itu yang mampu diperbuatnya.

"Jangan tinggalkan kami jika kau merasa bersalah hyung. Hiks."

"Tidak pernah Kookie. Tidak akan lagi."

.

.

.

.

.

.

.

.

Hoseok dan Jungho, kini mereka berdua terlihat seperti dua orang kembar beda ketinggian. Itulah yang dirasakan Jungkook. Dua manusia sedarah itu tengah menopang masing-masing kepalanya dengan satu tangan di atas meja makan. Kedua mata mereka masih setengah terbuka setengah terpejam. Memandangi Jungkook yang sibuk memasak di depannya.

""Mom/Jungkook""

Jungkook menggigit bibirnya menahan tawa. Ia merasa diperebutkan disini.

"Jungie duluan saja"—ini Hoseok.

"Tidak. Dad saja yang duluan."—dan ini Jungho.

"Yakin?"

Jungho mengangguk. Ia menguap sebentar sebelum turun dari kursinya. Mendekati Jungkook dan menarik-narik ujung kaos yang di kenakan ibunya. Oh satu lagi, bocah itu masih memeluk Shishimato-nya. Katanya ingin Daddy-nya yang bicara duluan, tidak tahunya ia yang beraksi lebih dulu.

"Mom, mommy baik-baik saja kan? Daddy tidak nakal kan?"

Klik. Jungkook mematikan kompornya begitu saja. Mata doe-nya mebelalak kecil dengan pipinya yang merah padam. Jungkook bahkan yakin jika Hoseok di belakang sana sudah pasti mendapatkan nyawanya kembali.

"Jungie kenapa? Kenapa bertanya seperti itu?" Jungkook berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan sang putra. Setelah sebelumnya sempat memberi tatapan 'Mati Kau Jung Hoseok' pada suaminya yang terdiam di tempatnya.

"Tidak. Hanya saja, ini..kenapa merah-merah? Mom tidak dipukuli Dad kan?"

Sial. Mati kau Jungkook.

Dengan serampangan Jungkook membenarkan kerah kaosnya. Informasi saja, ia mengenakan kaos Hoseok yang sudah sangat jelas kebesaran di tubuhnya. Mengakibatkan bahunya yang di penuhi warna merah hasil 'kerja paksa' Hoseok terekspos.

"Ti-tidak sayang. Dad tidak memukul Mommy kok. Tadi malam kamarnya Mommy ada banyak nyamuk, jadi yah...seperti ini. Jungie paham maksud Mommy kan?"

Kepala bersuari hitam itu menggeleng lucu. Menunjukkan jika ia tidak paham. Masih ingat jika Jungho itu cerdas? Ya, selain cerdas, anak itu juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tapi, tentu kalian juga masih ingat jika Jungho gegar otak setelah kecelakaan itu kan? Jadi jika tidak dijelaskan secara detail dan terperinci, otak Jungho tidak akan paham.

"Jung Hoseok! Aku harus menjelaskan apa pada anakmu?"

Hoseok mengerjap beberapa kali. Mencoba membawa kembali nyawanya dari keterkejutannya. Itu karena Jungkook menatap tajam dirinya.

"Aku..tidak tahu."

"Hyunjin tidak pernah bertanya seperti ini?"

Hoseok menggeleng polos. "Aku tidak pernah melakukannya dengan Taehyung. Jadi Hyunjin tidak pernah melihat yang begituan."

Jungkook menghela nafas berat. Meredam teriakannya yang siap meledak.

"Jungie tanya Daddy-mu saja. Mom memasak dulu. Oke?"

"Tidak mau. Nanti Dad melakukan hal yang sama pada Jungie. Kan Jungie takut Mom~"

What the-

"JUNG HOSEOK SUDAH KUKATAKAN UNTUK TIDAK MELAKUKANNYA TADI MALAM!"

.

.

.

.

.

.

"Jungho hyung~~~"

"Hyunjin~~~"

Oke. Ini familiar. Adegan ini pernah terjadi sebelumnya. Dua orang bocah beda usia dan tinggi badan, saling berpelukan dan berteriak kegirangan.

"Taehyung? Seokjin hyung?"

"Hai Kook. Maaf berkunjung tiba-tiba."

Jungkook hanya mengangguk bingung. Baru selesai mandi dan sarapan. Ia langsung di suguhi teriakan melengking dua suara yang beda nada. Rasanya seperti mendengar genderang perang dibunyikan. Cukup berisik.

"Duduklah Tae. Akan kupanggilkan Hoseok hyung sebentar."

Taehyung mengangguk kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya. Hahaha..ini rumah Taehyung dengan Hoseok, jangan lupa. Meski sertifikatnya atas nama Hoseok tentu saja.

"Yak Tae! Kenapa berkunjung tidak memberi kabar?"—ini Hoseok.

Namja tampan itu memeluk Taehyung sebentar lalu menarik Hyunjin yang tengah tertawa bersama Jungho untuk di peluknya.

"Hei, merindukan daddy eoh?"

"Dad, lepas~ nanti Jungho hyung marah sama Hyunjin karena ayahnya Hyunjin ambil lagi~ lepas~"

Hoseok melepas pelukannya dan membalik tubuh kecil di pelukannya.

"Siapa yang mengajarimu seperti itu?"

Jemari Hyunjin menunjuk seorang namja tampan di sebelah Taehyung. Yang hanya menampilkan deretan gigi-giginya.

"Appa?"

Hyunjin mengangguk.

"Kerja bagus Seokjin!" anehnya Hoseok tertawa, bersama Seokjin.

"Bibi Taehyung."

Semua pasang mata menoleh ke arah Jungho yang kini menunjuk ibunya sendiri setelah memanggil Taehyung.

"Ya sayang?"

"Anu...itu, kenapa bahunya Mommy merah-merah ya bibi? Katanya digigit nyamuk, tapi kenapa banyak sekali?"

""""APA?!""""

"H-hei...aku tidak melakukan apapun."

Taehyung dan Seokjin mendelik ke arah Hoseok. Sementara Jungkook, jangan tanya. Wajahya merah padam. Ia malu, sungguh! Ia tidak menyangka jika Jungho akan bertanya pada Taehyung juga.

"Hyung kau melakukannya tadi malam? Ya Tuhan hyung...kau mencemari uri Jungho -_-"—Taehyung.

"Hoseok, kurasa lain kali jangan membuatnya di bahu Jungkook karena anakmu akan sering melihatnya. Asal kau tahu, aku juga melakukannya dengan Taehyung, hanya saja di pinggangnya."—Seokjin.

"SEOKJIN HYUNG!"

Kini giliran Taehyung yang mukanya merah padam. Ya Tuhan, Seokjin kok sebegitu gamblangnya membeberkan hubungan pribadi mereka sih.

"Tapi kami tidak melakukan apapun Seokjin-ah. Hanya mencium, melumat, menandai, dan-"

"Hoseok hyung! Sudah hentikan!"

BUGH. Sebuah bantal sofa melayang tepat ke arah kepala Hoseok. Siapa pelakunya? Tentu saja Jungkook. Wajahnya merah padam menahan antara amarah dan malu bersamaan.

"Kenapa kau melempariku bantal Kookie? Aku bicara fakta kan? Nanti mereka salah paham.."

Bukannya mendapat perlakuan manis dari Jungkook, Hoseok malah mendapat dua lemparan bantal sekaligus. Satu dari Jungkook, dan satunya lagi dari Taehyung. Membuat Seokjin tertawa terpingkal-pingkal. Salah Hoseok sendiri juga sih, Jungkook sudah melarang, masih juga dilanggar. -_-

.

.

.

.

.

.

.

.tBc.

APA INI?! TTT/\TTT

Yasudah, karena minggu kemarin saya sudah janji mau double update, langsung check chapter selanjutnya aja ya~~ xD