House of Cards
BTS
HopeKook
.
.
.
.
.
.
Rae Present
.
Tittle : House of Cards
Author : Rae
Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others
Rated : T, G, K
Cast : HopeKook [with Other's]
Length : Chaptered
Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.
Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...
TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^
.
.
.
.
Hoseok dan Taehyung duduk berdampingan di hadapan Tuan Jung Taekwoon dan Nyonya Jung Hakyeon. Taehyung menunduk dalam sementara Hoseok menatap lurus ayahnya yang tengah membaca sebuah lembaran di tangannya.
"Apa maksudnya ini?" Tuan Jung bertanya dengan nada dingin.
"Surat cerai. Aku dan Taehyung akan bercerai."
PLAK.
Hoseok meringis saat tangan dingin nan kasar ayahnya mendarat dengan sempurna pada pipinya. Sementara Taehyung mendongak kaget menatap Tuan Jung.
"Kau akan menceraikan Taehyung? Setelah kalian punya seorang anak? Apa salah Taehyung hah?!"
"Appa, Taehyung tidak salah. Ini kesepakatan kami berdua. Hyunjin tidak seharusnya berada dalam masalah rumit ini. Taehyung juga."
Manik tajam Tuan Jung memandang Hoseok dan Taehyung bergantian. Ia berhenti saat menatap Taehyung.
"Apa Hoseok menyakitimu? Apa dia melukai Hyunjin? Katakan Taehyung! Katakan apa yang membuatmu menyetujui surat cerai itu!"
Nafas Taehyung gelagapan. Bagaimana tidak. Ia tidak pernah berhadapan dengan ayah mertuanya dalam situasi seperti ini selama ia menyandang marga Jung. Namun jika ia hanya diam tanpa mengatakan kebenarannya saat ini, maka sia-sia sudah perjuangannya, Hoseok, Seokjin, bahkan Jungkook.
"Aku akan menikah dengan Seokjin hyung, appa."
Mata tajam Tuan Jung terbelalak mendengar jawaban Taehyung. "Apa?!"
"Appa, maafkan aku karena mengatakan ini. Hakyeon eomma juga, tolong maafkan aku karena harus mengatakannya." Taehyung menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya cepat.
"Hyunjin bukan anak kandung Hoseok hyung."
""APA?!""
Tidak hanya Tuan Jung saja yang terkejut. Namun Hakyeon juga terkejut. Sepasang suami isteri itu nyaris saja terkena serangan jantung mendadak.
"Apa maksudmu Taehyungie? Bukankah Hyunjin ada setelah kalian menikah?" Nyonya Jung memandang Taehyung dan Hoseok dengan bingung.
"Tidak eomma. Hyunjin ada sebelum aku menikahi Taehyung." Hoseok yang menjawab.
"B-bagaimana bisa-"
"Taehyung sudah hamil saat aku meminta padamu untuk menikahkanku dengannya, eomma. Dia sudah hamil tiga minggu."
Nyonya Jung merasa ia sesak nafas mendengar penjelasan putra bungsunya. Ia hanya tidak menyangka ini benar-benar terjadi.
"Lalu siapa ayah Hyunjin yang sebenarnya?"
""Kim Seokjin"" Hoseok dan Taehyung menjawab bersamaan.
SRET. Tuan Jung berdiri dari duduknya. Memandang kecewa pada anak dan menantunya.
"Jung Hoseok. Kau tidak akan bercerai dengan Taehyung. Biarkan Hyunjin tetap menjadi anakmu meskipun dia bukan anakmu. Dan suruh saja Seokjin untuk menikahi orang lain. Atau jika perlu, suruh dia menikahi Jungkook. Biar anak itu bisa melupakanmu dan membiarkanmu hidup bahagia."
Hoseok berdiri. Menatap marah ayahnya.
"Appa. Aku akan tetap bercerai dengan Taehyung dan membawa Jungkook bersamaku. Karena mereka berdua hanya milikku. Jungkook dan Jungho. Tidak akan ada yang bisa menyentuh mereka tanpa seijinku!" suara Hoseok penuh dengan desisan menahan amarah.
"Terserah mu! Terserah! Kau memang tidak pernah bisa diatur! Selalu saja sesukamu! Tidak seperti Dae-"
"Iya! Aku tidak seperti hyung yang penurut! Aku tidak seperti hyung yang bisa memilih seorang pendamping hidup seperti kriteria-mu! Aku tidak sehebat hyung yang bisa kau banggakan! Aku hanya seorang anak manusia bodoh dan menyangga marga Jung dengan sebuah kebetulan! Terus saja bandingkan aku dengan Daehyun Hyung! Terus! Aku hanya-"
"Jung Hoseok!"
Mulut Hoseok terkatup sepenuhnya. Semua kata-kata yang ingin ia keluarkan kembali begitu saja saat sebuah teriakan ibunya menggema di ruang tamu besar itu. Ia menoleh dan mendapati ibunya menatapnya dengan terluka. Air mata menuruni paras cantiknya. Di sampingnya ada Taehyung yang memeluk bahunya.
"Eomma.."
"Hiks..hentikan Hoseok-ah, hentikan. Kami tidak pernah membandingkanmu dengan Daehyun. Tidak pernah sayang." Nyonya Jung menangis. Taekwoon selalu saja menyakiti hati Hoseok dengan hal seperti ini. Membandingkan Daehyun yang penurut dengan Hoseok yang pemberontak. Anak mana pun tidak akan pernah suka jika ia di banding-bandingkan, terlebih dengan saudara kandung yang sangat dicintai.
"Jika kalian memang ingin bercerai. Maka lakukanlah. Pilihlah jalan yang menurut kalian baik."
"Hakyeon!"
"Diam Taekwoon! Jangan memaksakan kehendakmu lagi!" Nyonya Jung menatap kesal bercampur marah pada Tuan Jung. "Hoseok sudah besar. Ia sudah dewasa. Sudah waktunya ia mengatur kehidupannya sendiri. Sudah cukup campur tanganmu. Dia bukan Daehyun. Dia Hoseok, Jung Hoseok. Bukan Jung Daehyun! Jadi berhenti sampai disini. Biarkan Hoseok memilih jalannya sendiri. Jika kau terus seperti ini, maka kau juga melukai Taehyung! Taehyung juga berhak mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Ia berhak bahagia dengan orang yang ia cintai! Bukan seperti ini!"
"Bahkan Chanyeol dan Baekhyun pun tidak pernah memaksakan kehendak mereka pada Taehyung. Kenapa kau memaksakan kehendakmu? Jika kau memaksa Hoseok, harusnya kau juga memaksa Daehyun. Bertindaklah dengan adil Jung Taekwoon!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Taehyung mengusap sayang pucuk kepala Hyunjin yang tengah tidur di sebelah Jungho. Kedua bocah itu tidur dengan berpelukan satu sama lain di atas tempat tidur Jungho.
"Hyunjin suka minum susu sebelum tidur ya Tae."
Taehyung tersenyum dan mengangguk membenarkan pernyataan Jungkook. Tatapannya masih setia pada sang buah hati.
"Aku akan bercerai dengan Hoseok hyung. Kami sudah mengajukan surat gugatan cerai ke pengadilan. Dan itu sedang diproses." Taehyung beralih menatap Jungkook yang berdiri bersandar pada lemari.
Untuk sejenak Jungkook terkejut. Ia menegakkan tubuhnya kemudian. "Kenapa kalian tidak membicarakannya denganku atau Seokjin hyung terlebih dahulu?"
"Kami sudah membicarakan hal ini bertiga jauh-jauh hari. Dan kurasa, karena memang seperti ini seharusnya. Aku dan Hoseok hyung berpisah."
"Apa kalian benar-benar sudah mengirim surat itu ke pengadilan? Kapan? Lalu Tuan Jung dan Nyonya Jung bagaimana? Ah, Tuan Park dan Nyonya Park juga bagaimana?"
Taehyung tertawa, "Tanyanya satu-satu dong Kook. Aku jadi bingung kan harus menjawabnya darimana."
Kali ini giliran Jungkook yang tertawa dan duduk di sebelah Taehyung yang sedari tadi duduk di tepi tempat tidur Jungho.
"Baiklah-baiklah. Maafkan aku Tae. Aku akan bertanya satu-satu kalau begitu." Jungkook menarik nafas sebentar. "Kurasa soal pengiriman surat itu, aku tidak perlu bertanya lagi. Yang perlu kutanyakan sekarang sepertinya adalah, bagaimana Tuan Jung dan Nyonya Jung saat mendengar hal ini?"
Taehyung menangkap nada khawatir di akhir kalimat Jungkook. Taehyung tahu namja manis dihadapannya ini berpikiran banyak hal tentang Tuan Jung. Yah, taehyung tahu jika Tuan Jung tidak menyukai Jungkook untuk alasan yang tidak jelas.
"Reaksi mereka buruk sekali. Terutama appa. Hoseok hyung sempat ditampar-"
"Apa?! Ditampar?!"
"Dengarkan dulu Kook!"
"Baiklah lanjutkan."
"Hoseok hyung sempat ditampar karena appa berpikir jika Hoseok hyung-lah yang membuat keputusan ini secara sepihak. Yah, appa tidak terima dengan hal ini. Hakyeon eomma tidak tampak terlalu terkejut." Taehyung menarik nafas.
"Kau tahu Kook, Hoseok hyung dan appa bertengkar. Bahkan mereka mengungkit masalah perbedaan perlakuan yang Hoseok hyung dan Daehyun hyung terima."
"ya. Aku cukup paham untuk hal itu Tae. Lalu, apa kalian mendapat ijin dari mereka?"
Taehyung memandang langit-langit dan menggeleng. "Awalnya tidak. Tapi setelah Hoseok hyung mengoceh menuntut keadilan antara dirinya dan Dae-hyung, tentang dirinya yang tidak ingin disamakan dengan Dae-hyung, dan Hakyeon eomma membela kami. Eomma marah dengan appa. Jadi pada akhirnya, appa meninggalkan kami dengan wajah kecewa."
Jungkook menyentuh pelan bahu Taehyung, membuat si empunya menoleh. Senyum manis Jungkook berikan pada sosok cantik didepannya. "Terimakasih Tae."
"Untuk?"
"Semuanya." dan Jungkook memeluk Taehyung. Matanya terpejam dan senyumannya semakin lebar. Ia bahagia sekaligus lega. Tak berselang lama, Taehyung membalas pelukannya.
"Sama-sama Kookie~~"
Jungkook dan Taehyung terkekeh geli bersamaan. Masih sambil saling berpelukan.
"Sudah berapa lama aku tidak mendengarmu memanggilku 'Kookie' Taehyungie~ ugh! Rasanya menggelikan saat euforia tujuh tahun yang lalu kembali terasa. Ahahaha.."
Taehyung menggoyang-goyangkan tubuh keduanya ke kanan ke kiri. "Laaamaaa sekali Kookie. Ugh aku merindukan kelinci manis ini."
Keduanya tertawa. "Aku juga merindukan singa manis-ku~~" nada Jungkook terdengar merajuk.
"Tae, biarkan Hyunjin menginap disini ya malam ini~~"
"Baiklah Kookie sayang. Putra tampan ku itu akan menginap disini~~"
Dan keduanya kembali tertawa, lebih keras.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook memasuki kamar utama di rumah Hoseok saat jam sudah menujukkan pukul sepuluh malam. Taehyung baru saja pulang sepuluh menit yang lalu dan dirinya baru selesai membereskan bekas ngemilnya dengan Taehyung. Ugh, Jungkook senyum-senyum sendiri membayangkan moment tujuh tahun-nya yang lalu bersama Taehyung baru saja ia ulangi sepuluh menit yang lalu. Nostalgia istilah kerennya.
Jungkook mendapati Hoseok sudah berbaring membelakanginya di atas tempat tidur saat ia membuka pintu. Namja tampan itu sudah mengganti setelan formal-nya dengan kaos oblong dan celana jeans selutut. Jungkook bahkan baru tahu jika kebiasan mengenakan pakaian Hoseok masih sama seperti remaja belasan tahun. Jungkook lantas mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur. Hanya duduk tanpa ada niatan memanggil Hoseok untuk memastikan namja itu sudah tidur atau belum.
Sebuah pergerakan Jungkook rasakan. Dan sedetik kemudian, ia merasa dirinya ditarik kebelakang hingga pada akhirnya berbaring di tempat tidur. Hoseok memeluknya dari samping, hampir menyerupai memeluk guling.
"Kenapa lama sekali hm? Taehyung tidak pulang-pulang." Suara Hoseok serak, khas bangun tidur.
"Hahahaha...begitulah kami hyung. Bukankah sudah dari dulu jika kami akan seperti anak kecil jika berduaan." Jungkook balas memeluk Hoseok. Menenggelamkan kepalanya pada dada Hoseok dan menyesap wangi maskulinnya.
"Ya ya ya, aku tau betul itu. Apa kau ingat kalian pernah membuatku dan Seokjin hampir mati kebosanan saat menemani kalian menonton konser Big Bang?"
Jungkook terkikik dan mengangguk sebagai jawaban. Ia mendengar Hoseok mendengus.
"Huh, kalian benar-benar membuat kami seperti orang bodoh waktu itu." Sekali lagi, Jungkook terkikik geli.
"Ngomong-ngomong, apa Hyunjin menginap?"
"Iya. Aku meminta Taehyung untuk membiarkan Hyunjin menginap."
Hening. Jungkook tidak mendengar Hoseok berbicara lagi. Hanya deru nafasnya saja yang terdengar. Jungkook sempat berfikir Hoseok kembali tidur. Namun Jungkook harus menepis pemikiran itu karena sekarang Hoseok secara tiba-tiba membalik tubuhnya hingga berbaring dengan Hoseok diatasnya.
"H-hyung..."
Jungkook mendapati Hoseok memandang-nya sayu. Namja tampan itu menopang berat tubuhnya dengan sebelah sikunya. Kedua kakinya memerangkap kaki Jungkook hingga Jungkook tidak bisa bergerak dan sebelah tangannya yang menganggur ia gunakan untuk bertautan dengan salah satu tangan Jungkook.
"Jungkook.."
Hoseok memanggil. Sungguh, ada nada mengundang dari suaranya. Dan Jungkook menangkapnya dengan jelas.
"Aku merindukanmu."
Blush. Pipi Jungkook merona. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah Hoseok. Oh...Jungkook tidak bodoh untuk tidak tahu apa makna terselubung dari 'Aku merindukanmu' yang diucapkan Hoseok.
"Jung Jungkook, apa kau tidak ingin menjawabku?"
Jungkook masih mengalihkan pandangannya. Ia ragu untuk menjawab pertanyaan Hoseok. Sungguh! Ia tahu apa maksud Hoseok disini, maka dari itu ia ragu menjawabnya.
"Jungkookie.."
Jungkook menghela nafas. "A-aku juga...merindukanmu Hyung." Mengucapkannya dengan pipi merah padam.
Dan sedetik kemudian, pandangan Jungkook menggelap. Ia refleks menutup matanya saat Hoseok mendaratkan ciuman di atas bibirnya. Pelan namun menuntut. Perlahan Jungkook membiarkan lengannya memeluk leher Hoseok dengan mesra dan membalas ciumannya.
"Eunghh.."
Baiklah. Jungkook menyerah atas Hoseok sepenuhnya. Untuk malam ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mom!"
"Daddy!"
"Bibi Jungkook!"
"Dad!"
Oke. Baiklah. Mari kita jelaskan keadaannya.
Pagi yang begitu cerah. Dua bocah laki-laki beda tinggi badan tengah berdiri di depan sebuah pintu kamar bercat putih. Mereka menggedor-gedor pintu tak bersalah itu dengan brutal.
"Mommy wake up please!"
"Dad bangun! Ini sudah hampir siang! Kami kelaparan~~"
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Dan keadaan rumah besar itu sepi. Seperti tanpa penghuni kecuali dua orang makhluk kecil itu.
DOKK. DOKK. DOKK.
"Daddy~~~"
"Mommy~~"
"Huweee~~ mereka tidak bangun-bangun Jungho hyung~" yang lebih pendek memandang lesu ke arah yang lebih tinggi.
"Iya Hyunjin. Apa kita harus menelepon bibi Taehyung dan paman Seokjin untuk membangunkan mereka? Jika tidak, mereka tidak akan bangun-bangun dan kita akan semakin kelaparan."
Oh, dua bocah tadi adalah Jungho dan Hyunjin? Astaga..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
DOKK. DOKK. DOKK.
"Daddy~~~"
"Mommy~~"
Jungkook bergerak tak nyaman. Mencoba untuk bangun di tengah pelukan Hoseok yang begitu posesif. Suara pintu digedor-gedor dengan brutal dan teriakan tak mengenakkan memenuhi pendengarannya.
"Hyung, bangun." Jungkook mendorong pelan bahu telanjang Hoseok. Namun tampaknya hal itu tidak memberikan efek besar bagi Hoseok. Namja itu masih setia memejamkan matanya.
Jungkook melirik jam dinding dengan mata masih setengah terpejam dan nyawa setengah sadar. Pukul sembilan.
"Jam sembilan?!" Jungkook memekik. Nyawanya langsung berkumpul begitu mengetahui apa yang terjadi.
"Hoseok hyung! Hei hyung! Lepaskan pelukanmu, aku harus bangun~~"
"Hmm." Hoseok hanya menggumam.
"Yasudah kalau kau tidak mau bangun! Aku akan memak-akh!" Jungkook hampir saja terbebas dari pelukan Hoseok jika ia tidak sadar jika Hoseok masih berada di dalamnya. Oh..kalian pasti faham maksud saya kan?
"Yak Hyung lepaskan milikmu! Anak-anakmu kelaparan diluar sana!" Jungkook menoyori kepala Hoseok dengan brutal. Membuat namja tampan itu mengerang sebentar dan melepaskan pelukannya. Ia memandang Jungkook dengan mengantuk.
"Biarkan saja. Di dapur ada roti dan susu kotak di lemari es. Kurasa mereka bisa memakan itu untuk sementara."
TAK.
"Yak Kook!" Hoseok mengusap sayang dahinya yang baru saja terkena korban jemari lentik Jungkook.
"Sudah! Lepaskan milikmu sekarang juga!"
"Baiklah-baiklah." Hoseok menarik diri dari Jungkook. Gerakannya pelan, sengaja menggoda Jungkook.
"Sshh..." Jungkook mendesis saat milik Hoseok telah keluar. Ia memandang suaminya itu dengan kesal. Sementara yang ditatap hanya memberikan cengiran kuda nya.
"Aku mau mandi!"
Jungkook menarik selimut yang menyelimuti mereka berdua dan melilitkannya pada tubuhnya. Setelahnya ia berjalan dengan menghentak menuju kamar mandi. Ia kemudian berhenti di ambang pintu. Berbalik menatap keadaan kamar.
"Huft, aku akan membereskannya nanti saja."
Sungguh berantakan. Baju-baju berserakan di mana-mana. Belum lagi ia harus mencuci selimut beserta bed-covernya nanti. Dan Jungkook yakin Hoseok tidak akan mau membantunya. Atau namja itu akan mengacaukannya. Sialan!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ini dejavu. Hoseok dan Jungkook duduk berhadapan dengan Taehyung dan Seokjin. Bedanya jika waktu itu di ruang tamu, sekarang di ruang makan. Dan ada Hyunjin juga Jungho yang tengah menyantap nasi goreng di temani segelas susu disana.
"Kalian!" Taehyung menunjuk Hoseok dan Jungkook bergantian.
"Apa aku harus mengatakan jika kalian tidak seharusnya melakukannya sampai pagi dan membuat anak-anak kalian kelaparan?!" Oke. Taehyung mengatakannya dengan sekali tarikan nafas. Ia meraih gelas minumnya dan menegaknya habis.
"Hyung, kau tidak lihat Jungkook kelelahan?"
Kali ini semua pasang mata—minus Jungho dan Hyunjin—menatap ke arah Jungkook.
"E-eh apa?" Jungkook gelagapan. Tentu saja.
"Kookie kenapa kau tidak bilang sayang? Aku kan bisa membantumu beres-beres tadi."
Jungkook menatap Hoseok malas. "Kau malah akan mengacaukan semuanya, Hyung." Jungkook kini menatap dua bocah yang masih saja sibuk dengan makanannya disana.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa ada disini Tae?"
"Jungho meneleponku sambil merengek bersama Hyunjin. Mereka bilang mereka kelaparan dan salah satu dari kalian tidak ada yang mau membukakan pintu kamar. Singkatnya, mereka merengek memintaku datang dan memasak disini." Jelas Seokjin panjang.
Jungkook menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehehe...maaf Hyung."
"Oh iya Hoseok hyung. Semalam aku mendapat telepon dari pengadilan. Sidang dilakukan minggu depan."
Hoseok menegakkan tubuhnya yang semula bersandar pada kursi makan. "Yang benar saja Tae? Bukankah waktu pemrosesan biasanya selama sebulan? Ini kenapa bisa cepat sekali? Kita kan baru mengirimnya siang kemarin."
"Eii Hoseok, kau lupa kita punya seorang teman dekat disana hm?"
Kali ini Hoseok menatap Seokjin. "Teman? Yang mana ya?"
Seokjin menoyor dahi Hoseok dengan kesal. "Hah! Kau melupakannya? Ya Tuhan Jung Hoseok kau sungguh bukan sahabat yang baik!"
"Yak! Aku benar-benar lupa Seokjin!"
"Ravi! Kim Ravi!"
"Oh Ravi—apa?! Ravi?!"
"Sudah kuduga kau melupakannya -_-"
Hoseok meneguk air minumnya dan menatap Seokjin tidak percaya. "Kenapa aku bisa melupakan si larva itu Seokjin?! Aihhh...Ravi-ku~~"
Dan selanjutnya, baik Jungkook, Taehyung, bahkan Seokjin, hanya mampu sweetdrop melihat Hoseok. Sungguh, ini menggelikan!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seminggu berlalu.
Jungkook tengah membantu Hoseok membenahi letak dasinya. Ditengah-tengah kesibukan di dalam ruang sidang. Sidang perceraian Jung Hoseok dan Park Taehyung akan dimulai dua menit lagi. Di sebelah Jungkook duduk Taehyung dan Seokjin yang entah membicarakan apa. Di seberang sana, ada Tuan beserta Nyonya Jung, Tuan beserta Nyonya Park, bahkan ada Himchan dan Daehyun disana. Jungho dan Hyunjin? Mereka bersama Jiwon dan Donghyuk di rumah Himchan.
"Baiklah. Kami akan memulai persidangannya. Jung Hoseok-ssi dan Park Taehyung-ssi dimohon untuk menempati tempat yang telah disediakan." Suara Hakim menginterupsi.
Hoseok mengecup sekilas kening Jungkook sebelum berjalan menuju salah satu kursi di tengah-tengah ruangan. Diikuti Taehyung dibelakangnya.
"Baiklah, sidang kami mulai."
Jungkook menarik nafas. Merapalkan berbagai macam doa dalam hatinya.
"Seomoga sidangnya berjalan lancar."—batin Jungkook.
Sidang berlangsung dua jam lamanya. Dan selama itu pula jantung Jungkook tidak berhenti berdebar. Gelisah tentu saja. Nasibnya dipertaruhkan disini.
"Semua perkara sudah dijelaskan secara rinci disini. Dan dengan ini, Hakim memutuskan. Jung Hoseok dan Park Taehyung resmi bercerai mulai hari ini, tangal *sekian* pukul *sekian*."
Dok. Dok. Dok.
Jungkook bernafas lega tepat saat Hakim memukulkan palu-nya sebanyak tiga kali dan sidang di tutupnya. Jungkook berdiri di tempatnya dan memandang Hoseok haru. Saat namja tampan itu berjalan ke arahnya, tanpa pikir panjang ia berlari dan menghambur memeluk namja tampan itu.
Hoseok balas memeluk Jungkook erat. Mengecupi puncak kepalaya dengan sayang. "Semuanya lancar sayang."
"Hiks...terimakasih hyung, hiks...terimakasih."
Hoseok kembali mengecupi puncak kepala Jungkook. "Terimakasih sudah menungguku selama ini. Terimakasih Jungkook."
Keduanya masih berpelukan erat di dalam ruang sidang. Hingga sebuah suara menginterupsi.
"Halo, Kim Jungkook."
Hoseok dan Jungkook melepas pelukannya dan berbalik. Menatap seorang namja dengan seorang anak perempuan kira-kira berusia empat belas tahun di sebelahnya.
"Kau?!"
"Hai Jung Hoseok, senang bertemu denganmu lagi. Dan, terimakasih karena sudah menolong putriku waktu itu, Kim—ah tidak, Jung Jungkook."
Jungkook mengernyit bingung. Ia memandang namja dihadapannya lekat-lekat. Rasanya ia familiar dengan namja ini dan, ia juga familiar dengan tatapan mata anak perempuan itu.
"Mencoba mengingatku Jung Jungkook?"
Hoseok menarik Jungkook untuk berada di belakang tubuhnya. Seolah-olah melindunginya dari namja di hadapannya. Sungguh! Hoseok benci tatapan dan seringaian licik oarng dihadapannya ini.
"Hei Jung, kenapa kau menyembunyikan istrimu seolah-olah aku akan mengambilnya hm?"
"Sialan Kau Moon Jongup!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.tBc.
Forever~~ We are young~~~
Sialan Hoseok kenapa tampan sekali?! Dan Bangtan sialan kalian semakin membuatku pusing dengan jalan cerita HYYH! Argggggg~~ ini yang bener yang mana?! Rapmon idup apa mati~~ Jin idup apa mati~~ arggghhh pusing~~
Oke. Calm Down. Ekhm!
Apa kalian ada yang bertanya soal kasus kegugurannya Jungkook yang sampai dua kali saat ia tinggal di London? Hal itu akan dijelaskan di chapter khusus penjelasan nantinya. Hehe ^^
JeonJeonzKim : mianhae Jeon paketan habis . sama jeon, lihat kuki bahagia saya juga ikut bahagia, apalagi kalo bahagianya sama jehop xD Aku bukannya gak bisa buat NC jeon, tapi gak berani Aku masih bimbang mau baca ff mu Jeon, mian vkook dan aku masih belum bisa baca vkook, u know apa alasan saya lah, hehe..xD. Btw, thx semangatnya ^^ TFR^^
Jhoseok30 : udah kecium ya baunya, ahahaha...iya deh kayaknya xD btw saya sebenarnya juga agak mikir kok aku agak bego ya pas ngetik scene itu XD TFR^^
GithaCallie : rencananya sih emang chapter kemarin yang mau di double apdet, tapi tidak jadi karena masih pikir-pikir xD TFR^^
Gotbangtanxo : saya juga ngakak, padahal awal ngetiknya waktu itu udah nangis,eh karena gak tega jadinya tak belokin ahahahaha xD TFR^^
Tryss : jungie udah bangun ^^ Junni? Nanti kejawab kok, hehe ^^ TFR^^
Wijayanti628 : selamat ya hehe... xD TFR^^
Hosokpie98 : kayaknya gak ada scene rated m nya deh ini, tapi ada yang nyerempet-nyerempet, maaf kalo bikin kamu kecewa TFR^^
Yessi94esy : udah next~~~~ TFR^^
Hopekies : Hopekook baper, dan saya pun juga ikut baper ahahaha xD TFR^^
Yymin : aku gak tahu mau bales review seperti apa xD soalnya aku pas ngetiknya juga udah banjir air mata, eh endingnya malah ketawa-ketawa sendiri gara-gara tak belokin jalan ceritanya. Bhakss~ TFR^^
KahoriKen : iya, baunya udah kecium sampe dimana-mana. TFR ya ^^
Lutfia245 : Gak cuman hopekook yang kewalahan, jinv pun juga kewalahan xD iya gpp kok, kamu review cuman satu aja aku udah terimakasih sama kamu TFR^^
Arvipark7 : Leo antara menerima dan tidak menerima Jungho sama Jungkook xD TFR^^
Azumihi : udah next~ TFR^^
Potato : udah next beb~~ chapter manis2 tapi angst , kedengarannya bagus xD TFR ya^^
Aliya : cieee yang kena prank xD mian ne~ TFR^^
YM424 : Gak ada sesuanu lagi kok setelah ini, khan udah kecium bau end-nya hehe xD TFR^^
Kayaknya kalian banyak yang minta rated M alias NC ya...kayaknya aku gak bisa kabulin, soalnya ceritanya udah terkonsep dan udah end, mau tak taruh dimana nc-nya aku gak tahu, soalnya nanti harus ngedit ulang ending nya~~ mianhae~~~~~~
Btw, ada yang kaget karena Bangtan upload Young Forever tiba-tiba tanpa kabara ato kode apapun? Saya termasuk salah satunya! xD
See you next chapter~
RnR please~ juseyo~
Gamsha~
Rae#
