House of Cards

BTS

HopeKook

.

.

.

.

.

.

Rae Present

.

Tittle : House of Cards

Author : Rae

Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others

Rated : T, G, K

Cast : HopeKook [with Other's]

Length : Chaptered

Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.

Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...

TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^

.

.

.

.

Hoseok memandang tajam namja yang lebih pendek darinya ini. Kedua tangannya terkepal kuat. Dan Jungkook berdiri di belakangnya dengan wajah kebingungan.

"Untuk apa kau kemari?" Hoseok mendesis.

Namja lawan bicara Hoseok itu tertawa remeh. "Well, aku hanya ingin mengucapkan selamat. Karena kau sudah berhasil mendapatkan Jungie-MU kembali." Namja itu memberi penekanan pada kata 'Jungie-Mu.'

Sungguh. Emosi Hoseok tersulut saat ini.

"Kita bicara diluar. Jungkook-ah, ikut aku." Hoseok menyeret Jungkook yang masih kebingungan menuju luar ruangan. Rencananya ia ingin ke halaman belakang gedung dan menghajar si Moon Jongup menyebalkan itu.

Oh, jadi namja yang sedari tadi menjadi lawan bicara Hoseok itu adalah Moon Jongup.

"Baiklah. Aku selalu menuruti keinginanmu, Jung."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sebenarnya ada apa ini?! Ada yang bisa menjelaskan padaku?!" Jungkook memandang jengah pada kedua namja di kanan kirinya.

"Jung Hoseok, apa kau tidak pernah menceritakan siapa diriku pada istrimu hm?"

Hoseok mendelik kearah Jongup. Sementara Jongup justru tertawa.

"Dilihat dari reaksimu, sepertinya kau memang belum pernah bercerita pada istrimu. Haha...aku benar kan?"

Hoseok menarik Jungkook untuk mundur. Ia sudah siap meninju wajah tampan Jongup yang menurutnya sangat menyebalkan.

"Wow! Calm down man!" Tidak, jika Jongup dengan sok-kerennya menangkis kepalan tangannya yang nyaris saja menyentuh rahang kanannya.

"Jungkook-ah, apa kau benar-benar tidak mengingatku?" Jongup beralih pada Jungkook.

Jungkook memiringkan kepalnya guna mengoreki memori-memorinya tentang namja ini. Barangkali ada. Dan matanya menyipit guna mengingat apa ia pernah atau mengenali wajah tampan pria bernama Jongup ini.

"Hei Jungkook! Apa pertemuan kita waktu itu kurang berkesan bagimu hm? Kau tidak mengingatku dan juga, Junni?"

"Junni?"

Jungkook mengikuti telunjuk Jongup yang mengarah pada anak perempuan disebelah Jungkook. Entah hanya perasaan Jungkook saja atau memang anak perempuan itu tersenyum—menyeringai padanya.

"halo bibi. Aku Junni. Anak perempuan yang menabrak bibi dan bibi malah mengobati lukaku waktu itu."

Anak perempuan? Junni? Menabrak? Obat? Waktu itu?

DEG.

Oh! Jadi anak ini...

"Kau-!"

"Berhasil mengingat kami Jungkook-ah?"

Jungkook dengan bodohnya mengangguk. Jangan lupakan tampang terkejutnya.

"Moon Jongup pergilah dari hadapanku."

Jongup memandang remeh Hoseok. "Sudahlah Hoseok. Itu sudah tujuh tahun berlalu. Dan lebih baik kita berteman saja sekarang. Bagaimana?"

"Dalam mimpimu Moon!"

BUGH.

"Hyung!" Jungkook memekik dan menutup mulutnya terkejut.

Hoseok memukul telak rahang kanan Jongup. Sasarannya sedari tadi.

Jongup meludahan darah ke tanah. Ia mengusap sudut bibirnya yang robek dan berdarah. Kemudian..

BUGH.

Memukul telak rahang Hoseok. Membuat Hoseok terpental ke belakang.

"Hentikan!"

Percuma Jungkook-ah, kedua namja dihadapanmu itu sudah dikuasai emosi masing-masing. Jadi mereka tidak akan mendengarkanmu.

"Berengsek kau Moon Jongup!"

BUGH. Jongup tersungkur dengan Hoseok diatas perutnya. Memukuli wajahnya dengan brutal.

BUGH. Dan Jongup tidak bodoh untuk tidak memegang kuat pinggang Hoseok dan menggulingkan tubuh mereka. Hingga posisinya terbalik. Hoseok dibawah dengan Jongup diatas perutnya. Dan Jongup melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Hoseok. Memukuli wajah tampan itu tak kalah brutalnya.

"Jung Hoseok, Moon Jongup! Hentikan sekarang juga!"

Jungkook mendongak ke arah sumber suara. Ia melihat Tuan Jung beserta Tuan Park dan Seokjin juga Taehyung berlari ke arahnya. Ke arah Hoseok dan Jongup yang masih saling memukul tepatnya.

"Tae!" Jungkook berlari memeluk Taehyung. Ia menangis.

"Semua akan baik-baik saja Kookie, tenanglah." Jujur saja, Taehyung sendiri sebenarnya juga tidak tenang.

"Menyingkir dari tubuh Hoseok, Moon Jongup!" Tuan Park dengan sedikit susah payah menarik tubuh Jongup untuk menjauh dari Hoseok. Bahkan Seokjin ikut membantu. Demi apapun! Jongup ternyata mengerikan jika sedang berkelahi. Tubuh pendeknya memanipulasi segalanya!

Hoseok terbatuk-batuk beberapa kali dengan mengeluarkan darah. Wajah tampannya penuh lebam. Oh, siapapun tidak akan tega melihat kondisinya. Apalagi Jungkook.

"Hyungie kau baik-baik saja?" Jungkook mendekati Hoseok dan berjongkok di sebelahnya. Membantunya untuk duduk.

"Aku baik-baik saja, Jungie. Hei jangan menangis~" hoseok menghapus air mata yang turun dari kedua mata Jungkook.

"Bodoh! Hyung bodoh! Untuk apa memukulnya!" Jungkook hanya menunduk sambil menangis. Sebenarnya ia begitu ketakutan melihat Hoseok dan Jongup saling pukul dengan begitu hebatnya tadi.

"Moon Jongup, enyahlah dari hadapanku sekarang. Kau membuatku muak!" Hoseok memandang marah pada Jongup. Namja itu tak jauh beda kondisinya dengan dirinya.

Jongup mendengus. "Maaf merusak wajah tampan suamimu, Jung Jungkook. Dan sampai jumpa." Jongup menarik anak perempuan bernama Junni tadi dan melangkah meninggalkan mereka.

Dan anehnya, Junni sempat menoleh kebelakang dan melambai padanya. Pada Jungkook.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Asshh! Pelan-pelan sayang!" Hoseok meringis saat dirasanya perih mulai menyerangnya.

"Siapa suruh berkelahi seperti itu tadi!" Jungkook yang memang sudah kesal kian bertambah kesal. Ia menekankan kapas yang sudah dicelup alkohol itu dengan kuat ke sudut bibir Hoseok yang robek.

"Y-yak! Kookie ini sakit!"

"Siapa suruh huh?!"

"Hei!"

Jungkook terdiam. Ia hendak mengomel tadi. Namun pergerakan Hoseok menghentikan semuanya. mata tajam Hoseok memandang Jungkook lekat-lekat. Dan pergelangan tangan Jungkook dicekal kuat olehnya.

"Jangan marah-marah sayang. Kau jelek tau!"

"Hiks.." Jungkook menangis. Membuat Hoseok mengernyit bingung.

"Bodoh! Hyung bodoh!" Jungkook memukul pelan bahu Hoseok dengan sebelah tangannya yang tidak di cekal Hoseok.

"Untuk apa memukul Jongup huh? Jika pada akhirnya kau juga ikut babak belur begini! Bodoh! Jung Hoseok bodoh!"

Hoseok tersenyum. Ia meraih Jungkook kedalam pelukannya.

"Kau tau Kookie, melihat Jongup sama saja dengan aku yang melihat diriku di masa lalu. Yang menyuruhmu pergi dengan kondisi hamil. Yang menyesal setelahnya. Dan aku tidak mau menengok ke masa-masa itu. Itu kenangan buruk!"

"Memangnya..hiks...apa yang dilakukan Jongup padamu hyung?!"

"Dia tidak melakukan apa-apa padaku. Tapi padamu."

"Hah?!"

.

.

.

Flasback.

.

"Apa katamu?!"

Hoseok bangkit dari kursi kerjanya dan memandang geram sekretarisnya yang hanya menunduk dalam.

"Maafkan saya Pak, tapi...saya melihatnya sendiri." Wanita di hadapan Hoseok itu terlihat begitu ketakutan.

Dengan marah Hoseok mengacak rambutnya. Frustasi. Kebingungan. Marah. Menyesal. Semua jadi satu.

"Keluarlah." Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, sekretaris itu melangkah mundur keluar dari ruangan Hoseok.

Hoseok menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kerjanya. Ia kemudian memijat keningnya pelan. Ia pusing.

"Hiks.."

Bahkan ia tidak tahu ia menangis untuk apa.

"Hiks..hiks...Jungkook-ah...hiks...mianhae...hiks..."

Jungkook? Mianhae? Untuk apa Hoseok meminta maaf?

"Saya tahu ini lancang pak, tapi saya rasa saya perlu mengatakan ini. Presdir Jung, ayah anda. Yang berada di balik semua ini."

"Apa maksudmu?"

"Jungkook-ssi, istri anda. Dia dijebak."

"Apa?!"

"Saya mengetahui jika anda melihat sebuah foto yang di dalamnya terdapat Jungkook-ssi yang terlihat seperti tengah berciuman dengan seorang lai-laki dan menggendong anak perempuan. Dan saya mohon pada Anda pak, dengarkan saya. Kenyataan yang sebenarnya tidak sama dengan apa yang terlihat pada foto itu."

"Apa maksudmu Hyena?"

"Laki-laki yang anda anggap sebagai selingkuhan Jungkook-ssi, dia adalah kakak saya. Moon Jongup."

Begitulah sekiranya apa yang dikatakan oleh sekretaris kepercayaannya. Hoseok tidak tahu ia harus percaya atau tidak. Namun sebagian besar hatinya menyuruhnya untuk percaya dan mencari tahu kebenarannya. Namun sisa hatinya yang lain menyuruhnya untuk diam. Tak usah percaya pada hal itu.

Lalu Hoseok harus apa? Ini sudah memasuki bulan ketiga Jungkook pergi dari sisinya. Dan perlu semua orang ketahui, selama itu, Hidup Hoseok jauh dari kata tenang.

Bar dan semacamnya sudah menjadi rumah kedua baginya. Kenapa? Karena ia muak berada di rumahnya. Ia hanya akan teringat Jungkook. Jungkook dengan segala luka yang ia torehkan pada Hoseok. Jungkook yang membuat hatinya hancur karena rasa kecewa. Namun Juga Jungkook dengan segala sikap manisnya. Dengan segala perasaan cinta yang pernah ada untuknya.

Dan Hoseok, ia benci untuk mengatakannya. Tapi ia membutuhkan sosok manis-nya itu. Hanya saja, emosi menutup segalanya.

.

.

.

Flashback End.

.

.

Jungkook hanya mampu menutup mulutnya yang terbuka tidak percaya. Matanya yang memang sudah banjir air mata sedari tadi kini semakin banjir lagi. Ia rasanya sulit percaya dengan apa yang dikatakan Hoseok barusan.

"Aku tidak mengarang ceritanya jika kau tidak percaya Kook. Tapi setelah sekretarisku mengatakan hal itu, aku pergi menemui Yongguk appa dan Himchan eomma. Yongguk appa mengatakan jika yang sebenarnya bodoh itu aku! Yang salah itu aku! Kenapa aku mudah sekali dibohongi oleh keluargaku sendiri waktu itu? Terlebih ayahku!"

Jungkook mengusap pundak Hoseok, mencoba menyalurkan ketenangan. Meski sebenarnya ia sendiri belum tenang dan justru semakin bingung.

"Dan setelahnya aku pulang. Memarahi ayah dan ibuku sambil menangis. Dan saat itulah aku mendengarnya sendiri dari ayahku. Appa mengatakan semuanya dengan penuh emosi. Mengatakan jika ia sebenarnya sengaja menjebakmu agar kita berpisah, bercerai, dan appa akan menikahkanku dengan Taehyung."

"Apa?! Jadi benar jika appa yang ehm...aku dijebak?"

Hoseok mengangguk.

Dan sekarang Jungkook semakin menangis. Ia menghambur memeluk Hoseok. "Hyung, apakah ayahmu sebegitu-tidak sukanya denganku? Sampai segala cara beliau lakukan agar kita berpisah?"

Jungkook merasakan Hoseok menggeleng. "Tidak Kook. Appa hanya belum menerimamu. Bukan tidak menerimamu."

"Ya, hanya belum. Dan selamanya akan tetap seperti itu."

"Hentikan Kookie. Hentikan! Sekarang kita sudah punya Jungho. Dan aku yakin, appa tidak akan pernah memisahkan kita. Aku berjanji sayang."

"Apa aku bisa memegang janjimu hyungie?"

"Tentu."

"Daddy~ Mommy~" Hoseok dan Jungkook serempak melepaskan pelukannya. Mereka berdua bersama-sama memandang ke arah pintu kamar. Dimana duplikat Jung Hoseok tengah berdiri disana.

"Why Jungho?" Jungkook bertanya, tanpa beranjak dari posisinya. Jungkook sedari tadi duduk berhadap-hadapan di atas kasur dengan Hoseok, jika kalian ingin tahu.

"Nothing. But...bolehkah Jungho ikut berpelukan? Ayolah mom~~ please~" Jungho memasang wajah aegyo terbaiknya. Yah, Jungkook menyalahkan ibunya—Himchan yang mengajarkan segala jenis aegyo pada sang putra.

"As you wish baby~" Hoseok merentangkan kedua lengannya.

Jungho berlari kemudian menaiki ranjang dan menubruk Hoseok hingga keduanya terjerembab di atas tempat tidur.

"Mom~ sini~ ayo berpelukan~"

Jungkook tertawa dan ikut menghambur memeluk dua laki-laki tercintanya. Yang Jungkook herani karena wajah keduanya begitu mirip.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Uap panas dari empat cangkir teh itu masih terlihat. Udara jam setengah sebelas pagi masih belum panas. Jadi empat namja yang tengah duduk mengelilingi meja bundar santai di teras belakang sebuah rumah itu masih belum mengeluh ini-itu. Namja berambut hitam menyesap tehnya kemudian memandang namja berambut cokelat gelap.

"Jadi, kapan?" tanyanya.

"Secepatnya." Si namja berambut cokelat menjawab diiringi senyuman.

"Taehyung, kapan?"

Namja disebelah rambut cokelat itu menoleh karena merasa namanya dipanggil. Dia adalah Park Taehyung.

"Satu minggu lagi." Taehyung tersenyum.

"Woah! Cepat sekali Tae! Ah..aku jadi tidak sabar dengan hari itu." Namja manis didepan Taehyung tersenyum lebar dengan mata berbinar. Dia Kim—ah tidak—Jung Jungkook.

"Kau harus datang Kookie! Harus!" Taehyung menunjuk-nunjuk hidung Jungkook dengan jari telunjuknya sementara wajahnya menampilkan ekspresi imut.

Siapa saja, apa Park Taehyung melupakan fakta bahwa ia adalah ibu satu anak? Sehingga dia menampilkan wajah merajuk milik remaja itu?

"Tentu Tae! Iyakan Hoseok hyung?" Jungkook beralih pada namja tampan berambut hitam di sebelahnya. Jung Hoseok suaminya. Namja tampan itu mengangguk. Ngomong-ngomong, Hoseok baru saja mengecat hitam rambutnya tadi malam. Dan, 'lukisan' hasil kerja keras Jongup kemarin masih betah berada diwajah tampannya. xD

"Apa Hyunjin dan Jungho akan menjadi pengiring nantinya?" Hoseok menaik-turunkan alisnya pada Seokjin.

Seokjin tertawa. "Hyunjin akan berdiri bersamaku menanti ibunya di depan altar. Dan Jungho, ia akan membawakan kotak cincinnya."

"Kenapa Hyunjin di altar? Tidak berjalan beriringan dengan Jungho di belakang pengantinnya?"

"Kemarin Hyunjin yang meminta padaku agar ia berdiri disebelahku . ia bilang, ia ingin melihat bagaimana wajah Mommy-nya jika dilihat dari altar." Seokjin senyum-senyum sendiri mengingat ekspresi Hyunjin saat mengatakannya. Dan ia melupakan rona tipis di kedua pipi Taehyung.

"Dengar kalian berdua." Hoseok menunjuk Seokjin dan Taehyung bergantian. Tiba-tiba saja suasananya menjadi sedikit lebih serius. Bahkan Jungkook saja ikut terbawa suasana.

"Kuharap kau mengundang Dokter Park dan keluarganya. Dokter Kim juga. Dan satu lagi! Jangan. Undang. Moon. Jong. Up. Meski. Aku. Tahu. Seokjin. Mengenalnya. Oke?"

Taehyung hanya mengangguk pelan-pelan. Jujur saja, ia terlalu kaget mendengar nada serius Hoseok. Apalagi saati ia mendengar Hoseok mengucapkan setiap kata untuk Moon Jongup dengan penuh penekanan.

"Tentu hyung."

Namun pada akhirnya, Taehyung mengangguk disertai senyuman.

"Baiklah. Aku doakan kalian bahagia dengan hal ini." Jungkook tersenyum lebar. Ia mengambil sesuatu sepeti buku berwarna black-gold yang tadi diletakkan Taehyung di atas meja saat mereka baru sampai.

"Akan aku baca lebih dulu." Senyum lebar masih setia berada di wajah Jungkook. Oh ketauhilah, Jungkook merasa menjadi orang paling bahagia disini.

.

.

Wedding Invitation

Kim Seokjin & Park Taehyung

May 24

10.00 a.m

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jungkook-ah, apa saat kau akan menikah dengan Hoseok hyung dulu kau juga gugup seperti ini?"

Jungkook memandang Taehyung yang sedang duduk dihadapannya dengan heran. Di sebelah Jungkook duduk Jungho yang memakai tuxedo hitam. Ia terlihat begitu tampan.

"Bukankah kau sudah pernah menikah sebelumnya Tae. Dengan Hoseok hyung."

Taehyung mempoutkan bibirnya. Ia berjalan dengan sedikit menghentak dan duduk disebelah Jungkook. Oh, lagi-lagi dia lupa jika ia sudah punya seorang anak.

"Itu perkara beda Jungkookie~ asal kau tahu, pernikahanku dengan Hoseok hyung itu sangat-sangat kurang persiapan. Tidak ada tamu undangan yang sebanyak ini. Dan yang lebih penting, kami menikah atas dasar belas kasihan, bukan cinta. Sementara aku dengan Seokjin hyung, ini atas dasar cinta Kook."

Entah untuk apa, Jungkook tertawa mendengar penjelasan Taehyung. Ia hendak menjawab, namun pintu ruangan karangtina Taehyung dibuka dan menampilkan Hoseok yang terlihat sangat tampan dengan formal-suit nya sekarang.

"Maaf mengganggu obrolan kalian, tapi upacara akan dimulai sebentar lagi. Tae, ayahmu menunggu. Dan kau jagoan kecil, berjalan di belakang bibi Taehyung ne?"

Taehyung berdiri sambil menggandeng Jungho.

"Dad, ayo masuk bersama Jungie." Jungho berhenti di depan Hoseok.

"Nanti sayang, Dad masih ada urusan sebentar dengan Mommy."

"Urusan? Seperti yang tadi malam ya?"

Hoseok mengangguk. Entah apa yang dimaksud kedua orang itu.

"Ja~ temani bibi Taehyung ya. Hyunjin dan paman Seokjin sudah menunggu." Hoseok mengecup pipi anaknya dan mendorong pelan dua orang yang masih berada di ambang pintu itu untuk keluar.

Setelah dua orang itu keluar, Hoseok menutup pintunya dan mendekati Jungkook yang masih duduk di sofa sejak tadi.

"Apa tidak ingin keluar dan melihat mereka?" Hoseok berdiri dihadapan Jungkook.

"Sebentar lagi. Sini sebentar hyung." Jungkook mengisyaratkan Hoseok untuk menunduk karena ia masih duduk dan Hoseok berdiri.

Hoseok mengikuti apa yang dikatakan Jungkook. Dan selanjutnya ia hanya memperhatikan bagaimana tangan Jungkook dengan lihainya memperbaiki tatanan dasinya.

"Kau habis ngapain tadi hm? Dasimu tidak aturan seperti ini."

Hoseok terkekeh. "Mengurusi si Seokjin yang sumpah demi apa, dia keringat dingin saking gugupnya."

Jungkook ikut tertawa dengan tangan yang masih memperbaiki dasi suaminya. "Apa kau dulu juga seperti Seokjin hyung saat akan menikahiku?"

Hoseok tersenyum. Pikirannya melayang ke tujuh tahun lalu, saat hari pernikahannya dengan Jungkook. Ia lantas tertawa mengingat ia yang bahkan bertingkah lebih konyol daripada Seokjin sekarang. Meski waktu itu Daehyun yang menjadi walinya. Karena ayahnya...you know lah.

"Kurasa aku lebih konyol. Pfftttt~"

Jungkook tidak kuasa untuk tidak menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman. Nyaris seperti menahan tawa. Ia menjauhkan tangannya dari dasi Hoseok dan namja tampan itu kembali berdiri tegak.

"Ngomong-ngomong, urusan apa yang kau maksud dengan Jungie tadi?"

Hoseok terlihat berfikir, "Bukan sesuatu yang spesial. Hanya urusanku yang ingin berduaan denganmu."

Jungkook mendengus.

"Ayo melihat mereka." Jungkook berdiri dan hendak berjalan mendahului Hoseok. Namun Hoseok menahan tangannya.

"Why?"

Hoseok menggeleng. Ia mendekat dan mengecup bibir Jungkook. Melumatnya sebentar sebelum melepaskannya. Jungkook mematung karena ciuman tiba-tiba Hoseok.

"Tidak mau merangkul lenganku hm?"

Sebuah senyuman Jungkook berikan pada Hoseok. Ia lantas meraih lengan Hoseok untuk dirangkulnya.

"Tentu saja aku akan melakukannya. Aku tidak mau suamiku yang tampan ini diambil orang nanti. Ja~ ayo kita melihat mereka."

Hoseok tertawa dan mengacak gemas surai hitam Jungkook. Mereka lantas berjalan beriringan keluar ruang karangtina menuju gereja tempat Seokjin akan menepati janji-nya pada Taehyung tujuh tahun lalu.

Janji bahwa ia akan berikrar dengan Taehyung di atas altar, dihadapan Tuhan.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Saya bersedia."

Suara Seokjin terdengar begitu tegas, lantang, dan tanpa keraguan. Membuat sang pendeta yang menikahkannya tersenyum puas sebelum beralih menatap Taehyung.

"Taehyung-ssi, bersediakah anda menerima Seokjin-ssi sebagai pendamping hidup anda hingga Tuhan memisahkan kalian?"

"Saya bersedia."

Bahkan Taehyung pun sama dengan Seokjin, tanpa keraguan.

Dan saat Hyunjin beserta Jungho berjalan mendekati mereka berdua dengan kotak cincin di tangan Jungho dan buket bunga di tangan Hyunjin, Hoseok tersenyum.

"Aku ingin menangis rasanya hyung. Aku...bahagia."

Hoseok merangkul pinggang Jungkook yang duduk disampingnya dengan erat. "Aku juga bahagia. Kau tahu, mereka berdua itu pasangan ter-miris yang pernah kutemui."

"Ya. Dan kita pasangan ter-menyedihkan." Jungkook terkekeh disela-sela isak harunya.

"Sudahlah, jangan menangis. Semua sudah baik-baik saja." Tangan Hoseok mengusap pinggang Jungkook, berusaha menenangkan.

"Aku hanya terlalu bahagia dengan kisah kita berempat."

"Aku tahu. Dan dua jagoan kecil itu terlihat begitu tampan sekarang. Andaikan aku berada disana disaat jagoanku tumbuh, itu akan lebih mengharukan." Hoseok tersenyum memandang Jungho yang mengulurkan kotak cincinnya pada Seokjin.

"Mereka akan berciuman sebentar lagi. Harusnya anak-anak tidak berada disana." Ini Jungkook. Ia sedikit tidak rela jika dua anak kecil itu melihat Seokjin dan Taehyung yang berciuman. Menurutnya, dua bocah kelewat cerdas dan kepo itu akan bertanya ini-itu padanya nantinya.

Dan benar saja, bahkan Jungkook baru saja mengatupkan mulutnya. Kini ia melihat Seokjin mencium Taehyung tepat dibibirnya. Dengan dua bocah itu yang untungnya sudah berjalan menuruni tangga menuju kerahnya.

"Kau lihat, anak-anak tidak ternodai Kookie." Hoseok tertawa kecil. ia sudah melepaskan pelukannya pada pinggang Jungkook dan kini sedang bertepuk tangan menyoraki dua pasangan baru disana.

"Mom~" Jungho menghambur memeluk Jungkook. Jungkook merasakan euforia bahagia melingkupi putranya.

"Paman Seokjin dan bibi Taehyung sangat serasi. Seperti Mom and Dad."

"Iya sayang~" Jungkook mengecup pucuk kepala putranya dan membiarkan putranya beralih ke pangkuan Hoseok.

"Bibi~ Hyunjin rasanya ingin menangis hiks~"

Jungkook memeluk Hyunjin dan menepuk-nepuk pelan punggungnya. "Wae?"

"Seokjin Appa dan Mommy sangat serasi~ huhuhu...Hyunjin ingin seperti mereka berdua nanti kalo Hyunjin menikah."

Jungkook tertawa pelan dan melepas pelukannya. Ia kemudian mendudukkan Hyunjin ke pangkuannya. "Iya. Nanti Hyunjin akan seperti mereka saat menikah."

"Jungkook-ah,"

Jungkook menoleh kearah Hoseok yang baru saja memanggilnya.

"Ingatkan aku untuk membelikan hadiah untuk pengantin baru itu."

"Ha?! Kau belum membeli hadiah hyung?!" Mata Jungkook terbelalak kecil saat Hoseok menggeleng tanpa dosa. Jangan lupakan cengiran kudanya itu.

"Kukira kau sudah membelinya -_-"

"Belum. Aku melupakannya. Jadi, setelah acara nanti, temani aku membelinya."

"Iya-iya. Dasar!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kedua bocah itu berjalan bergandeng tangan dengan riang. Salah satu dari mereka menggengam buket bunga di tangan kanannya, sementara tangan kirinya sibuk menggandeng yang lebih pendek darinya.

Dibelakang mereka, ada dua pasang suami-istri yang hanya tersenyum melihat tingkah dua bocah itu.

"Ja! Sudah sampai~~" yang lebih pendek bersorak kecil. ia berjongkok didepan sebuah gundukan tanah dengan batu nisan keramik bertuliskan 'Kim Yongguk'.

"Aku akan meletakkan bunganya disini." Yang lebih tinggi meletakkan buket bunganya di atas batu nisan itu sebelum ikut berjongkok disebelah yang lebih pendek.

"Jungie, berdoa dulu sayang."

Kedua bocah itu mengangguk dan menyatukan kedua tangan masing-masing sambil memejamkan matanya.

Beberapa detik kemudian, mereka selesai dengan acara doanya.

"Annyeong grandpa~ Jungho sudah tujuh tahu lho hari ini~" Jungho—bocah yang lebih tinggi—tersenyum. Membuat matanya menyipit dengan cantik.

"Hyunjin juga harabeoji, Hyunjin tidak ulang tahun sih sebenarnya, hanya menemani Jungie hyung." Hyunjin—yang lebih pendek—memberikan sebuah cengiran persegi-nya. Turunan dari ibunya, Park—ah salah—Kim Taehyung.

""Selamat ulang tahun! Yayyy!"" Jungho dan Hyunjin bersorak bersamaan.

"Happy Birthday to me, grandpa." Jungho tersenyum menatap makam dihadapannya. Tempat peristirahatan kakeknya.

"Grandpa, Jungie sudah mencoba alat militernya. Hiks...Jungie menyukainya." Jungho tersenyum lebar meski air mata mulai menuruni paras tampannya. Disebelahnya, Hyunjin hanya mampu menunduk. Ia sedang menahan tangisannya.

"Hiks..Daddy, Jungie sudah bertemu Daddy sekarang. Grandpa benar, setelah Jungie melihat Daddy, Jungie juga berpikir jika semua orang pasti akan langsung tahu aku anaknya Jung Hoseok meski hanya melihat wajah, sorot mata, dan senyumku. Karena aku juga menyadari jika kami berdua begitu mirip. Hiks.."

Jungkook yang berdiri dibelakang Jungho dan Hyunjin bersama Hoseok, Seokjin, dan Taehyung, tak kuasa menahan air matanya. Ia membiarkan Hoseok memeluknya, menenangkan.

"Grandpa, Jungie sering melihat matahari terbit dari sungai itu setiap pagi, bersama paman Jiwon dan Hyemi noona. Hiks...kapan kita bisa melihatnya bersama-sama lagi ya...hehehe..." Jungho menyeka air matanya.

"Nanti, kalau kita bertemu lagi, kita main tentara-tentaranan ya Grandpa, hehe..."

"Harabeoji, Appa dan Mom menikah kemarin. Harabeoji benar, kalau cinta sejati pasti akan tetap bersatu meski kita tidak tahu kapan. Hehe...kenapa haraboeji sangat pandai ya.." ini Hyunjin. Suara anak itu sudah parau akibat menahan tangis.

"Nanti Grandpa dengan Himchannie halmeoni pasti akan bersatu lagi." Kedua bocah itu tersenyum lebar. Meski airmata masih mengalir.

"Jungie, Hyunjin, Mom ingin bicara dengan grandpa. Sebentar ya sayang.."

Jungho dan Hyunjin bergeser. Memberi ruang bagi Jungkook.

"Appa..." Jungkook memanggil dengan suara serak.

"Aku kembali pada Hoseok hyung. Hiks..terimakasih sudah mau menghujatnya waktu itu. Karenamu orang bodoh itu terus mencariku meski tanpa kepastian. Dan terimaksih sudah pernah menjadi ayahku. Ayah yang paling kubanggakan. Terimakasih."

"Hari ini, Jungho genap berusia tujuh tahun, dia sudah semakin besar sekarang. Terimakasih sudah membiarkannya mengenalmu sebagai kakeknya, meski sebentar. Terimaksih karena sudah memberinya kekuatan karena ia sangat merindukan ayahnya. Dan ia sudah mengobati rindunya. Terimakasih."

Jungkook menunduk dalam. Bahunya bergetar hebat dan isakannya mulai terdengar keras. Hoseok ikut berjongkok dan mengusap punggungnya. Ia tahu, ini berat untuk Jungkook.

"Appa.." Jungkook memanggil. Meski ia tahu, hanya angin yang akan menjawabnya.

.

.

"Aku merindukanmu..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.tBc.

Sebelum ke balas-balas review, saya mengemukakan saran buat kalian : Dianjurkan bagi para readers-deul untuk download mp3/mp4 di Google/Youtube dengan keywords "Raise Me Up cover by Chinese child". Disitu ada video/mp3 dari dua anak China, laki-laki dan perempuan, yang meng-cover song Raise Me Up. Kenapa dianjurkan download? Lagu itu akan jadi BGM di scene ending dari House of Cards. Jadi biar lebih dapet feel-nya. Heheh...

JeonJeonzKim : Jeon puanjang amat reviewmu xD xD xD Iye, si jeyop out of hormone alias kelebihan hormon, maklum udah tujuh tahun gak 'itu'. Sad ending House of Cards versimu sadis amat Jeon xD Iyaaaa~~~ Vkook best plend~~~ . Jeon kamu minta dijelasin yang scene itu? ._. tanya aja sama Jungkook, khn yang ngerasain dia *bhaksss~. Uwaaaaaaa~~~ Jeon bakalan bikin ff Hopekook buatku? Beneran ya Jeon~~ apalagi ff mu yang The Way I Love You (BTS), bisa request pair khn? Hopekook tjoba , mwehehehe...aku belom paketan~~~ huweeeeee TFR ya^^

Michaelchildhood : review kamu puanjangg sekali xD xD xD Jongup gak ngapa-ngapain kok, cuman memperjelas perkara jaman dulu xD saya juga kesel sama bapaknya Hoseok, tapi dia bias saya juga jadi masih ada cintanya *bhakss~ Jungho sama Hyunjin imut bighit! Kek Hoseok sam Tae pas jaman kecil xD cerita Jungkook pas hamil akan ada di chapter penjelasan, gak masuk chpter utama, hehe...jimin sm yungi muncul lagi kok xD Himchan gak mandang Jungkook sebelah mata, khn kuki anaknya dia. Kalo daehyun, kayaknya stelah ini dia bakalan baik lagi sm kuki. Btw hastagnya bagus juga #hopekookpantasbahagia TFR ya ^^

GithaCallie : Jongupie gak jahat kok, cuman kejam xD itupun pengaruh bapaknya Hoseok. xD Hopekook mesummmm! Iyaaaa! Soalnya udah tujuh tahun gak 'this&that' *bhakss~ NC di skip? Saya gak berani bikin NC, huweeeee~~ jadi cuman nyerempet-nyerempet aja xD Ravi cuman muncul nama doang hehe...hari ini gak bisa dabel apdet, karena something *eakk, Jin blonde? Chapter depan dia blonde~~ udah aku edit warna rambutnya xD xD Jungho plos, tapi setelah ini, saya gak yakin ntu anak tetep polos *bhakss~~ TFR ya^^

Gotbangtanxo : Hopekook kambek~~~~ Jongup gak ngapa-ngapain kok, cuman mampir sebentar, hehehe...TFR ya ^^

Wijayanti628 : Jongup cuman mampir kok, mweheheehe...xD dia cuman memperjelas perkara jaman dahulu *eakkkk TFR ya^^

Hopekies : di skip karena authornya gak berani bikin NC, huweeeeee~~~iya, padahal seru~ huweeeee...TFR ya ^^

BlankJin : 100 buat kamu! Yeayyyy! *tepuk-tepuk tangan* TFR ya^^

Tryss : tidak usah curiga, Jongup gak ngapa-ngapain kok, cuman mampir untuk meluruskan perkara jaman dulu, *bhakss~ TFR ya^^

Yessi94esy : Jongup siapa? Orang. Dia siapa? Orang. Jungkook siapa? Orang. Taehyung siapa? Alien. Kayaknya kamu baru pulang dr planet antah berantahnya Taehyungie ya, samapi lupa siapa-siapa/? *bhaksss xD xD xD Jongup cuman mampir, tenang aja. Hehe...TFR ya^^

Hosokpie98 : Banyak orang ketiga tapi bisa di basmi satu persatu kok. Hopekook khan seterong/? *huks~ TFR ya^^

Yymin : Bapaknya Hoseok ya? Ditunggu aja bagaimana kelanjutnya xD Kamu suka saya pun bahagia *eakk TFR ya ^^

Guest : aku nggak tahu chapter ini sesuai harapanmu atau nggak, semoga aja sesuai ya ^^ TFR ya^^

Kuki0123 : Jongup siapa? Dia membernya B.A.P xD masih keras, belum lunak xD iya, Bighit sukses nguras otak dan kantong saya karena kudu bolak-balik telkom buat downloadin mereka *kuota abis* TFR ya ^^

KahoriKen : 100 buat kamu! Yeayyy! *tepuk tangan* iya, Hosiki tamvan bighit~~ pengen mimisan rasanya *peluk-cium Hoseok* TFR ya^^

YM424 : Hopie benci banget sama Jongup? Di chapter ini sudah kejawab, eheh...TFR ya^^

Feniasyj : chapter-chapter ini dn setelahnya bakalan lebih fokus ke moment Hopekook. Jungho lucu, aku juga suka sm tuh bocah xD happy ending? Kayaknya iya xD saya gak tega me-miris(?)-kan Hopekook *eakk~ TFR ya^^

Huwaaaaaa TEASERNYA MV BANGTAN RILIS! OH YA TUHAN HOSIKI! SEOKJIN! CHIMCHIM! TIGA BIASKU TAMVAN TAMVAN! TERLEBIH HOSIKI! UGH...AKU MENCINTAIMU KUDA SIALAN~~~~

Oke. Calm Down.

Bagaimana chapter ini? Berharap tidak mengecewakan ya Btw Bighit agak lumayan sialan -_- saya beberapa minggu lagi Ujian Kenaikan Kelas, tp mereka malag menggoda saya dengan BANGTAN, khn jadinya saya gak bisa fokus belajar bawaannya pengen liat Hosiki mulu~~ Huweee...

Baiklah...

See you next chapter~

RnR please~ juseyo~

Gamsha~

Rae#

.

.

.

A/N : Dianjurkan bagi para readers-deul untuk download mp3/mp4 di Google/Youtube dengan keywords "Raise Me Up cover by Chinese child". Lagu itu akan jadi BGM di scene ending dari House of Cards. CHAPTER DEPAN (CHAPTER 15) adalah ENDING dari House of Cards. Dan mohon maaf bila ada keterlambatan POST/UPDATE karena kemungkinan tidak adanya koneksi internet pada hari itu. Bisa mundur satu hari. Tetapi diusahakan tetap update pada hari Jumat. TERIMAKASIH.