House of Cards
BTS
HopeKook
.
.
.
.
.
.
Rae Present
.
Tittle : House of Cards
Author : Rae
Genre : Family, M-PREG, Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others
Rated : T, G, K
Cast : HopeKook [with Other's]
Length : Chaptered
Summary : "The door of love has opened now with you and our precious"—Jung Hoseok.
Author's Note : kambek with other's HopeKook ff. Intinya ini ff terinspirasi dari judulnya outro HYYH pt.2. Judulnya doang. Disini bakalan ada HopeV, yang diketik dengan ikhlas supaya ff nya jadi, hehe...meskipun nyesek sih sebenarnya. Filenya yang di laptop udah end, jadi tinggal nge-post tiap minggunya. Hehe...
TYPO(s), YAOI, M-PREG, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^
.
.
.
.
Dua orang namja berbeda warna rambut tengah duduk berhadapan di dalam sebuah cafe. Yang satu berambut agak kecoklatan, dan yang satunya berambut coklat muda pudar nyaris mendekati blonde. Dihadapan keduanya terhidang dua cheesecake dan dua gelas jus stroberi.
"Kapan mereka datang sih?" si rambut cokelat menggerutu. Ia memotong cheseecake-nya asal dan memasukkannya ke dalam mulut dengan sedikit kesal.
"Mungkin sebentar lagi. Mereka bilang akan menjemput Jungie dan Hyunjin sekalian." Si rambut cokelat muda menjawab.
"Hoseok hyung selalu datang terlambat."
Si rambut cokelat muda tertawa. "Kookie, apa kehamilan yang mengubahmu seperti ini?" Ia mencubit pipi tembam orang yang dipanggilnya 'Kookie' tadi, si rambut cokelat alias Jungkook.
"Entahlah Tae. Aku hanya merasa kesal saja jika Hoseok hyung tidak lekas datang menemuiku sesuai janjinya." Jungkook menyeruput jus-nya.
Kling.
Lonceng yang berada di pintu kafe berbunyi. Menandakan ada orang yang masuk. Kedua namja itu langsung menoleh ke sumber suara.
"Mom~~" dan mereka mendapati dua orang bocah berseragam sekolah dasar berlari ke arah mereka. Diikuti dua namja tampan dengan setelan formal di belakangnya—yang juga beda warna rambut.
Jungkook menerima pelukan yang diberikan oleh putranya, Jungho. Ia kemudian mengecup pipi anaknya sebentar. Setelahnya, ia memandang kesal ke arah namja tampan berambut golden brown yang tersenyum padanya.
"Annyeong Kookie~"
"Ish!" Jungkook memalingkan wajahnya, sekaligus tubuhnya. Mengundang kikikan geli dari namja berambut cokelat muda pudar dihadapannya, Taehyung.
"Hyung pulang saja sana!" Jungkook membuat gerakan mengusir dengan tangannya yang diarahkan pada namja tampan yang tadi menyapanya, suaminya tercinta, Jung. Ho. Seok.
"Hei. Hyung baru saja datang dan kau mengusirku?" Hoseok mendudukkan tubuhnya di kursi kosong disebelah Jungkook yang tadi sempat diduduki Jungho. Namun sekarang kosong karena anaknya itu telah menuju beberapa permainan yang memang disediakan oleh kafe ini bersama Hyunjin.
"Jangan dekat-dekat!" sekali lagi, Jungkook mengusir Hoseok.
"Jungkookie, katakan dimana kesalahan Hyung~"
"Pffftttttt~~"
Hoseok mendelik ke arah namja berambut blonde yang duduk disebelah Taehyung, Kim Seokjin.
Ngomong-ngomong, mereka berempat semuanya mengubah warna rambut ya.
"Hoseok hyung, Kookie marah karena kau terlambat datang kesini."
"Taehyungie!"
Hoseok menghela nafas. Ugh, ia sudah lumayan terbiasa. Sudah hampir tujuh bulan lebih dirinya menghadapi Jungkook yang seperti ini. Manja dan super duper perfeksionis! Hoseok sudah kebal istilahnya.
"Kookie mianhae ne?"
Jungkook tidak menjawab. Ia sibuk mengunyah cheesecakenya. Tidak memperdulikan Hoseok yang memandang dengan wajah melas disebelahnya.
"Kookie, hari ini kau ada jadwal bertemu dengan Jimin dan Yoongi hyung. Kau tidak lupa kan?"
Berhasil! Jungkook berhenti mengunyah dan menatap Hoseok dengan mata membola kecil. "Astaga! Aku lupa hyung!"
Beberapa detik yang lalu marah-marah dan mengusir, tapi sekarang bersikap seolah-olah Hoseok adalah dewa penyelamatnya. Mood-swing Jungkook benar-benar menakutkan.
"Jam dua siang. Dan ini jam satu. Bagaimana?" hoseok mengusap sayang pucuk kepala Jungkook. Ini menjadi kebiasaan baru Hoseok untuk menenangkan Jungkook. Karena Jungkook bilang, ia menyukai sensasi saat Hoseok mengusapi pucuk kepalanya. Menenangkan.
"Kita pulang sekarang saja hyung. Jungho titipkan pada Taehyungie dan Seokjin hyung saja. Kita langsung kerumah sakit, aku ingin bertemu Yoongi hyung lebih dulu sebelum beretemu Jimin."
Dan Hoseok tertawa dalam hati. Menjadikan Yoongi sebagai salah satu senjata ampuh untuk membujuk Jungkook tidak akan pernah sia-sia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Yoongi hyungie~~" Jungkook membuka pintu putih dihadapannya dengan tidak sabaran. Ia disambut dengan senyuman milik namja manis yang tengah duduk di sofa santai di ruangannya.
"Pelan-pelan Kookie, jangan lari-larian!" Yongi berdiri tiba-tiba karena Jungkook berlari kearahnya. Yoongi hanya terlalu khawatir.
"Hehehe...maaf hyung." Jungkook memeluk Yoongi dan duduk di sofa di hadapan Yoongi. Diikuti Hoseok yang duduk disebelahnya.
"Mau menemui Jimin?" yoongi melepas jas dokternya dan menyampirkannya pada pinggiran sofa. Ia kemudian berjalan ke arah mesin pembuat kopi disudut ruangan. Berniat membuatkan minum untuk dua tamunya.
"Iya hyung. Hari ini jadwalnya check-up."—Ini Hoseok yang menjawab. Karena Jungkook sekarang sibuk dengan buku-buku bacaan di rak di sudut ruangan Yoongi.
"Masih ada satu jam lagi. Jimin sedang operasi." Yoongi kembali sambil membawa tiga cangkir kopi di nampannya.
"Ngomong-ngomong, Jungkook sudah memasuki bulan ke-sembilan. Sudah dapat perkiraan dari Jimin?"
Hoseok menggeleng. Ia menerima cangkir kopinya dari tangan Yoongi.
"Terimakasih hyung." Hoseok menyesap sebentar kopinya. "Belum. Jimin belum memberitahu kami. Mungkin pertengahan April."
"Perempuan apa Jungie kecil lagi?" Yoongi menaik-turunkan alisnya.
Hoseok tertawa. "Inginnya sih perempuan hyung. Tapi kalau jadinya Jungie kecil lagi, ya tidak apa-apa. Terserah Tuhan ngasih-nya seperti apa."
"Kalian membicarakanku ya?"
Hoseok dan Yoongi serempak menoleh. Mereka mendapati Jungkook yang kini tengah mengerucutkan bibirnya. Ia berjalan dengan sedikit menghentak sebelum duduk di sebelah Hoseok.
"Baby tidak suka jika ada yang membicarakannya diam-diam."
Tawa Hoseok dan Yoongi meledak. Apa tadi Jungkook baru saja menyebut baby? Oh, ini kali pertamanya mengucapkan 'panggilan' itu. Dengan nada merajuk.
"Tenang Kookie, kami tidak membicarakanmu diam-diam sayang. Hanya mengobrol ringan." Jungkook tidak mengindahkan perkataan Yoongi. Ia meraih cangkir kopi miliknya dan mulai meminumnya.
Yoongi melirik sebentar jam di pergelangan tangan kirinya. "Sepertinya Jimin sudah selesai. Mau menemuinya sekarang?"
.
.
.
.
.
.
.
.
"Cukup sehat. Hanya tinggal mempertahankannya hingga hari H, dan semuanya akan selesai." Jimin mengakhiri penjelasannya dengan senyum menawan.
"Apa jenis kelaminnya Jim?"
Jimin beralih menatap Hoseok. Ia kemudian menampilkan cengiran khasnya. "Hehe...maaf hyung, aku tidak bisa memberitahumu. Kami dilarang untuk hal itu."
Dan Hoseok mendengus. Ia kemudian duduk di kursi yang berada di depan meja Jimin. "Perkiraanya?" tanyanya kemudian tanpa menatap Jimin. Ia malah membuka buku-buku dimeja Jimin yang kebanyakan berisi gambar wanita dengan perut besar, sebut saja ibu hamil.
"Sembilan belas April. Kalau tepat."
Jungkook menoleh dengan mata membulat terkejut. Ia sedang duduk di atas tempat tidur pasien bersama Yoongi.
"Itu hari ulang tahun Himchanie eomma!" ucapnya dengan nada riang. Sukses mengalihkan Hoseok dari buku yang dibacanya.
"Iya! Itu hari ulang tahun eomma. Akan sangat baik jika perkiraanya tepat!" hoseok menyahut tak kalah riangnya.
"Tapi sayangnya banyak yang meleset hyung. Kadang lebih cepat, dan kadang jauh lebih lambat." Dan Jimin dengan entengnya menghancurkan euforia kebahagiaan Hoseok dan Jungkook -_-.
"Sudah menyiapkan nama?"—Yoongi.
"Belum hyungie, Hoseok hyung belum menyiapkannya." Jungkook kembali mengerucutkan bibirnya.
"Aku akan memberikan nama jika aku sudah mengetahui jenis kelaminnya dengan jelas hyung." Hoseok kemudian tertawa.
"Oh iya Hoseok hyung! Jungkook sudah dekat dengan perkiraan. Jadi jangan sering-sering keluar rumah kecuali untuk check-up. Akan sangat membahayakan baginya."
Dan Hoseok beserta Jungkook hanya mengangguki saja.
"Jim, kapan nyusul?"
Pertanyaan Jungkook sukses menghasilkan seringaian puas di bibir Jimin. "Jiyoon juga akan menyusul Jungho dan Hyunjin sebentar lagi."
"Maksudmu?"
"Yoongi hyung hamil dua bulan~~"
"Hyungie kenapa tidak bilang-bilang!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seokjin dan Hoseok berdiri di belakang sebuah sofa di ruang keluarga Hoseok. Seokjin dengan rambut pirangnya dan Hoseok dengan golden-brown-nya. Keduanya sama-sama menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Memandang kesal namun sayang pada dua namja dengan perut besar yang sedang duduk bersebelahan di sofa. Di meja-nya tersaji dua kotak yang tadinya berisi dua porsi bebek peking namun sekarang tinggal tulang-belulangnya. Jangan lupakan dua kotak cheesecake stroberi dan dua botol besar susu yang juga rasa stroberi.
""Kapan kalian selesai makan?"" Hoseok dan Seokjin kompak bertanya. Mereka sedang lelah man.
""Nanti hyung."" Dan hebatnya, dua namja dengan perut besar disana juga menjawab bebarengan.
Jung—Kim Jungkook. Dan. Kim—Park Taehyung.
Dua ibu—namja—hamil.
Istri tercinta Jung Hoseok dan Kim Seokjin.
"Jungkook, kau harus banyak istirahat. Ini sudah tanggal sepuluh, tinggal sembilan hari lagi."
Jungkook menggeleng keras mendengar perintah Hoseok. "Kau mengganggu hyung! Pergi sana!"
Lagi-lagi Hoseok diusir. Kenapa mood-swing-nya Jungkook sangat parah -_-.
"Seokjin hyung juga! Berisik. Pergi sana dengan Hoseok hyung!"
"H-hei Tae, kenapa aku ikut-ikutan?!" Seokjin mendelik tidak terima.
"Kalian berdua berisik. Sana pergi! Nanti suaranya GD tidak kedengaran! Sana!"—Jungkook.
"Hush-hush!"—Taehyung.
Hoseok dan Seokjin sweetdrop. Ingin rasanya Hoseok melemparkan gelas ke layar datar televisinya yang menampakkan gambar para personil Big Bang diatas panggung konser. Dan Seokjin sudah menyumpah-serapahi si pemilik stasiun televisi yang dengan gamblangnya menanyangkan siaran langsung konser Big Bang. Kalian ingat tentang Jungkook dan Taehyung yang merupakan fans Big Bang? Bahkan disaat hamil dan perut besar pun mereka masih sempat menonton konsernya. Mengabaikan dua laki-laki yang berada dibelakang mereka yang mengeluarkan 'pujian'-nya.
Ngomong-ngomong, hamil? Siapa yang hamil?
Jungkook dan Taehyung. Keduanya tengah hamil anak kedua saat ini.
Jungkook genap sembilan bulan, dan Taehyung tujuh bulan lebih dua puluh hari. Kehamilan yang membuat Hoseok dan Seokjin bahagia sekaligus cemas, kesal, dan diuji kesabaran.
Terlebih Hoseok, Jungkook mengalami mood-swing sejak usia kandungannya memasuki bulan kedua. Mood-swing yang parah! Terlebih ngidam-nya sungguh aneh! Lalu Taehyung, Seokjin bahkan nyaris menyumpahi istrinya. Taehyung sangat hyper dan hal itu membuat Seokjin cemas berkali-kali lipat. Padahal kata Hoseok, saat mengandung Hyunjin, Taehyung tidak ekstrim seperti ini—masih ingat kondisi Taehyung saat mengandung Hyunjin?. Dan satu lagi hal yang membuat dua suami itu kesal setengah mati. Kehamilan membuat Jungkook dan Taehyung berkali-kali lipat tambah ngefans dengan Big Bang, -_-.
.
.
.
.
Flashback.
.
Hoseok terpaksa tidak tidur semalaman. Terlihat sekali gurat lelah bercampur khawatir di wajah tampannya. Kenapa? Sejak ia pulang kerja kemarin sore, Jungkook mengeluh dirinya pusing dan kurang enak badan. Ia bilang sudah meminum obatnya, tapi sama sekali tidak berefek apa-apa. Jadilah Hoseok harus menunggui Jungkook semalaman penuh. Memijati tengkuknya berkali-kali, karena Jungkook terus pusing tiap sepuluh menit sekali. Dan lagi, Jungkook menolak untuk ke dokter.
"Sayang, apa masih pusing?" Hoseok bertanya.
Jungkook hanya menggumam tidak jelas. Ia merasa kepalanya akan pecah jika terus-menerus seperti ini. Oh iya, Jungkook juga ikut tidak tidur karena pusing yang menyerangnya.
"Kita ke dokter saja ya? Hyung tidak tega melihatmu seperti ini."
"Aku tidak mau hyungie." Sama. Jawaban Jungkook sama sejak semalam.
"Lalu hyung harus apa? Kau pusing terus-menerus dan aspirin tidak membantumu sama sekali."
Jungkook berusaha membuka matanya yang teramat berat. Efek pusingnya. "Panggil Jimin kesini saja hyung."
"Jimin? Kenapa tidak Namjoon saja?" dahi Hoseok berkerut tidak mengerti. Jungkook melihat wajah lelah suaminya, dan sungguh—ia tidak tega melihatnya.
"Karena aku mulai merasa mual sekarang." Jungkook membawa tubuhnya untuk duduk dan berusaha untuk menuruni tempat tidur. Ia butuh kamar mandi. Ia mual.
"Mual?" Hoseok masih tidak mengerti.
"Sudahlah hyung, panggil Jimin saja. Aku-hoek!" Tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena mual yang langsung menyergapnya. Jungkook menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan berlari menuju kamar mandi. Diikuti Hoseok dibelakangnya.
Kosong. Tidak ada apa-apa. Tidak ada apapun yang ia mutahkan. Dan Jungkook sudah menduganya.
"Kookie kau kenapa?"
"Hyung, panggil Jimin saja."
.
.
.
.
.
.
.
.
Jimin membereskan peralatan dokternya dan mengulas sebuah senyuman penuh arti pada Jungkook. Jimin seolah tahu jika sebenarnya Jungkook sudah menduganya. Dan dugaan Jungkook itu tidak meleset. Maka dari itu, namja manis istri Jung Hoseok itu membalas senyumannya.
"Jim, apa ada sesuatu yang salah dengan Jungkook?"—ini Yoongi. Ia memaksa untuk ikut saat Jimin bilang bahwa ia ditelepon Hoseok yang mengatakan Jungkook sakit dan memintanya kesana. Yoongi tengah duduk di sofa disudut kamar dengan gadis enam tahunan yang bermain dengan Jungho disebelahnya.
"Ya. Sesuatu yang salah sudah terjadi."
Hoseok menegang. Ia melihat raut tak biasa dari wajah dokter muda berambut hitam itu—Jimin mengganti rambut orange-nya dengan hitam.
"Hoseok hyung." Jimin berdiri dan menepuk bahu Hoseok pelan. Ia menahan senyum karena ia merasa Hoseok menegang—ketakutan.
"A-apa Jim?"
Oh. Bahkan suara Hoseok sedikit bergetar.
"Kau akan menjadi ayah untuk kedua kalinya." Jimin berbisik tepat ditelinga Hoseok.
"Apa?" sementara Hoseok masih memproses keadaan. Ia terkejut. Tentu saja. Matanya melirik Jungkook di tempat tidur yang menatapnya dengan senyum—meski gurat lelah masih ada.
"Jim jangan bercanda!" Hoseok masih tidak percaya.
Jimin menjauh dan duduk disebelah Yoongi. "Ei! Kau meragukan-ku hyung? Aku ini dokter lho." Dan Jimin tertawa.
"Sebenarnya apa yang kau katakan pada Hoseok, Jim?" Yoongi pun tidak mengerti.
Jimin tertawa dan mengusap sayang surai abu-abu istrinya.
"Jungkook hamil. Dua minggu." Jimin tersenyum, merasa bangga dengan analisanya.
"Kookie kenapa kau tidak bilang?!"—ini Hoseok.
"Sebenarnya aku sudah memeriksanya sebelum kau pulang hyung, hasilnya positif. Tapi aku langsung pusing setelah itu, dan tidak sempat menjelaskannya padamu. Jadi aku memintamu untuk menghubungi Jimin, sekaligus memastikan hasil yang sebenarnya." Jungkook tersenyum.
Hoseok berjalan mendekat kearahnya. Kemudian berjongkok di sebelahnya sambil menggenggam tangannya erat. Ia mengecupnya sayang.
"Terimakasih." Hoseok tersenyum dengan sebuah air mata kebahagiaan menetes dari matanya.
.
.
.
Dan dua bulan kemudian, Seokjin memberikan sebuah kabar bahagia pada mereka. Taehyung menyusul Jungkook.
.
.
Flasback End
.
Jungho sedang tengkurap di atas karpet ruang keluarganya. Di sebelahnya duduk Jungkook dengan sekotak biskuit stroberi di pangkuannya. Sebuah buku gambar lengkap dengan alat tulis beserta pewarna-nya, diletakkan di hadapan Jungho.
"Mom, Jungie gambar apa?" Jungho menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Menatap polos pada Jungkook.
"Terserahmu sayang." Dan Jungkook hanya tersenyum sambil mengacak surai hitam putranya sayang.
"Jungie sebentar lagi delapan tahun, dan bulan depan ujian kenaikan kelas." Bocah kembaran Jung Hoseok itu menggerutu. Mengundang tawa kecil dari sang ibu.
"Lalu kenapa sayang?"
"Nanti waktu yang Jungie punya untuk bermain dengan adik bayi akan berkurang." Bocah itu cemberut.
Jungkook tersenyum dan melirik jam dinding di sana. Pukul tujuh malam.
"Sebentar lagi Daddy-mu pulang sayang. Mau nitip sesuatu? Biar Mom yang sampaikan."
Jungho menggeleng. "Sedang tidak ada yang Jungie inginkan, Mom." Ia beringsut mendekati Jungkook dan memeluk perut besar ibunya itu dengan sayang. "Aku berharap adik bayinya perempuan, yang cantik seperti Mom."
Jungkook tertawa. Tak lama kemudian, suara pintu yang dibuka dari luar terdengar. Tanpa bertanya pun, pasangan ibu dan anak itu sudah tau siapa yang datang.
"Dad~~!" Jungho bangun dari tidurannya dan berlari ke ruang tamu.
"Ya Tuhan! Merindukan Dad hm? Dimana Mommy-mu?"
Jungkook tersenyum saat suara Hoseok menyapa pendengarannya. Tak lama kemudian , Hoseok memasuki ruang keluarga dengan Jungho yang menariki tangannya.
"Maaf hyung, aku tidak bisa bangun untuk membantumu."
Hoseok tersenyum. "Tidak apa-apa sayang."
"Ngomong-ngomong, bagaimana kondisimu hm? Dia tidak merepotkanmu kan?" Hoseok mengelus perut besar Jungkook dengan sayang.
"Tidak hyung. Dia jadi anak baik, seperti biasanya."
Jungho duduk diantara keduanya. Ia menempelkan telinganya ke perut sang ibu.
"Woahhh~~ adik bayi menendang~" Jungho berujar dengan wajah penuh binar. Mengundang senyuman dari Hoseok.
Namun senyum Hoseok pudar saat ia merasakan sebuah remasan kuat pada lengannya. Ia melirik Jungkook dengan dahi berkerut.
"Jungkook? Kau baik-baik saja?" Hoseok panik. Tentu saja.
"Ti-tidak hyung. Hh...kurasa—sekarang...akh!" Jungkook meremas lengan Hoseok lebih kuat. Ia meraskan nyeri luar biasa pada bagian bawah tubuhnya. Dan ia tahu apa penyebabnya.
"Ini masih tanggal dua belas. Harusnya tanggal sembilan belas kan?"
"Hyung jangan banyak tanya! Ini sakit bodoh!"
Oke. Hoseok setuju jika ia bodoh. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mempertanyakan perkiraan kelahiran bayinya. Yang terpenting—
"JUNG HOSEOK!"
"Arrggghhh! Kookie! Hei-hei! Lepaskan tanganmu dari rambutku!"—Jungkook sudah lebih dulu menjambak rambut golden-brown-nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kurasa memang benar hari ini hyung! Sebaiknya kau mempersiapkan mentalmu saat operasi berlangsung!" Jimin berkata dalam satu tarikan nafas. Ia sibuk mempersiapkan segala macam peralatan operasinya.
Sementara Hoseok—
"Hyung! Kenapa sakit sekali!"
"Kookie! Hei aku tidak bisa bernafas sayang!"—masih berusaha melepaskan cengkeraman Jungkook pada sekujur tubuh bagian atasnya. Dibantu Yoongi.
"Jungkook tenangkan dirimu. Jangan panik Kookie~" Taehyung juga ada disana, mencoba membantu melepaskan tangan Jungkook yang menjambak rambut Hoseok. Agak susah karena perut besarnya.
"Tae! Ini sakittt! Jung Hoseok sialan!" Jungkook menarik rambut Hoseok. Demi apapun! Saat ini ia merasa sakit luar biasa, padahal Jungho dulu tidak seperti ini. Ia butuh ibunya.
"Taehyungie tunggulah diluar sayang. Biar kami yang membantu Hosiki." Oh. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Himchan dan Hakyeon datang bersamaan.
"Ne eomma.." dan Taehyung keluar ruangan.
"Jungkookie lepaskan tanganmu dari Hosiki ya? Dia kesakitan sayang~"
Jungkook menggeleng keras. Ia bahkan sudah menangis. "Eomma sakit..hiks...sakit..."
"Iya sayang. Kami tahu ini sakit, tapi lepaskan Hosiki ya? Dia kesulitan bernafas."
Jungkook kembali menggeleng.
"Yakk! Jungkookie! Lenganku-awww!"
"Diamlah hyung!"
"Jimin cepatlah sedikit! Kasihan Hoseok!"—ini Yoongi.
Jimin mengambil sebuah suntikan dan mendekati empat oarng yang berada di sekitar tempat tidur Jungkook—meja operasi.
"Hoseok hyung, relakan wajah tampan atau lenganmu untuk menjadi tempat cakaran Jungkook." Jimin berucap dengan nada bercanda. Dan Hoseok tidak terlalu peduli akan hal itu.
"Jungkook, aku hanya akan memberikan bius setengah saja. Kau akan tetap bisa melihat bagaimana proses kelahiran bayimu. Kalau sakit, cakar saja Hoseok hyung."
Jungkook hanya mengangguk asal. Ia terlalu fokus dengan rasa sakitnya sampai—
"Akhh! Hyungie!"
"Akkhhhhhh!"
Jungkook berteriak karena efek obat biusnya yang demi apapun sangat sakit meski tubuh bagian bawahnya mulai mati rasa. Dan Hoseok yang berteriak kesakitan karena mungkin saja wajah tampannya dicakar oleh Jungkook. Karena memang benar, terdapat dua garis melintang berwarna merah di pipi kanan Hoseok.
.
.
.
.
.
"Hyungie mianhae..." Jungkook mengusap luka di pipi Hoseok.
"Tidak apa-apa. Yang tadi itu, sakit sekali ya?" Hoseok balas menggenggam tangan Jungkook dipipinya. Membawanya untuk dikecup.
"Iya. Sangat sakit. Aku juga tidak tahu kenapa rasanya berbeda dengan Jungie."
"Mungkin baby ingin menghukum ayahnya karena dulu tidak ada saat kakaknya lahir." Hoseok tersenyum miris.
"Mungkin..."
"Kalian bahagia sekali ya? Padahal ini masih di ruang operasi."—suara Yoongi menginterupsi. Diikuti kekehan Jimin setelahnya.
"Hyung jangan ingatkan aku jika ini masih di ruang operasi. Sialan kau Yoongi hyung! Kaki-ku lemas lagi~ aiiihhhh~"
Jungkook dan Yoongi menahan tawa mendengar rengekan Hoseok. Ya, mereka masih berada diruang operasi. Dan Hoseok sudah lemas sedari tadi padahal operasi baru berjalan lima belas menit karena demi apapun! Ia ngeri melihat pisau bedah kebanggaan Jimin itu menggores perut istrinya, membukanya. Bahkan ia hanya berjongkok disebelah Jungkook sedari tadi. Ia yakin ia akan jatuh jika berdiri.
"Aku akan mengeluarkan bayinya. Yoongi hyung, siapkan handuk ya."
Yoongi menuruti perintah Jimin. Ia megambilkan handuk putih bersih dan menghamparkannya di kedua lengannya. Sekedar informasi saja, hanya ada dia dan dua orang perawat saja yang membantu Jimin. Hoseok dan Jungkook juga.
"Aku tidak mau melihatnya!" Hoseok menggenggam erat tangan Jungkook dan memejamkan matanya. Ia ngeri man!
"Lihatlah hyungie, tidak akan terjadi apa-apa." Bujukan Jungkook tidak mempan. Hoseok masih setia menggeleng dengan mata terpejam erat.
"Aku tidak mau pingsan Kookie sayang."
"Yoongi hyung mendekatlah, aku akan mengeluarkan bayinya."
Jungkook mamandang layar didekatnya yang menampilkan keadaan dibalik tirai operasinya.
Ia melihat Jimin meraih sesuatu dari dalam perutnya. Mengeluarkannya dan membersihkan noda-noda darah yang berada disekitar kepalanya.
Tangisan bayi memenuhi ruang operasi. Membuat Hoseok mendongak cepat-cepat. Mengikuti arah pandang Jungkook.
"Jungkook..."
"Hiks..." satu isakan lolos dari Jungkook. Tangisan bayi yang sekarang berpindah ke tangan Yoongi itu semakin keras. Reflek, Jungkook balas menggenggam erat tangan Hoseok yang masih setia menggenggamnya.
Ini kali kedua Jungkook berada dalam euforia hangat yang memenuhi relung hatinya. Ia berhasil menjadi ibu untuk kedua kalinya.
"Jimin!" Hoseok bangkit dari duduknya dan mendekati Jimin. Ia tidak peduli dengan perut Jungkook yang masih belum ditutup dan dijahit.
Jimin menoleh kearah Hoseok dan tersenyum penuh arti.
"Perempuan. Dia sehat, hyung."
Dan untuk pertama kalinya, Hoseok menangis keras saat Yoongi menunjukkan bayi perempuan yang masih merah itu padanya. Begitu cantik dengan bibir mungilnya yang terbuka menyuarakan tangis.
"Dua belas April. Pukul sepuluh malam lewat dua belas menit. Putri seorang Jung Hoseok telah lahir ke dunia." Yoongi tersenyum.
Jemari Hoseok menyentuh pelan pipi bayinya. Kemudian ia mengecup kening bayinya pelan-pelan. Dan tangisannya semakin tidak dibendung.
"Jung Hoseok, setidaknya menangislah dengan manly -_-"
Ya. Karena Hoseok menangis dengan sangat tidak manly-nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak pernah dalam sejarah pagi seorang Jung Hoseok, ia akan tersenyum begitu lebar saat ia bangun. Namun hari ini, hal itu terjadi. Senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Bolehkah saya mengatakan jika Hoseok tidak tidur semalaman saking bahagianya ia? Karena hal itu memang terjadi hari ini.
Hoseok memandang bagaimana Jungkook tengah menggendong bayi itu dikedua lengannya. Mengecupi wajah cantiknya berulang-kali. Dan itu menjadi pemandangan yang hangat untuknya.
Ia berjalan mendekati Jungkook yang masih berada di ranjangnya. Ia ikut mengecup kening bayi perempuan di gendongan Jungkook.
"Selamat pagi baby~"
Jungkook tidak bisa untuk tidak menarik kedua sudut bibirnya ke atas. "Selamat pagi juga daddy~"
Jujur saja, ini adalah pemandangan yang sudah lama Jungkook mimpikan. Karena Hoseok tidak ada saat Jungho lahir. Karena ia hanya ditemani Yoongi, Jimin, dan bibi William waktu itu. Namun sekarang, laki-laki itu ada disampingnya. Mengucapkan selamat pagi pada putrinya. Bahkan menemaninya selama operasi. Dan Jungkook tidak bisa untuk tidak mengakui jika ia begitu bahagia sekarang.
"Maafkan aku Kookie. Tapi aku belum mempunyai nama yang pas untuk-nya."
Jungkook tersenyum lagi dan membawa sebelah tangannya untuk mengusap pipi Hoseok. "Tidak usah terburu-buru hyung. Pikirkan baik-baik saja. Apapun pilihanmu."
"Terimakasih." Hoseok mencium kening Jungkook.
"Ngomong-ngomong, Jungie akan datang nanti bersama Hyunjin, Taehyung, dan Seokjin."
"Mereka tidak sekolah?" Kening Jungkook berkerut.
"Hanya satu hari. Tidak apa-apa kan?"
"Terserah." Jungkook hanya memasang wajah datarnya.
.
.
.
.
"Woah! Ia menguap Kookie!" Taehyung memekik antusias. Namja cantik dengan perut besar-nya itu menopang kedua kepalanya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada sisi tempat tidur Jungkook. Matanya tidak lepas dari bayi perempuan berbalut selimut kuning cerah itu.
"Dia cantik kan Tae?"
Taehyung mengangguk. Ia tidak mengalihkan atensinya dari bayi Jungkook. "Kenapa lagi-lagi mirip Hoseok hyung? Padahal bibirnya sudah mirip denganmu. Kalau ia mirip denganmu, akan lebih cantik." Ujarnya kemudian.
"Hahaha...Tentu saja mirip Hoseok hyung, Tae. Kalau mirip Seokjin hyung bahaya nanti."
Taehyung terkikik.
"Kook, sudah punya nama?" kali ini Taehyung mengalihkan fokusnya. Memilih menatap Jungkook yang menggeleng.
"Belum Tae. Mau mengusulkan?"
"Bolehkah?" lagi-lagi mata gelap Taehyung berbinar. Dan Jungkook mengangguk.
"Yi-yeon."—mengucapkannya dengan mata berbinar.
"Yi-yeon?"
Taehyung mengangguk antusias. "Yi-yeon artinya bunga yang indah. Bunga karena bayimu perempuan. Dan indah karena ia begitu cantik. Ia akan menjadi harta karun kedua yang begitu cantik milik kalian berdua."—dan ia tersenyum.
"Hyunjin. Nama itu pemberian Hoseok hyung. Hyun diambil dari namaku, dan Jin diambil dari nama Seokjin Hyung. Ia bilang jika Hyunjin adalah selamanya akan milikku dan Seokjin hyung, meski ia mengenal Hoseok hyung sebagai ayahnya karena ia menyandang marga Jung. Dan Hoseok hyung juga bilang, aku harus mengenalkan Seokjin hyung sebagai 'ayah' juga pada Hyunjin."
Taehyung tersenyum. Yang mau tidak mau membuat Jungkook ikut tersenyum.
"Akan aku pertimbangkan dengan Hoseok hyung. Jung Yi-yeon. Kedengarannya bagus Tae."
"Terimakasih. Aku tidak memaksamu untuk menggunakannya."
Oh. Adakah yang lebih membahagiakan dari ini? Senyum manis menghiasi wajah keduanya. Seakan mengerti suasana, bayi cantik itu ikut menggerak-gerakan bibir mungilnya mengulas senyuman.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok tengah menimang-nimang bayinya sambil bersenandung kecil. Ia tengah mencoba membantu Jungkook menidur-siangkan bayinya. Karena Jungkook sendiri tengah menyantap makan siangnya.
"Hyung."
Hoseok menoleh. "Why?"
Jungkook menyuapkan nasinya dan menelannya. Kemudian ia meminum susunya. "Taehyung mengusulkan nama untuk putri kita, tadi."
"Oh iya? Siapa?" Hoseok mendekat dan duduk dipinggiran ranjang. Masih dengan menggendong putrinya.
"Yi-yeon."
"Kenapa Yi-yeon?"
Jungkook menegak susunya sampai habis. "Taehyung bilang, Yi-yeon artinya bunga yang indah. Bunga karena bayi kita perempuan. Dan indah karena ia begitu cantik. Ia akan menjadi harta karun kedua yang begitu cantik milik kita berdua."
"Ia tidak memaksa kita untuk menggunakan nama usulannya."—tambahnya.
Hoseok kemudian menyerahkan putrinya ke pangkuan Jungkook. "Lalu, bagaimana menurutmu?" tanyanya kemudian.
"Apanya?"
Hoseok mengusap pelan rambut hitam legam putrinya yang sudah ada sejak ia lahir. Kemudian ia mengecup keningnya sayang. "Apakah kau menyukainya? Yi-yeon?"
Jungkook mengerjap beberapa kali sebelum tersenyum. "Aku menyukainya. Tapi semua terserah padamu hyung."
Hoseok kini menatap Jungkook. Ia tersenyum begitu tampan. Tangannya terulur untuk mengacak sayang poni Jungkook.
"Mari kita panggil dia Yeon."
"Yeon?"
"Jung Yi-Yeon. Bukankah itu cantik?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mom~~~"
"Dad~~~"
"Bibi Kookie~~~"
Dejavu again huh? Yeah, memang benar. Bedanya, kali ini bukan hanya Jungho dan Hyunjin saja.
"Jungie? Hyunjin? Dan—Oh! Jiyoon-ah!"—ditambah seorang gadis cantik berambut cokelat tua sebahu, dengan mata sipitnya yang begitu menawan. Gadis cilik berwajah persis seorang Park Yoongi, Park Jiyoon.
"Mommy~~ aku merindukanmu~" Jungho hendak naik ke atas tempat tidur, namun lengan kokoh Hoseok menahannya.
"No sayang. Mommy masih belum sembuh. Okay?"
Hyunjin mendekat. "Dad, Hyunjin ingin melihat adik bayi."
"Jungho juga! Jungho juga!"
"Jiyoon juga!"
Senyum lebar terkembang di wajah tampan Hoseok. Ia menunjuk tiga anak kecil dihadapannya itu satu persatu. "Berbaris yang rapi ya? Dan jangan berisik, nanti adik bayinya bangun dan memangis. Okay?"
"""Siap!"""
Hoseok terkekeh dan berjalan ke sisi seberang Jungkook. Menggendong putrinya—atau kita sebut saja Yeon mulai sekarang. Ia duduk di sofa di sudut ruangan. Sementara tiga anak-anak itu mengekor di belakangnya.
"Woah! Mirip dengan Jungho hyung ya~"
"Cantik sekali!"
"Mirip Dad."
"Namanya siapa dad?"—Jungho.
"Jung Yi-Yeon. Kalian bisa memanggilnya Yeon."
"Annyeong Yeon-ah!"—ketiga anak itu bersorak bahagia.
Sementara Jungkook, ia memandang pemandangan di hadapannya dengan senyum bahagia.
"Kau menggunakan nama pemberianku Kookie?"
Jungkook mengangguk mengiyakan pertanyaan Taehyung. "Hoseok hyung dan aku sama-sama menyukainya. Namanya cantik."
"Iya. Yeon cantik sekali. Tapi sayang ia mirip Hoseok hyung."—Jimin.
"Loh kenapa memangnya Jim?"
"Akan lebih cantik jika ia mirip Jungkook. Benar kan?"—Jimin tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada Seokjin yang menjawab pertanyaan untuknya.
"Hei kalian semua! Aku mendengarkan ya!"—Hoseok.
Tidak ada yang lebih bahagia dari Jungkook karena suasananya begitu lengkap. Hanya saja, tidak ada ayahnya disini. Yah, tapi Jungkook tahu. Yongguk appa pasti bahagia melihatnya dari 'sana'.
'Appa, cucu-mu lahir. Seorang bayi perempuan yang cantik. Dan sekali lagi, mirip dengan Hoseok hyung. Namanya Yeon. Jung Yi-Yeon. Bukankah itu sangat cantik?'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook sudah pulang dari rumah sakit seminggu yang lalu. Dan saat ini ia tengah duduk bersandar di atas tempat tidur dengan sebelah lengannya menggendong Yeon dan lengannya yang lain memegangi botol susu putrinya.
"Ugh sayang, pelan-pelan minumnya~" Jungkook membersihkan bekas susu yang merembes keluar dari mulut putrinya.
"Habiskan susumu lalu tidur ya?"—menepuk pelan paha bayi berusia satu minggu itu setelah sebelumnya ia membaringkan Yeon diatas kasur tipis khusus bayi.
Jungkook sepertinya terlalu asyik dengan putri kecilnya, sampai tidak menyadari jika Hoseok sudah memasuki kamar.
"Kookie,"
Jungkook menoleh karena merasa namanya dipanggil. "Ya hyung?"
Hoseok tidak menjawab. Ia hanya memandang khawatir pada Jungkook sambil menggeser tubuhnya kesamping beberapa langkah. Seolah memberi jalan pada seseorang di belakangnya. Dan tentu saja hal itu membuat alis Jungkook bertaut tidak mengerti, karena di belakang Hoseok tidak ada siapa-siapa.
"Hyung kau-"
Klek.
Pintu terbuka. Dan mata bulat Jungkook terbelalak saat itu juga.
"Appa-"
"Sudah. Tetaplah ditempatmu Jungkook."—seorang laki-laki paruh baya dengan mata tajam dan raut datar alaminya, baru saja membuka pintu itu. Dan memintanya untuk diam ditempat—karena dirinya memang hendak menurunkan kedua kakinya dari tempat tdiur, untuk sekedar berdiri menyambut orang itu.
"A-appa.." Jungkook memandang tidak percaya. Terlebih saat laki-laki itu mendekat kearahnya sambil memberi isyarat agar ia tetap diam ditempatnya.
"Jangan beranjak dari tempatmu, Jungkook. Kau masih belum sembuh total."
Jungkook memandang Hoseok dengan bingung sekaligus meminta penjelasan. Namun suaminya itu hanya menggeleng. Tidak tahu.
"Ekhm. Apa yang membuat appa berkunjung kemari?—Jungkook bertanya dengan hati-hati. Takut salah.
"Hanya ingin mengunjungi cucu-ku yang cantik ini. Bukankah hanya aku yang belum mengunjunginya?" laki-laki itu mengusap pipi tembam Yi-yeon dengan gemas. Sebelum akhirnya tersenyum.
"Jungkook-ah, aku keluar sebentar." Hoseok melangkah mundur dan menghilang di balik pintu. Sengaja membiarkan Jungkook dan ayahnya berdua di kamar.
Ayah? Ya. Laki-laki bermata tegas itu adalah Tuan Jung Taekwoon. Ayah Jung Hoseok dan mertua Jungkook.
Hening menguasai. Euforia canggung begitu terasa setelah Hoseok keluar. Jungkook meremas ujung kaosnya karena takut dan gugup. Ia menunduk. Sebelum pada akhirnya mendongak karena mendengar helaan nafas dari ayah mertuanya.
"Maafkan aku, Jungkook." Tuan Jung menunduk.
Sejenak Jungkook tertegun mendengarnya. Jemarinya semakin meremas ujung kaosnya. Sementara jantungnya berdegup kencang.
"U-untuk apa?"—berucap dengan suara bergetar.
"Semuanya." Tuan Jung mendongak, menatap Jungkook. Sorot matanya menunjukkan penyesalan yang mendalam.
"Untuk Hoseok. Dirimu. Jungho. Dan juga Yi-yeon. Seokjin dan Taehyung juga."
Jungkook menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya cepat. Dengan berani ia meraih kedua telapak tangan mertuanya untuk ia genggam lembut.
"Appa, semua sudah terjadi. Yang lalu biarlah berlalu. Aku sudah...melupakannya."—Jungkook memandang lembut mata tegas Tuan Jung.
"Tapi kesalahanku tidak sekecil dan semudah itu Kook. Kau pasti...terluka."
Sekali lagi Jungkook menghela nafas. "Appa dengarkan aku."
"Aku memang terluka. Jujur saja, aku sangat terluka. Terlebih saat Appa mengatakan jika seharusnya Hoseok hyung menikah dengan Taehyung saja, dan setelahnya appa menjebakku. Hanya untuk memisahkan kami. Aku terluka appa, sangat. Tapi apa yang bisa kulakukan? Menuntutmu? Aku tidak akan setega itu pada orang yang dicintai oleh suamiku sendiri.
Meski aku meninggalkan Korea dengan hati terluka waktu itu, ketahuilah appa. Aku masih merindukan kalian selama aku di London. Hoseok hyung, aku bahkan masih mencintainya meski aku tahu ia telah menikah lagi dengan Taehyung. Aku masih setia padanya.
Kenapa? Karena aku hanya ingin appa tahu, Jung Jungkook adalah istri sah Jung Hoseok. Menantumu. Meski appa tidak pernah mengakuinya. Dan aku juga hanya ingin Hoseok hyung tahu, ada yang menunggunya. Putranya.
Appa, sekarang hilangkan semua rasa bersalah dan penyesalanmu itu. Bukalah hati mu untuk kehidupan yang baru. Jangan menyesal lagi karena aku benar-benar memaafkanmu appa. Aku mencintaimu selayaknya aku mencintai Yongguk appa."
Dan pada hari itu. Untuk pertama kalinya Jung Taekwoon memeluk Kim Jungkook. Menantunya yang selama ini tidak pernah ia anggap ada karena suatu alasan yang sangat-sangat tidak jelas dan kekanakan.
Bisakah kita mengatakan jika Tuan Jung Taekwoon yang teramat sangat dingin itu kini telah membuka hatinya untuk Jungkook? Membiarkan namja manis itu menjadi menantunya, istri dari putra bungsunya, dan ibu dari kedua cucu-nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mom,"
Jungkook, berikut Hoseok menoleh. Mendapati Jungho yang berdiri di ambang pintu kamar mereka.
"Why?"
Jungho mendekat. Kemudian ikut duduk di atas tempat tidur. Tempat dimana kedua orang tuanya tengah duduk berhadapan dengan adiknya berada ditenga-tengah mereka.
"Annyeong Yeon-a." Jungho melambai ceria sebelum mengecup pipi gembil adiknya.
"Annyeong oppa~"—dan ini suara Jungkook yang menjadi Yi-yeon.
"Kenapa sayang? Game-mu sudah game over?" Hoseok mengusap sayang surai hitam Jungho. Dan si empu-nya mengangguk sebagai jawaban.
"Iya Dad. Aku kalah lagi. Sebenarnya Daewon hyung itu punya trik apa sih, sampai bisa menang terus."—bibir yang sama persis dengan milik Hoseok itu maju kedepan. Cemberut.
"Kau tahu sayang? Daewon hyung itu anaknya siapa?"
Mata Jungho mengerjap polos sebelum berucap. "Anaknya paman Daehyun."
"Nah sudah tahu! Asal kau tahu sayang, paman Daehyun itu otaknya otak gamer. Jadi Daewon menurun otak ayahnya."
Sekali lagi Jungho mengerjap polos. "Jadi, otak Dad bukan otak gamer?"
"Hahahaha!"—tawa Jungkook meledak seketika. Untung masih tahap wajar, jadi Yeon tidak akan terkejut dan menangis mendengarnya.
"Astaga -_-. Terserahmu sayang."—Hoseok memasang tampang datar yang pasrah. Ia tidak ingin Jungho maki kepo dan Jungkook makin menertawakannya.
"Hahaha...!"—Ugh! Bahkan Jungho ikut tertawa sekarang.
Baiklah. Biarkan mereka tertawa sepuasnya dulu.
"Ekhm, sory Dad."—Jungho menahan tawanya. "Lusa Jungie kenaikan kelas. Ujian juga sudah selesai. Ada undangan untuk Mom & Dad ke pentas kenaikan nanti."
Jungho mengulurkan sebuah amplop putih pada Hoseok. Ternyata bocah itu sedari tadi menyimpan amplonya di balik bajunya. -_-
"Harus datang?"—Jungkook bertanya setelah sebelumnya melirik isi amplop yang sekarang tengah dibaca Hoseok.
"Iya Mom, wajib."
Jungkook nampak bingung. Ia melirik sebentar Yeon. "Bagaimana ya? Kau tahu kondisi Mom dan juga adikmu kan sayang?"
"Iya Mom. Aku mengerti. Daddy saja juga tidak apa-apa kok."
Sebuah senyuman penuh pengertian terulas di bibir Jungho. Namun Jungkook tahu, senyum itu sebenarnya senyum kekecewaan.
"Tidak apa-apa sayang. Dad akan datang meski Mommy tidak datang. Paman Seokjin juga paman Jiwon ada kan?"
Jungho menganguk. Meski tak dipungkiri, dalam hatinya ia kecewa.
"Baiklah Mom, Dad. Jungie tidur dulu ya. Besok harus latihan."
"Latihan?"
"Iya. Saem menyuruh Jungie jadi pengisi acaranya. Hyunjin, Hyemi noona, dan Yoonji juga. Hehe..."
Setelahnya, bocah itu turun dari tempat tidur dan menuju kamarnya. Hoseok merebahkan tubuhnya dan melipat kedua lengannya di belakang kepala untuk bantal. Ia memandang Jungkook.
"Kau yakin tidak akan datang?"
Mata Jungkook mengerling nakal. "Tentu saja aku datang hyung! Aku hanya becanda tadi."
Kekehan keluar dari mulut Hoseok. "Astaga Kook. Jadi, kau ingin memberi kejutan untukny?"
"Tentu saja!"
Dan pada akhirnya sepasang suami isteri itu tertawa bersama.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok merapikan setelan formalnya sebentar sebelum memasuki gedung aula di depannya. Saat ia baru masuk sampai pintunya, entah ini hanya perasaannya saja atau memang sema mata memandangnya. Takjub? Heran? Pensaran? Hoseok tidak terlalu memusingkannya. Ia kemudian menelisik setiap tempat duduk yang begitu banyak dihadapannya—sebagian besar sudah terisi. Hanya untuk mencari sosok tampan bernama Kim Seokjin—yang katanya sudah sampai sepuluh menit yang lalu dan sudah menyiapkan satu—dua—tempat duduk untuknya.
"Dasar! Dimana sih bapaknya Hyunjin itu."
Hoseok menggerutu tidak jelas. Ia menelisik sekali lagi dan—Bingo! Kim Seokjin tengah melambai padanya. Duduk di barisa ketiga dari depan. Tepat disebelahnya ada Taehyung dan Hyunseok—adik Hyunjin yang baru lahir dua bulan yang lalu.
"Kalian." Hoseok menunjuk Taehyung dan Seokjin bergantian. "Aku mencari kalian lima menit. Berdiri seperti orang bodoh di pintu masuk. Ish!"—Dan dengan kesal Hoseok mendudukkan dirinya di salah satu kursi kosong di sebelah Seokjin.
"Hehe, maaf Hyung. Ngomong-ngomong, Kookie mana? Kalian tidak berangkat bersama?"—taehyung.
"Tidak. Kookie akan datang nanti dengan Hakyeon eomma. Katanya ingin memberi kejutan untuk Jungie."
"Astaga! Jungkook benar-benar kreatif."
"Sudahlah. Acaranya akan segera dimulai. Kudengar hyung, Jungho akan kolaborasi dengan Jiyoon ya?"
Hoseok mengangguk, membenarkan pertanyaan Taehyung. "Katanya sih iya. Ia terus latihan dirumahnya Jimin sejak tiga hari yang lalu. Dan tidak mengijinkanku juga Jungkook untuk melihatnya latihan. Aihh...Kurasa aku akan menjodohkan anakku itu dengan anakknya Jimin nanti."—Hoseok terkekeh di kahir kalimat.
.
.
.
Jungho terus menepuki pelan dadanya, tempat dimana jantungnya terus berdetak kencang sedari tadi. Ia gugup. Mikrofon yang digenggamnya, ia genggam semakin erat. Sebelah tangannya yang menganggur meremas pelan ujung lengan kemeja putihnya.
"Oppa.."—seorang gadis berambut cokelat tua sebahu meraih tangan Jungho yang meremas lengan kemejanya.
"Kau gugup ya?"
Jungho mengangguk, dan gadis itu tertawa.
"Yoonji-ya, kira-kira, Dad akan suka tidak ya?" mata Jungho menerawang.
"Tentu saja paman Hoseok akan menyukainya. Dia akan menyukai semua usahamu, Oppa. Nah, ayo kita bersiap. Sebentar lagi giliran kita."
.
.
.
"Hyungie, apa aku telat?"
Hoseok menggeleng. Ia mengambil alih Yi-Yeon dari Jungkook. Dan membiarkan istrinya—beserta Hakyeon—untuk duduk terlebih dulu, sebelum mengembalikan Yi-yeon padanya.
"Taehyungie~" Jungkook melambai pada Taehyung, ia tidak bisa memeluk namja manis itu karena terhalang Seokjin dan Hoseok. Dan Taehyung membalas lambaian tangannya diiringi senyum perseginya.
KLAP.
Tiba-tiba saja lampu ruangan dimatikan. Gelap. Dan krasak-krusuk di bangku penonton mulai terdengar.
"Kookie fokuslah ke depan. Jungho disana."—Hoseok.
Jungkoom yang semula sibuk menoleh kesana kemari, kini menatap lurus kedepan. Ke sebuah panggung yang diterangi cahaya minim yang menyorot siluet dua orang anak—laki-laki dan perempuan—disana.
"Jungie?"
Denting piano menjadi awal pembuka penampilannya. Dan lampu mulai dinyalakan secara remang-remang.
.
.
Jungho menatap lurus kedepan. Denting piano sudah terdengar dan cahaya temaram menyelimuti area penonton. Mata Jungho terbelalak. Ia terkejut.
Meski temaram. Namun ia melihatnya dengan jelas.
Ibunya, duduk disana. Tepat disebelah ayahnya. Mereka berdua tersenyum kearahnya. Seolah mengatakan, "Kami disini untukmu."
Jungho mengangguk yakin saat Hoseok mengangkat dua jempolnya kearahnya, meberi semangat. Tepat saat bait pertama lagunya ia nyanyikan.
.
.
.
When I am down
And oh my soul so weary
When troubles come
And my heart burdened be
When I am still
And wait here in the silence
Until you come
And sit a while with me
*You raise me up
So I can stand on mountains
You raise me up
To walk on stormy seas
I am strong
When I am on your shoulders
You raise me up
To more than I can be
-back to *-
[You Raise Me Up—Cover by: Chinese Childs]
.
Hoseok tertegun. Jungho menyanyikan lagu You Raise Me Up itu dengan mata yang terus menatapnya. Seolah menyampaikan perasaannya padanya.
.
"Daddy.."
Hening. Ruangan yang semual riuh tepuk tangan saat Jungho dan Yoonji selesai menampilkan nyanyiannya, mendadak hening saat suara husky Jungho menggema. Apalagi ia berbicara menggunakan mikrofon, yang otomatis suaranya menjadi lebih keras.
"Dad, kau mendengarnya kan? Mom juga. Kalian mendengarnya kan?"
Jungkook dan Hoseok serentak mengangguk. Mata mereka berdua tak lepas dari putranya di atas sana. Mereka tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang menatap kearah mereka. Penuh selidik.
"Aku menyanyikannya dengan baik kan? Haha...terimakasih juga untuk Yoonji yang bersedia membantuku menyanyikannya."—suara husky Jungho bergetar.
"Dad, boleh aku mengutarakannya?"
Hoseok mengangguk.
"Sepetinya lagu tadi, sudah mewaili semua apa yang ingin kukatakan padamu. Tapi entah kenapa, aku ingin mnegutarakannya dengan kata-kata. Sekali lagi."
Jungho tertawa kecil.
"Ketika aku masih kecil, aku bertanya pada Mommy untuk pertama kalinya. "Mom, Daddy kapan pulangnya?". Dan Mommy hanya tersenyum padaku sambil mengusap rambutku. "Sebentar lagi."—begitu katanya."
Jungkook, bahkan Hoseokm kembali tertegun. Jungkook melirik tangannya digenggam erat oleh Hoseok. Yeon sudah berpindah ke tangan hakyeon sejak Jungho dan Yoonji mulai bernyanyi.
"Setelah aku menunggu, aku kembali bertanya pada Mommy. Dan jawaban yang sama aku dapatkan. Dan pada hari itu, untuk pertama kalinya Mommy menunjukkan padaku bagaimana rupa ayahku, tanpa memberitahukan namanya. Yang ada di pikiranku saat itu; Daddy cepat pulang ya, Jungie kangen. Tapi Dad tidak pernah datang."
Jungho mengusap sebentar wajahnya, menyeka airmatanya.
"Lalu, Jungie melihat Mommy menangis, di depan foto Daddy yang bersandingan dengan fotoku. Begitu seterusnya, Mom akan menangis setelah ia menjawab pertanyaanku tentangmu, meski dibelakangku."
Hoseok semakin menggenggam erat tangan Jungkook. Ia ingin menangis rasanya. Pedih.
"Dan sejak saat itu, aku tahu. Jika Daddy, adalah kelemahan Mommy. Jika Mom akan selalu menangis setiap aku bertanya tentang dimana ayahku."
"Sampai pada akhirnya, Mommy memutuskan kembali ke Korea. Mempertemukanku denganmu, meski awalnya Mommy menolak dan membantahnya. Tapi aku tahu, Mom begitu ingin Dad memanggilku."
"Dan itu terjadi."
Hoseok sudah menangis sekarang.
"Ahn Jaemin, kuharap kau melihatnya sekarang. Ayahku ada disana. Kau pernah bertanya kan waktu itu? Sekarang pertanyaanmu terjawab."
Jungho menunjuk Hoseok. "Ayahku. Dia duduk disana, disebelah ibuku. Jung Hoseok. Dia adalah ayahku. Dan juga ayah Kim Hyunjin."
Suara bisik-bisik memenuhi ruangan. Terkejut dengan pengakuan Jungho.
"Dad, terimakasih. Kau tahu Dad, saat aku terpuruk dan merasa begitu lelah, saat berbagai masalah mendatangiku, membuat hatiku begitu berat. Sempat aku berpikir untuk membencimu. Namun apa? Aku bahkan jauh lebih memilih menunggumu. Menunggumu disini dalam diam, sampai kau datang dan duduk bersamaku, membantuku meringankan hatiku yang terasa begitu berat. Meski harus sangat lama."
"Dan saat kau datang, apa yang kuharapkan terjadi. kau membangkitkanku, bahkan hingga aku kini dapat berdiri tegak ditempat yang sangat tinggi. Kau bahkan menemaniku menerjang semua maslaah bak badai yang ingin memporak-prandakan hidupku, hiudpmu, juga Mommy."
"Daddy, aku mencintaimu."
Hoseok berdiri dari duduknya dan berlari keatas panngung. Ia merentangkan kedua lengannya setelah sampai di pinggir panggung.
"Wanna hug me?"—katanya dengan suara parau—Ia mengangis.
Jungho mengangguk kemudian menghambur memeluk ayahnya. Erat. Sangat erat, seolah takut ayahnya itu akan menghilang dari hadapannya.
"Kau tau Dad, aku kuat saat aku bersandar padamu. Dan kau membangkitkanku dari semua kesulitan ini, lebih dari yang aku bisa."
"Aku mencintaimu Dad,"
Hoseok mengecup sayang pucuk kepala putranya.
"I love you too~"
Sementara itu, Jungkook sudah dipeluk oleh Taehyung. Namja cantik itu menangis hebat. Diiringi riuh tepuk tangan dan tangis haru dari seluruh audience.
.
.
.
.
.
.
.
"Hoseok, agak ke kiri kau!"
Hoseok dengan bibir cemberut mengikuti arahan Seokjin. "Sudah?"—tanyanya kemudian.
"Oke. Pertahankan posisimu. Jungkook, usahakan Yeon tetap menghadap kamera ya. Dan Jungho, jangan menempeli Yoonji terus, agak kekanan, mepet dengan Hyunjin. Oke, bagus. Baiklah, timernya aku atur sekarang!"
Seokjin menekan tomnol kameranya sebelum berlari dan ikut bergabung bersama yang lainnya, berdiri disebelah Taehyung yang tengah memangku Hyunseok.
Tik.
Tik.
Tik.
""SAY CHESEE!""
Tik.
Klik.
Kilatan lampu blitz kamera DSLR itu menerpa—meski samar nyaris tak terlihat karena ini siang hari dan mereka berfoto di indoor.
"Oi Seokjin! Bagaimana?"—Hoseok.
Seokjin mengacungkan jempolnya. Tanda bahwa foto bersama yang mereka ambil tadi hasilnya bagus.
"Sini aku pinjam sebentar kameranya." Hoseok mengmabil alih kamera itu dari tangan Seokjin. Ia kemudian mendekati Jungkook yang bersama Jungho dan Yi-yeon.
"Let's take a selca. Okay?"
Hoseok membalik kameranya hingga lensanya berada di depan mereka berempat. Hoseok mengambil angle empat puluh lima derajat dan memutar layar kamera hingga menghadap kebelakang. Menampilkan wajah mereka berempat di dalam kamera.
"Say Chesee!"
Klik.
"Bagaimana hyung?"
Hoseok menunjukkan hasil fotonya pada Jungkook.
"Good."
"Dad, nanti dicetak dan diletakkan di atas perapian ya. Biar sama dengan rumahnya Jungho yang di London dulu."
Hoseok mengangguk. "Nah, sekarang Jungho berdiri disamping Mommy ya, Dad ingin memotret kalian bertiga."
Jungho mengikuti perintah Hoseok. Berdiri disebelah ibunya dan membuat tanda peace dengan jarinya.
'Kenapa ia begitu tampan? Bahkan aku seperti melihat diriku dimasa lalu'
Klik.
Sekali lagi, kamera berhasil membidik ketiga orang kecintaannya Jung Hoseok itu dengan baik.
Dan tidak ada yang lebih mmebuatnya bahagia selain tiga orang pemilik hatinya itu. Kim Jungkook. Jung-Ho, dan Jung Yi-yeon.
"The door of love has opened now with you and our precious. Thankyou for being birth, my dear."—Jung Hoseok.
.
.
.
.
EnD.
.
.
Fiuhhhh~~ chapter ini adalah chapter terpanjangnya House of Cards~~~` Satu lagi! Chapter ini NO EDIT—kecuali warna rambutnya Hopekoo+JinV—jadi mohon maklum banyak TYPO(s)
Bagaimana, feel-nya dapet gak? Endingnya juga, maaf jika mengecewakan.
A/N: Mohon untuk berkenan membaca chapter setelah ini. Meski kurang penting. Karena cuap-cuap saya ada disana. Hehe..xD
