The Taboo Alchemist
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Based on The Legendary Moonlight Sculptor By Nam Hee Sung
Warning : Gaje, Abal, Typos, OC, OOC, alur terlalu cepat, pasaran, mudah ditebak, banyak unsur- unsur dari anime / manga / light novel lain
NO EDIT
Don't like don't read
.
.
Chapter 9 : Gadis yang Kehilangan Suaranya
"HAH HAH HAH akhirnya selesai juga pertarungan ini. Jujur saja, ini sangat merepotkan untuk bertarung melawan puluhan monster sekaligus di levelku yang belum mencapai angka 60 ini."
"Tak apa Naruto. Lama kelamaan kau juga sudah semakin kuat. Buktinya kau sekarang bisa menggunakan sky walk dan dragon fear secara berurutan. Itu artinya kapasitas MP-mu telah menigkat cukup banyak dari yang sebelumnya."
"Ya ya aku tahu itu. Sekarang aku hanya perlu untuk mengambil item – item yang telah kuabaikan saja dari tadi."
.
.
"Hei Naruto.."
"Hmmm ?"
"Apa kau tidak bosan melakukan hal yang sama terus – menerus ?"
"Apa maksudmu ?"
"Kau jarang masuk sekolah, dan kegiatanmu hanya berdiam diri di rumah dan bermain game saja. Apa kau tidak bosan?"
"Tidak."
"Dan juga kenapa kau jarang sekali masuk sekolah bebeapa bulan ini ?"
"Aku hanya sekolah untuk melengkapi standar minimal absen yang kubutuhkan untuk naik kelas. Jadi selama itu adalah hal yang diperlukan aku hanya akan melakukan itu secukupnya."
"Kenapa begitu ? Padahal sekolah itu sangat menyenangkan loh."
"Tak apa. Menurutku sekolah tidaklah semenyenangkan itu. Tapi kenapa kau bertanya seperti itu ? Padahal kaupun tidak pernah bersekolah."
"Hmm itu karena aku sering mendengarnya di televisi. Di sebuah acara televisi ada sebuah film yang menceritakan tentang betapa menyenangkannya masa sekolah saat ini. Bukankah itu sangat indah? Berangkat sekolah bersama teman, tertawa, bermain, ekskul bersama. Bukankah itu adalah hal yang sangat kau inginkan Naruto?"
"Yah mugkin juga begitu..."
'Sekolah tidaklah semenyenangkan itu bagiku. Tapi kalau bersamamu mungkin...'
"..."
"Ne Sakura nee-san kalau kau sudah sembuh. Maukah kau berangkat ke sekolah bersamaku?"
"Tentu saja. Semoga hal itu bisa segera terkabul. Aku sangat ingin pergi bersama denganmu, Naruto."
"Ya. Itu pasti sangat menyenangkan bisa menikmati masa – masa sekolah bersama denganmu."
Sebuah senyum mengakhiri percakapan mereka. Sebuah percakapan tanpa suara yang hanya diisi dengan gerakan tangan yang menggoreskan pena di atas sebuah kertas.
'Kuharap kau bisa mendapatkan suaramu lagi, Sakura nee-san'
Sebagian kenangan kecil Naruto di dunia nyata mulai tersingkap sedikit demi sedikit.
.
.
"Hey Cool. Aku tau aku masih pemula, tetapi tidakkah kau pikir perkembangan statistik dan levelku berjalan dengan sangat cepat?"
"Hmm memangnya sebelum keu bertarung melawan monster – monster ini kau berada di level berapa ?"
"Level 58."
"Lalu sekarang ?"
"Level 63"
"Penguasaan skillmu ?"
"Paling sedikit itu sudah ada di level 5 tahap beginner."
"Mungkin ini memang sangat cepat untukmu. Mungkin itu karena kau masih pemula. Diantara sekian banyaknya pemula di dunia ini. Pastilah ada beberapa orang yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan statistik yang sangat cepat sepertimu, Naruto. Kau sangat beruntung bisa mendapatkan profesi alkemis yang masih tergolong sangat baru saat ini."
Tetapi Naruto memang harus mensyukurinya. Kebanyakan player bermain dengan mengandalkan item dan uang untuk meningkatkan level dan statistik mereka.
Inilah jalan pintas yang biasanya dipilih oeh para palyer pemula. Daripada berlatih dan menempa pengalaman di medan pertarungan.
Lebih baik melakukan quest yang aman dan mengumpulkan uang untuk membeli item bagus yang bisa meningkatkan statistik.
Itu sangat berbeda dengannya yang berkembang dengan cara berlatih dan bertarung sampai titik darah peghabisan.
Hasil yang akan mereka dapatkan di masa depan sangatlah berbeda jauh bagaikan langit dan bumi.
Sesuatu yang didapatkan dengan keringat, darah, dan air mata tentunya jauh lebih berharga daripada sesuatu yang kau dapatkan dengan mudah melalui jalan pintas.
Pengalaman yang Naruto dapatkan merupakan sesuatu yang tak ternilai harganya, tidak seperti item yang bisa dibeli dengan harga sebesar apapun itu.
"Ya kau benar. Kemungkinan di dalam Royal Road ini, baru aku saja yang memilih profesi alkemis. Itu merupakan sebuah keuntungan besar yang aku miliki."
"Hmm itu adalah keuntungan yang sangat besar bagimu."
"Juga gara – gara pertarungan yang gila kemarin, aku jadi mendapatkan skill baru 'Mad Enhancement'. Skill itu kudapatkan sebagai hadiah karena aku berhasil mengalahkan para mini boss itu."
"Bukankah itu adalah skill milik kelas berserker ?"
"Entahlah. Tapi dalam penjelasannya skill ini akan membuatku gila secara sementara sebagai ganti untuk meningkatkan agility, offense, damage pada seranganku menjadi 3 kali lipat. Skill ini juga meningkatkan regenerasi HP dan MP-ku sebanyak 25%."
Naruto menampilkan ekspresi bingungnya. Ini merupakan skill yang agak berbahaya karena menjadi gila dan mengamuk seenaknya bisa sangat mengancam nyawa Naruto.
Namun ini bukanlah skill yang terlalu berbahaya jika Naruto hanya bertarung sendirian.
Dia tak perlu repot untuk memikirkan rekannya yang bisa saja terluka jika Naruto sedang mengamuk menggunakan skill ini.
"Kau bisa mencobanya lain kali kok, Naruto."
"..."
.
.
'Sepertinya hari ini adalah jadwal bagiku untuk berangkat ke sekolah. Sesungguhnya aku benar – benar tidak ingin berangkat sekolah, tetapi gara – gara pemerintah yang dengan seenak udelnya membuat kewajiban wajib belajar 12 tahun aku jadi terpaksa harus ke sekolah.'
Mereka bilang masa – masa ketika bersekolah di sekolah menengah atas merupakan puncak dari kehidupan masa mudamu.
Kau bisa mengikuti ekskul untuk menyalurkan bakat dan minatmu pada suatu hal tertentu.
Atau kau bisa bermain bersama teman – teman ketika kau sedang pulang sekolah.
Ke game center, kafe, mall atau mungkin pergi bersama ke pantai ketika libur musim panas tiba.
Mengagumi seseorang, membuntutinya, melamunkan dirinya ketika sedang menganggur. Dan puncaknya kau mengirimkan surat cinta ke dalam lokernya.
Kau begitu malu sampai – sampai kau tak berani menuliskan namamu di surat yang telah kau tulis.
Kalau tidak beruntung suratmu bahkan hanya akan berakhir di tempat sampah dan kemudian dibakar di tempat pembuangan akhir.
Dan paling kau hanya bisa berlanjut dengan terus mengaguminya dari balik bayang.
Atau jika kau beruntung, paling tidak suratmu akan dibaca dan dibalas olehnya.
Itu artinya kau sudah selangkah lebih dekat dengannya.
Kalau ia mau mengajakmu bertemu, itu sudah keajaiban yang luar biasa.
Kau bisa bertemu dengannya, pulang bersama, pergi ke kafe bersama. Dan lama kelamaan hubungan kalian semakin erat.
Cukup erat sampai kau berani mengungkapkan perasaan secara langsung kepadanya.
Ketika ia menerima perasaanmu dan berkata...
'Aku sebenarnya juga suka kepadamu. Aku sangat beruntung ternyata kau juga perasaan yang sam denganku.'
Kau akan sangat senang, seolah – olah ribuan kupu – kupu sedang terbang di dalam tubuhmu.
Itu hanya akan terjadi jika ia menerima perasaanmu. Bagaimana kalau yang terjadi adalah hal seperti ini...
'Maaf aku cuma menanggap hubungan kita selama ini sebagai hubungan pertemanan.'
Atau...
'Maaf selama ini aku hanya menganggap hubungan kita sebagai hubungan kakak adik saja.'
Kau akan merasa lebih baik mati daripada melakukan hal yang memalukan seperti itu.
Setelah itu kalian berdua akan semakin menjauh dan hubungan kalian merenggang.
Sampai akhirnya kalian akan bertingkah seperti orang yang tak saling kenal ketika berpapasan di tengah jalan.
Bukankah semuanya itu lebih tepat disebut sebagai ironi daripada simponi masa muda yang muda begitu diidamkan banyak orang ?
Naruto tahu semuanya, dari komik, dari novel, dia telah mendapatkan gambaran umum tentang kehidupan masa muda di sekolah menengah atas yang lebih sering digambarkan bagian indahnya saja.
Jauh dari realitas yang sebenarnya dialami oleh sebagian besar orang.
Naruto sudah memperkirakannya 'Ternyata Kisah Komedi Romantis Masa Mudaku Sangat Melenceng Jauh Dari Perkiraan Orang-orang. Tepat Seperti Dugaanku!'
Mungkin dia terdengar sinis. Tetapi orang yang sinis selalu melihat sesuatu sesuai dengan realita yang terjadi, dan memikirkannya dengan logika yang lebih diutamakan daripada sentimen – sentimen kecil yang ada di dalam hati manusia.
Orang yang memandang dunia dari realitas yang terjadi di depan matanya, jauh lebih baik dari orang yang hanya dibutakan hanya dengan sedikit sisi baik yang ditampilakn oleh dunia itu sendiri.
Paling tidak, hal itu sangat benar menurut Naruto. Ia tak peduli dengan bagaimana pendapat orang lain terhadap dunia dan masa muda yang sedang ia dan mereka alami saat ini.
Ia tak mau lagi, meringkuk dan menangisi setiap penyesalan terhadap apa yang selama ini telah ia lakukan.
Ia membuat tembok yang melindungi dan membatasi dirinya dengan rasa sakit akan penderitaan akibat mengagumi dan mencintai orang lain.
Dia telah memutuskan untuk hidup di dalam tembok yang tinggi dan kokoh untuk melindungi hatinya yang rapuh ini dari rasa sakit dan penderitaan.
Ia yang telah menghianati Naruto ketika Naruto benar – benar mencintainya.
Ia yang meninggalkan Naruto disaat Naruto benar – benar membutuhkannya untuk bangkit dari keterpurukan.
Ia yang meninggalkan lubang yang menganga di hati Naruto yang rapuh dan akan hancur.
Ia yang membiarkan Naruto dipukuli begitu saja dihadapannya, hanya karena ia telah mendapatkan orang lain yang belum tentu lebih baik dari Naruto.
Naruto yang sudah pernah dan masih menjadi pecundang pada saat ini adalah orang yang benar – benar tahu bagaimana rasanya disakiti, dipukuli, dicemooh, ditinggalkan, dikucilkan dan diremukkan hatinya.
Dia adalah orang yang paling berpengalaman akan hal itu.
Semua rasa sakit ini ia simpan dalam – dalam di hatinya.
Untungnya masih ada orang yang mau menerimanya, hanya Sakura nee-san. Hanya ia yang mau berbagi rasa sakit dan keluh kesah Naruto selama ini.
Dia yang menemani Naruto ketika Naruto kesepian, menenangkan Naruto ketika Naruto sedang marah dan tak tahu harus berbuat apa, memeluk Naruto ketika Naruto butuh akan kasih sayang dan kehangatan.
Naruto memutuskan hanya Sakura nee-san satu – satunya orang yang dapat ia percaya di dunia ini.
Hanya dia yang bisa memberikan harapan dan kasih sayang di dalam hati Naruto yang hampa ini.
"Aku harus menyapa Sakura nee-san ketika berangkat sekolah nanti."
Saat ini Naruto sedang memakan sarapan untuk dirinya sendiri. Sarapannya terdiri dari roti bakar dan telur goreng yang diolesi dengan saus tomat ekstra pedas buatan Naruto.
Ia tidak perlu repot – repot untuk menunggu ibunya membuatkan masakan. Karena paling – paling ibunya baru saja menghabiskan malam di motel dengan seseorang dan masih tertidur di sana.
Ayahnya juga tak pernah ikut sarapan bersama dengan Naruto. Ia adalah seorang yang gila kerja dan jarang sekali ada di rumah.
Tak perlu heran kalau ibunya sering pergi dan menghabiskan malam dengan pria hidung belang yang ada di luar sana.
Ini benar – benar waktu yang damai bagi Naruto. Karena jika kedua orang tuanya saling bertemu, sesuatu yang akan terjadi bukanlah sesuatu yang baik.
Jadi saat – saat sendirian seperti ini di rumah selalu dapat menenangkan hati Naruto. Tentu saja membaca novel, menonton anime, dan bermain Royal Road juga tak kalah menyenangkan bagi Naruto.
Semuanya harus dilakukan sesuai proporsi dan seimbang. Ia tak boleh terlalu banya menghabiskan waktu di rumah hanya untuk melakukan kegiatan yang itu – itu saja.
Oleh karena itu sesekali ia akan keluar ke Akiba, jogging, atau mentok – mentoknya ke sekolah.
Pergi ke sekolah adalah hal terakhir yang Naruto ingin lakukan.
"Aku berangkat !"
Entah kepada siapa salam itu ditujukan. Yang jelas Naruto tak butuh jawaban dari siapapun itu.
Dengan jaket bertudung yang ia kenakan diluar seragam sekolahnya. Ia berangkat menuju ke sekolah.
.
.
Berjalan dengan santai di jalanan yang agak ramai dengan orang yang berangkat ke sekolah atau ke kantor.
Ia melihat pria – pria berjas dan wanita kantoran yang sedang berjalan terburu – buru untuk mengejar waktu untuk menuju ke stasiun terdekat.
Sebenarnya ini masih agak pagi. dan jika semuanya sesuai dengan rencana. Naruto dapat mampir dulu ke toko roti untuk bisa bertemu dengan Sakura nee-san sebelum berangkat ke sekolah.
Ia memutuskan untuk membeli roti di luar sekolah karena ia tak mau berdesakan di kantin ketika sedang istirahat. Apalagi banyak orang yang membencinya di tak mau menarik banyak perhatian di sekolah.
Ia terus berjalan dan berjalan. Hingga akhirnya ia sampai di depan sebuah toko roti.
Toko roti yang tak pernah absen ia kunjungi setiap harinya. Penyebabnya adalah roti – roti yang dijual di toko itu.
Selain terdapat berbagai varian jenis dan rasa. Roti yang dijual di toko roti ini memiliki kualitas yang terjamin.
Apalagi yang menjaga toko ini adalah Sakura nee-san. Gadis yang selalu dirindukan oleh Naruto.
KLENTING
Bunyi bel terdengar di udara. Naruto mendorong sebuah pintu otomatis yang terhubung dengan sebuah bel yang menggantung di atasnya.
Kedatangan Naruto disambut oleh seorang gadis cantik yang merekahkan senyumnya ketika melihat Naruto.
Tak ayal Naruto juga ikut tersenyum karena disambut dengan cara yang begitu hangat olehnya.
Gadis berparas cantik itu dengan segera mengambil bolpoin dan buku catatannya. Ia menuliskan sesuatu di dalam buku itu.
Gadis itu menunjukkan hal yang ia tulis di buku - kepada Naruto.
"Selamat pagi Naruto, tumben kau kemari pagi – pagi begini. Apakah kau mau berangkat ke sekolah ?"
"Iya, hari ini adalah jadwalku untuk berangkat sekolah. Kau tahu sendiri 'kan, kalau aku hanya berangkat sekolah untuk mendapatkan jumlah absen minimal agar bisa naik kelas."
"Ya, memang seperti itulah dirimu. Ngomong – ngomong pagi ini kau terlihat bersemangat Naruto."
"Memangnya kelihatan seperti itu ya ?"
Naruto hanya menampilkan senyum aneh di wajahnya. Pasalnya ia sendiri tak sadar, bahwa dirinya kini tampak begitu bersemangat karena ingin sekali bertemu dengan Sakura nee-san.
"Apakah Shinji-san sudah berangkat ke kantor, Sakura nee-san?"
"Oh Onii-chan, ya. Dia sudah berangkat pagi – pagi sekali."
"Lalu Ojii-san dan Obaa-san ?"
"Mereka sedang bersantai di depan televisi sekarang."
"Ohh begitu ya?"
"Kau mau beli roti apa Naruto ? Untuk kali ini biar kugratiskan hitung – hitung sebagai bonus untukmu karena mau berangkat ke sekolah."
"Eh benarkah ? Roti gratis ? Ahaha kau sungguh baik Sakura nee-san. Kalau begitu aku ambil yakisoba-pan dan chocolate-pan saja."
"Hanya itu ? Baiklah ini untukmu. Semoga harimu menyenangkan Naruto."
Gadis yang dipanggil Sakura nee-san oleh Naruto itu memberikan sebuah catatan dan bungkusan plastik yang berisi roti pesanan Naruto.
"Terima kasih banyak Sakura nee-san."
Ucap Naruto sambil membungkukkan badan 90 derajat.
Kemudian ia pergi ke luar menuju ke sekolah. Lengkungan kegembiraan tak bisa menahan diri untuk muncul di bibirnya.
Entah kenapa cuaca di kota Tokyo jadi terasa lebih cerah dibandingkan yang biasanya bagi Naruto.
Sambil berjalan ia juga terus – terusan melihat ke kertas sobekan dari buku catatan yang diberikan oleh Sakura kepada Naruto.
Enaknya punya kakak perempuan yang cantik.
Mereka bukanlah saudara ataupun kerabat dekat. Namun hubungan mereka berdua sudah cukup akrab sampai – sampai Naruto bisa memanggilnya dengan sebutan nee-san.
.
.
Naruto dengan jaket bertudungnya berjalan masuk menuju ke area sekolah. Ia berjalan dengan sangat cepat sambil menghindari pandangan dari siswa – siswa lain di sekolah itu.
Pergerakan Naruto yang begitu cepat dan halus malah kelihatan mencurigakan bagi siswa – siswa SMA Konoha yang lainnya.
Ia berjalan dengan kecepatan yang nyaris sama dengan kecepatan orang yang sedang berlari santai.
GREB
Seseorang mencengkeram pundak Naruto.
"Siapa kau ? Orang asing harus ijin dulu untuk masuk ke sekolah ini!"
"Aku siswa di sini."
Ucap Naruto sambil memperlihatkan tanda pengenalnya.
"Jadi kau siswa yang tukang bolos itu ya?"
"..."
"Aku tahu kau itu jenius dan bisa segalanya. Tetapi itu bukan berarti kau bisa dengan santainya mengabaikan aturan di sekolah ini, dasar sampah."
"..."
Naruto membuka lebar kedua matanya. Menampilkan sebuah ekspresi mengancam yang menakutkan.
Melalui ekspresinya Naruto mengatakan "Apa kau punya masalah dengan itu, bodoh!"
"HIIIII Maafkan aku! Maafkan aku!"
Pria yang ternyata adalah seorang kakak kelas yang berlagak keren itu langsung lari terbirit – birit melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Naruto.
Melihat hal itu tak ayal siswa – siswa lainpun ikut merasa aneh. Karena bisa – bisanya Naruto menakut – nakuti seorang kakak kelas yang merupakan preman kambuhan di sekolah itu.
Naruto hanya diam saja. Ia melanjutkan perjalanannya menuju ke kelasnya di antai satu gedung A.
GREEKK
Suara pintu geser dibuka. Orang yang membukanya dengan wajah yang nihil akan ekspresi itu adalah Naruto.
Seketika suasana di dalam kelas itu mendadak berubah senyap.
Semua atensi para penghuni kelas itu terarah pada sosok Naruto yang berdiri di depan pintu masuk ke kelas.
Naruto hanya menyimpan suaranya. Dia mengabaikan semua atensi yang sedang tertuju padanya saat ini.
Dengan gerakan yang cepat, Naruto berjalan ke tempat duduknya. Gerakannya begitu halus sehingga tak menimbulkan suara yang mengganggu pendengaran.
Begitu Naruto duduk dan menghadap ke depan, semua penghuni kelas secara serempak langsung mengalihkan atensinya ke arah lain.
Mereka berusaha untuk menghindari kontak mata dari Naruto. Pura – pura mengabaikan keberadaan Naruto di kelas itu.
Suasana senyap yang awkward itu segera terhenti ketika ada seorang guru masuk ke dalam ruangan.
"Ohayou anak – anak, mari kita mulai pelajaran kita pada pagi hari ini."
.
.
Kegiatan belajar mnegajar di kelas naruto berjalan dengan normal. Tak ada sesuatu yang istimewa. Dan tak ada hal yang bisa ia pelajari dari kegiatan itu.
Semuanya tidak menarik. Semuanya membosankan.
Itu karena Naruto telah mengetahui semuanya. Ia sudah mempelajari semuanya.
Bahkan pengetahuannya lebih tinggi dibandingkan gurunya sendiri.
Tak banyak hal yang bisa dilakukan di sekolah.
Ia tak punya teman dan dijauhi oleh orang – orang.
Bahkan para guru yang mengajar tadi juga kaget akan kehadiran Naruto di kelas. Mereka tampak seperti melihat hantu di siang bolong.
Ekspresi ketakutan dan keringat dingin yang menetes di dahi dan pelipis mereka.
Bahkan tangan mereka yang bergetar ketika memegang buku dan ketika menulis di papan tulis.
Setiap gerakan yang para guru itu lakukan. Naruto melihat semuanya.
Kenapa mereka takut akan keberadaan Naruto ?
Naruto yang jenius dan tinggal untuk belajar di kelas reguler sangatlah mengerikan bagi mereka.
Sekali Naruto melontarkan pertanyaan kepada mereka, maka tamatlah sudah. Harga diri mereka sebagai guru akan diinjak habis – habisan oleh Naruto.
Itulah alasan kenapa bahkan para guru ataupun sesama siswa di SMA Konoha takut kepada Naruto. Selain jenius di bidang akademik, ia juga jenius di bidang non-akademik.
Tak ada yang tak bisa Naruto lakukan. Oleh karena itu ia merasa bosan dan tak memiliki minat untuk pergi ke sekolah.
Apalagi karena kasus perkelahian di turnamen baseball di musim panas lalu, itu semakin membuat nama Naruto semakin terdengar mengerikan dikalangan penghuni SMA Konoha.
Ia juga sering terlibat dengan perkelahian, baik dengan sesama siswa SMA Konoha ataupun dengan siswa lain sekolah.
Dan orang – orang yang pernah melawannya selalu berakhir dengan menginap di rumah sakit sekuarang – kurangnya selama beberapa minggu.
Reputasinya begitu buruk dan mengerikan. Oleh karena itu ia dijauhi dan dikucilkan oleh orang – orang lain di sekitarnya.
Tapi itu tak masalah bagi Naruto. Sendirian juga tak terasa buruk sama sekali.
Yang menyakitkan adalah melihat orang – orang lain tertawa karena dirinya tak ada di sana.
Itu membuatnya tampak seperti orang yang telah membawa kesialan dan kesedihan bagi orang lain.
Naruto telah menyelesaikan tugas – tugasnya yang menumpuk selama ia tak masuk sekolah.
Dan bahkan para guru tak berani protes saat Naruto datang untuk meminta dan mengumpulkan tugas pada hari yang sama sekaligus.
Naruto berjalan sendirian menuju ke stasiun. Jalanan begitu sepi, dan tenang. Suasana yang sangat Naruto sukai entah bagaimanapun juga.
.
.
"Cool kurang dari tiga hari lagi kita akan sampai di percabangan sungai Arud. Sisa waktu untuk quest kelas C ini masih tersisa seminggu lagi. Lebih baik kita mempertahankan kecepatan kita atau kita memperlambatnya?"
Naruto saat ini sudah log in di Royal Road. Dia tengah meminta pendapat Cool mengenai quest pertamanya itu.
"Hmm lebih baik kita mempertahankan kecepatan kita saja, Naruto. Mungkin Blackbeard sudah menunggumu di sana. Bukankah lebih cepat lebih baik. Kau juga bisa menerima imbalanmu secepat mungkin 'kan?"
"Ya kau benar."
Naruto terus saja berjalan, tak lupa ia membabat habis monster – monster yang menghalangi perjalanannya.
Dan entah kenapa monster yang menghalangi Naruto semakin hari semakin kuat saja.
Semakin dekat ia ke percabangan sungai Arud, jumlah monster yang menghadangnya juga semakin bertambah banyak.
Semua monster yang menghalangi perjalanan Naruto kini sudah berubah menjadi partikel cahaya abu – abu dan hanya menggalkan item saja sebagai bukti keberadaannya.
Naruto dengan ekspresi dingin mengumpulkan itu semua. Mulai dari beberapa keping copper, beberapa keping silver, beberapa keping gold, kulit dengan berbagai kualitas, gigi – gigi, tulang – tulang, sampai beberapa armor dan senjata – senjata dengan kualitas rendah sampai menengah.
Kini tas selempang magicnya sudah hampir mencapai kapasitas penuh. Meskipun tas ini bisa memuat ratusan item sekaligus, tetapi berat yang dimiliki oleh item – item tersebut tetaplah sama dan tak berkurang sedikitpun.
Ia harus menjual beberapa item miliknya ini sebelum sampai ke tempat lokasi quest. Kalau tidak, bisa – bisa ia ke sana dengan posisi tulang belakang yang bengkok ke samping karena menahan bebean yang terlalu berat di tasnya.
dan tempat terdekat yang bisa Naruto datangi untuk menjual itemnya adalah desa Gether. Desa yang posisinya cukup dekat dengan cabang sungai Arud.
Menurut peta yang Naruto miliki desa Gether letaknya ada di arah tenggara dari posisinya saat ini.
Itu merupakan desa yang memiliki ciri khas dengan penjualan produk berbahan kulityang memiliki kualitas yang cukup lumayan.
Naruto memutuskan untuk mampir dulu ke desa Gether sebelum ke ia menyelesaikan questnya di sungai Arud.
Dalam perjalanannya ia melihat seorang perempuan yang mengenakan armor kulit dan helm ringan sedang bertarung melawan goblin lord.
Pertarungannya berlangsung cukup sengit. Dan Naruto memutuskan untuk agak mendekat agar bisa menonton pertarungan yang kelihatan cukup menarik itu.
SRRAATT GROOAAGHH
Sebuah tebasan melintang mendarat di bagian dada seekor goblin lord.
Serangan itu juga diikuti dengan sebuah tusukan di perut bagian kirinya.
Akan tetapi seolah tak mau kalah, goblin lord juga membalas serangan perempuan itu dengan mengayunkan kapaknya ke tubuh mungil perempuan itu.
DANNKK
Serangan berbahaya itu berhasil dimentahkan oleh defense dari armor yang kuat milik gadis itu.
Akan tetapi pedangnya sudah patah duluan karena digunakan untuk mengurangi damage dari serangan, sebelum menahannya dengan menggunakan armor.
Kini perempuan itu dalam keadaan tanpa senjata dan tanpa rekan untuk menolong sama sekali.
Naruto yang melihat kejadian itu secar reflek langsung berusaha menolong dengan cara melemparkan salah satu pisau yang ada di dalam tas selempang magicnya.
SRRATTT
Pisau yang Naruto lemparkan sukses menancap di leher si goblin lord. Tetapi itu belum cukup untuk membunuhnya.
Perempuan yang sedang dalam keadaan terdesak itu kini melihat kesempatan yang terbuka lebar di hadapannya.
Dengan segera ia melompat ke arah si goblin lord dan menggorok lehernya menggunkan pisau yang menancap tadi.
Si goblin lord berubah menjadi partikel cahaya abu – abu. Itu tandanya dia sudah mati akibat serangan mematikan yang barusan perempuan itu lancarkan.
Gadis itu sekarang menyadari kehadiran Naruto dan membungkukkan badannya membentuk sudut 90 derajat.
Ia merasa berterima kasih karena Naruto telah menyelamatkannya dari kematian. Entah kenapa ia hanya membungkuk saja dan tidak mengucpkan sepatah katapun kepada Naruto.
Naruto tak ambil pusing dengan hal itu. Ia hanya membalasnya dengan tersenyum tipis dan pergi begitu saja.
Meninggalkan si perempuan yang bahkan belum mengucapkan terima kasihnya.
'Aku harus sampai ke desa dengan cepat. Sebentar lagi akan malam. Monster yang aktif di malam hari biasanya jauh lebih kuat jika dibandngkan dengan monster yang aktif di siang hari.'
Si gadis yang diabaikan begitu saja oleh Naruto hanya diam saja. Wajahnya menampilkan ekspresi marah karena merasa diabaikanoleh Naruto.
Ia memutuskan untuk mengejar Naruto untuk mengembalikan pisau milik Naruto.
Tak lupa ia juga mengambil beberapa keping gold dari sakunya untuk diberikan kepada Naruto sebagai balas budi.
Tangan Naruto ditarik dari belakang. Sontak Naruto langsung mengalihkan perhatiannya ke belakang, ke arah si perempuan yang kini sedang memegang tangannya dan meletakkan beberapa item di atas telapak tangan Naruto.
Naruto hanya diam, ia menampilkan ekspresi bingung di wajahnya. Ia merasa tak perlu menerima imbalan yang diberikan oleh perempuan di hadapannya.
Si perempuan hanya menampilkan ekspresi yang seolah – olah berkata "Terimalah ini sebagai tanda terima kasihku."
Naruto membalasnya dengan menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Kemudian ia mengenggam balik kedua tangan perempuan itu dan mengembalikan apa yang telah gadis itu berikan kepadanya.
Naruto menampilkan senyum yang berkata "Tak apa aku tak memerlukannya. Lagipula kaulah yang telah mengalahkannya. Aku hanya memberikan sedikit bantuan saja."
Perempuan itu terdiam melihat ekspresi Naruto. Ekspresi selanjutnya yang muncul di wajahnya adalah sebuah senyum cerah yang mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Naruto.
Melihat senyum yang merekah di wajah si lawan jenis, entah kenapa membuat wajah Naruto bersemu merah. Senyum indah si perempuan cantik itu telah melunakkan hati Naruto.
.
.
'Dia menolong perempuan yang sedang kesulitan ketika melawan goblin. Ia benar - benar pria sejati.'
'Keren. Aku tak tahu dia siapa. Tetapi membuntutinya sejak beberapa hari terakhir terasa sangat menyenangkan.'
'Ia bisa melemparkan pisau dengan akurasi yang sangat luar biasa. Pasti agilitynya sangat tinggi. Aku sangat iri dengannya.'
'KYYAAA Dia keren sekali. Aku sangat iri dengan perempuan itu. Aku juga ingin diselamatkan oleh seorang pengeran tampan.'
Di sini adalah party Nara. Setelah melihat pertarungan Naruto beberapa waktu lalu saat melawan beberapa kawanan monster sekaligus.
Mereka akhirnya memutuskan untuk membuntuti Naruto. Mereka ingin menguak identitas sebenarnya dari pria bertudung yang menampilkan skill bertarung yang luar biasa ketika dikepung oleh berbagai jenis monster.
To Be Continued
FIYYUUHH
Akhirnya selesai juga. mungkin banyak yang lupa kalau Naruto bakal gabung ke Blackbeard ya ? atau cuma baca di tengah -tengah aja makanya nggak tahu ? soalnya banyak yang bilang apa Naruto bakal gabung ke party Nara lagi. atau malah gabung ke party Taka?
Ngomong - ngomong pada tahu nggak Sakura dan Shinji itu dari anime apa ? Yang penting bukan dari Naruto ya. Silakan ditebak sendiri.
Terserahlah terima kasih telah membaca karya saya.
Mungkin setelah ini saya akan jarang update.
Karena seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Kehidupan saya di real life sekarang ini sudah hampir mencapai kesibukannya.
Saya perlu untuk memfokuskan diri untuk belajar dan lulus dari berbagai ujian yang akan segera saya jalani.
Kemungkinan saya tidak akan update dalam waktu dekat ini. Dan saya putuskan selambat – lambatnya saya akan update setelah UN berakhir yaitu pada bulan April.
Pokoknya terima kasih telah mau menyempatkan waktu untuk melihat, membaca, dan mengapresiasi fic buatan saya ini. Buat yang mau tanya jawab, komen, saran, kritik dan lain – lain silakan lakukan dikotak review terima kasih.
