The Taboo Alchemist

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Based on The Legendary Moonlight Sculptor By Nam Hee Sung

Warning : Gaje, Abal, Many Typos, OC, OOC, alur seenaknya saja, pasaran, mudah ditebak, super mainstream? Banyak unsur- unsur dari anime / manga / light novel lain, membosankan, sudut pandang orang kesekian yang sok tau dan biasa saja.

NO EDIT

Don't like don't read

.

.

Chapter 10 : Mad Enhancement

Sebelumnya di The Taboo Alchemist :

Perempuan itu terdiam melihat ekspresi Naruto. Ekspresi selanjutnya yang muncul di wajahnya adalah sebuah senyum cerah yang mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Naruto.

Melihat senyum yang merekah di wajah si lawan jenis, entah kenapa membuat wajah Naruto bersemu merah. Senyum indah si perempuan cantik itu telah melunakkan hati Naruto.

..

..

Katakan, kumohon katakan padaku !

Apa yang salah dengan diriku ini ?

Hancur, bagiku dunia ini telah hancur.

Sedangkan kau di sana,

Tertawa tanpa tahu apa – apa.

Bahkan kebenaran yang hanya ada satu pun

Tak dapat mengungkapkannya

Semuanya telah hancur,

Apakah benar begitu ?

Semuanya telah bercampur aduk,

Diantara batas abu - abu

yang memisahkan kebenaran dan keburukan,

termasuk yang manakah diriku ini ?

Semuanya terasa dingin, membeku.

Katakan, katakanlah kepadaku

Siapakah yang salah,

Aku atau DUNIA ini ?

..

..

"Darah.."

"Darah.."

"Lagi.."

"Aku ingin melihatnya lagi.."

"DARAH..."

"KELUARKAN! KELUARKAN YANG BANYAK!"

"LAGI! PERLIHATKAN LAGI!"

"LEBIH BANYAK! LEBIH BANYAK LAGI! HAHAHAHAHAHA!"

Tawa gila dapat terdengar dari sebuah tempat yang dipenuhi akan darah dan mayat.

..

Saat ini malam hari di desa Gether. Naruto sedang berkeliling – keliling untuk mencari penginapan murah yang cukup layak untuk dihuni. Dapat ia lihat beberapa rumah yang berjejer rapi, warung, toko, berbagai bangunan lainnya. Akan tetapi semuanya dalam keadaan tutup.

Dan yang paling aneh Naruto sama sekali tak melihat adanya katedral di sekitar sini. Ditambah Naruto dapat melihat reruntuhan bangunan yang sepertinya merupakan bekas dari bengunan yang terbakar.

Suasana di desa ini sedang agak lengang karena mayoritas penduduk lebih memilih untuk menghabiskan waktunya untuk diam di dalam rumah daripada harus terkena terpaan angin dingin ketika keluar rumah.

'Hmm menurut informasi yang kulihat di internet, desa ini menjadi sepi seperti ini karena adanya serangan monster pada malam hari. Aku harus segera mencari penginapan, kalau tidak aku bisa dibantai oleh para monster karena tidur di luar.'

Naruto segera berlari – lari dengan panik karena kebanyakan rumah disini sudah tutup di malam hari. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menemukan sebuah penginapan sebagai tempatnya bermalam.

Setelah berpisah dengan perempuan cantik yang melawan goblin di depan desa Gether, Naruto memilih untuk berkeliling desa sendirian. Dan hal itu kini menjadi penyesalan yang sangat mendalam baginya.

Karena ia buta arah. Dia sama sekali tidak tahu menahu tetang tempat – tempat di desa ini. Yang sering ia lihat di internet hanya informasi berupa deskripsi tentang suasana di desa ini.

Dan pastinya letak penginapan tidak termasuk dalam deskripsi itu. Memang beginilah nasib kalau tidak mempelajari tempat yang merupakan bagian dari misi secara cermat.

Bahkan kejeniusannya bukanlah apa – apa melawan hal – hal yang memang tidak pernah ia ketahui.

Tapi sebenarnya kalau kau menggunakan sedikit akalmu situasi ini, itu bukanlah suatu masalah yang besar. Kau hanya perlu memasang telingamu.

Dengarkan dengan teliti tempat mana yang paling berisik yang jaraknya tidak terlalu jauh darimu. Cari sumber suaranya dan VOILA!

Kau bisa menemukan bar yang mayoritas isinya adalah para player. Dimana ada bar disitu pasti ada penginapan. Dan asumsi itu seringkali benar dan sangat akurat.

Hal inilah yang sedang Naruto lakukan. Dan untungnya ia bisa menemukan kumpulan player yang sedang berpesta pora setelah lelah berburu seharian. Bahkan ini hanya beberapa saat setelah matahari terbenam dan bar telah penuh dengan orang yang mabuk – mabukan.

Mereka sedang minum – minum dan tertawa renyah. Seakan – akan dunia ini tak pernah mengenal yang namanya kesedihan.

Tapi mereka memang tak salah. Ini hanyalah game. Royal Road hanyalah game yang diciptakan untuk dinikmati oleh semua orang.

Jadi apanya yang salah dengan meminum beberapa gelas minuman beralkohol untuk merayakan keberhasilanmu dalam berburu ?

Mereka tak peduli kalau di dunia nyata sebenarnya mereka hanyalah pecundang yang hanya bisa bermain game. Mereka tak peduli bahwa kenyataan yang sebenarnya bukanlah disini.

Mereka hanya berusaha untuk lari dari realitas kejam yang ada. Sepertinya mereka lupa kalau ini adalah VRMMORPG. Game virtual reality.

Game yang dibuat berdasarkan kenyataan. Cepat atau lambat mereka akan merasakan yang namanya menjadi pecundang di dua dunia yan mereka tinggali ini.

Dunia nyata...

Dan dunia game...

Paling tidak itulah yang Naruto pikirkan tentang mereka. Naruto juga tak berniat untuk ikut ambil bagian dalam kenikmatan sesaat dengan meminum minuman keras.

Minum minuman keras sangat tidak baik, di dunia nyata ataupun di dalam game.

Di dunia nyata minum minuman beralkohol itu tidak ada gunanya selain membuat kita mabuk supaya kita bisa menghilangkan stres kita hanya untuk sesaat.

Dan yang timbul kemudian adalah kepala yang kehilangan fokus dan tak bisa berpikir jernih.

Apalagi paginya setelah kau mabuk, yang tersisa dari kegiatan tak berguna itu adalah dompet yang kosong dan sakit kepala yang sulit untuk dihilangkan.

Tak hanya di dunia nyata, mabuk di dunia game juga sama berbahayanya. Di desa Gether ini, dimana serangan monster – monster gunung terjadi hampir setiap malam.

Mabuk merupakan hambatan yang sangat besar bagi karaktermu ketika akan bertarung melawan musuh.

Sama saja dengan di dunia nyata, avatarmu ketika mabuk di dalam game juga akan mengalami hal yang sama ketika di dunia nyata. Karena ini adalah game virtual reality. Game yang dibuat semirip mungkin dengan kenyataan.

Kau tak akan bisa memegang senjata dengan benar, damage seranganmu akan berkurang drastis, kesempatanmu untuk membuat serangan kritikal akan jatuh ke titik terendah.

Dan yang paling mengerikan, kau akan kehilangan agilitymu yang berharga untuk sementara. Waktu yang hanya sementara itu tentu saja akan dimanfaatkan musuhmu dengan sebaik mungkin.

Bertarung denganmu yang kehilangan agility sama dengan bertarung melawan bayi kecil yang baru bisa berjalan. Kau tak bisa menyerang dengan benar, sedangkan musuhmu bisa dengan mudah menghancurkanmu tanpa harus berkeringat sedikitpun.

Dan kau hanya akan berakhir dengan menjadi santapan empuk bagi monster yang melawanmu. Perlu ditambahkan lagi kau juga bisa saja kehilangan sebagian besar item yang ada di inventorymu.

Karena penalti kematian yang diberikan kepada player yang sedang kondisi yang mabuk itu sangat tidak adil, hampir sama tak adilnya dengan player dengan infamy yang besar karena kaitannya dengan keburukan.

Beberapa jenis profesi player dengan infamy yang tinggi adalah profesi Assassin, Thief, Black Knight, Pirate, Necromancer, dan juga player – player dengan karakteristik undead.

Itu juga bukan tanpa alasan. Thief dan Pirate adalah profesi yang erat hubungannya dengan yang namanya merampok, merampas, mencuri dan bahkan menculik.

Sedangkan Assassin dan Black Knight adalah profesi yang berkaitan erat dengan yang namanya bunuh membunuh.

Dan yang terakhir Necromancer dan player undead, mereka mempunyai infamy yang besar karena kejahatan yang mereka miliki berupa kegelapan dan kemampuan untuk melawan kematian.

Itu menandakan bahwa mereka adalah player terkutuk dengan karakteristik yang sangat berlawanan dengan elemen suci yang dimiliki oleh berbagai Order dari para dewa yang ada.

Karena itu sebagai manusia dan player yang baik, Naruto memutuskan untuk hidup sehat tanpa pernah mencicipi alkohol. Selain itu, dia memang belum cukup umur untuk mencobanya. Dia tak mau menjadi 'Madao'(Maru de dame na otoko = seperti pria pecundang, merujuk pada Hasegawa-san dari anime G*ntama) .

'Ini dia sebuah bar yang penuh dengan berbagai orang yang sedang mabuk. Sebaiknya aku bertanya kepada bartender yang ada di dalam.'

Dia mulai melangkah masuk menuju ke pintu bar. Suara berisik dan bau alkohol yang menguar di udara menjadi hal yang biasa disini.

Dia mengalihkan atensinya ke seluruh penjuru bar. Terdapat beberapa party yang terdiri dari beberapa player sedang mabuk – mabukan di meja yang ada sebelah kanannya.

Di sudut kanan ruangan juga terdapat beberapa player yang menikmati minumannya dalam kondisi diam. Mereka sama sekali tak mengeluarkan suara – suara yang tak perlu. Kelihatannya mereka sadar untuk tidak meminum alkohol terlalu banyak.

Tapi mereka juga tidak kelihatan seperti orang yang baik, sebab kau bisa lihat ekspresi yang mereka keluarkan ketika melihat party yang sebelumnya, yang terdiri dari orang – orang mabuk.

Naruto terus saja berjalan menuju ke dalam, mendekat ke meja bartender. Ia berniat untuk mengabaikan pria – pria yang ada di pojokan tadi. Dia berniat mencari informasi tentang penginapan yang ada di sekitar sini.

::ppOqq::

'Gawat semua penginapan yang ada disini penuh. Apalagi keamanan di sini sangat rendah. Tingkat kriminalitasnya sangat tinggi. Tak heran kalau disini agak sepi. Para player yang berpikiran jernih pastinya tak mau berlama – lama di tempat seperti ini.'

Naruto kini sedang berada di luar bar, agak dekat dengan gang kecil yang ada di tengah – tengah bangunan desa. Ia baru saja selesai ngobrol – ngobrol dengan bartender yang ada di dalam. Sekarang ia yakin kalau tempat ini bukanlah tempat yang aman.

Segerombolan orang pergi ke luar. Naruto segera bersembunyi ke dalam gang dan mengintip gerombolan itu. Gerombolan itu terdiri dari party pemabuk dan pria – pria mencurigakan yang ada di sudut bar.

Party pemabuk berjalan di depan, mereka bahkan kesulitan untuk bisa berjalan dengan tegak. Sedangkan pria – pria mencurigakan tadi, mengikuti mereka di belakang.

Party pemabuk berjalan menuju ke sebuah tempat yang sepertinya adalah penginapan yang telah mereka pesan tadi. Mereka sangat beruntung bisa mendapatkan kamar di penginapan. Naruto jadi iri.

Pria – pria mencurigakan dari sudut bar mendekati party pemabuk. Mereka kelihatan seperti ingin membantu.

Tetapi Naruto melihatnya, mereka mengeluarkan pisau mereka masing – masing. Menodong para anggota party pemabuk yang tampaknya tidak akan bisa memberikan perlawanan yang berarti.

Mereka pergi ke sebuah gang sempit yang ada di ujung jalan. Naruto berniat mengikuti mereka untuk melihat apa yang akan terjadi. Akan tetapi...

PUK

Sebuah tangan mendarat di pundaknya. Itu adalah tangan lembut yang mengeluarkan aroma wangi yang memabukkan. Tangan yang ada di pundaknya itu berbentuk ramping dengan jari – jari lentik nan indah. Pastinya ini adalah tangan dari perempuan cantik.

Ternyata tangan indah itu adalah milik si perempuan yang tadi sore dia tolong ketika ia sedang melawan goblin di hutan.

SMILE

Perempuan itu tersenyum. Entah kenapa Naruto tersipu malu ketika melihat senyuman yang diperlihatkan oleh perempuan itu kepadanya.

Perempuan itu mengeluarkan ekspresi yang seolah berkata "apa yang sedang kau lakukan di sisni?"

Naruto menjawabnya dengan perkataan biasa.

"Aku sedang tersesat dan tidak kebagian tempat di penginapan."

Perempuan itu tersenyum, seolah ia baru saja menemukan ide cemerlang di kepalanya. Ia menarik tangan Naruto. Ia juga mengeluarkan ekspresi yang seolah berkata "Ayo ikut denganku!"

Naruto hanya diam, ia mengikuti ke manapun perempuan ini berjalan. Hingga sampailah mereka ke suatu tempat, sebuah rumah kecil bertingkat yang ternyata adalah sebuah penginapan.

Masuk ke dalam penginapan kecil itu, Naruto disuguhkan sebuah pemandangan khas rumah adat dengan perabotan – perabotan yang sederhana. Meski begitu suasana yang timbul dari dalam rumah itu entah bagaimana caranya bisa membuat hati Naruto yang dingin menjadi hangat kembali.

Perempuan itu meninggalkan Naruto, tampaknya ia sedang mencari si pemilik penginapan itu. Ia berlari ke atas, menaiki tangga menuju ke lantai dua. Sedangkan Naruto hanya diam di lobi lantai bawah.

Naruto yang tak memiliki suatu hal untuk dilakukanpun, kini sedang berkutat dalam pikirannya.

Ia penasaran nasib dari party pemabuk yang ia lihat di bar tadi.

Ia juga penasaran kenapa perempuan itu datang di saat ia akan pergi melihat nasib party pemabuk itu selanjutnya.

Yang terakhir, kenapa perempuan secantik dan semanis itu berani tinggal di tempat dengan tingkat keamanan yang rendah ini.

Apalagi sepertinya sudah sangat akrab dengan daerah dan penduduk di desa ini.

Di saat Naruto tengah beruktat dengan berbagai peranyaan yang mengganggu di dalam pikirannya, suara langkah kaki dari beberapa orang terdengar menuju ke indera pendengarannya.

Itu adalah si perempuan cantik dan manis dan wanita berusia tiga puluh tahunan yang sepertinya adalah pemilik penginapan ini. Mereka berdua berjalan mendekat ke Naruto.

"Hey anak muda, tampaknya kau sedang dalam kesulitan. Aku adalah Marya, pemilik tempat ini. Ada yang bisa kubantu?"

Si wanita tiga puluh tahunan yang menyebut dirinya Marya itu memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan kanannya kepada Naruto. Mungkin ini yang disebut pngenalan diri menarik untuk mendapatkan impresi yang baik supaya mendapatkan pelanggan, pikir Naruto dalam hati.

"Aku sedang mencari penginapan untuk satu malam. Apakah masih ada kamar yang tersisa?"

Naruto bertanya dengan agak sopan.

"Hmm, masih ada sisa satu kamar. Kau bisa menggunakannya kalau kau mau. Untuk pemuda tampan sepertimu, akan kuberikan harga yang bagus, 5 silver permalam dengan pelayanan ekstra."

Marya si pemilik penginapan menawarkan kamarya deengan suara yang sensual dan menggoda. Di akhir kalimatnya ia juga tak lupa untuk memberikan kerlingan mata yang genit kepada Naruto.

'Jangan menggodaku wanita tua. Kau sama sekali bukan seleraku. Dan juga apa-apaan harga yang kau tawarkan itu. Kau mau memeras petualang miskin sepertiku ya?'

"Hmm bagaimana kalau 3 silver tanpa pelayanan ekstra. Aku hanya butuh tempat untuk menginap malam ini."

"4 silver kalau tidak kau bisa keluar dari sini."

Jawab si Marya ketus.

'Huh, sifatnya berubah. Jadi semua ini tentang uang ya. Mau bagaimana lagi, aku tak tahu harus pergi ke mana lagi di malam yang dingin seperti ini.'

"Aku terima tawaranmu."

Dengan enggan Naruto mengeluarkan 4 koin silver dari kantong uangnya yang ada di dalam tas. Ia terpaksa harus membuat kesepakatan yang memberatkan hanya karena keselamatan avatarnya di dalam Royal Road ini.

Sebenarnya Naruto bisa saja hanya berdia diri di bar dan makan. Akan tetapi biaya yang harus dikeluarkannya bisa jadi meningkat beberapa kali lebih banyak dari pada biaya yang ia habiskan dngan menginap di penginapan.

Oleh karena itu, meski merasa enggan, ia harus merelakan uangnya untuk menginap di penginapan kecil dengan sewa yang mahal untuk mengistirahatkan avatarnya. Ia juga bisa log out dengan tenang, karena ia tak perlu khawatir karena paling tidak avatranya terletakk di tempat yang relatif aman.

Marya mengambil uang yang Naruto berikan. Kemudian ia menghitungnya dan memasukkannya ke dalam sakunya.

"Terima kasih, senang berbisnis denganmu."

Mengangkat tangan kanannya. Marya berniat untuk menjabat tangan Naruto. Paling tidak ia tetap akan bersikap baik kepada orang yang telah memberinya uang.

"Mari kutunjukkan letak kamarnya."

Marya berjalan di depan. Sementara Naruto dan si perempuan tanpa suara mengikuti dari belakang. Mereka sedang menaiki tangga menuju ke lantai 2.

Lantai dua merupakan ruangan yang memang dikhususkan untuk para tamu yang ingin menginap. Sedangkan lantai dasar adalah lobi dan tempat Marya tinggal.

Tampak beberapa kamar yang sepertinya sudah ada penghuninya. Di lihat dari jarak antar pintu yang ada di lantai 2, seperti yang diduga kamar yang ada di sini pastilah cukup sempit untuk ditinggali oleh 2 orang.

Jumlah kamar di lantai 2 ini hanya ada enam. Masing-masing tiga, di anan dan di kiri. Sedangkan lebar lorong di lantai 2 hanya satu setengah meter.

Naruto dibawa menuju ke kamar yang terletak di paling ujung sebelah kanan dari koridor di lantai 2. Itu berarti kamarnya adalah yang paling jauh dari tangga menuju ke lantai bawah.

"Ini dia kamarmu. Aku akan ke lantai bawah untuk menyiapkan makan malam bagi para tamu. Aku akan memanggilmu jika makanannya telah siap."

"Hmm."

Marya pergi meninggalkan Naruto. Ia segera menuju ke lantai bawah, seperti perkataannya barusan. Ia akan segera menyiapkan makan malam untuk para tamu.

Itu berarti Naruto hanya perlu menunggu selama beberapa saat di kamar. Itu berarti i bisa beristirahat sebentar sambil menunggu panggilan utnuk makan tiba.

Itulah yang Naruto rencanakan, tapi si perempuan tanpa suara hanya diam di tempat dan memandangi Naruto. Hal itu tentu saja membuat Naruto merasa tak nyaman.

Apalagi perempuan itu tengah menatapnya dengan pandangan yang seolah-olah ia sedang mengharapkan sesuatu dari Naruto.

'Paling tidak aku harus berterima kasih kepadanya.'

"Terima kasih telah menunjukkan tempat ini kepadaku. Aku merasa sangat tertolong oleh bantuanmu."

Si perempuan tanpa suara hanya mengangguk dengan malu-malu. Kemudian ia mengangkat tangannya dalam posisi menadah.

'A-apa dia menginginkan sesuatu sebagai imbalan? B-baiklah kalau begitu, meskipun aku agak tak menyangka kalau dia adalah tipe orang yang seperti ini.'

"I-ini untuk saat ini hanya itu yang kupunya. Terima kasih atas bantuanmu."

Dengan berat hati Naruto memberikan dua koin silver kepada perempuan itu. Dan kemudian ia langsung berbalik dan masuk menuju ke kamarnya.

Sekilas ia melirik ke wajah perempuan itu. Ia bisa melihat ekspresi terkejut yang muncul di wajahnya.

'Apa uang yag kuberikan itu terlalu sedikit yah?'

::::

Saat ini kita akan melihat bagaimana keadaan si perempuan tanpa suara yang telah membantu Naruto.

Sebuah ekspresi kemarahan muncul di paras ayunya. Ia tak bisa menerima penghinaan ini.

Seumur-umur ia tak pernah menerima penghinaan yang seperti ini. tangan yang ia ulurkan dengan niat baik untuk mengajaknya keluar sebentar.

Malah dibalas dengan sebuah tangan yang memberikan dua koin silver, disertai dengan wajah yang menampilkan ekspresi kecewa dan tidak ikhlas.

Ini benar-benar penghinaan besar baginya.

Kemarahan yang telah lama terpendam akhirya muncul juga ke permukaan.

Dan seperti yang kita tahu, memicu amarah dari seorang makhluk bergender perempuan itu pasti akan menghasilkan sesuatu yang mengerikan.

'Hehehe..HEHEHEHE... NARUTO... AKAN KUBALAS PENGHINAAN INI 1000 KALI LEBIH KEJAM! LIHAT SAJA NANTI! KYAHAHAHAHA!'

Sebuah aura tak mengenakkan menguar-nguar dari tubuhnya. Si perempuan tanpa suara yang tadinya memiliki ekspresi yang lemah lembut dan menawan, sekarang berubah menjadi ekspresi yang bengis dan tak berperikemanusiaan.

"Balas 1000 kali lebih kejam."

"Balas 1000 kali lebih kejam."

"Balas 1000 kali lebih kejam."

"Balas 1000 kali lebih kejam."

"Balas 1000 kali lebih kejam."

"Balas 1000 kali lebih kejam."

"Balas 1000 kali lebih kejam."

Sebuah gumaman tak jelas yang dilantunkan itu terdengar seperti sebuah mantera kutukan yang biasa dikeluarkan oleh hantu yang mati penasaran.

Mantera yang akan membuatmu bulu romamu merinding ketika mendengarnya.

Kau bahkan akan lari tunggang langgang kalau melihat si pelaku perapal mantera itu.

Si perapal dengan ekspresi yan mengerikan dan aura gelap yang muncul di sekitarnya.

:::ppoOoqq:::

Pagi harinya...

Tampak seorang pemuda telah bangkit dari alam mimpinya. Untuk saat ini ia hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya, mengumpulkan nyawa yang masih berserakan di mana-mana.

Pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah Naruto yang baru saja bangun dari tidurnya.

"Nnnghh sudah pagi toh. Sepertinya tadi malam aku ketiduran dan melewtkan makan malam. Hmm kenapa tanganku terasa berat sekali?"

Naruto yang masih dalam kondisi setengah sadar memiringkan badannya ke samping kanan.

GYUTT

'Benda apa ini, kenyal dan lembut.'

Tangan kiri Naruto tanpa sengaja menyentuh benda yang empuk dan juga lembut. Tentu saja hal ini membuat Naruto penasaran benda apa yang telah ia sentuh.

GYUTT

"Kyahh.."

'Eh kali ini bisa bersuara juga.'

Kesadaran Naruto mulai terkumpul.

GYUTT

Sekali lagi Naruto meremasnya dalam kondisi hampir sadar.

"KYAAHHH..."

Naruto tersentak. Sebuah teriakan perempuan menyadarkannya. Memaksa dirinya untuk dengan segera mengumpulkan seluruh nyawanya yang berserakan dimana-mana.

Ia segera terbangun dari tidurnya dan apa yang ia temukan adalah seorang perempuan yang sedang dalam keadaan telanjang. Perempuan segera menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.

"K-kau apa kau belum puas dengan yang semalam?"

Si perempuan itu bertanya dengan membentak Naruto. Perempuan itu adalah si perempuan tanpa suara yang Naruto kenal.

"S-semalam? Memangnya apa yang kulakukan?"

"Lihat baik-baik ini bukan kamarmu. Berani-beraninya kau menyelinap masuk ke kamar orang lain dan memperkosaku. DASAR HENTAI! PEMERKOSA!"

"P-pemerkosa aku bukan seorang pemerkosa. Ini pasti hanya salah paham. Iya kan? Tidak mungkin aku menyelinap ke kamar orang lain dan memperkosanya ketika aku masih tidur."

"K-KAU BAHKAN DIAM-DIAM MENYELINAP KE KAMARKU. BAGAIMANA BISA KAU MENYEBUT DIRIMU INI BUKANLAH PEMERKOSA, BODOH! K-KAU BAHKAN MEMAKSAKU UNTUK MELAYANIMU SEMALAM PENUH. DASAR PEMERKOSA!"

Naruto melihat dirinya. Ia baru sadar, kalau dari tadi tubuhnya bahkan tak tertutupi sehelai benangpun. Dengan segera ia menutupinya dengan kedua tangannya.

"A-APA? AKU BUKAN PEMERKOSA! INI PASTI HANYA SALAH PAHAM, IYA KAN? MANA MUNGKIN AKU MELAKUKAN HAL ITU."

BRAKK

Beberapa pria mendobrak pintu, memaksa untuk masuk. Sepertiya mereka adalah penghuni kamar yang lain.

"ADA APA INI?"

"ORANG BRENGSEK INI, IA MASUK KE KAMARKU UNTUK MEMPERKOSAKU!"

"A-APA? MEMPERKOSA! DASAR BAJINGAN! KAU TAK AKAN KUBIARKAN LOLOS BEGITU SAJA! TANGKAP DIA. SERET DIA KE HADAPAN LORD SEKARANG JUGA."

Beberapa pria langsung masuk dan meringkus Naruto di tempat. Naruto tak bisa memberikan perlawanan. Karena dilihat dari sudut pandang manapun, jelas-jelas ia yang kelihatan salah di sini.

"T-tunggu paling tidak, biarkan aku mengenakan pakaianku dulu."

"Bagaimana?"

Salah satu pria yang meringkus Naruto bertanya kepada orang yang memerintahkan mereka.

"Biarkan saja. Tetap jaga dia. Jangan sampai lepas."

"Baik."

Naruto mencari-cari pakaiannya di kamar itu. Tetapi yang ia temukan adalah pakaiannya yang telah robek bagian depannya. Sehingga itu tak bisa digunakan lagi.

Sedangkan celananya juga tampaknya telah dibuka dengan paksa. Jaitan kainnya telah rusak sehingga banyak benang-benang yang mencuat dan tak beraturan.

'Mana mungkin aku melakukan hal seperti ini. Ini sama sekali bukan perbuatanku. Pasti ada seseorag yang menjebakku. Tapi siapa? Siapa orang yag melakukan hal keji seperti ini kepadaku?'

"P-pakaiannya tak bisa dipakai kembali. Jadi bisakah aku kembali ke kamarku untuk mengambilnya?"

"Untuk ukuran seorang bajingan, kau terlalu banyak meminta. Tetapi karena aku jijik melihat bajingan telanjang sepertimu, maka akan kubolehkan kau mengambil pakaianmu."

"T-terima kasih."

Sambil dikawal oleh pria-pria lainnya, Naruto berjalan menuju ke kamarnya.

Tentu saja Naruto berpkir keras tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Kalau begini terus bisa-bisa ia akan dieksekusi di depan publik. Memang ia tak perlu khawatir karena ia akan tetap bisa hidup lagi.

Akan tetapi penghinaan yang akan ia terima jauh lebih mengerikan dari sekedar dieksekusi di depan publik. Bagaimana kalau ada yang mengunggah video pengeksekusiannya di internet dengan judul "NARUTO, PEMERKOSA YANG DIEKSEKUSI DI DESA GETHER" itu bukan lelucon lagi namanya.

'Aku harus lari sejauh-jauhnya, tapi bagaimana ini? Bagaimana caranya supaya aku bisa kabur dari sini?'

Naruto terus memikirkannya selama perjalanan. Begitu dia sampai ke pintu kamar si perempuan itu, ia menemukan sebuah ide bagus. Tetapi itu berarti ia akan mengotori kedua tangannya dengan darah semua orang yang ada di desa ini.

'Mereka tak tahu apa-apa tak tahu apa-apa tentangku. Akupun begitu. Akan tetapi dari equipment dan senjata yang mereka gunakan, aku bisa memperkirakan orang-orang ini ada di sekitar level dua ratusan. Sedangkan aku saat ini hanya seorag alkemis tanpa senjata dengan level 77 yang sedang dikepung dan sebentar lagi akan diborgol dan dibawa ke hadapan Lord. Hmm aku punya ide.'

Begitu sampai di koridor, ia shock karena ternyata kamarnya berhadap-hadapan dengan kamar si perempuan tanpa suara, ralat maksudnya si perempuan yang ia perkosa. Meskipun ia tidak yakin, ia benar-benar memperkosa perempuan itu atau tidak.

Ia segera masuk ke kamarnya, mencari-cari tas dan senjatanya yang ternyata masih tergeletak di samping kasur tempat ia tidur tadi malam. Ia sudah memperkirakan bahwa senjata dan item-item miliknya pasti akan dirampas setelah ia dieksekusi. Oleh karena itu ia telah menyiapkan rencana yang gemilang untuk itu.

Diambilnya pakaiannya yang masih tersimpan rapi di dalam tas magicnya, Naruto segera mengenakannya sembari memberikan pesan rahasia kepada Cool yang masih bersembunyi di dalam tasnya.

'Gunakan 'itu' saat aku memberikan aba-aba kepadamu, dan ingatlah bahwa aku adalah sekutumu saat ini.'

Begitu Naruto selesai dengan acara berpakaiannya Naruto segera diseret keluar oleh para pria yang ada di penginapan itu.

Naruto juga yakin mereka tak bisa mendengarkan pesan yang diberian oleh Naruto kepada Cool ketika ia masih ganti pakaian tadi.

Seperti dugaannya barang-barangnya juga ikut dibawa oleh sebagian orang dari pria-pria itu.

'Untuk saat ini kabur secara langsung sangatlah tidak mungkin. Karena aku tak tahu jumlah pasti dari mereka, apalagi aku tak tahu posisi mereka masing-masing.'

Ia diseret menuju ke luar penginapan, dan terus berlanjut ke rumah tempat tinggal Lord. Berbagai hal terjadi begitu cepat.

Kini ia telah sampai di hadapan sang Lord dari desaa Gether. Para ksatria penjaga dan para player yang ada di sana juga mengacungkan senjatanya kepadanya.

"Kau!"

Naruto memanggil si perempuan yang mengaku menjadi korban pemerkosaannya.

Setelah ia memanggil si perempuan itu, perempuan itu menampilkan ekspresi terkejut dan ketakutan. Kemudian ia bersembunyi di ballik punggung dari salah satu player yang ada di sana.

"A-apa-apaan sikapu itu!"

Semua orang melihat Naruto sebagai penjahat. Semua tatapan yang menyiratkan rasa jijik dan penghinaan itu dilontarkan kepada Naruto.

"Kau benar-benar hina, dasar bajingan! Apa kau telah lupa kalau kau yang menyelinap ke kamarku dan memperkosaku semalam!"

Si perempuan itu berkata kepada Naruto dengan ekspresi marah yang entah kenapa kelihatan seperti sedang dibuat-buat. Tampaknya ia sedang menarik simpati orang-orang yang ada disana.

"Se-semalam hiks setelah mabuk hiks kau menyelinap ke kamarku hiks dan memaksaku untuk mela-hiks-yanimu. Apa kau hiks telah lupa hiks akan perbuatanmu tadi malam?"

"P-perbuatan apa? Aku bahkan tidak meminum alkohol semalam!"

"Jangan sok tanpa dosa! Jelas-jelas hiks semalam sebelum bertemu hiks denganku kau baru saja hiks keluar dari bar'kan? Hiks setelah aku masuk ke kamarku, hiks kau datang diam-diam hiks merobek pakaianku dan pakaianmu hiks, dan hiks, dan kemudian kau hiks melampiaskan nafsumu kepadaku hiks seperti binatang buas yang kelaparan huaaa!"

Si perempuan itu menangis.

'T-tadi itu bicara apa? Kemarin malam setelah Marya enunjukkan kamarnya kepadaku , aku langsung berpisah dengannya dan kemudian tidur. Jadi kapan semua itu terjadi?'

"A-apa?!"

"K-kau hiks membekap mulutku hiks untuk membuatku diam. Kemu-hiks, kemudian kau hiks melakukannya hiks dengan kasar terhadapku. Hiks a-aku benar-benar hiks ketakutan."

Perempuan itu menangis seolah dirinya telah dinodai oleh Naruto.

"Bicara apa kau jalang! Semalam setelah Marya menunjukkan kamarnya, aku langsung berpisah denganmu dan langsung tidur 'kan?"

"JANGAN MENCOBA BERBOHONG LAGI KAU BAJINGAN! BERANINYA KAU TERUS MEMBUAT ALASAN SEPERTI ITU, PADAHAL KAMI TELAH MELIHAT SEMUA BUKTINYA DENGAN JELAS!"

"A-a-aku tak mungkin melakukannya! Seseorang tolong percayalah kepadaku! KUMOHON!"

"DIAM KAU KEPARAT!"

Naruto terdiam. Sang Lord telah mulai ambil bagian dalam untuk menangani masalah ini. Ia dengan sepenuhnya mengabaikan pembelaan yang dilakukan oleh Naruto.

"Dengan brutal kau telah melakukan pemerkosaan terhadap seorang wanita di wilayah kekuasaanku! HUKUMAN YANG PANTAS UNTUKMU HANYALAH HKUMAN MATI!"

"A-apa?"

Naruto telah menduganya. Pada akhirnya semua tuduhan yang telah dilayangkan kepadanya, diterima begitu saja oleh sang Lord. Sehingga ia menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Ia melirik ke perempuan yang mengaku telah menjadi korban pemerkosaannya. Dan yang ia dapati di sana adalah, sebuah ekspresi puas yang disertai dengan wajah menejek yang seolah mengatakan kalau rencananya telah sukses besar.

'Dasar wanita jalang! Salah apa aku padamu, sehingga kau melakukan rencana yang keji ini terhadapku?'

Naruto melakukan monolog sumpah serapahnya dalam hati. Tak lupa ia juga mengeratkan genggamannya kuat-kuat. Hal itu ia lakukan untuk menahan emosinya yang hampir meledak keluar.

Tapi akal sehatnya berhasil mengalahkan emosinya. Ia sadar betul kalau ia meluapkan emosinya di sini sekarang juga, maka rencana yang telah ia susun akan menjadi sia-sia. Dan hal itu tentunya akan sangat disesalkan oleh Naruto nantinya.

"Bawa dia ke alun-alun. Dia akan dieksekusi di hadapan semua orang. Itu merupakan hukuman yang pantas untuk seorang bajingan sepertinya."

:::::::::

Lagi-lagi Naruto diseret. Kali ini tujuannya adalah alun-alun desa Gether. Eksekusi matinya akan dijadikan tontonan massal bagi para warga dan para player yang singgah di desa Gether.

Ia dibawa ke lokasi yang terletak tepat di tengah alun-alun desa bukan, lebih tepatnya itu adalah sebuah gelanggang. Gelanggang yang dibatasi dengan pagar yang tebuat dari kayu-kayu yang diruncingkan ujungnya. Ujung tajamnya tentu saja menghadap ke bagian dalam, tempat dimana Naruto berada.

Sepertinya ia akan dieksekusi dengan cara dipenggal kepalanya. Terlihat dari datangnya seorang Knight yang datang dengan pedang mengkilap yang terhunus di tangan kanannya, dia juga membawa senjata tambahan berupa pedang pendek yang ia sarugkan di paha bagian kanannya.

Salah satu penjaga yang menyeretnya juga membawa kunci borgol Naruto. Itu artinya semuanya telah sesuai rencana.

Si Knight telah bersiap-siap untuk memenggal Naruto. Tetapi apa yang tiba setelahnya adalah, si penjaga yang memegangi Naruto malah pergi. Menyisakan Naruto berduaan bersama dengan si Knight kerajaan yang bertugas di desa itu.

Si penjaga berjalan ke pinggir arena, di sebelah tenggara dari posisi Naruto saat ini. Sedangkan si Knight yang berdiri di hadapannya, kini tampak ia sedang melakukan pemanasan.

Naruto juga bisa melihat sang Lord pemimpin desa yang sedang menonton dari panggun kehormatan yang berada lurus seratus meter di belakang si Knight.

'Eh apa-apaan ini. Kenapa aku ditinggal berduaan saja dengan Knight di pusat alun-alun?'

Untuk saat ini Naruto belum mengetahui bagaimana eksekusi ini akan berjalan. Tapi kalau apa yang ada di dalam pikirannya itu benar. Maka sebentar lagi ia akan diperintahkan untuk melakukan pertarungan hidup mati melawan Knight itu.

"Wahai rakyatku yang setia! Pada kesempatan yang diberikan oleh dewa kita, dewa Embinyu. Kita akan melaksanakan ritual penyucian terhadap diri kita yang penuh dengan dosa ini dengan mempersembahkan nyawa orang yang penuh dengan dosa ini kepada dewa Embinyu!"

TOOOEEETTTT

Sebuah terompet ditiup tanda dimulainya ritual penyucian, ralat maksudnya acara eksekusi bagi Naruto.

'Yang benar saja, pertarungan gladiator begini dianggap ritual penyucian!'

"WOOOOO HIDUP DEWA EMBINYU!"

"HIDUP DEWA EMBINYU!"

"HIDUP DEWA EMBINYU!"

"HIDUP DEWA EMBINYU!"

Para warga desa Gether bersorak-sorak bergembira dengan menyebut nama dewa sesat yang mereka sembah.

'Pantas saja ada yang aneh dengan desa ini. Ternyata semua penduduk di desa ini adalah pengikut dari Order of Embinyu, aliran sesat yang dimusuhi di seluruh benua Versailles. Jadi firasatku dari kemarin itu tidak salah ya. Alasan kenapa aku tak menemukan satupun katedral di desa ini adalah karena mereka pengikut Order of Embinyu!'

Sorak sorai yang diteriakkan para penonton mulai reda tatkala si Knight yang ada di hadapan Naruto mulai melakukan pemanasan ringan di hadapannya.

SRINK SWUUSSHH

Ayunan pedang yang kelihatan sangat bertenaga itu dipertontonkan di hadapan Naruto. Seolah-olah dia sedang memperlihatkan kepada Naruto betapa hebat dan terampilnya dia dalam berpedang.

'Dasar tukang pamer! Kau tak akan bisa menakutiku hanya dengan beberapa ayunan ringan seperti itu!'

Naruto menontonnya dengan tenang. Dengan tangannya yang terborgol dibalik punggungnya ia harus bisa bertahan hidup melawan Knight yang mengenakan full armor set dan bersenjatakan pedang yang kelihatan cukup tajam dan kuat.

Apalagi di beberapa bagian di pinggir arena juga telah bersiap-siap pasukan pemanah yang tampaknya akan menjadi bantuan tambahan bagi si Knight itu untuk melawan Naruto.

Situasinya sangat gawat bagi Naruto saat ini. Ia terkepung, diborgol dan harus bertarung melawan seorang Knight yang jelas-jelas memiliki perbedaan kekuatan yang jauh diatas Naruto.

'Kali ini aku harus melakukan apa agar bisa lolos dari maut ya?'

Naruto memperhatikan situasi di sekitar. Orang-orang yang bersorak sorai, Knight yang sedang melakukan pemanasan di depannya, pasukan pemanah yang siap menarik busurnya setiap saat, Lord gemuk yang duduk dengan angkuh diatas panggung bersama tiga antek-anteknya, si perempuan jalang dan Marya yang menonton di bagian bawah panggung, dan yang terakhir barag-barangnya yang dibawa oleh seorang pria yang ada di antara para penonton.

'Itu dia! Selama aku bisa mengambil semua barang-barangku aku bisa kabur dari sini dengan mudah.'

"Mari kita mulai ritualnya, di sisi merah. Ksatria agung dari Order of Embinyu. The Dark Knight, Brumenn. Melawan bajingan dari sisi biru. Si Pemerkosa, Naruto! Ya dimulai!"

GOOONNNNGGG

'APA-APAAN SEBUTAN ITU! JANGAN MENYEBUTKU SI PEMERKOSA, PADAHAL AKU SAMA SEKALI TAK INGAT PERNAH MELAKUKANNYA!'

Brumenn si Dark Knight berjalan santai menuju ke Naruto. Sepertinya ia menganggap remeh Naruto yang sedang dalam keadaan terborgol.

Begitu Naruto sudah masuk dalam jangkauan serangnya, Brumenn mengangkat pedang yang ada di tangan kanannya.

SWUUSSHH BRAKK

Naruto menghindar dengan susah payah. Ia berguling ke belakang. Dalam momen singkat ketika ia masih berguling, Naruto menekuk kedua kakinya dan memasukkannya ke dalam celah yang ada diantara kedua tangannya dan borgol.

SRRAAKK

Kini kedua tangan Naruto yang terborgol sudah ada di depan tubuhnya. Dengan ini ia bisa melindungi dirinya dengan lebih mudah.

Dark Knight Brumenn tampak terkejut melihat Naruto masih bisa menghindar dan bahkan sampai membalik kedua tangannya yang terborgol menjadi di depan. melihat lawan yang bisa lolos dari serangan pertamanya dengan begitu mudah, sontak membuat emosinya terpancing.

Brumenn langsung menghilang dari pandangan Naruto. Dalam sekejap sebuah ayunan yang sangat kuat datang dari arah kanannya.

WUUSS TRANK

Percikan api beterbangan di udara. Bunyi yang nyaring juga ikut terdengar menju ke indera pendengaran. Itu adalah bunyi yang muncul dari dua benda keras yang saling berbenturan.

Ternyata Naruto menangkis sabetan pedang yang datang dengan menggunakan borgol yang ada di tangannya. Tak pelak hal itu menimbulkan rasa perih yang menyakitkan ketika tangannya yang terborgol terkena serangan yang sangat kuat itu.

Terpental ke belakang, Naruto juga masih harus menghindari beberapa sabetan pedang yang datang lagi untuk menyerangnya.

SWUSHH BRAKK

SWWUUSH TRANKK

Begitu terus berulang-ulang, Naruto hanya bisa lari dan menghindar. Sesekali ia juga terserempet oleh sabetan itu ketika ia menghindar dalam posisi yang kurang tepat. Ia juga sempat beberapa kali menangkisnya dengan menggunakan borgol yang membelenggu kedua tangannya.

Berlari..

Menangkis...

Menghindar...

Menunduk..

Melompat...

TRANKK

Pada tangkisan yang sudah kesekian kalinya. Rantai borgol yang membelenggu Naruto ternyata sudah mencapai batasnya. Rantai itu putus menjadi dua akibat serangan kuat yang dilancarkan oleh Dark Knight Brumenn.

SMIRK

Naruto menyeringai. Saat-saat yang ia tunggu telah tiba. Saat ini tidak ada yang membatasi pergerakan dari kedua tangannya. Ia langsung berlari sejauh mungkin dari Dark Knight Brumenn untuk mengambil jarak. Tampaknya kali ini ia akan menggunakan salah satu triknya.

Dark Knight Brumenn berlari mengejar Naruto, tepat seperti yang ia perkirakan. Begitu ia masuk dalam jangkauan serangnya, Naruto menepukkan kedua tangannya di depan dada. Kemudian ia menghentakkan kedua telapak tangannya di atas permukaan tanah.

Sebuah gundukan batu kecil muncul persis di depan kaki si Dark Knight Brumenn tepat ketika ia akan menaikkan kecepatannya untuk mengejar Naruto.

GUBRAGG

Dark Knight Brumenn terjungkal ke depan, pedang yang ada di dalam genggamannya terbang begitu saja ke hadapan Naruto.

Entah kenapa suasana yang tadinya ramai dan penuh dengan sorakan penonton menjadi sunyi sepi.

Tampaknya semua orang shock melihat seorang kapten Knight jatuh dengan tidak elitnya ketika sedang bertarung one on one melawan orang tanpa senjata.

GREG GREB

Sebuah belenggu dari batu tiba-tiba muncul untuk membelenggu Brumenn. Ia tak bisa lari kemana-mana lagi.

Naruto dengan senang hati mengambil pedang yang telah datang sendiri kepadanya. Senyum yang ada di wajahnya kini berubah menjadi senyum malaikat maut yang siap mencabut nyawa seseorang yang masih kesulitan untuk bangun dari jatuhnya itu.

'Mad Enhancement...'

Sebuah skill yang sangat tabu untuk digunakan telah muncul. Tubuh Naruto memancarkan hawa yang sangat berat dan mengerikan. Membuat semua orang yang menonton terdiam dan mulai merasakan ketakutan.

"Hehehehe..."

"Hahahaha..."

"ZEHAHAHAHA..."

Tawa bengis muncul dari mulut Naruto disertai dengan ekspresi seorang psikopat yang menyeringai lebar.

SWUSSHH CRATTT

"ARGGHH..."

CRATT

"ARGGHH.. HENTIKAN... SAKIT...JANGAN LAKUKAN ITU LAGI..."

"HEAHAHAHA.."

Tanpa belas kasihan, Naruto menebas Brumenn si Dark Knight berkali-kali. Akan tetapi ia mengabaikan begitu saja teriakan memohon belas kasih yang dilancarkan oleh Brumenn dan tertawa begitu keras seolah-olah ia sedang menikmati kegiatannya itu.

"Lagi... keluarkan lagi suaramu itu... LEBIH KERAS LAGI!"

CRAATTT CRATTT

"ARGGHH HENTIKAN! JANGAN LAKUKAN ITU!"

"KYAA..."

Para penonton yang melihat adegan penyiksaan yang dilakukan oleh Naruto terhadap Brumenn berteriak histeris. Beberapa diantara mereka bahkan ada yang sampai pingsan.

Para pria yang tadi hanya diam saja karena shock, kini mulai mengabil benda-benda yang d di sekitar mereka, dan mulai melemparkannya ke arah Naruto.

Para prajurit pemanah juga ikut mengambil inisiatif untuk menyerang juga. Mereka mulai mengambil anak panah dan menarik busur mereka untuk menghentikan perbuatan Naruto.

GRDUGG GRDUGG

Batu-batu mulai beterbangan ke arah Naruto. Tentu saja ia tidak tinggal diam.

Menggunakan bagian lebar dari pedangnya Naruto memukul batu-batu itu ke arah para penonton. Tak lupa disertai tawa kerasnya yang sangat mengerikan.

DUAGHH

"ARGGHH.."

"KYARGGGHH.."

Para penonton dan pasukan yang berada di pinggir arena tak bisa menghindari serangan balik dari Naruto. Mereka memilih lawan yang salah. Sepertinya mereka tak tahu kalau Naruto adalah seorang pitcher dan batter keempat di tim baseball Konoha.

"Darah.."

"Darah.."

"Lagi.."

"Aku ingin melihatnya lagi.."

"DARAH..."

"KELUARKAN! KELUARKAN YANG BANYAK!"

"LAGI! PERLIHATKAN LAGI!"

"LEBIH BANYAK! LEBIH BANYAK LAGI! HAHAHAHAHAHA!"

Tawa gila dapat terdengar dari sebuah tempat yang kini dipenuhi akan darah dan mayat.

Naruto tambah semangat, ia tak hanya memukul balik batu-batu itu.

Ia juga berlari ke arah pasukan pemanah sembari menghindar dari puluhan anak panah yang datang ke arahnya.

Para prajurit pemanah seketika langsung panik, mereka yang hanya mengenakan armor ringan yang hanya meneutupi sebagian kecil dadanya, tak mungkin bisa menghalau serangan dari Naruto yang sangat brutal dan ganas.

CRATT CRATT

Darah terciprat kemana-mana. Kepanikan besar muncul disana. Naruto dengan brutal mengejar setiap orang dan menebasnya. Ia sama sekali tak mengenal ampun dan membunuh semua orang dengan serangan kritikal yang mematikan.

Bahkan para prjurit yang bersenjata dan mengenakan full armorpun tak bisa memberikan perlawanan yang berarti kepada Naruto. Mereka hanya menjadi seperti kecoa yang langsung mati begitu diinjak.

"HAHAHAHA..."

"LARILAH... BERTERIAKLAH..."

"AKU SUKA TERIAKAN KETAKUTAN KALIAN..."

Naruto terus saja menebas dan menebas. Hingga akhirnya hanya tinggal dua orang yang tersisa.

"N-naruto... Kumohon maafkan aku.. Biarkan aku hidup ... Kau mau uang? Ini aku tak membutuhkannya yang penting biarkan aku hidup lebih lama lagi... Kumohon.."

Dia adalah Lord dari desa ini. Orang yang telah membuat Naruto harus dijatuhi hukuman mati.

"Aku juga... Kumohon Naruto... Jangan bunuh aku sekarang ini... Aku tak mau terkena penalti dan kehilangan item-itemku."

Yang ini adalah si perempuan jalang yang telah menjebak Naruto. Entah apa salah Naruto kepadanya sehingga dia dengan keji menjebak Naruto dengansebuah tuduhan yang sangat keji itu.

Naruto tiba-tiba diam dengan ekspresi yang sangat datar. Dan itu malah tampak jauh lebih mengerikan dari yang sebelumnya.

"HIII..."

Mereka berdua langsung lari terbirit-birit. Mereka berusaha sebisa mungkin untuk melarikan diri dari Naruto.

DUAGHH SRAKK

Naruto menendang tubuh gempal sang Lord membuatnya terpental menubruk si perempuan. Naruto segera menancapkan pedangnya di kaki-kaki mereka yang bertindihan.

CRASHHH

"ARGGHH.." "KYAGGHH.."

"Hehehe... Bagaimana rasanya? Nikmat 'kan? Inilah rasa sakit yang dari tadi ingin sekali kubagikan kepada kalian semua? Manusia itu harus saling berbagi 'kan? ZEHAHAHAHA."

CRASSHH CRASSHH

::::::::::::::::

"Uhhh dimana aku..."

Naruto terbangun setelah tak sadarkan diri selama beberapa saat. Sepertinya ia tadi tak sadarkan diri akibat efek skill mad enhancement yang ia aktifkan secara tak sadar.

Dan yang tersisa disekitarnya hanyalah item-item yang berserakan beserta cipratan dan genangan darah yang ada dimana-mana.

'Tampaknya orang-orang yang memiliki item ini telah dibantai oleh monster-monster yang sering datang untuk menyerang desa ini. Ngomong-ngomong kenapa hanya aku yang masih hidup ya? Bagaimana dengan eksekusinya?'

Naruto berjalan keliling desa. Dan sama seperti sebelumnya yang ia temukan hanyalah item-item yang berserakan beserta genangan dan cipratan darah dimana-mana.

"Hmm paling tidak aku bisa mengambil beberapa item yang berguna. Siapapun kau terima kasih telah meninggalkan berbagai item bagus ini kepadaku."

Naruto memungut dan menjarah puluhan item yang tergeletak di desa itu. Mulai dari armor, bahan makanan, senjata, tas magic, uang mulai dari silver sampai gold.

Ia memenuhi semua tas magic yang ia temukan dengan berbagai item yang ia temukan di sana.

Ia mengambilnya dengan bersenandung ceria tanpa menyadari bahwa ialah penyebab semua ini.

To Be Continued

Akhirnya selesai juga chapter 10 dari The Taboo Alchemist. Entah kenapa tangan saya gatal dan kepala saya terasa ada yang sangat mengganggu kalau tidak menulis lanjutan dari fic ini. Oleh karena itu, mumpung masih ada jeda waktu sebelum UN saya menyempatkan diri untuk mencurahkan ide-ide saya.

Ngomong-ngomong, kalau ceritanya seperti ini harus naik rate nggak ya? Saya bingung. Ya sudah cukup sekian dari saya terima kasih mau meluangkan waktu untuk sekedar membuang kuotanya untuk melihat fic buatan saya.

Kalau ada yang mau ditanyakan atau kasih saran dan kritik yang membangun, silakan tulis dikotak review.

ARIGATO GOZAIMASU!